"Sometimes home is not four walls. Sometimes it is two eyes and a heartbeat."


Lu Han tidak tahu mengapa ia mau-mau saja duduk dengan seseorang yang baru beberapa hari—atau minggu?—lalu ia kenal namun, hari itu, disanalah ia; di depan seorang lelaki yang benar-benar baru dengan segelas espresso di tangan.

Henry melemparkan senyum menawannya pada Lu Han sebelum menyesap kopi di tangannya. Sesekali mereka akan berbincang-bincang tentang cuaca dan aktivitas, sesuatu yang sangat amat canggung dan Lu Han berharap bahwa ia tak terlihat terlalu menyedihkan.

"Bagaimana kabarmu?" adalah salah satu pertanyaan simpel dari Henry yang susah payah Lu Han jawab karena nyatanya, ia tak tahu jawabannya.

Ia ingin menjawab baik-baik saja namun ia tahu bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Tapi buruk bukanlah jawaban yang tepat karena malam sebelumnya ia sudah berjanji untuk memulai semuanya dengan yang baru. Memang, hatinya sempat berontak kala ia mengambil keputusan untuk merelakan semuanya; hampir setengah tahun bersama, berbagi cinta dan kasih sayang, berbagi ciuman dan kehangatan malam—semuanya sungguh terasa tak nyata untuk ia sadari bahwa kini semuanya telah sampai pada sebuah akhir.

Sebuah akhir yang tak pernah ia sangka.

Lalu Lu Han hanya tersenyum kecil sambil menyesap espresso-nya, berharap rasanya akan tertelan bersama ketidaknyamanan dalam hatinya yang masih ingin merangkak membuka memori lama bersama seseorang yang kini, hatinya berada di tangan seorang wanita.

"Okay," jawabnya.

I am okay but not to the extend that I am fine, because I am not. I am not okay.

"Okay?" Henry bertanya, mengerutkan keningnya.

"Okay," ulang Lu Han. "Hanya okay."

Henry mungkin tak paham dengan jawaban atas pertanyaannya yang simpel namun ia tak ingin bertanya lebih jauh.

Lalu perbicangan itu mengalir begitu saja, tentang bagaimana Henry akan bertanya tentang kegiatan Lu Han saat ini—yang hanya dijawab dengan jawaban meragukan, namun siapalah Henry untuk bertanya lebih lanjut?—dan beberapa pertanyaan formal.

"Aku tak tahu sebelumnya kalau kau Chinese."

Henry mengulum sebuah senyum, dan pandangannya turun untuk menatap meja di antara mereka berdua.

"Mungkin karena kau tak mengenalku sebelumnya," katanya lirih. Ia mendongakkan kepalanya sedetik kemudian, disambut dengan sebuah senyum kecil dari Lu Han, yang mana adalah sebuah senyum yang baru kali ini ia terima setelah mereka berbincang-bincang.

Senyum itu membuat Henry mau tak mau ikut tersenyum.

"Kau benar," jawab Lu Han. "Kau memang terkenal, namun aku tak terlalu menggemari apa yang jadi bidangmu. Mungkin itu alasan yang masuk akal mengapa aku tak pernah mengenalmu."

"Bukankah kau berada di jurusan musik sebagai mayormu?"

"Mhm," jawab Lu Han sambil mengangguk kecil. "Aku hanya fokus dengan menyanyi. Walaupun aku bisa bermain piano saat aku kecil, tapi aku tak pernah mengembangkannya."

Henry tersenyum kecil. Tentu saja.

"Kenapa?" tanya Henry tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok lelaki di depan matanya.

Lu Han mengangkat bahunya, arah matanya ia bawa untuk menjelajah keadaan di luar lewat jendela di samping kanannya. Beberapa pejalan kaki terlihat sedang tergesa-gesa dan mereka berjalan dengan cepat sambil merapatkan jaket mereka. Musim gugur sudah menyentuh Seoul, dan Lu Han mencatat dalam benaknya bahwa mulai besok ia harus memakai pakaian yang agak hangat.

