~12~

.

.

.

All Character belong to Masashi Kishimoto

This Story belong to My imajination

.

Hope you Like It!

.

.

.

Normal POV

"Tenteenn~ Kau cantik sekali hari ini yaampun~"

"Nih. Aku sudah tau apa maumu." Tenten menyerahkan buku fisikanya pada Ino dengan malas, yang diterima dengan semangat oleh gadis pirang itu. Ia mengucapkan terima kasih sebelum menyalin tugas Tenten ke bukunya. Biasanya jika Ino memujinya seperti itu pasti ada maunya. Salah satunya, menyalin tugasnya. Karena gadis itu hampir tidak pernah mengerjakan tugasnya sendiri.

"Heh, aku suka mengerjakan tugasku sendiri kok," protes gadis pirang itu tak terima.

"Oh ya? Sejak kapan? Aku tak pernah melihatmu TAK MENYALIN tugasku," balas Tenten, membuat sahabatnya itu mengerucutkan bibirnya sebal.

Rasanya ia lapar. Tapi baru saja Tenten ingin mengajak Hinata ke kantin, gadis itu ternyata sedang duduk disamping Ino menyalin tugas fisikanya. Tenten benar-benar tak habis pikir dengan kedua sahabatnya ini. Sebenarnya apa yang mereka berdua lakukan dirumah sih?! Alhasil, ia terpaksa harus ke kantin sendiri.

Sekembalinya dari kantin, ia melihat Shion yang sedang bersenandung senang sembari memasuki kelas.

"Shion?" Alisnya terangkat melihat Shion yang baru saja masuk kelas dengan wajah gembira. Kenapa dengan anak itu?

"Ehh, tapi kalau hanya kita berempat rasanya kurang asik ah," ujar Ino dengan wajah cemberut.

"Tidak kok. Tentu saja kita pergi bersama. Aku juga akan mengajak yang lain kok," ujar Shion semangat. "Ayolah Hinataa, mau ya yaaa?" bujuk gadis itu.

Tenten yang daritadi heran dengan pembicaraan mereka, akhirnya mendekat. "Ada apa ini?" tanyanya sambil terus menyeruput susu strawberrynya.

"Shion mengajak kita ke Amagi Park sabtu nanti, kau mau ikut?" tanya Ino.

"Kita? Berempat?"

"Aku akan mengajak yang lainnya juga kok," sahut Shion.

"Hm? Siapa?"

"Mm, Menma, Naru-chan…"

"Sai-senpai!" potong Ino. ia tiba-tiba bersemangat. "Apa kau akan mengajak Sai-senpai juga, Shion?" tanyanya penuh harap.

"Sai-senpai? Mm, aku tidak mengenalnya. Dia…"

"Dia teman Naruto-senpai! Kau bilang 'kan akan mengajak Naruto-senpai, jadi sekalian saja ajak Sai-senpai yayaya?" pinta Ino.

"Sudahlah Ino, kau membuat Shion menjadi tidak nyaman tuh," tegur Tenten.

"Tapi 'kan apa salahnya mengajak Sai-senpai juga?" Ino mengerucutkan bibirnya sebal.

"Um.. iya nanti akan kucoba ajak deh.." ucap Shion pada akhirnya, membuat gadis bermarga Yamanaka itu melompat kegirangan.

.

Bel berbunyi tanda pelajaran berakhir. Tak terasa sekarang saatnya istirahat makan siang. Ino dan Hinata sudah mengeluh lapar daritadi. Dan mereka ingin makan kare hari ini. Jadi mereka buru-buru membereskan buku-bukunya dan pergi ke kantin, tapi saat sampai di ambang pintu langkah Hinata tertahan, yang membuat Ino dan tenten menghentikan langkah mereka. "Ada apa?" tanya gadis bersurai indigo itu pada sepupunya.

"Um.. boleh aku ikut kalian ke kantin?" tanya Shion hati-hati.

"Apa ini? Tumben sekali dia mau ikut kita. Biasanya juga makan dengan Sakura dan teman-temannya," celetuk Ino yang langsung disikut Tenten, diberi peringatan untuk diam yang dibalas dengan decihan gadis pirang itu.

"Tentu. Ayo," jawab Hinata. Shion tersenyum lebar sebelum mengambil uang dari dompetnya lalu mengikuti mereka ke kantin.

Ino, Hinata dan Tenten memesan makanan, sedangkan Shion mencari tempat duduk untuk mereka. Sepupu jauh Hinata itu mengedarkan pandangannya sebelum terhenti pada sebuah bangku panjang yang diduduki beberapa orang pemuda dan seorang gadis yang dikenalnya. Shion langsung menghampiri mereka. Tangannya terulur memeluk leher teman satu SMP-nya itu. "Naru-chan!"

Naruto termasuk semua orang yang ada disana terkejut dibuatnya. "Shion? Apa-apaan kau ini? Aku sedang makan tau. Awas," ucap Naruto kesal karena acara makannya diganggu. Shion akhirnya melepaskan pelukannya dan duduk disamping pemuda itu.

"Naru, apa kau sabtu ini sibuk?" tanyanya.

Naruto menelan makanannya sebelum menjawab pertanyaan Shion, "hm? Tidak kok, ada apa?"

