Disclaimer: applied


Chapter 12

Irresistible

Ino terbangun dengan kepala yang terasa seperti ditusuk oleh seribu jarum. Ia mengerang sebelum berbalik dan mencari posisi yang bisa meredam sakit kepalanya. Setelah berguling-guling selama beberapa kali, ia pun menyerah dan bangkit duduk. Namun karena kepalanya terasa sangat berat, ia kembali jatuh ke tempat tidur dalam posisi telungkup.

Ah, rasanya lebih baik seperti ini. Ino tersenyum. Napasnya kembali teratur dan ia terlelap kembali.

Ketika terbangun untuk kedua kalinya, Ino sudah kembali di posisi terlentang. Selimutnya sudah terlempar entah kemana. Dengan malas ia kembali melingkarkan tubuhnya dan mencoba untuk terlelap lagi.

Sampai ia mendengar suara pintu digeser.

Awalnya Ino mengira itu hanyalah bagian dari mimpinya atau suatu fenomena yang terjadi ketika ia sedang berada antara alam sadar dan tidak sadar. Namun suara tersebut kemudian diikuti dengan suara langkah kaki. Siapapun pemilik langkah tersebut berusaha untuk sehati-hati dan sediam mungkin. Namun Ino tetap bisa mendengar bunyi beberapa benda digeser.

Perlahan-lahan ia pun membuka mata. Ia mengernyit saat rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi. Namun semua itu tidak sebanding dengan perasaan ketika ia sadar bahwa bantal tempat ia sedang membenamkan wajahnya bukanlah bantalnya.

Rasa horor memenuhi Ino ketika ia kemudian sadar bahwa bukan hanya bantal tersebut yang bukan miliknya, namun juga selimut, sprei dan ranjang tersebut. Kedua matanya melebar dan ia menatap kamar di sekelilingnya. Ia terkesiap.

Shit. Ini dimana?

Hal pertama yang diperiksa Ino adalah bajunya. Ia sedikit merasa lega saat melihat dress merah yang ia beli untuk menggoda Sasuke masih menempel di tubuhnya. Ia lalu bangkit duduk, dan menjerit ketika melihat sebuah punggung telanjang di hadapannya.

Pemilik punggung tersebut terlonjak dan menjatuhkan sesuatu di tangannya sebelum berbalik. Ia mengangkat kedua tangannya dan dari jarak yang aman berusaha menenangkan Ino. "Tenang. Ini aku."

Secepat kilat Ino langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Dimana ini?!" teriaknya.

Kalau tidak sedang merasa dirinya terancam mungkin Ino mungkin akan kembali berbaring di sana dan meluangkan waktu untuk mengamati tubuh Kiba yang sempurna. Dengan dada bidang, perut sixpacks, serta lengan yang berotot seperti itu Ino yakin Kiba bisa dengan mudah menjadi model untuk kover majalah Men Fitness. Hasil latihannya di lapangan futbol selama ini membuat kulitnya berwarna cokelat. Rambutnya yang lembab menandakan bahwa ia baru saja selesai mandi.

Lelaki itu terlihat panik dan bingung. "Jangan takut. Ini...Ini kamarku." katanya terbata-bata.

"Kenapa aku bisa di kamarmu?" tanya Ino dengan suara melengking.

"Kau mabuk semalam. Aku mengantarmu ke rumahmu, tapi kau sepertinya tidak membawa kunci. Dan aku tidak yakin di rumahmu ada orang karena aku sudah memencet bel berkali-kali." Ia menurunkan kedua tangannya dan nampak sedikit lebih rileks setelah Ino tidak membuat gerakan seperti dia akan berteriak atau menerkam Kiba lagi. Pemuda itu lalu membungkuk untuk mengambil kaosnya yang tadi ia jatuhkan. "Karena semalam sudah jam satu lewat, aku memutuskan membawamu kesini dan mengantarmu pagi ini. Jangan khawatir, aku tidur di luar."