"Entahlah," katanya lirih, tanpa menoleh ke sumber suara. Sebuah senyum kembali teretas dari bibirnya dan hati Henry mencelos melihatnya karena senyum tersebut sungguh berbeda dari senyum Lu Han yang tadi. Senyum yang ini—begitu menyedihkan dan menyesakkan.

"Mungkin karena aku tak memiliki bakat untuk main piano?"

Henry ingin menertawakan alasannya karena—omong kosong. Ia ingin mengatakan banyak hal tentang hal itu namun ia tahu bahwa bukan sekarang saat untuknya bicara.

"Kau harus mencobanya lagi," jawabnya pada akhirnya. "Instingku mengatakan kau pasti berbakat di sana."

"Huh." Lu Han menoleh kearah Henry dan mengangkat alisnya saat ia melihat lawan bicaranya tersebut tersenyum sambil menatap kopi di tangannya yang telah mendingin. "Kau terdengar begitu yakin."

"Yah—orang yang punya keajaiban di kedua tangannya sepertimu pasti juga punya bakat untuk bermain piano. Aku jamin itu."

"Aku terlalu mengagumi bidangku sebagai pelukis."

Henry mengangguk dan melemparkan senyum pada Lu Han. "Kau benar-benar menjadi bintang di bidang seni lukis, tak ayal kau mengaguminya. Kau mungkin sudah sering mendengar hal ini tapi kau memang seperti bintang. Sebesar apapun bulan di mata orang-orang, mereka akan melihat kerlip bintang lebih dulu. Jika pada malam hari tak ada satupun bintang di langit, mereka akan berpikir ah, sepi sekali, sungguh tak indah."

Lu Han menatap Henry intens, kemudian ia tertawa, membuat Henry terkejut di tempat duduknya.

"Kau tahu, kalimatmu itu—aku seperti pernah mendengarnya di sebuah tempat."

Henry lagi-lagi mengulum senyumnya, membawa cup kopinya ke depan bibirnya untuk ia cecap rasa yang mulai dingin itu hingga lolos dari tenggorokannya.

Memang.

"Mungkin di beberapa film klise yang kautonton," jawab Henry jenaka, mengabaikan fakta bahwa perasaannya terasa sedikit kebas. "Atau beberapa gombalan kuno abad ini."

Lu Han tersenyum. "Aneh, bagaimana aku sungguh merasa tak asing denganmu. Apa karena kita berasal dari satu negara? Bonding antar penduduk asing?"

"Atau mungkin kita pernah bertemu di kehidupan yang lalu?"

Lu Han tertawa, dan ia pikir Henry adalah orang yang mengasyikkan untuk diajak bicara.

"Aku tak percaya jika kau belum memiliki kekasih. Kau sungguh adalah lelaki yang hebat."

Henry tertawa, dan kedengarannya sangat getir.

"Kau sudah tahu, kan? Aku terlalu lama mengejar sebuah bintang yang takkan pernah bisa kugapai."

"Kalau begitu kenapa tidak move on?"

Lu Han terkejut dengan kalimatnya sendiri, yang mana akhirnya ia menurunkan pandangannya, menatap tangannya yang sedang memeluk cup kopinya. Betapa munafiknya dia. Betapa ia bisa bicara seperti itu bahkan saat dirinya sendiri masih sangat berat melakukannya. Sangat berat seakan-akan ia pikir takkan bisa melakukannya.

Henry menciptakan sebuah senyum sedih di bibirnya yang untungnya terlewatkan oleh Lu Han.

"Tidak semudah itu untuk melupakan seseorang yang begitu berarti bagimu. Mungkin kalau bukan karena dia, aku takkan menjadi Henry yang sekarang. Jadi kupikir, ah, tak apa jika ia tak pernah mencintaiku karena aku hanya ingin melihatnya bahagia walau tak bersamaku. Bersama siapapun dia sekarang, kupikir aku bisa menerimanya. Mungkin juga itu adalah alasan mengapa aku tak pernah mampu mendekatinya. Karena perasaanku bukanlah hal yang penting jika menyangkut tentangnya."