Jawaban pemuda itu membuat wajah Shion cerah seketika. "Kalau begitu, ikut aku yuk ke Amagi Park! Neji-niisan juga! Dan um… yang mana temanmu yang namanya Sai, Naru?" Dia seketika teringat Ino yang menyuruhnya untuk mengajak Sai, temannya Naruto itu.

Seorang pemuda berwajah pucat mengangkat tangannya, membuat Shion mau tak mau menoleh padanya. "Aku Sai. Kenapa?"

"Oh, hai aku Shion! Dan um… Sai… mau ikut kami juga kesana?" tanya gadis itu hati-hati.

"Hm? Amagi Park? Untuk apa?" tanyanya bingung.

"Eh? Um itu…"

Perkataan Shion terpotong oleh seruan Ino yang memanggilnya. "Dimana kita du- Oh, hai Senpai!" Tadinya ia ingin marah pada Shion, tapi melihat Sai yang ada disana dan teman-temannya, membuat amarahnya menguap.

"Hai, Yamanaka-san," balas Sai dengan senyumannya.

Ino tanpa babibu langsung mengambil tempat duduk disamping senior tercintanya itu. Mau tak mau Tenten dan Hinata juga harus duduk disana. Hinata duduk di paling ujung disamping Tenten. Melihat Shion begitu dekat dengan Naruto entah kenapa rasanya matanya panas. Tenten yang mengerti keadaannya, berusaha menenangkan Hinata dan itu cukup berhasil.

"Bagaimana Naru? Kau bisa ikut 'kan?" tanya gadis itu lagi.

Naruto meneguk minumannya sembari berpikir. "Yah, kurasa aku bisa. Memangnya ada apa tiba-tiba mengajak kesana?"

Apa Shion sudah mengajak Uzumaki?, pikir Hinata. Gadis Hyuuga itu memasang telinganya sembari memakan karenya.

"Aku menang undian dan dapat tiket gratis hehe," jawab Shion yang hanya dibalas "Oh." Oleh Naruto.

"Neji-niisan juga ikut 'kan?" Kali ini ia bertanya pada kakak sepupunya itu.

"Ya, boleh saja," jawab Neji.

"Um.. Senpai, ikut juga yuk?" Kali ini Ino yang berbicara. Ia mengajak Sai untuk ikut bersamanya ke taman hiburan itu. Kenapa tidak? Lagipula kalau Tenten dan Hinata benar-benar ikut, mereka pasti akan berpasangan, dan Shion juga pasti akan mengajak pacarnya. Masa iya ia sendiri? Itu tidak akan terjadi! Ino sudah membulatkan tekadnya. Sai harus ikut bersamanya, kalau tidak ia juga tidak akan ikut.

"Eh? Kenapa aku?" tanya Sai pura-pura bingung. Sebenarnya ia tau maksud Shion mengajaknya tadi juga pasti karena disuruh Ino. Mana mungkin 'kan gadis itu mengajak seseorang yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali?

"Ya.. um.. karena.." Ino gelagapan. Kebingungan mencari alasan. "Karena lebih ramai lebih seru, bukan? Ah ahahaha…"

Menyedihkan, batin Tenten dan Hinata bersamaan.

Sai tertawa geli dalam hati. Lucu sekali, batinnya. Entah kenapa rasanya ia suka melihat wajah kebingungan Ino jika didepannya seperti ini. Gadis itu mengelap keringat di dahinya lalu menghela nafas, menenangkan dirinya. Sai memasang wajah senyumnya, tapi kali bukan senyum palsu seperti yang biasanya. "Hm, baiklah aku ikut."

Ino harus menahan dirinya untuk tidak melompat kegirangan karena jawaban Sai. Sebagai gantinya, ia memegang erat tangan Tenten sampai sang empunya meringis kesakitan dan melepas paksa tangan Ino darinya. "Sakit tau!" serunya kesal. Sedangkan Hinata hanya menonton mereka dengan tatapan bosannya.

"Wah, kelihatannya seru. Apa kami boleh ikut?" seru Sakura tiba-tiba.

"Eh? Um.. tentu saja," jawab Shion terbata. Ia tidak menyadari kalau gadis itu ada disana bersama kekasihnya daritadi.

Sakura menatap Sasuke yang hanya diam sedaritadi. Merasa mulai tidak nyaman, Sasuke akhirnya menoleh menatap kekasih merah mudanya itu. "Apa? Jangan harap aku akan berkata iya," ucapnya, membuat gadis Haruno itu menampakkan wajah murungnya.

"Wah, Sakura sedih tuh," ucap Sai setengah mengejek.

"Diam kau." Sasuke menatap tajam Sai yang sama sekali tak menunjukkan wajah bersalahnya. Pemuda itu menghela nafas sebelum kembali berkata, "kau tau sendiri 'kan aku tidak suka tempat ramai."

"Wah, apa selama ini kau hidup ditempat sepi? Menyeramkan sekali," ujar Sai lagi. Sasuke kembali menatapnya tajam, tapi pemuda itu masih tetap dengan wajah tanpa dosanya. "Apa?"

"Ayolah Sakura." Tapi gadis itu tak mau bicara. Sepertinya ini cara Sakura supaya Sasuke menyetujui ajakannya.

