Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Yoongi POV

Jimin POV

Rate M!

Romance, Drama, Fluff

Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 12

YOONGI POV

Ini adalah hari kedua dimana aku bangun tanpa merasa sakit dan mual. Aku bahkan meminta Jin memasak bacon untuk mengujiku sebelum aku datang untuk shift makan siang. Kupikir jika aku bisa bertahan dengan bacon maka aku dapat melakukan ini. Perutku berputar dan aku merasa mual tetapi aku tidak muntah. Aku merasa lebih baik.

Aku menelepon Jungkook dan meyakinkan dia bahwa aku akan baik-baik saja. Dia mengatakan padaku untuk datang karena kami kekurangan staff dan dia membutuhkanku. Jokwon berdiri di dapur tersenyum lebar ketika aku berjalan masuk tiga puluh menit sebelum shift makan siang.

"Ini dia priaku. Senang mendengar mual di perutmu telah pergi. Pasti 'virus' itu sangat menyebalkan bukan? Percayalah aku tahu yang lebih buruk dari itu. Kamu terlihat seperti kehilangan berat badan, kau tahu kan kau perlu makan untuk… hm… kesehatanmu. Berapa lama kamu sakit?"

Jungkook telah mengatakan pada Jokwon untuk menjaga rahasiaku dan mengatakan kepada siapapun bahwa aku mendapat virus dan sedang dalam masa penyembuhan. Aku hanya bekerja dua shift selama penyajian dan aku tidak pernah pergi ke dapur staff ketika berada di kereta.

"Aku mungkin kehilangan sedikit berat badan. Aku yakin aku akan memperolehnya kembali sesegera mungkin," aku menjawab dan memeluknya.

"Lebih baik kamu begitu atau aku akan memasukkan donat-donat ke dalam tenggorokanmu sampai aku dapat membungkus tanganku di sekeliling pinggangmu dan jariku tidak bersentuhan."

Itu mungkin akan segera terjadi.

"Aku bersedia menerima donat yang enak sekarang juga."

"Oke, ini kencan kita. Setelah kerja. Kamu, aku, dan dua belas bungkus. Setengah dilapisi coklat," kata Jokwon dan menyerahkan celemekku.

"Kedengarannya bagus. Aku bisa sekalian datang melihat tempat baruku. Aku tinggal dengan Jin di kondo properti klub."

Alis Jokwon terangkat.

"Kamu tidak mengatakannya. Baiklah, baiklah, baiklah, tidakkah kamu merasa angkuh?"

Aku mengikat celemekku dan memasukkan pen dan buku kecil ke dalam kantong depanku.

"Aku mengambil giliran pertama jadi kamu menyiapkan salad dan membuat teh manis."

Jokwon berkedip,

"Setuju. Jangan berlari terlalu sering oke. Ingat kondisimu, Sayang."

Aku mengangguk lalu berjalan menuju ruang makan dan beruntungnya tamu yang ada hanya dua orang pria yang lebih tua yang pernah aku lihat sebelumnya tetapi aku tidak tahu nama mereka. Aku mencatat pesanan mereka dan menuangkan mereka dua cangkir kopi sebelum berjalan kembali untuk mengecek salad. Jokwon telah siap membuat dua salad untukku dan memegangnya ketika aku berjalan kembali ke dapur.

"Ini pesananmu, pria manis," katanya.

"Terima kasih, pria tampan," jawabku membawa salad itu ke ruang makan.

Aku mengantarkan salad dan mencatat pesanan minuman dari tamu baru. Kemudian aku kembali ke belakang untuk mendapatkan air soda mereka dan air segar dengan lemon. Tidak seorang pun yang pernah hanya memesan air di sini. Jokwon keluar dari pintu dapur ketika aku sampai di sana.

