Mungkin untuk Chapter depan waktunya sedikit lama... karena kesibukan Ai yang sangat banyak. gomen... tapi diusahakan paling lama dua minggu. dan Ms X. jangan mengeluh dengan lamanya update. pembacaku tidak akan lumutan kok, iya kan? masih ada cerita dari author lain. weekk :p

Anything Can Happen -

- Ai -

- 2014 -

- Mashashi Kishimoto, Naruto-

- Pairing : Sasuke U. Hinata H. -

- Rate : T -

- Romance/Hurt/comfort

Sasuke Pov

Mendengar Anikiku sendiri mengatakan Hinata menyukainya adalah pukulan tersendiri bagiku. Sulit untuk menerima kenyataan itu. Aku tidak tau aku harus bagaimana? Maka dari itu aku hanya bisa diam. Aku tidak tau apakah aku harus berjuang untuk Hinata lagi, atau aku menyerah.

Jika dihadapkan akan pilihan ini, aku jadi sering memikirkan gadis kecil berambut indigo pendek 12 tahun lalu. Padahal dulu aku memberi nasihat padanya, melarikan diri atau melawan. Bukankah sekarang aku juga ada dipilihan itu? Mundur atau berjuang.

Khe… dimana kau sekarang? Bisakah kau memberikanku pilihan terbaik. Dan apakah pilihan yang aku berikan membuatmu bahagia eh? Indigo?

Chapter 12 Flash Back

Flash back

Brakkk

"Anak ceroboh!"

Umpat seorang pria berumur pertengahan kepada Sasuke. Saat itu Sasuke sedang berbelok dan tidak sengaja menabrak orang dengan rambut panjang, perawakan tegas dan beriris putih itu.

"Gomen." Ucap Sasuke tanpa rasa bersalah, dan menggunakan nada dingin.

Mata Hiashi Hyuga memicing. Kue chinnamon rolls yang tadinya akan ia gunakan membujuk Hinata ikut dengannya ke Amerika berjatuhan di tanah hingga tidak mungkin bisa dimakan. Sedangkan Sasuke hanya diam menatap kue itu juga.

"Akan aku ganti." Ucap Sasuke.

"Ini adalah kue terakhir. Ergh… dasar Uchiha tidak punya sopan santun." Hiashi mendelik kearah Sasuke. Membuat Sasuke jadi menciutkan nyalinya.

'Bagaimana dia bisa tau? Aku dan keluargaku baru pindah kan…'

"Sekarang kau harus bertanggung jawab membujuk putriku untuk ikut pindah ke Amerika bagaimana pun caranya! Mengerti! Awas jika sampai waktu makan malam aku tidak mendengar putriku mau pindah. akan aku hancurkan kediaman uchiha. Mengerti!"

"I-iya. J-jisan." Nyali Sasuke benar-benar menciut. "A-anak J-jisan seperti a-apa?"

"Hn. Dia berambut indigo pendek. Matanya sepertiku tapi bisa berubah lavender! Sudah sana!" setelah itu Sasuke langsung pergi. Menghindari pria yang menurutnya galak seperti tousannya. "Khe. Uchiha memang mudah dikerjai. Jadi aku tidak perlu susah payah." Lanjutnya sambil berjalan penuh seringai diwajahnya.

Sasuke Uchiha berumur 10 tahun, berjalan-jalan di bawah pohon sakura yang diberada dipinggir parit, benar-benar suasana yang nyaman. Ia menyembunyikan tangannya, terlihat sedang mencari sesosok gadis berambut indigo. sial sekali, disaat seperti ini seharusnya ia masih menikmati kenyamanan yang disuguhkan oleh alam Jepang, apalagi dia baru tiba 18 jam yang lalu.

'Sial orang itu, aku kan tidak sengaja menjatuhkan Chinnamon rolls nya. Dasar.' Omelnya tiada henti dalam hatinya.

"Hiks. K-kenapa mereka j-jahat p-pada Hinata kami-sama…. P-padahal Hinata t-tidak p-pernah jahat…." Hinata menekuk lututnya duduk di pinggir parit, terhujani oleh bunga-bunga sakura yang berguguran.

Sasuke langsung menolehkan kepalanya saat mendengar seseorang menangis, dan benar saja, di bawah, dekat sungai, terdapat sosok bertubuh mungil berambut indigo membelakanginya. 'Jangan-jangan dia ya…' berinisiatif, Sasuke turun dan mendekati Hinata.

"Hiks… kami-sama, H-hinata i-ingin p-punya teman… s-satuuuu s-saja, b-bukannya H-hinata tidak mensyukuri N-naruto Shika Shino dan K-kiba, tapi mereka b-berempat s-sudah k-keterlaluan. H-hinata takut…"

"Aku benci pada anak yang cengeng."

"E-eh…" Hinata menoleh pada sosok yang baru saja mencelanya, seorang anak laki-laki berpakaian biru, dengan rambutnya yang melawan arah gravitasi. Dia terlihat gagah dari bawah, apalagi dengan posenya yang berdiri tegap dengan tangan yang masuk di saku celanan pendek putihnya. 'K-kami sama, cepat sekali mengabulkan permintaan ku.'

