The Reason
Itachi merasa tidak berguna karena sudah menyengsarakan adiknya, dan Itachi semakin bersedih karena Sasuke berkorban untuk dirinya, ditambah sekarang Sasuke tidak bisa bersama dengan orang yang dicintainya.
'Aku tidak apa-apa, asalkan kakak tidak membenciku, itu sudah cukup bagiku.'
Itulah jawaban Sasuke saat Itachi bertanya tentang gadis yang dicintai adiknya.
Itachi merasa tidak berhak membenci atau menghina adiknya, jika bukan karena pengorbanan Sasuke mungkin dirinya sudah tidak bernyawa sejak lama.
Itachi tahu Sasuke menderita, bagaimana adiknya bisa menghadapi kehidupannya kelak jika dia kehilangan gadis itu.
'Tapi nona Hinata akan menikah minggu depan Sasuke.'
'Aku tahu, dia pantas bahagia bersama dengan orang yang lebih baik dariku.'
Itachi tahu adiknya hanya mencoba untuk berlapang dada, sebuah alasan Sasuke untuk tetap bertahan.
The Reason.
Sasuke masih duduk di ranjang tidurnya, pemuda itu menundukkan kepalanya.
Pemuda itu tidak tahu harus berbuat apa, hari ini adalah hari pernikahan Hinata, haruskah Sasuke datang dan mengucapkan selamat untuk gadis itu.
'Hinata akan dibawa Taymujin ke Amerika setelah menikah nanti'
Ucapan Naruto masih terngiang di telinga dan pikirannya.
'Jadi kau menyerah?'
'Sampai disini saja ya??'
Semua perkataan temannya terus berputar dalam pikirannya.
'Ingatlah saat-saat kita bersama, dan ingatlah apa yang menjadi alasanmu untuk menjadi kuat.'
Itu ucapan terakhir Hinata padanya.
"Alasan...?"
Sasuke bergumam, pemuda itu memejamkan mata dan mengingat kembali kilasan saat dirinya masih bersama gadis itu.
Sasuke juga ingat betapa putus asa dirinya saat Hinata pergi lima tahun lalu, apa Sasuke ingin merasakan hal itu lagi?, jawabannya adalah 'Tidak'
Sasuke berlari seperti lima tahun yang lalu, merasa dejavu karena dia mengejar hal yang sama, Sasuke ingin mengejar kebahagiaanya, dan alasan yang membuat Sasuke bahagia adalah Hinata.
'Kumohon tunggu aku sekali lagi.'
Tidak ada gunanya membohongi diri, berpura-pura kuat dan berlapang dada, sekarang Sasuke sadar jika dia tidak menghentikan Hinata, maka dirinya hanya akan membuat gadis itu lebih menderita dan itu adalah kesalahan terbesarnya.
'Hhhh... hhhh...'
Dengan kelelahan akhirnya Sasuke sampai ditempat upacara pernikahan Hinata.
"Hinataa..."
Sasuke berteriak memanggil nama gadis itu, tapi tempat itu sudah kosong, apa semuanya sudah berakhir?, apa Sasuke terlambat lagi?, apa Hinata sudah selesai mengucapkan sumpah pernikahan bersama Taymujin.
Pemuda itu jatuh terduduk dengan lututnya yang mendarat lebih dulu, lagi dan lagi dia terlambat, kali ini Hinata akan meninggalkan dirinya untuk selamanya.
"Kau selalu seperti itu Teme!" Sasuke semakin menunduk saat mendengar suara sahabatnya yang berdiri tepat di belakangnya.
"Penyesalan tidak akan berguna." suara Gaara juga terdengar.
"Tapi memang itu yang dia harapkan." Sai juga berkata dan mereka bertiga kemudian berjalan menghampiri Sasuke, Naruto menepuk pundak pemuda itu yang menangis dalam diam.
