Surrender To Love (REMAKE)

KaiSoo Version

.

.

Original Story by. R.K Tirta

.

.

Cast :

Jongin

Kyungsoo (GS)

Other Cast (Temukan sendiri ^^)

.

.

Genre :

Romance, Mature

.

.

Bab 15

.

.++

Antonietta Arrigo atau Do Leeteuk, janda mendiang Fidel Janus Do, Ayah Kyungsoo dan Luhan. Wanita paruh baya mungil dan cantik, masih terlihat menarik di usianya yang tak lagi muda. Dia menjabat tangan Jongin dengan hangat dan saling memperkenalkan diri. Leeteuk tak terlalu terkejut menyaksikan Kyungsoo pulang di antar oleh seorang pria asing. Chanyeol telah menyampaikan hal itu kepadanya beberapa jam sebelumnya. Hanya sedikit merasa terkejut bahwa pria itu ternyata adalah seorang yang sangat menarik. Pria dewasa dengan segala aura maskulin yang kelak menurun pada genetik salah satu cucunya. Bukan seperti cerita Kyungsoo, bahwa Jongin adalah seorang yang keras dan cenderung kejam. Putrinya itu hanya melebih-lebihkan. Tak sulit untuk langsung menyukai sosoknya yang agak pendiam, namun sopan dan terpelajar itu. Hati nurani tua-nya mengatakan pria itu adalah seorang yang baik.

Leeteuk menawarkan sebuah kamar kosong di pavilliun untuk Jongin bermalam, sebelum kepulangannya besok kembali ke London.

Baru kali ini Jongin merasakan tidur nyenyak tanpa sekalipun terbangun gelisah di tengah malam. Tersenyum seperti seorang bocah yang sedang jatuh cinta. Merasa tenang karena keberadaan Kyungsoo yang hanya berjarak beberapa meter jauhnya.

.

.

.++

Keesokkan paginya. Kegiatan sarapan adalah salah satu hal yang menarik untuk dilakukan di perkebunan anggur Do. Ia berpikir mereka hanya akan sarapan bertiga, seperti makan malam mereka semalam.

Leeteuk dan Kyungsoo justru menggiring Jongin, ke sebuah ruangan di samping rumah, yang menyerupai sebuah kantin di asrama sekolah. Di mana beberapa meja kayu panjang, berlapis kain polos merah tua, terlihat berbaris, berbanjar-banjar, memenuhi bagian tengah ruangan. Hampir sebagian besar pekerja sarapan dan juga makan siang dari makanan yang disediakan oleh perkebunan, dan itu telah berlangsung selama puluhan tahun.

"Maaf, jika ini membuat selera makanmu hilang anak muda. Mereka adalah bagian dari kehidupan kami." Jelas Leeteuk.

"Tak masalah Signora*. Ini menarik, dan kebetulan saya terbiasa makan di mana saja. Asalkan makanan itu membuat perut saya kenyang." Gurau Jongin rendah hati.

"Syukurlah kalau begitu, dan tolong Leeteuk saja."

Jongin tersenyum canggung pada peringatan Leeteuk, ini kedua kalinya, sejak semalam wanita itu memintanya memanggil nama depannya saja, untuk lebih mengakrabkan diri, dan Kyungsoo hanya mengangkat bahu sambil menyeringai polos kepadanya.

"Apa yang kalian inginkan untuk sarapan kali ini Signora?" Seorang pelayan menghampiri meja mereka.

"Apapun yang terbaik, yang kau punya untuk hari ini Suho." Pesan Leeteuk pada pria bertubuh tambun dengan jambang lebat, namun kepala botak dan hanya ditumbuhi sedikit rambut di atas kepalanya.

Selang beberapa menit kemudian Suho telah kembali bersama beberapa orang rekannya. Menyajikan Lasagna, pada tiga buah piring, berbagai macam roti kosong di dalam sebuah keranjang, yang mereka sebut cornetto. Itu sama persis seperti croissant di negaranya. Dan tak ketinggalan kopi, yang selalu menjadi minuman wajib bagi bangsa Italia. Terutama untuk sarapan di pagi hari.

Suasananya ramai dan juga hangat, dimana mereka semua dapat bertukar cerita dan kelakar dengan bebas. Benar- benar menyenangkan. Suasana hangat yang hampir tak pernah Jongin rasakan sebelumnya.