Ino menelan ludah. Matanya menyipit curiga ke arah Kiba. Bagaimana mungkin di rumahnya bisa tidak ada orang? Ia sudah bilang pada ibunya bahwa semalam dia kemungkinan akan pulang sangat larut. Tapi tidak mungkin ibunya tidak bangun bila ada orang yang memencet-mencet belnya.

"D-dimana barang-barangku?"

Kiba menunjuk pada tas tangannya di samping ranjang. Ino langsung menyambar tas tersebut dan mencari ponselnya. Benar saja, ada lima belas pesan suara dan lima SMS dari ibunya. Ino membuka SMS-nya dulu. Ia mengernyit ketika mengetahui bahwa semalam ibunya harus terbang ke Osaka karena neneknya terserang stroke ringan. Ia tidak terlalu dekat dengan neneknya, karena sejak kecil ia sudah tinggal di Tokyo. Namun ia tidak bisa mencegah perasaan khawatir karena ia tahu ibunya sangat menyayangi neneknya. Mungkin ia harus membatalkan rencana perayaan ulang tahunnya malam nanti dan terbang menyusul ibunya ke Osaka.

Pikirannya terputus ketika ia teringat dimana ia berada saat itu. Ia menengadah dan melihat Kiba yang kini sudah berpakaian.

Mungkin dia memang tidak berbohong.

Ia lalu memeriksa ponselnya lagi dan merengut ketika hanya melihat SATU pesan singkat dari Sasuke. Ino mengabaikannya. Setelah membalas SMS ibunya dengan berkata bahwa baterai ponselnya habis dan ia sedang di rumahnya Sakura serta rencananya untuk terbang ke Osaka nanti, Ino pun membuang ponselnya ke dalam tasnya dan kembali menghadap Kiba.

Lelaki itu masih berdiri di sana, sama sekali tidak bergerak seolah-olah jika ia bergerak Ino akan meneriakinya lagi. Ino pun menghela napas dan memijit-mijit kepalanya. "Kepalaku sakit sekali," erangnya.

Tanpa suara Kiba keluar dari kamar kembali lagi dengan aspirin dan segelas air lalu memberikannya pada Ino.

Gadis itu menerimanya dengan penuh terima kasih. Setelah meminum obatnya, barulah ia merasa tenang. "Maaf aku meneriakimu tadi," katanya malu-malu.

"Tidak apa-apa. Siapapun pasti akan kaget kalau bangun di tempat yang tak mereka tahu."

Ino lalu teringat bahwa lelaki itu tadi berusaha sediam mungkin saat keluar dari kamar mandi. Padahal itu kamarnya. Padahal itu apartemennya.

Wajah Ino memerah. "Umh...bagaimana kau bisa menemukanku semalam?"

Momen tersebut mungkin bisa memenangkan penghargaan momen tercanggung abad ini. Terbangun di tempat tidur lelaki yang beberapa minggu lalu kau tolak cintanya dalam keadaan hangover. Setelah aspirinnya mulai bekerja, Ino mulai menyadari betapa anehnya situasi tersebut.

Kiba terdiam selama beberapa saat. "Bagaimana kalau kau mandi dulu? Akan kuceritakan sambil aku mengantarmu pulang."

Ino mengangguk dan menunggu Kiba keluar dari kamar tersebut sebelum ia berani bergerak ke kamar mandi. Sebelum masuk ke kamar mandi Ino mengernyit menatap pintu kamar yang tadi Kiba tutup untuk memberinya privasi. Terakhir kali ia datang dan mandi disitu, Kiba tidak repot-repot menutup pintunya. Sekarang entah mengapa Ino merasa Kiba seolah-olah sedang menjaga jarak dengannya.

Lagipula lelaki waras mana yang tidak akan menjaga jarak dengan gadis yang jelas-jelas sudah menolaknya dan sekarang berpacaran dengan orang lain?

Setelah selesai mandi dan mengeringkan badan serta menyisir rambutnya, Ino melilitkan handuk di sekeliling tubuhnya dan keluar kamar mandi. Wajahnya memerah karena tidak menemukan pakaian ganti terlipat di depan kamar mandi seperti terakhir kali ia kesitu. Ia sedikit kecewa, lalu memarahi dirinya sendiri karena dengan bodoh mengira Kiba akan terus bersikap baik padanya setelah apa yang ia lakukan pada lelaki itu.