"Keluarkan saja kesedihanmu itu, tidak perlu menahan diri." Sasuke mengepalkan tangannya, semua sudah terlambat, rasa sakit itu dirasakannya lagi.
"Tapi kali ini aku menunggumu, Sasuke!"
Sasuke segera mengangkat kepalanya setelah mendengar suara tersebut, gadis yang selalu dia rindukan berdiri dihadapannya dengan senyuman manisnya.
"Hinata..." Sasuke berkata lirih, Hinata sedang mengulurkan kedua tangannya seolah meminta dirinya untuk segera memeluknya, Sasuke tidak ingin itu hanya halusinasinya saja.
"Pergilah Teme, dia menunggumu sejak tadi." Sasuke juga mendengar ucapan sahabatnya.
Apa yang terjadi?, Sasuke tidak peduli untuk saat ini, dengan segera dia menghampiri gadisnya yang sudah meneteskan air mata.
Pelukan hangat yang terasa benar nyata, tidak ingin lepas, Sasuke tidak ingin kehilangan lagi.
"Aku tahu kau akan datang." bibir manis itu membuka suara, tatapan yang sarat dengan kerinduan menatap dalam pada manik malam yang juga terpaku.
"Katakan padaku..."
"Aku mencintaimu, aku menginginkanmu, jangan tinggalkan aku, kau adalah alasanku untuk bahagia, hanya kau." pemuda itu mengecup kedua punggung tangan gadisnya secara bersamaan.
Gadis itu menarik kerah kemeja yang dipakai Sasuke, mengecup lembut bibir pemuda itu.
"You don't know how much i missed you." ucap gadis itu dan mereka pun berpelukan tanpa peduli pada orang-orang yang datang menghampiri mereka.
Dapat Sasuke lihat orang tua Hinata beserta adik perempuannya, Itachi dan Yugao, Sasuke juga melihat orang tua Taymujin, tuan Haido dan istrinya, dan satu lagi pasangan baru yang hadir di tempat tersebut, Taymujin dan gadis berambut pirang yang menggandeng mesra pemuda tersebut.
'Apa yang terjadi Sasuke tidak tahu.'
The End.
Tapi jangang tutup dulu
Yosss akhirnya fict ini selesai juga...
Author note.
Ada tambahan di bawah jadi baca sampai akhir ya..
Terima kasih sebesar-besarnya untuk para reader yang selalu setia untuk mendukung dan menunggu cerita ini
Maaf juga jika akhir dari cerita ini kurang memuaskan dan diluar bayangan para reader...
Akhir kata I love you all ...
Secret Passion segera menyusul
jangan lupa kunjungin wattpadku juga ya ada cerita baru yang baru di publish...
And all about Sasuhina...
Another Love juga lg proses pengerjaan
So, keep wait for my all story...
Sampai jumpa di lain cerita...
Salam aisyaeva...
The Reason
Hinata dan Taymujin adalah sahabat sejak lama, sejak kecil mereka selalu berbagi dalam hal apapun, Hinata dan Taymujin sudah seperti keluarga.
Taymujin sudah berada di Amerika sejak lahir, sedangkan Hinata tidak selalu menetap, terkadang Hinata dan keluarga kembali ke Jepang untuk beberapa waktu.
Seperti saat Hinata duduk di bangku kelas 12, gadis itu pindah ke Jepang, dan Taymujin tidak lagi mendapat kabar tentang gadis itu.
Setelah lulus gadis itu kembali dan Taymujin merasa senang karena sahabatnya sudah kembali, tapi pemuda itu merasa heran karena sifat Hinata berubah drastis, gadis itu terlihat murung.
Mereka berdua kuliah bersama di Amerika dengan jurusan bisnis, selama kuliah sikap Hinata tidak mengalami perubahan, Hinata lebih sering menyendiri, sebagai seorang sahabat Taymujin ingin tahu penyebab gadis itu berubah.
"Hime, ada apa denganmu, kau sahabatku jadi katakanlah, kau bisa berbagi denganku."