Lu Han tahu bagaimana rasanya. Ia tahu bagaimana rasanya harus kehilangan seseorang yang begitu kaucintai. Ia tahu bagaimana rasanya harus melihat orang yang begitu kaucintai kini bersama orang lain. Ia tahu bagaimana ia tak pernah menjadi yang pertama. Ia tahu bagaimana kecewanya ia karena—dulu Lu Han pikir masa depannya adalah bersama Sehun. Dulu ia pikir bahwa kehidupan mereka akan baik-baik saja.

Namun kini, bahkan Lu Han harus pura-pura untuk baik-baik saja. Dan itu rasanya menyakitkan.

"Henry."

"Ya?"

Lu Han mengangkat kepalanya untuk menatap Henry tepat di kedua matanya. Hati Henry serasa berdesir namun ia tahu rasanya lain—rasanya seperti hatinya habis ditonjok dan rasanya begitu ngilu hingga ia ingin untuk tak menatap mata Lu Han. Matanya begitu terasa kosong dan menyakitkan untuk dilihat.

Begitu mati. Begitu sakit.

Namun sedetik kemudian Lu Han tersenyum.

Dan betapa Henry ingin menghapus senyum itu dari bibirnya.

"Seseorang yang berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja... Pastilah orang tersebut akan memiliki akhir yang bahagia, kan? Walau dia terseok-seok, walau ia sering terluka, walau ia jatuh dan tersungkur sekalipun, jika ia tetap berpura-pura untuk baik-baik saja, pada akhirnya ia akan benar-benar baik-baik saja, kan?"

Henry tahu Lu Han sedang tak berbicara tentangnya namun tentang dirinya sendiri dan tak perlu menjadi pintar untuknya tahu bahwa pastilah ada sesuatu antara Lu Han dengan kekasihnya.

Namun ia tak ingin menyinggung apapun tentang hal tersebut, maka saat Lu Han menatapnya kembali dengan sorot mata yang sama, Henry tak bisa menjawab apapun kecuali—

"Kau benar. Dia akan baik-baik saja. Dia pasti bisa baik-baik saja."

Kau pasti baik-baik saja.

Keheningan mengonsumsi mereka setelahnya, dan Henry sangat tak suka atmosfer di antara mereka berdua karena sudah jelas bahwa Lu Han kembali ke keadaan lamanya yang terlihat begitu menyedihkan.

Dan Henry menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa melakukan apapun untuk berbuat sesuatu.

Namun beberapa detik kemudian suara Lu Han kembali terdengar dan Henry mengangkat kepalanya.

"Katamu tadi kau punya sesuatu untuk dibicarakan padaku. Apa itu?"

Henry membulatkan mata, seratus persen tak percaya jika ia bahkan belum mengatakan sesuatu yang menjadi tujuannya duduk bersama Lu Han.

Ia tertawa, dan Lu Han mengerutkan keningnya.

"Maaf. Mungkin aku terlalu asik mengobrol denganmu. Sebenarnya aku ingin meminta tolong padamu, Lu Han."

"Tentang?"

Henry terlihat sedang bergelut dalam pikirannya maka Lu Han memanggil namanya sekali lagi.

"Aku yakin kau pasti sudah tahu tentang keinginan profesormu untuk mengirimmu ke Paris. Sebenarnya, Lu Han, Profesor Namhyun adalah orang kenalanku. Beberapa waktu yang lalu aku memintanya untuk merekomendasikan satu mahasiswa terbaiknya untuk menjadi partner-ku dalam recital-ku di Paris seminggu lagi. Aku tahu ini mendadak, makanya aku meminta Profesor Namhyun untuk mencarikan mahasiswa terbaiknya dan—aku terkejut ketika ia memilihmu."

Lu Han bohong bila ia tak terkejut mendengarnya. Ia sungguh, sungguh terkejut akan hal tersebut dan kalimat Henry barusan membuat matanya membelo seketika.

"Apa—tapi... Profesor... dia... aku... Henry, aku—"

"Aku tahu kau akan menolaknya dengan bilang bahwa kau tak cukup hebat, yang mana adalah sebuah kebohongan besar karena aku tahu pilihan Profesor Namhyun adalah pilihan terbaik maka... Lu Han, mengapa kau tak mempertimbangkan hal ini?"