"Aku baru saja melihat dua orang wanita yang kelihatannya mereka kembali dari lapangan tenis. Aku pikir aku melihat Hyungsik... bukankah dia penyambut tamu hari ini? Ngomong-ngomong aku pikir aku melihatnya berbicara dengan beberapa tamu jadi harusnya ada meja yang menunggu untuk disapa."

Dia memberi hormat padaku dan berjalan kembali ke ruang makan. Aku menyelesaikan pesanan air spesial dengan cepat dan meletakkan dua pesanan sup kepiting dari seorang pria yang meletakkan pesanan pada nampanku kemudian kembali ke ruang makan ketika ekspresi panik di wajah Jokwon mengalihkan perhatianku.

"Aku ambil ini," katanya, meraih nampanku.

"Kamu bahkan tidak tahu dimana itu akan diletakkan. Aku dapat membawa nampan Jokwon," jawabku memutar mataku.

Dia tahu aku hamil dan dia menjadi konyol. Kemudian aku melihatnya... atau mereka. Jokwon tidak bertindak konyol. Dia melindungiku. Kepala Jimin miring ke depan saat dia berbicara tentang sesuatu yang menyebabkan ekspresi yang sangat serius di wajahnya. Pria di depannya itu tampan, memiliki tulang pipi yang sempurna. Mata yang lebar dan bulu mata panjang menghiasi mata gelapnya.

Aku merasa sakit. Nampanku bergetar dan Jokwon mengambilnya dariku. Aku membiarkannya. Aku hampir menjatuhkannya. Dia bukan milikku. Tetapi... aku mengandung bayinya. Dia tidak tahu. Tetapi... dia bercinta denganku, aku membuat dia bersetubuh denganku, di kamar mandi Jin hanya 3 hari yang lalu. Ini menyakitkan. Sangat buruk.

Aku menelan ludah tetapi tenggorokanku terasa hampir tertutup. Jokwon mengatakan sesuatu padaku tetapi aku tidak dapat mengerti dia. Aku tidak dapat melakukan apapun kecuali menatap mereka. Dia maju sangat dekat padanya seperti dia tidak ingin siapapun mendengar apa yang dia katakan. Matanya beralih dari mata Jimin dan tatapannya bertemu denganku.

Aku membenci perasaan ini. Aku pria yang menyedihkan. Yang butuh keluar dari neraka ini dan berhenti membuat sandiwara. Bahkan jika ini sandiwara diam, aku masih tetap berdiri membeku menatap mereka.

Dia mengamatiku dan kerutan kecil timbul di dahinya. Aku tidak ingin dia bertanya pada Jimin tentang aku dan menunjukku. Aku berputar balik dan melarikan diri dari ruang makan. Aku segera keluar dari pandangan tamu, aku memutuskan berlari dan berlari tepat menuju dada Jungkook yang keras.

"Wow... wow... sayang. Kemana arahmu berlari? Masih terlalu mual untukmu bekerja di dalam?" dia bertanya menaruh jarinya di bawah daguku dan memiringkan kepalaku ke atas jadi dia dapat melihat wajahku.

Aku menggelengkan kepalaku dan air mata terjatuh. Aku tidak ingin menangis soal ini, sialan. Aku yang meminta untuk itu. Aku yang mendorongnya pergi. Aku pergi darinya setelah seks yang menakjubkan. Apa yang aku harapkan? Bahwa dia akan duduk merindukanku? Sangat sulit.

"Aku minta maaf, Jungkook. Beri aku satu menit dan aku akan baik-baik saja. Aku janji padamu. Aku hanya butuh waktu untuk memulihkan diriku."

Dia mengangguk dan mengusap lenganku naik turun dengan cara yang nyaman.

"Apakah Jimin di sana?" dia bertanya dengan ragu-ragu.

"Ya," aku tersedak, mencegah air mata memenuhi mataku untuk mengalir.

Aku mengambil nafas dalam dan menghembuskannya. Aku tidak seharusnya melakukan ini. Aku harus mengontrol emosi gilaku.

