Disclaimer: NARUTO © Masashi Kishimoto
Inspirated by :
49 — a J-Drama by Shinji Nojima (writer)
Soraoto — a manga by Takamiya Satoru
.
Tittle : A Story Of 49 Days
Genre : Supernatural, Drama, Angst
Rating : T
Pairing: NaruSaku, MenmaIno, NaruSara, slight NaruIno, MenmaSaku
Summary: Mereka berdua bersahabat namun kepribadian keduanya sangat bertolak belakang. Keduanya memiliki pendapat yang berbeda tentang arti kehidupan. Sakura yang angkuh dan memandang semua hal dengan logika. Ino yang ramah dan sangat mempercayai hal-hal yang berbau supernatural. Akankah kisah dalam 49 hari mengubah sikap dan takdir keduanya?
Warning! : AU, OOC, typo, miss typo dan kekurangan lainnya. Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page.
Enjoy and Hope You Like It!
.
Chapter 11 : Rain
.
Hari ini adalah hari Sabtu. Kebetulan Minato sedang tidak banyak pekerjaan, jadi dia bisa bersantai-santai di rumah. Minato yang baru saja akan menemui Menma di kamarnya terdiam tepat dihadapan pintu kamar puteranya tersebut, ketika ia mendengar suara piano yang berasal dari kamar Naruto. Tanpa sadar Minato menjatuhkan airmata, betapa ia sangat merindukan puteranya yang sudah meninggal itu. Dengan perlahan Minato membuka engsel pintu tersebut dan ketika ia melangkah memasuki kamar itu, ia mendapati Menma sedang fokus bermain piano—memainkan Frederic Chopin's "Raindrop" Prelude, Op 28, No.15
Minato memerhatikan permainan Menma sambil duduk di sebuah sofa. Hal yang mengherankan adalah, Menma memainkan piano tersebut seperti kebiasaan Naruto—memejamkan mata dan menunjukkan ekspresi yang berlawanan dengan isi lagu yang sedang dimainkannya. Ya, Raindrop menurutnya adalah lagu yang sedih tetapi Menma memainkannya sambil tersenyum. Pernah suatu hari, ia melihat Naruto memainkan lagu-lagu ceria dengan ekspresi yang nampak sedih— sungguh berlawanan dengan isi lagu yang sedang dimainkannya.
Sewaktu Menma dan Naruto berumur 5 tahun, Minato hanya mengajari Naruto berman piano karena Menma lebih tertarik pada violin dan menjadikan Kushina sebagai guru pertamanya. Itulah sebabnya Menma tidak bisa bermain piano. Namun sebaliknya, dia sangat mahir dalam bermain violin. Menma bahkan bercita-cita untuk menjadi seorang violinist professional yang akan dikenal oleh orang banyak. Dia juga ingin sekali bisa berkeliling Eropa karena ada banyak sekali musisi terkenal yang terlahir di sana.
Naruto berlawanan dengan Menma. Ia lebih menyukai piano dan sama sekali tidak bisa bermain violin, karena ia tidak pernah satu kali pun merasa tertarik untuk menjadi seorang violinist. Namun meskipun Naruto menyukai piano, ia lebih tertarik pada basket. Naruto mulai meminta untuk diajari bermain basket ketika ia berumur 8 tahun.
Minato pun mulai merasa curiga, sejak kapan Menma mahir bermain piano? Ia memainkan Chopin's Raindrop seperti seorang professional, dan dengan kebiasaan yang sama dengan Naruto—menunjukkan ekspresi yang berlawanan dengan isi lagu tersebut. Minato semakin khawatir. Ia jadi teringat ucapan Sasuke beberapa waktu lalu.
"Maaf Minato-jisan, apa mungkin Menma mengidap dissociative identity disorder?"
"Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama. Di sekolah dia jadi populer. Belakangan dia pandai sekali bermain basket, tetapi kemarin permainan basketnya sangat payah. Dia seolah memiliki dua kesadaran yang berbeda."
"Ketika aku bertanding basket dengannya…aku seperti sedang melawan Naruto. Dia bahkan berteman dengan beberapa orang dan sering sekali berkumpul dan bercanda dengan mereka."
"Cara dia tersenyum bahkan cara dia tertawa— dia benar-benar mirip dengan Naruto."
Minato juga jadi teringat dengan saran Mikoto dan Itachi.
"Minato-kun kau harus membawanya ke dokter. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya."
"Benar, sebaiknya Menma-kun dibawa ke dokter psikiater. Aku takut dia mengalami gangguan mental akibat trauma karena sesuatu yang menyedihkan. Mungkin Menma-kun tidak bisa menerima kepergian saudara kembarnya!"
Minato kembali mengalihkan pandangannya pada Menma lagi. Cara Menma duduk dan menarikan jari-jemarinya di atas tuts benar-benar mengingatkannya pada Naruto. Ditambah dengan ekspresinya yang sangat berlawanan dengan lagu yang sedang dibawakannya.
Beberapa menit berlalu. Minato masih memerhatikan Menma yang kini sudah selesai memainkan "Raindrop" dan mulai membuka kelopak matanya perlahan. Saat pandangan mata Menma terfokus padanya, dia nampak terkejut—benar-benar mengingatkannya pada Naruto yang sangat ekspresif.
Minato berjalan menghampiri puteranya dan tersenyum. "Permainan yang bagus. Hanya saja… sejak kapan kau bisa bermain piano dengan mata terpejam seperti itu Menma? Aku benar-benar terkejut!"
Untuk sesaat Minato bisa melihat puteranya nampak salah tingkah, sebelum kemudian dia tertawa. "Otou-san ini bicara apa? Di sekolah juga 'kan ada pelajaran musik, jadi tentu saja aku bisa bermain piano!"
"Sekolah Elite olahraga macam Konoha Gakuen biasanya hanya mengajarkan musik dasar karena Konoha Gakuen bukanlah sekolah khusus musik, bahkan saat aku masih menjadi murid di sana, mereka hanya mengajari kami musik-musik standar. Tentu saja hal itu juga berlaku untuk piano."
"Ya, memang… tapi dua minggu lalu kami juga diajarkan Chopin's Raindrop, Otou-san."
"Hanya dalam dua minggu dan kau langsung bisa bermain seperti Naruto? Naruto sudah menghapal beberapa lagu tanpa harus melihat core music ataupun not-not piano, tetapi dia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa sehebat itu. Dan kau Menma, hanya dalam dua minggu kau sudah bisa memainkan Raindrop sambil memejamkan mata? Itu sungguh mengejutkanku!"
Minato kini melihat Menma mulai salah tingkah. Benar-benar mirip sekali dengan Naruto yang tidak pandai berbohong. Setiap kali Naruto berbohong, anak itu tidak pernah berani menatap matanya dan kali ini pun Menma melakukan hal yang sama—padahal setahunya Menma itu paling pintar menyembunyikan emosi yang sesungguhnya.
"Tolong jangan berpikir macam-macam Otou-san! Aku sama sekali tidak mengidap dissociative identity disorder!" tegasnya yang seolah bisa membaca pikiran Minato.
"Kalau begitu, ayo ikut aku ke dokter psikiater untuk membuktikannya! Aku tidak bisa membiarkan puteraku seperti ini! Kehilangan Naruto juga merupakan kehilangan terbesar untukku, tetapi aku tidak segitu putus asa seperti dirimu yang sampai mencoba bunuh diri!"
.
Naruto terkejut. Ini pertama kalinya ia melihat Minato nampak begitu emosi. Dia meninggikan suaranya dan menjatuhkan airmata, padahal seingatnya Minato selalu bisa mengontrol emosinya. Selama ini Ayahnya itu selalu terlihat tenang walaupun tengah memiliki masalah pelik di kantornya. Ia jadi tidak tahan melihat ekspresi Ayahnya yang seperti ini.
"Gomen na Otou-san. Aku baru ingat kalau aku ada janji dengan seseorang. Kita lanjutkan pembicaraan kita setelah aku kembali nanti."
Setelah mengatakan hal tersebut, Naruto pun segera keluar kamar. Memang tidak sopan, tetapi ia hanya sedang merasa bingung. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ia tidak mungkin mengatakan pada Ayahnya mengenai Sara ataupun pertukaran jiwa, karena Minato Namikaze bukanlah tipe orang yang akan mempercayai hal-hal yang diluar akal sehat. Dia adalah orang yang memikirkan segala hal dengan logika. Dia tidak mungkin mempercayai hal-hal berbau supranatural.
.
.
Naruto kini sudah keluar dari rumahnya. Ia berjalan menelusuri trotoar jalan. Langkah kakinya membawa tubuhnya hingga sampai disebrang taman kota. Sepatu miliknya menggesek aspal yang berdebu. Ia kemudian menyebrang ke taman tersebut dan memilih duduk di salah satu kursi.
Naruto duduk dan menikmati oksigen yang disumbangkan oleh berbagai jenis pohon di sana—terlalu lelah dirinya menerima berbagai gas kotor dari pabrik-pabrik besar di kota besar ini. Udara kotor itu hanya mengganggu pernapasannya walaupun saat ini dia sedang menggunakan tubuh Menma yang sangat sehat.
