Disclaimer- HETALIA © Hidekazu Himaruya
Genre- Friendship, Romance, supernatural (?)
Warning- OOC, Typo(s), gaje, yaoi tapi dikit
.
She's Back
.
Chapter 12
.
Entah harus bersyukur, atau merasa terkutuk. Itu adalah perasaan yang dialami oleh Aussie sekarang. Diam dirinya melamun di tepi jendela, mengingat kejadian tadi sore. Kenapa bisa Nesia punya ide segila itu? Mengatakan mereka berdua berpacaran. Walau berkat itu, dirinya bisa terbebas dari siksaan yang dilakukan oleh Thai dan saudara – saudaranya. Tetap saja, jika teringat bagaimana pandangan keempat pemuda itu yang menatapnya. Lebih sinis, dari saat mereka mengerjainnya habis – habisan, benar – benar mengerikan.
Belum lagi jika diingatnya saat Malay menarik kerah bajunya dan berbisik "Aku tidak akan pernah setuju…"
HAH, benar – benar mimpi buruk baginya, mimpi apa dia tadi malam hingga bernasib setragis ini. Ditambah perkataan Nesia berikutnya, saat keempat saudaranya sudah pergi.
.
FlashBack
"…Kau ini benar – benar menyusahkan, yah." Gelengnya, menatap Aussie tak percaya.
"Berisik,"Gerutu Aussie memandang kearah Nesia "Kenapa kau bilang aku pacarmu?" Tanyanya, memandang Nesia yang memandangnya balik "Jangan – jangan kau su—."
"Idihhh," Potong Nesia cepat, menatap Aussie galak "Kau kira aku rela mengatakan itu," Terdengar sedikit sinis "Ada tiga hal yang perlu kau ingat. Pertama aku tidak pernah bilang kalau aku berpacaran denganmu." Ucapnya, meminta persetujuan dari Aussie yang kini mengangguk.
'Benar juga,' batinnya, melihat Nesia menunggu reaksinya "Tapi, dari caramu tadi seakan – akan mengatakan kalau kita..." Ucapnya, segan untuk melanjutkan.
"Kedua, kau pikir mereka akan melepaskan mu begitu saja, jika aku tidak melakukan itu?" tanyanya lagi.
"Kau benar, tapi kau kan bisa bilang aku temanmu." ucap Aussie, mulai merasa seram lihat aura yang dikeluarkan Nesia.
"Teman, sejak kapan kita berteman?" Tanyanya, menyudutkan Aussie yang tersenyum tidak enak "Dan ketiga, Aku mengatakannya hanya untuk membayar hutangku saat itu." ucapnya menatap Aussie yang bingung.
"Ma-Maksudmu—."
Senyum tampak terlukis diwajah Nesia. Senyum, yang membuat Aussie kali ini bergidik ngeri. Merasakan firasat buruk yang akan menimpanya sebentar lagi.
"Kau tau, permainan yang sesungguhnya baru dimulai. Kuharap kau bersiap-siap untuk itu."
End Flash Back
.
Kalau boleh jujur, baru kali ini Aussie melihat aura Nesia yang menyeramkan seperti itu. Bahkan saat mereka berkelahi sekali pun, aura seperti itu tidak pernah dilihatnya. Wajahnya yang selalu tersenyum, tidak bisa menutupi isi hatinya yang sesungguhnya. Jika teringat tadi, sepertinya gadis itu benar – benar marah. Mengingat apa yang ada dipikiran, dan apa yang diucapkannya sama, benar – benar mengerikan.
Sebenarnya, kesalahan apa yang sudah di perbuatnya? hingga gadis itu bisa begitu mengerikan. Apa ini ada hubungannya dengan mimpi yang dialami gadis itu tadi? Karena itu, mood gadis itu saat bangun kelihatan sangat jelek, seperti singa betina yang kelaparan. Tampak Aussie berpikir, tidak disadarinya ketiga temannya sudah berada di belakangnya.
"Ckckck, serius sekali" senyum Alfred, yang kini duduk di sampingnya.