.

.

.++

Jongin berpamitan pada Leeteuk dan Kyungsoo sebelum tengah hari. Kendati ingin tinggal lebih lama, pria itu benar-benar tak dapat menikmati harinya dengan baik. Sementara ponselnya terus berdering. Denyut bisnis telah berdetak menuntut perhatian darinya semenjak ia membuka mata.

Dengan langkah berat Kyungsoo mengiring langkah pria itu menuju SUV-nya. Mereka berpelukan erat seolah tak akan bertemu lagi. Saling berpagut, lama, seolah tak ada lagi hari esok. Sampai mereka berdua benar-benar kehabisan nafas, dan ciuman panjang berganti menjadi kecupan-kecupan kecil dan basah yang menimbulkan bunyi berisik bagi siapa saja yang mendengarnya.

Kyungsoo merona malu pada perbuatan mereka, dan mulai menarik diri menjauh. Untuk terakhir kalinya Jongin mencium gelombang lembut di perut Kyungsoo, kemudian di keningnya, sebelum akhirnya membuka pintu mobil dan bersiap meluncur pergi.

"Hati-hati. Kabari aku ketika kau sampai." Pesan Kyungsoo sungguh-sungguh.

"Tentu sayang! Dan kau juga harus menjaga dirimu baik-baik, dan tidak boleh berkuda." Pesan Jongin, mengingatkan Kyungsoo tentang hal yang baru beberapa menit yang lalu ia ketahui dari Leeteuk. Bahwa Kyungsoo sangat menyukai berkuda.

"Akan kuingat." Janji Kyungsoo seolah bersungguh-sungguh. Tapi Jongin tak merasa yakin Kyungsoo akan menepati janjinya.

Diiringi lambaian tangan Kyungsoo di atas bukit Jongin memacu kendaraannya meninggalkan perkebunan anggur keluarga Do. Kendati Kyungsoo telah memaafkannya tapi bukan berarti wanita itu bersedia mengikuti Jongin untuk kembali ke London seperti keinginannya.

Masih ada hari esok untuk membicarakan itu lagi, yang terpenting Jongin sudah menemukan Kyungsoo. Mungkin setelah bayi mereka lahir, Kyungsoo akan berubah pikiran, dan bersedia kembali ke London bersamanya. Ia Melirik kaca spion di sebelahnya. Bayangan tubuh Kyungsoo semakin menjauh, terlihat kecil, berada di puncak bukit, masih berdiri di tempat yang sama seperti terakhir kali Jongin meninggalkannya. Tiba-tiba perasaan kecewa dan sedih menyelusup ke dalam relung jiwanya tanpa dapat ia cegah. Membuat Jongin perlu menarik nafas dan menghembusnya kuat, untuk membebaskan sesak yang terasa menghimpit dadanya.

Sudahlah Jongin! Ini hanya sementara. Kau bisa datang dan bertemu dengannya kapan saja, yang terpenting kau telah menemukan Kyungsoo. Hibur kata hatinya pada diri sendiri.

Sementara Kyungsoo baru beranjak dari tempatnya, ketika seekor laba-laba hitam yang cukup besar tiba-tiba saja berada di depan ujung sepatunya. Kyungsoo tersurut mundur. Terkejut oleh penampakkan binatang yang dianggap sakral di daerahnya tersebut. Bahwa jika kita melihat laba-laba hitam di pagi hari, maka akan terjadi kesialan, tapi jika kita melihatnya malam hari maka justru sebaliknya kita akan mendapat keuntungan ataupun kebahagiaan. Sebenarnya Kyungsoo tak mempercayai mitos yang masih kental berkembang di daerahnya itu. Tapi entah mengapa tiba-tiba saja angannya melayang pada Jongin dan titik kecil mobilnya nun jauh di bawah sana.

.

.

.++

Siapa sangka cuaca cerah dan berangin itu kemudian berubah mendung disusul hujan dan badai hanya dalam waktu tiga jam setelahnya, dan berakhir dengan badai dahsyat yang menyelimuti hampir sebagian Italia tengah. Hujan dan badai masih belum juga reda sampai beberapa jam berikutnya.

Awal November, bukan hal yang aneh memang, karena musim hujan selalu datang lebih cepat di negara mereka, dan tak ada yang perlu dia cemaskan seandainya saja Jongin tidak dalam perjalanan menuju London dari Pisa, ditambah firasat dan kegelisahan yang semenjak tadi terus menghantui benak Kyungsoo.