"Taraa! Mau jus?" seseorang menyodorkan sebuah minuman kaleng untuknya.
Naruto masih terdiam. Ia sedang malas untuk meladeni orang yang sepertinya akan mengganggu acara pertukaran oksigen antara dirinya dan pohon besar yang berdiri kokoh di dekatnya. Namun setidaknya ia harus meladeni orang itu, untung-untung ia dapat minuman kaleng.
"Kau?" Naruto tersentak kaget. Seorang gadis berambut soft pink muncul dan mengambil tempat duduk tepat di sampingnya. Gadis itu tersenyum padanya.
"Apa yang kau lakukan di sini Sakura-chan?" tanya Naruto sambil menerima jus kaleng yang disodorkan Sakura padanya.
"Eh? Aku suka ke sini kok? Hampir setiap hari malah!" jawabnya masih tersenyum, sedangkan Naruto hanya ber 'oh' ria saat mendengarkan jawabannya.
"Ini satu-satunya tempat favoritku di daerah sini, karena udaranya masih bersih dan sejuk. Yah, walaupun tempat ini lumayan jauh dari rumahku."
"Begitu," Naruto menegak minuman kaleng yang Sakura berikan padanya. Habis. Minuman kaleng yang berukuran sebesar kepalan tangan itu ia habiskan dalam sekali teguk. Ia memang belum sempat minum karena sudah cukup lama menghabiskan waktunya di kamar sambil bermain piano. Terkadang ia memang suka lupa untuk minum ataupun makan kalau sedang assik bermain piano.
"Arigatou Sakura-chan," ucapnya sambil menunjukkan eyes smile-nya.
Sakura tertegun karena dia sangat menyukai ekspresi Naruto ketika tertawa. Dia menyukai mata Naruto yang ikut tersenyum seperti bulan sabit itu. Ucapan terimakasih Naruto yang terdengar tulus itu sukses membuat wajahnya menjadi merah. Sedikit senang karena kebetulan bisa bertemu Naruto di sini, dia menghela nafas ringan.
"Naruto, kau baru ke sini ya?" tanyanya. "Yah, aku sering ke taman ini sejak masih SMP tapi aku baru melihatmu tuh!" lanjutnya sambil meregangkan sedikit tangannya yang mungkin terasa pegal itu.
"Begitulah. Semenjak aku sakit, aku tidak pernah berbaur dengan aroma kota. Udaranya tidak bagus untuk kesehatan ku—itu yang dikatakan Ayahku. Jadi dia selalu mengurungku di rumah. Aku biasanya suka kabur kalau sedang ingin pergi keluar atau menonton pertandingan street basket," jawab Naruto dengan tatapan kosong.
"Bukannya aku bermaksud membangkang pada Ayahku, sih, tapi aku hanya ingin melakukan apa yang aku inginkan. Egois bukan?" kata Naruto yang kemudian tertawa kecil.
Sakura menggeleng. "Menurutku itu tidaklah egois. Hal yang wajar jika kau ingin menyinggahkan dirimu di kota atau ditengah-tengah keramaian. Aku mengerti pasti sangat membosankan jika hanya berdiam diri di rumah apalagi di rumah sakit."
Mendengar ucapan Sakura itu, Naruto merasakan hujan tersendiri yang melanda dirinya. Dari sudut matanya terlihat hujan kecil yang melukiskan segala penderitaannya selama ini. Naruto merasa kalimat yang diucapkan oleh Sakura itu begitu tepat sasaran. Hanya dengan satu jawaban darinya, ia mulai ambruk dalam kesepiannya sendiri selama ini.
Sedikit demi sedikit matanya mulai basah. Naruto menangis. Dinding ketegaran yang selama ini ia bangun agar ia tidak terluka akhirnya dihancurkan dengan mudah oleh Sakura. Tenggelam dan semakin tenggelam, Naruto mulai hanyut dalam kerapuhannya. Terlalu tegar. Selama ini ia terlalu tegar hingga hatinya membeku dan hancur perlahan-lahan dengan sendirinya.
"Hanya satu hal yang aku sesalkan. Seandainya beberapa tahun yang lalu kita berdua bertemu di sini untuk pertama kalinya… aku pasti akan merasa jauh lebih bahagia, karena entah kenapa aku merasa seharusnya kita bisa bertemu lebih awal."
Sakura heran karena kali ini Naruto tidak merespon perkataannya. Ia pun mengalihkan pandangannya pada pemuda itu dan terkejut. Naruto hanya terdiam dalam tangisnya. Matanya memerah dan mulai kosong. Sakura merasakan sakit di hatinya. Pertama kalinya ia melihat orang yang dicintai menampakkan ekspresi seperti ini.
"Hei, hei, Naruto? Kau kenapa? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Sakura sedikit khawatir.
"Aku juga ingin bertemu dengan Sakura-chan lebih awal."
"Eh?"
"Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi dan setelah itu aku tidak akan pernah bisa menemui Sakura-chan lagi. Aku—"
'BLAR! BLAR!'
Langit yang tadinya cerah kini mulai berwarna kelabu. Titik-titik air hujan mulai menghampiri Tokyo dengan sendirinya. Meski hujan, Naruto masih tetap mematung di taman itu—tentunya bersama dengan Sakura.
Hujan turun semakin deras hingga Sakura pun tidak mampu membedakan yang mana airmata Naruto dan yang mana air mata langit.
Tiba-tiba saja Naruto tertawa. "Haha…" tentu saja hal itu membuat Sakura menaikkan sepasang alis miliknya karena merasa heran.
"Lucu sekali! Aku baru saja memainkan lagu Raindrop sebelum ke sini. Dan sekarang benar-benar turun hujan."
Sakura tidak mengerti mengapa tiba-tiba Naruto bersikap seperti ini? Namun dia tidak tega melihat Naruto yang tiba-tiba saja terlihat rapuh karena hal tersebut juga menyakitinya. Akhirnya Sakura pun merengkuh diri Naruto dan memasukkannya ke dalam dekapannya.
Naruto sedikit terbelalak, namun ia menikmatinya. Rasa dingin yang ia rasakan sebelumnya seolah menghilang—tergantikan oleh kehangatan Sakura. Disela-sela dekapannya, ia dapat merasakan deru nafas Sakura yang hangat. Semuanya dapat ia rasakan, hingga merasuki seluruh aliran darahnya. Deru nafasnya, suaranya, dan bahkan kehangatan tubuhnya dapat membuatnya merasa nyaman. Sebuah pertemuan singkat dengan sang gadis musim semi, namun dapat menarik perhatiannya yang seharusnya sudah tidak ada urusan lagi di dunia ini.
Terhanyut. Ia begitu terhanyut dalam dekapan Sakura. Perlahan, ia ikut mengangkat tangannya dan membalas pelukan hangat gadis yang sudah membuatnya jatuh hati itu. Hal yang tidak pernah ia dapatkan maupun sangat nihil untuk ia raih. Masih dalam kehanyutan Sakura melepaskan dekapannya dari Naruto. Naruto merasakan ada yang hilang saat gadis musim semi itu melepaskan pelukannya darinya. Kehangatan. Ya, Naruto seakan-akan kehilangan kehangatan yang menjadikan hatinya kembali diguyur hujan.
Melepaskan pelukannya bukan berarti Sakura meninggalkannya. Naruto menatap manik green-emerald milik Sakura, begitupula dengan gadis itu yang juga menatap dalam manik sapphire miliknya. Seakan-akan keduanya terhanyut dalam beningnya keindahan bola mata mereka masing-masing.
Sakura mulai merasakan nafas Naruto yang mulai menyentuh pori-pori kulit wajahnya sendiri, dan tanpa ia duga sedikitpun, Naruto mengecup keningnya lembut. Beberapa menit kemudian, Sakura merasakan Naruto mencium bibirnya.
Aneh. Hari ini Naruto-nya memang terlihat aneh. Bibir Sakura bergetar kuat. Jantungnya pun berdetak lebih kencang saat ia menerima sapuan hangat tepat dibagian bibir mungilnya dari Naruto. Nafas Sakura memburu, entah kenapa hatinya terasa begitu sakit seakan-akan dia tidak akan bisa merasakan ciuman Naruto lagi. Perlahan-lahan kegelapan pun mulai menyelubungi hatinya.
Ciuman lembut dan ragu-ragu namun terkesan manis tetapi juga menyakitkan dalam waktu bersamaan. Kini bibir tipis yang menyapu permukaan bibir mungilnya itu menjauh. Dia dan Naruto, mereka berdua kemudian mengambil nafas sejenak. Ciuman kali ini terlalu sesak dan melelahkan untuknya. Pertama kalinya hatinya terasa begitu sakit saat Naruto menciumnya, padahal beberapa waktu lalu dia lah yang paling mendominasi ciuman mereka.
