UPS SORRY
EPILOGUE
After All This Time
Halo ini epilogue setelah mempertimbangkan permintaan untuk epilogue, maaf jika ceritanya agak ngawur karena jujur saya gak nyiapain epilogue ceritanya ya habis di chapter 11, untuk epilogue ratednya jadi M hahaha, bagi yang dibawah umur jangan baca dulu ya, sabar dulu sampek ulang tahun ntar
pengin nulis M-preg jadi belajar di epilogue ini pengin belajar nulis lemon juga jadi belajar di sini, hahaha jadi epilogue ini bisa dibilang kelinci percobaan, karena segala ketidaksiapan itu harap maklum jika epiloguenya amburadul ya ampun…. Saya minta maaf. Terima kasih untuk semua pembaca. Happy Reading…..
¶¶¶
Hari ini Mino sengaja bangun lebih pagi, datang ke kantor lebih awal, dan menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, keseriuasannya bahkan membuat Paman Seunghoon terkesan begitu juga dengan ayahnya.
"Tuan Muda hari ini terlihat bahagia?"
"Tentu saja." Ucap Mino sambil melirik ke arah kalender meja, dua dijit angka dengan lingkaran merah. Menandakan bahwa dua dijit tersebut sangat istimewa baginya.
"Aku selesai Paman." Ucap Mino penuh percaya diri. "Apa Paman bisa meninggalkanku sekarang, dan membawa semua berkas ini keluar?"
"Tentu Tuan Muda."
Mino mendesah pelan, ia memakai layar ponselnya sebagai cermin. Anting yang Seungyoon berikan masih bertengger manis pada telinga kanananya, sejak lima tahun terakhir. Iapun bangkit dari kursinya menanggalkan jas mahalnya karena ia yakin Seungyoon tidak menyukai segala bentuk kemewahan.
Sebentar lagi aku ke taman
Ponselnya bergetar, Mino bergegas membaca balasan yang membuatnya tersenyum. Aku juga, begitu jawaban Seungyoon. Mino berlari meninggalkan ruangannya. Beberapa staf yang melihatnya hanya bisa melempar tatapan heran yang Mino acuhkan.
Setelah menunggu lima tahun dan hanya berhubungan menggunakan ponsel itupun hanya dilakukan setiap akhir pekan, setelah menunggu sekian lama, menahan rindu, rasa cemas dan was-was akhirnya hari ini semua akan berakhir.
Dengan antusias Mino menaiki lift yang akan membawanya menuju lantai dasar, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Telapak tangannya mulai lembab, saat ini lebih menegangkan dibandingkan memimpin rapat dengan perusahaan multinasional untuk pertama kalinya. Mino mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor Seungyoon yang sebenarnya sudah ia hafal di luar kepala.
"Seungyoon, aku hampir sampai."
"Aku juga."
"Aku baru keluar dari lift, aku di lantai dasar sebentar lagi aku menyeberang ke taman kota."
"Hati-hati. Hubungi aku jika kau sudah sampai di taman kota."
Mino melakukan perintah Seungyoon, ia putuskan sambungan telfonnya. Mino berlari cepat menuju pintu keluar gedung. Jalanan masih sepi karena jam pulang kantor masih sekitar tiga jam lagi. Meski sepi Mino menyeberang dengan hati-hati mengikuti isyarat lampu.
Mino berlari kencang memasuki taman kota, menuju tempat perpisahannya dengan Seungyoon lima tahun yang lalu. seseorang berdiri membelakanginya, ia tidak yakin apakah orang itu Seungyoon. Maka ia putuskan untuk menghubungi Seungyoon dan menanyakan keberadaannya.
"Aku sudah sampai kau dimana?"
"Di dekat bangku taman."
"Bangku taman yang mana?"
"Tempat kita berpisah dulu, Kang Seungyoon."
Seseorang di hadapannya berbalik, keduanya bertatapan. Mino meneliti setiap jengkal tubuh Seungyoon. Bertambah tinggi, tatanan rambut yang lebih rapi, garis wajah yang lebih tegas. Seungyoon mengenakan kemeja hitam dipadu celana jins putih. Perlahan Mino melangkah mendekat, dia masih belum bisa mempercayai bahwa seseorang yang berdiri di sana adalah Seungyoonnya.
"Halo Seungyoon," Mino masih berbicara melalui ponselnya.
Seungyoon tersenyum simpul. "Song Minho."
Keduanya mematikan ponsel masing-masing. "Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja, setiap akhir pekan kita bertukar kabar kan seharusnya kau tau dengan pasti kabar terakhirku."
"Kau selalu dingin dan menghancurkan momen romantis yang ingin aku buat." Keluh Mino kesal yang hanya ditanggapi senyuman oleh Seungyoon. Mino melirik takut-takut. "Hmmm, Seungyoon—apa aku boleh memelukmu?"