"Tapi aku ingin pergi.." Gadis itu menoleh menatap Sasuke yang juga sedang menatapnya. Matanya berkaca-kaca.

"Wah, Sasuke membuat seorang gadis menangis!" ucap Sai lagi. Sasuke melempar sendok padanya, tapi berhasil dihindarinya dengan mudah. Untung saja tidak ada orang dibelakang mereka.

"Uh.. baiklah baiklah! Aku ikut!" ucap Sasuke. Pada akhirnya pemuda itu hanya bisa mengalah jika Sakura yang meminta. Entah kenapa rasanya sulit sekali mengatakan tidak pada gadis itu.

"Kyaa! Terima kasih Sasuke-kun! Aku mencintaimu!" seru gadis itu kegirangan lalu memeluk Sasuke, membuat pemuda itu memerah malu.

"Wah, Sakura-chan kau tak harus mengatakannya terlalu keras begitu 'kan? Aku 'kan jadi cemburu," ujar Naruto sambil mengerucutkan bibirnya sebal.

Sakura melepaskan pelukannya pada Sasuke lalu mengelus kepala Naruto sambil tersenyum. "Aku juga mencintaimu kok, Naruto-kun," katanya.

Hah?

Hinata yang mendengar itu langsung menoleh. Naruto yang sedang dielus kepalanya tersenyum senang seraya berkata, "aku juga mencintaimu Sakura-chan!"

"Ck, hentikan itu, dobe!" Sasuke langsung menarik tangan Sakura yang sedang mengelus kepala sahabatnya itu. Wajahnya memberenggut kesal.

Apa maksudnya? Hinata tak bisa berhenti berpikir tentang itu. Kenapa Naruto dan Sakura mengatakan kalau mereka saling mencintai? Misteri baru? Ah, ini sangat membingungkan bagi Hinata.

Seusai makan siang, mereka kembali ke kelas masing-masing. Wajah Sakura berbinar senang mengetahui dirinya dan Sasuke akan pergi ke Amagi Park sabtu ini. Begitu pula Ino yang berhasil mengajak Sai kesana. Mungkin ini bisa jadi awal yang bagus untuk hubunganku dan Sai-senpai! Begitulah pikirnya. Sedangkan Hinata, hanya menghela nafas untuk kesekian kalinya, berusaha menyingkirkan Sakura dan Naruto dari pikirannya.

.:0o0:.

"Sudah siap? Mana Hinata?" Neji melihat jam tangannya sebelum kembali menatap Shion.

"Dia bangun kesiangan tadi. Jadi, mungkin sekarang sedang bersiap," jawab Shion sembari merapikan rambutnya.

"Ayo. Aku sudah siap." Hinata muncul dari tangga sembari membenarkan sisa-sisa anak rambutnya.

Shion dan Neji saling menatap satu sama lain sebelum beralih menatap Hinata. "Kenapa? Tanya gadis itu, merasa ada yang aneh dengan kakak dan sepupunya.

"Kau serius, Hina? Pergi dengan penampilan seperti itu?" tanya Shion. Gadis itu memperhatikan penampilan Hinata dari ataske bawah. Rambut yang diikat satu ke belakang, baju kaos polos bertuliskan 'WHAT?', celana jeans, kemeja yang meliliti pinggangnya, dan tote bag yang tersampir di bahu kanannya.

Sama sekali tak ada feminimnya! Terlalu casual!

Hinata mengerutkan kening bingung menatap Shion. Ia rasa tak ada yang salah dnegan penampilannya. "Kenapa? Ada yang salah denganku?" tanya bingung. Menurutnya, tidak ada yang salah dari penampilannya. Tapi sayangnya tidak menurut Shion.

Shion menggelengkan kepalanya. Apa sepupunya ini tomboy atau bagaimana sih? Masa tidak ada sisi feminimnya sama sekali. Shion dan Neji saling menatap. Mereka berdua mengangguk kecil setelahnya. Hinata yang kebingungan hanya bisa menatap mereka dalam diam.

Shion menarik sepupunya itu kembali ke kamarnya. "Eh? Kenapa? Kita tidak jadi pergi?" tanyanya kebingungan sambil terus berjalan ke kamarnya dengan Shion di depannya.

"Jadi, tapi pertama-tama kita harus merombak penampilanmu ini," jawab Shion. Mereka sudah di kamar Hinata sekarang. Hinata yang masih tidak mengerti maksud sepupunya itu hanya duduk diam di depan meja riasnya sedangkan Shion mengobrak-abrik lemarinya.

"Ah!" Shion menarik keluar baju tanpa lengan Hinata dan rok merah pendek dari lemari sepupunya itu. Dia lalu mencocokan baju itu pada Hinata. Shion tersenyum, baju itu cocok untuknya. "Pakai ini," titahnya.

"Hah?" Hinata yang daritadi kebingungan akhirnya mengerti kenapa ia dibawa ke kamarnya dan kenapa sepupunya itu mengobrak-abrik lemarinya. "Tidak mau!" tolaknya. "Kenapa juga aku harus memakai itu?!"

Shion dan Hinata saling menatap tajam. Perdebatan antara kedua anggota keluarga itu terjadi setelahnya.