Sasuke menjatuhkan dirinya disamping Hinata, dan menolehnya sekilas. 'Mata itu… jadi benar dia anak yang dimaksud orang itu.' Inner Sasuke.

"Kenapa kau menangis ha? Aku benci orang yang suka menangis, cengeng!" Sasuke berkata dengan nada sinisnya, lalu menoleh kearah air jernih didepannya.

"A-aku… A-ano, A-aku tidak c-cengeng." Hinata mengusap air matanya, ya memang Hinata tidak cengeng, menangis karena di kerjai pun baru kali ini kok, suer.

"Lalu apa bisa kau jelaskan air dipipimu itu?"

Hinata diam, tidak berani bersuara, kepalanya tertunduk, pipinya memerah.

"Untuk apa kau menangis ha? Kau tau menangis tidak menyelesaikan masalah?"

Hinata tetap diam, lagi pula siapa anak ini. Eh, bukannya dia kiriman Kami-sama untuk menjadi temannya. "A-aku… t-tidak punya teman, a-aku…" gumamnya yang masih terdengar oleh Sasuke.

"Lalu apa dengan menangis kau akan punya teman?" Tanya Sasuke, dan Hinata menggeleng. "Lalu apa yang kau lakukan sekarang?"

"A-aku hanya m-mengungkapkan s-seluruh perasaan ku yang t-tersimpan."

"Kalau itu aku, aku pasti akan mencari cara agar bisa mendapatkan teman, bukannya malah menangis seperti ini. Tidak menghasilkan apapun, sia-sia, lelah." 'Sial, kenapa jadi banyak bicara seperti ini sih, lagi pula mau mulai dari mana coba, dari tadi aku berputar-putar pada kalimat yang tidak jelas.'

"Hm… l-lalu m-menurutmu a-aku harus apa?"

'Nah…. Mungkin aku bisa dengan ini.' "Aku akan memberikan saran padamu. Ini ku kutip dari Teori Flight or fight milik Waltern Cannon tahun 1927, teori psikologi pertama mengenai reaksi manusia terhadap stress. hanya ada dua kemungkinan yang terjadi di saat ada masalah yaitu Fight berusaha melawan masalah tersebut dan mengambil risiko apa pun yang akan dihadapi. atau flight melarikan diri dari masalah tersebut dan menghindari risiko yang akan terjadi."

"…"

"Jadi gadis bodoh." Lanjut Sasuke saat tidak menerima respon apapun dari Hinata. "Kalau kau mampu, dan meyakini kau bisa mendapat teman, kau harus berusaha sekuat tenaga mendapatkan teman, percaya pada diri sendiri bahwa kau mempu berubah, menunjukkan bahwa kau tidak lemah. Tapi… jika kau merasa tidak mampu, kau bisa melarikan diri, pergi jauh dari sini, jauh dari mereka yang menganggapmu tidak bisa berteman, tapi melarikan diri untuk melawan."

"Maksudnya?" dan Hinata sedikit mengerti sekarang.

"Melarikan diri untuk melawan, pergi, cari kehidupan baru, mulai kehidupan baru, belajar membuka lembaran baru, berteman dari awal, membentuk jati diri baru, atau… belajar menjadi orang baru dengan banyak teman, kemudian setelah kau berhasil berubah, tunjukkan pada mereka bahwa kau sudah manjadi orang baru dan telah mempunyai banyak teman."

Hinata masih mencermati setiap kata yang terucap dari bibir anak laki-laki disampingnya, yang baru ia temui hari ini.

"Perubahan Ekstrime lebih di hargai daripada perubahan secara bertahap, nah caranya kau harus melarikan diri, dan kemudian kembali dengan bentuk baru." 'kumohon… berhasillah…'

"Kabur ya? Pindah dari sini?" kepala Hinata miring kekiri.

'Manisnya…'

"Kecuali kau ingin melawan, dan berubah ekstrime dalam 1 hari, mungkin."

"T-tidak m-mungkin aku akan b-berubah secepat i-itu kan… a-aku gadis yang aneh."

'Ternyata tidak mudah ya…'

"Tapi, m-mungkin i-ide mu b-benar, melarikan d-diri u-untuk melawan." Dan seringaian Sasuke muncul saat mendengarnya, rencananya berhasil.

"Ya. Kau bisa melarikan diri keluar negeri mungkin?"

Hinata menoleh padanya. "Ya, m-mungkin o-tousan b-benar. A-aku h-harus i-ikut mereka ke A-amerika. H-hey. M-mau kah kau m-menjadi s-sahabat p-pertamaku?"

"Hn. Ya. Tidak ada salahnya." Sasuke berdiri, didikuti oleh pandangan Hinata. "Aku harus pergi. Dah…"

Setelah hari itu, Sasuke dan Hinata tidak pernah bertemu lagi. Karena Hinata pindah ke LA bersama seluruh keluarganya.

end Flash Back

Sasuke POV

Aku menyesal tidak mengetahui siapa namanya. Aku juga tidak pernah mengingat lebih tentangnya. Tapi saat ini entah mengapa aku jadi mengingatnya kembali. Jika ingat gadis indigo itu, mungkin sekarang aku seperti ada di posisinya. Hey bukankah kau sahabat pertamaku? Bantu aku memilih haruskah aku bertahan mendapatkan Hinata, atau aku harus mencoba mencintai Sakura lagi?

