standard disclaimer applied
Crybaby
.
Part XII
.
Minseok terbangun dari tidurnya secara natural dan nyaman, perlahan ia bangkit dan duduk diatas ranjang dengan sebelah tangan yang terangkat untuk mengucek-ucek matanya yang masih merasa lelah. Saat kesadarannya sudah sepenuhnya ada, Minseok menatap ke sekeliling dan menemukan bahwa interior yang ada di kamar yang menjadi tempatnya tidur saat ini sangat berbeda dengan interior kamarnya. Kamar ini memiliki kesan maskulin yang kuat dengan desain simple dan cat tembok bernada monokrom, benar-benar berbeda dengan kamar Minseok yang memiliki kesan lembut serta tenang dengan cat tembok berwarna biru langit. Secara mendadak Minseok tersentak dalam posisi duduknya, kesadaran sudah berhasil menghampirinya. Minseok sangat tahu betul kamar siapa yang ia tempati saat ini, apalagi dengan fakta bahwa terdapat fotonya dengan sang pemilik kamar pada bingkai sederhana yang ada di atas nakas.
Ini kamar Lu Han.
Oh, tidak.
Itu artinya Minseok sedang berada di apartement pemuda bermarga Lu itu sekarang
Sekarang bagaimana Minseok menghadapi ini semua?
Terdengar suara seseorang yang meringis pelan, pelakunya tentu saja Minseok yang sekarang malah mengenakan selimut yang ada diatas ranjang sebagai tudung kepalanya. Minseok juga dengan pelan bergerak untuk menempelkan punggungnya pada kepala ranjang yang menyentuh tembok lalu menghadap kesamping untuk membelakangi pintu kamar, ia mengigit bibir bawahnya dengan gemas karena merasa cemas. Dia sekarang berada di apartement Lu Han, artinya pemuda dengan arti nama Dawn Deer itu pasti sedang ada disini dan mungkin dalam hitungan detik ia akan masuk ke kamar lalu mereka akan saling bertatap muka. Minseok semakin cemas, apa yang harus ia lakukan? Bagaimana jika ia nanti malah lepas kendali dan menangis dengan keras seperti saat mereka berada di cafe tadi?
Tiba-tiba Minseok merasakan bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam kamar, ia yakin sekali pastilah seseorang itu adalah Lu Han.
"Kamu baik-baik saja?" Suara Lu Han terdengar begitu lembut, bahkan ia juga berusaha membuka pintu sepelan mungkin agar tidak mengejutkan Minseok.
Minseok gemetar, tidak berani menoleh.
"Kamu belum makan, kan? Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Mau makan sekarang?"
"Minseok-ah?" Lu Han mendekatkan dirinya, duduk ditepi ranjang, dan menatap dengan dalam pada punggung Minseok yang tertutup oleh selimut. "Kamu marah karena aku bawa kemari tanpa persetujuanmu?"
Lu Han menghela napas pelan lalu mencoba membujuk belahan jiwanya itu lagi, "Minseok-ah, kamu sungguh ingin mendiamkan aku seperti ini terus?"
"Hiks...," Minseok menangis dalam diam.
"Uljimayo..., maaf aku tidak bisa menghapus air matamu selama ini," kata Lu Han yang memilih memutari ranjang lalu duduk disamping Minseokㅡyang ada disisi ranjang lainnyaㅡsambil dengan penuh sayang menghapus tetesan air mata itu.
"Aku benci kamu...," kata Minseok dengan pelan karena tertahan oleh suara isakan yang mulai keluar.
"Kenapa?" Lu Han masih setia menghapus semua tetesan air mata yang menutupi wajah manis Minseok.
"K-Kamu..., memutuskanku begitu sajaㅡhiks," Minseok menatap sedih Lu Han. "Tapi kamu tetap be-bersikap baik padaku. Hiks, dasar jahat."
Lu Han hanya diam menyimak.
