mamoru.

Genre : Romance, and Drama

Pair : (main) NamJin, (side) SoPe

Rate : M

Warning : Smut, BrotherComplex, Little Incest

Disclaimer : The characters are not mine. I have not own anything except this story and idea.

part twelve : i want it! i got it!

Namjoon bangun lebih pagi untuk melihat apa yang sedang Seokjin lakukan di dapur. Tepung, apel, bubuk kayu manis, gula, butter, dan loyang dengan gelombang di pinggirnya. Namjoon tidak pandai memasak tapi ia tahu apa yang hendak Seokjin buat. Ia tahu bahwa pria yang telah ia nikahi hampir selama setengah tahun itu sedang membuat pie apel.

Sekarang baru jam 5.50, Namjoon berasumsi, sepertinya Seokjin ingin membuat pie apel dan memberikannya pada seseorang. Terlihat dari kotak bingkisan berwarna biru bergaris putih dengan pita silver diatasnya, Seokjin pasti akan menggunakan kotak cantik itu untuk membungkus pie yang ia buat.

"Ah? Selamat pagi Namjoonie." Namjoon yang masih mengenakan piyama, ia sedikit tersentak saat Seokjin menyapanya, wajah kantuknya menyunggingkan senyum seraya melangkah mendekat dan ketika jarak tubuhnya dengan tubuh Seokjin hampir tak memiliki celah, Namjoon mendekatkan wajahnya untuk mengecup pipi Seokjin tapi pria yang lebih tua darinya itu menahan bibirnya dengan jari telunjuk seraya berkata, "No, no, no. Sikat gigi dulu."

Namjoon mengabaikannya, mengunci tubuh Seokjin adalah hal yang mudah karena pinggangnya yang ramping dan tangannya yang lebih kecil dibandingkan dengan miliknya.

"Joonie?"

Kalau Namjoon tidak dapat mencium pipinya, ia bisa mengklaim bibir penuh Seokjin sebagai gantinya. Hanya lewat satu kecupan gemas disertai lumatan hangat dan gigitan kecil, Seokjin akan luluh dalam rengkuhannya. Rasa manis dari apel dan lelehan karamel menyapa indera pengecap Namjoon saat ia terus memberikan ciuman selamat pagi pada bibir yang selalu ia kagumi itu.

"Mmu..." Dalamnya ciuman yang didominasi dan dikendalikan oleh Namjoon membuat tubuh Seokjin sedikit terdorong ke belakang, untung saja satu dari lengan Namjoon menahan pinggangnya. Seringai kemenangan Namjoon sunggingkan saat akhirnya Seokjin membalas ciumannya dan menggerakan kedua tangannya keatas untuk memeluk leher Namjoon.

Seokjin selalu memperingatinya untuk menggosok gigi sebelum mereka berciuman di pagi hari, setiap pagi, saat mereka hendak memasak sarapan bersama di hari minggu, tapi selalu berakhir seperti ini. Sarapan yang seharusnya di mulai pada pagi hari, berubah menjadi makan siang yang akan mereka lakukan pada tengah hari karena Namjoon dan Seokjin lebih banyak bercumbu dan melenceng dari agenda awal mereka untuk memasak sarapan bersama.

Ciuman mereka terlepas karena kebutuhan akan oksigen, kemudian Namjoon teringat bahwa ia harus bertanya tentang sesuatu, "Hyung, pie apel ini untuk siapa?"

"Oh?" Seokjin tersadar, ia belum sepenuhnya selesai, satu pie apel memang sudah matang tapi ia masih harus membuat yang kedua, "Ini untuk Taehyung, ia sedang demam." Taehyung? Demam? Pie apel? Benak Namjoon bertanya-tanya, apa hubungan dari Taehyung yang sedang demam dengan pie apel?

Seokjin menyadari dari wajah suaminya bahwa Namjoon tengah menyimpan tanya, untuk itu ia menjelaskan, "Sejak dulu, Taehyung selalu meminta pertolongan dariku saat ia sakit," ucap Seokjin seraya melumuri kulit pai yang tertutup bagai rajutan diatasnya dengan kuning telur, "Taehyung tidak bernafsu makan karena demam yang dideritanya membuat indera pengecapnya mati rasa."

Dari sini Namjoon mulai mengerti, ia memang tahu jika Seokjin dan Taehyung bersahabat sejak lama, tapi ia tidak tahu jika hubungan mereka memang sedekat ini. Terlebih lagi, Jungkook yang sudah Namjoon anggap sebagai adik paling posesif terlihat tidak begitu keberatan saat Taehyung berdekatan dengan kakaknya, atau tidak? Entahlah, intinya Namjoon makin menyukai Seokjin karena sifat pedulinya ini.

"Taehyung hanya ingin makan apa yang kau masak?" Tebak Namjoon, melihat tatapan Seokjin yang melembut dan anggukan pelannya membuat Namjoon yakin kalau tebakannya benar, "Lalu kenapa kau buat dua buah? Apa kau yakin Taehyung bisa menghabiskan itu semua?" Satu pie telah siap untuk masuk ke dalam kotak, dan pie yang satunya lagi sedang Seokjin persiapkan untuk masuk ke dalam panggangan.

"Aku tidak akan memberikan keduanya. Karena yang ini untuk suamiku." Senyum Seokjin mengembang, tulus dan cantik, ia berjongkok dan memandangi pie di dalam oven, pie apel yang ia buat spesial untuk Namjoon yang masih terdiam mematung dan memandanginya. Setelah terdiam cukup lama, Namjoon membawa tangan kiri Seokjin dan mengajaknya untuk berdiri menghadapnya, "Namjoon?"

"Berjanji 'lah padaku."

"Huh?"

"Berjanji 'lah padaku untuk menikah lagi denganku di kehidupan kita yang selanjutnya." Bisik Namjoon di telinga kiri Seokjin yang seketika memerah saat mendengarnya. Sosok dalam rengkuhannya tak mampu berkata apa-apa, ia hanya mengangguk kecil seraya menahan buncahan emosi yang hendak keluar saat kata-kata Namjoon merasuki relung jiwanya, terlalu manis untuk diucapkan, terlalu indah untuk didengarkan, dan terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan.