"Tentu." Tanpa menunggu lagi Mino langsung merengkuh tubuh Seungyoon, memeluknya dengan erat.
"Terima kasih sudah menungguku Kang Seungyoon, atau aku panggil Insinyur Kang Seungyoon."
Seungyoon tertawa pelan dalam pelukan Mino. "Tidak perlu memakai embel-embel apapun pada namaku, menjijikkan."
"Hei kau sudah bekerja keras untuk mendapatkan gelar sarjanamu."
Seungyoon melepaskan diri dari pelukan Mino. "Ya, tapi aku masih kalah darimu Tuan Direktur." Mino tersenyum lebar menanggapi ucapan Seungyoon.
"Jadi—kau mengakuiku sekarang?"
"Tentu, kau juga mengakuiku, ayahmu juga?"
"Tentu saja Seungyoon apa kau lupa aku dan ayahku datang di upacara wisudamu?"
"Ya sedikit lupa."
"Kau ini!" pekik Mino jengkel pelan dia menarik tangan kanan Seungyoon dan memeluknya kembali. "Aku merindukanmu sangat merindukanmu Kang Seungyoon."
"Aku tahu."
"Kau sudah makan?"
"Belum."
"Ayo ikut aku."
"Kemana?"
"Hei, aku sudah mengabulkan dua permintaanmu sekarang giliranku meminta sesuatu padamu."
Seungyoon mengerutkan kening. "Asal jangan aneh."
"Kenapa? Permintaanmu juga aneh, meminta tidak bertemu selama lima tahun beruntung kau mendapatkan kekasih sepertiku yang setia jadi aku bersedia menunggu sampai lima tahun."
"Apa kau pernah tergoda dengan orang lain?"
Mino melepaskan pelukannya. "Tidak pernah aku fokus pada tujuanku, kau—apa kau pernah tergoda dengan orang lain?"
Seungyoon melepaskan pelukannya membuat Mino cemas. "Berulang kali." Sungguh, jawaban Seungyoon hampir membuat jantung Mino berhenti berdetak. "Wajar kan, jika aku melirik orang lain, saat kau melihat seseorang yang tampan atau cantik kau pasti memuji mereka."
"Oh," balas Mino pelan.
"Kau juga melakukannya bukan?"
"Ya. Tapi tidak sering juga. Jadi apa lima tahun ini kau sudah berpikir dengan matang?"
Seungyoon mengangguk mantap. "Ya, dan kau pilihanku terserah jika perasaanmu tidak sama yang jelas aku sudah mengatakannya."
"Bagaimana kau bisa berpikir jika aku akan berubah? Dengar ya Kang Seungyoon, dengar baik-baik." Mino menghentikan langkahnya menghadang Seungyoon. "Selama lima tahun ini aku terus memikirkanmu, tidak ada siapapun yang mampu menggantikan posisimu, apa kau masih tidak yakin, apa kau akan meminta tambahan waktu lagi? Jika itu yang kau inginkan, aku tidak tahan lagi. Aku akan mengurungmu di rumahku jika kau meminta tambahan waktu lagi."
"Wow, itu—mengerikan, mengurungku, kau pikir aku hewan peliharaan."
"Terserah apa anggapanmu yang penting aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi." Ucap Mino tegas namun bagi Seungyoon justru terdengar kekanak-kanakan.
"Baiklah," desah Seungyoon. "Terserahlah, tapi seandainya aku mencintai orang lain apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan menculikmu dan membunuh orang yang kau sukai itu." ucap Mino serius sambil menatap tajam kedua mata kelam Seungyoon.
PLAKK! Sebuah pukulan mendarat manis pada puncak kepala Mino. "Darimana kau belajar pikiran psikopat seperti itu?!" pekik Seungyoon kesal.
"Sakit Seungyoon," keluh Mino mengusap puncak kepalanya yang mungkin saja benjol sekarang. "Tapi aku benar-benar akan melakukannya jika itu yang terjadi."
"Beruntung hal itu tidak terjadi, kau bisa masuk penjara." Balas Seungyoon dengan wajah acuhnya seperti biasa.
"Lima tahun tetap saja tidak berubah," keluh Mino.
"Apanya yang tidak berubah?"
"Bersikaplah sedikit manis di hadapanku." Seungyoon hanya menatap Mino dengan tatapan kosong. "Aish! Baiklah tidak perlu bersikap romantis di hadapanku." Ucap Mino frustasi.
"Baiklah sekarang beritahu aku apa keinginanmu?"
Mino hanya tersenyum penuh arti kemudian menggenggam tangan kanan Seungyoon. "Kau akan tahu nanti bersabarlah seperti yang aku lakukan untukmu."
"Jadi kau membalas dendam?!" pekik Seungyoon.
"Ya, bisa dikatakan seperti itu. Tempatnya tidak jauh."