Sedangkan di ruang tengah… Neji yang sedang mengetik balasan pada seseorang di ponselnya masih setia menunggu kedua anggota keluarganya itu. Ia menatap jam di layar ponselnya. Sudah lima belas menit semenjak Shion dan Hinata kembali ke kamar Hinata untuk merombak penampilan gadis itu. Dan ia mulai kesal menunggu. Lama sekali mereka.

"Neji-niisan, ayo berangkat. Kami sudah siap," seru Shion dari belakang. Ia muncul dengan wajah berbinar senang. Menilik dari ekspresinya, sepertinya ia menang berdebat melawan adiknya itu.

Neji menoleh ke belakang, Hinata berdiri disana terlihat malu dengan penampilanya. Gadis itu kini mengenakan baju tanpa lengan dengan sedikit renda-renda yang menghiasi bagian lengan dan sisi kancingnya dan rok diatas lutut. Ditambah dengan rambutnya yang di kepang ke sisi dan jepit rambut yang mempermanis penampilannya.

Sulung Hyuuga itu tak berkedip menatap adik semata wayangnya itu. Ia terlihat sangat manis saat ini. Neji tersenyum sebelum menghampiri Hinata. "Ayo," ajaknya.

"Nii-san, aku malu…" ucap gadis itu pelan, memegang baju kakaknya. Kepalanya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang masih tersipu malu.

"Kau bisa bersembunyi di punggungku kalau mau," ucapnya disertai tawa. Hinata memukulnya, membuat pemuda itu mengaduh kesakitan. Pukulan adiknya itu memang tak pernah main-main. Tapi terima kasih kepada Neji, karenanya ia merasa lebih baik sekarang.

Mereka keluar menyusul Shion yang sudah keluar lebih dulu. Gadis itu sedang berbincang bersama kekasihnya didepan pagar rumah. Menma membawa mobil kemari dan pemuda itu memarkirkan mobilnya di kediaman Hyuuga. Mereka memutuskan pergi naik bis karena Amagi park juga tak terlalu jauh dari sini.

Menma bersiul begitu melihat Hinata dan Neji keluar. "Wah, Hinata-chan manis sekali," ucapnya. Matanya tak berhenti menatap Hinata.

Shion memukul perutnya, membuatnya mau tak mau harus mengalihkan pandangannya pada kekasihnya itu. Menma hanya bisa tersenyum salah tingkah menatap kekasihnya yang memasang raut wajah kesal. Hinata tersenyum geli menatap kedua pasangan itu. Mereka terlihat cocok bersama. Rasanya ia jadi ingin bertemu Naruto. Ngomong-ngomong kemana pemuda itu? Bukankah seharusnya ia bersama Menma?

"Mana Naruto?" tanya Neji mewakili adiknya. Ia sadar Hinata mencari-cari keberadaan pemuda kuning itu.

"Oh itu. Tadi saat aku pergi dia masih tidur, jadi kutinggal. Mungkin sekarang sedang dalam perjalanan ke Amagi." jawab Menma dengan tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Yang lain hanya bisa menatapnya dengan tatapan tak percaya.

Mereka akhirnya pergi ke Amagi Park menggunakan bus. Hinata bertanya-tanya kenapa mereka tidak naik mobil saja? Tapi Neji bilang mobilnya sedang di bengkel –entah kapan masuk kesana- dan tidak bisa dipakai. Jika memakai mobil Menma juga itu tidak akan cukup saat pulang nanti, jadi lebih baik mereka naik bus saja. Supaya lebih adil. Hinata hanya ber'oh' ria mendengarnya.

Saat sampai disana, Tenten, Ino, Sai, Sakura dan Sasuke sudah ada didepan gerbang masuk taman bermain terbesar se-Konoha itu. Mereka memutuskan untuk menunggu Naruto dulu disana karena pemuda itu belum juga datang. Setelah kurang lebih lima belas menit, akhirnya yang ditunggu pun datang. Pemuda itu membawa motor, karena tak sempat jika harus menunggu bus.

Ia terengah-engah begitu sampai. "Tega sekali kau meninggalkanku Menma! Untung ayah baik hati mau meminjamkanku motor," hardiknya pada adik kembarnya itu. Naruto benar-benar kesal. Bagaimana bisa Menma meninggalkannya disaat mereka punya janji yang sama? Setidaknya ia bisa menunggunya 'kan.

"Hee, salahmu sendiri kubangunkan tidak bangun-bangun," jawab Menma. Sama sekali tak ada rasa penyesalan di wajahnya.

"Hah? Kau bahkan tidak membangunkanku! Ibu yang membangunkanku!" cecar Naruto lagi.

"Bagaimana kau tahu? Kau kan sedang tidur, Nii-san."

"Sudahlah, lebih baik kita masuk sekarang. Shion, tiketnya ada padamu 'kan?" lerai Neji. Jika tidak dipisahkan, mereka tidak akan berhenti berdebat.

Mereka akhirnya masuk setelah Shion menyerahkan tiket pada petugas taman.

Mata Naruto dan yang lainnya berbinar melihat setiap wahana disana, kecuali Neji, Hinata, Sai dan Tenten juga Sasuke yang ingin segera pulang ke rumah. Ia benar-benar tidak tahan dengan keramaian.