"Jinseok, aku mencintaimu." Kata-kata terucap lembut dari bibir Namjoon yang juga memberikan kecupan-kecupan manis di lehernya menjadi kelemahan terbesar bagi Seokjin. Apa yang Namjoon rasakan dan lakukan karena tindakan kecilnya yang memang selalu memikirkan suaminya membuat Seokjin memahami betapa tulusnya Namjoon, ia harap ia dapat segera membalas cinta pria yang telah ia nikahi itu, tapi dirinya masih butuh waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri, pantaskah dirinya untuk dicintai sedalam ini oleh orang seperti Namjoon?

Sejak awal memang Seokjin yang berniat untuk membuat Namjoon jatuh cinta padanya dan juga sebaliknya, tapi ia tak menyangka bila dirinya akan mendapatkan apa yang lebih dari yang ia harapkan, perasaan yang Namjoon miliki untuknya terkadang membuat dirinya takut. Jika boleh jujur, Seokjin memang sudah jatuh cinta, entah sejak kapan, dan ia selalu menyukai Namjoon, ia juga mencintainya, tapi disisi lain, Seokjin takut ia tak mampu membuat Namjoon bahagia dan takut membuat pria yang ia cintai terluka, karena pada awalnya Seokjin berniat untuk menggantikan eksistensi Jungkook dengan dirinya di dalam hatinya.

Jungkook. Seokjin teringat pada sosok adik kecilnya itu, beberapa hari ini Jungkook sama sekali tak menghubunginya, sudah hampir satu minggu dan hal ini sangat tidak biasa. Seokjin harap, ada sesuatu yang baik di balik diamnya Jungkook, ia berharap agar adiknya itu memang sudah sepenuhnya melepaskannya hingga akhirnya Seokjin terbebas dari dosa besarnya.

"Hyung?"

"Hm?"

"Boleh aku turut menemanimu? Menjenguk Taehyung?" Seokjin terdiam sebentar, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. Sejak awal memang ia hendak mengajak suaminya, tapi di luar rencananya, Namjoon terbangun lebih dahulu dan mengetahui semua agendanya hari ini sebelum Seokjin sempat memberitahunya.

"Mandi 'lah setelah itu kita sarapan bersama." Kali ini Namjoon yang mengangguk, sesungguhnya ia sedikit enggan untuk melepaskan pelukan mereka, tapi dirinya memang harus segera membersihkan dan mempersiapkan diri untuk sarapan setelah itu pergi ke kediaman sahabat Seokjin itu.

mamoru.

Sesuai dengan dugaan Taehyung, Seokjin datang bersama Namjoon, membawa satu kotak pie apel dan teh cinnamon serta yogurt buah prem yang Taehyung dengar adalah pemberian dari pemikiran inisiatif suami dari sahabatnya itu.

"Bagaimana demam mu?" Taehyung menyendikkan bahunya, ia sudah merasa sedikit lebih baik tapi rasa mual dan panas di area wajah terutama dahinya masih membuat seorang Kim Taehyung tak mampu beranjak ke luar rumah untuk melakukan aktifitasnya.

"Masih sama seperti semalam, tapi aku sudah kuat berjalan." Taehyung tinggal di apartemen besarnya seorang diri sedangkan keluarganya tinggal di Daegu. Di Seoul, ia hanya bisa mengandalkan manager dan teman baiknya. "Tadi Manager hyung datang membawakanku bubur abalone, tapi kumuntahkan karena mual."

"Seburuk itu 'kah? Apa kau sudah ke dokter?" Kali ini Namjoon yang bertanya. Taehyung seusia adiknya, Jimin, melihat pria itu berbaring dengan nafas memburu dan wajah yang memerah serta peluh yang membasahi tubuhnya membuat Namjoon teringat saat Jimin sakit dan bersandar sepenuhnya padanya karena orang tua mereka yang super sibuk.

Pertanyaan Namjoon mendapat anggukan sebagai jawaban, kemudian ia melanjutkan tanyanya, "Tidak 'kah sebaiknya kau menjalani opname jika sedemikian parahnya?" Seraya meletakan kotak pie dan satu pak yogurt di atas meja, Namjoon menempatkan diri duduk di sofa dalam kamar tempat Taehyung berbaring, sedangkan Seokjin sibuk membawa peralatan mandi darurat untuk sahabatnya itu karena memang dirinya harus segera membersihkan tubuh dan mengganti piyamanya.

"Aku tidak suka rumah sakit, aroma obat dimana-mana dan tempat tidurnya mungkin bekas orang yang sudah mati." Sebelah alis Namjoon menukik tinggi, alasan Taehyung menolak untuk mendapat penanganan yang lebih intensif di rumah sakit cukup kekanakan, tapi Namjoon bisa mengerti, ia juga kurang menyukai aroma obat-obatan dan suasana yang agak mencekam bila terlalu lama tinggal disana.

Tak lama kemudian, Seokjin kembali dengan membawa basin berisi air hangat lengkap dengan handuk kecil untuk mengusap tubuh berpeluh Taehyung. "Bisa buka piyamamu sendiri? Tanganku basah." Gelengan pelan Taehyung berikan, ia ingin sedikit 'bermain-main' disini, ia ingin Seokjin memanjanya dan melihat reaksi apa yang Namjoon berikan ketika melihat pria yang sedang menjalin 'hubungan khusus' dengannya harus mengurus pria lain. "Tidak bisa?"

Namjoon dengan cepat menyela, "Aku akan melakukannya." Diluar dugaan Taehyung, Namjoon melakukan tindakan suka rela untuk membuka kancing piyamanya, gerakannya halus dan penuh kehati-hatian. Taehyung kira, Namjoon akan menyimpan dendam padanya karena ia telah banyak melakukan sentuhan-sentuhan 'berlebihan' pada Seokjin di depan matanya, seperti saat mereka pertama kali menikah, game yang dirancang oleh Jimin mengharuskannya menjalani hukuman dengan mencium Seokjin tepat di depan mata Namjoon.

"Namjoon-ssi, kau tidak dendam padaku?"

"Huh?"