Seungyoon menahan semua rasa ingin tahunya, ia berjalan di samping Mino dengan tangan kanan yang berada di dalam genggaman hangat tangan kekasihnya. Sebuah bangunan megah menjulang di hadapannya. "Hotel?" Seungyoon menoleh melempar tatapan heran.
"Ya, aku ingin melakukannya sejak lama."
"A—apa yang ingin kau lakukan di tempat ini?"
"Kenapa kau gugup? Sekarang usiaku sudah dua puluh lima dan kau dua puluh empat."
"Song Minho..," Seungyoon menelan protesnya, ia sadar semua yang Mino katakan tepat. Dan dia yakin Mino pasti menahannya terlalu lama padahal ada begitu banyak pilihan diluar sana yang dengan bebas bisa ia pilih.
Keduanya menaiki lift, Seungyoon mempererat genggaman tangannya pada Mino. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Mino berpindah ke belakang tubuhnya. Dan semuanya menjadi gelap. "Apa yang kau lakukan?" tanya Seungyoon dengan nada berbisik.
"Menutup matamu, bersabarlah." Bisik Mino, nafas hangatnya menerpa tengkuk Seungyoon dengan cara yang sangat menggoda. "Sekarang melangkahlah."
Seungyoon melakukan semua perintah Mino, ia mendengar suara pintu berderit tepat di hadapannya. Kegelapan yang tadi menyelimutinya perlahan menghilang. Seungyoon tersenyum melihat pemandangan indah di hadapannya.
Mereka ada di puncak gedung, satu meja dua kursi, dengan pelayan dan iringan musik, dan jangan lupakan kanopi bunga yang indah. "Wow, apa ini semacam kencan?"
"Aku belum pernah melakukan makan romantis denganmu, jadi ini permintaan pertamaku yang harus kau kabulkan." Seungyoon memutar kedua bola matanya, tadi dia sudah berpikir yang tidak-tidak tentang hotel dan Mino. "Kenapa wajahmu seperti itu? apa kau memikirkan hal lain?" goda Mino.
"Tidak." Balas Seungyoon ketus ia mendorong pelan tubuh Mino menyingkir dari jalannya. Mino hanya tersenyum simpul sebelum melangkah menyusul Seungyoon dan duduk di hadapannya.
Seungyoon memilih untuk memperhatikan keadaan dari atap gedung, dia tidak terlalu mengerti masakan barat dia percaya Mino sudah mengatur semuanya dengan baik. "Makanlah." Sesuai perintah Mino, Seungyoon langsung mengalihkan pandangannya pada hidangan di hadapannya.
Seungyoon berusaha keras untuk tidak mendesah jengah, kenapa semua hidangan hotel berbintang selalu disajikan dalam porsi kecil, dengan bentuk mempesona namun tidak memenuhi seluruh ruang di dalam perutmu. "Aku harap kau menyukai hidangannya."
Seungyoon memijit batang hidungnya kemudian dengan terpaksa tersenyum agar Mino sedikit merasa senang. Seungyoon memperhatikan cara makan Mino yang beradab memotong daging ikan dengan pisau dan garpu. "Aku tidak harus bersikap manis di hadapanmu kan?"
Mino mengangkat wajahnya kemudian menggeleng pelan. Seungyoon tersenyum simpul, ia mengangkat garpu dengan tangannya, menusuk potongan ikan salmon kecil di dalam piringnya dalam sekali tusuk, dan memakannya dalam sekali lahap. Mino hanya melempar tatapan tidak percaya. "Kenapa?" tanya Seungyoon datar.
Mino menggeleng pelan kemudian tersenyum lebar. "Aku senang kau tidak berubah dan selalu menjadi dirimu sendiri."
"Hmmm," gumam Seungyoon menanggapi karena mulutnya masih sibuk mengunyah.
Dan selanjutnya makan siang berlangsung dengan lancar dan baik-baik saja, tapi bukan jenis makan siang elegan dan romantis seperti keinginan Mino, sebab Seungyoon bukan tipe orang romantis dan mudah terenyuh dengan hal-hal manis seperti musik, bunga, dan kata-kata manis.
Keduanya duduk berhadapan setelah semua orang meninggalkan atap sesuai perintah Mino. Mino memegang segelas anggur sementara Seungyoon belum berniat untuk meminum alkohol di siang hari musim panas. "Aku ingin tahu apa saja yang kau lalui lima tahun ini."
"Apa, kau kan hampir tahu semuanya aku selalu bercerita padamu." Balas Seungyoon.
"Aku ingin tahu saat kau sedih, butuh dukungan, saat kau merasa hampir menyerah dan menganggap semuanya sia-sia."
"Oh itu—aku rasa saat ibuku sakit aku putus asa dan takut, selain itu aku rasa semuanya baik-baik saja."