Lu Han tak tahu bahwa permintaan Profesor Namhyun adalah untuknya berduet dengan Henry di recital -nya di Paris dan Paris—

Paris.

Paris.

Lu Han tahu ia tak bisa.

"Henry," katanya dengan nada lemah. Ia menundukkan kepalanya, memandang jemarinya yang memutih karena menggenggam cup kopinya terlalu erat. "Aku—"

"Lu Han."

Dan Lu Han mengangkat kepalanya.

"Please?"

Lu Han tahu ada yang salah dengannya kala ia berpikir bahwa raut wajah Henry yang sedang memohon seperti ini serasa tidak asing dan ia pasti sudah gila tatkala ia berpikir bahwa—

"Beri aku waktu untuk memikirkannya?"

Henry tak bisa menahan desah lega dan sebuah senyum lebarnya.

"Apakah dua hari cukup bagimu?"

Dan Lu Han tak tahu apa yang membuatnya mengangguk.

Mungkin karena senyum Henry mengingatkannya pada anak anjingnya yang ada di Beijing.

Atau karena ia sudah yakin bahwa melepas Sehun dan mengakhiri semuanya adalah pilihan yang tak bisa ia hindari.

Atau karena memang ia ingin memulai semuanya dari awal.

Lu Han yakin bahwa alasannya adalah salah satu dari ketiga hal tersebut.


Sehun tak pernah berpikir bahwa ia akan pernah membenci Perancis. Kota yang selalu ia impikan, kota dengan seribu keindahan yang meneriakkan kesan romantis dan penuh cinta itu—Sehun tak pernah menyangka bahwa di sanalah hatinya akan hancur.

Mungkin ini memang salahnya, mungkin ia memang sudah menjadi bajingan selama ini. Ia tahu ketika ia pertama kali memilih untuk pergi, bahwa keadaan akan berubah, tak lagi sama seperti apa yang ia impikan pertama kali. Ia tahu ketika ia pertama kali memilih untuk pergi, bahwa pilihannya hanya akan menyakiti banyak orang.

Sehun pernah jatuh—ia pernah jatuh sekali dan hal itu karena Jung Soojung, orang yang membuatnya datang kesini beberapa bulan yang lalu. Wanita itu jugalah wanita yang berdiri tepat di tengah-tengah dirinya dan Lu Han, sosok yang beberapa waktu lalu menempati tahta tertinggi dalam hati dan jiwanya.

Sehun mengakui bahwa ia pernah, sedetik di masa lalu, menginginkan Soojung untuk kembali di hidupnya. Ia merasa bahwa bersama Soojung akan menjadi pilihan paling tepat karena dia adalah lelaki dan Soojung adalah wanita.

Sehun tidak akan berbohong jika bersama Soojung akan membuat semuanya jadi jauh lebih mudah. Orang tuanya akan jauh lebih senang jika anaknya jatuh cinta pada lawan jenis dibanding dengan sesama lelaki. Orang tuanya akan jauh lebih tenang karena nantinya, rumah kecil nan hangat mereka akan dilengkapi dengan kaki-kaki kecil para Sehun mini yang berkeliaran di sekitar rumah.

Sehun tidak akan berbohong jika ada satu tempat di hatinya yang memang selalu ia tutup untuk Soojung sejak ia pergi meninggalkan kehidupannya.

Namun ia tak menyangka jika suatu hari, seorang pemuda berambut cokelat karamel akan masuk dalam cerita—akan masuk dalam potret hidupnya. Namanya adalah Lu Han, dan Sehun begitu bahagia ketika namanya yang indah keluar dengan begitu mulus dari ujung lidahnya.

Dulu, Sehun selalu menyediakan tempat untuk Soojung, berharap mereka akan bertemu lagi pada akhirnya dan bersama kembali. Dulu, Sehun selalu menyimpankan satu bilik tempat di hatinya untuk Soojung.

Dulu, Soojung memang segalanya.

