Setidaknya, aku bisa melupakan sejenak masalah itu karena kedatangannya. Tetapi, aku tidak akan pernah melupakan itu secara permanen, karena, aku ingin menuntut balas dendam kepadamu. Kau fikir semuanya mudah untuk dijalani, huh?

...

Main cast [Kim Joonmyeon. Zhang Yixing. Do Kyungsoo. Kim Jongin]

Rated. Genre [T+. Horror. Tragedy. Adventure. Suspense. Sci-Fi]

Author [CarolineaKim]

Length [Chaptered. Multi-chapter]

Disclaimer© [This storyline is belong to me and always MINE! So, don't copy this storyline without permission]

Warn! [YAOI. AU. Absurd. Typo everywhere. Pure YAOI no GS]

...

CarolineaKim storyline...

Present!

.

.

Happy Reading (~*3*)~

.

Chapter 12

.

Kyungsoo masih bergelung seperti anak kucing diatas tempat tidurnya. Mengabaikan bias sinar mentari pagi yang hangat memasuki kamarnya. Lagipula, Ryeowook memaklumi hal itu. Biasa, Sunday effect. Tapi, masalahnya itu, dari semalam Kyungsoo tidak mau makan. Bahkan, memakan masakan yang kemarin ia masak bersama Yixing untuk Ryeowook dan Jongwoon. Setiap ditanya, dia selalu menjawab kenyang. Hh~ alasan klasik.

Dan Ryeowook khawatir, Kyungsoo akan sakit jika seperti itu. Kemarin saja, dia pulang sekolah jam setengah empat sore. Ada kegiatan klub menyanyi disekolahnya, bersama Baekhyun. Bahkan, Ryeowook tahu dari Baekhyun jika Kyungsoo tidak menyentuh jatah makanan dari klub dan tidak memakan habis bekal sandwichnya.

Dan sepertinya, hanya ada satu orang yang bisa membujuk si bungsu yang manja ini untuk bangun dan segera sarapan. Siapa lagi kalau bukan Jongin?

.

.

"Hei, Kyungsoo. Bangunlah, ini sudah pagi. Kau tidak melihat mentari menyambutmu? Kasihan dia menunggumu lama." Ucap Jongin seraya mengecup ringan pucuk hidung Kyungsoo, membuat empunya menggeliat geli.

"Ibumu sudah khawatir. Dia menunggumu untuk sarapan. Bangunlah, sayang. Kasihan ibumu, tahu!" Kali ini Jongin menoel-noel pinggang Kyungsoo.

"Ugh~ tidak bisakah nanti? Aku masih lelah dan butuh istirahat." Jawab Kyungsoo dengan suara seraknya. Jongin sudah menduga jika Kyungsoo flu. Karena, terdengar dari suaranya dan hidungnya yang lumayan memerah.

"Tapi, ayah dan ibumu sudah lama menunggu, sayang. Kasihan mereka. Kau tega, hah?"

Kyungsoo menggeliat dan mengerjapkan matanya. "Kau lihat, hah? Aku masih lelah, kkamjong!" ucapnya. Lalu, kembali memejamkan matanya dan menarik selimut hingga keujung kepala.

Jongin menghela nafas sabar. Kyungsoo itu sudah manja, keras kepala, dan terkadang suka ceroboh. Itu sifat buruknya.

"Tapi, ayah dan ibumu tidak mau makan jika kau tidak ikut makan juga. Kau tega melihat mereka sedih karena kau tidak mau makan? Dan mereka juga tidak mau makan? Kau flu juga 'kan? Bangunlah, ibumu sudah memasak sup ikan kesukaanmu." Jongin kembali membujuk Kyungsoo.

"Yah, baiklah. Sup ikan mengalahkan segalanya." Kyungsoo beranjak dari tempat tidurnya dengan malas dan membuka pintu kamar mandi, lalu, menutupnya – sesaat sebelum dia menyuruh Jongin turun duluan dan dia akan menyusul setelah berganti pakaian.


.

.


Taehyung memijat pelipisnya yang terasa berdenyut karena Jungkook dan Yeri sedang ribut berlari kesana-kemari. Persis seperti anak kecil yang bermain kejar-kejaran.