"Bagaiaman dengan tugas akhir yang sangat menyiksa itu?" Mino menatap Seungyoon intens.
"Aku tidak putus asa."
"Benarkah?" selidik Mino sambil melempar senyum jahil.
"Aku tidak putus asa hanya ingin kabur saja." Balas Seungyoon kesal. Mino tertawa pelan kemudian menenggak sisa anggur di dalam gelasnya.
"Kau sendiri apa?" Seungyoon menatap Mino dengan serius.
"Aku—tidak ada, aku menikmati setiap proses yang aku jalani, karena aku terus berpikir setiap akhir pekan aku akan menghubungimu, dan setiap hari yang berlalu membawaku lebih dekat denganmu."
Mungkin jika orang lain yang mendengar ucapan seperti itu mereka akan tersipu malu. "Terima kasih sudah mengingatku sampai sedalam itu." balas Seungyoon datar.
"Kang Seungyoon…," geram Mino pelan. "Sekarang kabulkan permintaan keduaku."
"Apa?"
"Katakan bahwa kau mencintaiku, selama lima tahun ini aku belum pernah mendengar ungkapan cinta darimu, atau bahkan selama kita menjalin hubungan kau belum pernah mengatakannya!" Ucap Mino berapi-api, Seungyoon hanya melempar tatapan bingung. "Baiklah," desah Mino putus asa. "Kau memang tidak cocok dengan hal-hal semacam itu."
Mino meletakkan gelas anggurnya menatap Seungyoon, mengamatinya dengan seksama. Seungyoon menegakkan badannya ia tahu bahwa pembicaraan serius akan segera dimulai. "Seungyoon jawab aku dengan jujur, apa kau pernah tidur dengan seseorang?"
"Tentu saja pernah, berulang kali aku tidur dengan Taehyun, ibu Taehyun, nenek Taehyun juga, ibuku juga, teman SD ku saat kemah oh teman SMP juga kami tidur dalam satu tenda."
"Kau ini polos atau bodoh sih, bukan tidur seperti itu maksudku," gumam Mino pelan, Seungyoon mengerutkan keningnya berusaha mencerna kalimat Mino.
"Oh, maksudmu tidur yang seperti itu. Tentu saja tidak pernah kau pikir aku laki-laki murahan. Kau?"
"Tentu saja pernah, sebelum bertemu denganmu." Mino menggigit pelan bibir bawahnya, tatapannya melembut. "Dan aku minta maaf padamu karena itu."
"Kenapa minta maaf? Tidak ada yang salah."
"Karena aku akan menjadi yang pertama untukmu sedangkan kau—bukan yang pertama untukku."
Seungyoon tersenyum simpul. "Jangan hidup di masa lalu."
"Jika aku melamarmu sekarang apa kau akan menerimanya?"
"Wow sekarang?! Bukankah itu terlalu cepat, hari ini pertemuan pertama kita setelah lima tahun."
"Kenapa? Apa kau punya hal lain yang harus kau wujudkan?"
Seungyoon menggeleng pelan. "Bukankah menikah itu perlu banyak persiapan, jujur mungkin aku baru siap menikah saat usiaku tiga puluh tahun ke atas."
"Apa waktu lima tahunmu masih kurang? Jadi lima tahun hanya untuk berpikir aku pantas untukmu, belum termasuk masa depan?"
Seungyoon memijit pelan batang hidungnya. "Bukan seperti itu maksudku…,"
"Apa yang kau takutkan? Berbagilah denganku Kang Seungyoon." Ucap Mino lembut memotong kalimat Seungyoon.
Seungyoon mendesah pelan. "Ada banyak yang aku takutkan, kebebasanku akan terenggut, lalu memiliki anak dan mendidiknya, kau tahu aku tidak tumbuh di keluarga yang lengkap aku tidak tahu bagaimana mendidik anak."
"Kau pikir aku juga tahu, kita bisa belajar perlahan-lahan, percayalah aku akan selalu ada untukmu. Percayalah padaku, cobalah, seperti aku mempercayaimu selama lima tahun ini, bahwa kau tidak akan mengkhianatiku."
"Soal anak, mengandung dan melahirkan pasti itu sangat…., ah aku bahkan tidak sanggup membayangaknnya!" pekik Seungyoon ngeri sembari menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
Mino tertawa pelan. "Jika kau terus membayangkan ketakutanmu kau akan single seumur hidupmu."
"Kau!" pekik Seungyoon sambil menendang kaki Mino di bawah meja.
"Aww!" keluh Mino memegangi kaki kanannya yang menjadi korban kekerasan Seungyoon. "Sakit Seungyoon."
"Rasakan itu! Ucapanmu menyebalkan." Ucap Seungyoon ketus.
"Sekarang kabulkan permintaanku yang lain jika kau masih belum siap untuk menerima lamaranku."
"Katakan, asal tidak merepotkan."