Namun ia tak bisa membohongi perasaannya sendiri bahwa rumahnya adalah Lu Han. Pelukan Lu Han terasa seperti Seoul dan kehangatannya. Begitu familiar dan menenangkan.

Pelukan Soojung seperti hingar-bingar Paris. Begitu asing dan menyesakkan.

Udara malam di kota Paris begitu dingin hingga Sehun kira hanya dengan satu sapuan anginnya akan bisa menerbangkan Sehun dan segala ketidakpastian yang selama ini menipunya.

Ia duduk di depan gedung di mana Baekhyun akan menggantikan Lu Han sebagai pelaksana, tepat di depannya di pinggir jalan raya, mengabaikan fakta bahwa jasnya telah ia lupakan dan angin malam begitu menusuk rusuknya.

Ia melipat kakinya dan wajahnya ia tenggelamkan dalam lengannya, mencoba untuk berpikir bagaimana ia bisa sampai kesini?

Ia tahu begitu bodoh baginya untuk pergi dari rumah yang memberikan nyawa bagi hatinya yang telah lama membeku untuk mengejar sebuah bayang yang ia kira adalah cinta.

Ia mengira Soojung adalah takdirnya. Ia kira ciuman Soojung akan mengembalikan perasaannya yang lama telah membatu. Ia kira pelukan Soojung bisa mengusir rasa takut yang menyelimuti hatinya. Ia kira Soojung adalah tempat terakhir untuknya berlabuh.

Namun mengapa seakan-akan saat ia mencium dan memeluknya, semuanya serasa membeku lagi?

Serasa ia berada di tempat yang salah dan ia merasa begitu sepi, merasa begitu asing. Merasa begitu tak bernyawa.

Sehun membiarkan hawa dingin kota Paris menelan perasaan dan rasa bersalahnya lamat-lamat dan satu tetes air mata kembali lolos dari kedua matanya.

Ia tahu ia memang berhak merasakan sakit seperti ini.

Kehilangan Soojung memang menyakitkan dulu, namun rasanya tak separah ini. Rasanya tak sepilu ini kala Lu Han meninggalkannya.

Sehun menertawai pikirannya sendiri karena well, saat ini bukan Lu Han yang meninggalkannya karena ialah pihak yang memutuskan hubungan mereka dan Sehun takkan pernah berhenti untuk menyesalinya.

"Sehun."

Sehun tak perlu mengangkat wajahnya yang telah basah oleh air mata untuk tahu bahwa suara tersebut adalah milik Baekhyun yang kini tengah duduk di samping kanannya.

"Kau tak mau masuk?"

Sehun menggeleng, masih tetap mengubur wajahnya di antara lengan tangannya.

"Setidaknya kau harus masuk. Acara ini milik Lu Han."

Mendengar nama yang sangat ia rindukan membuat Sehun mau mengangkat kepalanya dan hatinya berdesir kala ia mengedarkan pandangannya ke depan, kearah para pejalan kaki yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Kesibukan dan hingar-bingar kota Paris adalah hal yang begitu kontras dengan apa yang terjadi di dalam hatinya saat ini—kosong dan perih.

"Baekhyun hyung, aku telah melakukan kesalahan yang besar, kan?"

Baekhyun tak bisa menjawab melainkan mengeluarkan desah pendek.

"Sehun—"

"Hyung, aku sudah melakukan sesuatu yang akan kusesali, kan?"

"Se—"

"Padahal aku tahu jika Lu Han adalah rumahku, hyung. Aku tahu tanpanya aku akan jadi gelandangan. Tanpanya aku akan selalu merasa sepi. Tanpanya hidupku tak berpenghuni. Tanpanya aku akan jadi hancur. Hyung, tapi mengapa aku begitu bodoh? Mengapa aku tak pernah menyadarinya? Mengapa aku terlalu tolol untuk memutuskan sesuatu?

Soojung bukanlah rumahku, hyung. Aku tahu itu sesaat setelah aku memeluknya. Pelukannya begitu dingin dan kaku. Sementara—sementara Lu Han... Hyung, pelukannya sungguh menenangkan hingga kadang aku akan tertidur sambil memeluknya. Pelukannya membuatku berterimakasih pada Tuhan karena mengirimkannya untukku."