"Ah tidak. Ku rasa tanganku kebas karena terlalu lama berbaring." Dalam benaknya Taehyung memuji sosok yang tengah membantunya melepas piyamanya itu. Ia memang tidak menunjukkannya, tapi dirinya merasa turut bahagia bila orang seperti Namjoon 'lah yang akan menemani hidup sahabatnya. Ada sedikit rasa bersalah karena dirinya terus 'bermain' di depan pria baik di hadapannya itu.

"Sudah?" Seokjin bersiap untuk menggantikan posisi Namjoon yang duduk di samping Taehyung, mendapat anggukan dari sahabatnya dan suaminya yang langsung menggeser tempatnya duduk. Sebelum membasuh tubuh Taehyung, Seokjin memasang kain perlak agar ranjangnya tidak basah "Kau sudah sikat gigi 'kan?" Taehyung menggangguk kembali, "Mau pakai sabun?" Untuk ketiga kalinya, Taehyung menganggukan kepalanya lagi.

Namjoon yang berdiri tak jauh dari mereka terus memperhatikan seraya tersenyum sampai Seokjin selesai dan Taehyung telah berganti pakaian bersih dan memakan pienya dengan lahap. Senyumnya lenyap saat Taehyung mengatakan sesuatu yang cukup membuatnya terkejut, "Ah, Jin hyung, kau belum mengambil kembali celana dalammu yang tertinggal di ranjangku waktu itu, aku menyimpannya di lemari sebelah-" Taehyung baru menyadari apa yang ia katakan cukup 'berbahaya'. Ia melirik Namjoon dari ekor matanya, dan benar saja, pria tinggi itu menatap Seokjin yang masih berdiri mematung karena terkejut, ia menatapnya dengan tatapan penuh tanya dan butuh penjelasan, segera.

'Gluk'

Taehyung bersusah payah menelan pie yang telah ia gigit sebelumnya.

Bahaya. Bagaimana jika Namjoon tahu kalau Seokjin dan dirinya memiliki hubungan friends with benefit, tapi itu terjadi dahulu sebelum Seokjin menikah... Dan mereka berhenti 'melakukannya' sekarang.

Tapi sepertinya, Namjoon tidak berpikir sampai ke arah yang Taehyung takutkan. Terlihat dari wajahnya yang awalnya terkejut, kali ini ia tak menunjukkan ekspresi apa-apa, datar, dan nampak biasa saja. Namun tetap saja, Taehyung berharap Namjoon tidak berpikiran yang aneh-aneh terhadap hubungannya dengan Seokjin.

Dalam diam, Seokjin menggeleng pelan pada Taehyung tapi ia tidak tahu apa maksudnya. Beberapa saat kemudian, Seokjin berkata, "Um, Taehyung-ah, kau harus segera meminum obatmu dan beristirahat 'lah. Aku dan Namjoon akan pulang sekarang." Taehyung terdiam untuk sesaat, gerak-gerik Seokjin mungkin akan membuat kecurigaan dalam benak suaminya bertambah. Sambil menggumamkan kata maaf dan terima kasih, Taehyung melihat mereka pergi dari kamarnya.

'Aish... Kim Taehyung apa yang sudah kau lakukan?'

Seokjin merasa, ia harus jujur pada Namjoon, ia telah jujur tentang Jungkook, dan kini ia juga harus jujur tentang Taehyung.

Di dalam mobil, di saat mereka hanya berdua, Seokjin akan mengatakannya. Dari ekor matanya ia melihat Namjoon yang duduk di sebelahnya, lebih tepatnya di kursi penumpang, suaminya itu duduk tenang dan bersiap memakai seatbelt. Disampingnya, Seokjin mengambil nafas dalam sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk berkata, "Namjoon-ah, ada yang mau ku katakan padamu tentang Taehyung dan-"

"Hyung," Namjoon menyelanya, ia tersenyum pada Seokjin dengan lembut seperti biasa, dan seluruh sendi dalam tubuh Seokjin melemas dibuatnya, "boleh 'kah aku menyentuhmu?" Tatapan mata Namjoon begitu dalam, seolah mengintimidasi Seokjin untuk segera mengangguk dan menuruti kemauannya. "Mungkin aku belum pernah mengatakannya dengan jelas, tapi aku tidak menyukai saat seseorang yang ingin kumiliki sepenuhnya untukku seorang menyentuh atau disentuh orang lain."

Nafas Seokjin tercekat, namun tak sampai disitu, ia hampir terlonjak karena terkejut saat Namjoon menarik tuas pada kursi kemudinya hingga Seokjin dalam posisi berbaring sekarang. "Na-Namjoon-ah?"

Namjoon tak memperdulikan panggilannya, ia bergerak untuk menindihi Seokjin dan mendekatkan wajahnya di telinga kanan pria yang kini mulai gemetar di bawahnya, "Dia pernah menciummu di depan mataku." Bisik Namjoon, suaranya dalam dan menusuk, "Aku tidak menyukainya." Tambahnya. Seokjin tak mampu mengatakan sepatah kata atau memberikan respon yang berarti, ia hanya menggerakan tangannya untuk menahan dada Namjoon tapi pria itu mencegah tindakannya hanya dengan menggunakan satu tangan dan menahannya di atas kepala Seokjin.

"Apa Taehyung-ssi mantan kekasihmu?" Seokjin menggeleng pelan, "Apa kau pernah 'tidur' dengannya?" Seokjin mengangguk satu kali. Genggaman tangan Namjoon pada kedua pergelangan tanggan Seokjin mengerat, dan semakin kuat, membuat Seokjin mendesis karenannya. "Entah mengapa aku merasa kesal saat kau mengakuinya."

Debaran di dada Seokjin semakin cepat, membuat nafasnya hampir tersengal, ia memaksa bibirnya terbuka dan berusaha untuk bicara. "Namjoon, hal itu tidak terjadi lagi dan sekarang-"

"Aku tahu." Bisik Namjoon sekali lagi, kali ini lebih mengintimidasi sampai bibirnya menyentuh daun telinga Seokjin, "Hal itu terjadi di masa lalu, saat kau belum bertemu denganku, namun tetap saja, kepalaku panas saat mendengar fakta bahwa kau telah disentuh orang lain."