Sakura? Bagaimana keadaannya? Aku tidak ingin menyakiti siapapun. Aku hanya mendengar saran Naruto saat itu, begitu banyak gadis yang mengejarku, namun Sakura adalah gadis yang bisa kuterima masuk kekehidupanku walau hanya sebatas teman akrab.

Saat itu aku berpikir mungkin Naruto benar, aku harus memberi Sakura kesempatan. Dlihat dari segi manapaun Sakura memang gadis yang bisa aku terima keberadaannya. Jadi mungkin aku bisa mencintainya kelak.

Hah… aku tidak tau lagi.

….

Normal Pov

Shikamaru menjelajah Hutan terlarang di pinggir Konoha. Mencari seseorang yang bernama Tsunade untuk mengobati Hinata. ia sudah melangkah jauh kedalam hutan hingga ia menemukan jajaran semak yang besar seperti memang sengaja di tanam disana.

Ia mencoba melewati semak itu namun sayang ternyata semak itu mempunyai duri. Menyayat kulit kakinya dalam. Membuat darah segar mengalir cepat. Tapi ia tak memusingkannya dan terus melewati semak tersebut hingga ia berhasil keluar.

Berjalan setapak mendekati pohon besar. Ia duduk disana dan mengambil sapu tangan guna menekan lukanya agar tidak mengeluarkan darah. Hingga seseorang menyapanya.

"Kau terluka anak muda?"

Suara itu, adalah suara seorang wanita paruh baya. Penampilannya seksi dan mempunyai lambang diamond di dahinya.

Shikamaru menghela nafas lega. Beruntung ada seseorang dihutan ini. Jadi dia bisa meminta bantuan. Tapi sedetik kemudian mata Shikamaru memicing.

"Dr. Tsunade?" tanya Shikamaru tanpa merubah posisinya.

Wajah itu kemudian berubah menjadi wajah penasaran dan penuh tanya. "Kau tau namaku anak muda?"

Shikamaru menyeringai. Lalu ia mengalihkan pandangannya kedepan, mengesampingkan wajahnya dari Tsunade. "Haah… secepat inikah? Shikamaru, kau benar-benar beruntung." Ucapnya pada diri sendiri.

Tsunade mendekat dan duduk didepannya. Ia melihat luka Shikamaru. "Aku sengaja menanamnya. Terlalu banyak binatang buas disini. Untung saja kau selamat dari binatang-binatang itu." Ucapnya sambil sesekali mengobservasi luka itu.

"Jam-jam pagi seperti ini jarang binatang berkeliaran."

"Ya. Untuk itulah aku berjalan-jalan mencari buah-buahan pada pagi buta seperti ini." Jawab Tsunade. Ia kini mengeluarkan dedaunan dan tempat tumbukan dari kayu. Segera saja ia menumbuk dedaunan itu hingga halus.

"Untuk apa itu? Aku tidak mau mendapat pengobatan yang tidak steril. Kau akan bertanggung jawab jika ini infeksi?"

"mendokudasai. Kau sebut apa aku tadi?"

"Dr. Tsunade?"

Tsunade langsung meletakkan dedaunan yang halus itu di kaki shikamaru. "Tentunya kau tau aku dokter yang hebat." Shikamaru mengangguk. Dan sesekali meringis perih. "Kau bisa berjalan?" lanjut Tsunade. Shikamaru mengangguk. "Ayo. Kerumahku."

….

Setelah perjalanan sekitar 2 km berlalu, Shikamaru dan Tsunade sampai disebuah gubuk besar yang dipenuhi ternak ayam beserta tanaman buah dan sayur disana.

Shikamaru kini duduk dipelataran depan rumah yang masih beratap gubuk tersebut. Sementara Tsunade datang dari dalam rumah membawa 2 gelas kayu dan 1 toples camilan. Ia letakkan didepan Shikamaru yang masih menatap halaman depan yang menyejukkan.

"Rumah ini hebat." Ungkapnya.

"Heh." Tsunade tersenyum sinis, lalu duduk disamping Shikamaru di pisahkan oleh minuman dan toples camilan. "Aku membangun wilayah ini cukup lama."

Shikamaru menoleh. "kau tidak takut akan berurusan dengan polisi hutan?"

"Ini Hutan terlarang, hutan mistis, hutan yang belum berubah dari beribu tahun yang lalu. Kau pikir kenapa Konoha berubah tapi hutan ini tetap dibiarkan seperti ini? Mengapa tidak ada investor yang membangun perusahaan atau bahkan villa?" Tsunade menerawang. "Hutan ini tentu terlindungi makhluk yang tidak kasat mata."

"Tapi kau tidak. Kau bisa merubahnya."

