Captain Tsubasa Fanfiction

Disclaimer: Captain Tsubasa belongs to Yoichi Takahashi-sensei. I don't own the original story, nor the characters. I only own this amateur fanmade fiction, including the plot and other OC(s)/OOC-ness.

Fourteen-Teller presents….

-The Story of A Broken Heart-

Chapter 12: The Chaos of Being In Love


Ketika Jun Misugi pulang, saat itulah seharusnya waktu makan malam. Pertandingan sore tadi membuatnya lapar. Namun, sesaat setelah memasuki rumah megahnya, nafsu makannya hilang. Ia melihatnya lagi, orangtuanya bertengkar. Mereka mengenakan baju bagus. Sepertinya baru pulang dari suatu tempat.

"Ayah keterlaluan! Seharusnya kau bawa aku ke stadion, bukan ke acara reuni bodoh tadi!"

Di meja makan, berbagai hidangan sudah tersedia. Namun, mereka belum menempati kursinya.

"Anak itu tidak akan pernah bilang kalau mau bermain. Tapi, ayah pasti tahu! Kenapa tidak memberitahuku?!"

"…."

"Seharusnya kita mencegahnya! Ayah juga tahu bagaimana kondisinya, kan? Kenapa biarkan dia, hah?"

"Ma! Hentikan! Kau sudah mengatakan hal ini ratusan kali! Berhentilah mencemaskannya!"

"Apa?"

"Kau sudah berlebihan!"

"Apa? Mencemaskan anak sendiri, ayah bilang berlebihan? Aku tidak mengerti ayah! Bagaimana bisa kau malah mengajakku ke tempat lain, sementara Jun lagi-lagi membahayakan nyawanya!"

"Apa tidak cukup setelah berkali-kali menelepon dan dia bilang baik-baik saja? Ma, pertandingan sudah selesai! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan!"

"Ayah tidak akan mengerti! Dia tidak baik-baik saja!"

"Kenapa kau selalu begini? Cobalah percaya padanya!"

"Aku tidak bisa! Pokoknya, setelah ini aku akan mengawasinya lebih ketat!"

Sang ibu meraih tas kulit yang tadinya ia lempar ke kursi, kemudian mengambil ponsel di dalamnya.

"Aku akan minta dokter Ninomiya kemari untuk memeriksanya."

"Ma! Itu tidak perlu! Apa kau tidak tahu bagaimana sibuknya-"

"Tapi, ini penting!"

"Ma!"

"Kenapa ayah diam saja? Cepat hubungi Jun lagi! Dia bilang di perjalanan, tapi belum sampai juga! Kalau perlu, jemput dia!"

"Aku pulang."

Suara-suara itu sangat kencang, sehingga Jun tak perlu memasuki ruang makan untuk bisa mendengarnya. Ia muncul hanya untuk menghentikannya.

"Jun!"

Sang ibu berlari menuju putra sematawayangnya, mengusap wajah capek anak itu, sementara matanya mengawasi setiap detil penampilannya.

"Kau baik-baik saja? Apa kau sakit? Bilang sama mama!"

Wanita itu seperti hampir menangis. Jun tidak mencoba melepaskan tangan ibunya di wajahnya, meski ia selalu merasa tidak nyaman. Ia hanya mencoba tersenyum sembari mengucapkan kalimat andalannya.

"Aku baik-baik saja."

"Tidak. Kau bohong. Kau pucat begini. Mama akan panggil dokter."

"Ma! Aku baik-baik saja!"

Ia benci harus mengulangi kalimat itu lagi dan lagi. Kali ini kekesalan sudah menguasainya. Tak ada lagi senyuman.

"Maaf. Aku capek. Permisi."

Lelaki itu mengambil langkahnya dan mulai menaiki tangga.

"Jun, makan malamnya?" Sang ibu berseru.

"Aku akan makan kalau aku lapar. Tolong, mama jangan mengikutiku!" balasnya lantang begitu tahu ibunya mendekati tangga.

"Tapi, Jun…."

Anak itu berhenti, kemudian menoleh sedikit ke arah tuan Misugi.

"Ayah, terima kasih," ucapnya sebelum kembali berjalan dan berbelok menuju kamarnya.

"Jun!"

Ibunya kembali berseru, berniat menyusulnya. Ia akan berlari di tangga dengan sepatu hak tingginya kalau saja suaminya tak buru-buru menarik lengannya.