Kyungsoo menyeret-nyeret langkah kakinya, memandang hujan laksana kabut putih yang menyelimuti seluruh permukaan perkebunan anggur di bawahnya. Cahaya putih membelah langit, diikuti suara menggelegar, memekakan telinga.

Ibunya telah kembali, dan kini bersandar pada salah satu sofa tinggi berukir yang tua, tempat di mana dulu ayahnya menghabiskan banyak waktunya untuk berpikir sembari menikmati pemandangan di bawah bukit.

Perempuan tua itu berusaha mengerti kegelisahan putrinya, menanti kabar dari Jongin. Semestinya jika Jongin hanya mampir sejenak ke hotel barunya di desa, kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Pisa, kembali ke Hotel tempat ia bermalam sebelumnya untuk check out. Setelah itu langsung menuju Bandara Internasional Galileo Galilei yang jaraknya cukup dekat dengan hotel yang disewanya. Berarti saat ini Jongin tengah terjebak badai. Itu uraian pemikiran Kyungsoo.

Dua jam setelahnya, saat hujan mulai reda, Kyungsoo masih saja berkutat dengan kecemasannya.

Apakah pesawat yang ditumpangi Jongin sedang terjebak badai? Jadwal penerbangan Jongin adalah jam dua siang, dan ini hampir pukul lima, waktu setempat. Sedikitnya dua jam lima belas menit dari Pisa ke London. Seharusnya Jongin telah sampai ditempat tujuan. Tapi kenapa tak segera menghubungi Kyungsoo, atau sekedar pesan, seperti yang Jongin janjikan.

Kyungsoo terus menghitung perkiraan waktu dengan perasaan mual dan pusing. Keringat dingin mulai melembabkan keningnya, tampak berkilau di antara helaian rambut di pelipis Kyungsoo. Semua itu tak luput dari perhatian Leeteuk.

"Duduklah Kyung, semua tingkahmu itu bahkan tak akan mengubah waktu sedikitpun, yang bisa kau lakukan hanya menunggu dan mulailah berdoa." Perintah Ibunya.

Kyungsoo terkesiap dari kekalutan pikiran yang melingkupi dirinya, sampai-sampai ia hampir tak menyadari jika ibunya-pun semenjak tadi berada di ruangan yang sama dengannya.

"Maafkan aku Mama, tapi sungguh aku tak dapat mengenyahkan perasaan tak nyaman yang terus menghantui pikiranku ini semenjak keberangkatannya. Aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi pada Jongin." Tak dapat menahan isaknya, Kyungsoo menghambur memeluk lutut ibunya.

Leeteuk merasa terenyuh menyaksikan kecemasan Kyungsoo. Ia tahu putrinya benar-benar mencintai Jongin, dan begitu pula sebaliknya.

"Sudahkah kau mencoba menghubunginya?"

"Tidak terhubung, bukankah itu berarti dia masih di dalam pesawat? Jongin selalu menyalakan teleponnya ketika mendarat, dan seperti janjinya, dia akan segera meneleponku begitu dia turun dari pesawat." Jelasnya.

"Sudahkah kau menghubungi kantor atau rumahnya di London?" Saran ibunya lagi.

"Aku sudah menghubungi kantornya, dia belum sampai, tapi benar kata Mama mungkin Kangin mengetahui di mana Jongin, itu benar-benar tak terpikirkan olehku."

"Siapa Kangin?" Tanya ibunya ingin tahu.

"Oh...Dia seorang pria yang baik. Dia sebatang kara dan hanya mengabdikan hidupnya untuk Jongin dan keluarganya." Sejenak Kyungsoo merasa terhibur dan melupakan kecemasannya ketika angannya melayang pada pria tua dan baik hati itu.

Kangin begitu gembira ketika mendapat telepon dari Kyungsoo, tak menyangka akan mendengar suaranyanya lagi, terlebih ketika ia menceritakan keadaan terakhirnya bersama Jongin. Kangin begitu gembira mengetahui akhirnya Jongin menemukan Kyungsoo.

