UNFORGIVEN HERO (REMAKE)

Chapter 12

Cast:

Zhang Yixing as Elena

Kim Junmyeon as Rafael Alexander

Kang Seulgi as Victoria

Kim Minseok as Donita

Jung Seoyun as ibu Rahma

Genderswitch. OCC

Sorry for the typo. Story milik Santhy Agatha. EXO milik SM kecuali Zhang Yixing #dihajar

WARNING: Rate M, GS, Remake

Yixing tak pernah tahu, ada sosok dibalik kenyamanannya itu. Kim Junmyeon, pria yang sudah membunuh ayahnya. Dia berusaha membayar kesalahannya dengan menjadi guardian angel bagi Yixing. Masalahnya adalah, Junmyeon jatuh cinta pada Yixing. Dia begitu terobsesi pada gadis itu. Hingga dia berusaha membuat sebuah jalan agar Yixing berjalan ke arahnya

.

.

.

SULAY

Cerita remake dari novel Santhy Agatha

.

.

=CHAPTER 12=

Perkataan Leo itu membuat Yixing terperanjat kaget, wajahnya memucat,

"Apa katamu?"

"Aku tidak asal bicara Yixing, aku mempunyai bukti." Leo mengeluarkan berkas-berkas dari tasnya. "Kau tentu punya beberapa pertanyaan, kenapa kau bisa dengan mudahnya masuk ke perusahaan milik Junmyeon, kenapa dia dengan mudahnya menikahimu….semuanya ada alasannya. Junmyeon adalah orang yang sama, yang mobilnya menabrak mobil ayahmu hingga tewas sepuluh tahun lalu."

"Apa?" Yixing sebenarnya sudah bisa mencerna seluruh perkataan Leo. Benaknya sudah menemukan kesimpulan dari apa yang dikatakan Leo. Tetapi hatinya berteriak, menolak untuk percaya begitu saja.

"Kau ingat kan? Orang yang menabrak ayahmu itu juga bernama Junmyeon, anak pengusaha kaya yang lolos begitu saja karena mereka mempunyai banyak uang." Leo memberondong Yixing dengan semua informasi, "Junmyeon yang kau nikahi itu adalah Junmyeon yang sama, anak kaya yang mabuk dan mengebut, lalu menerobos lampu merah dan menabrak ayahmu yang tidak bersalah."

"Tidak…tidak mungkin…"

"Aku sudah menyelidikinya untukmu." Leo membuka berkas-berkasnya dan menunjukkannya kepada Yixing dengan bersemangat, "Lihat artikel koran ini. Ini beberapa artikel yang aku cetak dari data history di perpustakaan nasional, artikel-artikel ini membahas tentang kecelakaan yang dialami oleh ayahmu dan Junmyeon, lihat di sini, disebutkan, 'Putra milyuner bernama Kim Junmyeon' Kau pikir ada berapa milyuner yang bernama Kim Junmyeon di negara ini? Kau harus mengerti Yixing, semua ini adalah rencana gila Kim Junmyeon, dia mungkin ingin menguasaimu ke dalam pernikahan entah dengan tujuan apa. Yang pasti, selama ini dia membohongimu."

Ingatan Yixing melayang ke masa samar sepuluh tahun lalu. Ketika dia sedang berduka luar biasa, atas kematian ayahnya yang tidak adil, disusul oleh kematian ibunya yang sakit sejak ditinggalkan ayahnya. Yixing sebatang kara di dunia dan merasa benci kepada lelaki bernama Junmyeon, anak orang kaya yang telah menghancurkan hidup keluarga kecilnya. Kemudian lelaki itu datang dengan sombongnya ke rumahnya, membawa bunga. Dan Yixing menyerangnya, dia tidak ingat masa itu, dia tidak memperhatikan wajah lelaki itu, yang diingatnya adalah dia melampiaskan seluruh kemarahan dan kebenciannya kepada lelaki yang membunuh ayahnya. Dan kemudian lelaki itu pergi. Tidak pernah muncul lagi di dalam kehidupannya. Kim Junmyeon….. suaminya?