"Sebenarnya, hiks, apa mau mu?" Minseok menuntut penjelasan. "Kenapa kamu menyaㅡ"
Kedua mata Minseok melebar, tidak percaya dengan tindakan Lu Han yang dengan tenangnya mencium bibirnya untuk membuatnya berhenti bicara. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka melakukan hal iniㅡberciuman, jauh dilubuk hatinya Minseok sungguh merindukan perasaan berdebar-debar yang sangat nyaman setiap kali bibir tipis itu bersentuhan dengan bibirnya. Minseok kembali tersentak saat tangan Lu Han menahan lehernya, membawanya kedalam ciuman yang lebih panas dan penuh gairah. Sadar bahwa ia tidak busa menolaknya, Minseok pun memejamkan kedua matanya seperti Lu Han dan mulai menikmati permainan yang ditawarkan oleh sang dominan.
Perlu waktu sekitar sepuluh menit sebelum akhirnya Lu Han melepaskan pangutan mereka. Wajah Minseok terlihat begitu merah seperti bunga mawar dan napasnya terlihat tidak beraturanㅡsepertinya ia hampir kehabisan napas karena ciuman tadi. Seutas jembatan salivaㅡyang entah milik siapaㅡterlihat menghubungkan kedua bibir milik Lu Han dan Minseok yang hanyak berjarak lima sentimeter sekarang. Lu Han menyeringai tipis saat menemukan wajah manis kekasihnya itu menjadi sangat mengoda dimatanya, Minseok sendiri malah kembali mengalami konflik batin setelah menyadari apa yang baru saja ia dan Lu Han lakukan.
"K-Kenapa kamu menciumku?!" tanya Minseok dengan gugup dan menjauhkan wajahnya begitu Lu Han hendak menghapus benang saliva disudut bibirnya.
"Kenapa aku tidak boleh mencium kekasihku sendiri?"
"Hah?"
Lu Hn dengan gemas mencubit ujung hidung Minseok pelan, "Minseok-ah, kamu terlalu sering bergaul dengan Zitao sepertinya. Kamu jadi sangat pesimis sekarang."
"Aku tidak pernah ingat memutuskanmu, karena aku tahu aku tidak akan sebodoh itu untuk melepaskanmu dengan begitu mudah. Jangan menyimpulkan semuanya sendiri. Aku tidak akan mengerti jika kamu tidak mengatakannya kepadaku," sambung Lu Han yang kali ini mencubit kedua pipi Minseok.
"Kamu hanya salah paham." Lu Han mencium kening Minseok dengan lembut. "Bahkan jika suatu saat aku memintamu untuk berhenti menjadi kekasihku, maka saat itu aku tengah memintamu untuk menjadi pasangan hidup dan matiku."
"Lu Han?" Minseok masih belum terlalu mengerti.
"Aku akan menjelaskannya nanti, dan kali ini kamu harus menyimpulkannya dengan benar," kata Lu Han sambil memberikan seulas senyuman yang begitu santai.
"Baiklah...," Minseok hanya bisa setuju, setidaknya dia sudah mulai memahami bahwa sebenarnya hubungannya dengan Lu Han tidaklah kandas melainkan hanya sebuah salah paham karena ia salah mengambil kesimpulan.
"Ngomong-ngomong Minseok, aku membeli sebuah cincin." Lu Han secara tiba-tiba mengenakan sebuah cincin pada salah satu jemari Minseok, mengabaikan reaksi kaget dan tidak percaya yang di tunjukan oleh sang kekasih hati. "Tapi sekarang, aku akan memerlukan tanda tanganmu nanti."
"Untuk apa?"
"Untuk melengkapi buku nikah kita." Dengan cepat Lu Han mencuri sebuah ciuman singkat dari bibir Minseok. Membuat yang dicium menjadi merona seperti apel dan mengembungkan pipinya sebal, mereka belum sepenuhnya menyelesaikan masalah yang ada tapi Lu Han sudah mengoda Minseok terlalu banyak.
.
.
.
.
.
Pagi yang cerah di ruang rapat organisasi siswa telah terjadi sebuah perbincangan santai yang dilakukan oleh organisasi-tidak-jelas yang pagi ini semua anggota tidak memiliki kelas sehingga mereka memutuskan untuk memgadakan perkumpulan untuk kembali membahasㅡmenebak apa saja yang terjadi kemarin di apartement Lu Hanㅡyang topik bicara mereka malah menjadi keluar jalur dan menimbulkan pertanyaan random dari masing-masing orang. Salah satunya adalah Baekhyun yang tiba-tiba beetanya disaat mereka tengah asik menikmati teh yang disajikan dengan sepiring kue kering bertabur chocochips.
