Hai~hai~ ketemu lagi sama saiia di fanfic ini, minna-san~!

Yak! Langsung saja~

Ini dia chapter 12! Selamat menikmati~!


The Truth About Forever

~*Kebencian Membuatmu Kesepian*~


Summary:

Seberapa berharga, sih, satu detik itu? Tik. Sebentar saja dia langsung berlalu.

Tik. Satu detik pergi lagi.

Tak ada harganya.

Tapi tunggu sampai kau sadar waktumu hampir habis. Tik.

Kau ingat selama ini jarang beramal. Tik.

Kau teringat mimpi-mimpi yang tak sempat kau wujudkan. Tik.

Kau sadar tak cukup menyayangi keluarga dan teman-temanmu.

Tik. Tik. Tik.

Kau panik, takut menyia-nyiakan lebih banyak waktu lagi.

Toushiro merasa demikian ketika divonis tak akan berumur panjang. Tapi bukannya memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik-baiknya, dia malah diam-diam pergi ke Karakura. Kedatangannya ke sana tak lain untuk balas dendam kepada orang yang dianggapnya bertanggung jawab atas semua ini. Bahkan kalau perlu mati bersama.

Saat itulah cinta datang. Memberi pengharapan, membuatnya merasakan sedikit kebahagiaan di dalam kelam hidupnya. Dan sekarang, keputusan ada di tangan Toushiro. Manakah yang akan dipilih Toushiro? Karena cinta dan benci tak akan pernah akur.

Main Pair: HitsuRuki

Genre: Angst/Romance

Rate: T

Warning: AU; OOC, soalnya banyak chara yang saling tangis-menangisi(?); miss typo bertebaran di mana-mana; cuma cerita dari sebuah novel yang menurut saiia bagus, jadi saiia cuma ingin kalian baca cerita ini, buat yang udah pernah baca, nggak baca fic ini nggak apa-apa kok, tapi kalo emang mau baca, silakan...

Disclaimer:

BLEACH © Kubo Tite

THE TRUTH ABOUT FOREVER © Orizuka

Saiia? Cuma mempublikasikan kok! TT_TT

Enjoy, please!

RnR!


Chapter #12

THERE IS STILL TOMORROW


Toushiro baru saja berkeliaran di kampus Teknik Universitas Karakura. Setelah berbagai kejadian kemarin, Toushiro kembali bernapsu untuk menemukan Kusaka. Kusaka-lah yang harus bertanggung jawab di balik semua penderitaan yang dialami Toushiro.

Toushiro pulang tanpa membawa hasil. Dia menaiki tangga sambil mematikan iPod-nya, tanpa melihat Rukia yang menatapnya terkejut dari depan kamarnya. Toushiro baru sadar saat dia melihat sepasang kaki di depannya. Toushiro mendongak, lalu menatap Rukia kaget.

"Lo bukannya...." Toushiro mendadak terdiam. Dia tidak akan membuka percakapan apa pun lagi dengan Rukia. Dulu, semua adalah kesalahannya. Dia sudah membiarkan dirinya terlibat terlalu jauh dengan Rukia. Sekarang, Toushiro memastikan hal itu tidak akan terjadi lagi. Lalu, Toushiro kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya.

"Toushiro, tunggu!" sahut Rukia sambil menghalanginya. Toushiro menatap cewek itu, dan mendadak Toushiro menyadari bahwa sudah terlalu lama dia tidak melihat mata violet Rukia. Toushiro segera mengalihkan pandangannya.

"Apa?" tanya Toushiro, berusaha supaya terdengar tidak peduli.

"Apa? Apa?!" tanya Rukia tak percaya sambil mengulang ucapan Toushiro sebelumnya. "Bukannya 'apa'! Kamu harusnya minta maaf sama aku!"

"Hah?" seru Toushiro.

"Kamu harusnya minta maaf setelah semua yang kamu lakuin selama ini! Dasar pembohong," ujar Rukia, tetapi tak sedikit pun terlihat marah. Toushiro yakin, Momo pasti sudah mengatakan yang tidak-tidak pada Rukia.

Rukia sekarang melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap Toushiro seolah menunggu permintaan maafnya. Toushiro menghela napas. Pola ini terulang lagi, tetapi kali ini Toushiro tidak akan mau kalah.

"Denger, ya, apa pun yang Hinamori bilang sama lo...."

"Aku lebih percaya sama Momo," balas Rukia, memotong perkataan Toushiro, membuat cowok berambut putih itu terdiam. "Kamu selalu bohong, jadi aku udah nggak percaya lagi sama kamu."