Jantungnya berdegup dengan kencang dan tangannya mulai gemetaran. Oh Astaga. Seharusnya dia menyadarinya. Nama mereka sama. Dan sikap Junmyeon seharusnya membuatnya curiga. Lelaki itu terburu-buru menikahinya, untuk apa? Junmyeon mengatakan mencintainya, dan sekarang Yixing ragu. Yixing meragukan semuanya. Karena semuanya hanyalah kebohongan.

"Junmyeon sudah mengatur semuanya Yixing. Malam itu aku dijebak. Hyuna sendiri yang mengatakan kepadaku bahwa Junmyeon menyuruhnya membuatku mabuk dan merayuku. Dia ingin memisahkan kita berdua." Suara Leo terdengar muak, "Sepertinya dia memiliki obsesi terpendam untuk memilikimu. Dan rupanya dia berhasil. Karena dia berhasil menikahimu Yixing. Tetapi aku mencari tahu dan aku menemukan rahasia ini. Kau hanya diperalat Yixing, dan lelaki itu membohongimu."

Yixing terpaku dengan wajah memucat. Matanya berkaca-kaca, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang. Ditatapnya Leo tanpa ekspresi.

"Terima kasih Leo atas informasi yang kau berikan."

Reaksi tenang ini tentulah bukan yang diharapkan oleh Leo. Lelaki ini mengira Yixing akan menangis kemudian dia bisa memeluknya dan menghiburnya, membuat Yixing jatuh ke dalam jeratnya lagi. Tetapi Yixing begitu tenang meski wajahnya pucat pasi dan matanya berkaca-kaca,

"Kau tidak apa-apa Yixing sayang?" Leo berusaha meraih jemari Yixing, tetapi Yixing menghindarinya.

"Aku tidak apa-apa Leo, terima kasih atas informasi yang kau berikan kepadaku. Aku juga berterimakasih karena kau begitu perhatian dan mencemaskanku." Yixing menghela napas panjang. "Setelah ini aku harap kita tidak akan bertemu lagi."

"Apa?" Leo terperanjat, setengah berdiri karena kaget, "Kenapa kau berkata begitu Yixing? Tidak tahukah kau kalau aku sangat mencintai dan mencemaskanmu? Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Apakah kau akan kembali kepada suamimu yang jelas-jelas sudah menipumu?"

Yixing memasang wajah datar, "Urusanku dengan suamiku akan kami selesaikan nanti. Maafkan aku Leo."

"Kau bisa pergi bersamaku." Leo mengubah strateginya menjadi memohon, "Kumohon Yixing, lelaki itu sudah menipumu. Kau bisa meninggalkannya dan pergi bersamaku. Aku akan menjagamu. Aku bersumpah."

Yixing menggelengkan kepalanya dan tersenyum meminta maaf kepada Leo, "Perasaanku kepadamu sudah mati Leo… mungkin juga perasaan itu sebenarnya tidak pernah ada." Yixing menatap Leo dengan pandangan sedih, "Maafkan aku Leo."

Leo terdiam lama dan menatap Yixing dalam-dalam, mencoba mencari sesuatu yang bisa menunjukkan kalau Yixing berubah pikiran. Tetapi wajah Yixing tetap datar dan dia tidak menemukan apa-apa.

Akhirnya dia menghela napas panjang, "Kurasa aku harus menyerah."

Yixing mengangguk, mengulangi permintaan maafnya, "Maafkan aku Leo, kau lelaki yang sungguh baik, dan aku yakin, kau akan menemukan orang yang tepat untukmu nanti."

Leo menghela napas lagi, sepertinya membawa beban yang sangat berat, "Aku hanya ingin kau bahagia Yixing." Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya, "Sebaiknya kutinggalkan berkas-berkas ini di sini, kalau-kalau kau ingin membacanya lebih lanjut. Selamat tinggal Yixing."

Dengan langkah gontai, Leo melangkah meninggalkan Cafe itu. Meninggalkan Yixing yang mulai merasakan pertahanannya runtuh, air mata mulai mengalir di pipinya, Tetapi dengan cepat dia mengusapnya, menyadari kalau dia berada di tempat umum.

Dengan cepat dia menelepon supir pribadinya, minta dijemput. Dia akan pulang, dan menghadapi Junmyeon.

.

.

.

