ONLY MINE
.
.
Park Chanyeol adalah seorang CEO di Park Enterprise, ia juga seorang pimpinan mafia sangat kejam dan berhati dingin yang hanya menginginkan kekuasaan dan uang lebih. Ia sangat cerdik dan teliti dalam mengamati orang-orangnya, satu kali kesalahan dan kau pasti akan dipecat. Tapi semua berubah saat seorang laki-laki mungil berambut brunet tidak sengaja menubruk seorang Park Chanyeol. Setelahnya Chanyeol sadar kalau ia membutuhkan satu hal lagi dalam hidupnya— yakni Byun Baekhyun.
.
.
Original Story
By applepie12
www asianfanfics com/story/view/1126743/only-mine-angst-fluff-baekyeol-kaisoo-chanbaek-baekyeol00mafia
(ganti spasi dengan titik)
…
..
.
Part 11
WORST BIRTHDAY
(Ulang Tahun Terburuk)
.
.
.
Dua minggu berlalu, Chanyeol terus mengawasi dan juga mencium Baekhyun tiap harinya. Ia juga selalu membawakannya makanan walaupun di kamar itu ada sebuah kulkas yang berisi penuh makanan. Chanyeol terus mencoba untuk bicara dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama Baekhyun, walaupun si brunet sebagian besar selalu mengabaikan keberadaannya.
Tapi seiring berjalannya waktu, Chanyeol mulai merasakan kalau Baekhyun mulai bersikap hangat lagi padanya.
Baekhyun akan memeluknya dan mengawali kontak fisik keduanya, ini membuat Chanyeol sangat senang.
Chanyeol bekerja di ruangannya sambil melihat Baekhyun yang tengah berguling bosan di kasurnya lewat monitor cctv yang ia pasang disana. Saat ia selesai dan datang ke kamar itu, Baekhyun akan langsung menempelinya dan meminta digendong dipunggung seperti seorang anak kecil.
…
Semenjak Baekhyun mulai kembali menerimanya, ia lalu mengajak si brunet keluar dari labirin kamar rahasia itu untuk mempersiapkan pesta ulang tahun Chanyeol yang ke 21 esoknya.
Baekhyun memeluk erat Chanyeol saat mereka berdua pergi tidur, dan Chanyeol melonggarkan pengawasannya saat ia pun jatuh tertidur.
…
Tak lama, esok hari pun tiba dan sinar matahari masuk ke kamarnya. Ia tidak lagi merasakan pelukan di pinggangnya ataupun nafas halus yang menggelitik lehernya. Dengan perasaan yang berat, Chanyeol mulai meraba kasur di sampingnya, dan seperti yang ia duga, disana dingin dan kosong seperti yang ia rasakan dalam hatinya.
Sambil berdiri dari kasur dengan sempoyongan, Chanyeol berteriak dan mengerang keras merasa sangat kacau. Setelah ia sedikit menenangkan diri, di meja dekat ranjangnya, ia menemukan sebuah kertas putih yang dilipat rapi dengan tulisan emotikon senyum di atasnya.
Untuk Chanyeol,
Maaf. Kau bukanlah Chanyeol yang kukenal, tapi seberapa banyakpun kau berubah, aku akan selalu mencintaimu. Aku tidak pintar dalam mengungkapkan perasaanku dan aku juga tidak sepintar itu dalam hal lainnya, aku tau kalau keputusanku mungkin sangat buruk.
Kuharap kau tidak lagi menyakiti orang lain. Tak apa kalau kau tidak mencintaiku kemarin-kemarin, atau kau memang tidak pernah mancintaiku. Mungkin aku terlalu bodoh karena aku menyukai semua hal yang telah kau lakukan dan aku mencintaimu walau aku tidak sanggup mendeskripsikan perasaanku.
Aku janji, aku akan kembali tapi tidak yakin kapan waktu itu datang. Aku hanya perlu waktu untuk memahami semuanya dan aku tidak sanggup melakukannya ketika kau selalu berada di dekatku setiap hari.