Oke, mungkin Taehyung masih memaklumi jika itu adiknya yang bermain. Si Yeri itu memang sangat kekanakan. Lagipula, umurnya masih 16 tahun, andai saja dia masih hidup saat ini.

Tapi, Jungkook? Taehyung hanya bisa pasrah dan melihat kedua remaja yang menyerupai bocah ini berlarian kesana-kemari.

"Hei, kalian tidak lelah berlarian seperti itu? Duduklah dan, please, jangan banyak bertingkah." Ucap Taehyung seraya menyentil dahinya sendiri.

Yeri dan Jungkook berhenti, lalu, mengendikkan bahunya.

Melanjutkan berlari.

Taehyung pasrah.


.

.

.


"AAAA! BAEKHYUN DATAAANG!"

"KYUNGSOO!"

.

Empat lelaki yang melihatnya menggeleng-gelengkan kepalanya geli saat melihat Baekhyun dan Kyungsoo seperti orang yang sudah lama tidak bertemu. Duo sepupu yang lumayan berisik ini menjadi mood boster mereka saat sedang berkumpul.

"Apa kabar?" tanya Heechul – lelaki cantik, amat sangat cantik, ibu dari Baekhyun.

"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja. Ayo, masuk dulu! Biarkanlah Kyungsoo dan Baekhyun bermain seperti anak kecil disana." Sahut Ryeowook sambil tertawa kecil.

"Ya – ya, baiklah."

Jongwoon dan Hankyung hanya mengendikkan bahunya dan tertawa pelan. Mereka menyusul masuk kedalam dan meninggalkan Baekhyun dan Kyungsoo yang saat ini tengah menyiram bunga-bunga milik Ryeowook. Haha, mereka tampak seperti anak kecil sekarang!


.

.


Taehyung menatap langit mendung dengan perasaan yang berkecamuk. Pikirannya melayang entah kemana dan innernya mengatakan hal yang harus ia lakukan secepatnya. Tetapi, jujur saja ia tidak berani melakukan hal itu. Mungkin, memang dirinya payah.

Taehyung ingin sekali mengungkapkan segala kebenaran dari segala sandiwara ini. Namun, apa yang akan dia katakan nanti? Toh, rata-rata banyak yang berfikir, apa gunanya menanyakan sesuatu dari orang yang sudah mati?

.

"Aku tahu kau sedang memikirkan apa." Suara adiknya menyapa halus gendang telinganya. Ia melihat Yeri yang duduk disebelahnya. Taehyung mengangkat sebelah alisnya dengan jahil.

"Memangnya apa?"

"Jungkook! Ha-ha-ha! Tebakanku benar 'kan?" canda Yeri.

Taehyung memutar bola matanya malas dan menyentil dahi adiknya. "Jangan sok tahu! Omong-omong, Jungkook kemana?" tanya Taehyung. Matanya bergulir kesana-kemari mencari orang yang dimaksud.

Yeri mengangkat bahunya. "Entahlah. Pergi, mungkin? Atau berkelana di dunia?" jawabnya acuh dan menepuk bahu kakaknya seraya tersenyum, tanda ia ingin meninggalkan Taehyung.

"Hn." Taehyung membalasnya dengan anggukan dan Yeri menghilang dalam satu kedipan mata.

Pandangan Taehyung kosong setelahnya. Dia memutuskan sesuatu dibalik pandangan kosongnya, dibalik perasaannya yang berkecamuk, dan dibalik semua sandiwara dua dunia yang terasa terombang-ambing ini.

Lelaki itu menghela nafas panjang.

"Aku memutuskan—"

.

.

"untuk mengungkapkan hal yang sebenarnya kepada mereka."


.

.

.


"Bagaimana jika hari ini kita berjalan-jalan, em, kehutan wisata, misalnya? Atau ke air terjun?" usul Baekhyun. Kyungsoo yang ada disebelahnya ikut mengangguk.

