"Bagaimana ibu bisa bertemu ayah?"
"Eh? Itu...um..."
.
"Kapan pertama kali ayah bertemu ibu?"
"Hm...saat di ruang baca mungkin."
.
"Jadi ibu dulu bekerja di mansion?"
"Iya, ibu menjadi maid dia sana."
.
"Bagaimana ibu dulu?"
"Sama seperti sekarang ayah rasa, tapi entahlah, ayah tidak terlalu mengenal ibumu waktu itu."
.
"Apa ayah dulu setampan sekarang?"
"Eh?! Um...y-ya..."
.
"Kenapa kau bertanya hal ini?"
.
"Ada apa, Ken? Tidak biasanya kau bertanya seperti ini pada ibu."
.
"Tidak. Aku hanya penasaran bagaimana aku bisa lahir."
.
"Ha?!" / "Eh?!"
.
.
.
Dakishimetai
Tokoh yang saya pakai milik Kishimoto Masashi-sensei, saya cuma pinjem doang
Warning: typo, alur cepet, dan masih banyak lainnya
Pairing: Sasuhina
Don't Like, Don't Read
.
.
.
"Hm..." Hinata menimbang apakah dia harus mengambil ikan itu atau tidak. Kenichi meminta hamburger sebagai menu makan malam nanti. Hinata tidak tahu apakah Sasuke menyukai olahan daging itu atau tidak, sehingga dia memutuskan untuk menambah satu menu lagi.
"Kau terlihat serius sekali," komentar Sasuke yang berdiri di belakang Hinata. Ayah satu anak itu sudah mengamati ibu anaknya cukup lama.
"G-gomenasai," Hinata buru-buru memasukkan ikan itu ke dalam keranjang, dia merasa tidak enak karena membuat laki-laki itu menunggu.
"Kenapa selalu minta maaf?" Sasuke berjalan mendekat, tersenyum tipis mendapati perempuan itu menunduk dalam. Tangan Sasuke mengambil alih keranjang berisi belanjaan, membawanya santai mengabaikan rasa tertegun Hinata.
"Hm?" gumam Sasuke kala mata ungu keperakan itu bersirobok dengan hitamnya. Mungkin ada sesuatu yang ingin dikatakan perempuan itu padanya.
"Ah, i-iie," geleng Hinata, dia kembali menunduk.
"Apa ini sudah semuanya?" tanya Sasuke memastikan. Kelihatannya mereka sudah cukup lama berada di supermarket ini.
"Iya," mendengar itu, Sasuke berjalan ke kasir. Membayar semua bahan makanan itu sebelum Hinata bersi keras untuk membayarnya sendiri. Sedang untuk Hinata, perempuan itu merasa tidak enak kembali. Dia sengaja mengambil bahan makanan berlebih untuk persediannya beberapa hari ke depan.
Wajah Sasuke mendadak bersemu ketika kasir mengeluarkan pembalut dari keranjang, mengalihkan pandangannya ke arah lain, Hinata sedikit heran kenapa laki-laki itu membuang mukanya. Tepat setelah Hinata berada di samping Sasuke, barulah perempuan itu tahu. Wajahnya juga bernasib sama, bedanya rona merah itu terlihat cukup pekat.
Mereka berdua keluar dari supermarket dengan canggung. Hinata merutuki kelalaiannya, seharusnya dia sendiri yang membawa dan membayar belanjaan itu tadi.
Berjalan beriringan, Sasuke berusaha menyamai langkah kaki Hinata. Mereka sengaja berjalan kaki menuju supermarket karena jaraknya yang dekat. Selain itu, Sasuke bisa memanfaatkan momen ini sebagai kencan dadakan...um...maksudnya jalan-jalan karena Kenichi tidak ikut. Bocah itu berpamitan bermain bersama teman-temannya sejak pagi.
"Jalan ini, menuju ke mana?" tunjuk Sasuke pada jalan setapak yang tidak diaspal.
"Jalan ini melewati sungai. Sasuke-sama ingin melewatinya?" Sasuke mengangguk, membuat Hinata tersenyum tipis. Laki-laki itu sudah hapal dengan jalanan utama di Nami.