Aku tau kalau aku berhutang nyawa padamu dan aku akan berusaha sangat keras untuk membayarnya. Kau juga tidak perlu menungguku, kalau kau sudah menemukan seseorang lain yang kau cintai. Kuharap kau selalu bahagia, dan aku tidak akan berhenti mencintaimu.
Maaf,
Dari orang paling bodoh di dunia ini.
Byun Baekhyun.
…
Tetes demi tetes air mata jatuh saat Chanyeol membaca surat itu, emosinya membuncah menyeruak dinding yang ia bangun dalam dirinya saat ia percaya kalau Baekhyun akan tetap berada di sisinya dan mencintainya.
"Aku tidak mau uangmu, bodoh." Chanyeol terisak sambil meremas kertas surat itu di dadanya, ia tidak ingin Baekhyun membayar kebaikannya dengan uang karena ia hanya menginginkan Baekhyun.
"Aku tidak menyakiti orang lain untuk sekedar bersenang-senang." Chanyeol bergumam pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Aku tidak bisa mencintai orang lain selain dirimu." Chanyeol tau kalau ia tidak akan menemukan orang lain, karena seberapa tidak sempurnanya dan kurangnya Baekhyun, ia berhasil menjadi satu-satunya kunci yang pas untuk membuka hati Chanyeol.
"Kau bukan hanya kesenangan semata untukku, tapi bagian penting dalam diriku." Chanyeol terisak saat ia mengingat ekspresi ketakutan Baekhyun.
"Bagaimana mungkin aku bisa bahagia saat separuh diriku hilang?" Chanyeol bertanya-tanya dan dengan pelan merebahkan dirinya ke kasur.
Hanya ada satu hal di pikiran Chanyeol—menemukan Baekhyun.
Tidak peduli apa yang dikatakan oleh Baekhyun ataupun kalau si brunet menolaknya nanti, Chanyeol membutuhkan si brunet di sisinya, seumur hidupnya. Chanyeol tidak ingin menunggu—ia tidak ingin Baekhyun pergi—ia tidak ingin Baekhyun membencinya.
Di hari ulang tahunnya, Chanyeol tertawa pahit dan bergumam,
"Jadi, innilah kado ulang tahunku? Kau meninggalkanku disini sendiri?"
…
Chanyeol tidak pernah merayakan ulang tahunnya karena menurutnya ini sungguh kekanakan dan membuang-buang waktu. Tapi tahun ini, ia menyiapkan semuanya dan merencanakan hari itu untuk dirayakan bersama si brunet yang telah menginvasi kehidupannya semenjak ia bertemu dengannya.
Dengan lemas Chanyeol berjalan turun ke lantai bawah menuju ke dapur. Dengan helaan nafas berat ia membuka lemari es dan mengambil sebuah kotak putih keluar dari sana. Ia dengan pelan membawa kotak itu ke meja konter dapur dan membukanya.
Disana nampak sebuah kue ulangtahun putih yang didesain sangat cantik, dengan hiasan putaran angin diatasnya dan sisi bawahnya terdapat hiasan dengan potongan-potongan buah yang sangat sesuai dengan desain atasnya. Di tengah kue terdapat hiasan dari susu cokelat yang bertulisan 'Happy birthday, with Channie and Baekkie!' yang tercetak indah disana.
Di kue itu juga ada dua sosok yang satu lebih pendek dan mereka bergandengan tangan. Ini harusnya menjadi acara kejutan untuk Baekhyun dan mereka bisa merayakan ulang tahun seperti yang Chanyeol harapkan. Ia dengan pelan mengambil lilin berwarna dan meletakkannya di sekitar kue itu. Dengan pematik apinya, Chanyeol menyalakan lilin itu satu persatu sambil menggumamkan harapan agar Baekhyun kembali.
Sambil terkekeh sedih, Chanyeol berucap,
"Aku seharusnya mengeluarkan kue ini dan kau melompat sangat senang saat melihatnya. Kemudian aku akan menggodamu dengan mencorengkan krim kue ini ke hidungmu."