Angin dingin yang mengiringi hujan berembus dan menerbangkan beberapa helaian rambut soft pink milik Sakura dan rambut pirang keemasan milik Naruto. Hawa dingin mulai muncul dan mengambil tempat diantara mereka. Sosok yang tidak berbentuk itu kini sedang berada disekeliling mereka—mengecup lembut pori-pori kulit mereka hingga geraham mereka mulai bergetar karena kedinginan. Air hujan yang masih turun dengan deras itu mulai terasa sedingin es ketika sang angin ikut menyapu tubuh mereka.
"Kita hujan-hujanan rupanya," Naruto menatap kosong langit.
Sakura menatap Naruto lagi. Manik green-emerald miliknya seakan disapu pandang oleh hujan. "Kau tidak apa-apa, kan, Naruto? Bagaimana kalau kita berteduh dulu? Nanti kau sakit," saran Sakura pula. Namun pemuda itu tidak merespon. Ia kemudian meraih tangan Naruto.
Sakura kemudian membawa Naruto berlari menuju sebuah café tempat ia biasanya janjian bertemu dengan Mebuki. Ah, betapa ia sangat merindukan sosok Ibunya itu. Kapan mereka terakhir kali bertemu? Kalau tidak salah sekitar dua tahun yang lalu. Dia heran mengapa Ayahnya begitu egois padahal semenjak kedua orangtuanya bercerai, hak asuh atas dirinya jatuh ke tangan Kizashi tetapi Ayahnya itu selalu saja melarangnya untuk bertemu dengan Ibunya… seakan-akan dia takut akan ditinggal sendirian. Dia mengerti bahwa alasan Kizashi bersikap demikian pasti karena ia tidak ingin dirinya lebih memilih tinggal bersama Ibunya. Namun, tidakkah itu egois? Dia hanya ingin bertemu dengan wanita yang sudah melahirkannya, merawatnya, memberinya kasih dan sayang, juga mendidiknya tanpa kenal lelah— Malaikat pertama yang diperkenalkan Tuhan kepadanya.
Mereka berdua kemudian memasuki café itu untuk sekedar menikmati penghangat ruangan dan segelas Cappuchino dari café tersebut. Seorang waitress muda berusia sekitar 22 tahun menghampiri mereka berdua, menanyakan apa yang ingin mereka pesan.
"Aku pesan Cappuchino dan Chocolate Cake," kata Sakura pula.
"Originaly Hot Chocolate," sambung Naruto singkat. Waitress itu pun membungkuk sebelum undur diri.
"Tempat yang bagus," kata Naruto pada Sakura.
"Ya, biasanya aku kesini bersama Ibuku. Rasanya aku sangat merindukan Ibuku, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya lagi."
"Memangnya sesibuk apa ibumu sampai kalian tidak bertemu dalam waktu yang lama?"
"Dia seorang dokter, makanya dia sangat sibuk. Tapi jika aku tinggal bersamanya, pasti akan jauh lebih menyenangkan. Setiap hari libur aku bisa menceritakan banyak hal padanya dan dia juga bisa bercerita tentang pengalamannya padaku. Sayangnya, aku terpaksa harus tinggal bersama Ayahku dan terpisah jauh dari Ibuku."
"Ayahmu itu… apakah dia tidak suka jika kau menemui ibumu di rumah sakit tempatnya bekerja misalnya?"
"Ayahku hampir tidak pernah mengijinkanku bertemu dengan Okaa-san. Dia selalu membayar mata-mata untuk mengawasiku. Aku bahkan harus selalu ditemani oleh bodyguard kalau ingin pergi ke mana-mana."
"Ah, benar juga! Dimana bodyguard yang selalu menemanimu itu? Hari ini aku tidak melihatnya!"
"Aku kabur darinya, tapi sepertinya tidak lama lagi juga akan ketahuan."
"Bagaimana dengan ponsel? Apakah kau juga tidak bisa berkomunikasi dengan ibumu lewat telepon atau media sosial?"
"Ibuku jarang memegang ponsel karena dia selalu sibuk menangani pasien-pasiennya. Kalau pun aku bisa menghubunginya, biasanya kami tidak bisa saling berkomunikasi dalam waktu yang lama."
"Begitu. Ngomong-ngomong, ayahmu tidak akan menghukum mu karena kau pergi denganku 'kan?"
Sakura menggeleng. "Kurasa tidak akan. Besok kudengar Otou-san akan pulang dari Amerika, jadi aku akan meminta izin padanya untuk bertemu dengan Ibuku. Aku tidak peduli walaupun pada akhirnya aku harus menangis dan mengurung diri di kamar karena tidak mendapatkan izin darinya. Aku sangat merindukan Okaa-san."
"Saat itu kau jangan langsung terpancing emosi. Kau hanya perlu membujuknya. Aku juga akan berdoa pada Tuhan agar kali ini dia mengijinkanmu untuk bertemu dengan ibumu, Sakura-chan."
"Arigatou. Kau sendiri bagaimana? Weekend besok ada acara?"
"Ya, kebetulan aku juga sudah ada janji dengan seseorang."
"Siapa? Bukan Ino atau Akazawa, kan?" tanya Sakura sambil menatap Naruto tajam.
"Bukan. Si teme tiba-tiba memintaku untuk menemaninya belanja."
"Si 'teme'?" tanya Sakura tak mengerti.
"Ya, maksudku Sasuke Uchiha. Aneh, padahal biasanya dia tidak pernah memintaku untuk menemaninya berbelanja."
"Eh? Jadi kau akan berkencan dengan laki-laki sekarang?"
"Itu bukan kencan Sakura!" tegas Naruto.
"…tapi aku khawatir, soalnya aku mendengar rumor aneh tentang orang itu."
"Rumor aneh macam apa yang kau dengar?"
"Ya, dia sangat populer dan sering dikerumuni gadis-gadis cantik tetapi dia belum pernah punya pacar, jadi teman-teman sekelas ku mulai bergosip kalau dia tidak tertarik pada perempuan."
"Sasuke bukan orang seperti itu. Dia hanya belum menemukan seorang gadis yang bisa membuatnya merasa nyaman."
"Yeah, bagus deh kalau dia bukan tipe orang seperti itu. Aku tidak perlu khawatir lagi sekarang."
"Setelah mengantarnya aku tidak akan langsung pulang ke rumah karena Sasuke memintaku untuk menginap di rumah keluarganya. Dia bilang ibunya sedang sakit dan ingin bertemu denganku. Bagaimana pun Mikoto-san adalah calon ibu tiriku dan Menma jadi setidaknya aku harus menemuinya dan berbicara dengannya."
"Oh, begitu."
'Kenapa Naruto seperti ingin pergi jauh?' pikir Sakura dalam hati.
Satu gelas cappuchino hangat, hot chocolate, dan sepiring chocolate cake tersuguhkan di permukaan meja yang membatasi Sakura dan Naruto. Suasana tentram kini menyelimuti mereka berdua—namun tidak dengan hati Sakura, dia merasa gundah dan sedih sendiri. Sejak tadi dia kepikiran Naruto. Pemuda yang dicintainya itu benar-benar terlihat aneh saat di taman tadi.
Naruto menyatukan setiap jemari tangan kanannya dengan setiap jemari tangan kiri—milik Sakura. Menyatu sekedar untuk menghangatkan telapak tangannya yang dingin. Terlalu dingin saat ini, padahal ia tengah memanfaatkan tubuh Menma.
Sakura sendiri memandang keluar jendela. Ia benar-benar tak menduga suhu yang sangat dingin ini datang tanpa permisi. Padahal sebelumnya, langit begitu cerah— seakan-akan langit membuat perjanjian kontrak dengan sang surya untuk menghangatkan belahan bumi timur dan mendinginkan belahan bumi lainnya. Tidak disangka hal itu cuma perjanjian konyol belaka. Nyatanya, Tokyo dilanda hujan saat ini.
"Sakura-chan kalau tidak ada aku, kau jangan sedih ya?"
'Deg!' ucapan Naruto itu terlalu tiba-tiba dan sukses menghancurkan hatinya. Dia alihkan pandangannya pada Naruto lagi. Pemuda itu hanya tersenyum namun matanya nampak berkaca-kaca seolah berusaha keras untuk tidak membuat airmata itu tumpah.
"Jika kau percaya reinkarnasi, kita berdua mungkin akan bertemu lagi. Yah, tapi jangan khawatir karena saat itu—tetap akulah yang akan mencintaimu pertama kali. Aku pasti akan mengenali Sakura-chan lebih dulu."
Sakura tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Perkataan Naruto seperti ucapan perpisahan yang sukses membuat bibirnya menjadi kelu. Sakura memejamkan mata, buliran bening mulai menetes dan membentuk aliran sungai kecil di pipinya. Dia mulai rapuh dalam segala kesedihan yang menghujani hatinya. Setelahnya dia tidak berucap lagi. Terlalu kaku. Bibir merah muda miliknya terlalu kaku untuk berucap.
'Entah kenapa aku tidak bisa menyangkal perkataannya seakan-akam dia akan segera menghilang dari hidupku. Sakit yang kurasakan di hatiku membuat dadaku sesak,' batinnya berteriak kuat—membuatnya kembali hanyut dalam kediaman.