Seokjin menggigit bibir bawahnya, Namjoon tak mengatakan apa-apa lagi setelahnya, tapi ia menggunakan sebelah tangannya yang bebas untuk meraba perut hingga pinggang Seokjin, dan saat tangan yang menyentuhnya dengan sensual itu berakhir di bagian paling privat milik Seokjin yang masih berbalut kain, Namjoon berbisik, "Kim Seokjin, kau membuatku gila."

Saat Namjoon hampir melepas retsleting di celana pria yang berbaring pasrah di bawahnya, telpon genggamnya bergetar, ia mengabaikannya, tapi smartphone terkutuk itu tak berhenti dan membuat Namjoon terpaksa untuk menanggapi panggilan masuk yang datang.

"Fuck!" Umpat Namjoon seraya melepaskan kukungan tubuhnya dari tubuh Seokjin yang masih berusaha menelaah apa yang baru saja terjadi. Ia dan Namjoon hampir saja melakukan car sex di parkiran apartemen Taehyung.

"Jimin?" Gumam Namjoon saat melihat nama adiknya tertera di layar handphone miliknya, "Yoboseyo?" Diseberang sana, nampak suara Jimin yang menyapanya dan berkata dengan nada jengkel karena Namjoon tak kunjung mengangkat panggilan darinya. "Kau dimana?" Suara yang bising mengganggu Namjoon, membuatnya tak dapat mendengar apa yang Jimin katakan dengan jelas. Nampaknya adiknya itu sedang berada di tengah keramaian seperti pasar atau pusat pertokoan, karena Namjoon dapat mendengar suara laki-laki dewasa yang menawarkan sundae.

Seokjin hanya melirik suaminya, dari ekor matanya ia dapat melihat Namjoon yang terdiam pada awalnya sebelum berkata, "Ok, aku akan kesana." Setelah berucap demikian, ia mengembalikan handphone miliknya di saku jaket yang ia kenakan, dan tanpa berkata apa-apa, Namjoon menarik tuas kursi Seokjin agar pria itu kembali pada posisi duduknya. Tindakan Namjoon mengundang tanya, dan tanpa menyunggingkan senyum yang biasanya terpasang di wajah tampannya, ia berkata, "Kau harus ikut denganku sekarang setelah itu kita lanjutkan apa yang tertunda di rumah, lebih tepatnya di kamarku."

Namjoon marah. Dan Seokjin tak mampu melawan. Tak dapat dipungkiri juga olehnya, bahwa amarah Namjoon memang terlihat mempesona.

mamoru.

"Namjoon hyung setuju untuk datang dan ia juga akan mengajak Jin hyung." Jimin duduk kembali di hadapan seorang wanita cantik yang merupakan sahabat lamanya. Sowon menanggapinya dengan mengulum senyuman tipis, tangannya saling menggenggam erat di bawah meja. "Jadi, apa yang mau kau bicaraka padaku?"

"Sesungguhnya aku belum sempat mengucapkan selamat pada Namjoon oppa dan mempelainya saat pernikahan itu." Jimin mengangguk paham seraya kembali menyesap jus strawberry yang ada di atas meja, "Dan aku ingin menyampaikan kalau pernikahanku dibatalkan." Kesedihan di wajah cantik Sowon terpatri jelas, terlihat dari genangan air mata yang siap membasahi pipinya.

Butuh waktu bagi Jimin untuk menelaah apa yang wanita cantik itu katakan, "Bu-bukannya kau pulang ke Seoul untuk mengadakan upacara pernikahan?"

Sowon mengangguk kecil, ia masih berusaha menahan tangis dan emosi yang akan membuncah, "Tadinya begitu," suara lembutnya tersendat, rambutnya yang terurai jatuh ke depan kala ia menunduk, "tapi saat aku masih tinggal di Amerika, aku secara tak sengaja mengetahui bahwa tunanganku ternyata berselingkuh," air mata yang sejak tadi ditahannya jatuh begitu saja, membasahi punggung tangannya, "awalnya sulit untuk dipercaya bagiku, tapi setelah memastikan kebenarannya, ternyata Samuel memang memiliki wanita lain dan wanita itu ada disini, di Seoul."

Ditengah tangisnya, Sowon masih menyempatkan diri untuk menyunggingkan senyum saat Jimin memberikan empatinya dengan menyentuh bahunya, "Aku sempat meminta pertolongan pada Hoseok oppa untuk membantuku menemui wanita itu karena ternyata mereka satu kampus," Jimin memberikannya sapu tangan untuk sahabatnya pakai menghapus jejak air mata di pipinya, sambil menggumamkan kata terima kasih, Sowon menerimanya, dan kemudian melanjutkan, "aku berhasil menemuinya, dan bicara dengannya. Tak kusangka kalau Samuel mengetahui tentang hal itu hingga kami bertengkar."

Jimin membiarkan Sowon menangis di bahunya, ia tak bicara sepatah kata untuk memberikan ruang bagi sahabatnya itu menenangkan diri. Seorang pelayan menghampiri mereka, untuk menanyakan apa wanita dalam renkuhan Jimin baik-baik saja? Anggukan pelan Jimin berikan pada pelayan wanita tersebut, dan pelayan itu pergi meninggalkan mereka setelahnya. Jimin merasa kalau dirinya telah salah memilih tempat untuk bertemu dengan teman lamanya itu, jika tahu bahwa yang akan Sowon sampaikan adalah kabar menyedihkan tentang pernikahannya, Jimin tidak akan memilih cafe yang ramai ini.

"Lalu, apa yang ingin kau lakukan setelah ini? Bagaimana dengan ayahmu?" Sowon sudah lebih tenang sekarang, air matanya telah berhenti dan nafasnya kembali teratur, walau ia nampak masih berduka atas nasib malang pernikahannya, "Aku akan kembali ke Amerika. Ayahku sudah memutuskan semua koneksi dengan Samuel dan keluarganya, perusahaan akan terus berjalan tanpa campur tangan pria itu."