"Di sini sepi," kata Sasuke setelah berjalan sekitar lima menit.
"Orang-orang kurang begitu suka lewat sini karena terlalu jauh," tanggap Hinata, Sasuke sedikit senang mendapati perempuan itu sudah mulai tidak tergagap, pertanda jika dia tidak takut lagi padanya.
"Pemandangannya indah," semenjak tadi hal yang Sasuke lihat adalah laut. Nami memang terkenal dengan lautnya, dia tidak menyangka, dia tidak harus pergi ke luar negri untuk menikmati keindahan seperti ini.
"Sou desu ne," Hinata menyampirkan helaian rambut panjangnya di belakang telinga, angin laut kencang membuat rambut bagian depannya sedikit berantakan.
Mungkin pemandangan indah bertambah satu lagi di mata Sasuke. Gerakan lembut Hinata dan senyum menawannya membuat Sasuke lagi-lagi terpana pada perempuan itu. Tanpa sadar dia ikut tersenyum, menurutnya Hinata tampak cantik sekarang.
"Ada apa, Sasuke-sama?" Hinata mendongak, menatap bingung laki-laki itu yang memandanginya beberapa saat lalu.
"Kau indah," gumam Sasuke tak sadar. Hinata bungkam, wajahnya memerah penuh, mulutnya yang bergetar digigit kuat untuk menyembunyikan rasa gugupnya.
"Ah! Maksudku kau cantik," menyadari apa yang ia katakan tadi, Sasuke segera menjelaskan apa maksudnya, meskipun hal itu tidak membantu sama sekali.
"Ah, tidak. Kau memang cantik, Hinata. Hanya saja...aku tidak sedang merayumu asal kau tahu!" memangnya kenapa jika dia merayu calon istrinya, tidak ada orang yang menyalahkan. Malahan orang-orang berpikir itu wajar. Tapi Sasuke tidak mau dianggap sebagai laki-laki buaya darat yang suka tebar kata-kata, meskipun itu jujur dari hatinya.
"K-kau pendek, wajahmu kusam, d-dan tanganmu sedikit kasar," tadi merayu dan sekarang mengejek, tidak tahu apa sebenarnya isi kepala jabrik itu. Ayolah Sasuke. Umurmu sudah masuk kepala tiga, masa masih bicara gagap begitu? Kemana skill menggaet perempuan yang selama ini kau banggakan?
"Tapi...kau cantik dengan caramu sendiri," wajah laki-laki itu dialihkan untuk menghadap hal lain, suara berat Sasuke semakin lirih di akhir kalimatnya. Bahkan terdengar seperti orang berkumur jika didengar sekilas. Mulut Sasuke mencebik, dia baru saja mengatakan hal yang tidak mau diakuinya. Pada akhirnya dia memang merayu. Merayu dengan cara aneh yang keluar begitu saja hanya pada Hinata.
"A-arigatou...gozaimasu," Hinata tidak tahu harus menanggapi seperti apa, sehingga hanya ucapan terima kasih itu yang keluar dari bibirnya. Apa yang dikatakan Sasuke benar adanya, dia pendek, wajahnya kusam, dan tangannya kasar. Mukanya memerah akut mendengar kejujuran yang diselingi pujian itu.
Mereka berdua kembali berjalan, hening lagi-lagi tercipta setelah pembicaraan absurd tadi. Kedua orang dewsa itu saling menghindar untuk menutupi kegugupan mereka.
Sasuke menendangi kerikil kecil, kebiasaannya dulu sewaktu masih sekolah dasar. Tanpa diketahuinya ternyata Kenichi juga memiliki kebiasaan yang sama, dan Hinata melihat hal itu. Perlahan perempuan itu terkekeh lirih, membuat Sasuke melirik bingung.
"Ada apa?"
"Sasuke-sama mirip sekali dengan Kenichi," bibirnya ditutupi dengan tangan untuk menyembunyikan senyumannya. Dia tidak ingin laki-laki itu mengira dia sedang menertawakannya.
"Aku rasa dia malah mirip denganmu," Sasuke ikutan tersenyum. Berbicara mengenai Kenichi membuat suasana kembali mencair.