Sakura reflek melepaskan genggaman tangan Naruto. Kini ia menggenggam erat tangannya sendiri—mencoba untuk menahan segala perasaannya yang akan meluap-luap.
"Aku sangat mencintaimu Sakura-chan."
Suara hangat milik Naruto membuatnya semakin larut dalam rasa hampa. Tubuhnya gemetar kuat. Permukaan meja yang berada diantara dirinya dan Naruto pun ikut bergetar kuat— seakan-akan dia merasakan kesedihan Sakura. Yah, meskipun sebenarnya meja tersebut adalah benda mati.
'Aku juga sangat mencintaimu. Aku tidak rela jika kau harus pergi meninggalkan aku,' kini batin Sakura menjerit kencang. Namun dia bertekad bahwa dinding pertahannya tidak boleh roboh di sini—tidak di depan Naruto.
Sakura kemudian membuka kelopak matanya perlahan. Dia mulai meneguk cappuchino di hadapannya. Kerongkongannya yang semula terasa kering kini kembali basah akibat zat cair dari cappuchino hangat tersebut.
"Minumlah, nanti hot chocolate mu keburu dingin!" Sakura merasa lega karena sudah bisa mengeluarkan suaranya lagi walaupun hatinya masih terasa sesak.
Naruto tersenyum dan mengangguk. Ia pun mulai meminum hot chocolate pesanannya. Ia tidak menyangka rasanya akan semenyakitkan ini melihat ekspresi Sakura. Gadis itu terlihat begitu sedih walaupun saat ini dia sedang berpura-pura kuat. Ia jadi semakin merasa bersalah karena sudah membohongi gadis itu. Meskipun demikian ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Sakura.
'Yeah, biarlah waktu yang mengungkap kebenaran dibalik pertemuan kita yang sangat singkat ini Sakura-chan. Semoga kita bisa bertemu lagi di kehidupan selanjutnya.'
Naruto mengenggam tangan Sakura lagi setelah ia dan gadis itu meletakkan kembali gelas yang mereka pegang di atas meja. Naruto tidak bisa menceritakan semuanya pada Sakura, karena selain ia bingung bagaimana harus memulainya… saat ini juga bukan waktu yang tepat. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan sekarang selain mempererat genggaman tangannya— sekedar memberi harapan bahwa di dunia ini selamanya tidak hanya ada kesedihan. Kesedihan timbul apabila kita tidak berusaha untuk mencari kebahagiaan. Dan kebahagian muncul apabila kita berhasil menemukan titik terang di dalam kegelapan itu sendiri.
'Sakura-chan meskipun tidak ada aku, kau harus tetap bahagia. Setidaknya masih ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus. Dengan kata lain, setelah aku menghilang nanti… kau jangan hanya diam menunggu kebahagian yang tidak datang tanpa kau cari terlebih dahulu.'
"Sakura-chan..." Naruto mengelus lembut rambut soft pink Sakura seraya ia berucap pada gadis itu, "Berjanjilah padaku untuk hidup bahagia walaupun aku tidak berada di sampingmu. Dan percayalah bahwa aku akan selalu bersamamu. Ya, aku akan selalu ada di dalam hatimu untuk selamanya Sakura-chan."
"Naruto… tolong berhentilah mengucapkan kata perpisahan padaku karena aku tidak mau mendengarnya lagi! Aku akan selalu berdoa untukmu! Kau pasti akan segera sembuh, percayalah Naruto!"
"Gomen. Aku terlalu terbawa suasana. Aku tidak akan mengatakannya lagi."
Sakura mengangguk dalam kehangatan yang menyentuh ubun-ubunnya, berterimakasih karena Naruto sudah berhenti mengatakan salam perpisahan. Telapak tangan milik Naruto membuatnya hanyut dalam kehangatan kecil itu sendiri, namun bernilai besar. Diantara hujan ini, mereka saling bertukar pandang. Manik sapphire dan green-emerald kembali menyatu dalam satu benang merah tak kasat mata diantara mereka. Tak kasat mata, namun hati dapat menebak di mana letak dan keberadaannya. Kini wajahnya semakin menghangat diantara hawa dingin yang dibawa oleh hujan.
"Naruto, kalau hujannya sudah reda antarkan aku ke Mall, ya?"
"Apakah ada sesuatu yang ingin kau beli?"
"Ya, aku mau ganti baju. Kau juga harus berganti pakaian Naruto, nanti kau sakit."
"Sakura-chan juga bisa sakit kalau tidak segera mengganti pakaianmu yang sudah basah kuyup itu."
Sakura menggeleng. "Aku jarang sakit jadi kau tidak perlu khawatir. Aku hanya merasa tidak nyaman kalau terus mengenakan pakaian basah."
"Begitu? Ternyata Sakura-chan mirip sekali dengan Menma, ya? Kalian dianugerahi tubuh yang sehat dan kuat! Aku jadi iri!"
"Menurutku ketahanan tubuhmu juga cukup kuat. Kau ingat, saat aku masih mengetes ketulusanmu? Aku membuatmu menunggu dalam guyuran hujan dari sore sampai pagi. Ya, wajahmu memang terlihat sangat pucat saat itu, tetapi setelahnya kau tidak sampai jatuh sakit."
"Ah, itu! Menurutmu kenapa bisa begitu? Aku sebenarnya tidak tahan cuaca dingin lho…"
"Um? Aku juga tidak tahu! Mungkin saat itu Kami-sama ingin membantumu untuk mendapatkan hatiku?"
Naruto menghela nafas pelan. Gadis dihadapannya ini benar-benar tidak peka, padahal dalam kalimat yang ia ucapkan barusan tersembunyi sebuah petunjuk. Hari itu, ia tidak sampai jatuh sakit karena dia tengah memanfaatkan tubuh Menma.
"Ngomong-ngomong, Sakura-chan! Di rumah sakit mana Ibumu bekerja?"
"Di Rumah Sakit milik Tsunade Senju. Ah, benar juga! Aku ingat pernah melihat fotomu bersama Ibuku! Jadi kau biasa dirawat di rumah sakit itu ya?"
"Tentu saja. Tsunade Senju itu 'kan Nenekku."
"Eh? Ah, benar juga… nama lengkap Kepala Rumah Sakit tersebut adalah Tsunade Senju Namikaze! Kenapa aku baru sadar?"
"Kau bilang, pernah melihat fotoku bersama ibumu? Ya, aku ingat kalau Haruno-sensei pernah menanganiku saat aku harus masuk ruang IGD. Um, jadi dia adalah Ibumu? Kalau kupikir-pikir lagi kalian berdua memang mirip, tapi di mana kau pernah melihat foto itu?"
"Yappari...kau memang belum membuka laci meja mu yang itu, ya? Padahal aku menyimpan sebuah kado untukmu di sana."
"Sebuah kado? Ah, gomen… aku lebih sering membuka laci meja ku yang satu lagi jadi aku sama sekali tidak tahu kalau kau meletakkan sebuah hadiah di sana."
"Ya, tidak apa-apa. Lagipula aku tidak mengharapkan sebuah balasan."
"Aku juga sebenarnya sudah menyiapkan hadiah untuk Sakura-chan."
"Hountou?"
"Ya, tapi sekarang aku tidak sedang membawanya. Aku akan memberikannya pada saat kita bertemu lagi," kata Naruto sambil tersenyum.
Sakura membalas senyuman Naruto dan mengangguk. Lama waktu berselang, hujan kini mulai berubah menjadi gerimis. Sakura bisa melihat jam di dinding café sudah menujukkan pukul 14:09
"Kau sudah mau pergi, Sakura-chan?" Naruto berdiri dari kursinya. Sakura hanya mengangguk pertanda 'iya' pada Naruto.
"Yah, ayo kita berangkat ke Mall sebelum kesorean!" ajak Sakura.
"Hn. Oh ya, biar aku yang bayar ya!" ujar Naruto yang masih sibuk mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dompet untuk membayar cappuchino, hot chocolate, dan chocolate cake yang tadi disuguhkan untuk mereka.
Sakura menanggapi perkataan Naruto dengan anggukkan kepala. Dia kemudian berdiri dari kursinya. "Aku tunggu di luar ya!" ucapnya yang kemudian berjalan menuju pintu keluar.
Naruto sendiri lekas menghampiri kasir dan membayar pesanan mereka. Begitu ia keluar dari café, ia lekas mendekati Sakura dan meraih tangannya. Mereka pun berdiri berdampingan seraya menunggu sebuah taxi yang lewat sambil bergandengan tangan.
oOOo
.
.
Minato berdiri di depan jendela kamarnya sambil mengalihkan pandangannya ke luar. Di luar sana hujan turun dengan deras— benar-benar kejadian yang langka mengingat ini masih musim semi dan tidak lama lagi akan memasuki musim panas. Hujan seakan-akan turun untuk menangisi kepergian seseorang yang dikenal baik. Ia jadi teringat bahwa hujan juga turun ketika Kushina dimakamkan, bahkan saat pemakaman Naruto 39 hari yang lalu… hujan juga turun dengan deras.