Naruto, Shion, Ino dan Menma memimpin di depan. Mereka dengan semangat mengantri dan menaiki berbagai wahana. "Selanjutnya, roller coaster!" seru Naruto dan Ino bersamaan. Mereka langsung berlari untuk mengantri menaiki wahana itu, sedangkan Hinata memilih untuk tidak ikut karena ketakutannya akan ketinggian.

"Eh? Indigo mana?" tanya Naruto. Matanya mencari-cari keberadaan adik Neji itu.

"Dia tidak naik. Hinata takut ketinggian," jawab Neji.

"Aku tidak tahu dia takut ketinggian. Tunggu, dia sendiri?"

"Ada Sakura yang menemaninya." Naruto menghela nafas lega mendengar jawaban Neji. Perhatiannya langsung teralihkan pada Sai dan Menma yang sedang mengobrol entah apa.

.

Setelah naik roller coaster, mereka memutuskan untuk istirahat dulu karena Sasuke dan Tenten mabuk. Wajah mereka pucat. Dan Sasuke benar-benar ingin pulang sekarang kalau saja Sakura tidak merasa bahagia karena berada disini. Jadi mungkin ia harus bertahan sebentar lagi, pikirnya.

"Sepertinya kita terlalu asik," ucap Naruto. Menma, Shion, dan Ino mengangguk bersamaan. Karena daritadi memang hanya bereka berempat yang sangat menikmati taman hiburan ini.

Mereka duduk di bangku panjang yang disediakan disana. Sakura berusaha menenangkan Sasuke dengan memijit tengkuknya. Begitu pula Ino yang berusaha menenangkan Tenten. Sedangkan yang lainnya menikmati makan siang.

"Nii-san, berikan ini pada Tenten," ujar Hinata seraya menyerahkan botol air mineral pada kakaknya itu.

Neji menatapnya bingung. "Kenapa harus aku? Kau saja," tolaknya.

Rasanya Hinata sebal dengan sifat kakaknya yang tidak peka ini. Tenten sedang mabuk karena naik roller coaster tadi dan bukankah ini saat yang bagus untuk mendekatkan mereka berdua? "Sudah berikan saja. Jangan banyak tanya!" titah gadis itu sambil berbisik.

Neji memandang Hinata kesal sebelum menghampiri Tenten di sisi lain meja. Ia memberikan air mineral pemberian Hinata tadi pada sahabat adiknya itu dan Tenten menerimanya dengan senang hati –tentu saja. Hinata tersenyum melihatnya.

"Wah, kau yang membuat ini?" Hinata menoleh. Perhatiannya teralih ketika mendengar suara bocah Uzumaki itu.

"Iya dong. Silahkan dinikmati!" seru Shion dengan wajah gembira. Makanannya langsung diserbu.

"Wah, enak sekali Shion!" puji Ino sambil terus mengambil makanan di kotak bento yang dibawa Shion. Gadis itu membuat berbagai macam makanan disana.

Benar juga, dia jago masak.

"Enak sekali! Rasanya aku jadi rindu masakanmu," seru Naruto. Mulutnya penuh dengan makanan.

Melihat Naruto dan yang lain memakan masakan Shion dengan wajah gembira entah kenapa membuatnya iri. Ia juga ingin jago masak seperti itu. Ia juga ingin orang lain memuji masakan yang dibuatnya. Ia juga ingin. Tapi sayangnya, Neji melarangnya mendekati kompor. Pemuda itu memaksanya bermusuhan dengan kompor. Sebal.

Hinata membuang muka ketika kakaknya menawarkan makanan buatan Shion padanya. Ia tidak mau makan. Pandangannya kembali teralih pada Sasuke dan Sakura. Kelihatannya pemuda itu makin parah. Ia pergi ke kamar mandi untuk muntah. Wajahnya benar-benar pucat. Sakura juga pergi untuk membeli obat bersama Naruto. "Biar kutemani," katanya.

Hinata menghela nafas sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi juga, mencari minuman. Ia membeli orange juice dari mesin minuman otomatis. "Aku ingin pulang," gumamnya sembari meminum orange juicenya. Matanya memperhatikan sekitar. Orang-orang tampak senang berada disini, tapi ia tak menikmatinya sama sekali. Diam di kamarnya dengan sebuah novel dan secangkir coklat panas terdengar lebih baik daripada berada di keramaian, tapi merasa kesepian.

Gadis itu membuang kaleng orange juicenya ke tempat sampah. Keningnya mengkerut ketika melihat sosok orang yang di kenalinya dari kejauhan. Uzumaki dan Sakura? Sedang apa mereka? Hinata tak bisa melihatnya dengan jelas karena jarak mereka yang cukup jauh darinya, tapi ia bisa melihat dengan cukup jelas apa yang dilakukan Naruto pada Sakura. Pemuda itu memegang pipi Sakura lalu mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Matanya terbelalak melihat itu semua. Apa mereka berciuman?

Ingatannya kembali melayang pada saat Shion mengajak yang lainnya pergi ke Amagi Park beberapa hari yang lalu. Pemuda Uzumaki itu mengatakan kalau ia mencintai Sakura dan sebaliknya. Ia tidak begitu mengerti apa arti dari kata-kata itu. Apa itu sungguhan atau tidak, ia tidak tahu. Tapi mungkin saja Naruto benar-benar mencintai Sakura, melihat apa yang dilakukan pemuda itu saat ini.