"Apakah dia dengan seseorang?" tanya Jungkook.

Aku hanya mengangguk. Aku tidak ingin mengatakannya.

"Kamu ingin ke kantorku dan menenangkan diri sejenak? Menunggu sampai mereka pergi?"

Ya. Aku ingin bersembunyi darinya tetapi aku tidak bisa. Aku harus belajar untuk hidup dengan itu. Jimin akan berada di Busan untuk beberapa bulan. Aku harus belajar menerima itu.

"Aku bisa melakukannya. Itu hanya… mengejutkan. Itu saja."

Jungkook mengangkat tatapannya dariku dan ekspresi dingin muncul di wajahnya.

"Pergi. Ini bukan yang dia butuhkan sekarang," Jungkook berkata dengan nada yang benar-benar marah.

"Singkirkan tangan sialan-mu darinya," jawab Jimin.

Aku melangkah mundur dari pelukan Jungkook dan menjaga mataku tetap ke bawah. Aku tidak ingin melihatnya tetapi aku juga tidak ingin dia dan Jungkook berkelahi satu sama lain. Jungkook kelihatan siap untuk berkelahi untuk kehormatanku. Aku tidak tahu bagaimana Jimin terlihat karena aku tidak mengecek dan melihat.

"Aku baik-baik saja Jungkook. Terima kasih. Aku akan kembali bekerja," aku bergumam dan mulai berbalik menuju dapur.

"Yoongi, jangan pergi. Bicaralah padaku," ujar Jimin.

"Kamu sudah cukup melakukannya. Tinggalkan dia sendiri, Jimin. Dia tidak butuh ini darimu. Tidak sekarang," gertak Jungkook.

"Kamu tidak tahu apapun," Jimin menggeram dan Jungkook mengambil langkah ke arah Jimin.

Jungkook seperti akan mulai berkata tanpa berpikir bahwa aku hamil dan membuatnya sangat jelas bahwa dia tahu sesuatu atau dia mulai bersiap melayangkan tinju pada Jimin. Sekali lagi bagiku untuk menghentikan ini dan memperbaiki ini. Aku berbalik dan berdiri di depan Jimin. Aku menengadah pada Jungkook.

"Tidak apa-apa. Beri aku waktu satu menit dengannya. Semua akan baik-baik saja. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang salah. Aku hanya emosional. Itu saja," aku berkata padanya.

Rahang Jungkook menegang saat dia menggertakkan giginya. Menjaga mulutnya diam terbukti sulit baginya. Akhirnya dia mengangguk dan berjalan pergi. Aku harus menghadapi Jimin sekarang.

"Yoongi," kata Jimin dengan lembut saat tangannya meraih dan menggenggam tanganku.

"Tolong lihat aku."

Aku dapat melakukan ini. Aku harus melakukan ini. Aku berbalik membiarkan Jimin terus memegang tanganku. Aku seharusnya melepaskannya tapi aku hanya belum bisa. Aku telah melihatnya dengan pria yang mungkin menjaga tempat tidurnya tetap hangat pada malam hari ketika aku terus mendorongnya pergi. Aku kehilangan dia. Begitu juga bayi kami.

Tetapi kemudian... apakah kami pernah benar-benar memilikinya? Aku mengangkat mataku dan bertemu tatapan khawatirnya. Dia sepertinya tidak marah padaku. Aku mencintainya soal itu.

"Semua baik-baik saja. Aku bertingkah berlebihan. Aku hanya, um, terkejut dengan semuanya. Aku seharusnya tahu bahwa kamu telah melanjutkan hidup sekarang. Aku hanya…"

"Hentikan itu," Jimin memotong ucapanku dan menarikku padanya.