Dalam perjalanan pulang Yixing menangis, tertahan. Supir pribadinya berkali-kali melirik dari kaca spionnya, tetapi tidak berani mengganggu majikannya yang sedang menangis.

Yixing menangis mengenang semuanya, mengenang segala kebaikan dan kelembutan Junmyeon, malam pertama mereka, percintaan-percintaan panasnya dengan Junmyeon sesudahnya. Semuanya ternyata berdasarkan atas kebohongan yang dibangun oleh Junmyeon.

Lelaki itu ternyata menyimpan rahasia mengerikan. Rahasia yang tak termaafkan. Yixing mengingat malam itu. Ayahnya sebenarnya sedang sakit batuk, tetapi dia tetap berangkat membawa taksi karena butuh uang untuk membayar uang sekolah Yixing, sementara sang ibu juga sedang demam di rumah.

Ingatannya melayang ke masa sepuluh tahun yang lalu,

(FLASHBACK)

"Ayah akan tetap berangkat?" Yixing menyerahkan segelas teh panas kepada ayahnya, menatap cemas ayahnya yang terbatuk-batuk tanpa henti. Ayahnya sudah tua tetapi tidak bisa berhenti merokok. Sekarang paru-parunya yang ikut menua tidak bisa menanggung kalau harus berkubang asap setiap hari, sehingga membuat ayahnya batuk-batuk setiap saat.

Sang ayah tersenyum dan menatap Yixing dengan lembut. Yixing adalah puteri satu-satunya. Dan anaknya itu sungguh cemerlang di sekolahnya. Dia berjuang mati-matian untuk menyekolahkan anaknya itu, setidaknya Yixing harus lulus SMU sehingga bisa mencari pekerjaan yang lebih baik, masa depan yang lebih baik. Tidak seperti dirinya.

Uangnya sudah habis, kemarin untuk mengobatkan istrinya ke dokter dan membeli beberapa liter beras dan kebutuhan makanan di rumah. Dan besok Yixing harus membayar uang sekolah. Mereka sudah terlambat membayar beberapa kali dan sekolah sudah mengeluarkan surat peringatan. Kalau sampai Yixing tidak membayar lagi, dia akan dikeluarkan dari sekolahnya.

Ini malam minggu. Pasti ramai dan banyak yang akan menggunakan jasa taxinya. Uang pendapatannya bisa dia pinjam dulu untuk membayar uang sekolah Yixing. Besok dia akan berputar seharian mencari pelanggan untuk mengganti uang setorannya itu kepada perusahaan Taksi.

"Uang ayah masih kurang untuk membayar sekolahmu, nak. Ayah akan mencari beberapa pelanggan malam ini. Malam ini pasti ramai. Badan ayah tidak apa-apa kok." Lelaki itu tersenyum lalu mengusap rambut Yixing dengan penuh sayang, "Jagalah ibumu baik-baik ya."

Dan kemudian ayahnya pergi, Yixing masih mengamati kepergian ayahnya waktu itu, melangkah melalui gang sempit di depan, menuju perusahaan taksi tempat taksinya diparkir.

Tubuh ayahnya sedikit bungkuk dan menua sebelum waktunya, karena beban hidup. Dan Yixing mengamati punggung ayahnya yang makin jauh dan menghilang di ujung gang dengan menahan pedih. Betapa inginnya dia segera dewasa, bisa mencari uang sendiri sehingga bisa membantu kedua orang tuanya.

Tak diduganya itu adalah saat terakhir dia melihat ayahnya. Dini hari, pintunya diketuk oleh tetangga dan beberapa orang yang mengabarkan bahwa ayahnya meninggal karena kecelakaan. Ditabrak oleh pengemudi mabuk tak bertanggung jawab yang menerobos lampu merah.

Ayahnya pulang sudah menjadi jenazah yang tak bernyawa. Dalam peti mati yang disegel rapat. Bahkan Yixing tidak boleh melihat jenazah ayahnya di saat terakhirnya…

Dan saat itu ketika pemakaman ayahnya. Yixing berjanji dalam hati. Dia tidak akan pernah memaafkan orang yang membunuh ayahnya.