"Karena aku tidak mempunyai niat merubah hutan ini." Tsunade menoleh. "Aku ingin tinggal disini."

"Aa…" Shikamaru mengangguk. Lalu mengambil minuman yang disuguhkan Tsunade dan menenggaknya hingga habis.

"Ada urusan apa kau kesini anak muda? Tentu mengingat dirimu yang mengetahui siapa aku, pasti kau ingin menemuiku?"

"Benar." Shikamaru meletakkan gelasnya. "Aku ingin kau kembali menjadi dokter untuk sahabatku."

"Aku bukan dokter lagi, kalau kau belum tau."

"Aku tau. Tapi aku memutuskan untuk kesini mencarimu."

"Berarti kau sangat mengharapkan aku untuk membantumu dan tidak ada dokter lain lagi?" Shikamaru mengangguk. "Tapi sayang sekali anak muda, aku tidak ada niatan bagaimanapun usahamu merayuku."

"Hanya kau dokter. aku hanya mau kau yang menangani sahabatku. Kau ingat Dan?"

Mata Tsunade membulat. Sudah sekitar belasan tahun Tsunade tidak mendengar nama itu. Nama yang ia coba kubur dalam, namun tidak akan pernah melupakannya. Nama yang membuatnya berakhir meninggalkan kehidupan dunia dan memilih menyendiri di hutan ini. Nama yang tanpa nama itu dia tidak akan menghembuskan napas dengan normal.

"Tutup mulutmu anak muda. Jangan coba gunakan nama itu untuk merayuku." Sergah Tsunade cepat dengan napas memburu.

"Sahabatku dan Dan mempunyai jenis penyakit yang sama." Lagi. Mata Tsunade membulat. "Dan ku harap kau mau meneruskan penelitianmu tentang obat untuk penyakit itu."

"Tidak akan." Tsunade menekan kata-katanya. "Sudah kubilang aku berhenti jadi dokter."

"Kau mau ada seseorang yang menderita lagi seperti Dan?"

Deg.

"Aku bukan dokter."

"Kau mau ada seseorang yang bernasib sama dengan Dan?"

Deg.

"Itu bukan urusanku."

"Kau mau dia meninggal seperti Dan?"

Deg.

"…"

"Kau dokter. seharusnya itu tugasmu." Wajah Shikamaru menjadi sedikit sayu. Ia menatap langit didepannya. "Dia adalah sahabatku. Dia orang yang baik, sangat baik. Polos, dan selalu mementingkan perasaan orang lain."

'Dan…'

"Walaupun, yah… dia orang ternaif yang pernah aku temui. Aku ingin mengusahakan yang terbaik untuknya sebelum dia meninggal."

Deg.

"Ku mohon." Shikamaru menoleh ke Tsunade yang masih diam memandangi kakinya. "Ikutlah denganku."

"Dasar, keras kepala." Dengus Tsunade.

"Khe." Shikamaru tersenyum sepintas. "Kau juga. Tapi terimakasih."

"Aku belum menyanggupinya."

"Dia juga sahabat dari keponakanmu. Naruto Uzumaki."

….

Sasuke Pov

Aku masih diam di ruanganku, mencoba memikirkan apa yang seharusnya aku lakukan pada Hinata. Sakura, sejak kejadian di Konoha Park, ia tidak pernah menghubungiku, pun aku tidak pernah berkeinginan untuk menghubunginya. Pengecut, eh? Biar kan orang berkata apa. Ya, aku takut, dia tidak terima saat aku memutuskannya, ya aku takut, jika keputusanku putus dengan Sakura adalah salah setelah aku tau siapa yang dicintai Hinata.

Aku tau aku belum bertanya pada Hinata tentang kebenaran ucapan Itachi. Tapi aku rasa mungkin itu benar. Melihat kebelakang kedekatan Hinata dengan Itachi. Tapi aku memikirkan Konan. Itachi tidak mungkin membalas cinta Hinata. Jika memikirkan itu aku sakit hati, entah mengapa.

Aku harus memutuskan sekarang juga. Sudah seminggu berlalu sejak aku meminta penjelasan dari Itachi. Aku juga belum bertemu Hinata dan itu membuatku tersiksa. Aku harus meluruskan semuanya. Semuanya.

Dengan tegas ku hentakkan tubuhku agar berdiri. Ku ambil kunci mobil dan berlalu dari ruanganku. Ku batalkan semua rapat hari ini. Tak peduli Yugao yang berteriak padaku bahwa rapat ini penting. Sepenting itukah hingga aku tidak bisa focus pada kelangsungan hidupku? Lebay? Biarlah.

….

Hinata Pov

Sudah hampir seminggu sejak aku bertemu Sasuke-kun di Suna. Aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Kami-sama, aku merindukannya. Tapi ada sesuatu yang mencegah aku untuk menemuinya. Pernah berniat menggunakan alasan mengetahui hasil rapat yang tidak aku ikuti bersama Akasuna-san, untuk bertemu dengannya. Tapi sesuatu mencegahku lagi.