"Apa yang kupikirkan? Setiap detik dan setiap waktu pasti selalu ada kelahiran dan kematian. Hujan bukan berarti melepaskan kepergian seseorang, karena pada kenyataannya setiap detik dan setiap waktu pasti akan ada nyawa yang pergi meninggalkan raganya. Tanpa hujan pun, kita akan mati juga," desisnya.
"…tapi kenapa? Kenapa rasanya aku mulai membenci hujan?" lanjut Minato seraya memerhatikan foto keluarganya yang terpajang di dinding. Dengan langkah gontai, Minato mendekati foto keluarga tersebut. Disentuhnya gambar Kushina dan kemudian Naruto.
"Kushina…Naruto…" desisnya lemah. Tidak lama kemudian seolah kakinya tak mampu menopang lagi berat tubuhnya, Minato pun jatuh terduduk dan dia mulai menangis tanpa suara. Ya, nampaknya memang tidak baik terus-menerus memendam luka seperti ini. Kushina dan Naruto adalah salah satu orang orang yang paling berharga baginya.
Minato meraih sebuah foto keluarga yang terpajang di atas meja di sampingnya. Ia pun memejamkan kedua matanya seraya mendekap pigura foto berukuran 12R itu dengan erat. Ia jadi teringat masa lalu. Kenangan masa lalu saat Kushina dan Naruto masih berada di sisinya dan juga Menma.
.
.
15 years ago~
"Aku sangat terkejut saat Kushina-san mengatakan ingin melahirkan dengan cara yang normal, padahal aku sudah menyarankan operasi sesar karena tubuhnya saat ini terlalu lemah untuk melahirkan. Kudengar dari Tsunade-sensei, belakangan ini kondisi kesehatan Kushina-san memburuk?" ujar seorang dokter kandungan pada Minato.
"Ya, tiga minggu yang lalu penyakitnya juga kambuh. Sayangnya, saya juga tidak mampu membujuknya untuk melakukan operasi sesar. Tapi syukurlah, berkat anda— Shizune-sensei, Kushina bisa melahirkan dengan selamat. Saya benar-benar berterimakasih," sambung Minato yang kemudian membungkuk pada dr. Shizune.
"Saya hanya seorang dokter kandungan biasa. Ucapan dan rasa syukur itu, saya rasa lebih layak untuk ditujukkan kepada Kami-sama."
"Ya, tentu saja saya juga sangat bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan."
"Kushina-san terlihat sangat bahagia setelah melahirkan dua orang putera. Kushina-san juga pasti punya alasan sendiri mengapa ia ingin melahirkan dengan cara yang normal."
"Ya, itu karena minggu lalu kami bertemu dengan teman lama kami di taman kota."
"Teman lama?"
"Ya, namanya Mikoto Uchiha. Dia adalah sahabat baik Kushina semenjak SMP. Ketika hari perpisahan SMP, Mikoto harus pindah ke Kyoto karena pekerjaan Ayahnya," Minato tertawa sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. "Kami benar-benar terkejut saat melihatnya di taman kota sambil menggendong seorang bayi yang sepertinya baru berumur sekitar 2-3 bulan. Kupikir bayi itu adalah anak pertamanya, rupanya bayi tersebut adalah anak keduanya."
Shizune tersenyum mendengar cerita Minato tersebut. Jika bayi yang digendong Mikoto saat itu adalah anak keduanya, berarti Mikoto lebih dulu menikah daripada Minato-Kushina. Tentu saja hal tersebut membuat Minato dan Kushina terkejut.
"Mikoto bilang, dia baru pindah ke Tokyo bulan lalu karena pekerjaan suaminya. Bayi itu mirip sekali dengan Mikoto. Dia sangat manis dan lucu, kulitnya putih bersih. Kushina sampai mengira kalau dia adalah bayi perempuan."
"Eh? Jadi bayi itu laki-laki?"
Minato mengangguk. "Namanya Sasuke Uchiha. Kushina kemudian bertanya pada Mikoto, apakah melahirkan itu sakit? Yang tentu saja langsung dijawab Mikoto dengan tawa dan pertanyaan 'Apakah kau takut?'. Kudengar dari Kushina, sejak dulu Mikoto memang suka sekali menggodanya."
"Jadi karena itulah Kushina-san memilih untuk melahirkan dengan cara yang normal?"
"Ya, kurasa ucapan Mikoto membuatnya merasa tertantang. Mereka berdua tidak hanya berteman baik, karena sejak dulu Kushina juga menganggap Mikoto sebagai rivalnya."
Shizune hanya mengangguk. Sekarang ia mengerti mengapa Kushina begitu bersikukuh untuk melahirkan dengan cara yang normal.
"Minato-san mulai sekarang anda harus memberi Kushina-san perhatian yang lebih karena kondisi kesehatannya sangat lemah pasca melahirkan. Sejujurnya saat proses melahirkan, kami nyaris gagal untuk menyelamatkan nyawanya. Ya, kami hampir kehilangan Kushina-san."
Mendengar kalimat yang terlontar dari bibir merah dr. Shizune tersebut, Minato terbelalak kaget. Ia tak menyangka kalau isterinya tercinta hampir meregang nyawa setelah melahirkan dua anak kembar. Ia pun bertekad untuk melindungi Kushina. Tidak akan ia biarkan wanita itu melakukan pekerjaan yang berat-berat. Ia tidak akan mengijinkannya keluar rumah apalagi melakukan rutinitas pekerjaan yang bisa membuatnya kelelahan. Dan sebagai gantinya, biar dia saja yang bekerja keras. Kushina tidak perlu membantunya mencari uang. Lagipula, mencari nafkah adalah kewajiban seorang suami.
Sejak saat itu Minato menjadi tergila-gila dengan pekerjaan dan tanpa ia sadari, hubungannya dengan sang isteri pun menjadi semakin renggang. Kushina menjadi semakin dingin dan mereka bahkan tidak pernah lagi melakukan hubungan seks. Minato juga mulai menyewa apartemen sendiri. Sebuah apartemen yang jaraknya cukup dekat dengan kantornya. Minato hanya sesekali pulang ke rumah pada saat weekend untuk menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya.
.
.
10 years ago~
"Dia selalu mengurungku di rumah. Aku tidak tahan lagi menjalin hubungan dengannya. Aku ingin bercerai," kata Kushina pada suatu hari.
Ibu mertuanya yang sejak tadi mendengar curahan hati Kushina hanya bisa menghela nafas. "Pikirkanlah baik-baik Kushina! Anak-anak kalian masih sangat kecil. Kalian hanya akan menjadikan mereka korban,"
"…tapi Minato sudah berubah, Kaa-san! Dia bukan lagi Minato yang aku kenal selama ini! Dia tidak memahami perasaanku!"
"Minato hanya mengkhawatirkanmu."
"...tapi Okaa-san, sikapnya yang terlalu berlebihan itu hanya membuat perasaanku padanya semakin memudar. Aku ingin bebas. Aku tidak ingin menjadi burung dalam sangkar."
Tsunade hanya bisa merengkuh Kushina dan memeluk menantunya itu untuk menenangkan hatinya. Dibelainya rambut merah Kushina dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tentu saja dia sangat memahami perasaan Kushina, tetapi dia juga bisa mengerti mengapa puteranya bersikap overprotective seperti itu. Minato hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Kushina.
.
Kushina sedang memainkan Violin Sonata No.5 Op. 24 "Spring" - Beethoven ketika puteranya menarik-narik ujung roknya dengan tangannya yang mungil.
"Menma-chan? Ada apa?" tanyanya sambil tersenyum.
"Okaa-chan, ajari aku bermain violin!"
"Oh, Menma-chan ingin belajar violin? Kau suka violin?"
Menma mengangguk penuh antusias. "Um, daisuki!"
"Baiklah, Okaa-chan akan mengajarimu!"
"Aku ingin menjadi seorang violinist terkenal dan keliling Eropa, jadi mohon bimbingannya Okaa-chan!"
Kushina tertawa melihat tingkah menggemaskan puteranya tersebut. Walaupun Menma masih berumur 5 tahun dan agak cadel tapi cara berbicaranya sudah seperti orang dewasa.
"Aku sangat bangga padamu, nak! Kau masih kecil tetapi sudah mempunyai cita-cita!"
Kushina pun mulai mengajari Menma bermain violin. Ia senang karena puteranya sangat bersemangat. Tidak memerlukan waktu yang lama, Menma sudah menguasai dasar-dasarnya. Kushina pun tak kenal lelah untuk mengembangkan bakat puteranya tersebut. Setiap hari ia mengajari Menma dengan sabar.
.
Hari ini Kushina sedang makan malam bersama kedua puteranya karena Minato belum pulang walaupun besok adalah weekend. Ia memerhatikan Menma dan Naruto bergantian. Sejak tadi Menma sibuk menyingkirkan tomat dari makanannya, sedangkan Naruto sibuk menyingkirkan paprika.