Bahkan mungkin semalam Kiba menyelamatkannya dengan terpaksa. Atau karena kasihan.

Memangnya kau siapanya dia? Omel Ino pada dirinya sendiri.

Ino tidak punya pilihan lain kecuali menggunakan dress merah-nya semalam. Ia menatap dress itu dengan pandangan gusar. Harga-nya tentu saja tidak murah. Ino bersedia membelinya untuk perayaan spesial yang seharusnya terjadi semalam. Namun bukannya berakhir di lantai kamarnya Sasuke, gaun tipis itu malah berakhir di lantai depan kamar mandi Kiba Inuzuka.

Rasanya ia ingin mencabik-cabik dress itu dan melemparnya ke muka Sasuke. Namun ia harus menahan diri karena dress itu adalah satu-satunya yang bisa ia kenakan kalau ia mau pulang dari situ. Tindakan Kiba yang tak menawarinya baju ganti Ino anggap karena lelaki itu memang tak ingin meminjamkan baju apapun padanya.

Baru saja Ino hendak kembali lagi ke kamar mandi untuk berpakaian, pintu kamar tersebut mendadak terbuka dan Kiba masuk ke dalam. Kedua mata lelaki itu terbelalak melihat Ino berdiri di sana. Sama seperti Kiba, Ino pun juga terbelalak dan mematung di sana.

Ino sangat sadar bahwa selain handuk yang melilit tubuhnya, tidak ada satu helai benang pun yang menutupi dirinya. Selain itu ia juga sangat sadar akan mata Kiba yang menjelajahi tubuhnya sebelum lelaki itu menelan ludah dan melihat ke arah lain. Barulah saat itu Ino menyadari bahwa di tangan kanannya Kiba membawa sebuah baju ganti.

"Maaf, aku tadi lupa memberimu baju ganti," gumamnya.

Setelah itu tanpa suara ia berjalan ke tempat tidur dan meletakkan pakaian yang dibawanya di sana. Kemudian masih tidak melihat Ino, ia beranjak keluar.

Namun gerakannya terhenti ketika ia merasa seseorang menarik bagian belakang kaosnya, menghentikannya.

Ino bahkan tak tahu apa yang ia pikirkan, dan sebelum ia sadar ia sudah menghentikan Kiba yang hendak meninggalkannya. Wajahnya memanas dan ia langsung melepas pegangannya.

"Apa?" tanya Kiba tanpa berbalik.

Ino menelan ludah. Kedua tangannya mencengkeram erat-erat bagian dapan handuknya. "Umm, t-terima kasih."

"Sama-sama."

"Bukan, maksudku...terima kasih untuk semuanya."

Ino bisa mendengar Kiba menghela napas, lalu ia hendak beranjak lagi, tapi Ino kembali menarik bagian belakang kaosnya.

"Ya?" tanya Kiba lagi.

"Kau masih marah, ya?" tanya Ino akhirnya.

"Tidak," adalah jawaban singkat lelaki itu.

Ino melepaskan pegangannya. "Maafkan aku," bisiknya.

"Untuk apa?"

"Karena..." Ino bahkan tidak tahu mengapa ia minta maaf. Yang ia tahu adalah lelaki itu marah dan ia adalah penyebabnya.

"Karena?"

"Karena aku...aku sudah..." Ino menghembuskan napas frustasi. "Aku ingin kau kembali bersikap seperti biasa."

"Seperti apa?"

Seperti apa? Seperti ketika kau menolongku ketika kakiku terkilir. Seperti ketika kau menolongku di gym. Seperti ketika kau mengajariku matematika. Seperti ketika kau menolongku mencari kostumku yang hilang. Seperti ketika kau menolongku di tengah hujan. Seperti...."Aku...aku ingin kita berteman," bisik Ino akhirnya.

Kiba tidak menjawab apapun.

Ino menghela napas dan berbalik. Ketika ia hampir masuk kembali ke kamar mandi, Kiba tiba-tiba berkata. "Kita tidak akan bisa berteman, Yamanaka."