"Aku yakin, semua akan baik-baik saja." Sowon tersenyum tulus oleh kata-kata yang Jimin baru saja ucapkan, ia mengangguk pelan sebagai tanda bahwa dirinya mengamini ucapan Jimin seraya menggumamkan kata terima kasih pada pemuda di hadapannya itu. "Tapi kita baru saja bertemu, dan kau sudah akan kembali ke Amerika."

"Aku akan sering berkunjung ke sini untuk bertemu teman-temanku. Jiminnie, kau juga jika ada waktu, datang 'lah ke tempatku di Amerika." Tepat saat Sowon berkata demikian, Namjoon dan Seokjin tiba, Jimin melambaikan tangannya dan Sowon berbisik pada Jimin sebelum mereka menghampiri, "Tolong jangan katakan tentang hal ini dulu pada Namjoon oppa." Jimin bingung pada awalnya, tapi ia mengangguk setuju, dalam benaknya ia menyimpulkan, mungkin Sowon tidak enak mengatakan tentang hal sensitif di hadapan Seokjin, yang merupakan suami sah Namjoon.

Seokjin membungkuk, menyapa Sowon terlebih dahulu dan tersenyum pada Jimin. Hanya ada empat kursi disana, Jimin dan Sowon duduk saling berhadapan, Seokjin mengambil tempat di sebelah Jimin dan Namjoon duduk disamping Sowon sehingga merika berdua berhadapan.

Sowon cukup terkejut karena ia kira Jimin akan pindah ke sebelahnya, namun nyatanya malah Namjoon yang merupakan mantan kekasihnya kini duduk disampingnya. Jimin mengerutkan keningnya, ia tidak konsentrasi hingga lupa kalau dirinya harus pindah. Posisi mereka duduk sekarang cukup membuat canggung, terlebih ekspresi Namjoon dan kakak iparnya terlihat sedang menyimpan 'sesuatu' yang 'tidak benar'.

Jimin memecah keheningan, "Ah, Jin hyung, perkenalkan ini Sowon, sahabatku dan Namjoon hyung sejak kecil." Seokjin menyunggingkan senyum terbaiknya, sejak tadi ia berusaha mengingat sosok wanita di hadapannya dan Jimin karena ia merasa pernah melihat Sowon sebelumnya.

"Aku Kim Seokjin." Seokjin menganggukan kepalanya dengan sopan, dan gerakannya diikuti Sowon yang bergerak dengan sedikit gugup.

"Kim Sowon." Dan setelah Sowon mengatakan nama lengkapnya, Seokjin mengingatnya, ia pernah mendengar bahwa Namjoon sempat memiliki kekasih yang juga adalah sahabatnya sewaktu kecil dari Yoongi, mungkin 'kah wanita cantik dan anggun ini adalah mantan kekasih Namjoon?

Seokjin terhanyut dalam benaknya, dan perlahan-lahan, ia mulai ingat. Saat Seokjin dan Namjoon bicara di apartemen lama suaminya itu, ia sempat menemukan sebuah foto yang terbingkai di atas meja kerjanya, foto Jimin, serta Namjoon dan wanita yang ia rangkul, mereka masih mengenakan seragam sekolah. Seokjin ingat sepenuhnya, ia tahu kalau Sowon 'lah yang berada dalam foto yang dilihatnya.

"Oh, aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian, maaf jika ucapan selamatku ini sangat terlambat. Sebebarnya aku datang saat upacara pernikahan itu berlangsung, tapi ada keperluan mendadak yang harus kuhadiri dengan ayahku jadi aku tak sempat mengucapkannya." Ucap Sowon seraya memandang Namjoon dan Seokjin, bergantian. Seokjin hendak membalas ucapannya, tapi Namjoon sudah lebih dulu mengatakan apa yang ada dalam benaknya.

"Tidak apa-apa, kami mengerti. Terima kasih atas ucapanmu, Sowon-ah, kami menghargainya terlebih kau sudah datang dari jauh." Senyum Namjoon tersungging manis dan Sowon membalasnya, melihat interaksi mereka membuat Seokjin terus memandangi mereka tanpa mampu mengatakan apa-apa.

Seokjin merasakan ada sesuatu yang tak kasat mata sedikit meremas dadanya kala melihat senyum lembut Namjoon, lengkap dengan dimple-nya terpatri di wajah tampan pria tinggi itu. Senyum yang biasa ditunjukkan padanya ternyata bisa juga ia 'pasang' saat memandang orang lain.

"Aku sempat mencarimu saat itu, dan tidak menemukanmu dimana-mana, kukira ada sesuatu yang memang terjadi." Nada bicara Namjoon terkesan khawatir, tatapannya melembut, ia terlihat seperti seorang Kim Namjoon yang memang biasa Seokjin lihat saat mereka berdua saja. Dan ini adalah kali pertama Seokjin melihat suaminya seperti itu pada seroang wanita.

"Maaf, oppa, aku tidak sempat memberitahu kalian." Sowon tertawa pelan saat Namjoon menepuk lembut kepalanya, orang-orang yang tak mengengali dan melihat mereka pasti berpikir kalau mereka berdua adalah pasangan yang manis, terlihat dari interaksi mereka saat ini. Jimin juga sepertinya sudah terbiasa dengan sikap Namjoon dan Sowon satu sama lain, 'toh mereka bertiga memang bersahabat sejak lama.

Entah mengapa Seokjin merasa kalau dirinya terasingkan dan seharusnya tak berada disini. Ia hanya menyesap rose latte dalam diam, membiarkan Namjoon, Sowon dan Jimin berbincang sepuas mereka.

"Hyung, kau baik-baik saja?" Jimin bertanya setelah menyadari bahwa Seokjin hanya diam disampingnya, "Kau sakit?" Dimatanya wajah Seokjin terlihat lebih pucat. Seokjin masih tak mengatakan apa-apa, ia hanya menggeleng pelan seraya tersenyum tipis.

"Apa demam Taehyung menular padamu?" Namjoon bertanya padanya dan Seokjin sama sekali tak menanggapinya, ia sengaja, ia ingin membuat Namjoon kesal sama seperti Namjoon yang membuat dirinya kesal.

"Seokjin-ssi, kau baik-baik saja?" Kali ini Sowon yang berkata padanya, Seokjin membalasnya dengan senyuman manis dan berkata dengan nada yang lembut kalau ia baik-baik saja.