Aku sempat berpikir keras. Apakah Sasuke kembali lagi bersama Sakura? Oh Kami-sama aku menjadi orang jahat dengan mengharap hubungannya dengan Sakura-chan sudah putus setelah kejadian di Konoha Park yang menunjukkan dengan jelas bahwa Sasuke mencintaiku.

Sasuke-kun, Itachi-nisan, Kami-sama. Aku ingin mencintai Sasuke-kun, tapi aku tidak ingin menyakitinya, menyakiti siapapun. Mendengar Itachi nisan yang mengatakan jika aku pernah mempunyai hubungan dengannya pada Sasuke-kun membuatku takut. Akankah Sasuke akan melepaskanku? Kami-sama… bukankah itu yang aku inginkan? Aku, dalam hati aku tidak ingin Sasuke melepaskanku Kami-sama.

Tok

Tok

Tok

Lamunanku buyar saat seseorang mengetuk pintu ruanganku. Bolehkah aku berharap jika itu adalah Sasuke-kun? Aku menutup mata sambil berucap.

"Masuk." Dengan lirih, masih setia menutup mata.

Deg.

Aroma itu, mint. Aroma seseorang yang sangat aku rindukan kedatangannya. Aku membuka mataku kala suara indah sepatunya terdengar nyaring dan penuh penekanan ditelingaku.

Aku melihatnya, seseorang bermata onyx, rambutnya yang setia melawan gravitasi, dan tinggi badannya yang tegap. Aku sejenak tak bernapas. Ini seperti mimpi. Bahkan aku tidak bisa mengalihkan pandanganku. Mataku berair dan tanpa sadar air mata sudah menetes. Aku merindukannya. Sungguh.

Sasuke Pov

Ku langkahkan kakiku mantap kearahnya yang masih menutup mata dengan menyandarkan kepalanya pada kursi. Kenapa dia seperti itu? Apa ada sesuatu yang menyulitkannya? Pekerjaankah? Tapi bukannya pekerjaannya adalah pekerjaanku juga? Apa yang tidak ku ketahui?

Tapi pikiran itu musnah saat dia melihatku, tatapannya kaget. Mungkinkah dia sedang memikirkanku? Dan sedetik kemudian aku melihatnya berkaca-kaca, mata itu membendung air mata dan menetes dengan pelan.

Aku terdiam, langkahku berhenti beberapa langkah dari mejanya. Kenapa dia menangis?

Panic. Aku langsung menuju kearahnya. Ku putar kursi putar itu menuju kearah ku. Aku berjongkok dan menatapnya dengan intens. "Kenapa kau menangis, Hinata?" tanyaku dengan nada kepanikan yang sangat tinggi.

Hinata menggeleng dan membuatku kebingungan. Air mata itu terus melesak dari mata lavendernya. Ku usap pipinya dan kurangkum. "Apa yang terjadi? Katakan padaku." Wajahnya pucat dan ini tidak baik.

"G-gomen." Kata itu terucap. Aku benci dengannya yang suka sekali berkata maaf dengan nada lirih seperti itu.

"Apa yang kau katakan?" aku berdiri, sedikit membungkuk guna menghapus air matanya. "Sekarang tenanglah. Aku disini. Katakan semua yang ada didalam hatimu, pikiranmu, katakan semuanya, jangan dipendam sendiri."

"S-sasuke." Lirihnya. Kini ia berdiri, memandangku yang lebih tinggi darinya. "A-aku. I-itachi-ni…"

Sejenak hatiku seraya mencelos karena nama itu. Apa ini? Dia ingin mengatakan hubungannya dengan Itachi, atau perasaannya pada Itachi?

Aku mundur satu langkah dan menatapnya lebih tajam. "Aku sudah tau. Kau, apakah benar kau mencintai Anikiku?" Hinata diam seribu bahasa. Aku tidak tau, tapi matanya menunjukan bahwa dia enggan menjawabnya. Sepertinya dia tidak tau harus menjawab apa.

"Kau pernah berpacaran dengannya kan? Benar?" sekarang dia membalasnya dengan mengangguk, setetes air mata berlinang.

"A-aku. D-dulu. I-Itachi nii adalah n-nafasku."

Deg.

Sungguh, aku tidak mau mendengarnya. A-aku seperti sudah kalah telak dengan perasaan itu. Sadarkah kau Hinata. Perasaan mu itu sia-sia. Itachi sudah memiliki Konan. Setidaknya kau harus membuka perasaan untuk seseorang, dan itu aku.

"Tidak. Itu tidak boleh Hinata. Itachi sudah memiliki Konan nesan!" bentakku padanya.

Mata Hinata menatapku intens. "Tidak apa-apa, Itachi ni masih sayang padaku saja sudah cukup." Jawabnya dengan lancar.

Aku menggenggam kedua bahunya dengan erat. "Lupakan dia dan beralih padaku!"

"kau tidak mengerti Sasuke!" dia berteriak padaku. Tapi peganganku tidak terlepas.

"Apa yang tidak kumengerti? Aku berusaha membuatmu jatuh cinta padaku. Akan aku lakukan apapun untukmu. Jika Itachi adalah napasmu, kau adalah napasku Hinata!"

Hinata mundur satu langkah.