Dengan tetesan air mata Hinata menceritakan semua yang dialaminya saat berada di Jepang, tentang penderitaan dan pengorbanan seorang pemuda untuk keluarganya, pemuda yang berjuang demi menyambung nyawa kakaknya.
Taymujin ikut merasakan penderitaan Hinata, bagaimana gadis itu melewati masa-masa sulit karena terus mengingat pemuda yang ditinggalkannya, pemuda yang sangat disayanginya.
Pemuda yang bernama Uchiha Sasuke.
Ibu Taymujin ingin sekali menjodohkan pemuda itu dan Hinata, sebagai permintaan terakhirnya karena ibu Taymujin sedang sakit keras, dengan terpaksa Taymujin menyetujuinya.
"Tolonglah aku hime."
"Tapi bagaimana dengan kekasihmu Arya, kau kan sangat mencintainya?"
"Aku tahu, dia sedang berada di Perancis untuk menyelesaikan kuliahnya."
"Paling tidak sampai Arya kembali, dan ibu ingin kita bertunangan di Jepang."
"Ap-Apa??" sungguh Hinata tidak bisa menolak terlebih ibu Taymujin juga sangat baik padanya.
Saat Hikari dan Hiashi mengetahuinya mereka memberikan keputusan penuh pada Hinata karena mereka tahu bahwa putrinya tidak bisa melupakan pemuda bernama Sasuke.
Saat tiba di Jepang Hinata dikejutkan karena bertemu dengan Sasuke diperusahaan musik milik ayah Taymujin, tidak ada yang tahu selain Taymujin bahwa setelah bertemu Sasuke gadis itu jatuh sakit.
"Apa dia pemuda bernama Sasuke yang selalu kau bicarakan itu?" tanya Taymujin, Hinata menganggukan kepala dengan air mata yang terjatuh.
"Tapi bagaimana nanti malam acara pertunangannya, kau sedang sakit." lanjut Taymujin.
"Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja." Hinata mencoba untuk tersenyum.
Hinata dan Sasuke kembali bertemu di pesta pertunangan, sungguh Taymujin tidak tega melihat sahabatnya yang menderita, Hinata kembali menangis setelah berbicara bersama empat sahabat perempuannya.
"Hiks ... maafkan aku." Hinata menangis pilu, Taymujin terpaksa membawa Hinata ke atap gedung karena tangisan gadis itu tidak mereda.
"Sudahlah Hinata, semua akan baik-baik saja, kau hanya gugup." Taymujin memeluk Hinata untuk menenangkan gadis itu.
Pertemuan berikutnya saat makan siang di kantin perusahaan, Taymujin sengaja mengajak Hinata walaupun gadis itu menolak, Sasuke dan rekan kerjanya sedang makan siang.
Sasuke dan Hinata saling terdiam hal itu membuat Taymujin gemas, mereka bertingkah seolah tidak saling mengenal.
"Aku ke toilet sebentar." dengan alasan tersebut pemuda itu pergi, hanya untuk memberi kesempatan kepada mereka untuk berbicara.
Taymujin menghela napas, Hinata menangis setelah Sasuke pergi.
"Dia membenciku..." ucap Hinata.
"Tidak, kurasa dia hanya tidak tahu harus berbuat apa, kau pergi dan kembali tanpa kabar." Taymujin mengusap air mata Hinata.
The Reason
Taymujin semakin gelisah, ayahnya ingin mempercepat pernikahannya dengan Hinata, dan dia hanya punya waktu satu minggu, tapi sekarang kesehatan ibunya semakin membaik.
Hinata sudah menyerah karena Sasuke tidak bisa bersamanya, ditambah hari ini adalah hari pernikahannya.
Melihat Hinata yang putus asa Taymujin berpikir untuk mengakhiri kesedihan gadis itu, satu minggu yang lalu dia menghubungi kekasihnya Arya dan di saat yang tepat akhirnya gadis itu muncul, Taymujin menemukan harapan untuk kebahagiaan Hinata.