"Hei, siapa yang paling pesimis dalam kelompok kita?"
"Kupikir itu Zitao, dia yang paling sering takut akan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi," jawab Kyungsoo.
"Ya, itu benar." Semua orang ㅡkecuali Zitaoㅡdi ruangan itu ikut mengangguk setuju.
"Tapi, kenapa kamu tiba-tiba membahas ini Baekhyun-ah?" tanya Junmyeon.
Baekhyun tersenyum kecil lalu melambaikan tangannya, "Tidak ada, hanya sebuah pertanyaan random."
"Pertanyaan itu memang random, tapi aku bisa merasakan ada sesuatu...," sahut Yifan yang menatap tajam kearah Baekhyun.
"Ah, kurasa mungkinkah karena Minseokie-hyung mendadak menjadi pesimis?" tebak Jongdae.
"Benarkah begitu?" tanya Chanyeol yang mewakili semua teman mereka untuk mendapatkan kepastian.
"Yah, begitulah. Aku sempat berpikir bahwa aku lah yang membuat Minseok-hyung jadi pesimis dan aku tidak mau sampai terkena omelan dari Lu Han-hyung untuk kesekian kalinya," jelas Baekhyun sambil menunjukkan cengiran lebar.
"Jadi kamu senang jika aku yang mendapat omelan begitu?!" seru Zitao tidak terima, dia bahkan lebih tidak terima karena disebut sebagai orang pesimis.
"Lu Han-hyung tidak akan mengomelimu, Zitao...," sahut Jongin dengan tenang. "Karena tidak ada yang pernah pasti bisa mengomelimu, bahkan kamu berani mengabaikan kata-kata Yifan-hyung."
"Ngomong-ngomong, apakah Lu Han-hyung dan Minseok-hyung sudah baik-baik saja?" Kyungsoo mengingatkan masalah mereka.
Semua orang saling berpandangan sebelum larut oleh pikiran masing-masing, ini adalah pertanyaan yang belum diketahui jawaban pastinya. Kenapa? Karena mereka belum melihat batang hidung dari Lu Han maupun Minseok pagi ini, padahalㅡsetahu merekaㅡMinseok mempunyai kelas pagi hari ini kecuali jika sang dosen mengubah jadwal tersebut. Padahal mereka sudah bersabar selama semalaman menunggu hari ini untuk menyaksikan apa yang akan terjadi mengingat terdapat dua pilihan, hubungan Lu Han dan Minseok menjadi kembali membaik atau mungkin semakin menjadi lebih buruk. Sepertinya mereka semua diam-diam sedikit berharap bahwa hubungan Lu Han dan Minseok benar-benar kandas karena bisa-bisanya memikirkan hubungan kedua hyung tertua mereka untuk getting worse.
"Profesor Kim sudah datang, bukankah itu harusnya kelas Minseok-hyung akan segera dimulai?" kata Yixing yang tidak sengaja melihat Profesor Kim dari balik jendela.
"Minseok-hyung tidak pernah meninggalkan kelas dalam kondisi apapun!" pekik Baekhyun yang tidak percaya bahwa Minseok masih tidak terlihat dikawasan kampus.
"Hey, are you thinking what I'm thinking?" tanya Yifan sambil tersenyum penuh makna.
"Aaaah...," Semua orang mengambil satu suara sambil menganggukan kepala masing-masing lalu menunjukkan ekspresi wajah yang seakan-akan berkata I-know-what-you-mean-dude.
"Oh, hentikan semua pikiran kotor kalian!"
.
.
.
.
.
Finish
.
.
.
.
.
or
.
.
.
.
.
you want more?
Hunshine Delight's Note :
Aku pikir ini sudah saatnya Crybaby untuk selesai ㅠㅠ menurutku masalah utamanya juga sudah selesai meski tersirat. Tapi, kembali melihat apresiasi dari kalian apakah ingin ini berlanjut atau tidak. Kalau pun berlanjut mungkin hanya akan menambahkan beberapa chapter (atau bahkan hanya satu chapter) yang berfokus dengan adegan mesra-mesraannya LuMin ㅇㅅㅇ
Lagian, aku juga sudah menyiapkan cerita pendek selingan lainnya. Do you want it? ;)
thank you for reading
xoxo,
hunshine delight