"I-iie, wajahnya tidak ada yang menurun dari saya," Hinata menyanggah. Semenjak pertama kali melihat putranya, Hinata sudah menduga anaknya akan berwajah seperti sang ayah.
"Kalau wajah memang tidak, tapi sifatnya mirip denganmu."
"Hmp...dia cengeng dan penakut," Hinata menahan tawa. Kedua sifat itu menurun pada putranya.
"Berarti kau dulu juga begitu?" Sasuke juga menahan tawa, membayangkan Hinata kecil yang kerap menangis dan berwajah ketakutan membuat laki-laki itu geli.
"Ah...iya," Hinata mengangguk malu.
"Kau juga sering mengompol berarti?"
"Eh?!"
"Bercanda. Maaf, aku hanya bercanda."
"Apa Kenichi masih mengompol?"
"Dulu, waktu awal dia datang ke rumah," Sasuke sering mendengar para pelayan sedikit mengeluh karena ulah tuan mudanya itu, dia akan melihat Kenichi yang menunduk takut dan kepala pelayan berwajah kesal.
"Padahal dia tidak begitu ketika bersama saya."
"Mungkin dia tidak nyaman tinggal di sana," Hinata tahu tindakannya dulu menyakiti hati putranya, dia meninggalkan anaknya sendirian di rumah besar itu.
"Tapi tenang saja, sekarang dia punya kita."
"Anda benar," Hinata tersenyum.
...
"Aku pulang!" Kenichi cepat-cepat melepas alas kakinya, sepatunya yang berhiaskan lumpur kering dia biarkan begitu saja. Bocah laki-laki itu ingin segera menuju dapur dimana ibu dan mungkin ayahnya berada sekarang.
"Selamat datang," sambut Hinata.
Senyum Kenichi mengembang lebar melihat hal di sana, di hadapannya dia melihat sang ibu yang sedang mengaduk saus dan ayahnya yang terlihat menata piring di meja makan.
"Kau sudah pulang," Sasuke melihat sekilas. Dia kembali serius menata salad di piring.
Pipi gembil itu merona, terlalu gembira mendapati hal yang selama ini dia bayangkan terjadi di depannya.
"Ibu masak apa?" Kenichi menghambur mendekati sang ibu.
"Katanya kau ingin hamburger malam ini," Kenichi mencium bau harum saus masakan ibunya, membuat perutnya menjadi keroncongan sekarang.
"Ayah, hihihihi," bocah itu terkikik.
"Kenapa?"
"Ayah terlihat lucu saat pakai apron," ada semburat samar di wajah Sasuke ketika anaknya bilang begitu. Selama ini Kenichi selalu mendapati Sasuke berpenampilan rapi dengan jas-jas mahalnya, dan mendapati ayahnya yang tampak berbeda tentunya membuat bocah delapan tahun itu geli.
"Ibumu yang memakaikannya," Sasuke beralasan, membuat Hinata memerah.
"Apa ada yang bisa kubantu?"
"Daripada membantu, sebaiknya kau mandi saja. Lihat, baju dan tanganmu kotor."
"Tadi aku bermain di dekat sungai," cerita Kenichi.
"Sudah ibu duga," Hinata tersenyum melihat bagaimana rupa anaknya sekarang.
"Tadi aku juga lihat ayah dan ibu bergandengan tangan," ceplos Kenichi seperti biasa. Sudah bisa ditebak bagaimana reaksi kedua orang tua itu sekarang, pipi memerah dan membuang wajah ke arah lain.
"Ken, mau mandi bersama ayah?" Sasuke melepas apronnya. Jika Kenichi lebih jeli melihat ayahnya sekarang, Sasuke nampak salah tingkah.
"Mau!" Kenichi sih senang-senang saja, atensi bocah itu mudah sekali teralihkan. Atau sebenarnya dia kurang peka terhadap momen yang tidak sengaja dia pergoki tadi.
...
Sasuke menenggelamkan tubuhnya di dalam bak mandi sempit itu, rambut depannya dia sibak ke atas. Satu matanya terbuka untuk melihat apa yang dilakukan anaknya sekarang, bocah itu terlihat sibuk memandikan mainan plastiknya satu-satu. Tipe clean freak tampaknya.