"Lo... bisa nggak, sih, biarin gue sendiri?" sahut Toushiro geram.

"Apa? Kamu mau ngomong sesuatu yang kejam lagi?" tantang Rukia, sama sekali tidak terlihat takut. Toushiro menatapnya tajam, dan dia meninju pintu di depannya, tepat di samping wajah Rukia. Rukia balas menatap Toushiro berani, dia yakin, sekejam-kejamnya Toushiro terhadapnya, cowok bermata emerald itu tak akan sampai tega memukulnya.

"Apa Hinamori udah bilang kalo gue sebenernya takut kehilangan lo?" tanya Toushiro. "Karena kalo iya, berarti lo kegeeran banget. Sama sekali nggak pernah terlintas di pikiran gue...."

"Aku udah nggak peduli lagi sama semua kebohongan kamu," potong Rukia membuat Toushiro melotot. "Mau kamu bilang aku ini cewek yang sok pengen jadi malaikat dengan ikut campur urusan orang lain, aku bukan tipe kamu, kamu nggak suka aku, kamu benci aku, aku nggak peduli."

Toushiro menatap Rukia bingung.

"Toushiro, aku udah denger semuanya dari Momo, dan aku sekarang tau apa penyebab kamu punya penyakit ini," ujar Rukia lembut, mata violet-nya menatap mata emerald Toushiro dalam-dalam. "Aku sekarang tau kalau bukan salah kamu bisa dapat penyakit itu. Sebenernya, alasan apa pun nggak penting, karena aku nggak akan menjauhi kamu cuma karena kamu punya penyakit itu."

"Berhenti ngomong sesuatu yang manis-manis," potong Toushiro geram. "Lo dulu sempat ragu, kan?"

"Emang bener aku sempat ragu, tapi aku nyesel. Harusnya aku nggak pernah ragu. Waktu itu—aku akui—aku emang takut. Tapi, setelah itu, aku benci diriku yang penakut seperti itu. Waktu itu, aku pikir, kalo aku takut, aku nggak akan pantas buat kamu," kata Rukia lagi. "Tapi, Toushiro, sekarang aku nggak akan pernah takut lagi. Aku tau kayak apa kamu mungkin berubah beberapa tahun lagi, tapi, Toushiro, aku nggak pernah punya perasaan sekuat ini sama siapa pun selain kamu. Kamu berubah jadi apa juga nggak akan mungkin bikin aku mundur."

"Lo nggak akan pernah tau apa yang bakal terjadi di masa depan," ujar Toushiro dengan suara gemetar. Rukia tersenyum.

"Kamu juga nggak tau, kan?" Ucapan Rukia membuat mata emerald Toushiro melebar sempurna. "Jadi, kenapa kita nggak coba ambil risiko itu?"

Toushiro ingin sekali merengkuh gadis di depannya ini. Setitik air matanya menetes. Rukia mengelap air mata itu dan memegang pipi Toushiro lembut. Toushiro bahkan tidak menghindar.

"Gue cuma punya waktu lima tahun," kata Toushiro membuat Rukia tersenyum lagi.

"Jadi, ayo kita pergunakan waktu itu sebaik-baiknya," jawab Rukia membuat setitik lagi air mata jatuh dari mata indah Toushiro. "Kalo kamu tau kamu cuma punya waktu lima tahun, ayo kita buat kenangan sebanyak-banyaknya dalam kurun waktu itu."

"Lo... rela ngorbanin lima tahun hidup lo buat gue?" tanya Toushiro lagi.

"Aku nggak mau bilang aku rela ngorbanin lima tahun hidupku untuk kamu," kata Rukia. "Karena aku nggak mau cuma lima tahun bareng kamu. Aku mau selamanya bareng kamu."

Toushiro menatap Rukia dalam-dalam, mencari kebenaran dalam mata violet-nya.

"Rukia.... Boleh gue percaya omongan lo sekarang?" tanya Toushiro membuat air mata Rukia juga mulai menetes. Rukia mengangguk, membelai pipi Toushiro yang sudah basah oleh air mata. Rukia lalu memeluk Toushiro. Awalnya Toushiro hanya membatu, menyangka dirinya sedang berada di alam mimpi. Namun, wangi lavender rambut Rukia menyadarkannya, bahwa saat ini dia benar-benar hidup dalam dunia nyata. Toushiro mengangkat tangannya ragu, dia lalu menyentuh punggung Rukia yang terasa hangat. Semuanya terasa begitu nyata.

Toushiro mempererat pelukannya pada Rukia. Toushiro tidak ingat kapan dia pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Kali ini, dia tidak akan melepaskan Rukia lagi. Tidak akan pernah lagi.