"Menma-chan, Naru-chan, kalian tidak boleh pilih-pilih makanan!" tegasnya.
"…tapi aku tidak suka tomat!" sahut Menma.
"…dan aku benci paprika," sambung Naruto.
Kushina hanya tergelak melihat ekspresi kedua puteranya tersebut. Menma dan Naruto nampak sangat menggemaskan ketika sedang cemberut. Ya, hanya Menma dan Naruto lah yang bisa menghiburnya. Berkat mereka berdua pula, ia masih sanggup mempertahankan hubungannya dengan Minato walaupun ia dan suaminya itu mulai sering bertengkar karena ego masing-masing.
"Naru-chan, kalau kau mau memakan paprika… Okaa-chan akan membelikanmu banyak mainan baru dan Okaa-chan juga akan mengajarimu bermain violin, bagaimana?"
"Violin?" tanya Naruto yang kemudian menggeleng, "Aku lebih suka piano. Kalau Otou-chan sudah pulang nanti, aku akan memintanya mengajariku bermain piano."
"Kenapa kau tidak ingin belajar violin?" tanya Menma.
"…karena aku ingin menjadi pianist pendamping Nii-chan dalam setiap kompetisi violin yang membutuhkan alunan piano."
"Arigatou. Aku sangat menghargainya."
"Nah, Menma-chan! Okaa-chan juga akan membelikan apapun yang kau inginkan kalau kau mau memakan tomat-tomat itu."
"Tidak tertarik."
"Astaga, jadi kalian berdua menolak Okaa-chan? Okaa-chan terluka!" Kushina memasang ekspresi terluka—yang sebenarnya hanya pura-pura untuk menggoda kedua puteranya.
Menma dan Naruto berdiri dari kursinya dan berhambur pada Kushina. Mereka memeluk Ibunya itu dengan erat. "Kami sayang Okaa-chan," kata Menma.
"Ya, tapi aku tetap benci paprika," sambung Naruto.
Kushina tersenyum. Rasanya ia tidak tega memaksa Menma dan Naruto untuk menyukai makanan yang mereka benci. Kushina pun membalas pelukkan kedua puteranya dan mengecup lembut puncak kepala mereka bergantian.
"Tadaima!" terdengar suara Minato yang baru saja datang.
Menma dan Naruto saling pandang kemudian tersenyum lebar. Terlihat sekali kalau mereka sangat merindukan Ayahnya. Kushina pun melepas dekapannya pada Menma juga Naruto dan membiarkan mereka berlari menghampiri Minato.
"Okaeri, Otou-chan!" seru mereka kompak.
Menma mulai bercerita pada Minato kalau dia mulai belajar violin. Dia mengatakan bahwa sangat menyenangkan sekali bisa belajar violin bersama Kushina. Sementara Naruto, mulai berceloteh kalau ia ingin belajar piano dari Minato. Dan tentu saja dengan senang hati Minato akan mengajari Naruto bermain piano.
.
.
Minato memerhatikan kembali foto keluarga yang tengah dipegangnya. Dalam foto tersebut Naruto sedang tersenyum lebar sambil memegang sebuah bola basket. Foto tersebut ia ambil pada saat Menma dan Naruto baru berumur 8 tahun— seminggu setelah ia mulai mengajari Naruto basket. Ia biasanya mengajari Naruto bermain basket di halaman belakang rumah. Pada salah satu pohon besar yang tumbuh di sana, Minato bahkan membangun sebuah rumah pohon untuk tempat mereka istirahat. Setiap weekend biasanya ia dan Naruto akan menghabiskan waktu di sana. Sementara Menma yang tidak suka olahraga biasanya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Kushina di dalam rumah untuk belajar violin.
Pada saat Menma dan Naruto berusia 9 tahun, Kushina semakin sering keluar-masuk rumah sakit karena kondisi kesehatannya terus memburuk. Menma dan Karin sering sekali menjenguk Kushina di rumah sakit dengan ditemani Jiraya. Naruto sebaliknya, ia malah jarang sekali menjenguk Kushina di rumah sakit karena ia tidak suka melihat sang ibu yang sering terlihat sedih dan tertekan. Minato mengerti kalau Kushina sebenarnya sangat bosan berada di rumah sakit tetapi ia hanya khawatir. Itulah kenapa ia selalu melarang Kushina untuk pulang ke rumah. Ia hanya ingin Kushina mendapatkan perawatan intensif hingga kondisi kesehatannya benar-benar pulih. Namun sekarang ia sadar bahwa itu adalah tindakan yang egois. Tidak seharusnya ia terlalu overprotective dan terus memaksakan kehendak pada sang isteri. Seharusnya ia lebih memahami perasaan Kushina.
"Maafkan aku Kushina. Selama ini aku sering membuatmu tertekan. Ya, merupakan hal yang wajar jika kau sudah tidak mencintaiku lagi. Kau pasti merasa muak padaku, bukan? Naruto bahkan lebih memahami perasaanmu daripada aku walaupun saat itu dia masih anak-anak."
Minato menjatuhkan airmata lagi. Selama beberapa tahun terakhir ini, ia sudah mengulangi kesalahan yang sama. Dulu ia sering sekali mengurung Kushina di rumah atau di rumah sakit dan selalu melarangnya untuk pergi keluar. Lalu, sejak ia tahu bahwa Naruto mengidap penyakit yang sama dengan Kushina, ia juga selalu mengurung Naruto di rumah dan melarangnya untuk pergi keluar kecuali ke sekolah.
"Naruto… gomennasai."
oOOo
.
.
Sakura tersenyum lebar saat menginjakkan kaki di Café favoritnya. Ibunya—Mebuki duduk di salah satu kursi dan melambaikan tangan kepadanya. Sakura pun lekas menghampiri Ibunya dan memeluknya erat. Sungguh, dia sangat merindukan sosok Ibunya. Hari ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan Ibunya setelah dua tahun.
"Sakura, aku sangat merindukanmu. Okaa-san senang sekali karena akhirnya Ayahmu menginjinkan kita untuk bertemu," kata Mebuki tetapi Sakura tidak merespon. Ia pun tersadar kalau saat ini puterinya itu sedang menangis.
"Sudah, jangan nangis Sakura! Kalau kau mau, Okaa-san akan menghubungi Kizashi dan meminta izin padanya supaya kau bisa tinggal bersamaku untuk sementara. Jika dia tidak memberi izin, Okaa-san akan terus membujuknya."
"Tidak perlu Okaa-san. Aku sudah enam belas tahun, jadi setelah ulang tahunku yang ke-18 nanti, aku bisa dengan bebas menentukan keputusanku sendiri… apa aku akan tinggal sendiri atau tinggal bersamamu?"
"Apa kau yakin? Itukan masih dua tahun lagi!"
"Ya, tidak apa-apa karena aku juga bisa mengerti perasaan Otou-san."
"Baiklah kalau begitu. Nah, Sakura kau mau pesan apa? Okaa-san akan panggilkan pelayan!"
Sakura melepas dekapan hangat Ibunya. Dia kemudian mengangguk dan lekas menghapus jejak-jejak airmata di wajahnya. Mebuki mulai memanggil pelayan. Setelah menyampaikan pesanannya pada pelayan tersebut, Sakura kembali menatap mata Ibunya.
"Okaa-san, mengapa kau masih menggunakan nama 'Haruno' meskipun kau dan Otou-san sudah bercerai sejak 7 tahun yang lalu?"
"Eh? Apa maksudmu? Haruno 'kan nama keluargaku juga. Aku dan Ayahmu itu saudara sepupu, Sakura."
"Oh iya, benar juga. Kenapa aku bisa lupa? Haha…"
"Jangan-jangan kau berpikir kalau aku masih mencintai Kizashi? Itulah sebabnya kau bertanya kenapa aku masih menggunakan nama Haruno?"
"Iya, tadinya kupikir Okaa-san akan berkata seperti itu. Jadi Okaa-san memang sudah tidak mencintai Otou-san lagi, ya?"
"Iya. Kami sudah tidak saling mencintai karena itulah kami berdua memutuskan untuk bercerai. Maafkan aku Sakura, gara-gara kami kau harus menjadi korban."
"Tidak apa-apa. Lagipula jika kalian terus memaksa untuk hidup bersama hanya karena memikirkan aku, itu hanya akan menimbulkan hubungan yang tidak sehat. Salah satu dari kalian bisa sakit nanti. Aku bisa berbicara seperti ini karena pacarku mengalami pengalaman seperti itu. Dia bercerita kalau kedua orangtuanya terus memaksakan hidup bersama walaupun hubungan mereka sudah hancur sejak awal."
"Oh, ya? Lalu apa yang terjadi pada orangtua pacarmu itu?"
"Ibunya semakin stres dan tertekan hingga akhirnya meninggal."
"Mm… jadi pacarmu sudah tidak punya ibu? Ngomong-ngomong, siapa 'pacar' yang kau maksud Sakura? Okaa-san baru tahu kalau kau sudah punya pacar."