"Ma! Cukup! Kau diam saja disini!"

"Ayah kenapa, sih! Kenapa kau tidak sedikit pun mencemaskannya?"

"Kau yang berlebihan!"

"Apa kau bilang?"

Dan pertengkaran itu pun berlanjut. Jun tahu itu akan terjadi, sehingga yang ia lakukan setelah memasuki kamar adalah berbaring, menutup telinga rapat-rapat, dan mencoba memejamkan mata. Satu-satunya hal yang bisa membantunya merasa lebih baik adalah ingatan kejadian di tribun sore tadi. Sedikit senyuman mulai tertoreh dari bibirnya. Namun, ketika ia berbalik dan mengambil sebuah jam pasir pemberian kakeknya di meja samping ranjangnya, memainkannya, menyaksikan butiran-butiran pasir itu turun perlahan, senyum itu hilang. Yang tersisa kini hanya tatapan kosong dari bola mata cokelatnya yang indah.

#

#

"Yayoi, aku tahu kau sudah bangun. Ayo, keluarlah! Ada Jun-kun di bawah."

"Suruh dia pulang saja!"

"Eh?"

Ibu Yayoi sudah rapi dengan pakaian kerjanya ketika harus mengetuk pintu kamar putrinya berkali-kali sampai ia mendapat respon.

"Apa maksudmu? Dia menunggumu tuh!"

"Aku tidak mau bertemu dengannya!"

"Eh? Aneh. Bukankah seharusnya kau senang?"

"Tidak!"

"Eh? Kalian berantem?"

"Tidak!"

"Lalu kenapa?"

"Bukan apa-apa! Sudah. Mama berangkat saja! Keburu telat!"

"Eh? Yah…." Nyonya Aoba melihat jam tangannya sebelum memutuskan menyerah membujuk putrinya. Ketika ia hendak turun, ia harus terkejut karena lelaki yang dibicarakan tadi sudah berjalan naik ke arahnya. Sampai di ujung tangga, anak itu membungkuk, kemudian berbicara pelan sembari tersenyum.

"Tante, maaf. Boleh minta bantuan sekali lagi?"

Dan ketika ia menuturkan permintaannya, ia tak perlu menunggu untuk disetujui. Sang ibu kembali mendekati pintu kamar Yayoi setelah beberapa menit. Sementara Jun berdiri tanpa membuat suara.

"Yayoi, mama berangkat. Jun-kun juga sudah pulang. Buruan, mandi sana!" Wanita itu berseru kemudian terkikih dan mengedipkan mata pada Jun. Lelaki itu tersenyum.

"Baik, ma….!"

Setelah terdengar suara balasan dari dalam, sang ibu buru-buru menuruni tangga. Ia memberikan kedipan sekali lagi pada Jun sebelum tersenyum puas. Kapten Musashi FC kini telah memposisikan dirinya tepat di depan pintu kamar. Tak sabar melihat reaksi gadis itu.

Yayoi membuka pintu kamarnya dengan cepat. Ia butuh kamar kecil saat itu juga. Siapa yang menyangka di situasi urgent seperti itu, ia harus melihat wajah seseorang yang sangat ia kenal sedang tersenyum penuh arti padanya. Tiba-tiba ia merasakan jantungnya yang seharusnya berada di rongga dada, seolah-olah jatuh sampai ke kaki.

"Surprise!" Jun berucap, senang rencananya berhasil.

"Kyaaaaah!"

Gadis itu boleh saja terkejut, namun refleksnya cukup membantu. Buru-buru, ia mencoba menutup pintu itu kembali. Sayangnya, lawannya juga tak kalah cekatan. Ia dorong pintu itu dari luar, membuat Yayoi kerepotan.

"Lepaskan!" Ia berseru, sembari terus mendorong pintu itu sekuat tenaga.

"Tidak mau! Biarkan aku masuk!"

Tenaga Jun Misugi sudah pasti bukan tandingannya. Namun, gadis itu belum menyerah. Bagaimanapun juga ia tak mau dilihat. Terutama karena wajah merahnya, rambutnya yang tergerai kusut berantakan, juga…. baby doll bermotif kelinci yang dipakainya, yang walaupun bercelana panjang, baginya sangat tidak manis.

"Pulanglah!" Ia berseru putus asa, sembari terus mendorong.

"Kenapa kau begini padaku? Tiga hari ini kau tidak menjawab teleponku. Tidak membalas sms-ku juga!" seru Jun seperti memarahinya.