Kangin menceritakan betapa berdukanya Jongin karena kehilangan Kyungsoo. Kyungsoo bahkan tanpa sadar menitikkan air mata terharu sekaligus bahagia mendengarnya. Tapi setelah larut dalam keharuan panjang mereka, Kyungsoo baru tersadar tujuan utama menelepon Kangin, adalah untuk menanyakan Jongin.

"Belum My Lady, saya belum mendapat kabar kedatangan My Lord kembali. Maafkan saya."

"Baiklah Kang, terima kasih. Katakan aku menunggu kabar darinya, jika ia kembali ke rumah segera."

"Baik My Lady."

Kyungsoo menutup teleponnya, tersenyum haru pada cara Kangin memperlakukannya selama ini. Bahkan caranya memanggil Kyungsoo dengan begitu hormat, seolah pria itu begitu yakin Kyungsoo akan menjadi Nyonya bagi Tuan-nya. Ah.. Itu hanya mimpi indah yang tak akan pernah pupus bertumbuh di relung tersembunyi hatinya. Bahwa suatu saat pria-nya yang takut akan komitmen dan cinta akan bersedia membuka hatinya untuk sebuah ikatan bernama rumah tangga.

Untuk saat ini mengetahui Jongin telah mengakui perasaannya secara terbuka kepada dirinya dan juga orang-orang sekelilingnya, itu saja sudah teramat luar biasa bagi Kyungsoo. Memaksakan sebuah komitmen pada Jongin sama halnya dengan menggali kubur untuk dirinya sendiri. Kyungsoo telah mengalami hal itu beberapa waktu lalu. Betapa Jongin seolah ketakutan pada pernyataan cinta tak langsung dari Kyungsoo.

"Bagaimana?" Leeteuk membuyarkan lamunan panjang Kyungsoo, dan putrinya itu hanya menggeleng tak bersemangat. Melayangkan pandang keluar jendela besar berteralis di hadapannya. Hujan benar-benar telah reda.

"Sebaiknya kau makan! Pikirkan bayimu! Kau bahkan tak makan siang bahkan minum sejak tadi."

Kyungsoo mengangguk, mengikuti langkah ibunya masuk ke bagian rumah yang lain, mencari pelayan.

.

.

.++

Sambil menggenggam sepotong Cannoli* di dalam sehelai kertas pastry, Kyungsoo dan Suho menyusuri Bandara Internasional Galileo Galilei. Untuk mencari tahu kebenaran berita yang beberapa saat lalu mereka saksikan di Live News PISA. Tentang hilangnya kontak menara pengawas dengan salah satu pesawat penumpang, British Airlines dari Pisa menuju London-Inggris.

Suho menggantikan Kyungsoo untuk berbicara dengan salah satu petugas informasi, ketika hanya suara terpatah-patah yang keluar dari bibir Kyungsoo, dan petugas itu mulai mengernyit bingung, berusaha memahami, informasi apa yang sebenarnya yang ingin Kyungsoo tanyakan. "Ya , itu benar Signore. Kami masih terus memantau kabar dari menara pengawas untuk mendapatkan berita terkini."

"Oke baiklah. Dan satu lagi apakah nama ini tercantum di dalam nama salah satu penumpang?" Suho memberikan kartu nama Jongin dari tangan Kyungsoo.

"Kim Jongin. Sebentar kami bantu pengecekkan." Petugas tersebut berkonsentrasi sesaat pada komputernya sebelum menggumamkan kata "Ya" yang seketika membuat tubuh Kyungsoo lemah tak bertenaga, nanar memandang sekeliling.

Benak dan jantungnya teramat terkejut, tak kuasa menerima informasi itu, bahkan terasa begitu berat untuk sekedar menggenggam Cannoli yang semenjak keberangkatannya dari rumah telah ibunya selipkan digenggaman tangannya, untuk ia makan, namun hanya menjadi penghias tangan Kyungsoo, hampir satu jam terakhir.

Cannoli itu meluncur turun, menggelinding lepas dari tangan Kyungsoo, beberapa detik berikutnya, disusul oleh tubuh Kyungsoo sendiri yang tumbang, ketika kegelapan mulai menyelimuti sekelilingnya.

.

.

.++

Yang pertama kali dilihatnya adalah kaca. Kaca-kaca bertirai putih yang begitu banyak. Berada di sisi kiri dan kanannya. Mendominasi sebagian dinding. Perasaan asing belum terpecahkan. Ketika dentam sakit yang teramat kuat, menyerang kepalanya. Kyungsoo mengernyit.