Wajah Sasuke sedikit memerah karena uap air, kedua tangannya meraup air hangat untuk membasuh mukanya. Gara-gara perkataan Kenichi tadi, dia menjadi teringat telah menggandeng tangan Hinata sewaktu pulang dari supermarket. Dengan beraninya dia menyentuh jemari putih itu, menautkannya dengan jemarinya erat. Tangan kirinya menggenggam, senyum miring tipis terpatri apik di bibirnya.
Ya ampun.
Itu hanya pegangan tangan. Kenapa dia bisa sesenang ini hanya karena hal sederhana itu?
"Ayah sedang senang?" tubuh Kenichi yang telanjang berbalik menghadap Sasuke. Kedua tangan bocah itu mendekap dinosaurus-dinosaurus yang sudah dia mandikan. Berjalan tertatih ke arah Sasuke berada, Kenichi memasukkan semua mainannya ke dalam bak mandi.
"Kau tahu?" Sasuke membantu anaknya masuk. Mainan itu mengambang di sekitarnya.
"Ayah jarang menampilkan raut begitu," Kenichi mengambil tyrex berwarna merah yang berada di dekat ayahnya, mencelupkannya sampai ke dasar.
"Dan ayah lihat kau juga sedang senang," Sasuke mengamati mainan anaknya yang memenuhi permukaan bak mandi itu.
"Aku tadi bermain di sungai," kata Kenichi.
"Ayah sudah dengar. Tapi ayah pikir, kau bilang di pinggir tadi. Kau berbohong?"
"Tolong jangan bilang ke ibu," mohon Kenichi. Dia takut ibunya akan marah padanya.
"Seorang pria tidak berbohong pada ibunya," kata Sasuke menasehati.
"Maafkan aku, aku janji tidak akan melakukannya lagi," Kenichi menunduk, pertanda dia menyesal.
"Permintaan maaf diterima," Sasuke mengusap rambut anaknya yang basah. Usapan itu bertambah semakin kencang karena wajah anaknya tetap terlihat murung.
"Ayah! Hentikan," Kenichi tertawa mendapati perutnya digelitik, bukannya berhenti, Sasuke semakin gencar menambah area serangannya. Membuat Kenichi sampai menangis karena tertawa.
Merasa tadi dia sedikit berlebihan, Sasuke mengangkat Kenichi untuk berada di pangkuannya. Bocah itu mendongak, masih dengan bibir tersenyumnya.
"Ano ne, tadi aku berenang ke tengah sungai," kata Kenichi. Sasuke diam, menanti kelanjutan cerita Kenichi.
"Ada seorang paman yang menjatuhkan dompetnya ke air," Kenichi berusaha menggapai tyrex-nya kembali, melihat itu Sasuke berinisiatif mengambilnya. Mengambangkannya di air untuk sampai ke Kenichi.
"Jadi kau membantu mengambil dompetnya?" tangan Sasuke memangku kepalanya, memandangi putranya yang sedang bermain.
"Uh-hm," Kenichi mengangguk. Baik sekali putranya.
"Tapi kau harus hati-hati, bagaimana jika sungai itu terlalu dalam."
"Tidak terlalu dalam, cuma sampai kakiku," jelas Kenichi. Jika memang sedalam itu, tentunya seluruh tubuhnya sudah kotor.
"Itu namanya bukan berenang," Sasuke geleng-geleng kepala. Kenichi terkikik.
"Aku pikir paman itu menyeramkan karena dia pakai jas hitam," tambah Kenichi, ingatan mengenai laki-laki tadi membuatnya berpikiran mengenai kejadian satu tahun lalu. Baginya semua laki-laki berpakaian hitam itu jahat.
"Ternyata dia sangat baik, dia membelikanku mainan itu. Lihat," tunjuk Kenichi pada botol berisi cairan yang terletak di dalam gayung. Dia nampaknya juga memandikan benda itu.
"Bahkan paman itu juga sempat meniup gelembung bersamaku, setelah makan malam ayah mau main bersamaku?" Sasuke mengangguk mengiyakan, tapi sesaat kemudian dia tersadar. Laki-laki berpakaian hitam dan gelembung?