"Aku tidak pindah kemanapun. Apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan. Luhan adalah teman lama. Hanya itu. Dia tidak berarti bagiku. Aku datang untuk mencarimu. Aku butuh melihatmu dan aku pergi bermain golf. Kamu tidak ada di sana. Aku menghampiri Luhan dan dia menyarankan kami makan siang. Itu saja. Aku tidak tahu kamu bekerja di sini. Aku tidak pernah melakukan itu. Bahkan aku tidak melakukan apapun. Aku mencintaimu Yoongi. Hanya kamu. Aku tidak ingin siapapun. Aku tidak akan pernah bisa."

Aku ingin percaya padanya. Menjadi egois dan salah dimana aku ingin mempercayai dia mencintaiku tidak membutuhkan siapapun. Bahkan jika aku mendorongnya pergi dariku.

Aku berbohong padanya. Aku benci berbohong. Dia akan membenciku juga jika aku tidak segera memberitahunya. Aku tidak ingin dia membenciku. Tetapi aku tidak bisa mempercayainya.

Apakah berbohong membuat semuanya baik-baik saja? Apakah berbohong pernah baik-baik saja? Bagaimana bisa dia percaya padaku?

"Aku hamil."

Kata-kata itu keluar dariku sebelum aku menyadari apa yang aku lakukan. Aku menutup mulutku dengan ketakutan saat mata Jimin melebar. Kemudian aku berbalik dan berlari kencang.

.

.

.

JIMIN POV

Kakiku terpaku ke tanah. Bahkan saat aku melihat Yoongi lari dariku aku tidak dapat bergerak. Apakah aku baru saja bermimpi? Apakah itu halusinasi putus asa? Apakah aku bertambah buruk?

"Jika kau tidak pergi mengejarnya, aku yang akan melakukannya."

Suara Jungkook memecah pikiranku dan aku tersadar dari kabut keterkejutanku.

"Apa?" tanyaku, melotot padanya.

Aku membencinya. Memukul wajahnya adalah sesuatu yang aku bayangkan dengan tiba-tiba.

"Aku berkata, jika kau tidak mengejarnya, aku yang akan melakukannya. Dia membutuhkan seseorang sekarang. Aku sangat tidak ingin itu kau karena aku tidak berpikir kau tidak berhak mendapatkannya walaupun itu milikmu."

Apakah dia tahu bahwa dia hamil? Darahku mulai mendidih. Apakah dia mengatakan pada Jungkook bahwa dia hamil dan tidak mengatakannya padaku?

"Aku di sini saat pagi pertama dia mencoba untuk bekerja dan bau bacon membuatnya berjuang ke kamar mandi untuk muntah. Salah satu karyawan di sini yang adalah seorang Male-Pregnant menduganya dan memberitahuku. Jadi, ya aku sudah tahu. Singkirkan tatapan posesif gila dari matamu dan pergilah untuk mengejarnya," nada Jungkook memaksa dengan memuakkan.

"Dia sakit?"

Aku tidak tahu dia sakit. Dadaku sakit. Dia sakit sendirian. Aku meninggalkan dia sendirian dan dia menderita. Udara tidak masuk ke paru-paruku.

"Ya, kau sialan bodoh, dia sakit. Itu terjadi pada situasinya. Tetapi dia sudah lebih baik. Sekarang aku akan pergi dan mengejarnya. Menyingkirlah," Jungkook memperingatkan.

Aku mendadak berlari. Tidak sampai aku keluar dari gedung di bagian belakang dan melihat ke bukit di mana aku menemukannya. Dia masih berlari. Menuju ke kondo. Dia kembali ke tempatnya. Aku mengejarnya. Dia hamil. Bolehkah dia berlari seperti ini? Bagaimana jika itu buruk untuk bayi kami? Dia harus pelan-pelan.

"Yoongi, berhenti. Tunggu," aku berteriak ketika aku cukup dekat.

Dia melambat dan akhirnya berhenti saat aku menangkapnya.

"Aku minta maaf," dia terisak dengan wajahnya di tangannya.