Toushiro membuka mata emerald-nya dan seberkas cahaya menelusup melewati jendela kamarnya. Toushiro mengerjap-ngerjapkan matanya, dan setelah semua nyawanya terkumpul, dia berusaha mengingat kejadian semalam.

Semalam, dia bermimpi telah memeluk Rukia. Dia bermimpi bahwa Rukia mengatakan akan selalu bersamanya. Toushiro mengangkat tangannya dan menatap tangan itu. Tangan yang sudah menyerah pada seorang gadis bernama Kuchiki Rukia.

Mendadak Toushiro sadar, kalau kejadian semalam bukanlah mimpi. Wangi tubuh Rukia ada di mana-mana di kamar ini. Semalam, setelah Toushiro memeluk Rukia, emosinya begitu meledak-ledak sampai-sampai dia tak ingin melepaskan Rukia dari dekapannya. Toushiro terus memeluk Rukia sampai Rukia jatuh tertidur.

Toushiro terbangun dengan tersentak, dia melihat sekelilingnya. Rukia sudah tidak ada. Toushiro segera bangkit dan membuka pintu kamarnya. Dia sekarang berdiri di depan kamar Rukia dan menatap pintu kamar Rukia ragu.

Toushiro menjambak-jambak rambut putihnya sendiri. Harusnya semalam dia bisa lebih menahan diri. Harusnya dia bisa melepaskan Rukia dan membiarkan Rukia tidur di kamarnya sendiri. Toushiro benar-benar takut Rukia sudah menganggapnya yang tidak-tidak. Rukia pasti sangat terkejut saat melihat Toushiro di sampingnya saat bangun, sehingga langsung kabur dan tidak mau melihat Toushiro lagi.

Toushiro masih saja menjambak-jambak rambut putihnya frustasi saat dia mendengar suara pintu di tingkap atas. Toushiro menatap pintu itu penasaran. Mungkin saja Rukia ada di atas.

Toushiro segera naik ke lantai tiga dan Rukia ada di sana, sedang bersandar pada pagar pembatas, menatap bangunan-bangunan di depannya. Toushiro menghela napas lega karena setidaknya Rukia masih berada di kost ini.

Tiba-tiba Rukia menoleh, dan tersenyum pada Toushiro yang segera salah tingkah. Toushiro lalu menghampiri Rukia ragu-ragu.

"Ng...," gumam Toushiro tak jelas. "Sori, semalem gue...."

"Nggak apa-apa," kata Rukia sambil tersenyum. "Semalem aku kebangun, terus kamu udah ketiduran. Jadi, aku selimutin kamu terus pindah ke kamar."

Toushiro mengangguk-angguk, benar-benar lega karena Rukia tidak berpikiran yang aneh-aneh tentangnya. Toushiro kemudian ikut bersandar di sebelah Rukia. Sebenarnya, Toushiro masih ingin memeluk Rukia, tapi keinginan itu ditahannya.

"Kok, diem?" tanya Rukia membuat Toushiro menoleh. Rukia tertawa kecil. "Toushiro, aku belum dengar dari kamu, lho, kalo kamu suka sama aku...."

Toushiro menatap Rukia tak percaya, membuat Rukia terbahak.

"Nggak usah bilang juga udah tau, kan?" ucap Toushiro tanpa melihat Rukia. Rukia berhenti tertawa, lalu ikut menatap pemandangan di depannya.

"Sampai saat ini, aku masih belum percaya kalau kamu akhirnya mau percaya sama aku," kata Rukia membuat Toushiro menatapnya. "Aku seneng banget sampai rasanya pengen nangis."

Rukia tidak bisa mengatakan kalau semalam saat dia terbangun dan mendapati Toushiro ada di sampingnya, dia menangis lagi. Rukia benar-benar senang karena Toushiro sudah bisa memercayainya.

Rukia menggigit bibirnya, mau menangis lagi. Toushiro menepuk kepalanya dan mengacak rambutnya.

"Harusnya gue yang ngomong begitu," ujar Toushiro membuat Rukia benar-benar menangis. "Hus. Jangan nangis terus, ah! Dasar cengeng."

"Biarin cengeng juga!" sahut Rukia sambil terisak. Toushiro tersenyum simpul.

Mereka terdiam sesaat sampai akhirnya Toushiro berbaring di lantai dengan kedua tangan terlipat di belakang kepalanya. Rukia ikut duduk di sebelahnya. Sejenak mereka menikmati angin berembus sepoi.

Rukia melirik Toushiro yang sudah terpejam. Rukia memeluk lututnya.