Matanya memanas melihat mereka. Hinata membalikkan badannya, berusaha untuk menahan air matanya. Kemana saja, asalkan ia bisa menyendiri sekarang. Rasanya ia benar-benar ingin pulang sekarang.

.:0o0:.

"Terima kasih Naruto. Ini lebih baik sekarang," ucap Sakura, tersenyum. Sakura mengedipkan matanya. Sudah tidak kelilipan lagi.

"Kembali!" balas pemuda Uzumaki itu.

Mata Sakura menyipit melihat sosok seseorang dari kejauhan. "Ada apa?" tanya Naruto.

"Bukankah itu Hinata?" ujar gadis itu sembari menunjuk sosok gadis berambut indigo yang sedang berjalan menjauhi mereka.

"Sepertinya itu dia. Akan kususul. Kau lebih baik segera berikan Sasuke obat itu. Kurasa ia sudah mengeluarkan semua isi perutnya sekarang," ucap Naruto yang dibalas anggukan Sakura. Ia lalu pergi menyusul Hinata. Meskipun samar, ia seperti melihat gadis itu mengusap air matanya. Apa dia menangis?

"Oi, Indigo!" serunya. Berharap gadis itu mendengarnya, tapi bukannya berhenti, langkah gadis itu malah semakin cepat. "Kenapa dia?" gumam Naruto bingung. Ia akhirnya berlari mengejar Hinata. Sepertinya kondisinya sedang tidak baik, karena ia melihatnya beberapa kali seperti mengusap air matanya. Ck, kenapa sebenarnya gadis itu?

Bungsu Hyuuga itu berlari kea rah bianglala yang kebetulan sedang sepi antrian. Saat, bianglala berhenti, ia dengan cepat berusaha menaikinya. Kenapa juga dia naik itu? Bukannya dia takut ketinggian? Naruto mempercepat larinya, berusaha mengejar gadis itu. Dan saat adik Hyuuga Neji itu masuk ke dalam bianglala, ia berteriak, "tungguuu!" membuat orang-orang yang ada disana, termasuk petugas taman yang bertugas menjalankan bianglala itu terkejut. "Aku mau naik itu!" serunya. Pemuda itu langsung melompat masuk ke arah bianglala yang dinaiki Hinata tepat sebelum wahana itu berjalan kembali.

Naruto mendudukan dirinya disamping Hinata yang memunggunginya. Ia mengatur nafasnya. Kelelahan karena mengejar gadis itu tadi. Matanya berlaih menatap gadis yang memunggunginya. Seketika wajahnya berubah kesal. "Kau ini kenapa sih? Ku panggil bukannya berhenti malah berlari," ucapnya, tapi tak ada jawaban yang terdengar.

Naruto menghela nafas, berusaha menenangkan dirinya. Tubuh gadis itu begetar. "Oi, Indigo." Masih tak ada jawaban. Ia berusaha membalikkan tubuh gadis itu. Memang sulit karena Hinata berkali-kali menolaknya, tapi akhirnya dengan sedikit paksaan, mereka akhirnya bisa berhadapan.

Wajah gadis itu merah. Entah karena kesal atau malu atau gabungan antara keduanya. Matanya masih berkaca-kaca mesti air matanya sudah berhenti. "Kau… kenapa?" tanya Naruto pelan.

Hinata membuang muka. "Bukan urusanmu. Kenapa juga kau mengikutiku," jawab gadis itu ketus.

"Urusanku. Jadi, jawab pertanyaanku." Tapi Hinata masih bungkam.

Kabin yang mereka naiki tiba-tiba bergoyang, membuat Hinata memeluk Naruto refleks. Naruto menyeringai mengetahui rencananya berhasil. Entah apa yang dilakukannya. "Hee, kau takut ketinggian ya?" Naruto menepuk-nepuk kepala Hinata di dadanya.

Hinata yang menyadari itu, melepas pelukannya, tapi kabinnya bergoyang lagi, membuatnya bergetar ketakutan. Naruto membawa gadis itu ke dalam pelukannya lagi. "tak usah dilihat kalau kau takut," ujar pemuda itu, berusaha menenangkan Hinata. Awalnya, gadis itu menolak, tapi karena nyaman akhirnya ia tak melepasnya, malah semakin mengeratkan pelukannya.

"Kau masih belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau tadi lari saat kupanggil, Indigo?" ulang Naruto.

"Karena aku tak ingin bertemu denganmu," jawab gadis itu masih dengan nada ketusnya.

"Oh? Lalu kenapa kau tak mau bertemu denganku?" tanya Naruto lagi.

"Lagipula untuk apa kau mengejarku? Bukankah kau sedang bersama Sakura tadi?" Ingatannya kembali melayang ke saat dimana ia melihat pemuda itu dan Sakura bersama.

Naruto diam beberapa saat, sebelum bibirnya terangkat menampilkan senyum. "Hee, kau cemburu melihatku dan Sakura bersama?" tanyanya setengah bercanda.

Naruto bisa merasakan tubuh Hinata menegang dalam pelukannya. Jadi benar, eh? "Ti-tidak! Untuk apa juga aku cemburu padanya!" sanggah gadis itu.