"I-Itu…."

"Percuma menghindariku! Hei, ayo bicara baik-baik!" Jun berhasil menjulurkan kepalanya untuk melihat gadis itu. Tanpa ia sadari, pegangannya pada pintu melemah.

"Tidak!"

Saat itulah, Yayoi yang panik, menggunakan refleksnya lagi. Satu dorongan kencang dan berakhir dengan jatuhnya sang "Pangeran Lapangan" ke lantai.

"Aduh!"

Ia jatuh dengan lengan dan bahu lebih dulu. Sumpah serapah memang tak keluar dari mulutnya, namun diamnya sudah membuat Yayoi bertambah panik.

"Ma-maaf, kapten! Kau baik-baik saja?"

Ada suatu kondisi dimana gadis itu bisa berbuat tanpa pikir panjang. Ia sudah melupakan 'perebutan' pintu, juga tak lagi peduli dengan penampilannya. Tahu-tahu ia sudah bersimpuh di dekat Jun, menatapnya cemas. Lelaki itu tahu kelemahan Yayoi. Ia tersenyum. Terkikih.

"Hahaha. Akhirnya," ucapnya sembari berdiri.

Yayoi bangkit. "Kau sengaja ya?" ucapnya kesal sekaligus malu. Dengan tangannya, cepat-cepat ia rapikan rambut merahnya yang panjang.

"Tidak. Beneran sakit, tahu!"

"Salahmu!"

"Oke, fine! Lupakan! Ada yang lebih penting sekarang."

"Eh?"

"Kau tidak mau menghabiskan liburan musim panasmu di rumah saja, kan?"

"Eh?"

"Kau tidak berpikir untuk pergi keluar dan mendapatkan sinar matahari?"

"Maksudmu….?"

"Ayo nge-date!"

"Hah?"

Yayoi lupa untuk bersikap manis ketika terkejut. Ia terperangah sambil mencari tahu apa yang ada di balik senyum misterius lelaki itu. Namun, ia tak sempat.

"Kita akan terlambat. Kuberi kau waktu 30 menit untuk bersiap!"

"Apa?"

"Cepat! Sana, mandi!" Jun memegang kedua bahu gadis itu, berjalan mendorongnya menjauhi kamar.

"Tapi-"

"29 menit lebih 59 detik…."

"Hei!"

"29 menit 58 detik…."

"Heeeiii!"

"29 me-"

"Aku bisa jalan sendiri! Kau tunggu saja di bawah!"

"Ah. Benar juga."

Lelaki itu berbalik dan berjalan lagi. Sementara Yayoi, sadar akan sesuatu, berlari mendahuluinya, kemudian buru-buru menutup pintu kamarnya.

"Eh? Apa yang-"

"Jangan masuk kamarku!"

"Hah? Kenapa?"

"Pokoknya jangan! Ingat ya!"

"Haaaah…. Iya iya. Aku turun."

Yayoi masih berdiri di depan pintu dengan kedua lengan terbentang. Setelah lelaki itu benar-benar turun, ia kembali memburu kamar mandi. Disana, ia melihat refleksi dirinya di cermin, kemudian membaui badannya sendiri. Hasil yang ia dapatkan membuatnya menyesal telah mempercayai ucapan ibunya tadi.

"Arghhhh! Payah!"

Ia tak sadar telah berseru cukup kencang, menghentikan langkah Jun yang kini telah sampai di ruang tengah.

"Heeh… Kenapa dia?" ucapnya pelan sembari menoleh ke atas.

"Senpai tidak usah heran. Kakak sering begitu."

"Eh?"

Ketika ia menoleh lagi, adik Yayoi sudah berdiri di depannya, memegang segelas susu, masih berpiyama.

"Begitu ya?"

"Hm," jawab Satoshi sebelum meneguk minumannya. "Kalian mau pergi?" Ia bertanya kemudian.

"Begitulah." Jun tersenyum.

"Berdua saja?"

"Ya."

"Ah… Jadi, aku akan jaga rumah…."

"Maaf ya."

"Tidak masalah." Anak itu menggeleng. "Apa kalian pacaran?"

"Hah?"

"Iya, kan?"

"Eh? Itu…."

"Tidak ya?"

"Menurutmu?"

"Hmm…. Menurutku kalian pacaran atau tidak sama saja."

"Eh?"

"Dibilang tidak pacaran pun kalian mesra."