"Naik apa?" tanya Joonmyeon—yang baru saja datang bersama Yixing dan Anson. Lalu, Jongin dan Chanyeol datang karena sebelumnya Kyungsoo dan Baekhyun yang menyuruhnya kemari. Dijamin akan semakin heboh dan rusuh nanti.

"Mobil, hyung." Sahut Kyungsoo datar. Sementara, Joonmyeon kikuk sendiri dan melirik kesana-kemari. Mengabaikan tawa geli dari semua orang.

"Baiklah, lalu, bagaimana?"

Kyungsoo berniat ingin memukul hyungnya ini dengan sepatu. Tetapi, tidak terimakasih. Nanti dia tidak akan dibelikan ini-itu lagi oleh sang kakak.

"Bagaimana jika aku, kau, Yixing gege, dan Jongin di mobilmu. Lalu, Baekhyun, Chanyeol, ayah-ibunya Baekhyun, baby Anson, ayah, dan ibu dimobil paman Hankyung?"

Baekhyun mengerutkan keningnya. "Mengapa, lebih banyak dimobil ayahku ketimbang dimobil Joonmyeon hyung?" tanyanya. Pertanyaan itu membuat keringat dingin mengucur dari tubuh Kyungsoo dan entah mengapa firasatnya tidak enak. Dia tidak bisa melihat kejadian apa yang akan terjadi, karena, semuanya tampak blur.

Oh tidak!

"P-pokoknya turuti saja aku! A-aku inginnya seperti ini!" elak Kyungsoo dengan suara bergetar—entah mengapa—yang ia sembunyikan. Jongin mengangkat alisnya heran dan dia juga merasakan firasat buruk, omong-omong.

Semua orang disini tahu, ada baiknya menuruti kata-kata Kyungsoo. Karena, mereka semua takut sesuatu yang buruk diprediksi oleh Kyungsoo. Namun, mereka mencoba untuk berfikir positif dan mengangguk setuju.

"Jaa, kita akan berangkat sekarang!"


.

.

.


Sungguh.

Kyungsoo merasakan firasat buruk sejak ia dan keluarganya meninggalkan pekarangan rumah. Apalagi, saat dia baru menyadari jika sudah dua hari ini Yeri tidak datang untuk sekadar menyapanya. Ini aneh. Apakah ada permainan antara dua dunia lagi?

Kepala Kyungsoo pusing dan ia tidak terlalu menikmati perjalanan menuju hutan wisata atau apalah itu yang tadi diusulkan oleh Baekhyun. Ia masih melihat mobil putih milik ayah Baekhyun tepat didepannya.

Namun, matanya terasa perih dan berkunang-kunang. Ia dapat merasakan tubuhnya panas, tetapi, badannya agak menggigil. Kepalanya serasa dihantam oleh benda berat dan keringat dingin mengucur kesetiap inchi tubuhnya.

Dia langsung menyandarkan kepalanya kebahu Jongin dan terlelap disana.

Ya...


"Kita dimana?

Kyungsoo terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia dapat melihat wajah panik dari kakaknya, kakak iparnya, dan kekasihnya. Lalu, beralih melihat keluar. Sudah gelap? Hah? T-tunggu! Pasti ada yang tidak beres disini!

Kyungsoo yakin akan hal itu.

"Ada apa ini?" tanya Kyungsoo, lagi.

"Kita tersesat." Jawab Joonmyeon. Air mukanya tampak tidak baik-baik saja. "Tadi, ibu menelpon mereka sudah sampai ketempat piknik. Sedangkan, kita? Entah kita salah jalan atau apa. Tapi, aku yakin jika mobilku terus mengikuti mobil paman Hankyung." Gurat khawatir dan panik dapat Kyungsoo lihat dari wajah kakaknya ini.

"Aku merasa, saat satu kedipan mata, mobil mereka hilang dari pandangan. Dan tiba-tiba, aku mendapat telepon dari ibu. Mereka sudah sampai sedangkan kita belum. Mereka pikir, kita sibuk berkeliling ditempat piknik karena disana sangat ramai. Tetapi, saat aku berkata bahwa aku dalam perjalanan, mereka semua terkejut. Lalu, sambungan terputus dan bagusnya, aku merasa hanya berputar-putar ditempat ini saja." Jelas Joonmyeon frustasi.