Tenggorokan dan bibirnya juga terasa kering, pandangan masih buram. Kyungsoo menutup matanya lagi. Menikmati denyut sakit lain yang mulai akrab. Terasa berirama di salah satu lengannya.

"Carissima? Dia sadar Leeteuk." Suara itu yang terasa tak asing baginya, menyentuh keningnya lembut.

Carissima? Itu adalah...fokusnya terputus, suara-lain berdengung disekitarnya, mendominasi alam bawah sadar Kyungsoo, yang mulai merangkak menggapai tepian nyata kehidupannya dengan sempurna.

Kyungsoo mengerjapkan matanya sekali lagi.

"Mungkin dia belum sadar sepenuhnya, berikan sesendok air lagi, dia mungkin kehausan." Suara cemas ibunya. Disusul benda dingin dan cairan tawar menyentuh bibirnya, mereka mengalir pelan membasahi tenggorokannya dengan nikmat.

"Il mio Angel*. Kumohon buka matamu. Jangan membuat kami cemas." Itu suara ibunya.

"Dia hanya sedang berusaha beradaptasi Signora." Suara asing, seorang wanita.

Mengira, awalnya ia hanya sedang berhalusinasi. Mendengar suara-suara disekelilingnya. Namun perlahan Kyungsoo mulai mampu membuka matanya lebar. Memandang sosok-sosok nyata dihadapannya, senyata rasa sakit yang kini hinggap disekujur tubuhnya.

Ibunya memijat pelan pergelangan kakinya. Suho tenggelam di salah satu kursi. Sementara seorang wanita berseragam perawat, berdiri di samping kirinya, mengatur ketinggian selang infus yang terhubung jarum dan tenggelam di punggung tangannya.

Hembusan nafas hangat, dan kecupan ringan menerpa telapak tangan kananya. Jongin duduk di samping kanan tempat tidur, menggenggam jari-jari Kyungsoo. Matanya tak sedetik pun beranjak dari wajahnya.

Jongin? Apakah ini mimpi? Atau sekali lagi ia tengah berhalusinasi? Bukankah terakhir kali ia sedang berada di Bandara? Apa yang terjadi? Kyungsoo berpikir keras, usahanya itu membuat kepalanya semakin pening.

"Ajak terus dia bicara Signore. Sementara saya memanggil dokter." Ucap wanita berseragam itu, sebelum bergerak keluar ruangan. Seperti dapat membaca apa yang Kyungsoo pikirkan, Jongin mulai bersuara.

"Ini nyata Kyungsoo, aku bersamamu, disini, aku hidup. Suho membawamu ke rumah sakit ini, karena kau tiba-tiba jatuh pingsan." Jongin terdiam, kecemasan di matanya belum beranjak.

"Suho menghubungi Mama, mengabarkan keadaanmu dan dalam perjalanan turun ke kota, Mama berpapasan dengan Jongin yang sedang mengarah ke perkebunan kita. Akhirnya Mama meninggalkan mobil Mama di tepi jalan dan menumpang mobil Jongin ke rumah sakit." Sambung ibunya, membantu Jongin menjelaskan kronologi mengapa Jongin bisa berada di sana.

"Aku mencoba meneleponmu ketika sampai di Pisa, tapi sepertinya jaringan provider ku sedang bermasalah. Aku mencoba lagi dengan telepon hotel, tapi tak terhubung. Mungkin badai yang melanda menjadi penyebab gangguan satelit informasi di sebagian wilayah Pisa. Kesialanku berikutnya adalah, aku terlambat mengejar penerbanganku. Kukira karena aku terlalu lama menerima telpon Jongdae, kau ingat? Idiot itu, yang selalu saja tak becus mengurus pekerjaannya, dan berkali-kali menghubungiku, hanya untuk masalah-masalah sepele."

"Ya, aku mengingatnya, Jongdae asistenmu." Akhirnya Kyungsoo bersuara. Jongin dan Mamanya tersenyum lega, bahwa Kyungsoo baik-baik saja dengan memori otaknya, itu hal yang dicemaskan dokter, bahwa ketika terjatuh Kyungsoo sempat mengalami benturan di bagian belakang kepalanya, yang bisa saja berakibat trauma atau pendarahan di sana.