"Ken, kau tahu namanya?"
"Hm?"
"Paman itu, kau tahu siapa namanya?" Sasuke sedikit mendesak anaknya.
"Tidak," Kenichi menggeleng. "Kami tidak sempat berkenalan," Sasuke sedikit kecewa.
Jika tanpa nama, dia belum bisa memastikan dugaannya benar atau tidak. Pikiran terburuknya mengatakan laki-laki yang bersama Kenichi tadi adalah salah satu suruhan ayahnya, tapi tentu masih ada kemungkinan jika orang itu hanya sekedar lewat meski itu memiliki peluang sedikit. Sasuke mengenal ayahnya luar dalam, tidak mungkin laki-laki paruh baya itu hanya duduk diam tanpa melakukan sesuatu. Semua yang tidak sesuai dengan kehendaknya akan dibasmi, termasuk dengan putranya yang tidak termasuk ke dalam daftar.
"Tapi..." Sasuke menunduk, lamunannya buyar karena penggalan kata itu.
"Tapi apa?"
"Paman itu tahu namaku," Sasuke menegang. Secepat kilat Sasuke membalik Kenichi, mengamati apa ada luka ataupun lebam yang tertoreh di kulit putih anaknya.
"Ada apa ayah?" Kenichi bertanya sambil tertawa, dia kira ayahnya masih mengajaknya bercanda. Melihat anaknya masih bisa berwajah seperti itu, Sasuke sedikit lega. Laki-laki itu masih belum berbuat macam-macam pada anaknya.
"Ken, dengarkan ayah," ucap Sasuke serius. "Jangan dekati paman itu lagi."
"Dia jahat?" sudah ia duga, laki-laki berjas hitam ternyata memang jahat.
"Ya, dia sangat jahat. Oleh karena itu, jangan mendekatinya. Atau jika bisa, jangan bicara dengan orang-orang asing yang baru kau temui, mengerti?" pesan Sasuke detail. Mulai sekarang dia tidak akan lengah, kedatangan laki-laki itu menjadi pertanda, Uchiha Fugaku akan menyerang sebentar lagi.
"Baik," Kenichi mengangguk patuh. Dia tidak akan bertanya macam-macam pada ayahnya.
"Tidak perlu takut, ada ayah yang akan melindungimu," Kenichi mengangguk lagi, bocah itu percaya sepenuhnya pada ayahnya.
"Jangan takut," Sasuke memeluk anaknya, tubuh kecil itu terasa sedikit bergetar ketika Sasuke mengusap pelan punggungnya.
"Sasuke-sama, Ken. Makan malamnya sudah siap," siluet Hinata terbayang di pintu kaca. Perempuan itu mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan jika kedua laki-laki itu mendengar panggilannya. Hinata sempat mengira kalau-kalau ayah-anak itu tertidur di ofuro, keduanya sudah berada di sana lebih dari satu jam.
"Iya, kami akan keluar," sahut Sasuke. Mata hitamnya melihat siluet Hinata perlahan-lahan menghilang.
Satu hal yang Sasuke takutkan, Hinata pergi darinya.
TBC
.
.
.
.
.
.
masih belum masuk ke konflik inti, tp saya harap chap ini masih nyambung, maaf jika word-nya tidak banyak, setidaknya saya masih update #plakkk XD
untuk disini sebenarnya saya masih bingung waktu nulis, antara dua chara, tapi pada akhirnya saya pilih dia
terima kasih untuk minna-san yang sudah mampir dan meninggalkan jejak, saya sangat berterima kasih akan hal itu, dan untuk yang sudah menyemangati rasanya kayak udah memet trus masuk ke lazarus pit, jd segar kembali #alay mode on
semoga minna-san tidak bosan-bosan mampir dan meninggalkan jejak, jaa adios...
.
.
.
.
.
"Kau menemuinya?"
"Dia mengadu?"
"Apa yang dia rencanakan?"
"Tidak tahu, tapi kita tahu tujuannya."
"Dan keberpihakanmu?"
"Kau tahu, Sasuke. Aku hanya berpihak pada teman lama."