.

Kyungsoo diam.

Dia merasakan ada satu kejanggalan disini.

Jam masih menunjukkan pukul satu siang. Namun, langit sudah gelap dan tidak ada yang menyadari hal itu sama sekali. Kyungsoo tentu tidak mau terkesan menakut-nakuti mereka pasal hal ini. Apalagi, saat Kyungsoo melirik kebelakang, tidak ada kendaraan apapun yang melintas. Padahal, setahu Kyungsoo jalan menuju tempat piknik lumayan ramai, mengingat ini sudah masuk waktu libur.

Entah mengapa, Kyungsoo merasa mereka sedang berada di dunia yang salah dan tempat yang salah. Misplaced. Tempat yang seharusnya mereka tidak ada disana dan sebenarnya bukanlah dunia mereka berada. Kyungsoo sangat yakin akan hal tersebut.

Tapi, entahlah.

Udara terasa mencekam dan mereka sibuk pada pemikiran masing-masing.

.

"Kyungsoo, kau merasakan suatu kejanggalan?" suara Joonmyeon membuyarkan lamunan Kyungsoo seketika. Lalu, Kyungsoo hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan kakaknya.

Joonmyeon mencoba untuk tetap tenang dan mengusap ringan helai Yixing yang tengah menggigit bibir bawahnya resah seraya terus mencoba untuk menghubungi salah satu dari orang-orang yang tadi ingin piknik. Namun, menghubungi siapapun hasilnya tetap nihil.

Mencoba menelpon ayah dan ibu Joonmyeon – Kyungsoo, masuk ke voicemail. Menelpon ayah dan ibu Baekhyun juga. Apalagi, saat menelpon Chanyeol dan Baekhyun.

Kali ini apa lagi?

Jongin menghubungi semua teman-temannya, bahkan pihak kepolisian untuk membantu mereka yang sedari tadi tersesat – entah dimana. Namun, hasilnya nihil.

.

Joonmyeon mencoba untuk menggerakkan mobilnya. Tetapi, tidak ada respon apapun. Bahkan, deru mobil-pun tidak terdengar samasekali. Sial, mengapa mobilnya jadi berhenti pada saat seperti ini?

Jongin yang menyadari hal itu, berinisiatif untuk mencari letak kerusakan pada mobil dan saat dia ingin membuka pintu—

"JANGAN!"

—tersendat oleh jeritan Kyungsoo.

Tubuhnya berkeringat dingin dan tangannya gemetar. Bahkan, entah kapan, cairan bening turun dari matanya. Kyungsoo merasa pusing sekali saat ini dan dia tidak bisa melakukan apapun. Lebih-lebih, saat dia melihat Jongin ingin keluar dari mobil. Firasatnya buruk dan lebih baik mencegah Jongin untuk melakukan hal itu.

Jongin menurunkan tangannya. "Baiklah." Tangannya terjulur untuk meraih badan Kyungsoo yang lumayan panas dan memeluknya. Jongin sempat khawatir saat Kyungsoo terus-terusan menggumamkan kata pusing. Tapi, Jongin tidak ingin menambah kepanikan disini.

Mereka hanya bisa terdiam dalam keheningan yang mencekam.

Dan satu lagi kejanggalan dapat mengalahkan segalanya—

.

..

"OH TIDAK! MOBILNYA BERJALAN SENDIRI!" jeritan kalap dari Joonmyeon membuat Yixing, Kyungsoo, dan Jongin terkejut. Jantung mereka berdetak cepat dan terus menjerit ketakutan.

"Joonmyeon cepat rem mobilnya!" pekik Yixing yang menatap jalanan dengan ngeri. Berkelok-kelok dengan tawa seseorang yang entah siapa mengalun penuh misteri. "Aku sudah menghentikannya! Mobil ini tidak mau berhenti, astaga!" Joonmyeon panik. Dia tidak menyentuh setir mobilnya samasekali. Bahkan, berkali-kali dirinya menginjak rem, nihil.

'Tidak! Apakah akan ada permainan lagi?' batin Kyungsoo ketakutan.

