Kookie!

Manusia berubah, bersama berubahnya ruang dan waktu.

Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung.

Jimin baru saja datang dia membawa dua kantong kresek putih berisi beberapa makanan ringan dan minuman kaleng untuk Jungkook. Itu titipan dari Mamanya Jimin. Untuk keponakan kesayangannya katanya.

"Jungkook, vakum cleanernya masih di bagasi." Jimin masuk ke dalam, melepas sepatunya kasar lalu menyimpannya di rak sepatu dekat pintu.

Dua kantung kresek yang ia bawa jatuh begitu saja ketika ia melihat kondisi rumah Jungkook yang berantakan. Beberapa barang berserakan di lantai, guci milik Jungkook pecah, serpihanya bertebaran tidak karuan. Jimin berlari panik.

"Jungkook kamu di mana?" Ruangan yang Jimin tuju pertama kali adalah kamar. Hatinya remuk, Kalian tahu? Yang Jimin dapati adalah Jungkook duduk meringkuk di depan lemari dengan bahu bergetar dan deguk tangis menyakitkan yang keluar darinya. Semua barang-barang di sekitarnya rusak, pecah, berserakan dimana-mana. Pria itu segera menarik Jungkook dalam pelukkannya, belum sama sekali melihat bagaimana wajah Jungkook. Jimin menenggelamkannya dalam pelukan eratnya. Bahu bocah itu bergetar memilukan, tangannya meremas belakang kaos Jimin begitu erat. Menggumamkan nama Jimin berulang kali.

"Tenang oke, aku di sini."

Jimin mengusap punggung Jungkook berulang kali, menunggunya lebih tenang. Dirinya sedikit melonggarkan pelukkannya. Menatap wajah Jungkook yang lebam disana-sini. Sudut bibirnya robek dengan sedikit darah di sana. Jimin refleks memijit dahinya sendiri ngilu. "Astaga.. bagaimana ini." Pria itu segera menggendong Jungkook, memindahkannya ke atas ranjang, kebingungan sendiri bagaimana menenangkan Jungkook yang menangis ketakutan tidak berhenti.

Jimin mengambil ponsel. Berniat menghubungi Taehyung dulu sebelum merawat luka Jungkook dan membereskan kerusakan ini. Tapi tangan Jungkook mencegahnya, gelengan kecil dari Jungkook membuat Jimin tidak mengerti.

"Kenapa?" Tanya Jimin.

"Sakit Jim, seluruh tubuhku sakit sekali. Jangan melakukan apapun obati aku saja." Lalu menangis lagi. Jimin meneteskan air mata tidak sadar. Dia memegang erat bahu Jungkook. "Siapa yang melakukannya?" Jungkook hanya menggeleng.

...

Sebelumnya dia membereskan pecahan beling yang mungkin akan melukai keduanya. Setelah semua beres Jimin baru fokus pada Jungkook. Jimin mengobati luka-luka Jungkook dengan telaten.

"Maafkan aku. Harusnya aku datang lebih cepat." Ucap Jimin, ia mengambil salep, mengoleskannya pada tangan dan dahi Jungkook yang lebam. "Ayahmu kan? Apa dia mengambil sesuatu?" Tanya Jimin.

Jungkook menggeleng.

Jimin menghela nafas. Di tahu Jungkook bohong, atau memang dia sedang tidak bisa di ajak komunikasi. Entahlah. Tapi melihat kekacauan di rumah Jungkook, tidak mungkin pria brengsek itu datang hanya untuk memukuli Jungkook seperti ini. Pasti ada alasan lain. Mungkin dia mengambil sesuatu dari sini.

"Telfon Taehyung ya?" Jungkook menggeleng lagi. "Kenapa?"

"Aku sudah telfon, di reject." Mata Jimin membola, sedikit terkejut, karena tidak biasanya Taehyung begitu.

Jimin menyentuh ujung bibir Jungkook "lukanya lumayan dalam kook." Jimin tidak ahli dalam merawat orang sakit. Tidak tahu harus bagaimana, Jungkook menolak melakukan apapun termasuk ke rumah sakit. Ingin memaksa saja, menggendong paksanya mungkin. Tapi melihat tubuh Jungkook yang banyak luka, itu akan menyakitinya pikir Jimin.

Beberapa detik setelahnya handphone Jungkook berdering. Panggilan masuk dari Taehyung. Jimin menunggu barang kali Jungkook akan angkat, tapi bocah itu diam saja. Melamun. Jadi Jimin menyambar ponsel itu dan mengangkat telfon dari Taehyung.

"Halo."

"Jimin? Jungkook dimana? Dia tadi telfon tapi aku sedang meeting. Jadi aku matikan." Jimin juga tidak tahu mau menjawab apa. "Jimin-ah..."

"Sebaiknya kau pulang. Sekarang Tae."

Bohong kalau jantung Taehyung tidak berdentam-dentam. Jawaban Jimin tidak membantu sama sekali. Tidak menjawab apapun. Dengan bergegas Taehyung menyambar kunci mobilnya.

...

Taehyung bertambah panik. Beberapa barang tidak berada di posisinya. Melihat kaca di ruang tamu pecah membuat Taehyung berlari menuju kamar, panik dan khawatir.

"Jungkook."

Jungkook menoleh, memandang Taehyung yang baru saja masuk. Begitu juga Jimin.

"Ada apa ini? Kamu kenapa kookie?" Taehyung mendekat, bersimpuh di samping Jungkook yang terduduk diranjang. Taehyung menarik tangan Jungkook. Memperhatikan lebam di sana. Lalu memandang Jimin kemudian.

"Aku sudah telfon Tae-hyung tadi..." Air mata Jungkook jatuh lagi. "Tapi tidak hyung angkat. Aku takut. Tapi hyungie mematikan panggilan dariku." Tubuh itu bergetar ketakutan lagi. Taehyung mengambil alih Jungkook dari Jimin. Pria itu memeluk Jungkook begitu erat.

"Maafkan aku."

...

Jungkook terlelap. Beberapa waktu lalu dia sudah lebih tenang di pelukan Taehyung. Jimin lebih lega karena kehadiran Taehyung sangat membantu.

"Jim menginaplah, aku rasa aku akan membutuhkan bantuanmu." Jimin yang tengah duduk di sofa kamar Jungkook mengangguk. Taehyung melepas pelukkannya dari Jungkook pelan-pelan.

"Untuk sekarang aku butuh bantuanmu membereskan kekacauannya. Dan aku juga butuh sedikit penjelasan darimu." Kata Taehyung, setelah mendudukan dirinya di samping Jimin.

...

To be Continue...

Double update karena aku tidak tahan wkwk

Aku saja tidak suka melihat Jungkook tersiksa lama-lama.

Ingin cepat ku akhiri wkwk. Apanya? Hubungan vkook.

Tidak deng bercanda haha