Setetes air mata jatuh saat ia melanjutkan perkataannya,
"A…aku akan mencium hidungmu dengan sangat lembut saat kau mengatakan kata 'bodoh' padaku. Kita akan meletakkan lilin-lilin ini bersama dan aku akan berdoa agar kita selalu hidup bersama dan bahagia selamanya."
"La…lalu kita akan me…meniup lilin-lilinnya dan a…aku akan menciummu untuk hadiah ulang tahunku." Chanyeol berkata dengan suara yang pecah karena hatinya sungguh sakit saat mengatakan semua hal itu.
"Kurasa, aku tidak seharusnya mendapatkan akhir yang bahagia, karena semua hal yang aku lakukan hanyalah menyakiti orang lain—termasuk dirimu." Chanyeol menghela nafas dalam.
Hari itu Chanyeol memakan kue ulang tahunnya dengan pelan saat lilin-lilin itu mulai meleleh terbakar. Kue itu tidak terasa manis seperti saat ia mencobanya di toko sebelumnya, dan mataharipun tidak sehangat sebelumnya. Mansion itu terasa begitu luas dan sepi untuk dirinya seorang.
Hal yang ditinggalkan Baekhyun hanyalah catatan sticky notes dan gambar-gambar yang ia lukis di hari itu, yang masih menempel di setiap pojok dan sudut ruangan di mansion itu.
Sambil menggigit bibirnya, Chanyeol mengunci pintu mansionnya dan mengendarai salah satu mobilnya untuk meninggalkan mansionnya. Ia berjanji kalau ia tidak akan kembali kesana kecuali Baekhyun kembali padanya, karena semua yang ada disana mengingatkannya tentang Baekhyun.
.
.
.
Author's Pov
Di sebuah kamar besar dengan furnitur-furnitur mewah di setiap sudut ruangan, terbaring seorang laki-laki di kasur utama kamar itu. Tempat ini seharusnya adalah kamar yang digunakan oleh pasangan untuk menghabiskan waktu bulan madu mereka, atau pasangan yang sudah menikah untuk menikmati waktu berdua mereka. Tapi tidak untuk laki-laki ini.
Tak ada tawa atau kesenangan yang terdengar darinya, hanya ada helaan nafas dari si laki-laki kuat ini. Ia selalu percaya kalau di dunia ini tidak akan pernah ada satu hal kecilpun yang akan membuatnya tergoda, tapi sekarang ia menertawakan dirinya sendiri. Baekhyun… Byun Baekhyun, si brunet mungil yang membuatnya bingung dan terlebih lagi… hatinya sakit, tubuhnya sakit, semuanya terasa hancur.
Ini adalah waktu paling lama bagi Chanyeol dalam meratapi kehancuran hatinya dan juga mengabaikan semua hal di sekitarnya.
Orang bawahannya merasa sangat terkejut saat CEO mereka mulai mengabaikan pekerjaannya dan 'orang bawahannya' yang lain juga merasa khawatir sambil menunggu perintah dari bos mereka.
Ia berbaring di kasur yang terbalut seprai putih dan juga selimut di ruangan hotel itu sambil menatap kosong atap kamar itu. Terasa bersih dan polos, begitulah hubungan mereka pada awalnya, sungguh cantik.
Chanyeol memikirkan saat Baekhyun melakukan aegyo hanya untuk membujuknya membuatkan si brunet makanan yang ia inginkan.
Ia merasa sangat lemah saat ini, mungkin kalau saja ada orang yang datang dan mendorongnya, ia akan langsung hancur berkeping-keping. Ia tidak pernah percaya dengan cinta atau orang yang ditakdirkan untuknya.
Tapi saat ini, di kamar sepinya, Chanyeol mulai memikirkan semua hal. Ia memikirkan saat sebelum Baekhyun datang dan bagaimana Baekhyun membuatnya melakukan hal yang bertentangan pada prinsipnya.