Sakura blushing. Dia kemudian mengeluarkan ponselnya, lalu membuka galeri foto. Sakura menunjukkan foto yang diambilnya kemarin pada Ibunya.
"Kau berpacaran dengan Menma-kun? Aku terkejut! Bagaimana caranya kau meluluhkan hati lelaki dingin seperti dia, Sakura? Oh My God, kau memang anakku!"
"Eh? Jadi Okaa-san memang kenal dengan Menma-kun, ya?"
"Tentu saja, dia kan pernah menjadi pasienku!"
"Oh, jadi Menma-kun pernah menjadi pasienmu? Tapi kenapa?"
"Dia pernah melakukan bunuh diri dengan mengkonsumsi obat tidur terlalu banyak. Untung saja kami berhasil menyelamatkan nyawanya," cerita Mebuki.
"Percobaan bunuh diri? Tapi kau salah mengenai satu hal Okaa-san, pacarku bukan Menma-kun melainkan saudara kembarnya."
"Eh? Tapi foto ini kau ambil kemarin, kan?"
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Ya, berarti dia memang Menma-kun."
"Apa sih maksud Okaa-san? Aku tidak mengerti!"
"Naruto-kun sudah meninggal tanggal 3 April lalu. Aku juga datang saat dia dimakamkan. Hari itu adalah pertama kalinya aku melihat Kabuto-san begitu frustasi dan menangis. Dia masih muda dan waktu itu adalah pertama kalinya dia kehilangan pasiennya, jadi aku bisa memahami perasaannya. Aku juga sudah berulang kali kehilangan pasien dan rasanya masih menyakitkan walaupun itu bukan yang pertama kalinya."
Sakura tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Dia masih berusaha untuk mencerna perkataan Ibunya. Ibunya bilang, Naruto sudah meninggal tanggal 3 April lalu? Bagaimana bisa? Jelas-jelas selama ini dia sering menghabiskan waktu bersama Naruto!
"Okaa-san pasti becanda, kan? Mana mungkin kalau Naruto sudah meninggal?! SUDAH SATU BULAN AKU BERPACARAN DENGANNYA!"
"Aku tidak bohong, Sakura. Kalau kau tidak percaya, aku bisa membawamu ke makamnya sekarang juga."
"TIDAK MUNGKIN! TIDAK MUNGKIN KALAU DIA SUDAH MENINGGAL! ITU TIDAK MUNGKIN!"
Mebuki mulai gelagapan karena Sakura tidak berhenti berteriak.
"KALAU MEMANG BEGITU, DENGAN SIAPA AKU MENJALIN HUBUNGAN SELAMA INI? NAMIKAZE MENMA?"
"Sakura tenanglah! Kita sedang berada di café!" tegur Mebuki seraya memerhatikan reaksi para pengunjung café lainnya dan juga para pelayan. Sebagian dari mereka nampak merasa terganggu dengan keributan yang ditimbulkan oleh Sakura.
"APA MAKSUDNYA ITU? JAHAT SEKALI! BERANI SEKALI DIA MEMPERMAINKAN HATIKU!"
'PLAK!' Mebuki reflek menampar Sakura untuk menenangkan puterinya itu. "Sadarlah, Sakura! Ini di depan umum!"
Sakura menyentuh pipi kanannya yang terasa perih dan panas. Kini ia sudah tidak lagi berteriak tetapi airmata terus mengalir membasahi wajahnya. Dia kemudian merasakan pelukan hangat Ibunya lagi.
"Maaf karena sudah menamparmu. Sebaiknya kita pergi dari sini, ya?" kata Mebuki lembut.
"Tunjukkan padaku! Tunjukkan padaku di mana makam Naruto!" kata Sakura yang sudah mulai tenang.
Mebuki mengangguk. Ia kemudian meletakkan sejumlah uang diatas meja, lalu membawa Sakura keluar dari Café.
.
.
Lahan seluas beberapa hektar itu dikelilingi pepohonan yang beberapa persen darinya adalah pohon cemara yang menjulang tinggi. Di dalam lahan luas itu, pemandangan yang kadang membuat beberapa orang menjadi parno terpapar di setiap mata memandang: Kuburan. Batu marmer keabu-abuan, tanah merah kecokelatan, rerumputan, dan bahkan pepohonan menjadi objek yang tidak asing bagi tempat ini.
'Tap! Tap!' Dua pasang kaki berjalan mengitari pemakaman itu. Manik green emerald Mebuki Haruno terus mencari nama 'Naruto Namikaze'. Ia ia yakin sekali kalau nama anak itu ada disekitar sini. Langkah kakinya terhenti saat menemukan sebuah gundukan tanah yang masih lumayan baru—masih menorehkan luka apabila kita mencermatinya baik-baik, membuat dada tersayat saat memutar balik memori yang berlangsung 40 hari yang lalu itu. Hanya sekali. Hanya sekali Naruto pernah menjadi pasiennya, tetapi tetap saja menyakitkan mengingat betapa baik dan ramahnya anak itu. Ia bahkan masih ingat ekspresi Naruto saat tersenyum.
"Setiap kali dia tersenyum dari dalam hatinya, matanya akan ikut melengkung seperti bulan sabit. Ia anak yang baik, penuh percaya diri, ramah, periang, dan optimis. Dia begitu terang seperti matahari walaupun ia sakit parah. Dia suka basket dan juga piano. Kudengar dia juga punya kebiasaan yang unik setiap kali bermain piano. Ayahnya bilang, jika Naruto-kun merasa sedih biasanya dia akan memainkan lagu-lagu ceria dengan ekspresi sedih. Sebaliknya, jika dia sedang merasa bahagia… dia akan memainkan lagu-lagu sedih dengan ekspresi ceria."
Sakura terisak-isak mendengar cerita Ibunya. Itu adalah karakter Naruto yang dia tahu, tapi bagaimana bisa Menma memainkan karakter seperti itu dengan sempurna? Mengapa pula Namikaze Menma setega itu mempermainkan hatinya? Selama ini karakter Naruto yang seperti itulah yang membuatnya jatuh cinta.
Sakura memandang batu marmer yang tertancap pada gundukkan tanah di depannya. Nama itu—Naruto Namikaze— terukir di batu marmer beralaskan duka itu. Rasanya begitu menyakitkan ketika ia menyadari bahwa pada kenyataanyannya… sekalipun ia belum pernah bertemu dengan Namikaze Naruto.
"Aku tidak tahu mengapa Menma-kun mengaku sebagai kembarannya? Mungkin sebenarnya dia tidak bermaksud melukai hatimu apalagi mempermainkan perasaanmu, Sakura. Dia pernah mencoba bunuh diri. Dia pasti sangat terpukul atas kematian Naruto-kun. Dan mungkin sejak saat itulah dia mulai mengidap dissociative identity disorder, karena itu jangan membencinyaSakura."
Airmata masih mengalir dan membentuk sungai-sungai kecil di kedua pipi Sakura. Tanpa perlu meminta izin, gadis itu jongkok di pinggir gundukan tanah yang masih lumayan baru itu.
"Naruto…" Sakura bergumam, hatinya terasa begitu sakit dan sesak. "Naruto, aku tidak percaya kalau sebenarnya kita belum pernah bertemu! Seandainya kita bertemu, apakah kau akan jatuh cinta padaku?"
"Sakura," gumam Mebuki. Airmata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Nee, Naruto! Doushite?"
Mebuki bisa merasakan cairan bening terjatuh dan membasahi wajahnya. Ia tidak tega melihat ekpresi Sakura saat ini. Sakura terlihat begitu sedih sekaligus merasa dikhianati dalam waktu bersamaan.
"Mengapa aku bisa jatuh cinta pada karaktermu meskipun kita tidak pernah bertemu sebelumnya? Dan mengapa saudaramu begitu tega mempermainkan hatiku? Dia benar-benar seperti memiliki dua kesadaran yang berbeda, seakan-akan orang yang satu bulan ini menjadi kekasihku memang bukan dia tapi kau."
Sakura meremas beberapa tangkai bunga yang tergenggam di tangannya, menahan segala gejolak perasaan di dalam hatinya. Langit di atas kepalanya mulai mendung seolah bersiap-siap untuk menangisi atau mengejek keadaan Sakura di dalam kata penyesalannya. Sakura sangat menyesal karena tidak pernah bertemu dengan Naruto. Dia juga merasa menjadi orang yang paling bodoh karena bisa dengan mudah tertipu dengan semua ucapan Menma dan juga segala tindakannya.
Sakura mengusap permukaan batu marmer itu dengan perlahan-lahan, meskipun itu membuat hatinya semakin pilu saat menyentuh setiap detail dari nisan itu. Matanya mulai kosong, menerawang jauh dan tanpa tujuan sedikitpun.
"Sakura…" Mebuki bergumam lagi. Ia kemudian berjongkok di samping Sakura dan menepuk-nepuk bahu puterinya itu pelan.
Sakura yang akhirnya tersadar dari lamunannya menurunkan tangan Ibunya dari bahunya. Dia kembali memandangi batu nisan itu. Dengan penuh paksaan bibir Sakura terangkat, membentuk lekukkan manis. Meski penuh dengan airmata, Sakura tersenyum pada gundukkan tanah dihadapannya.