"Ng... Toushiro?" tanya Rukia pelan.

"Hm?"

"Ng.... Aku boleh tanya sesuatu, nggak?"

Toushiro membuka matanya, menatap awan putih yang berarak menghiasi langit. Dia tahu, cepat atau lambat Rukia pasti akan bertanya soal masa lalunya.

"Boleh aja," kata Toushiro akhirnya.

"Hm.... Apa bener cita-cita kamu jadi sutradara?" tanya Rukia hati-hati. Toushiro terdiam sesaat. "Kata Momo, dulu pas SMA kamu pengen jadi sutradara."

"Bener," jawab Toushiro setelah terdiam beberapa saat. Dia duduk dan mengorek saku celananya, mengeluarkan rokok. Rukia dengan segera merampas rokok itu dan membuangnya. Toushiro menatapnya sebentar, dan menghela napas. "Tapi, sekarang udah nggak ada gunanya lagi, kan, ngomongin itu?"

Rukia menatap Toushiro bingung. "Kenapa?" tanyanya. Toushiro balas menatapnya.

"Kenapa? Ya udah jelas, kan? Mana bisa gue jadi sutradara," kata Toushiro lagi.

"Kenapa nggak bisa?" tanya Rukia lagi membuat Toushiro sekarang benar-benar memusatkan perhatian padanya.

"Denger, ya," ujar Toushiro setengah geli. "Orang kayak gue ini udah nggak punya masa depan. Nggak mungkin gue bisa jadi sutradara."

Mata violet Rukia membesar saat Toushiro mengatakan itu.

"Toushiro, aku pikir kamu nggak akan menyerah." Ucapan Rukia sukses membuat Toushiro mendengus.

"Emangnya gue pernah ngomong begitu?" katanya, dan Rukia sadar kalau Toushiro memang tak pernah mengatakannya.

"Toushiro, kamu jangan nyerah gitu, dong. Kamu pasti bisa jadi apa pun yang kamu mau kalo kamu nggak nyerah!" ujar Rukia. Toushiro menatapnya kesal.

"Jangan ngasih gue ceramah lagi, deh," katanya, membuat Rukia terkejut. Toushiro menghela napas. "Gue emang berterima kasih karena lo udah mau nerima keadaan gue, tapi bukan berarti lo bisa nyeramahin gue."

Rukia menatap Toushiro tak percaya. Toushiro menolak untuk menatapnya balik.

"Toushiro, aku tau kamu emang sakit. Tapi, apa sekarang kamu lumpuh? Apa sekarang kamu cacat? Nggak, kan?" seru Rukia membuat Toushiro kaget. "Kamu masih bisa jadi apa pun yang kamu mau!"

"Kalo sekarang gue berusaha pun belum tentu ntar gue bisa jadi sutradara!" sahut Toushiro balik.

"Tapi itu lebih baik daripada kamu nggak ngelakuin apa pun!" sahut Rukia lagi. "Setidaknya kamu udah berusaha, itu yang penting!"

Toushiro terdiam mendengar kata-kata Rukia. Rukia menghela napas.

"Toushiro, orang yang udah tau bakal mati dan hanya diam menerima nasib itu orang yang paling menyedihkan," lanjut Rukia, volume suaranya sudah sedikit turun. "Semua orang tau kalau mereka mungkin aja mati besok, tapi nggak ada satu orang pun yang cuma diam menunggu kematian menjemputnya."

"Tapi, nggak semua orang tau kapan tepatnya mereka mati, nggak kayak gue," kata Toushiro miris. "Gue cuma diprediksi bisa hidup lima tahun lagi, dan setiap inget itu, gue jadi hilang semangat."

"Kalo bener kamu cuma hidup lima tahun lagi, berarti kamu harus bisa menghargai setiap harinya." Ucapan Rukia membuat Toushiro menatapnya. "Bahkan, setiap detiknya. Karena cuma tinggal lima tahun, makanya jangan biarkan sedetik pun berjalan begitu aja."

"Toushiro," kata Rukia sambil tersenyum pada Toushiro. "Kalo kamu, aku yakin pasti bisa. Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa jadi sutradara. Kamu cuma harus berusaha, jangan pernah menyerah sama keadaan kamu. Itu aja."

Toushiro berhenti menatap Rukia, dia kini beralih menatap awan. Sudah begitu lama Toushiro tidak memikirkan cita-citanya. Toushiro selalu menganggap cita-cita itu bagian dari masa lalu yang tak akan pernah diungkitnya lagi. Namun, sekarang, seorang gadis bernama Kuchiki Rukia telah membuatnya kembali menginginkan cita-cita itu. Rukia mengatakan hal-hal yang tadinya dirasa tidak mungkin menjadi mungkin.