"Apa benar kau mencintai orang lain Hinata." Ayah dan ibu Taymujin bertanya, mereka sudah berdandan rapi sebagai orang tua mempelai.
"Dan kau anakku, apa kau juga mencintai gadis ini?." Ayah Taymujin berkata dan menunjuk pada seorang gadis berambut pirang sama seperti Taymujin.
Ya, gadis bernama Arya datang tiba tepat waktu dan Taymujin segera mengatakan pada orang tuanya tentang kebenaran hubungannya dengan Hinata.
Taymujin mengatakan semua dan ayah Taymujin sangat terkejut bahwa Hinata mencintai salah satu pegawai terbaiknya yaitu Sasuke.
"Dunia sudah benar-benar sempit, aku tidak mengerti kenapa semua bisa terjadi." ayah Taymujin memijat kepalanya.
"Kenapa kau tidak mengatakan sejak awal, lihatlah Hinata sudah menderita." ibu Taymujin angkat suara.
"Maafkan aku paman dan bibi." Hinata berucap dengan air mata yang tidak tertahan.
"Tidak, seharusnya kami yang meminta maaf, Taymujin sudah menyusahkanmu." ucap ibu Taymujin.
"Maaf tadinya aku takut membuat ibu kecewa." ucap Taymujin pada ibunya.
"Lalu sekarang bagaimana?, para tamu akan segera datang." ucap ibu Taymujin.
"Aku punya ide yang bagus bu." ucap Taymujin sambil mengalihkan tatapan pada Hinata yang terus terdiam.
"Hime kau mau membantuku?" Hinata hanya menganggukan kepalanya dengan lemah.
The Reason
Sasuke melepaskan pelukannya, pemuda itu melihat kepada semua orang yang berada di tempat tersebut.
"Hey berani sekali kau memeluk mempelai wanita." ucap Taymujin pada Sasuke.
Sasuke terkejut, itu benar Hinata mengenakan gaun pengantin yang cantik.
"Taymujin..." Sasuke segera melangkah dan menghampiri pemuda tersebut.
"Aku akan menjelaskan semua, tapi kumohon jangan menikahi Hinata, aku sangat mencintainya, begitu juga sebaliknya." Sasuke berkata dihadapan semua orang dan tidak peduli tentang apa yang dipikirkan mereka.
"Kau begitu yakin, memangnya siapa dirimu?" lanjut Taymujin.
"Aku tahu, aku bukan siapa-siapa, aku tidak berharga, tapi hidupku akan berubah jika dia bersamaku." ucap Sasuke kembali.
"Benarkah?" Taymujin kembali bertanya.
"Iya tentu saja, aku terbiasa dipermalukan dan jika kau ingin memintaku untuk memohon pada semua orang, maka akan aku lakukan demi Hinata." ucap Sasuke panjang lebar.
'Sasuke...'
Hinata menangis dalam batin, kenapa Sasuke harus melakukan itu, tidak cukupkah semua yang sudah dialaminya, pemuda itu melewati masa sulitnya dengan semua beban dipundaknya, tegakah mereka untuk kembali merendahkan pemuda itu.
"Tidak, aku tahu semua kisah hidupmu, Sasuke!" ucap Taymujin dengan senyumannya.
"Dengar nak, tidak ada manusia yang benar-benar suci dan terbebas dari dosa, tidak ada manusia yang sempurna." ayah Taymujin berkata setelah menghampiri Sasuke dan menyentuh juga menepuk pundak Sasuke.
"Kau juga berhak untuk bahagia, bebaskan semua beban dan deritamu selama ini." ucap pria itu lagi.
Sasuke merasa tidak percaya, apakah semua hanya mimpi?, pemuda itu melihat ke arah orang tua Hinata terutama pada Hikari, wanita itu menghampirinya.
"Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anak-anaknya." Hikari mengusap air mata Sasuke yang membasahi pipi pemuda tersebut.