"Hahaha. Begitu ya?"

Satoshi mulai duduk di sofa. Ia mempersilakan Jun juga. Lelaki itu mengambil tempat di sampingnya.

"Kakakku menyukaimu. Apa kau tahu? Itu jelas sekali, kan?" Anak kelas 5 SD itu berucap lagi. Jun tersenyum.

"Hm. Aku tahu."

"Kau menyukainya?"

Menghadapi sifat ceplas-ceplos dan ingin tahu anak itu, Jun tidak kesal. Ia tersenyum lagi.

"Mana ada orang yang tidak menyukai kakakmu."

"Eh? Begitu ya?"

#

#

"Maaf, lama menunggu."

Jun dan Satoshi masih mengobrol di ruang tengah ketika Yayoi turun. Gadis itu menunduk malu. Saat ini ia mengenakan puffy blouse polos lengan pendek berwarna peach, dipadukan dengan rok berwarna cream dengan motif bunga mawar merah muda. Rambutnya ia biarkan terurai, namun dipercantik dengan headband beraksen pita berwarna merah hati. Di tangannya, terjinjing tote bag warna pastel, salah satu favoritnya. Jun menoleh ke arahnya. Untuk berapa saat ia tak menemukan suaranya. Takjub.

Ia menunduk sebentar untuk melihat jam tangannya, kemudian tersenyum, kembali menatap gadis itu.

"28 menit 42 detik. Apa itu rekor terbaikmu?"

Yayoi tak pernah tahan dengan senyuman Jun. Ia mulai memerah, kemudian buru-buru memalingkan muka.

"Ti-tidak juga!"

"Hahaha. Tapi, hasilnya bagus."

"Eh?"

"Ayo, berangkat!"

#

#

"Ayolah, jangan seperti itu! Aku kan sudah minta maaf."

"Kau tidak bilang kita akan ke Shizuoka. Aku tidak bawa cukup uang."

Jun dan Yayoi duduk bersebelahan di seat kereta tercepat di Jepang. Semenjak masuk, yang dilakukan Yayoi hanya membuang muka ke luar jendela. Sesuatu yang jarang terjadi, ketika ia ngambek pada anak itu. Tapi, mungkin mulai hari ini, ia harus sering-sering melakukannya.

"Sudah kubilang jangan permasalahkan tiketnya."

"Bagaimana bisa?"

"Itu bukan apa-apa."

"Tapi, itu masalah bagiku!"

"Hhh…. Dengar ya! Hari ini saja, untuk bisa pergi, aku mati-matian minta ijin. Mamaku hampir menyuruh orang untuk ikut bersamaku, atau mengikutiku, atau menyuruh sopir mengantarku. Lalu aku bilang akan pergi denganmu dan tidak mau diganggu."

"Eh?"

"Mamaku hanya mau aku pergi dengan kereta dimana aku tidak akan berdiri. Lalu ia menyuruhku ini-itu dan bla bla bla-"

"Urusannya denganku?"

Gadis itu berucap spontan sembari menoleh, menatapnya diam-diam. Jun menghela napas.

"Kau ini manis, iya…. Tapi, juga tidak manis…"

"Apa?"

"Kubilang ini kencan. Ngerti!"

"Eh?"

"Pergi dengan orang yang kau sukai membuatmu tidak senang?"

"Hah?"

Mata Yayoi melebar. Dengan cepat ingatannya kembali pada kejadian tiga hari lalu. Tidak, dia selalu mengingatnya. Sebenarnya itulah alasan ia tak mampu bersikap wajar. Ia mulai menyadari kelakuannya berlebihan.

"Maaf…. Aku tidak bermaksud untuk kesal…." Ia menunduk. Jun menatapnya.

"Tapi, aku…. Karena hal itu juga, aku jadi malu…. Aku tidak tahu harus bagaimana…." lanjutnya.

"Sejujurnya aku senang…." Ia tersenyum sembari mencoba menutupi wajahnya yang sangat merah. Bisa jadi pernyataan cinta yang kedua kalinya.

Jun, lagi-lagi ia merasa seperti orang bodoh. Ia biarkan waktu bergulir beberapa lama tanpa ada percakapan. Rasa canggung. Kebimbangan. Malu. Entah mana yang mewakili perasaannya. Kemudian, ia tahu harus melakukan sesuatu, atau akan menghabiskan berjam-jam perjalanan seperti orang yang tidak saling kenal. Ia mengeluarkan gadget-nya, kemudian membuka sebuah permainan. Yayoi menyadarinya, namun ia memilih untuk tidak merespon.