"Untuk apa kau minta maaf?" tanyaku, menutup jarak di antara kami dan menarik dia kepadaku.

Aku tidak khawatir tentang menakutinya lagi. Aku tidak akan membiarkan dia pergi kemanapun.

"Ini. Segalanya. Kehamilanku," bisiknya, kaku di lenganku.

Dia minta maaf. Tidak. Dia tidak seharusnya meminta maaf untuk itu.

"Kau tidak punya apapun untuk dimaafkan. Jangan pernah meminta maaf padaku lagi. Apa kau mendengarku?"

Beberapa tekanan pada tubuhnya mereda dan dia bersandar padaku.

"Tetapi aku tidak memberitahumu."

Tidak, dia tidak memberitahu tetapi aku mengerti. Itu menyakitkan tetapi aku mengerti.

"Aku berharap kau melakukannya. Aku tidak seharusnya membiarkanmu sakit sendirian. Aku seharusnya menjagamu. Aku akan menjagamu sekarang. Aku akan siap untuk itu. Aku janji."

Yoongi menggelengkan kepalanya dan menjauh dariku.

"Tidak. Aku tidak bisa. Kita tidak bisa melakukan ini. Aku tidak memberitahumu karena suatu alasan. Kita... kita perlu bicara."

Aku akan menjaganya dan dia tidak meninggalkanku. Tetapi jika dia perlu bicara soal ini maka aku akan membiarkannya.

"Oke. Ayo pergi ke tempatmu karena kita sudah dekat."

Yoongi mengangguk dan berbalik berjalan menuju kondo tempat dia berlari sebelumnya. Namjoon telah mengatakan pada Jungkook untuk membiarkan mereka tinggal di sana dengan harga sewa yang sama dengan apartemen lama Jin. Dia pikir Jungkook berpikir untuk menggunakannya untuk menghindari pajak atau sesuatu.

Aku mengerti sekarang. Dia melakukannya untuk Yoongi. Dia melindunginya. Sekarang tidak lagi. Aku melindungi apa yang menjadi milikku. Aku tidak butuh Jungkook melakukannya.

Aku akan berbicara dengan Jungkook nanti tetapi aku akan membayar dengan nilai sebenarnya untuk menyewa tempat ini. Jungkook tidak perlu melindungi Yoongi. Dia milikku.

Aku memperhatikan saat dia membungkuk dan mengambil kunci dari bawah keset kaki. Itu menjadi tempat persembunyian terburuk yang pernah ada untuk sebuah kunci. Aku akan membicarakan itu juga nanti.

Aku tidak akan bisa tidur pada malam hari kalau tahu dia mempunyai kunci yang diselipkan di bawah keset kaki di pintu depan untuk siapapun yang masuk. Yoongi membuka pintu dan melangkah mundur.

"Ayo masuk."

Aku melangkah masuk dan memegang tangannya saat aku melewatinya. Dia mungkin ingin memberitahuku semua alasan kami tidak dapat bersama tetapi aku akan menyentuhnya ketika dia berbicara. Aku perlu tahu bahwa dia baik-baik saja. Menyentuhnya membuatku tenang.

Dia menutup pintu dan membiarkanku menariknya ke sofa. Aku duduk dan menariknya turun ke sampingku. Aku ingin meletakkannya ke pangkuanku tetapi kekhawatiran, gugup yang terlihat di wajahnya menghentikanku. Dia butuh berbicara dan aku akan membiarkannya.

"Aku seharusnya mengatakannya padamu. Aku minta maaf aku tidak melakukannya. Aku ingin, mungkin bukan dengan cara aku melakukannya sekarang tetapi aku ingin memberitahumu. Aku hanya butuh waktu untuk memutuskan kemana aku pergi selanjutnya dan apa yang aku lakukan dengan hidupku. Aku ingin menabung dan memulai kehidupan baru di suatu tempat. Untuk bayi ini. Tetapi aku ingin memberitahumu."