Dulu, Toushiro menyerah untuk masuk sekolah perfilman karena terlalu takut. Takut kalau ada yang mengetahui penyakitnya dan menjauhinya. Takut kalau sebelum sempat memulai dia sudah akan mati.

Sekarang, mendengarkan Rukia, Toushiro mulai menyadari kalau hidupnya yang tinggal sedikit ini tidak oleh disia-siakan.

Rukia melirik Toushiro yang tampak sedang berpikir keras. Rukia benar-benar menginginkan Toushiro untuk kembali bersemangat dan melupakan dendamnya pada Kusaka. Rukia tidak ingin melihat Toushiro lebih menderita lagi.

"Toushiro," ujar Rukia pelan. "Tolong, janji satu hal sama aku."

Toushiro menatap Rukia. Rukia menggigit bibir bagian bawahnya ragu.

"Lupain soal... Kusaka," kata Rukia lirih membuat mata emerald Toushiro melebar. Toushiro terdiam sebentar, dan kemudian mendengus.

"Lo nyuruh gue lupain baji**an itu?" tanya Toushiro, tiba-tiba kembali menjadi Hitsugaya Toushiro yang dingin. "Lo bercanda, kan?"

"Toushiro, kalo kamu masih nyari dia, kamu nggak akan bisa nerusin cita-cita kamu! Kamu ngerti, kan, akibatnya kalo membunuh dia? Kamu bakalan menghabiskan sisa hidup kamu di penjara!" seru Rukia. "Kamu mau seperti itu?"

Tangan Toushiro terkepal keras, bahkan sampai bergetar. Toushiro bukannya tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Memang dulu Toushiro tidak peduli kalau dia sampai dipenjara atau mati sekalipun, karena tidak ada yang peduli padanya. Namun, sekarang berbeda. Sekarang, ada yang peduli padanya. Seorang gadis dengan wajah khawatir yang sedang duduk di sebelahnya.

"Toushiro, aku udah janji mau nemenin kamu, kan? Terus apa gunanya kalo kamu malah ada di penjara?" kata Rukia lagi. Dia memegang pipi Toushiro dan memandangnya dalam-dalam. "Toushiro, aku mohon."

Toushiro balas memandang Rukia. Toushiro benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Memang benar dia sekarang tidak mau kehilangan Rukia, tetapi dia juga tidak bisa melupakan dendam lima tahunnya begitu saja. Karena Kusaka, seluruh kehidupannya hancur berantakan.

Toushiro tiba-tiba bangkit, membuat Rukia terkejut. Toushiro turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Rukia. Sedangkan Rukia hanya bisa terduduk pasrah sambil menatap punggung Toushiro yang segera menghilang.

Rukia benar-benar merasa Toushiro sudah tidak tersentuh lagi.


Toushiro duduk di atas kasur di kamarnya. Toushiro melirik seprai itu. Seprai berwarna ungu dengan gambar kelinci yang sering disebut-sebut Rukia dengan nama Chappy. Toushiro menghela napas, lalu meraih handycam di sebelahnya.

Dari semua hal, Toushiro paling tidak pernah bisa melepaskan handycam ini. Handycam yang diberikan ayahnya—Juushiro—saat dia berumur sepuluh tahun. Handycam yang tidak akan pernah digantinya dengan apa pun.

Toushiro menyetel sebuah kaset saat ulang tahunnya yang kesebelas. Tampak figur Juushiro dan Retsu—ibunya—yang bahagia. Handycam itu kemudian dipegang oleh orang lain, dan figur Toushiro tampak di sana. Dia meniup lilin, sementara Juushiro dan Retsu memeluknya erat.

Tangan Toushiro bergetar menatap pemandangan itu. Melihat putaran video itu membuat semuanya terputar balik di otaknya. Saat-saat mereka mengetahui penyakit Toushiro. Saat Juushiro memutuskan pergi dari rumah karena tak kuat menanggung malu. Saat Retsu menangis tak henti-henti.

Kalau saja Tuhan mengizinkan Toushiro untuk membuat satu saja permohonan, Toushiro ingin kembali ke saat-saat di mana semuanya masih baik-baik saja, seperti saat ulang tahunnya yang kesebelas ini.

Toushiro mengelus handycam itu pelan-pelan. Handycam yang sudah belasan tahun menemaninya. Handycam yang merekam semua perjalanan hidupnya. Handycam yang menjadi awal dari cita-citanya.