"Watashi Sakura Haruno desu. Yoroshiku onegai shimasu!" kata Sakura mulai memperkenalkan diri. "Aku adalah puteri Mebuki Haruno—dokter yang pernah merawatmu. Saudara kembarmu—Menma, sudah menceritakan banyak hal tentangmu padaku. Jadi, bolehkah aku memanggilmu Naruto saja?"
Sakura kemudian meletakkan beberapa tangkai bunga berwarna putih yang sejak tadi dipegangnya di atas batu nisan itu. "Bagaimana kabarmu Naruto? Maaf aku terlambat mengunjungimu, soalnya aku baru tahu kalau sebenarnya kau sudah—"
Kali ini Sakura berusaha keras untuk tidak menangis, meskipun linangan air mata masih mengalir dan berhenti tepat di sudut bibirnya. Sakura tidak boleh menangis dihadapan Naruto— itulah yang saat ini ia pikirkan. "Oh ya, aku tidak tahu bunga apa yang kau suka, makanya aku bawa empat macam bunga. Kau suka bunga apa? Bunga mawar? Bunga krisan? Bunga lily? Atau bunga daisy?" Sakura mengembangkan senyuman manisnya, berharap kalau sepatah-kata saja terdengar dibenaknya yang kosong saat ini.
Sakura seakan-akan sedang berbicara dengan Naruto. Sakura memasrahkan semuanya, helaan nafas berat terdengar darinya. "Aku membawa bunga apa adanya, Naruto. Kalau kau tidak suka, maafkan aku, ya?"
'Tes. Tes. Tes.' Rinai hujan menuruni bumi, memberikan jejak-jejak kebasahan disetiap tititk… baik itu pada tumbuhan, bangunan, bahkan orang pun tidak luput dari titik basah alami itu—termasuk Sakura dan juga Ibunya.
Hujan semakin lama semakin lebat, namun Sakura sama sekali tidak beranjak dari tempat itu. Begitupula dengan Mebuki.
"Sakura, kau tidak mau pulang? Hujannya semakin lebat, nanti kau bisa sakit," kata Mebuki pada Sakura.
"Aku jarang sakit. Okaa-san tidak perlu khawatir."
"Kau bisa kembali ke sini besok atau lusa. Sekarang sebaiknya kita pulang saja, ya? Mau menginap di rumahku sementara waktu? Biar aku yang mengatakan pada Ayahmu nanti!"
Sakura berdiri. Kini ia hanya terdiam dalam kesunyian. Tangannya terkepal kuat begitu mengingat semuanya terjadi begitu cepat; dari pertemuan pertamanya dengan Menma, tumbuhnya rasa suka di hatinya, hingga takdir yang mengatakan kalau kisah cinta pertamanya yang indah harus berakhir dengan menyedihkan, bahkan sebelum perjalanan cinta yang sesungguhnya itu dimulai. Sakura hanya mampu menggigit bibir bawahnya dengan geram, mengikuti aliran air yang membasahi tiap sudut tubuhnya. Sakura ingin sekali marah dan memaki Menma sepuas hati tetapi pada satu sisi dia merasa frustasi. Salahnya lah yang bisa dengan mudah mempercayai semua ucapan dan segala tindakan Menma. Salahnya lah yang sudah tertipu dengan pemuda berkepribadian ganda itu. Sakura menangis, namun semua itu terhalang oleh air hujan yang seakan-akan mengejeknya dalam kesendirian.
Tidak lama sejak Sakura mengenang kembali semua kenangannya bersama Menma—yang selama ini ia pikir bahwa orang yang menjadi kekasihnya itu benar-benar Naruto— seorang pria datang dan langsung memberi salam pada Ibunya.
"Haruno-sensei, konnichiwa! Saya tidak menyangka bisa bertemu dengan anda di sini."
"Konnichiwa, Namikaze-san! Bagaimana kabarmu?"
Sakura mengalihkan pandangannya pada pria yang saat ini tengah bertegur-sapa dengan Ibunya. Pria itu mirip sekali dengan Menma dan Naruto. Rambutnya yang berwarna pirang keemasan, matanya yang biru, dan wajahnya yang tampan.
"Saya baik-baik saja. Bagaimana dengan anda?"
"Ya, puji syukur aku juga sehat-sehat saja meskipun puteriku ini tidak mau aku ajak pulang sehingga kita harus hujan-hujanan dan basah kuyup," jawab Mebuki setengah menyindir Sakura.
"Ah, jadi dia puteri anda? Puteraku Naruto menyimpan fotonya. Aku benar-benar terkejut. Tak menyangka kalau dia punya seseorang yang dia cintai," kata Minato yang kemudian tersenyum pada Sakura. "Siapa namamu, nak?"
"Sakura Haruno. Yoroshiku onegai shimasu."
"Apa kau pacar anakku? Aku menemukan hadiah darimu di dalam laci mejanya, tapi hadiah itu masih terbungkus dengan rapi. Aneh sekali."
"Aku diam-diam menyimpan kado itu di sana. Mungkin karena Naruto belum menyadarinya… kado itu belum pernah dibuka. Tapi Naruto bukan pacarku, karena kami belum pernah pacaran."
"Oh begitu, jadi Naruto belum pernah mengungkapkan perasaannya padamu? Sayang sekali!" ucap Minato, matanya mulai kosong. Menerawang jauh.
Disaat keduanya mulai berhenti berbicara, luka yang menyayat hatipun terlukis di kedua insan itu… disaat mereka kehilangan orang yang mereka hargai keberadaannya.
Mebuki kembali menangis ketika memerhatikan ekspresi Sakura dan juga Minato. Mereka sama-sama kehilangan, bahkan dia sendiri juga merasa kehilangan. Akankah selamanya takdir memang harus berakhir dengan duka? Menorehkan luka pada siapapun yang ditinggalkan dan yang meninggalkan?
Mebuki melihat jam tangannya. Rupanya sudah hampir satu jam, ia dan Sakura berada di sini. Mebuki kemudian mengalihkan pandangannya pada Sakura dan Minato lagi. Sakura menunduk dalam. Sementara Minato mulai berjongkok di depan makam Naruto, lalu meletakkan sebuket bunga krisan putih diatas batu nisan yang terukir kalimat 'Rest in Peace Naruto Namikaze'.
Mebuki mendekati Sakura, disentuhnya dagu Sakura hingga wajah puterinya itu terangkat. Ia kemudian tersenyum. "Lihat, Namikaze-san membawa bunga krisan!" ujarnya.
Sakura tersentak. Dia kemudian menghampiri Minato. "Namikaze-san, apakah Naruto menyukai bunga krisan?" tanyanya.
"Ya, krisan adalah bunga kesukaannya dan juga isteriku—Kushina."
Sakura terharu mendengar jawaban Minato. "Yokatta… aku juga bawa bunga krisan hari ini!" kata Sakura pula.
.
To be Continued
.
A/n: Holla, minna-san! Ogenki desu ka? UTS saya sudah selesai jadi bisa update. Well, chapter depan fanfiction ini akan tamat!
Oh ya, di chapter kemarin masih ada beberapa orang yang bertanya 'Memangnya Mebuki nggak pernah cerita soal Menma dan Naruto ke Sakura? Mebuki kan pernah ngerawat mereka!' Yah, mungkin kalian lupa kalau dichapter-chapter sebelumnya sudah saya jelaskan alasannya. Jadi akan saya ingatkan lagi buat kalian yang lupa. Kizashi dan Mebuki sudah bercerai sejak Sakura masih berumur 9 tahun dan hak asuh atas Sakura jatuh ke tangan Ayahnya. Jadi selama ini Sakura tinggal bersama Kizashi. Ayahnya itu juga jarang sekali mengijinkan Sakura bertemu dengan Mebuki walaupun Mebuki adalah Ibu kandungnya. Mebuki sendiri juga sangat sibuk karena dia seorang dokter yang sering ditugaskan di UGD. Itulah kenapa Mebuki tidak pernah punya kesempatan untuk menceritakan pada Sakura tentang semua pengalamannya di Rumah Sakit termasuk soal Menma dan Naruto.
Satu lagi, saya ada project fanfiction baru bergenre Fantasy, Sci-Fic— tapi fanfiction saya yang itu pairing-nya akan menjadi NaruSasu (versi Sho-Ai bukan Yaoi) dan NaruSaku. Saya tidak akan memasukkan Rate M apalagi adegan-adegan mesum yang telalu ekplisit, karena saya bukan Fujoshi. Saya cuma tertarik pada hubungan NaruSasu sebatas Shounen-ai yang tidak berlebihan. Nah, yang berminat silakan baca ya, tetapi kalau nggak minat juga nggak apa-apa. Fanfiction-nya akan saya publish tanggal 7 Desember bertepatan dengan ulang tahun Hatsuki, karena saya pengen ikutan event mereka. Yosh, segitu saja! Jaa! Sankyuu for RnR. ^^