Dia ingin memberitahuku dan kemudian meninggalkanku? Perasaan panik menyerangku. Dia tidak boleh melakukan itu.

"Kau tidak bisa meninggalkanku," kataku sedatar yang aku bisa.

Dia perlu mengerti itu. Yoongi menjatuhkan tatapannya dariku dan melihat tangan kami. Aku mengaitkan jariku padanya. Hanya itu yang dapat menjagaku tetap tenang saat ini.

"Jimin," katanya dengan lembut.

"Aku tidak ingin bayiku merasa tidak diinginkan. Keluargamu...," dia terputus dan wajahnya menjadi semakin pucat.

"Keluargaku akan menerima apa yang aku katakan pada mereka untuk diterima. Jika mereka tidak bisa aku akan membawamu dan bayiku dan meninggalkan mereka untuk membayar tagihan sialan mereka sendiri. Kau yang utama, Yoongi."

Dia menggelengkan kepalanya dan menarik tangganya dariku saat dia berdiri.

"Tidak. Kau mengatakan itu sekarang tetapi itu tidak benar. Itu tidak benar sebulan yang lalu dan itu tidak benar sekarang. Kau akan selalu memilih mereka dibanding aku. Atau setidaknya kau akan memilih Taehyung dan itu tidak apa apa. Aku mengerti, aku hanya tidak bisa hidup dengan itu. Aku tidak dapat tinggal di sini."

Tidak memberitahunya soal ayahnya yang menghantuiku selama sisa hidupku. Kebutuhanku untuk melindungi Taehyung mengacaukan satu-satunya hal penting untukku. Aku berdiri dan berjalan ke arahnya saat dia mundur sampai dia mengenai dinding.

"Tidak. Satupun. Sebelum. Kau."

Matanya berkaca-kaca dengan air mata yang tertahan dan dia menggelengkan kepalanya. Aku benci bahwa dia tidak dapat percaya padaku.

"Aku mencintaimu. Ketika kau masuk ke dalam hidupku aku tidak tahu kamu. Taehyung adalah prioritas pertamaku. Tetapi kau mengubah itu. Kau mengubah segalanya. Aku ingin memberitahumu tetapi ibuku pulang terlalu cepat. Aku ketakutan sampai mati untuk kehilanganmu karena aku akan kehilangan dirimu bagaimanapun juga. Tidak ada apapun yang menjauhkanmu dariku lagi. Aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membuktikan padamu bahwa aku mencintaimu. Kau dan bayi ini…,"

Aku menyentuh perut ratanya dan dia gemetar,

"Adalah yang pertama, yang terutama."

"Aku ingin percaya padamu," dia berkata dengan terisak.

"Biarkan aku membuktikannya padamu. Meninggalkanku tidak akan membuatku membuktikan apapun. Kau harus tinggal denganku, Yoongi. Kau harus memberiku kesempatan."

Air mata turun dan bergulir ke wajahnya.

"Aku akan menjadi besar dan gemuk. Bayi menangis sepanjang malam dan mereka menghabiskan uang. Aku tidak akan sama lagi. Kita tidak akan sama lagi. Kau akan menyesalinya."

Dia benar-benar tidak mengerti. Tidak peduli berapa kali aku memberitahunya, dia tidak akan percaya padaku. Dia kehilangan setiap orang yang dia cintai dan percayai dalam hidupnya. Mengapa dia harus percaya padaku? Satu-satunya pria dalam hidupnya meninggalkannya. Mengkhianatinya. Dia tidak mengharapakan yang lainnya.

"Bayi ini membawamu kembali padaku. Ini bagian dari kita. Aku tidak akan pernah menyesalinya. Dan kau bisa berubah sebesar boneka kumamon dan aku akan selalu mencintaimu."

Sebuah senyum kecil menghiasi bibirnya.

"Aku lebih baik tidak menjadi sebesar kumamon."