Baekhyun mengulas sebuah senyum dan ia mengangguk.

"Aku tahu. Kau begitu terlihat hidup saat bersama dengan Lu Han," katanya. "Percaya atau tidak, Sehun. Dulu saat kau bersama dengan Soojung, kau terlihat seperti robot. Kau selalu berada dalam kuasanya. Kau terlihat terobsesi, sama seperti ia terobsesi padamu dan aku tahu hal itu sama sekali bukan cinta. Kau terlihat begitu menyedihkan namun kau tak pernah mendengarkan perkataanku dan yang lainnya.

Namun saat bersama Lu Han, kau terlihat seperti peri yang baru bisa belajar terbang. Lepas dan bebas. Kau seperti baru saja hidup dan merasakan kehidupan. Kau sungguh terlihat bahagia, dan aku berpikir, ah, akhirnya Sehun menemukan seseorang yang bisa membahagiakannya. Kau harus melihat dirimu sendiri saat bersama dengan Lu Han. Jauh lebih gay daripada aku atau Kyungsoo."

Sehun tertawa, dan kali ini tawanya juga terdengar begitu hidup.

"Kau ingat, dulu Lu Han pernah pergi dua hari ke Busan dan aku hampir menangis. Aku juga pernah hampir menyusulnya ke Mokpo saat ia menghadiri pameran lukisannya selama tiga hari di sana. Dan saat dia menangis karena Chanyeol tak sengaja marah padanya, aku hampir meninju kekasihmu.

Aku menyukai segala tentangnya. Aku ingat saat kami pernah basah-basahan di tengah hujan karena ia percaya bahwa ketika kau mencium kekasihmu di tengah hujan, kisah cinta mereka akan abadi. Aku ingat saat aku menggendongnya agar sepatunya tak basah oleh salju. Aku ingat saat ia merawatku saat aku flu. Aku ingat menonton film klise bersamanya dan ia akan pura-pura menyembunyikan air matanya. Aku ingat saat kami berdansa di dapur dengan lampu kulkas. Aku ingat saat kami berusaha menunggu salju pertama untuk bertukar ciuman dan bertukar i love you. Aku ingat semuanya. Aku ingat cintanya yang seperti terbias pada kehidupanku."

Baekhyun mengamati Sehun dalam pandangan terpesona karena sudah lama ia tak melihat Sehun tersenyum seperti itu.

Sehun bercerita tentang Lu Han seakan hidupnya ada di tiap kata dan frasa yang mendeskripsikan Lu Han. Sehun bercerita seakan ia hidup dalam imaji yang tersisa bersama Lu Han. Ia bercerita seakan hanya itu yang ia punya.

"Hyung, apa sudah terlambat bagiku untuk kembali?"

Baekhyun ingin, ingin sekali memberi sebuah jawaban namun ia sendiri tak tahu apa jawabannya. Namun belum juga ia membuka mulut untuk setidaknya memberikan jawaban, dering ponsel di saku jasnya membuatnya mengernyit.

Ia melihat Sehun mengangguk dan ia berjalan menjauh untuk menerima panggilan tersebut dan keningnya semakin mengerut kala ia melihat siapa orang yang membuat panggilan dengannya.

Lu Han.

"Halo?"

"Halo, Baekhyun?"

Baekhyun mengernyit kala ia mendengar nada Lu Han yang lain dari biasanya. Ia terdengar seperti sedang ragu dan Baekhyun tahu dari nada suaranya yang terlihat lebih tinggi dari biasanya dan lebih keras.

"Ada apa, Lu Han? Kau terdengar—lain."

"Baek, kau ingat kau pernah berkata bahwa Profesor Jaehan dan Profesor Namhyun mengirimku ke Paris, kan?"

Baekhyun tak tahu kenapa ia berpikir seperti itu namun perasaannya bilang bahwa mungkin ada sesuatu.

"Ya, lalu?"

Ada sebuah jeda dan Baekhyun bisa membayangkan wajah bingung Lu Han.