Tatapan serius itu kembali, kali ini Mino berdiri dari kursinya melangkah mendakati Seungyoon. Ia mengulurkan tangan kanannya. "Maukah kau berdansa denganku?"
Seungyoon mengerutkan keningnya. "Ini permintaanmu?"
"Bukan, aku hanya bertanya apa kau bersedia."
"Tidak aku tidak bisa dansa." Balas Seungyoon datar.
Mino tersenyum miring. "Kau harus mau." Dengan cepat bahkan Seungyoon tidak sempat menghindar Mino menarik tangan kanan Seungyoon, merengkuh tubuhnya. "Hei!" ia abaikan teriakkan protes yang keluar dari bibir Seungyoon.
Seungyoon berusaha melepaskan tangan Mino dari pinggangnya, sayang gagal karena Mino jauh lebih kuat dibanding dirinya. "Lima tahun berlalu dan kau hampir menutup kembali lemari besimu, bersembunyi di dalam seorang diri."
"Aku tidak…,"
"Ssstttt," bisik Mino memotong kalimat Seungyoon. "Sekarang dengarkan permintaanku." Seungyoon terdiam menunggu di dalam pelukan Mino. "Berikan aku sesuatu yang paling berharga yang kau miliki."
"Aku tidak mengerti," bisik Seungyoon.
"Baiklah, Kang Seungyoon aku ingin kau tidur denganku dan mengandung anakku."
Seungyoon mendorong kasar tubuh Mino. "Jangan macam-macam."
Mino mendesis jengah. "Aku melamarmu kau tidak menerimaku, lalu apa yang kau inginkan. Apa kau ingin bebas dariku? Apa yang kau inginkan Kang Seungyoon?"
"Mino aku—aku—belum siap, maaf."
Mino tersenyum pedih. "Baiklah, mungkin aku terdengar gila jika mengatakan bahwa aku sangat menginginkan sebuah keluarga, aku hanya merasakan sebuah keluarga yang utuh dan bahagia dalam waktu singkat, namun dalam waktu singkat itu ada banyak kenangan membahagiakan yang ingin aku bagi dengan darah dagingku sendiri."
Seungyoon menelan ludah dengan kasar. "Aku juga menginginkan keluarga, tapi bukan sekarang."
Mino mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu aku mengerti, sepertinya waktu lima tahun masih belum cukup untukmu. Maaf Seungyoon aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, aku akan melepaskanmu. Carilah jalanmu sendiri, semoga kau bahagia."
"Ya Song Minho! Kenapa kau selalu membuat hidupku sulit?!" pekikan Seungyoon menghentikan langkah Mino. Mino berbalik dengan kasar.
"Apa katamu?! Kau yang membuat hidupku sulit Kang Seungyoon!"
"Aku! Apa salahku?!"
"Pesan salah kirimmu itu, jangan berlagak polos Kang Seungyoon! Karena pesan salahmu itu kau sudah mengacaukan hidupku, hidupku jungkir balik karena kehadiranmu."
"Wow, lalu bagaimana dengan penyerangan di toko itu dan aku yang hampir mati apa itu salahku juga?!"
Mino terperanjat, kalimat Seungyoon benar-benar menusuk. "Kang Seungyoon kau datang dan mengacaukan segalanya, membuka pintu hatiku, menghilangkan semua ketakutanku, lalu saat aku sudah bersedia menerimamu kau selalu menghindar. Apa itu keahlianmu?! Menghindar, menghindar, dan menghindar."
"Tutup mulutmu Song Minho!"
"Apa kau menyesal sudah bertemu denganku? Apa kau menyesali semua yang sudah terjadi Kang Seungyoon?"
"Kenapa semakin runyam," gerutu Seungyoon pelan.
"Sia-sia aku menunggumu selama lima tahun." Ucap Mino datar ia berbalik dan berjalan pergi.
"Tunggu." Ucap Seungyoon sambil menahan lengan kanan Mino.
"Sebaiknya kita akhiri saja Seungyoon, aku benar-benar tidak bisa memahamimu tidak peduli seberapa keras aku mencobanya tetap saja, aku tidak bisa memahamimu."
"Tunggu jangan pergi, aku mohon Mino jangan pergi. Tolong mengertilah aku benar-benar takut, permintaanmu itu benar-benar diluar dugaanku."
Mino menarik nafas dalam-dalam mencoba bersabar. "Dulu kau mengatakan bahwa waktu lima tahun pasti membuat kita lebih dewasa, itu hanya permintaan sederhana Seungyoon, aku sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu tapi tetap saja kau merasa ragu. Aku tidak sanggup lagi menghadapimu."
Perlahan Seungyoon melepaskan tangannya dari lengan Mino. "Aku minta maaf sudah berkata kasar padamu."
Mino mendesah pelan, menurunkan emosinya. "Aku juga."