"Tunggu dulu-Apa? Taehyung sakit?" Jimin segera bangkit dari duduknya, membuat hampir seisi pengunjung cafe menoleh padanya. Namjoon menyuruhnya untuk segera duduk, tapi Jimin tak memperdulikannya, "Aku harus segera menjenguknya, Namjoon hyung, Jin hyung, Sowon-ah, aku duluan 'ya?" Tanpa mengindahkan panggilan Seokjin dan kata-kata peringatan dari Namjoon, Jimin segera berlari keluar menuju parkiran seraya menghubungi Jungkook untuk pergi ke rumah Taehyung bersama-sama.

Sowon tertawa pelan, ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Oppa, maaf 'kan aku, aku juga harus segera pergi karena ada janji dengan Yerin, aku akan menghubungi lagi nanti."

"Biar kami antar." Seokjin menawarkan bantuannya, namun Sowon menolaknya dengan halus karena dirinya membawa kendaraan pribadi sendiri, wanita cantik itu tak lupa mengucapkan terima kasih dan berpamitan sebelum akhirnya mengikuti jejak Jimin dan meninggalkan Namjoon dan Seokjin berdua saja.

"Kau sengaja kan?"

"Apa?" Namjoon menyunggingkan senyum miringnya seraya menyesap ice Americano miliknya hingga hanya meninggalkan esnya saja.

"Kau tau apa maksudku, Namjoon-ssi." Seokjin memanggil namanya dengan sebutan formal, membuat Namjoon gemas dan ingin segera 'menghukumnya', untuk itu ia berdiri, lalu menarik tangan Seokjin dan berbisik, "Kita lanjutkan di rumah."

mamoru.

Tak peduli pada pintu yang terhempas dan terbanting begitu saja ketika Namjoon menutupnya hanya dengan satu kaki. Pria yang lebih tinggi itu mendorong tubuh Seokjin dan mengurungnya diantara tubuhnya sendiri dengan menggunakan kedua tangan, membuat tubuh Seokjin terdorong dan punggungnya menabrak daun pintu dengan cukup keras sehingga menimbulkan suara yang nyaring.

Seokjin tak tinggal diam begitu saja, ia membalasnya dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Namjoon dengan erat hingga pria itu harus sedikit membungkuk. "Mmh..." Bibir mereka bertubrukan dalam lumatan dan kecupan yang jauh dari kata lembut. Seokjin menggigit bibir bawah Namjoon dan menariknya perlahan, lidahnya menyapa lembut bagian di dalam mulut suaminya.

Hanya dengan satu gerakan, Namjoon melepas cardigan yang Seokjin kenakan disela balasan ciumannya yang menggebu, kemudian membuang pakaian itu begitu saja ke lantai. Lalu kedua tangan Namjoon meremas bokong Seokjin hingga pria dalam rengkuhannya itu sedikit terkejut dan memekik pelan diantara ciuman dalam yang mereka bagi.

"Mm.." Seokjin tak mau kalah, ia menyunggingkan senyum kemenangannya, dan membalas apa yang Namjoon lakukan. Tangan kanannya meraba perut sang suami, membuka retsleting celana jeans yang Namjoon kenakan hingga menyentuh bagian paling privat yang masih tertutup kain itu. Jemari lentik Seokjin memberi sentuhan perlahan, lembut dan menggoda, membuat Namjoon tak mampu menahan geraman kenikmatan disela ciuman panas mereka yang masih terus berlanjut.

"Uh." Lecet di bibir plump Seokjin memaksa mereka berdua mengakhiri ciuman yang memabukan itu. Namjoon dapat mengecap rasa anyir darah yang keluar dari bibir Seokjin. Seokjin tak mempermasalahkan rasa perih di bibirnya, ia mulai masuk dan 'memainkan' jemarinya, tanpa melepas apa yang Namjoon kenakan di bawah sana, Seokjin membebaskan miliknya yang perlahan mulai menegang sempurna.

"Ah!" Satu tamparan keras Namjoon layangkan di bokong Seokjin, seraya mendesahkan namanya, ia menggigit dan memberi tanda keunguan di lehernya. Seokjin kini memberikan pijatan lembut pada miliknya, tangannya meremas, naik dan turun. Baik Namjoon mau 'pun Seokjin sudah tak peduli dimana mereka akan melakukannya, keinginan untuk segera menyentuh dan memiliki terlalu kuat hanya untuk sekedar memikirkan tempat yang 'layak' untuk bercumbu.

Namjoon harus mengangkat kaus putih yang Seokjin kenakan untuk memberi tanda lainnya di dadanya, seraya memainkan tonjolan pink disana dengan lidahnya, tak mudah baginya untuk melakukan 'serangan' balasan karena jemari Seokjin terus memanjanya di bawah sana, dan ia tak akan membiarkan dirinya mengalah pada jemari Seokjin yang lihai menggodanya. Dengan satu hentakan ia menjauhkan jarak di antara tubuh mereka, Seokjin terkejut dibuatnya karena ia kembali terdorong kebelakang dan punggungnya menabrak pintu lagi.

"Laku 'kan dengan bibirmu." Kedua iris karamel Seokjin membelalak, namun ia mengerti apa yang Namjoon maksud. Tanpa keraguan, Seokjin bertumpu pada kedua lututnya, wajahnya menghadap pada milik Namjoon yang telah menunggu untuk ia manjakan dengan bibir dan lidahnya.

"Hh.." Namjoon menyentuh rambut hitam Seokjin yang mulai memanjang terutama di bagian rambut depannya saat pria yang sedang berlutut itu mulai mengecup ujung dari miliknya, bibir penuhnya terlihat ribuan kali lebih menggoda saat melakukannya. Sebelah tangan Seokjin memijat panggkalnya sedangkan bibirnya mulai memanja ujungnya dan dengan perlahan, milik Namjoon masuk ke dalam mulut Seokjin.