Toushiro menjambak rambut putihnya. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Tahu-tahu ponsel di sebelahnya bergetar. Toushiro meraih ponsel itu heran. Setahunya, dia tidak pernah memberikan nomor ponselnya pada siapa pun, kecuali Ichigo.

Mata emerald Toushiro membesar saat membaca angka yang tertera di layar ponselnya. Itu nomor telepon rumahnya. Toushiro merasakan tangannya menjadi dingin saat dia menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo? Shiro?" Terdengar sebuah suara perempuan dari seberang.

Toushiro bergeming saat mendengar suara Retsu. Sudah begitu lama, sampai-sampai Toushiro begitu merindukannya.

"Shiro? Ini Toushiro, kan?" tanya Retsu lagi. Tenggorokan Toushiro terasa kering.

"Kenapa?" kata Toushiro dengan suara serak.

"Shiro!" seru Retsu. "Untung nomernya benar! Kamu ada di mana sekarang, Nak? Masih di Karakura?"

Mendadak, Toushiro sadar kalau Momo pasti sudah melaporkan segalanya pada Retsu. Dan, Momo mendapatkan nomor ponsel Toushiro dari Ichigo. Toushiro mengatur napasnya.

"Kenapa?" tanya Toushiro lagi.

"Shiro, ayo pulang, Nak," kata Retsu, terdengar seperti mau menangis. "Ayo pulang, Shiro. Kami sudah menunggu di rumah."

Toushiro tertawa dalam hati. Kami? Kami siapa maksudnya?

Toushiro masih terdiam. Sebenarnya, dia hanya ingin mendengar suara Retsu. Toushiro juga takut kalau dia bicara, dia akan menangis dan ingin cepat pulang.

"Shiro, kamu marah sama Kaa-san, ya?" tanya Retsu kemudian. "Kamu masih marah sama Kaa-san, kan? Shiro, maafkan Kaa-san. Maafkan Kaa-san, Nak."

Toushiro hampir tidak bisa menahan emosinya. Toushiro sama sekali tidak menyangka kalau ibunya akan meminta maaf seperti itu.

"Maafkan Kaa-san karena Kaa-san bukan ibu yang baik," kata Retsu, sudah tersedu. "Maafkan Kaa-san karena Kaa-san nggak bisa merawat kamu dengan baik. Pulanglah, Shiro, izinkan Kaa-san merawat kamu sekali lagi."

Toushiro masih mendengarkan tanpa bisa berkata apa pun. Rahang Toushiro sudah mengeras, menahan segala keinginannya untuk menangis.

"Kaa-san nggak akan menangis lagi, Shiro, Kaa-san akan tegar. Kaa-san akan lebih percaya diri. Kaa-san nggak akan peduli lagi apa kata tetangga. Shiro pulang, ya?" kata Retsu lagi. "Shiro, kalau kamu pulang, ada seseorang yang menunggu kamu di rumah."

Toushiro mengernyit heran. Siapa yang menunggunya? Momo-kah?

"Shiro?" kini, terdengar suara yang berat dari seberang, membuat jantung Toushiro serasa berhenti berdetak.

Toushiro tak bisa memercayai pendengarannya. Mungkin Toushiro sudah salah dengar. Mungkin Toushiro tadi berkhayal.

"Shiro? Nak? Ini Tou-san," kata suara itu lagi membuat Toushiro benar-benar hilang kendali. Dadanya terasa sesak karena mendengar suara itu untuk yang pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.

Juushiro terdiam sebentar di ujung sana.

"Shiro? Tou-san tahu kamu pasti sangat marah sama Tou-san. Tapi, beri Tou-san kesempatan sekali lagi, Shiro. Beri Tou-san kesempatan sekali lagi," kata Juushiro membuat tangis Toushiro tak terbendung lagi. Juushiro sendiri juga sudah mulai terisak.

"Otou-san...," gumam Toushiro di tengah tangisannya.

"Shiro, maafkan Tou-san, ya? Tou-san benar-benar bodoh karena sudah meninggalkan kamu dan ibumu. Selama lima tahun Tou-san mengintrospeksi diri, dan ternyata memang Tou-san yang salah. Kamu tidak bersalah, Nak. Tou-san yang sudah salah karena pergi. Seharusnya, Tou-san tetap mendukung kamu. Maafkan ayahmu yang pengecut ini, Shiro," kata Juushiro lagi membuat tangisan Toushiro semakin keras.

"Shiro, kamu pulang, ya, Nak? Ayo, kita coba sekali lagi," kata Juushiro lagi. "Kali ini, Tou-san tidak akan lari lagi. Kita ulangi lagi semuanya dari awal. Kamu, Tou-san, dan Kaa-san."