(FLASHBACK END)

Kim Junmyeon adalah pembunuh ayahnya. Orang yang dia nikahi, yang dia kira dia cintai dan mencintainya adalah pembunuh ayahnya…

Lelaki itu merekayasa semuanya. Menjebak Yixing ke dalam sebuah pernikahan yang entah dengan tujuan apa. Semua kebaikannya, semua kata-kata cintanya. Semua itu penuh kebohongan dan kepalsuan.

.

.

.

Junmyeon menyetir dalam perjalanan pulang, penuh tekad. Dia membawa seikat bunga mawar dan sekotak cokelat mahal berbungkus kertas keemasan dan berpita merah.

Malam ini dia akan mengaku kepada Yixing.

Dia akan mengaku, lalu menyerahkan semua keputusan di tangan Yixing. Dia akan menjelaskannya sejelas mungkin agar Yixing tidak salah paham dan mengambil kesimpulan yang salah. Dia akan meyakinkan bahwa semua yang dilakukannya berasal dari rasa bersalah yang kemudian berkembang menjadi cinta. Pada akhirnya Yixing akan menghargai kejujurannya, Junmyeon yakin itu. Junmyeon bergantung kepada keyakinan itu.

Sejujurnya dia ketakutan setengah mati, tidak tahan kalau harus menghadapi kebencian Yixing. Kebencian yang menghancurkannya. Sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Membuat hatinya hancur lebur.

Ketika mobilnya diparkir di garasi, dia menatap ke arah rumah dan jantungnya berdegup kencang. Malam ini adalah malam penentuan. Diraihnya kotak cokelat dan bunga itu, lalu melangkah memasuki rumah.

Rumah sepi dan gelap. Junmyeon mengernyit. Biasanya Yixing sudah menunggunya di ruang tamu, menyambutnya dengan ceria sambil bercerita tentang harinya lalu menodong Junmyeon untuk bercerita tentang harinya juga. Tetapi rumah terasa lengang dan sepi. Para pelayan pasti sudah tidur di bagian belakang rumah, di mana Yixing?

Junmyeon melangkah menaiki tangga, membuka pintu kamarnya dengan pelan. Kamar itu gelap, dan setelah Junmyeon menyesuaikan matanya dengan kegelapan ruangan, dia menemukan Yixing duduk di pinggir ranjang, menatapnya dengan ekspresi yang tidak terbaca.

"Yixing? Kenapa?" Junmyeon melangkah masuk, dan seperti biasa berlutut di depan isterinya, disentuhnya dahi Yixing dengan lembut, "Kau sakit?"

Yixing memiringkan kepala, menghindari Junmyeon, sebuah gerakan refleks yang sama sekali tidak diduga oleh Junmyeon, isterinya menghindari sentuhannya? Kenapa? Apa yang terjadi?

"Yixing?"

Ruangan itu gelap. Tetapi tatapan Yixing yang ditimpakan kepada Junmyeon begitu tajam, penuh luka. Membuat jantung Junmyeon berdenyut cemas.

"Aku hanya menginginkan sebuh kebenaran. Jawab pertanyaanku Junmyeon…" Yixing menghela nafas dalam-dalam, "Apakah kau orang yang menyebabkan kematian ayahku?"

Dunia seakan runtuh di bawah oppainya. Seketika itu juga. Seakan menelannya dan membuat rongga dadanya terasa sesak, sesak yang menyedihkan. Yixing sudah tahu. Yixing sudah tahu entah dari siapa, dan dia terlambat.

Apa yang harus dia lakukan? Istrinya ini pasti sekarang sangat membencinya, menolak sentuhannya. Muak kepadanya. Junmyeon menundukkan kepalanya, suaranya keluar penuh kepedihan.

"Ya Yixing."

Jawaban singkat itu sudah cukup. Hati Yixing hancur seketika itu juga. Air mata mengalir deras di pipinya, seluruh pertahanannya hancur, membuatnya luluh dan tidak berdaya. Jadi semuanya benar. Semua ini hanyalah kebohongan yang dibangun Junmyeon. Semua ini hanyalah kepalsuan.

"Kenapa kau membohongiku…" Yixing terisak-isak dalam kepedihan, 'Kau membohongiku, kau menipuku selama ini… dan aku.. dan aku bahkan mencintaimu! Oh Ya ampun! Betapa bodohnya aku!" Yixing berdiri, menghindari kedekatan Junmyeon dan melangkah ke dekat jendela, "Teganya kau Junmyeon!"