"J-Jinseok..." Namjoon mendesis dibuatnya, dan saat Seokjin mulai memanja miliknya dengan mulutnya sendiri, ia tak kuasa untuk menggerakan pinggulnya, Seokjin mulai tersedak tapi nampaknya ia menyukainya karena ia tak berhenti melakukannya berulang kali. Milik Namjoon masuk begitu dalam sampai air mata Seokjin mulai menggenang, dan dalam satu hentakan, Namjoon menarik diri dan mengeluarkan seluruh benihnya di wajah cantik Seokjin.

Bulu mata kiri, pipi dan ujung bibir serta jemari Seokjin penuh dengan benih Namjoon, kemudian ia menjilat telunjuk dan jari tengahnya, membersihkannya dengan lidah sendiri. Namjoon yang menyaksikannya tak mampu untuk menahannya lagi, ia mengangkat tubuh Seokjin seolah tubuh pria yang lebih tua dua tahun darinya itu tak memiliki beban baginya, dan dengan tergesa, ia membuka celana hitam yang Seokjin kenakan berserta dalamannya lalu melemparnya ke sembarang arah.

"Tu-tunggu..." Apa yang Namjoon lakukan cukup untuk membuat Seokjin terkejut, ia menahan dadanya, wajahnya kian memerah dan Namjoon hanya menatapnya dengan tatapan yang tajam seolah ia memang terganggu, "Kondomnya." Bisik Seokjin dengan bibir yang bergetar, dadanya berdebar dengan sangat cepat dan nafasnya kian memburu saat membayangkan Namjoon akan masuk ke dalam dirinya.

Tanpa banyak bicara Namjoon meraih satu bungkus kondom dalam saku celana yang masih ia kenakan, untungnya mereka sempat membeli kondom saat perjalanan pulang tadi, namun sialnya, Namjoon lupa membeli lube. Sebagai gantinya Namjoon memakai salivanya sendiri sebagai pelumas setelah memakai kondom yang menurutnya sedikit menyesakan baginya, ukurannya tak sebanding dengan milik Namjoon.

Seokjin memperhatikannya, ia mulai mengalungkan lengannya di leher suaminya saat Namjoon mulai menggendongnya layaknya bayi koala. Mereka berciuman kembali selama mereka berjalan, kemudian Namjoon merebahkan Seokjin di sofa ruang tengah rumah mereka, disela ciuman yang lebih lembut kali ini, Namjoon memasukan dua jarinya, membuat Seokjin mendesis lembut diantara ciuman manis mereka.

"Cu-cukup." Setelah jemari Namjoon memanjanya di bawah sana, Seokjin merasa cukup, diawali dari dua dan tiga setelahnya, ia tak mau harus melepaskan apa yang sejak tadi ia tahan hanya karena permainan jari Namjoon saja. "Namjoon, aku menginginkanmu.." Namjoon menyunggingkan senyum tulusnya, ia merasa lengkap karena akhirnya Seokjin mengatakan kalau memang ia menginkannya.

Seokjin menggigit bibir bawahnya saat Namjoon menggiring miliknya untuk masuk tetapi gagal, ia meleset, Seokjin masih terlalu sempit, "Rileks Jinseok." Desis Namjoon saat ia meleset untuk kedua kalinya, namun di saat percobaan yang ketiga, akhirnya milik Namjoon masuk perlahan-lahan, terbenam dalam diri Seokjin yang mukai meracaukan namanya berulang kali.

'Sakit.'

Seokjin tak mampu mengatakannya, ia hanya terus mengigit bibirnya selama milik Namjoon masuk semakin dalam. Namjoon yang menyadari perubahan dalam ekspresi Seokjin menghentikan gerakannya, kekhawatiran memenuhi benaknya, ia menyentuh pipi basah Seokjin dan bertanya dengan bisikan lembut, "Sesakit itu 'kah? Apa harus kulanjutkan?"

Mata sayu Seokjin mengerjap pelan, ia menggeleng dan mengusap bibir Namjoon dengan ibu jarinya, "Aku baik-baik saja." Kemudian ia memberi kecupan lembut pada bibir Namjoon yang mulai kembali bergerak seraya membalas kecupan-kecupan manis, berharap agar hal itu dapat membuat Seokjin melupakan rasa sakitnya. Namun tak dapat Namjoon pungkiri bila ia merasakan keninkmatan luar biasa kala Seokjin 'memijatnya' di dalam sana, dan semakin dalam Namjoon membawa miliknya, semakin kuat Seokjin 'mencengkramnya'.

Butuh waktu beberapa saat agar mereka berdua terbiasa. Setelah mendapat persetujuan dari Seokjin, Namjoon bergerak perlahan, tangan kirinya menyamgga tubuhnya sendiri di sisi kanan kepala Seokjin dan tangan kanannya menggapai pinggang ramping pria dibawahnya agar gerakannya stabil dan tidak meleset keluar. Seokjin meminta lebih dan Namjoon memberikannya semua yang ia mau, sebagai imbalannya, ia juga mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan, yaitu, memiliki Seokjin hanya untuk dirinya seorang sejak ia jatuh dalam pesonanya.

Tubuh Seokjin terlonjak saat Namjoon makin mempercepat gerakannya, tak konsisten pada awalnya, dan terkesan terburu-buru, namun dengan begitu, ia dapat menyentuh bagian paling dalam di bawah sana, bagian yang membuat Seokjin menjeritkan namanya dan memohon pada Namjoon untuk melakukannya lagi. Sofa yang mereka gunakan untuk bergumul memantulkan suara deritan dan hentakan keras, Namjoon membawa kaki kanan Seokjin ke atas untuk bersandar pada bahunya agar ia lebih leluasa bergerak di dalam sana.

Dan dengan satu hentakan, cepat, kuat dan menghentak. Namjoon kembali mengeluarkan apa yang sejak tadi ia tahan agar dirinya bisa mengimbangi Seokjin yang kini terkulai lemas setelah merasakan guncangan hebat pada orgasme pertamanya.

"Na-Namjoon.."

"I'm here, love, i'm here."

"Milikmu masih di dalam..."

"I know, baby. Kali ini, di kamarku."

Tanpa menunggu persetujuan dari Seokjin, Namjoon segera mengangkat tubuhnya dan menggendongnya, ia berusaha menstabilkan tubuh mereka agar miliknya tidak terlepas dari dalam Seokjin yang kembali mendesahkan namanya tepat di telinga kiri Namjoon.