Ino mengernyit. "Kenapa?"

Kini Kiba berbalik.

"Apa yang kau harapkan dari berteman denganku? Kau berharap akan ada orang yang menampungmu di saat pacarmu meninggalkanmu di tengah jalan? Kau berharap ada orang yang cukup bodoh untuk memberikan tempat tidurnya padamu di saat kau tak bisa pulang ke rumahmu sendiri? Kau berharap ada orang yang bisa memberimu perhatian di saat pacarmu tak peduli padamu?"

Dalam seketika Ino sudah menyeberangi ruangan dan...PLAK!

"Dasar bajingan!"

Dengan pandangan yang kabur karena air mata, Ino berbalik dan melesat ke kamar mandi dengan dress merahnya. Ia harus segera berganti baju dan keluar dari situ sebelum ia benar-benar menangis. Ia tidak bisa percaya Kiba mengatakan itu semua padanya? Apa ia benar-benar menganggap Ino sedangkal itu?

Bukan. Bukan itu yang membuat Ino menangis.

Ino menangis karena ia sendiri tidak menemukan ada yang salah dari kata-kata lelaki itu. Semua tuduhan lelaki itu benar.

Saking buru-burunya, Ino bahkan tidak repot-repot menarik ritsleting dress-nya sampai atas dan langsung keluar kamar mandi. Kiba menunggunya di ujung tempat tidur. Ketika melihat Ino keluar dan melesat untuk mengambil tasnya, lelaki itu berdiri dan menarik lengannya.

"Ino, hei, Ino, maafkan aku. Aku brengsek karena berkata seperti itu. Hei, Ino! Dengarkan aku dulu."

Namun Ino berhasil membebaskan dirinya dari Kiba dan mengambil tasnya. Hanya saja, Kiba tak membiarkannya keluar dari kamar. Dari belakang Kiba menarik Ino ke pelukannya. Kedua lengannya mengunci gadis itu.

"Kau benar, Inuzuka. Aku...aku memang sedangkal itu. Dan...dan kau benar kita memang tidak bisa berteman. Kau...kau terlalu baik untukku. Aku...aku..." Ino terkesiap ketika merasakan bibir yang hangat mengecup lehernya.

Bibir tersebut perlahan-lahan menghujani lehernya dengan kecupan-kecupan ringan hingga ke telinganya sebelum pemiliknya berbisik, "Aku tidak bisa berteman denganmu karena aku akan selalu menginginkanmu, Yamanaka."

Ino mengerang ketika Kiba mengigit telinganya. Ia lalu berbalik dan menyerah di dalam pelukan Kiba. Lelaki itu tidak membuang waktu dan langsung melumat bibir Ino dengan seluruh gairahnya yang terpendam.

DING-DONG.

Pada mulanya Ino tidak mendengar suara bel tersebut karena Kiba nampak tidak peduli dan terus menciumi bibirnya. Kedua tangan Kiba menelusuri tubuh Ino, berhenti di pinggulnya dan menarik gadis itu agar makin rapat.

DING-DONG.

Ino terkesiap dan segera menjauh dari Kiba, namun lelaki itu tidak membiarkannya. Ketika Kiba mencoba menciumnya sekali lagi, Ino memalingkan wajahnya.

DING-DONG.

Kedua mata Kiba yang semula berkabut karena gairah perlahan-lahan kembali normal. Dia tampak malu dan segera menjauhi Ino. "Maafkan aku," katanya dengan terbata-bata.

Ino hanya menggeleng dan mengedikkan kepalanya ke arah pintu. "Aku harus segera pulang," ujarnya lelah.

Kiba mengangguk. "Aku lihat dulu siapa di luar. Kurasa itu tetanggaku. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang." Dengan itu Kiba pun meninggalkan Ino yang kemudian duduk di tempat tidur sambil menghela napas panjang.

Gadis pirang itu menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu mengerang. Dalam hati ia mengutuki dirinya. "Bodoh, bodoh, bodoh," gumamnya pada dirinya sendiri. Jika siapapun orang di luar itu tidak memencet bel, dia pasti akan berakhir telanjang di tempat tidur ini dengan Inuzuka di atasnya.