Junmyeon merasakan kesakitan luar biasa melihat kesedihan Yixing. Yah. Pada akhirnya yang dilakukannya hanyalah membuat Yixing menangis sedih. Sama seperti sepuluh tahun lalu, yang bisa dilakukan Junmyeon hanyalah menghancurkan kehidupan Yixing, membuat perempuan itu menangis. Dia memang jahat, dan sekuat apapun dia mencoba, dia memang tak termaafkan.

"Aku memang jahat Yixing. Aku… aku tidak pernah bermaksud membohongimu. Aku …. aku hanya takut mengungkapkan semua kebenaran kepadamu, takut kau akan membenciku."

Junmyeon melangkah mendekati Yixing, mencoba menyentuh dagu Yixing, tetapi perempuan itu menepiskannya. Junmyeon tidak menyerah, dipegangnya kedua bahu Yixing, cukup lembut tetapi kuat sehingga Yixing tidak bisa melepaskan dirinya,

"Tatap aku sayang. Lihat aku. Biarpun semuanya hanya kebohongan. Tetapi cintaku padamu itu nyata. Tidak berartikah itu semua kepadamu? Aku membohongimu karena aku mencintaimu, karena aku sangat mencintaimu!"

"Aku tidak akan menerima cinta dari lelaki yang membunuh ayahku!" Yixing berteriak, setengah menjerit, tidak tahan menerima pernyataan cinta Junmyeon yang bertubi-tubi, membuat hatinya lemah, "Pernikahan kita sudah berakhir Junmyeon, aku akan pergi."

"Jangan Yixing!" Mata Junmyeon menyala, "Kau sudah berjanji bahwa kau tidak akan meninggalkanku, seburuk apapun keadaan di antara kita. Kau sudah berjanji kepadaku!"

"Janji itu dibuat di atas kebohongan yang kau bangun!" Yixing berteriak marah. "Kau pikir dengan melakukan semua ini aku akan memaafkanmu? Dengan menipuku? Berpura-pura mencintaiku? Kau pikir aku akan memaafkanmu karena telah membunuh ayahku?"

"Aku tidak berpura-pura mencintaimu!" suara Junmyeon meninggi. "Dan Demi Tuhan, aku tidak pernah menuntut maafmu atas dosaku kepadamu. Tidak Yixing, aku tidak pernah menuntut maafmu karena aku tidak pantas, karena aku menyadari bahwa aku tak termaafkan!"

"Kau memang tidak termaafkan. Dan bagiku semua sudah selesai. Aku akan pergi." Yixing melangkah hendak meninggalkan kamar itu. Tetapi Junmyeon menangkap tangannya dengan cepat, menahannya dengan keras.

"Lepaskan aku! Junmyeon! Kau menyakiti tanganku!" Yixing menjerit berusaha meronta dari pegangan Junmyeon, tetapi lelaki itu menggenggam kedua lengannya dengan begitu kuat, pandangan lelaki itu tampak nyalang.

"Maafkan aku Yixing. Tetapi aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kau istriku! Kau tidak boleh meninggalkanku!" Junmyeon memegang lengan Yixing dengan kencang, berusaha meredakan rontaannya.

"Pernikahan kita palsu, aku menganggapnya tidak pernah ada!"

"Teganya kau mengatakan itu!" Mata Junmyeon menyala marah, "Lalu kau anggap apa semua hal yang kita lalui kemarin? Malam pertama kita? Percintaan kita yang panas? Kasih sayang dan cinta yang kita bangun selama ini? Kau anggap apa itu semua?"

Yixing merasa sakit mendengarkan perkataan Junmyeon itu, yang mengingatkannya akan saat-saat indah mereka. Rontaannya sudah berhenti. Tetapi Junmyeon masih mencekal kedua tangannya dengan kencang, takut dia melarikan diri. Air matanya masih mengalir, air mata sakit karena pengkhianatan sekaligus kepedihan yang dirasakannya.

"Semua itu sudah musnah Junmyeon. Aku membencimu. Amat sangat membencimu."