Normal Pov

'Jika aku adalah napasmu, berarti aku harus benar-benar menjauh darimu Sasuke. Saat aku tidak ada berarti napasmu juga akan menghilang.'

Sasuke tidak membiarkan Hinata mundur lagi, ia semakin mengeratkan pegangan bahunya. "I-itachi nii, s-selama 5 tahun, ia selalu ada untukku. I-ia mengenalkanku p-pada seluruh s-sahabat a-akatsuki, m-mengnalkan ku a-arti p-persahabatan sejati, m-membuatku banyak m-memiliki teman, m-memberikanku cinta l-lawan jenis pertama kali."

Flash back

Itachi berumur 20 tahun saat itu, saat ia pindah ke LA, ia kuliah di universitas paling ternama disana bersama Neji, sang musuh bebuyutan.

"Kau intens sekali melihatnya, kau mengenalnya?" ucap Kisame, seseorang yang mempunyai wajah seperti ikan hiu.

"hn. Dia adalah rival abadiku dulu saat berumur 8 tahun." Ucap Itachi.

"Benarkah? Haha… kudengar dia adalah orang yang menyebalkan. Bahkan adik sepupunya tidak bisa berteman dengan siapapun jika bersamanya."

"Adik sepupu?" setahu Itachi, Neji tidak punya kerabat yang tinggal bersama dengannya.

"Ya. Dia sangat overprotective pada adiknya. Namanya Hyuga Hinata, gadis manis yang masih berumur 15 tahun."

"Oh ya?" mata Itachi memicing dan tersenyum. "Aku akan membuat Neji kesal."

"H-hey… jangan katakan kau akan mendekati gadis Hyuga itu, un?" Deidara bersuara.

"Hn. Kita lihat saja. Ini akan menyenangkan."

"Terserahkau lah… aku pergi." Pein diikuti Akatsuki lain kemudian memasuki kelas kuliah.

Skip time

Hinata berjalan kekampus kakak sepupunya, ia terbiasa menunggunya didepan gerbang kampus bersama satpam. Kebetulan Sekolahnya berdekatan dengan kampus.

"Un. Lihat. Itu Hinata Hyuga kan?"

"Benar."

Itachi menyeringai, dan melangkah mendekat. "Lihat aksiku kawan-kawan. Pastikan Neji tidak melihatnya." Perintah Itachi pada Hidan yang berada disampingnya.

"Demi Janshin-sama. Jangan kau permainkan gadis yang polos Itachi, kau akan kuwalat nantinya."

"Berisik, un. Cepatlah, hadang Neji."

Sementara Hidan menghadang Neji, Itachi sudah mendekati Hinata yang masih duduk di bangku didepan gerbang.

"Hai." Sapa Itachi yang langsung duduk disamping Hinata.

Blush…

Hinata menunduk, malu, memainkan kedua jarinya didepan dada. 'Sepertinya aku pernah melihat dia.'

"Boleh, 'kan?" tanya Itachi, bermaksud meminta ijin duduk disamping Hinata.

Hinata hanya mengangguk, ia ingat sahabat pertamanya. 'Mata orang ini sama dengan mata sahabatku, rambut orang ini mungkin panjang tapi sungguh rambut itu mengingatkanku padanya.'

"Kau adik neji ya?"

"E-eh?" Hinata menoleh kearahnya.

"Aku juga teman Neji, bolehkan kita berkenalan?" Itachi mengulurkan tangannya. "Itachi."

"A-ano…" Hinata melihat kearah gerbang, mencari sosok Neji, yang seharusnya sudah keluar, lagi pula ia takut akan dimarahi Neji jika kedapatan sedang duduk bersama laki-laki.

"Tenang saja. Neji tidak akan marah kok."

Hinata menoleh ke Itachi lagi, menetapkan hati. 'kenapa tidak? Dengan begini aku akan mendapat teman kan?' dengan keraguan yang menyelimuti hatinya, Hinata mengulurkan tangannya, menerima jabatan tangan Itachi. "H-hinata.."

"Hinata-chan cantik." Kata Itachi sambil mengeratkan genggaman tangannya. Membuat Hinata blushing akut karenanya, Hinata tidak pernah dekat dengan laki-laki sebelum ini kecuali Neji.

"A-arigato Ita-ni." Ucap Hinata dengan senyuman.

"Wah…" Itachi terkesiap melihat senyum Hinata. "Kau sangat cantik saat tersenyum Hinata-chan." Membuat Hinata tambah blushing dan melepaskan tangan Itach guna menautkan jari telunjuknya dengan jari telunjuk lainnya didepan dada. "Mau berkenalan dengan teman-temanku? Kudengar kau tidak punya teman."

"E-eh…" 'tidak punya teman?'

"Ayo!"

Sejak saat itu Itachi dekat dengan Hinata tanpa sepengetahuan Neji, niat Itachi adalah membuat Hinata mempunyai banyak teman tanpa sepengetahuan Neji.

"ingat Hinata. Neji itu sister complex, jadi jangan beritau Neji jika kau berteman dengan seluruh sahabatku, atau temanmu di club lainnya. Oke?" dan Hinata hanya mengangguk setuju.