Pikirannya terputus ketika Kiba mendadak kembali masuk ke kamar dan dengan wajah tegang berkata, "Umm, bisakah kau diam selama kurang lebih lima belas menit disini sampai kubuka pintunya? Ternyata yang datang kakakku. Dan aku tidak ingin dia salah paham."

Sebelum Ino bisa menjawab, Kiba sudah menutup pintu kamarnya dan bergegas ke pintu depan untuk mempersilahkan kakaknya masuk.

Ino hanya bisa terduduk di sana dan tercengang.

Sisa-sisa gairah yang tadi timbul akibat ciuman Kiba langsung dan lenyap dan digantikan dengan kebingungan.

Ino bisa mendengar suara feminin dari luar dan suara Kiba. Namun ia tidak bisa mendengar suara Kiba. Ia pun mendekati pintu dan menempelkan telinganya.

"Kau masak banyak ya untuk sarapanmu sendiri," kata suara itu.

Lalu Kiba menyahut, "Aku sedang kelebihan makanan. Itu untuk Akamaru."

"Oh, sekarang kau sudah kaya, ya? Atau kau mulai sadar dan bekerja di tempat yang bisa membayarmu?"

Kiba tidak menjawab.

"Kenapa ada dua piring di sini? Akamaru juga makan di meja makanmu sekarang?"

Walaupun tahu bahwa keberadaannya tidak boleh diketahui, namun Ino tidak bisa menahan diri untuk merasa senang karena Kiba ternyata masih cukup peduli padanya untuk memasakkannya sarapan.

Ketika Kiba tidak menjawab, Ino mendengar kakaknya bertanya lagi, "Well, aku tidak keberatan kalau Akamaru makan di meja. Hanya saja kau harus memastikan itu tidak terjadi saat ada Ibu."

"Kalau begitu jangan bilang-bilang Ibu."

Ino mendengar suara orang menjatuhkan diri di sofa diikuti helaan napas panjang. "Aku cuman mau bilang kalau dia akan sampai besok sore. Ibu yang membiayai semua perjalanannya, dan ibu berharap kau bisa menampungnya di sini."

"Kau tahu kalau kamarmu yang dulu sudah kujadikan gudang. Kenapa sama aku? Kenapa tidak sama kau saja?"

Siapa yang mereka bicarakan?

Meskipun Ino tahu bahwa keberadaannya memang akan membuat Kiba namun Ino tetap tidak bisa mencegah rasa sakit hati mengetahui bahwa lelaki itu sampai berbohong pada kakaknya untuk menyembunyikan dia di situ.

"Aku sudah menjual apartemenku, sayang. Itu adalah apartemennya Jiro. Aku tidak bisa begitu saja mengajak Ayame tinggal bersamaku. Ayame itu cantik. Bagaimana kalau Jiro tiba-tiba jatuh cinta padanya?"

Ayame?

"Kalau kau lupa, aku juga laki-laki."

"Tapi kau adalah laki-laki single," kakaknya memberi tekanan berlebihan pada kata terakhir, "selain itu aku tahu adikku yang manis tidak akan melakukan apapun pada sahabat masa kecil yang sangat disayanginya."

A...pa?

"Eh, kau masih single, 'kan?"

Kiba tidak menjawab.

"Karena kalau aku tidak begitu mengenalmu aku akan menduga kau sedang menyembunyikan seorang perempuan di kamarmu."

Ino merasa jantungnya berhenti berdetak selama sesaat.

"Jangan bicara yang aneh-aneh."

"Maksudku, ayolah. Aku memang jarang mengunjungimu. Tapi aku tidak ingat kapan terakhir kali kau menutup pintu kamarmu. Dan dua piring itu." Mendadak ia tertawa keras, "Hei, aku cuman bercanda! Kau ini lucu sekali sih." Dan ia tertawa lepas lagi.

"Ayame..." Suara Kiba hampir tak terdengar, seolah-olah ia tidak mau mengucapkan nama tersebut keras-keras, "...kenapa tidak tinggal bersama Ibu saja?"