Seungyoon mengigit pelan bibir bawahnya sementara Mino sudah bersiap untuk pergi. Sekarang atau tidak selamanya. "Aku mencintaimu Mino. Aku rasa di masa depan akan lebih banyak pertengkaran di antara kita."
"Apa kau percaya padaku Kang Seungyoon?"
"Aku akan belajar untuk mempercayaimu."
"Aku juga mencintaimu Seungyoon."
"Hanya seperti ini? Kita berbaikan?"
"Kau ingin bertengkar lebih lama lagi?" Mino melempar tatapan tajam kepada Seungyoon.
"Tidak juga, tapi lucu sekali pertengkaran kita hanya seperti ini saja."
"Lalu kau ingin pertengkaran seperti apa? Apa aku perlu melemparimu dengan granat?"
Seungyoon mengerutkan dahinya. "Tidak sekejam itu."
Mino kembali memeluk Seungyoon dengan tiba-tiba. "Kau tahu kau benar-benar menyebalkan Seungyoon."
"Aku tahu, Ibu dan Taehyun sering mengatakannya."
"Jadi bagaimana dengan permintaanku apa kau akan mengabulkannya?"
"Baiklah," ucap Seungyoon berbisik.
"Apa?!" goda Mino.
"Ya, aku akan mengabulkannya. Aku mau pulang sekarang atur saja kapan tanggal pernikahannya."
SREETT! Mino menahan lengan kanan Seungyoon mencegahnya untuk pergi. "Apa lagi?" Seungyoon memutar kedua bola matanya jengah.
Mino mengigit pelan bibir bawahnya. "Apa kau tidak ingin memberikan kenang-kenangan pada pertemuan pertama kita setelah lima tahun?"
"Jangan katakan…," Seungyoon tidak melanjutkan kalimat Mino mengangguk pelan.
Seungyoon menelan ludahnya kasar. "Aku belum pernah melakukannya."
"Apa kau percaya padaku?"
"Hmmm," gumam Seungyoon pelan.
"Jangan mencemaskan apapun, jangan membebani pikiranmu dengan hal macam-macam. Percayalah padaku." Mino menarik pelan tangan kanan Seungyoon menuntunnya memasuki lift.
Di dalam lift Seungyoon tidak bisa menutupi kecemasannya, ternyata mereka hanya menuruni satu lantai. Saat pintu lift terbuka Seungyoon tidak disuguhi oleh lorong panjang hotel, namun, sebuah kamar yang luas dan indah. "Itu lift pribadi?" ucap Seungyoon sambil menatap ke arah Mino.
"Ya, apa kau tidak menyadari ukurannya lebih kecil?" Seungyoon mengangguk pelan. Pandangannya tertuju ke arah ranjang tempat tidur berukuran besar, dibalut sprei berwarna cokelat, emas, dan putih. Perlahan Seungyoon berjalan mendekat, menyapukan ujung-ujung jarinya pada permukaan sprei. "Lembut," gumamnya pelan.
"Apa kau suka dengan kamar ini?"
"Hmmm," gumam Seungyoon. Mino menyentuh lembut tangan kanan Seungyoon, menariknya mendekat, menghilangkan jarak yang tercipta.
"Aku mencintaimu." Bisik Mino, ia membingkai wajah tampan Seungyoon dengan kedua telapak tangannya. Merasakan betapa halus dan hangatnya kulit Seungyoon, merasakan bahwa semua ini nyata bahwa Seungyoon bukanlah mimpi semata.
"Aku juga," balas Seungyoon pelan, kedua matanya menyipit saat tersenyum.
Jari-jari tangan Mino begerak meneliti setiap lekuk wajah Seungyoon, mengaguminya, kedua mata Seungyoon begitu indah, menariknya pada dunia yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mino mendekat, menghilangkan jarak di antara dua belah daging merah indah di hadapannya.
Lembut, itulah yang ia rasakan saat bibirnya menyentuh bibir Seungyoon. Bergerak seirama, kedua tangannya tak lagi membingkai wajah Seungyoon, satu tangan turun merengkuh pinggang ramping Seungyoon sedangkan tangan lain bergerak mengusap tengkuk Seungyoon.
Perlahan Mino melepaskan kedua tangannya dari tubuh Seungyoon, dengan tatapan yang masih berusaha untuk meyakinkan Seungyoon. Kedua tangan Mino bergerak pelan mengusap leher jenjang Seungyoon, melewati kerah kemejanya. Kancing pertama terlepas, Seungyoon berjingkat sebelum akhirnya ia tenang. "Percayalah padaku," ucap Mino pelan. Seungyoon mengangguk pelan.
Mino menurunkan tangannya pada bulatan kancing kemeja Seungyoon yang lain. Seungyoon menundukkan wajah dan memejamkan kedua matanya. Jantungnya berdetak terlalu keras seolah jantungnya akan melompat keluar kapan saja.