"Hm, karena kau menyukaiku, eh?" Matanya memandang wajah gadis itu yang perlahan tersipu malu. Ia tersenyum senang dalam hati.

Hinata mencubit perut Naruto, membuat empunya mengaduh kesakitan. "Itu karena kau terlalu percaya diri beranggapan kalau aku menyukaimu," ucap gadis itu.

"Hee, tapi aku benar 'kan?" tanyanya lagi.

"Kau salah. Lagipula untuk apa aku menyukai orang yang menyukai orang lain."

"Apa maksudmu aku menyukai orang lain?"

"Kau… menyukai Sakura bukan? Kau sendiri yang bilang kemarin." Hinata menunduk menyembunyikan wajahnya ketika Naruto meliriknya.

"Aku? Yah.. aku memang menyukai Sakura sih… tapi hanya sebagai teman. Lagipula dia pacar sahabatku. Mana mungkin aku rebut 'kan?" Perkataan pemuda itu membuat Hinata menegakkan kepalanya. Dan wajahnya langsung berhadapan dengan wajah Naruto yang juga sedang menatapnya dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. "Lagipula aku menyukai orang lain," lanjutnya.

Orang lain? Siapa?

Ini membuat Hinata penasaran. Siapa orang yang disukai Naruto? Rasanya mulutnya gatal ingin bertanya, tapi diurungkannya niatnya itu.

Naruto melepas pelukannya pada Hinata ketika bianglala yang mereka naiki berhenti. Gadis itu dengan enggan melepas pelukannya juga pada Naruto. Naruto yang melihat wajah Hinata murung, menatapnya dengan tatapan jahil. "Apa sebegitu nyamannya ada di pelukanku, eh?"

Wajah gadis itu seketika memerah. Ekspresinya berubah menjadi kesal. "A-apa maksudmu?! Aku tidak berpikir itu nyaman! Hahh, dasar bodoh!" umpat gadis itu lalu pergi meninggalkan Naruto.

Naruto hanya tertawa melihatnya. "Hm, memang nyaman sih," gumamnya sembari tersenyum memperhatikan gadis itu dari jauh.

"Hinata? Yaampun, kalian darimana sih? Aku mencarimu daritadi! Kalian juga tak bisa ku hubungi.."

Hinata menundukkan kepalanya, merasa bersalah. "Maaf, Nii-san .. ponselku baterainya habis," jawabnya pelan.

Neji beralih menatap Naruto yang daritadi hanya diam saja. Naruto yang merasa diperhatikan oleh kawan sepermainannya itu hanya bisa mengendikkan bahunya. "Jangan tanya aku. Dia yang kabur saat kupanggil lalu membawaku naik bianglala."

"Bianglala? Kau bahkan takut ketinggian. Kenapa kau naik itu?" tanya Neji tak habis pikir dengan kelakuan adiknya itu.

Hinata hanya diam, tanpa ada niatan menjawab pertanyaan kakaknya itu. Itu membuat Neji akhirnya pasrah saja. Jika sudah seperti ini Hinata takkan mau menjawab apapun pertanyaannya. Jadi, lebih baik sudahi saja.

"Yasudahlah, lupakan saja. Yang penting kau tidak hilang lagi," ucap sulung Hyuuga itu pada akhirnya.

Setelah mendengar itu, artinya masalah telah selesai. Naruto, Ino, dan Shion kembali pergi melanjutkan aktivitas mereka,menaiki sisa wahana yang belum mereka naiki.

Menjelang petang, mereka semua memutuskan untuk mengakhiri kegiatan dan pulang ke rumah. Sebenarnya, masih banyak wahana yang belum dicoba, tapi tak cukup sehari jika mau mencoba semua wahana di taman terbesar se-Konoha ini. Tentu saja karena Amagi Park ini luas sekali.

"Curang. Harusnya kau naik bus juga, Naru!" omel Shion.

"Suruh siapa meninggalkanku! Lagipula kalau aku naik bus juga tadi, akan makin telat dan yang ada kalian malah akan mengomeliku. Malas," jawab pemuda itu dengan tampang malasnya,

Hinata memegangi perutnya. Entah kenapa ia tiba-tiba sakit perut. "Kenapa? Kau sakit?" tanya Neji. Wajahnya menyiratkan rasa khawatir.

Hinata meringis. "Perutku tiba-tiba sakit Nii-san…" Ia lalu berlari mencari toilet setelahnya, tanpa menghiraukan panggilan Neji.

"Kenapa dia?" tanya Naruto.

"Sakit perut," jawab Sai.

"Aku tidak bertanya padamu." Naruto melirik Sai datar.

Pemuda klimis itu membalas tatapan Naruto. "Aku hanya membantu menjawab" balasnya dengan senyum menghiasi wajahnya.

Setelah lima belas menit berlalu, Hinata belum juga kembali. Tenten dan Ino berkali-kali melihat jam tangannya. "Aku harus pulang," ucap gadis bercepol dua itu.

Ino mengangguk menyetujuinya. "Aku juga."

"Kalian pulanglah duluan. Biar aku yang menunggu Hinata disini," ucap Neji. Pemuda itu melirik jam tangannya. Sudah jam delapan malam.

"Bagaimana kalau Naruto saja yang menunggu Hinata disini? Sai antarkan Ino, Neji-nii antarkan Tenten. Aku dengan Menma. Bagaimana?" usul Shion.