"Kau gila? Di Korea?"

"Tinggal denganku lebih gila lagi!"

"Memangnya kenapa sih? Rasanya beberapa bulan lalu kau pasti akan menyambut baik ide ini. Kau dan Ayame dulu 'kan dekat sekali! Dan demi Tuhan, gadis itu baru saja kehilangan satu-satunya keluarga yang dia punya!"

"Tapi kenapa harus denganku?!" Ino terkesiap mendengar suara Kiba yang menyaingi suara kakaknya. "Kalau Ibu memang benar kasihan padanya, sewakan saja dia apartemen!"

Selama sesaat mereka berdua tidak mengatakan apapun, sampai akhirnya kakaknya Kiba berkata, "Kiba...itu kasar sekali. Kenapa kau jadi seperti ini?"

"Mungkin karena kau mendadak datang ke apartemenku pagi-pagi dan menumpahkan semua tanggung jawab ini padaku? Ibu bahkan tidak memberitahuku secara langsung."

"Ibu mencoba memberitahumu semalam. Tapi katanya kau tidak mengangkat teleponnya."

"Aku ada pertandingan kemarin."

"Sampai malam?"

"Itu tidak penting. Aku berencana menelepon ibu pagi ini."

"Kau tidak mabuk-mabukan semalam, 'kan?" Namun Kiba tidak menjawab. "Hei, aku cuman bercanda. Aku tahu kau tidak suka yang seperti itu. Kadang kupikir kau adalah kakek-kakek yang tersesat di tubuh anak muda..." kata-katanya terputus saat ia terkikik girang. "Mungkin itu alasannya kenapa ibu mau Ayame tinggal di sini. Ayame akan aman di sini."

Selama beberapa saat mereka berdua terdiam.

"Tidak. Dia tidak bisa tinggal bersamaku. Kita harus memikirkan jalan lain. Aku akan bicara pada ibu. Kau bisa pergi sekarang, Hana."

"Kau mengusirku?" tanyanya tak percaya. "Kau kenapa sih hari ini? Apartemen ini punya kita berdua! Kau tidak punya hak untuk mengusirku."

"Apartemen ini sudah jadi punyaku sejak setahun yang lalu. Kita sudah membicarakan ini, Ayame."

"Oh berhentilah membicarakan semua omong kosong itu! Siapapun nama yang ada di sertifikat apartemen ini, apartemen ini tetap punya kita berdua!"

"Pergilah, Hana."

Hening.

"Kiba...apa kau sedang mencoba memanipulasiku supaya aku cepat pulang?"

Hening lagi.

"Ya Tuhan...KAU BENAR-BENAR MENYEMBUNYIKAN SESEORANG?!" Seruan tidak percaya itu diikuti oleh suara langkah kaki cepat dan beberapa gedebuk serta pekikan. "Kau benar-benar menyembunyikan seseorang di dalam sini, ya?!"

Suara kakaknya Kiba sekarang terdengar seperti berada di sebelahnya. Ino sontak mundur dan menjauh ke tempat tidur.

"Hana! Jangan bertingkah kayak anak kecil!" seru Kiba.

"Pantas kau bersikap seperti memusuhi Ayame begitu. Pacarmu pasti sedang menginap, ya? Oh, ayolah Kiba kenapa kau tidak mau mengenalkannya denganku seperti itu? Kenapa kau tidak langsung bilang saja kalau kau sudah punya pacar? Aku yakin kalau Ibu tahu kau punya pacar, dia pasti tidak akan mengusulkan Ayame tinggal denganmu."

Ino menelan ludah mendengar perdebatan serta pergumulan berikutnya. Saat itulah Ino tahu bahwa ia harus keluar. Ia tidak bisa membuat kakaknya Kiba salah paham lebih jauh lagi. Lagipula kalau dia tidak mengklarifikasinya, bisa-bisa si Ayame ini tidak dapat tempat tinggal.

Setelah menarik napas dalam-dalam, Ino mengambil tas tangannya, menyumpalkan dress-nya ke dalam, dan memutar kenop pintu untuk membukanya.