Seungyoon merasakan udara dingin di dalam kamar kini menerpa kulitnya dengan bebas. Dia masih memejamkan kedua matanya saat ia merasakan kedua kakinya tak lagi menjejak lantai berlapis karpet mahal, beberapa detik kemudian kulit punggungnya menyentuh sesuatu yang sejuk dan lembut. "Buka matamu aku mohon," bisik Mino.
Perlahan Seungyoon menurut, ia mengamati setiap lekukan wajah Mino. mata, hidung, bibir, tulang pipi, semuanya terlihat sempurna. kemudian wajah tampan itu mendekat, menghilangkan jarak, dan sesuatu yang lembut kembali menyentuh permukaan bibirnya. Tenang dan tidak menuntut.
Seungyoon merasakan kain penghalang terakhirnya menghilang dengan perlahan. Ia ingin sekali kabur namun tatapan Mino yang teduh dan hangat kembali meyakinkannya. Perlahan tangan kanan Seungyoon bergerak dengan canggung mengusap punggung lembab kekasihnya yang tak terhalang apapun.
"Kau percaya padaku kan?"
"Iya aku percaya padamu."
Setiap ujung jari Mino yang menyentuh permukaan kulitnya terasa seperti api dan es berpadu menjadi sebuah rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sebuah rasa yang tidak mampu ia deskripsikan.
Kain selembut sutera perlahan menutupi kulit yang terbuka, mata kelam Mino terlihat yakin, genggaman tangannya hangat dan damai. Nafas hangatnya menyentuh permukaan kulit lehernya yang lembab. "Aku mencintaimu," bisiknya pelan, Seungyoon hanya bisa tersenyum, sensasi dan percampuran rasa yang kini ia rasakan membuat lidahnya kelu.
"Apa yang kau tunggu? Cintaiku aku sekarang." Suara yang ia keluarkan terlalu pelan membuatnya takut, seseorang di hadapanya tidak akan mendengarnya.
"Tentu," namun balasan itu mematahkan semua ketakutannya.
Kecupan lembut mendarat di atas dua gumpal daging lembut yang memerah, kedua mata terpejam. Sakit, meleaskan sesuatu yang berharga memang menyakitkan. Namun, tidak ada setitik penyesalanpun di dalam hatinya karena dia sudah menyerahkan sesuatu yang berharga itu kepada orang yang tepat.
Sebuah usapan lembut Seungyoon rasakan menyentuh wajahnya perlahan serupa kapas. Sesuatu yang hangat dan cair jatuh kelopak matanya, perlahan ia membuka daging penghalang kedua bola matanya. Kedua bola mata kelam langsung menyambutnya, tatapannya begitu teduh, dengan cairan yang menggenang dan menetes keluar. "Kenapa kau menangis?"
Sang pemilik mata kelam itu enggan menjawab hanya sebuah senyum tulus terukir pada wajah sempurnanya. Sang pemilik mata kelam mendekatkan wajahnya, mendaratkan ciuman lembut sebelum membisikkan sebuah kalimat yang semakin meyakinkannya bahwa dia adalah orang yang tepat. "Aku sangat mencintaimu Kang Seungyoon."
Perlahan tangan yang tadi hanya mengusap punggung lembab itu, kini memeluk dengan erat, mengeliminasi jarak beberapa senti yang tersisa. Musik cinta mengalun indah memenuhi ruangan, sebuah musik yang dihasilkan oleh dua orang yang saling mencintai dan kini menjadi satu.
Di akhir perjalanan penyatuan itu, sebuah sensasi luar biasa dirasakan oleh keduanya. Sebuah sensasi yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, mengalahkan semuah pilihan kata nikmat yang disediakan oleh kamus bahasa manapun.
"Terima kasih sudah mempercayaiku Kang Seungyoon," bisik Mino pelan.
"Terima kasih sudah bersabar untukku Song Minho."
Seungyoon menyandarkan kepalanya pada dada bidang Mino yang naik turun menghirup oksigen, sebuah usapan pelan di puncak kepalanya membuai Seungyoon. Kedua kelopak matanya terasa berat dan panggilan mimpi terlihat begitu menggoda untuk disambut.
¶¶¶
Perlahan kesadaran mulai memanggil Seungyoon dari alam mimpinya, dan kini terbuai dalam mimpi terasa mengusik. Perlahan ia membuka kedua matanya. Sisi lain ranjang nampak kosong, sedikit bingung Seungyoon mendudukkan tubuhnya. Dan semua ingatan yang terekam di dalam otaknya kini bisa ia lihat dengan jelas.
Wajahnya terasa hangat, mungkin kini mulai merona. Seungyoon mendesah pelan pandangannya tertuju pada ponsel yang berada di atas meja nakas dengan aman. "Enam pagi." Seungyoon mengerutkan kening. "Aku tertidur lama sekali." Pakaiannya terlipat rapi di atas meja nakas lain yang mengapit ranjang.