Yixing melemparkan kata-kata itu hanya untuk menyakiti Junmyeon, dan efeknya sungguh luar biasa. Wajah Junmyeon pucat pasi. Ekspresinya seperti seseorang yang dihancurkan dari dalam. Lalu pandangan matanya menjadi kosong. Dia tersenyum pahit.

"Aku memang pantas untuk dibenci." Dengan tenang dia melepaskan cekalannya pada lengan Yixing, "Dan kurasa tidak masalah kalau kau tambah membenciku. Toh kau sudah membenciku." Lelaki itu melangkah menuju pintu, dan menatap Yixing dengan tajam, "Kau tidak akan kuizinkan meninggalkanku. Sampai kau tenang dan menuruti perkataanku. Aku terpaksa mengurungmu di kamar ini."

Lalu lelaki itu melangkah pergi meninggalkan kamar.

Yixing masih tertegun di tengah ruangan mendengar perkataan Junmyeon ketika bunyi 'klik' terdengar dari pintu. Dia tersadar dan setengah berlari menuju pintu. Mencoba membuka pintu itu, tetapi tidak bisa. Pintunya dikunci dari luar, Junmyeon benar-benar mengurungnya!

"Buka pintunya!" Yixing berteriak, menggLeor-gLeor pintu itu, "Buka pintunya Junmyeon! Kau jahat! Aku benci padamu!" Yixing memukul dan menendang pintu itu sebagai pelampiasan rasa frustasinya. Pada akhirnya dia kelelahan dan jatuh terduduk, bersandar di pintu lalu menangis terisak-siak.

Kemarin kehidupannya terasa begitu sempurna dan indah. Kemarin sepertinya semuanya baik-baik saja. Dan dalam sekejap dia disadarkan bahwa semuanya tak seindah yang kelihatannya. Istana kebahagiaan itu perlahan-lahan runtuh dan hancur, hanya menyisakan puing-puingnya.

Junmyeon melangkah berderap meninggalkan kamar Yixing, berusaha menulikan telinganya atas gLeoran dan teriakan-teriakan Yixing di pintu. Dia melangkah menuju ruang kerjanya. Duduk di sana dengan segala emosi memuncak di kepalanya.

Teriakan Yixing terngiang-ngiang di telinganya. Pernyataan bahwa Yixing membencinya. Sangat membencinya. Sama seperti sepuluh tahun lalu. Pada akhirnya Yixing akan selalu membencinya. Dengan frustasi Junmyeon memukul tembok ruang kerjanya sekuat tenaga, membuat buku-buku jarinya terluka, tetapi dia tidak mempedulikannya. Lelaki itu lalu jatuh terduduk di lantai. Dan menangis

Ini adalah kali kedua seorang Kim Junmyeon menangis. Dan penyebabnya sama: Yixing.

.

.

.

Junmyeon sebenarnya tidak ingin meninggalkan rumah, dia sudah bilang kepada Seulgi untuk menggantikannya hari itu, karena dia ingin menjaga Yixing. Dia tidak mungkin mengurung Yixing terus-terusan. Mereka harus bicara. Nanti, setelah emosi Yixing mereda. Tetapi pagi itu dia menemukan berkas-berkas di dalam map itu di meja ruang tamunya. Berkas itu berisi artikel-artikel yang memuat berita kecelakaan sepuluh tahun lalu.

Ada yang sengaja memberitahu Yixing, untuk merusak pernikahan mereka. Dan Junmyeon tahu siapa orangnya. Di dalam map itu terlampir kartu anggota perpustakaan nasional atas nama Leo. Kurang ajar. Lelaki itu ternyata masih menjadi duri dalam daging dalam pernikahannya bersama Yixing.

Dengan langkah berderap, Junmyeon turun dari mobilnya dan membiarkan supirnya memarkir mobilnya. Kemarahannya bergolak, seluruh emosi dan frustasinya bertumpuk, mencari pelampiasan. Langkahnya semakin cepat ketika dia mendekati ruangan IT Manager, tempat Leo seharusnya berada.