"Yayoi."

Ucapan pertama yang keluar setelah lama diam, mengejutkan gadis itu. Spontan ia menoleh, memastikan telinganya tidak salah dengar.

"1 mendatar. Bulan ketiga pada penanggalan kalender lunar Jepang*." Lelaki itu berucap, sembari menekan jarinya pada layar smartphone-nya. Ia menoleh setelah menyadari gadis itu melihat ke arahnya.

"Ada apa?" ucapnya santai.

Yayoi memalingkan muka, masih tersipu. "Bukan apa-apa."

"Oh." Dan Jun melanjutkan permainannya.

Sementara Yayoi, menyesali kebodohannya, telah berpikir yang bukan-bukan.

"Boleh aku memanggilmu Yayoi?"

Kejutan lain bagi gadis itu. Saat ia mencoba menoleh kembali, Jun sudah tidak dengan permainan di tangannya. Sebaliknya, lelaki itu menatapnya, serius, namun dengan sorot mata yang teduh. Yayoi tersipu seketika.

"Eh? I-itu…." Dan sekarang ia gugup.

"Kupikir sekarang sudah waktunya. Boleh, kan?"

"Eh? I-iya… Ten-tentu saja…."

"Baiklah." Ia tersenyum. "Kau tidak mau memanggilku?"

"Eh? Panggil? Maksudmu kap-"

"Tidak. Bukan itu! Namaku."

"Nama? Ah…. Itu…."

"Sudahlah. Tidak apa-apa."

Jun berucap kecewa kemudian melanjutkan permainannya. Keheningan kembali terjadi untuk beberapa saat. Sampai….

"12 menurun. Bulan keenam dalam Bahasa Inggris…." Lelaki itu berucap, pura-pura berpikir.

"Yayoi, kau tahu?" Ia bertanya, membuat gadis itu terkejut. Sebutan itu masih belum terbiasa untuknya.

Gadis itu menoleh. "Eh? Apa tadi?"

"Bulan keenam dalam Bahasa Inggris."

"Hmm…. Tunggu sebentar…. April, May, June…. Ah, June**! Itu dia!" Yayoi berucap girang, bangga dengan daya ingatnya.

"Maaf, apa?"

"June."

"Apa?"

"June."

"Sekali lagi!"

"June!"

"Hmm…. Namaku?"

"Eh?"

"Misugi…."

"Ju- Ah!"

Yayoi menutup mulutnya. Lelaki di sampingnya terkikih.

"Teruslah berusaha!" Ia berucap.

"Kau mempermainkanku ya?" Yayoi berucap kesal, juga malu.

"Hahaha. Latihan yang bagus, kan?"

"Tidak!"

"Kenapa? Padahal mudah. Kau hanya perlu membiasakannya. Hahaha."

"Tidak mau!"

"Kalau begitu aku akan terus memanggilmu Yayoi."

"Terserah!"

"Hahaha."

Saat itulah Yayoi mengerti maksud nama kontak yang lelaki itu ketik di ponselnya.

#

#

"Sanae-chan…. Lama tidak bertemu!"

Mungkin kebetulan yang bagus ketika kedua gadis ini bertemu di antara ribuan penonton di stadion siang itu. Hari ini adalah pembukaan turnamen nasional sepakbola tingkat SMP.

"Ah! Yayoi-chan!" Gadis berambut hitam sebahu berseragam SMP itu berseru, melambaikan tangan, kemudian menunjuk bangku kosong di sebelahnya. Mereka menghampiri.

"Senang bertemu denganmu lagi. Bagaimana kabarmu?" Yayoi bertanya, setelah menduduki bangkunya. Jun berada di sebelah kanannya.

"Baik. Kau?" balas Sanae.

Yayoi tersenyum. "Aku baik…."

"Ah, tentu saja! Kalian selalu membuatku iri?"

"Eh?"

Sanae mengedipkan mata. "Selamat ya!"

"Eh? Untuk apa?"

#

#

"Sebenarnya kalian pacaran atau tidak, sih?"

Saat ini, istirahat babak dan Sanae berjalan menuju kantin. Mereka butuh snack untuk dibawa, juga air mineral untuk Jun.

Yayoi sedikit menunduk. "Aku tidak tahu."

"Eh? Kok bisa?"