Baekhyun membuatnya utuh. Baekhyun membuatnya percaya akan cinta. Baekhyun merubahnya. Baekhyun membuatnya merasa bingung dan mulai menanyai arti kehidupan. Baekhyun mengalihkan dunianya, sampai-sampai ia membutuhkan si brunet ada untuknya saat ini, kalau ia tidak ingin menjadi gila.
…
Baekhyun terus saja datang di pikirannya, dan ini mulai menghancurkan dirinya sedikit demi sedikit. Tawanya yang lucu, tangannya yang menggoda, tatapan matanya yang lembut, mata puppy'nya, hidungnya yang mungil, pikirannya yang polos, sikapnya yang keras kepala, aegyo'nya yang menggoda, dan semua tentang Byun Baekhyun.
Chanyeol meremas seprai kasur sampai membuatnya kusut, ia merasa sangat kesal dengan semua yang ada di kamar hotel itu. Ia tidak tau kenapa, ia merusak TV disana dengan melemparkan remotnya dengan keras ke layar TV, ia lalu membalik meja disana sampai membuat semuanya tercecer di lantai. Ia melemparkan bantal ke manapun dan menggeram marah juga kesal. Ruangan itu menjadi sangat kacau dan ia sama sekali tidak peduli, ia hanya menikmati kekacauan yang ia buat.
Dengan lemas ia lalu berjalan ke kamar mandi dan mengisi bak mandi dengan air. Ia masuk ke dalamnya dengan masih menggunakan setelan lengkap. Semua terasa kosong dan hancur, dan tanpa Baekhyun semuanya terasa makin gelap dari dunia hitam yang ia jalani sebelumnya.
…
Ia merasakan seolah seperti berada di masa kecilnya lagi—kesepian, gelap, dan menyaksikan hal-hal yang harusnya tidak diketahui oleh anak-anak. Baekhyun tidak hanya membawanya ke hidup yang lebih berwarna, tapi ia juga menunjukkan padanya arti kebahagiaan sebenarnya. Baekhyun mampu membayar masa kecilnya dimana ia tidak bisa merasakan kesenangan, tawa, dan kehangatan. Yang ia rasakan saat itu hanyalah balas dendam, kematian, dan benci yang memenuhi hatinya.
Baekhyun sangat polos, ia memberi Chanyeol perasaan yang membawa dirinya merasakan bagaimana masa kecil seharusnya ia lalui. Dan semua hal yang ia inginkan saat ini hanyalah—Baekhyun kembali. Ia tidak menginginkan tantangan, seperti kesenangan satu malam yang pernah ia lakukan—ia hanya ingin hubungan yang normal dan berkelanjutan bersama Baekhyun, walaupun itu terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.
Chanyeol tidak pernah merasa sangat terkhianati seperti ini dalam hidupnya, tapi ia tau kalau ia pantas merasakannya karena ia telah menyembunyikan banyak hal dari Baekhyun. Walaupun ia menyesalinya, dan membuatnya marah pada awalnya, ia tidak mampu membenci si brunet, karena semua hal yang ia punya adalah—cinta untuk Baekhyun.
.
.
Ia mematikan air di bak dan menenggelamkan tubuhnya dalam bak sebentar, sebelum menarik tubuhnya keluar lagi. Chanyeol merasa seperti seorang yang tidak berguna saat ini, karena ia hanya mengkhawatirkan tentang cinta. Cinta… Chanyeol merinding mengingat satu kata itu.
Jika ada seseorang yang menjelaskan tentang cinta padanya sebulan yang lalu… Chanyeol mungkin akan menertawakan hal itu sebelum membantahnya. Memanipulasi dan menghancurkan pemikiran mereka tentang cinta, tapi sekarang—cinta. Chanyeol rasa itu adalah satu hal yang paling berharga dalam hidupnya.
Sambil menyandarkan kembail tubuhnya, beberapa ingatan bahagia berputar dalam otaknya.
Baekhyun meminta digendong di punggung seperti bocah. Baekhyun melakukan aegyo untuk makanan. Baekhyun akan memeluknya saat ia melakukan hal yang baik. Baekhyun akan melakukan ini dan itu.