"Tapi sepertinya kali ini kau harus menaikkan gajinya, mulai berhenti memakinya, apalagi mengatakan dia seorang idiot! Kau berhutang nyawa padanya Jongin." Kyungsoo tersenyum senang, meremas jari-jari Jongin di tangannya.

"Aku akan mengingatnya." Jongin memutar bola matanya, namun seringai bahagia berbalut kelegaan menghias raut wajahnya. Kyungsoo menghela tubuhnya, berusaha untuk duduk.

Jongin segera berdiri untuk membantunya, mengatur ketinggian tempat tidur pasien di bagian kepala Kyungsoo.

Beberapa saat setelahnya mereka berdua masih saling mencurahkan kelegaan masing–masing. Tanpa telah terisolir dari segala aktivitas disekitar mereka, bahkan pada kepergian Leeteuk dan Suho yang bergerak pelan tanpa suara, memberi waktu kepada mereka berdua untuk bicara.

Jongin menceritakan tentang berita tanah longsor yang terjadi di salah satu perkebunan anggur di Volterra, dan saking cemasnya Jongin kembali ke Volterra, untuk memastikan Kyungsoo dan keluarganya baik-baik saja.

"Aku bahkan tak akan memaafkan diriku, jika terjadi hal buruk padamu, keluargamu, dan bayi kita. Oh, Kyungsoo pulanglah bersamaku kembali ke London. Hatiku baru akan merasa tenang, jika dapat melihatmu setiap saat, tanpa harus mencemaskan keselamatanmu. Aku berjanji akan merawatmu, mendampingi masa-masa terberat kehamilanmu. Memberimu semua yang terbaik yang kau butuhkan. "Ujarnya pilu, dan mengiba. "Kumohon Kyungsoo?" Suara Jongin tersendat, lirih, namun sarat emosi. Kyungsoo tak dapat berkata-kata, terlebih pada kalimat Jongin selanjutnya. "Jika untuk itu semua, aku harus menukarnya dengan kebebasanku, menikahimu, aku ingin menikahimu." Ucap Jongin yakin, tanpa sedikit pun keraguan di dalam kata-katanya.

Senyap. Hanya hati dan jiwa mereka yang bicara.

"Butuh tiga puluh delapan tahun sampai aku menyadari, bahwa kasih sayang, cinta, dan keluarga adalah titik kulminasi tertinggi dari segala kesuksesan dan pencapaian yang telah aku raih selama ini. Aku ingin menggapai itu bersamamu, dan keturunan kita kelak." Lanjut Jongin membelai lembut selimut yang menutup gelombang di perutnya.

Air mata mulai bergulir turun di pipi Kyungsoo. Membentuk jalannya sendiri. Kalimat Jongin membuat Kyungsoo tak mampu berkata-kata.

"Kyungsoo Grycen Do, Carissima. Menikahlah denganku!"

Kyungsoo menghambur memeluk leher Jongin, membenamkan isaknya di pangkal leher pria itu.

"Kau bersedia?" Tanya Jongin ragu, takut salah mengartikan tangisan Kyungsoo saat ini. Sampai di rasakannya kepala Kyungsoo bergeser untuk menemukan bibirnya. Menangkup rahang kokoh Jongin di antara kedua telapak tangannya.

"Aku tak menginginkan apapun lebih dari ini Jongin. Cukup seluruh cintamu. Hanya ada Jongin dan Kyungsoo sampai akhir." Bisik Kyungsoo menempelkan keningnya di kening Jongin. Mendengar dengan jelas hela nafas lega yang keluar dari dada pria itu.

"Seharusnya aku membawa cincin." Sesalnya. "Aku sempat memikirkan itu ketika pergi dari London kemari, sebuah firasat kurasa."

Kyungsoo merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah cincin dan mengenakan benda itu sendiri. "Benda ini selalu bersamaku, aku menyukainya."

Jongin tersenyum samar, ia ingat itu satu-satunya benda yang Kyungsoo bawa, dari sekian benda yang Jongin berikan untuk Kyungsoo. Dengan perlahan ia mengecup jari-jari Kyungsoo penuh kasih.

"Kurasa dia memiliki sedikit keajaiban untuk mempertemukan kita lagi."