"Profesor Namhyun sebenarnya memintaku untuk ke Paris sebagai partner untuk acara recital Henry."

"Henry?! Henry si Henry Lau?!" tanya Baekhyun tak percaya.

"Ya, Henry yang Henry Lau dan—"

"Sebentar, sebentar." Baekhyun menyela. "Bagaimana bisa—bagaimana ini bisa terjadi?"

"Aku tak tahu. Yang Henry bilang padaku tadi adalah bahwa Profesor Namhyun adalah kenalan Henry dan ia meminta tolong untuk mencarikan mahasiswa seni musik yang bisa ia ajak kolaborasi dan—"

"Tunggu dulu, Lu Han. Apa maksudmu dengan Henry bilang padamu tadi? Kau—kau pergi dengan Henry?!"

"Ya, tapi bukan pergi seperti berkencan. Kami hanya secara kebetulan bertemu di kedai kopi dan—Baekhyun, apakah itu penting? Aku ingin mengatakan padamu sesuatu!"

"Oh—well, oke, lanjutkan."

"Sampai mana aku tadi?"

"Kau ingin mengatakan padaku sesuatu, duh."

"Oh, ya. Aku—aku lalu bilang pada Henry jika aku akan mengusahakan untuk memikirkan tawaran tersebut dan—dan kurasa... Baek, kurasa aku akan mengiyakan ajakannya untuk pergi ke recital tersebut dengannya."

Baekhyun tak bisa tak terkejut mendengarnya dan—

"Lu Han, apa kau yakin? Maksudku—kau menyerahkan pameran ini untukku karena kau takut bertemu dengan Sehun dan kini kau akan kesini?"

Ada jeda sementara di ujung telepon sebelum suara Lu Han kembali terdengar.

"Mungkin—mungkin ini waktu yang tepat bagiku untuk meluruskan semuanya, Baekhyun."

Baekhyun mengernyit mendengarnya. "Apa maksudmu?"

Di seberang telepon, ia bisa mendengar Lu Han mengeluarkan desah panjang.

"Mungkin ini saatnya bagiku untuk meluruskan semuanya dengan Sehun dan memulai hidup baru."

Baekhyun merasa ikut sakit hati saat mendengarnya, bagaimana sesaat setelah Sehun baru saja menyadari kesalahannya, saat itulah Lu Han ingin mengakhiri semuanya dan memulainya dengan yang baru. Pemuda Byun tersebut mengurut keningnya dan ia tak bisa membalas apapun kecuali—

"Apapun keputusanmu, aku akan mendukungnya. Aku tahu apa yang akan kaulakukan adalah hal yang menurutmu baik untukmu."

Walaupun Baekhyun tahu Sehun akan tersakiti dan kecewa akan hal ini, namun ia tak bisa memungkiri jika ia memang benar-benar serius dengan ucapannya.

Karena bagaimanapun juga ia ingin yang terbaik untuk Lu Han, dan ia tahu jika Sehun memang, mungkin saja, telah terlambat.

Dan setelah mendengar Lu Han berterimakasih di ujung telepon, ia mematikan sambungan tersebut.

Baekhyun mendesah lelah sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya dan berbalik untuk kembali ke tempatnya semula bersama Sehun namun sosok Sehun yang sudah berdiri tepat di belakangnya membuatnya terkejut.

"Sehun."

"Hyung, apakah itu Lu Han?"

Dan Baekhyun tak tahu harus menjawab apa. Karena sesaat, nada yang terlantur dari bibir Sehun terdengar sangat rapuh dan terendam oleh hiruk-pikuk keramaian jalan di Paris.

Baekhyun tak tahu, apakah Sehun memang sudah terlambat untuk memperbaiki semuanya.

Ia benar-benar tak tahu.


tbc


a/n : i'm sorry to say that this ff will still be on hiatus mode.

and yes, henry dan luhan

and yes luhan bakal ke paris

and yes my sehunnie udah sadar

and yes you will wait longer (again)

n.b : di chap sebelumnya, kode yang dipakai adalah kode hex.