Hinata berhasil memiliki teman banyak berkat Itachi. Itachi adalah seorang yang mengalihkan kesedihannya dari kematian orang tuanya, pun yang memberi sahabat padanya. Kini sahabatnya bukan hanya 1 tapi berpuluh-puluh teman Itachi adalah sahabatnya. Hingga suatu saat Itachi benar-benar menjalankan rencananya.

"Hinata… aku suka padamu. Kau mau kan jadi pacarku?"

Sungguh saat itu Hinata tidak tau ia mencintai Itachi apa tidak, tapi yang ia tahu Itachi adalah napasnya, tanpa Itachi ia tidak bisa memiliki kehidupan yang berwana, ia pasti akan tetap bersedih karena kehilangan orang tuanya diumur 15 tahun, Itachi membantu bergabung dengan club memasak di sekolah SMA nya, berkebun di grup komunitas, dan mengenal anggota akatsuki yang menurutnya adalah senpai yang menyenangkan.

Tanpa ragu Hinata menyetujuinya, merekapaun menjadi sepasang kekasih.

Suatu hari, Neji dikagetkan dengan kedatangan Itachi, ia mengatakan bahwa Hinata dan dirinya sudah berpacaran. Wajah Neji marah besar dan membuat Itachi senang. Rencanya berhasil.

Itachi tidak sungkan kerumah Neji dan mengajak Hinata pergi, menunjukkan begitu banyak teman yang Hinata punya dibelakang Neji, sungguh Neji serasa ingin membunuh Itachi saat itu, tapi saat ia melihat Hinata yang senang, Neji hanya bisa menggeram pasrah pada Itachi, ia merasa kalah telak.

"Awas kalau kau menyakiti Hinataku!"

"Itachi, Hinata… dia mengidap penyakit kanker."

Kata-kata Neji menjadi bogem mentah untuk Itachi, dengan gusar Itachi berlari di lorong rumah sakit dan menemui Hinata yang berbaring lemah di kamar rawat inap.

"Kau pasti kuat Hinata. Jalani kemo dan aku akan ada selalu untukmu, seluruh teman-teman akatsuki juga."

Tiap hari Hinata selalu dikunjungi akatsuki. Bergurau bersama, Neji semakin dekat juga dengan akatsuki yang menurutnya geng kurang kerjaan. Hingga Neji juga menjadi sahabat mereka.

Tak ada kata sedih bagi Hinata saat mereka berkumpul bersama, dengan Neji dan Hanabi yang selalu menemani, akatsuki yang mewarnai hidupnya dengan tawa, dan Itachi yang sangat mencintainya, memberinya kasih sayang.

Namun suatu hari Itachi datang dengan tatapan sedih. Sudah lima tahun tepatnya ia di LA, ia harus kembali ke Konoha dan menggantikan sang tousan diperusahaan Uchiha. Dengan berat hati ia harus meninggalkan Hinata, dan seluruh kehidupan di LA.

"Hinata… kau tau kan aku sangat menyayangimu." Hinata mengangguk sambil bergelimang air mata.

"A-aku menyayangi Itachi-ni."

"A-aku… tidak tau lagi harus bagaimana Hinata, Tousan ku menyuruhku untuk kembali ke Konoha."

"Fugaku J-jisan sudah memikirkan yang t-terbaik u-untuk Itachi-ni, a-aku tidak apa-apa…"

"Tapi aku tidak mau meninggalkanmu, Hinata." Itachi menggenggam tangan Hinata erat.

"Ita-ni.. walaupun kita harus berpisah. Tapi ingatlah. Ita-ni adalah napasku. Kita masih bisa mengirim e-mail."

Itachi memeluk erat Hinata untuk terakhir kali. perlahan ia mencium bibir Hinata untuk pertama dan terakhir kali, ciuman yang hangat dan dalam, saling brtaut dan menghabiskan seluruh pasokan oksigen mereka. Entah ia masih bisa bertemu dengan Hinata atau tidak. Tapi air mata Hinata tidak bisa berhenti mengalir, pun demikian dengan Itachi.

Entah jadi apa Hinata tanpa Itachi setelah ini. Terimakasih pada Itachi, karena sebelum pergi, Itachi sudah memberikan sesuatu yang berharga bagi Hinata, Sahabat dan cinta.

End flash back

Sasuke berdiri sejauh 2 langkah dari Hinata, Hinata bersandar di meja kerjanya menatap Sasuke. "Itachi nii adalah segalanya bagiku. Tidak ada yang bisa menggantikannya." Tentu saja Hinata bercerita berbeda tentang rasa 'suka itachi' yang diganti rasa 'sangat mencintai Itachi'

Sasuke menunduk dalam diam. Lalu dia melihat Hinata dengan tatapan tak terbaca. "Jadi aku sudah kalah? Tidak ada kesempatan untukku Hinata?"

Hinata tidak membalas. Hanya melihat tatapan yang diberikan Sasuke. "Dengan cara apapun tidak akan mungkin menggantikan Itachi kan? Baik." Sasuke berjalan mundur kebelakang. "Mungkin sampai sini, bahkan aku belum menggunakan cara apapun terhadapmu."