"Aku tidak tahu apa yang dirasakan kapten."

"Eh?"

Gadis berambut merah tersenyum tipis. "Aku bilang aku menyukainya. Tapi, belum tentu dia juga."

"Maksudmu?"

"Dia belum membalas. Atau mungkin memang tidak mau."

"Tapi, kalian terlihat seperti…."

"Ya. Sikapnya memang berubah. Kadang-kadang membuatku berpikir dia juga menyukaiku. Tapi…. Ah, entahlah…."

Yayoi berujar lesu, kemudian mencoba tersenyum kembali.

"Tidak apa-apa! Yang penting sudah kukatakan!" ucapnya bersemangat. Kini, justru temannya yang lesu.

"Kuharap aku punya keberanian sepertimu, Yayoi-chan…."

"Eh?"

"Aku mungkin tidak akan bisa mengatakannya pada Tsubasa-kun. Aku takut ditolak."

"Eh?"

"Karena prioritasnya adalah sepakbola…."

"Hmm…."

"Kau jauh lebih beruntung, Yayoi-chan…. Setidaknya Misugi-kun sedikit lebih romantis…."

"Ah… Itu…"

"Kuharap kalian bahagia."

"Ah. Terima kasih. Kau juga…. Bersemangatlah Sanae-chan!"

"Hm."

Mereka terus berjalan.

Yayoi tidak pernah melewatkan satu pun pertandingan kesebelasan SMP Nankatsu. Ia tahu mantan kaptennya peduli dengan perkembangan prestasi rivalnya, Tsubasa Ozora. Bolak balik Tokyo-Shizuoka sudah bukan masalah. Walaupun begitu, ia yakin lelaki itu punya usaha sangat keras untuk membujuk ibunya yang overprotective. Yayoi mungkin tak terlalu peduli dengan pertandingan. Ia hanya sangat menikmati momen bersama anak itu.

Sampai suatu hari...

"Si bodoh itu….!"

Jun terkejut. Gadis di sebelahnya selalu menjaga ucapannya. Tapi, kini ia mendengarnya bergumam kesal. Mata gadis itu tertuju pada anak laki-laki di bawah sana, yang entah sudah berapa kali jatuh dan bangun lagi.

Pertandingan kesebelasan SMP Nankatsu melawan SMP Hirado, satu dari yang terburuk yang pernah ia lihat.

"Bahu Tsubasa-kun bahaya."

Jun tahu apa yang Yayoi pikirkan. Teman masa kecilnya cidera parah. Mungkin ia mencemaskannya.

"Sebaiknya dia digantikan."

Jun berkomentar lagi. Namun, semenjak ia mulai bicara, Yayoi justru diam. Pikirannya sama dengan mantan kaptennya. Sayangnya, ia tak sekalem lelaki itu. Setidaknya ia mencoba.

Sepanjang babak pertama, ia mengepalkan telapak tangan kuat-kuat. Alisnya berkerut, entah sudah berapa kali. Dadanya sesak oleh rasa kesal.

Sampai akhirnya ia tak tahan.

Istirahat babak pertama, berdalih pergi ke kamar kecil dan membeli minuman, ia menuju ruang ganti pemain Nankatsu. Ia melaluinya begitu saja, tahu Tsubasa-kun tidak disana. Lelaki itu di ruang perawatan. Mungkin meminta pain killer-nya yang kesekian.

Saat ia hampir mencapai tempat itu, kapten Nankatsu sudah menyelesaikan urusannya dengan dokter. Lelaki itu keluar, tak menyadari kedatangannya. Memaksanya berseru.

"Berhenti disitu, Tsubasa Ozora!"

Ia berjalan mendekat. Tsubasa melihatnya, tak pernah tahu tujuan teman kecilnya menemuinya. Ia hanya tahu mata gadis itu memerah, seperti sangat marah.

"Yayoi-chan…. Ada apa?"

-End of chapter 12-


* Yayoi: Bulan Maret dalam penanggalan kalender lunar Jepang

** June (Inggris) dan Jun (dibaca: Jyun; Jepang) memiliki pengucapan yang sama.

Terima kasih bagi yang telah membaca maupun mereview… Maaf atas update yang lama. Selanjutnya aku akan berusaha! :D

Terima kasih. Jangan lupa review yaaa… :D

Terakhir. Walaupun agak telat, author mengucapkan "Happy Eid Mubarak 1434 H! Maaf lahir batin, readers!"

See you. :D