"Bagaimana ini?!" seru Joonmyeon dan tetap berusaha untuk menginjak rem itu berkali-kali. Tetap tidak ada hasil apapun. Semua hal yang mereka lakukan tetap sia-sia. Bahkan, Jongin menyarankan agar mereka melompat saja. Dan tetap sia-sia. Pintu terkunci total begitupula dengan jendela.

.

.

"TIDAAAAK!"

Yixing menjerit sekeras-kerasnya saat ia melihat jurang beratus-ratus meter didepan mereka. Ya, mobil itu sengaja mengarah kesana. Kyungsoo sudah menangis dan didekap oleh Jongin yang sudah—ah, entahlah. Pasrah.

Kyungsoo sempat melihat sekilas kebelakang.

Ada Yeri yang tengah berusaha menghentikan pergerakan mobil tersebut dengan menangis kencang. Tetapi, ada yang menahannya dari belakang dan Yeri hanya bisa berteriak 'Maafkan aku, Kyungsoo! Aku mohon maafkan aku!'.

Kyungsoo memejamkan matanya takut dan melihat jurang yang semakin dekat. Aura dingin mencekam semakin menusuk kesetiap pori-pori kulit mereka. Desiran angin dan deburan ombak serasa bertabrakan menimbulkan suara yang asing. Burung gagak berkoak-koak seakan menandakan mereka akan lenyap sebentar lagi.

Namun, suara besar yang menggelegar terdengar seakan menjadi pengiring lenyapnya mereka.

.

.

.

"Selamat datang pada"

.

.

.

"jurang masa lalu kalian!"

.

.

"TIDAAAKKKK!"

.

.

.

BRAK!


TBC


(maybe) LONG A/N :

Halo! Maaf kalau Carl late update atau kalian kecewa sama chapter sebelumnya. Sebenarnya, ada beberapa faktor yang memengaruhi. Pertama, itu Carl benar-benar stuck karena banyak siders di FFN. Carl akui, Carl kecewa dan berniat ingin menghentikan fiksi ini. Bahkan, sempat ada yang membully Carl lewat sosmed. Itu membuat mood Carl jadi down sampai Carl enggak pede. Lalu, memori keformat (lagi) untuk yang kesekian kalinya.

Itu yang paling nyebelin -_-

Terus, Carl lagi ada masalah sama Nea. Inget dia 'kan? Dia udah berhari-hari enggak ketemu sama Carl. Gatau kenapa :( Dan syukurlah, dia udah enggak marah lagi. Walaupun, Carl enggak tahu dia marah karena apa.

Carl bener-bener minta maaf, ya. Carl gabisa bales review kalian satu persatu. Always enjoy ya ;) Mungkin, memang tulisan Carl enggak sebagus para author disini. Carl mah apa atuh. Hanya nyubi yang berusaha melakukan hal yang terbaik :'

Pokoknya, hanya kalian yang bisa menyelamatkan fiksi ini. Lanjut atau berhentinya fiksi ini tergantung pendapat kalian masing-masing. Carl hanya bisa menerima :')

Terimakasih banyak yang sudah memberikan Carl semangat, pendapat, saran, atau apapun yang membangun buat Carl. Jujur, Carl seneng banget akan hal itu. Mungkin, kalau Carl udah enggak stuck lagi, Carl bakal cepet-cepet update chapter 13 yang akan datang.

Btw, ada kalimat "...mereka sedang berada di dunia yang salah dan tempat yang salah. Misplaced. Tempat yang seharusnya mereka tidak ada disana dan sebenarnya bukanlah dunia mereka berada..."

Nah, itu Carl kutip dari novel Tersesat! Karya kak Hasya Nindita. Penerbit Dar! Mizan. Jadi, jangan ada yang salah paham ya Carl suka banget sama novel itu, wkwk.

Oke, kayaknya cukup deh. Terimakasih banyak untuk kalian semua, ya :') Carl terharu banget sama kalian yang sudah sudi capek-capek mengetik review untuk fiksi ini.

Always enjoy, ya!


Sign,

CarolineaKim

[Yogyakarta, 22 Januari 2016]