Toushiro tidak bisa menjawab. Dia sudah menangis sejadi-jadinya. Seumur hidupnya, dia tidak pernah sebahagia ini. Dia sangat bahagia sampai dadanya seperti mau meledak.

Terdengar ketukan di pintu, tetapi Toushiro tak bisa mendengarnya. Rukia muncul dari pintu dan terkejut menatap Toushiro yang sedang menangis. Rukia segera menghambur ke arah Toushiro.

"Toushiro? Kamu kenapa?" tanya Rukia panik. "Kamu sakit? Apanya yang sakit?"

Toushiro tak bisa menjawab. Rukia bingung menatap Toushiro yang menangis sejadi-jadinya itu, lalu menatap ponsel yang sedang dipegang Toushiro. Rukia mengambil ponsel itu, dan ternyata masih tersambung. Ragu, Rukia mendekatkan telinganya pada ponsel.

"Shiro? Nak? Kamu masih di sana?" sahut sebuah suara wanita. Rukia terbelalak, yakin itu suara ibu Toushiro. Rukia tak berani menjawab. "Shiro, setelah kamu tenang, kami telepon lagi, ya. Cepat pulang, ya, Shiro, kami tunggu."

Setelah itu sambungan terputus. Rukia tersenyum, sudah mengerti arti dari tangisan Toushiro. Ternyata, keluarga Toushiro mengharapkan Toushiro untuk pulang. Toushiro sekarang sudah tidak sendirian lagi.

Rukia mengulurkan tangan untuk mengusap air mata Toushiro, dia lalu memeluk Toushiro yang masih menangis. Rukia benar-benar bahagia karena akhirnya Toushiro sudah kembali mendapatkan kehidupannya.

Rukia ikut menitikkan air mata. Rukia tahu seharusnya dia tidak boleh sedih, tetapi dengan begini Toushiro akan lebih cepat menghilang darinya. Toushiro akan kembali pada keluarganya di Seireitei, tetapi Rukia harus bisa mendukungnya.

Karena Rukia sudah berjanji akan menjadi kuat untuk Toushiro.


Continued on the chapter 13

Okke~! Sekarang saatnya untuk balas review... ^^

.

~* deccanniez hexarhyne *~

Ng... begini, Nee~ saiia pilih Kusaka karena di sini ceritanya orang yang nularin penyakit ini ke Hitsu itu temen baiknya dan yang paling penting, seumuran... Jadi, mana mungkin saiia pilih si Ijen yang udah bangkotan itu~*disambit* Sebenarnya, sih, sebelum saiia milih Kusaka, saiia agak mempertimbangkan Gin juga, tapi setelah dipikir lebih dalam lagi, emang cuma Kusaka yang paling cocok... ^^ maafkan saiia, ya, Kusaka FC~! Hhaha~ ternyata baru nyadar, ya~ emang pas Hitsu ngomong sama Momo itu pake bahasa aku-kamu... itu sebenarnya karena mereka pernah punya hubungan khusus—tapi di masa lalu~! Makasih, ya, udah review, Nee~! ^^

.

~* Ninomiya Icha *~

Iya, emang bukan karena hubungan seks, kok~! Sankyu buat review-nya, Icha~ ^^

.

~* Azalea Yukiko *~

Ah, saiia juga nggak tau kalo review kamu kepotong atau nggak... tapi yang nampak emang cuma segitu~! Thanks review-nya~! ^^

.

~* aya-na rifa'i *~

Hhehe~ ya, bukan lah~! Ah, saiia juga sebenernya nggak rela, kok~!*ngedumel sendiri* Chapter ini udah HitsuRuki, kan? Soalnya Momo udah saiia kembalikan ke alamnya(?)*dijitak* ^^ Makasih udah review, Ay-san~!

.

~* Yumemiru Reirin yang lagi males log in *~

Kita liat aja di chapter depan~ apakah Hitsu akan meninggalkan Rukia atau nggak~ Okke? ^^ Sankyu buat review-nya~!

.

~* Deathberry Kuchiki *~

Setelah baca chapter ini, masih ingin bunuh Toushiro, nggak, Ruru-san? Hhehe~ Ng... IchiRuki, ya? Entahlah... tapi kayaknya fanfic ini bakal tetep fokus di HitsuRuki~ Gomen ne, Ruru-san~ Tapi, makasih udah review~! ^^

.