Aku mengangkat bahu.

"Tidak masalah."

Senyum kecilnya hilang dengan cepat.

"Adikmu. Dia akan membenci ini. Aku. Bayi ini."

Aku akan berbicara dengan Taehyung. Jika dia tidak dapat menerimanya maka aku akan membawa Yoongi dan kami akan pergi ke suatu tempat yang jauh dari adikku. Yoongi sudah cukup putus asa. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukainya.

"Percaya padaku untuk melindungimu dan mengutamakanmu."

Yoongi menutup matanya dan kemudian mengangguk. Dadaku mengembang dan aku ingin berteriak pada dunia bahwa pria ini milikku. Tetapi aku lebih memilih menggendongnya.

"Dimana kamar tidurmu?" tanyaku.

"Kamar terakhir di kiri."

Aku berjalan ke sana. Aku tidak akan bercinta dengannya sekarang tetapi aku perlu memeluknya sebentar. Aku mendorong pintu terbuka dan aku membeku. Kamar tidur dengan ukuran yang nyaman untuk kondo tetapi selimut di lantai dengan satu bantal baru saja mengejutkanku.

Ketika aku memindahkan mereka aku tahu Yoongi tidak punya tempat tidur. Dia tidur di sofa. Tetapi aku begitu terfokus untuk mendapatkan dia kembali jadi aku tidak berpikir bahwa dia butuh tempat tidur.

"Aku belum mendapat tempat tidur. Aku dapat tidur di sofa tetapi aku ingin tidur di kamarku sendiri." Yoongi bergumam, mencoba turun dari lenganku.

Aku tidak akan membiarkannya pergi. Aku memegangnya lebih erat. Dia tidur di lantai yang keras kemarin malam ketika aku tidur di tempat tidurku yang berukuran king size. Sialan.

"Kau berguncang, Jimin. Turunkan aku," kata Yoongi, menarik lenganku.

Tanpa menurunkannya, aku berbalik dan berjalan kembali ke ruang tamu, kemudian keluar dari pintu. Membanting pintu di belakangku, aku menguncinya dan menyimpan kunci di sakuku. Aku tidak menyelipkannya kembali ke bawah keset kaki sialan itu.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Yoongi.

Mobilku tidak di sini. Jadi aku membawanya turun ke bukit dan menuju Roverku.

"Aku membawamu untuk mendapatkan tempat tidur. Tempat tidur sialan yang besar. Salah satu yang mahal," aku menggeram.

Aku marah bahwa aku melupakan satu hal yang utama. Itu bukan kekhawatiran Jungkook telah menjaganya. Aku telah gagal. Aku tidak ingin gagal dengannya lagi. Aku akan memastikan dia memiliki semuanya.

"Aku tidak butuh tempat tidur yang mahal. Aku akan mendapatkan tempat tidur segera."

"Ya, benar-benar segera. Malam ini," jawabku kemudian memiringkan kepalaku dan mencium hidungnya.

"Biarkan aku melakukan ini. Aku perlu melakukan ini. Aku perlu kau berbaring di tempat tidur terbaik yang dapat dibeli dengan uang. Oke?"

Senyuman kecil menghiasi bibirnya.

"Oke."


-TBC-

[Finally Jimin tau Yoongi hamil hehehe...]

[Gimana moment Jimin tau n bicara serius soal Yoongi n bayi mereka yang utama? Huaaa... aku nulis ini sambil baper n sudut mata agak basah *bukan cengeng plz* :p]

[Seperti yg aku selalu blg ini ff anak emasku, liat moment ini rasanya ky jadi emak minyoon haha... uda mulai kecium kan alur happy fluffynya? walo masih ada beberapa ganjelan *taehyung ehm*]

[So sori kali ini without preview, karena mmg br mentok chapter 12 ini hehe... next akan diusahakan lebih prepare utk format yg uda ada /maapkan]