'Salah. Tanpa cara apapun darimu, Sasuke-kun. Hatiku sudah tertambat untukmu. Jangan mengalah!'

"Aku… sudah cukup sampai disini kan?" Sasuke membalik tubuhnya. Lalu berjalan menjauh.

'Sampai disini sajakah?' batin mereka berdua.

"Selamat tinggal Hinata." Sasuke membuka pintu dan menutupnya dengan cepat. Bersandar pada pintu dan meneteskan air matanya. "Sial kau Itachi."

Didalam, Hinata merosot jatuh, membenamkan kepalanya dilutut dan menagis tersedu. "S-sasuke…. S-sasuke…. Jangan pergi. Ku mohon. Kembalilah. Kembali…. A-aku mencintaimu… jangan mengalah te-terhadapku… hiks hiks."

Sasuke sudah berjalan kearah lift. Pikirannya kacau. Sungguh.

"Sasuke… a-aku… mencintaimu s-sungguh…" Hinata berdiri dan menatap pintu yang menelan Sasuke. "K-kami s-sama… aku tidak bisa m-melepaskan S-sasuke. G-gomen Itachi nii…"

Krekk

Satu langkah Hinata merubah hidupnya. Setelah langkah kedua ia segera mengganti langkah itu menjadi berlari, berlari sekuat tenaga, mengejar cintanya. 'S-sasuke… t-tunggu….!'

….

Sasuke berjalan kearena parkir. Sebelum mencapai daun pintu mobil, Sasuke berhenti, menghela napas. Membenarkan tingkahnya.

"heh. Lucu. Ini cinta pertamaku. Pertama kali aku merasakan cinta, pertama kali juga aku harus patah hati. Kami-sama… adil sekali kau padaku."

Sasuke menghela napas lagi. menoleh kebelakang. "Hinata… aku akan tetap mempertahankan mu bagaimana pun caranya. Meski aku berkata melepasmu, tapi jangan harap kau akan kulepas. Ingat perjanjian kerja sama? Aku akan menjeratmu dengan itu, semakin kau terjerat akan kupastikan hatimu juga akan terjerat padaku. Kejam? Yah… itu adalah caraku." Setelah itu Sasuke segera berjalan, memutari mobilnya, menuju ke pintu pengemudi. Tapi sebelum ia sempat membuka pintu, seseorang datang dengan tergesa.

Brukkk

Sasuke mematung, seseorang memeluknya dari belakang dan terisak. "B-bodoh!"

"H-hinata…"

"K-kau bodoh U-uchiha S-sasuke… kenapa k-kau begitu m-mudah m-melepaskanku! K-kau tidak menyukaiku?!" teriak Hinata dibalik punggung Sasuke.

"Tidak." Jawab Sasuke dingin. Ia berusaha menetralisir keadaan saat ini. Sementara Hinata mematung.

'Tidak? Secepat itukah? Apakah aku terlalu jahat pada Sasuke?'

Sasuke menggenggam telapak tangan Hinata, lalu menariknya menjauh, ia membalik tubuhnya, melihat tatapan Hinata yang nampak sayu penuh kekecewaan. "Aku tidak menyukaimu, tapi aku mencintaimu Hinata Hyuga."

Tatapan itu, yang semula sayu menjadi berbinar. "S-sasuke…"

"kau yang bodoh, aku tidak mungkin melepaskanmu!"

Grepp

Sasuke memeluk erat Hinata, seerat-eratnya. Sasuke berjanji tidak akan melepaskan Hinata seumur hidupnya, meskipun lawannya adalah kematian, Sasuke tidak akan melepaskan Hinata, seumur hidupnya.

TBC

reviews...

Yuna Emiko, Seo haeri, Medorikawa Izuma, Lovely Sasuhina, hana, Kicha, Astia tunggu chapter selanjutnya ya... Cahya Uchiha Siap, itu daun yang benar... Ticus asti typo nya akan dikurangi, itu memang kelemahan saya, huhu, tentang Hutan terlarang, menurutku bagusnya seperti itu, Konoha memang kota tapi kota yang punya hutan terlarang masih bisa masuk akal, seperti di cerita film horror, hehe. ya semua pendapat beda-beda sih, soalnya kalau desa terpencil sepertinya masih mudah dicari semua orang. oke jadi 7:2. Uzumaki Nama terimakasih support nya. ikuti terus ya.. Ms X. dasar cerewet! e... kamu juga petugas kesehatan ya? apa? dokter kah? ya memang sih, tapi kan pendonornya harus mati, oh no! Hinata tidak mungkin mau tuh... hi... aku akan berusaha lagi memperbaikinya. maka dari itu kau harus terus ngasih komentar oke! kemarin panggil Tua sekarang bachan? aku tidak setua itu, ingat umurku masih 21 tahun! baru kepala 2. dasar. itu namanya salam panas. Guest oh ya? semester berapa? ikutin terus kelanjutannya ya... aku butuh semangat darimu!