"Mungkin, ini memang telah tertulis di dalam takdir kita, aku adalah jodohmu. Bahkan saat kau masih seorang gadis kecil, aku telah berada di tempat ini untuk jatuh cinta pada tanah kelahiranmu." Ungkap Jongin membagi apa yang ia pikirkan sejak pertemuan mereka kemarin.

Kyungsoo terbeliak tak mengerti.

"Yoona Kakak-ku, dan suaminya, orang tua Sehun, mereka dimakamkan di Volterra. Dua puluh tahun lalu aku telah berdiri di tanah perbukitan itu dan bermimpi memiliki sebidang tanah di bawah langit indah desamu."

"Ya, kurasa itu takdir kita. Dan aku senang kau menemukanku lagi, aku mencintaimu Jongin lebih dari yang kau tahu." Ucap Kyungsoo, melingkarkan lengan kesekeliling leher Jongin.

"Jongin lebih dari itu." Balas Jongin tak mau kalah. Mereka berdua tertawa kecil, bahagia. Masih saling memandang lekat satu dengan lainnya, sebelum segalanya berakhir dalam dekapan erat, dan ciuman panjang dan manis.

.

.

.++

END

.

...

Yeeeeeeyyyyyyyyy

END JUGA !

HAHHAHAHAHAHHAHAHAHHA

.

.

.

SUDAH SESUAI KAH ENDINGNYA :D

.

.

.

JANGAN LUPA REVIEW YA

.

DAN MAAFKAN KALAU ADA TYPO ATAU APAPUN KARENA AKU MASIH BANYA KURANGNYA,,

.

.

.

Ohya,, ada yang suka cerita romance gak?

Hehhe BTW Aku bikin cerita baru nih, tapi sayangnya di Wattpad

Judulnya My Suck Boy/Girlfriend

Tapi maaf itu bukan Fanfic seperti biasa tapi seperti cerita-cerita lainnya. Kiranya ada yang mau baca hehe :D aku pasti sangat senang dan menghargainya,,

.

.

Akun Wp ku sama ya kayak FF 'NESYAREYA'

Follow ya :D

.

.

TERIMA KASIH,,,

...

NESYARERA

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Epilog

.

.++

Kyungsoo

.++

Di bawah birunya langit Volterra-Tuscany, di antara ribuan anggrek, gardenia, lily, dan snowdrop yang semuanya berwarna putih. Bunga-bunga itu mendekorasi halaman rumah dan sebagian kebun anggur kami dengan anggun.

Ini enam bulan setelah peristiwa badai yang berakhir dengan moment bahagia yang tak akan pernah dapat aku lupakan seumur hidup.

Pesta, makanan, nyanyian dan dansa. Seluruh keluarga besar Do dan warga desa berkumpul di sini, dalam pesta rakyat yang kami selenggarakan bersamaan dengan pembukaan hotel baru Jongin. Tak kalah meriah dengan Royal Wedding Prince William dan Kate Middleton.

Tidak! Itu berlebihan!

Yang pasti kami semua membaur, berbagi kebahagian hari ini.

Kami bertiga bersinar cantik, dengan cara kami masing-masing. Kami bertiga, aku, Luhan dan Leeteuk, Mama kami tersayang, berbalut gaun pengantin yang nyaris sama. Putih berkilau laksana salju. Menggenggam buket bunga tulip dan rose yang diikat dalam satu buket besar dengan sebuah pita besar merah terang, di masing-masing tangan kami.

Aku berada di tengah-tengah, sementara Luhan dan Mama, di kiri dan kananku.

Perlu kalian tahu, mereka bukan pendamping pengantinku, ini pernikahan mereka juga!

Siapa sangka, jika akhirnya perkawinan triple ini menjadi peristiwa terindah kami di musim semi tahun ini.

Kalian ingat hari itu, ketika Jongin melamarku di rumah sakit? Ya. Itu di awal bulan November. Sebulan kemudian Jongin resmi menikahiku secara agama di Gereja St. Paul London. Sebuah perkawinan sakral yang hanya dihadiri Mama, Kangin, Luhan dan juga Sehun. Oh ya, satu lagi Jongdae, sahabat Jongin satu-satunya. Kini telah menjadi sahabatku juga.

Dia juga hadir di antara kami sekarang, terlihat di antara kerumunan para gadis. Menebar pesona, bersama Chanyeol, yang dengan suka rela menjadi penerjemah untuknya.