"Kau pasti mengerti."
"Tapi, jika putriku bahagia bersamamu, itu tidak mengapa."
"Karena kau tidak berbeda dengan Itachi, dia menyelamatkan nyawa kami, dan kau menyelamatkan nyawa Itachi, mungkin balasan untukmu adalah cinta dari putriku, semua adalah takdir." ucap Hikari panjang lebar.
"Semua kebaikan manusia akan hilang dengan satu kesalahan saja, itu dimata para manusia lainnya."
"Tapi dimata Tuhan beribu kesalahan yang kita buat akan terhapus dengan satu kebaikan saja." tambah Hikari, Sasuke menganggukan kepalanya.
Hikari menggenggam tangan Sasuke, kemudian menariknya pelan untuk menghampiri Hinata yang sudah menunggunya.
"Kutitipkan putriku padamu, jangan pernah berniat untuk membuatnya menangis." Hikari juga mengambil tangan Hinata dan menyatukan tangan mereka.
"Mama..." Hinata berucap dalam tangisnya.
"Tetaplah saling menghargai." ucap Hikari sambil mengusap lembut kepala Hinata.
Rasa haru dirasakan Sasuke, tatapan matanya tertuju pada sang kakak yang juga menatapnya.
Genggaman tangan Hinata membuatnya sadar kembali, betapa rasa syukur Sasuke ucapkan pada Tuhan sebagai rasa terima kasih.
"Terima kasih untuk tetap mencintaiku." ucap Sasuke dan mereka pun saling berperlukan dengan tangis haru, semua orang yang berada disana pun ikut merasakan kebahagiaan mereka.
The Reason
Satu bulan kemudian...
Bibir lembut Hinata dikecup lagi dan lagi, hanya sebuah ciuman hangat yang Sasuke berikan untuk Hinata disetiap pagi saat mereka bangun tidur.
Hinata dan Sasuke menikah dua minggu yang lalu, memang bukan pernikahan yang mewah tapi tidak mengurangi kebahagiann yang mereka rasakan, dua minggu sebelumnya Taymujin dan Arya juga menikah dimana hari itu adalah awal babak baru dalam kehidupan mereka berdua.
"Mm, kau sudah bangun?" ucap Hinata sambil mengusap pipi Sasuke yang berjarak dekat dengannya.
Hinata menatap lekat pada Sasuke dan membuatnya sedikit tidak nyaman.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Sasuke sambil menyelipkan helaian rambut Hinata kebelakang telinganya.
"Kenapa kau ragu untuk menyentuhku?" Sasuke terkejut mendapat pertanyaan itu.
Ya, sudah dua minggu mereka menikah tapi status mereka belum menjadi suami istri yang sebenarnya.
Sejak menikah mereka belum melakukan hubungan intim layaknya suami dan istri, bukannya tidak mau, tapi Sasuke selalu ragu untuk melakukannya, Hinata sangat mengerti, mungkin pemuda itu masih enggan untuk melakukan hal itu karena masa lalunya.
"Aku... tidak tahu harus bagaimana, aku takut kau akan merasa jijik padaku saat kita melakukannya." Sasuke menatap Hinata, saat ini mereka masih berbaring dan saling berhadapan.
"Sasu, aku istrimu, kau berhak melakukan apapun, justru akan menjadi dosa bagiku jika aku tidak melayanimu." ucap Hinata lagi.
"Maafkan aku..." jawab Sasuke.
"Atau kau takut akan merasa kecewa padaku?" ucap lembut Hinata.
"Tidak, tentu saja tidak, tapi sebaliknya, aku takut kau yang akan kecewa padaku." Sasuke menggelengkan kepalanya.
"Maafkan untuk semua yang akan kukatakan, aku bisa menerima jika kau..."
"Kau pernah melakukannya dengan orang lain." Sasuke berkata ragu karena takut akan menyinggung perasaan gadis itu, Hinata kembali menatapnya dengan lekat.