Ino yang mendengar itu tentu saja sangat menyetujuinya. "Ide bagus!" serunya. "Lagipula Naruto-senpai 'kan bawa motor, jadi nanti tak usah menunggu bus lagi."

"Tapi…"

"Tak apa Nii-san tenang saja. Naruto tak akan berani macam-macam pada Hinata kok. Aku akan menjaminnya," ujar Shion meyakinkan.

Akhirnya dengan terpaksa Neji menyetujui usul adik sepupunya itu. Mereka pulang naik bus seperti saat mereka pergi tadi. Rasanya nanti Naruto harus berterima kasih pada Shion karena kembali memberinya kesempatan berdua dengan si bungsu Hyuuga itu.

Sepuluh menit setelah Shion dan yang lainnya pergi, Hinata kembali dengan masih memegangi perutnya. Wajah gadis itu pucat. Naruto yang melihatnya, menghampirinya. "Masih sakit?" tanyanya.

Gadis itu kembali meringis pelan. "Sedikit. Kemana Neji-nii dan yang lainnya?" tanyanya heran ketika matanya tak menemukan kakak dan teman-temannya.

"Mereka sudah pulang."

Hinata menatap Naruto tak percaya. "Pulang? Aku ditinggalkan?"

Naruto mengangguk. "Begitulah. Kau pulang denganku," jawabnya santai.

"Apa? Kenapa juga aku harus pulang denganmu?" Ia kembali meringis.

"Karena Neji menitipkanmu padaku. Dia harus mengantar Tenten. Lebih baik kita ke apotik, membeli obat untukmu." Tadinya Hinata mau menolak, tapi saat ini perutnya sedang sakit dan Naruto benar, lebih baik mereka membeli obat untuk meredakan sakit perutnya yang tak kunjung sembuh.

"Pegangan," ucap pemuda itu pada Hinata, tapi gadis itu tak merespon. Ia memajukan motornya tiba-tiba yang membuat Hinata dengan refleks memeluknya. "Kan sudah kubilang pegangan," ulangnya.

Gadis itu tak menjawabnya, tapi tangannya yang melingkar di perut Naruto semakin erat membuat pemuda itu tersenyum melihatnya, tanpa menyadari wajah Hinata yang diam-diam tersipu malu di balik badannya.

.:0o0:.

"Terima kasih."

Ia menoleh. Senyum mengembang di wajah tannya. "Sama-sama. Perutmu sudah tak sakit lagi 'kan?" tanyanya.

Hinata menggeleng. "Tidak. Um… mau masuk?"

Naruto melirik jam tangannya sebelum menjawab, "tak usah. Aku langsung pulang saja." Pemuda itu mengenakan kembali helmnya.

Saat pemuda itu sudah menyalakan kembali mesin motornya dan hendak pergi, suara Hinata menghentikannya. Ini pemandangan yang jarang. Ia bahkan mungkin belum pernah melihat wajah gadis itu tersipu malu dan salah tingkah di hadapannya seperti ini. "…hati-hati di jalan…" ucapnya pelan.

Tawanya pecah, membuat Hinata memasang ekspresi kesal di wajahnya. "Maaf maaf. Hanya saja kau yang seperti itu lucu sekali." Ucapannya kembali membuat gadis itu tersipu malu.

Tangannya terjulur mengusap puncak kepala gadis itu. "Aku pulang ya. Sampai jumpa," ucap pemuda itu lalu segera beranjak pergi dari sana.

Hinata memperhatikan pemuda itu sampai ia hilang di belokan lalu masuk ke rumah setelahnya.

Hinata memutuskan untuk mandi karena seharian ini badannya keringatan dan lengket setelah bermain di Amagi Park. Ia berendam di air hangat setelahnya. Ingatannya kembali berputar saat ia dan Naruto menaiki bianglala. Wajahnya memerah seketika. Pemuda itu memeluknya, tersenyum padanya. Dan dia bilang kalau dia hanya menyukai Sakura sebagai teman, tapi ada orang lain yang disukainya.

Siapa orang lain itu?

Otaknya tak bisa berhenti berpikir tentang siapa orang yang disukai pemuda itu. Ia benar-benar penasaran. Apa aku boleh berharap jika itu aku? Ia lalu menggeleng, berusaha mengenyahkan pikirannya. Mana mungkin Uzumaki menyukaiku. Aku bahkan tak pernah bersikap baik padanya.

Hinata murung seketika. Yah, memang sih. Kalau diingat-ingat selama ini, sikapnya tak pernah manis, di depan pemuda itu. "Ah, aku tak mau mengingatnya," gumamnya, kesal pada dirinya sendiri.

Setelah merasa cukup berendam, Hinata memutuskan untuk kembali. Lebih baik ia tidur. Tidur adalah salah satu alternatif yang paling mudah untuk menenangkan pikirannya.

Hinata mengenakan piyamanya sebelum akhirnya beranjak ke tempat tidur. Ini hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Mungkin ia harus berterima kasih pada Shion nanti. Hinata tersenyum memikirkannya. Matanya tertutup sebelum akhirnya ia mengunjungi ke alam mimpi.

Sampai jumpa…


Mind to Review?

Nx