~* Rizu Auxe09 yang lagi-lagi gak log in *~

Hitsu pengen jadi sutradara, sebenernya bermula dari handycam pemberian Juushiro, ayahnya. Nah, sejak punya handycam itu, Hitsu jadi hobi merekam apa aja yang diliatnya... awalnya, sih, cuma sekedar film dokumenter, tapi terus lama kelamaan jadi film betulan yang ada skenarionya gitu... Okke, say! ^^ Hhehe~ Makasih review-nya, Rizu-nee~! ^^

.

~* Jiya Mukherjee *~

Okke~! Ini udah lanjut~! Sankyu udah review, ya~ ^^

.

~* Ririn Cross *~

Kusaka pindah ke Karakura setelah ketahuan pakai narkoba sama orang tuanya... terus orang tuanya marah besar dan memindahkan Kusaka ke Karakura supaya dia nggak bergaul lagi sama preman-preman yang udah bikin dia ngobat... dengan begitu, orang tuanya berharap Kusaka akan kembali ke jalan yang benar*halah, bahasanya~* ^^ Iya, ini udah update~! Thanks, ya, udah mau review, Ririn-san~! ^^

.

~* Namie Amalia *~

Iya, judulnya sama, kok~! ^^ Ah, tenang aja~! Tidak akan pernah saiia biarkan Shiro berpaling ke Hina~! Makasih buat review-nya, Namie-san~! ^^

.

~* kireina toshirou *~

Hhh... makasih, ya, Rei-san, udah nggak jadi men-chidori(?) saiia~! ^^ Hhoho~ Hitsu emang baik, kok~! Shiro, kan sayangnya sama Ruki~!*peluk-peluk Hitsu* Gyyaaa~ gak jadi di-chidori, kok, malah di-amaterasu~?*ngibrit lagi* Thanks udah review, Rei-san~! ^^

.

~* Astrella Kurosaki *~

Itu emang sengaja nggak saiia italic~! ^^ Soalnya, biasanya, kan, bahasa asing itu penulisannya dibedakan dari bahasa Indonesia. Kalau misalnya kedua kalimat itu saiia tulis bukan dalam keadaan flashback, maka jadinya begini: "Ya ampun. Another documentary?" dan "Apa yang mau dia kasih? Another blue film?" gitu... Bahasa asing biasanya ditulis pake huruf miring, kan? Tapi, karena berhubung kalimat yang tadi itu ditulis dalam mode flashback yang tiap katanya di tulis miring, maka kata yang pakai bahasa asing itu dibiarkan biasa aja, dalam artian nggak usah pake italic... ^^ Oh, kalau itu emang saiia salah ketik... soalnya kemarin lagi buru-buru dan belum sempat saiia edit~ maaf, ya~! Makasih udah diingatkan, ya~ ^^ Sankyu, ya, udah review~! ^^

.

~* So-Chand 'Luph pLend' *~

Okke~ Ini udah update~ Makasih udah review~! ^^

.

~* Bed wetterlivi *~

AU itu kependekan dari Alternate Universe. Setau saiia, sih, itu artinya dunia di fanfic yang dibuat dengan dunia di real anime/manga-nya itu berbeda. Baik secara fisik, geografi, teknologi, dll. Misalnya; kalo di real anime/manga-nya, kan, Hitsu sebagai shinigami yang menjabat sebagai taichou divisi 10 di gotei 13 dan punya zanpakuto yang namanya Hyourinmaru; tapi kalo di fanfic ini, Hitsu cuma sebagai anak manusia biasa dan nggak punya yang namanya zanpakuto, serta di fanfic ini juga nggak bakal ada yang namanya shinigami. Ng... tapi, untuk lebih jelasnya lagi, silakan kamu cari di google atau di wikipedia aja, ya~? Okke? Baiklah, selamat mencari~!*dijitak* Dan, sankyu buat review-nya~! ^^

.

~* Intan SasuSaku *~

Hai juga~! Iya, nggak apa-apa, kok~! Betul, tuh, Rukia harus tetep berjuang demi Toushiro~! Ini udah update~! Makasihudah review, Intan~! ^^

.

~* gvlazio3196 *~

Ah, saiia juga masih amatir, kok~! Buktinya, tiada chapter tanpa miss typo... hhehe~ ^^ Terima kasih review-nya~! ^^

.

Sekian balasan review-nya~! Maaf kalau ada sala-salah ketik dan miss typo di chapter ini, minna~! ^^ Nah, sekarang saatnya kita kembali berpisah... Sampai ketemu minggu depan di chapter 13, ya, minna~! ^^

Mari lestarikan budaya me-review, minna~! ^^

(halah~! Sendirinya gimana?)

Hhehe~ ^^

Review, please~

Oh, iya, Selamat Hari Kebangkitan Nasional~!