Leo ada di sana. Lelaki itu bahkan tidak sempat mengucapkan satu patah katapun karena Junmyeon langsung menerjangnya hingga terjengkang di lantai dan menghajarnya habis-habisan. Leo yang meskipun kaget pada awalnya, mencoba memberontak dan melawan, berhasil melemparkan satu atau dua pukulan ke bahu Junmyeon, yang kemudian dibalas dengan pukulan keras yang menohok mukanya, membuat kepalanya berdentam-dentam. Pada akhirnya, Leo bukan tandingan Junmyeon kalau harus bertarung satu lawan satu. Hasil akhirnya sudah bisa ditebak. Leo kalah, babak belur di lantai dengan wajah penuh lebam.

Junmyeon menarik kerah baju Leo dengan kasar, kemarahan menyala di matanya, membuat siapapun yang melihatnya takut. Begitupun Leo, Junmyeon seperti ingin membunuhnya, "Jangan pernah berani muncul lagi dalam kehidupanku dan Yixing, aku akan mengawasimu mulai saat ini. Dan aku tidak akan segan-segan melenyapkanmu.' Junmyeon menggeram dengan nada mengerikan penuh ancaman kepada Leo, lalu membanting tubuh Leo yang terkulai ke lantai, dia melangkah dengan marah. Sebelum keluar, Junmyeon menoleh lagi dan menatap Leo dingin, "Oh ya. Ngomong-ngomong, kau dipecat."

Setelah itu Junmyeon meninggalkan ruangan Leo dengan pintu dibanting

.

.

.

"Kau bisa dituntut atas penganiayaan terhadap anak buah." Seulgi menempelkan es batu di atas sudut bibir Junmyeon yang lebam, "Ya Tuhan oppa, kau adalah lelaki paling berkepala dingin yang pernah kukenal, tak kusangka kau memilih menyelesaikan ini dengan cara barbar."

Junmyeon mengernyit dan memegang es batu di sudut bibirnya. Rasanya sakit. Lelaki sialan itu berhasil memukul bibirnya dalam usahanya membela diri tadi. Brengsek.

"Leo pantas menerimanya. Dia memberitahu Yixing semuanya dengan tujuan jahat, dan entah racun apa lagi yang dia tanamkan ke dalam pikiran Yixing." Junmyeon mendesis marah. "Sekarang isteriku membenciku."

"Kita kan sudah menduga ini akan terjadi oppa" Seulgi menarik napas panjang, "Sekarang apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan pulang, dan menunggu sampai Yixing sudah tenang. Semoga dia bisa menerima penjelasanku ketika dia sudah lebih berkepala dingin."

"Apakah menurutmu dia akan bisa memaafkanmu?"

Junmyeon mengernyit sedih, "Aku tidak tahu. Tetapi aku tidak bisa melepaskannya, Egi. Aku tidak bisa. Aku terlalu mencintainya untuk melepaskannya." Junmyeon mengusap wajahnya dengan frustasi. "Kalau dia tidak bisa menerimaku, kalau dia tetap berusaha pergi dariku, aku akan membawanya ke pulau pribadiku dan menahannya di sana. Di sana dia tidak akan bisa pergi kemanapun." Gumam Junmyeon penuh tekad.

"Astaga oppa." Seulgi menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kau tidak akan bisa mempertahankan pernikahan atas dasar pemaksaan."

"Aku tidak tahu harus bagaimana." Junmyeon menghela napas panjang, "Aku tidak tahu harus bagaimana Egi. Dia bilang dia membenciku dan akan meninggalkanku."

Seulgi mendekati Junmyeon dan menepuk pundaknya lembut untuk memberikan dukungan,

"Pulanglah oppa. Mari kita berdoa semoga Yixing bisa melupakan kemarahannya dan memikirkan semuanya dengan logika."

.

.

.

Ketika sampai ke pintu rumahnya, Junmyeon disambut oleh pelayannya yang tergopoh-gopoh menghampirinya dengan cemas.

"Tuan Junmyeon!"

Firasat buruk langsung memenuhi benak Junmyeon, "Ada apa?" suaranya menjadi parau.

"Nyonya Yixing tuan, beliau pergi dari rumah. Kami sudah mencoba menahannya. Tetapi ketika salah satu pelayan mengantarkan makanan ke kamarnya, dia memaksa mengambil kunci kamar. Kemudian pergi meninggalkan rumah…!"

.

.

.

=TBC=