Seokjin kira, pengalaman pertamanya dengan Namjoon akan lebih 'lembut' dan hati-hati. Namun ternyata, tidak demikian, memang Namjoon masih terlihat hati-hati tapi ia tak menyangka bila ia dan suaminya itu akan melakukannya dalam keadaan cemburu pada awalnya. Selama dalam gendongan Namjoon, Seokjin tak berhenti untuk tersenyum karenanya.

mamoru.

Taehyung menggigit kukunya dan Jimin harus segera menjauhkan tangan pria itu dari bibirnya sendiri. Dan tindakannya membuahkan hasil, Taehyung berhenti tapi ia masih memandang layar handphone-nya dengan tatapan ngeri.

"Bagaimana kalau Jin hyung dan Namjoon hyung bertengkar karena aku?" Masih dengan plester demam di dahinya, Taehyung terus meracau, Jimin tidak mengerti maksud perkataannya begitu juga dengan Jungkook.

"Memangnya apa yang kau katakan sehingga kau berasumsi telah membuat mereka bertengkar?" Jungkook bertanya seraya menyilangkan kedua kaki dan tangannya, masih dalam posisi duduk di pinggir ruangan dan tak mau dekat-dekat dengan Taehyung yang demam karena ia takut tertular.

Sejak tadi pandangannya juga tak lepas dari layar handphone-nya, sama seperti Taehyung, namun Jungkook sedang menunggu kabar dari penyelidikan lebih lanjut tentang 'perjanjian' yang Seokjin dan Namjoon buat sebelum menikah.

"Aku mengatakan sesuatu yang buruk." Taehyung meracau kembali, Jimin masih berusaha menenangkannya dan ia mulai lelah karena ia rasa dirinya 'lah satu-satunya orang yang tidak mengerti, sedangkan Jungkook terlihat tidak membantu sama sekali karena ia sibuk sendiri dengan handphone miliknya.

"Kalau kau mau memastikan bahwa mereka bertengkar atau tidak, telpon saja Jin hyung, sekarang." Ucap Jimin, mengulai kata-katanya yang beberapa saat lalu ia katakan sebagai usul dari pemecahan kegundahan Taehyung karena dirinya yang terus mengoceh tentang terancamnya pernikahan Namjoon dan Seokjin karena dirinya.

"Ok, ok." Setelah menarik nafas dalam, Taehyung men-dial nomor Seokjin, butuh waktu sampai nada sambung terdengar dan akhirnya, Seokjin mengangkat teleponnya dan menyapanya dengan suaranya yang lembut, seperti biasa.

"H-hyung, maafkan aku, apa kau dan Namjoon-"

"Tae?"

"Y-ya?"

"Aku dan Namjoon melakukannya..."

"Apa?"

"Aku 'tidur' dengan Namjoon..."

Oh, man, holy shit !

Taehyung tak mampu berkata apa-apa, terlebih Jimin. Namun berbeda dengan Taehyung yang makin pucat pasi, Jimin menyunggingkan senyum lebar sampai kedua matanya menutup. Di sudut ruangan, Jungkook mematung dan menatap shock pada mereka berdua.

Tadinya Taehyung ingin memastikan dan meminta maaf pada Seokjin dan Namjoon, jika memang mereka bertengkar karena dirinya, tapi di luar dugaan, Seokjin mengatakan tentang sex experience-nya dengan suaminya itu seusai mereka 'bertengkar' kecil. Dan sialnya, Taehyung menekan tombol loud speaker saat menghubungi sahabatnya itu.

Taehyung harap, tidak akan terjadi pertumpahan darah setelah ini.

to be continued

OH MY OH MY MY MY~~ *joget boy in luv* Fuma kembali dengan... apa ya ini? apa yang saya ketik sih diatas? SMUT MACAM APA ITU FUMA???!!!

niatnya sih mau merayakan cb bangtan kali ini dengan chapter yang 'hot' tapi apa daya, saya ga pinter bikin NC but- I LOVE THIS ALBUM SO MUCH AAAAAAAA~

Mikrokosmos favorit banget! Jamais vu juga! AAAHHH Dionysus Rock Jin *sujud sembah*

massive thanks to :

monsterSJNamjoon harus 'menuntaskannya' soalnya kalo ditahan bisa syakit uwu

deebul

udah ketahuan, dipanas-panasin pulak~ JK akan bergerak segera uwu

loveiscurl

Sabar beb, emang udah ga ada apa-apa diantara mereka, Sowon cuma saya jadiin 'pancingan' aja disini :v Disini Joonie udah berhasil bikin baby sama Jinnie bentar lagi aku lahir kedunia /menerobos ketuban/ ooeekk oeekkk uwu

QnQueen

SoPe syudah berjaya jadi saya pokus ke namjin lagi~ namjin sudah 'lanjut' disini oouuww :D kookie harus kepo, kookie akan membuat namjin *sensor* uwu

YM01

Terima kasih huhuhu semoga di rl mereka juga mesra ya ga cuma di ff aja hohoho Dalam kamus hidup JK, ga ada kata menyerah, iya ga jek? *tos sama jeykey*

AngAng13

Tenang aja, Sowon ga bakal ngapa-ngapain kok, aman satu, tp yg satu lagi mau 'anu' hohoho NamJin kapal besar, ga akan goyah cuma karena ciwi, nanti goyahnya sama JeyKey, jiwa JinKook saya lagi dugun dugun nih hm... maaf saya telat banget updatenya, ini udah lewat dua minggu... saya minta pelukan boleh? maafin saya ya, honey~ *cium*

und

JK on Top yoooww~ never give up JK *jadi cheerleader buat Jungkook* uwu

If-SunFlower

Hai deeekk uwu adek selamat datang *cepika-cepiki* makasih juga udah baca ff namjin saya ini~ business trip nya sudah selesai dan berjalan lancar, terima kasih atas semangatnya uwu JK udah mulai tau dan tambah panas hehehe NC namjinnya syudah jadi semoga kamu 'ena' ya ily

I PURPLE YOU GUYS SO MUCH