Taika tertawa ketika Daiki menggendongnya. Entah sudah berapa lama sejak Daiki menggendongnya seperti ini. Lengan kuat suaminya menyangga punggung dan lututnya, mengangkatnya dengan mudah seolah ia seringan bulu.

"Abaaang, aku mau dibawa ke manaaa?" tanya Taika di tengah derai tawanya.

"Kamar lah. Istri abang udah berbaik hati ngasih abang pemandangan indah di pagi hari. Masa abang nggak balas budi?"

"Yeee, emang Abang mau nunjukin apa?"

"Lho, kamu lupa?" tanya Daiki sambil menidurkan Taika di kasur. "Dulu kan kamu yang hobi suruh abang olahraga biar perut abang tetap gini."

"Tetep gimana?" goda Taika.

Daiki hanya tersenyum miring, lalu mengangkangi Taika sebelum membuka kaosnya.

Pemandangan yang menyambut mata Taika sungguh menggodanya. Tubuh tegap Daiki tersaji di depan matanya. Ah … Taika lupa bahwa pundak suaminya lebih lebar dibanding pinggulnya. Juga adanya garis-garis semu yang membentuk tonjolan-tonjolan otot di perutnya. Taika menjulurkan tangannya, meraba tulang pinggul yang mengintip seksi dari balik celana.

"Sayangnya belakangan ini abang kurang olahraga. Makan juga kurang teratur. Perut abang jadi nggak seseksi dulu, deh," ujar Daiki sembari pura-pura cemberut.

"Dijaga dong badannyaaa." Taika merengek manja. "Biar abang nggak sakit."

"Yeee, biar nggak sakit apa biar kamu bisa lihat sambil senyum-senyum geje gini?" goda Daiki sambil menowel pipi Taika yang memerah.

"Itu juga, hahaha."

Daiki tertawa lepas, lalu memeluk Taika dan menjatuhkan dirinya ke samping, mengubah posisi mereka sehingga Taika ada di atas tubuhnya.

"Baang, ngapain sih gulung-gulung nggak jelas gini? Hahaha," tanya Taika sambil duduk di pinggul Daiki.

"Gapapa. Pengen seneng-seneng sama istri abang. Sama kali aja handukmu bisa lepas."

Wajah Taika langsung berubah semerah rambutnya. "Apa sih ah!" protesnya di tengah derai tawanya. Tangannya kembali naik menutupi dadanya yan sedikit terbuka.

"Yaaah … nggak boleh, ya?" tanya Daiki. Bibirnya mengerucut.

Taika menutup wajahnya malu. Aaah, suamiku imut banget sih!

Perlahan tangan Taika turun dari wajahnya. Daiki masih menatapnya dengan binar mata penuh harapan dan bibir yang melengkung ke bawah.

Taika menyerah. Tangannya turun dari dadanya. Dengan suara yang amat pelan dan pipi yang merona semerah mawar, Taika bertanya sambil memalingkan wajahnya. "Yang buka aku atau Abang?"