Perlahan Seungyoon mengulurkan tangannya meraih pakaian itu sambil berusaha keras untuk mengusir semua ingatan menyebalkan, yang terus menerus muncul di dalam benaknya. Di atas pakaiannya diletakkan bathrobe berwarna biru muda. Ia tarik bathrobe itu dan mengenakannya, mengikatnya dengan aman.
Suara pintu berdecit pelan. "Kau sudah bangun?"
"Hmm."
"Oh aku lupa mengucapkan selamat pagi untukmu."
"Ya."
Mino mengerutkan keningnya sementara kedua tangannya masih sibuk mengeringkan rambutnya. "Tetap saja ketus setelah…,"
"Diam!" pekik Seungyoon memotong kalimat Mino, sambil memeluk pakaian yang terlipat di dadanya Seungyoon bergegas turun dari ranjang. Ia berjingkat pelan merasakan sensasi yang berbeda dari tubuhnya.
"Kau baik-baik saja?" Mino bertanya dengan penuh perhatian.
"Ya, aku baik-baik saja menyingkir aku mau mandi." Balas Seungyoon datar.
Mino hanya mendesah pelan Seungyoon memang seperti itu namun dia tidak akan memintanya untuk berubah selamanya. Setelah Seungyoon menghilang di dalam kamar mandi Mino bergegas mengenakan pakaian gantinya, menggantung handuk basar dan terakhir membersihkan tempat tidur.
Dia tidak ingin petugas kebersihan hotel membersihkan ranjang karena ya siapa tahu para petugas di sini suka bergosip dan mengatakan yang tidak-tidak tentang rahasia tamu hotel. Mino sudah sering mendengar desas desus tidak mengenakan tentang itu, namun hotel ini kan bukan milik dan tanggung jawabnya.
Ia hanya menarik sprei terbawah melipatnya rapi kemudian memasukkannya ke dalam plastik hitam besar yang sebenarnya dipergunakan untuk melapisi tempat sampah. Sebuah senyuman terukir di wajahnya saat ia melihat sesuatu, hanya beberapa detik saja sebelum ia mengikat plastik hitam itu.
"Layanan kamar." Mendengar suara dari intercom Minopun bergegas membukakan pintu kamarnya, rupanya sarapan yang ia pesan sudah datang dan bersamaan dengan itu Seungyoon keluar dari kamar mandi.
"Terima kasih banyak," ucap Mino sembari menyerahkan uang tips. Mino berbalik memperhatikan Seungyoon yang sudah tampak rapi dengan pakaiannya yang kemarin tentu saja.
"Kau pasti lapar, ayo sarapan sekarang."
Seungyoon mendengus pelan melihat porsi makanan yang menurutnya di luar batas kewajaran. "Ayolah kau akan memberi makanan seperti itu?"
"Kenapa?" Mino menatap bingung, menu yang dia pesan adalah menu sarapan terbaik di hotel ini dan Seungyoon menolak mentah-mentah.
"Aku mau makan di luar saja, ukurannya terlalu mengenaskan."
"Oh." Balas Mino pelan tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya, dia masih menginginkan makan romantis dengan Seungyoon. Ia mendengar suara helaan nafas kasar Seungyoon.
"Aku ingin keluar sekarang, tempat ini terlalu berlebihan aku ingin berada di tempat yang lebih santai dan lebih sederhana." Mino hanya mengangguk pelan dan menurut.
Dan sarapan keduanya berakhir di sebuah kafe sederhana yang terletak hanya beberapa blok dari hotel. "Aku sudah mengatur semuanya, kita menikah empat minggu lagi." Seungyoon langsung menghentikan kegiatannya mengunyah roti lapisnya, menatap Mino lekat-lekat. "Tidak bisa mundur." Tegas Mino.
Seungyoon meraih gelas jus jeruk dan meneguknya hingga separuh. "Dengar, setelah kita menikah ada beberapa hal yang harus kau ketahui."
"Hmmm, apa?"
"Jangan merenggut kebebasanku."
"Tidak akan Seungyoon, kita sudah hidup di jaman modern aku tidak akan mengharapkanmu untuk tinggal seharian di rumah, mengurus rumah dan segala hal mengerikan yang mungkin sedang muncul di benakmu. Kau akan tetap menjadi dirimu sendiri, kita akan saling memahami dan menghormati satu sama lain."
"Baiklah itu sedikit melegakan. Aku tidak tahu kenapa aku langsung setuju menikah denganmu, ya ampun usiaku bahkan belum genap tiga puluh tahun." Keluh Seungyoon sebelum menenggak habis jus jeruknya. Sementara Mino hanya tersenyum tanpa menanggapi.
(END)