Dalam seketika perdebatan Kiba dan Hana berhenti. Karena melihat Kiba, Ino tidak bisa mencegah dirinya untuk membayangkan Hana, kakaknya, bertubuh setidaknya setinggi adiknya tersebut. Namun Ino tidak menyangka bahwa tinggi Hana Inuzuka bahkan tidak mencapai bahu Kiba. Wanita itu bahkan lebih pendek dari Ino. Kiba mengunci gadis itu dalam pelukannya agar ia tidak bisa bergerak kemana pun. Namun hal tersebut tak mencegah keduanya untuk menoleh dan melihat Ino yang berdiri di ambang pintu dengan sebuah dress putih yang sekarang sudah Ino pahami mengapa panjangnya hanya mencapai pertengahan pahanya.

"Umh, Hai. Maafkan aku..." kata Ino setelah beberapa detik keheningan yang memekakkan. "Aku...tidak bermaksud merepotkan. Namaku Ino Yamanaka." Pandangan Ino tertuju pada Hana. "Senang bertemu denganmu. Umh, aku ingin menjelaskan kalau Inuzuka dan aku tidak pacaran. Aku...ada masalah semalam, dan Inuzuka menolongku, itu saja."

Hana menatap Ino dengan mulut terbuka, seakan-akan masih belum percaya bahwa Ino berdiri di sana.

"Yamanaka..."

Sebelum Kiba bisa melanjutkan, Ino sudah memotongnya, "Tidak, Inuzuka. Aku sudah merepotkanmu terlalu banyak. Aku...aku tahu jalan pulang, kok." Ino menggenggam tasnya erat-erat. "Sepertinya kau dan kakakmu harus mendiskusikan sesuatu yang penting, jadi lebih baik aku pergi sekarang. Senang bertemu denganmu, Inuzuka-san." Ino membungkuk sedikit. Setelah itu Ino langsung melesat ke pintu depan dan membukanya.

Dari belakang, Kiba memanggil-manggil namanya. Namun Ino tidak mendengarnya.

Ino pacaran dengan Sasuke Uchiha. Pria yang membiarkannya berjalan sendirian di malam hari tanpa memastikan ia sudah pulang ke rumah dengan selamat. Sementara Kiba adalah pemuda yang beberapa minggu lalu ia tolak cintanya, namun ternyata adalah orang yang berusaha melakukan tugas Sasuke untuknya.

Dan sekarang pemuda itu akan tinggal bersama seorang perempuan dari masa kecilnya.

"Ino!"

Ino seketika berhenti ketika mendengar Kiba memanggil nama depannya. Ia pun akhirnya berbalik.

Kiba tampak lega melihat Ino yang tak lagi berusaha melarikan diri. "Kenapa kau tiba-tiba lari?"

"Aku berusaha menolongmu, Inuzuka."

"Dengan melarikan diri?"

"Dengan tidak membuatmu malu di depan kakakmu."

Kiba tersenyum lemah, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Kau tidak akan pernah membuatku malu, Yamanaka."

"Oh, sudahlah. Aku dengar semuanya. Kalau aku tetap ada di situ, temanmu Ayame tidak akan punya tempat tinggal."

Kiba mengernyit. "Tidak, Ayame tidak akan tinggal bersamaku."

"Kenapa tidak?"

Kiba tampak berpikir selama beberapa saat, kemudian ia memberi Ino pandangan penuh arti, "Aku tidak mau."

"Kenapa kau tidak mau?"

Kiba tersenyum lalu mendadak tangannya mengelus pelipis Ino. Senyumnya melebar ketika Ino tidak memalingkan wajahnya. "Karena dia bukan kau."


Author's Note: Ohayou, minna-san! Pertama-tama saya mau ucapin makasih untuk para pembaca sekalian yang tidak henti-hentinya memberikan support untuk Monalisa. Saya tidak bisa janji akan bisa update ini cepat, karena saya saat ini sudah kerja dan cukup sibuk. Tapi yang jelas cerita ini tidak akan di-discontinue. Sampai jumpa di chapter depan!

xoxo

shiorinsan