Sebenarnya aku tak ingin pesta meriah untuk pernikahanku. Hanya karena ini adalah hari pernikahan Luhan dan Mama, tak ada salahnya aku menjadi cantik dan merayakan pernikahanku lagi di sini.

Luhan dan Sehun memang sengaja menunggu waktu untuk menikah. Itu setelah kelahiran bayi perempuan mereka yang cantik, sebulan yang lalu. Dia ada di dalam gendongan Sehun saat ini. Terlihat mulai mengantuk dan menghisap jempol. Dia juga berhias.

Lihatlah bandana bunga di kepalanya, dan tutu berwarna putih itu, benar-benar bayi yang cantik! Dia keajaiban keluarga kami.

Dan satu lagi keajaiban keluarga kami...

Itu dia! Di lekukan lengan ayahnya, Jongin. Suamiku tercinta.

Jongin yang terlihat sangat menikmati perannya sebagai seorang Ayah. Tampak santai dan tak terganggu dengan beban bayi montok di lengannya. Sesekali tampak berayun mengikuti musik. Aku hampir tak mengenalinya sebagai beruang pemarah yang dulu pernah menculik dan menodongkan senjata kepadaku. Bahkan kadangkala aku merasa Jongin lebih terampil merawat bayi dibanding diriku. Dia seolah mampu mengerti keinginan bayi kecil kami.

Oh ya, bayi kami berusia tiga bulan, tapi terlihat seperti beruang teddy yang besarnya menyamai bayi usia enam bulan. Sayangnya dia benar-benar tak secantik kami berempat.

Tentu saja! Karena dia setampan ayahnya. Bayi pertama kami laki-laki. Kim sejati, tampan, tinggi dan menggemaskan. Aku bahkan mendengar dia tak henti berceloteh riang. Jarinya tangan terkepal lembab oleh gelembung salivanya. Sesekali terlihat mencicipi lengan montoknya yang terbungkus tuxedo hitam, sama persis dengan tuxedo pada tiga pengantin pria lainnya.

Oh iya, aku nyaris lupa mengatakan siapa pengantin pria mamaku.

Kalian ingat Kangin? Yup! Mamaku dan Kangin. Siapa sangka?

Awal pertemuan mereka adalah saat kunjungan mama ke London, Mama datang untuk menghadiri pernikahanku bersama Jongin, sekaligus menjenguk Luhan yang juga tengah hamil muda.

Mama bermalam di Kim's Mansion selama beberapa hari. Mungkin itu adalah awal ketertarikannya pada Kangin. Mereka banyak ngobrol dan memasak bersama.

Aku dan Jongin mulai menyadari ada sesuatu yang istimewa dari setiap percakapan Mama dan Kang, mereka berdua terlihat sangat cocok, dalam berbagai hal.

Jujur ada sedikit intrik kami di balik semua ini. Ide Jongin, untuk mengatur kepulangan Mama kembali ke Tuscany, dan Kangin, ia minta untuk mengantar Mama, alasannya cukup masuk akal.

Mamaku memiliki sedikit phobia terbang, terutama jika seorang diri. Maka Kangin adalah penyelamat kami.

Serupa dengan Yoona dan Jongin. Kangin adalah orang kesekian, yang seketika jatuh cinta pada keindahan alam Volterra. Bahkan tak mengejutkan ketika kemudian Kangin tertarik membeli sebuah rumah mungil, tak jauh dari perkebunan kami, dan mengajukan berhenti bekerja pada Jongin, selain karena usianya yang telah semakin tua.

Jadilah Kangin dan mamaku bertetangga. Kemudian mereka semakin dekat. Kangin bahkan membantu Mama mengurus perkebunan anggur keluarga kami. Walaupun pada awalnya mereka berdua malu mengakui kedekatan mereka, tapi aku dan Luhan tak putus memberi semangat pada Mama untuk memutuskan kebahagiannya sendiri.

Kami tinggal berjauhan, dan kami hanya akan merasa tenang, jika di seberang sana, Mama juga bahagia. Menghabiskan sisa waktu hari tuanya, bersama seseorang yang dapat menjaganya, dan juga menyayanginya. Seperti harapan kami pada kami semua juga, kelak.

Mungkin terdengar klise, tapi aku menyukai kalimat akhir bahagia kami.

"Happily ever after!"

.

.

.++

-END-