"Maaf..." pemuda itu berkata lagi.
"Memangnya itu tidak masalah untukmu?" tanya Hinata.
"Hh, iya, aku tidak keberatan karena aku juga tidak bisa menjadi yang pertama bagimu." jawab Sasuke penuh penyesalan.
Sasuke segera terbangun dan mengusap wajahnya dengan kasar, Hinata juga mengangkat tubuhnya untuk duduk didekat suaminya.
"Sungguh aku minta maaf padamu." Sasuke berkata pelan dan dapat dia rasakan Hinata yang menyandarkan kepala dibahunya.
"Tugasku adalah membuatmu merasa nyaman saat bersamaku, baik atau buruk kita semua punya masa lalu, dan suka atau tidak hal itu sudah menjadi bagian dari hidup kita." ucap Hinata sambil mengusap lengan Sasuke.
"Terima kasih kau mau menerima keadaanku." ucap Sasuke sambil mengecup kening Hinata, gadis itu hanya menatapnya.
"Hey,..." ucap Hinata tanpa mengalihkan tatapan.
"Hn..." Sasuke hanya menjawab dengan gumaman.
Srrekkk...
Sasuke terkejut saat tiba-tiba Hinata naik dan duduk dipangkuannya, tangan putihnya juga merangkul lehernya.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Sasuke dengan gugup.
Cup...
Sebuah ciuman manis dari Hinata mendarat di bibirnya yang sedikit terbuka.
"Kita hapus masa lalumu, dan lakukan semuanya dengan restu dari Tuhan." ucap Hinata dengan berbisik ditelinga kanan Sasuke, ya pemuda itu mengerti, hubungan mereka sudah syah, suami istri dan bukan hubungan haram yang dibenci oleh Tuhan.
"Kau hanya perlu memulainya dengan bibirmu, menciumku, menyentuhku dan memelukku." ucap Hinata, tidak hanya itu, tangan lembutnya menyusuri garis bibir Sasuke dan turun ke bagian leher.
Sasuke mulai merasakan ketenangan yang menyiksa karena sentuhan Hinata, apakah Hinata juga berpengalaman tentang hal itu? mengingat tentang lima tahun perpisahan mereka.
Tapi jika seandainya memang seperti itu Sasuke tidak keberatan, mungkin sekarang dirinya tengah bahagia bersama Hinata, tapi Sasuke tidak akan lupa, dari mana dirinya berasal, tapi apa salahnya jika dia menikmati semua yang dimilikinya sekarang?
Masih ada tiga jam untuk Sasuke berangkat bekerja, dan dia tidak kuasa menolak semua sentuhan lembut dan hangat yang diberikan oleh tubuh Hinata.
Saat kesucian gadis itu diambilnya, entah kenapa ada rasa bangga yang begitu membuncah dalam dadanya, dan dia merasa tubuhnya tidak lagi sekotor saat belum menyentuh Hinata.
Sasuke tidak tahu rasanya sangat luar biasa saat dia melakukannya dengan orang yang dia cintai, dan Sasuke menyesal sudah beranggapan bahwa Hinata juga pernah melakukan hubungan intim dengan pria lain, tentu saja mungkin Sasuke lupa bagaimana Hikari mendidik kedua putrinya.
"Kau akan terbiasa dan menikmati semua." ucap Hinata, gadis yang sudah menjadi wanita itu mengecup kening Sasuke dengan sayang.
Ya perlahan tapi pasti Hinata akan membawa kembali kebahagiaan yang sudah hilang dalam kehidupan Sasuke, dan Sasuke sendiri akan menjaga kepercayaan Hinata dan mendampinginya dalam suka maupun duka.
Real The End
Hwaaa
Akhir yang Gaje, aduch beneran bingung endingnya harus kaya gimna
Sekali lagi maaf jika readers tidak puas dengan endingnya.
Typos dan banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan
Good bye for this story
Salam aisyaeva...