…
Sadar kalau duduk disana sambil menangisi seseorang sungguh tak ada gunanya, Chanyeol lalu memutuskan untuk mendapatkan uang lebih dan memperluas kekuasaan mafianya. Itu adalah cara yang jitu untuk bisa menemukan Baekhyun, bahkan kalau-kalau si brunet berada di luar negeri.
Chanyeol lalu keluar dari bak mandi saat air dingin itu mulai menusuk tulang dan kulitnya, yang sebenarnya tidak ia hiraukan sama sekali sejak tadi.
Ia melangkah malas membawa dirinya keluar dari kamar mandi dan masuk ke kamarnya yang hancur yang nampaknya lebih kacau dari sebelumnya.
Ia tidak pernah tau kalau ia akan menjadi seperti ini—si Park Chanyeol yang hancur hanya karena seorang brunet mungil.
Ia tertawa pahit lagi, semua ini sungguh sangat lucu baginy. Ia terkenal dengan topengnya dan tidak mampu didekati oleh siapapun, kekejamannnya, sikap dinginnya, kekasarannya, hatinya yang tak berperasaan…
Semua hal yang telah ia bangun sebelumnya mulai hancur sedikit-demi sedikit sampai semuanya hancur berkeping. Chanyeol tidak tau apa, mengapa, ataupun bagaimana Baekhyun membuatnya jatuh berkeping dan mengambil hatinya begitu saja.
Ia tidak paham bagaimana Baekhyun mampu merasuk kedalam hatinya dan menghancurkan semua prinsip yang ia pegang teguh. Ia menjadi terlalu lembut dan patuh, ia merasa kalau dirinya berubah sangat jauh.
Ia tidak paham apa, mengapa, ataupun bagaimana Baekhyun berubah menjadi magnet yang membuatnya tertarik pada si brunet.
Baekhyun mempoutkan bibirnya saat tertidur. Ia akan memandang Chanyeol dengan ekspresi kelaparannya saat Chanyeol membuatkan makanan untuknya. Ekspresi jijiknya saat ia kalah taruhan ataupun saat memakan mentimun. Tingkahnya yang selalu menempel pada orang lain saat ia mabuk. Dan tentunya ekspresi marahnya yang langsung bisa berubah menjadi seperti seekor puppy hiperaktif saat ia mendapatkan apa yang diinginkannya.
Tatapan matanya—membuatnya lemah saat ia menampilkan tatapan cerah dan polosnya.
Bibirnya—membuatnya blank saat Chanyeol menatapnya selama berjam-jam dan tidak pernah merasa bosan untuk menciuminya bahkan sampai mereka memerah dan bengkak.
Tubuh mungilnya—membuatnya ingin melindunginya dengan apapun yang ia punya dan mencintainya selamanya.
Tangannya—membuatnya ingin menggenggam dan menautkan jari-jarinya dengan si mungil dan tidak akan pernah ingin melepasnya.
Rambut lembutnya—membuatnya kecanduan untuk mencium aromanya dan menyisir dengan jarinya setiap hari.
Tapi sekarang semua itu telah pergi dan Baekhyun tidak ada disisinya lagi, Chanyeol tidak pernah merasa sangat kesepian seperti saat ini dalam hidupnya. Ia menatap pistol yang ia simpan di mantelnya. Perlahan ia mengusap pistol itu dengan jarinya, sebelum ia….
To Be Continued….
.
.
.
.
T/N
Hello Dear….
Siapa si yang ngiris bawang merah? Mata aku pedes nih...
Lap ingus dulu yang tadi nangis… HIKS! aku nangis ngetik chapter ini. Dari tadi pagi moodku lagi buruk banget akhirnya tumpah pas nyelesaiin part ini.
AKU SUKAAA BANGET DESKRIPSI SI AUTHOR ASLI DI CHAPTER INI guys! Kalian gimana?
Thanks for reading, jangan lupa RnR ya. See u in the next parts….
#lovesign