"K-kau, ba-bagaimana bisa?" bingungnya memandang Alfred yang melirik ke arah lain, membuatnya ikut melihat sekelilingnya "Se-sejak kapan kalian" kagetnya.
Tentu saja kaget, jika dilihatnya teman – temannya sudah duduk dengan santai di dalam kamarnya. Arthur yang asik membaca, Alfred yang lagi makan cemilan di dekatnya, Nether yang diam memperhatikan Tv. Benar – benar menganggap kamarnya adalah kamar mereka sendiri. Teman – teman yang baik yah, jarang – jarang teman seperti ini.
.
"Apa yang kau lamunkan sampai tidak sadar kami masuk, tidak seperti kau saja," Ucap Alfred menatap Aussie penuh selidik "Apa boleh kutebak?"Tanyanya memandang Aussie yang diam.
"A-apa?"Tanyanya, sedikit merasa was – was "Tidak ada yang ku—."
"Nesia, benarkan?" dengan cepat, Alfred memotong perkataan Aussie. Tersenyum sinis melihat raut perubahan diwajah itu "Ternyata benar kau memikirkan dirinya."
"S-siapa memikirkan siapa?" Kilahnya, memandang kearah Alfred yang tersenyum sinis.
"Begitukah." Ucapnya, berjalan mendekati Arthur yang diam, memandang kearah Nether yang kini menatap sinis.
Sungguh, baru kali ini Aussie merasa mempertanyakan persahabatan yang mereka bangun selama ini. Dirinya tidak pernah bisa menyangka, bahwa sahabatnya bisa berekspresi seperti ini. Apa lagi pada dirinya, benar – benar patut dipertanyakan. Sepertinya mereka punya bakat tersembunyi seperti Nesia, tampak manis di luar, tapi di dalam amat menakutkan.
"Sebenarnya, maksud kalian kemari apa? tidak biasanya." Tanya Aussie, berusaha mencairkan suasana.
"Kami mendengar berita, kalau kau berpacaran dengan Nesia." Ucap Arthur langsung, malas berbasa – basi.
.
Sesaat ruangan itu sunyi begitu Arthur berbicara, ketiganya serentak memandang ke arah Aussie. Terdiam, berusaha mencerna pernyataan temannya barusan dengan sebaik – baiknya. Benar – benar tidak disangka berita itu sudah sampai ketelinga sahabatnya. Sedikit ragu – ragu dipandangnya Nether yang kini menatapnya sinis, sama seperti Alfred. Membuatnya meneguk ludah dengan susah payah.
"Ba-bagaimana kalian—."
"Jawab saja," Dengan cepat Nether memotong perkataannya barusan "Apa benar, berita itu Aussie?" Tanyanya ketus.
Seandainya tatapan bisa membunuh, tentu Aussie sudah mati sekarang. Melihat bagaimana cara mereka memandangnya, begitu sinis dan tajam, setajam katana yang dipegang Kiku. Membuatnya mau tidak mau menghela nafas.
"Berita itu bohong." Jawabnya, tidak ingin memperkeruh hubungan persahabatan mereka.
"Tapi, ada beberapa anak yang menyaksikan bahwa, Nesia sendiri yang mengatakan itu." Selidik Nether.
"Hah, Dia mengatakan itu demi menolongku dari amukan saudaranya yang siscom,"Gerutunya, mengingat kejadian yang baru saja dialaminya "Kami tidak ada hubungan apa – apa, jadi kalian—."
Ucapan itu terhenti begitu dilihatnya reaksi teman – temannya, ada yang tersenyum senang, ada yang menghela nafas dan ada yang menggerutu. Membuatnya heran akan tingkah mereka, hingga dia mendengar suara Alfred, membuatnya mengerti kenapa reaksi mereka seperti itu.
.
"Aku benar kan, jadi kalian harus mentraktir ku, yah." Senyum Alfred senang memandang kedua temannya.
"Cih, padahal ku kira aku yang bakal menang, sayang sekali," keluh Nether memandang Arthur yang diam "Kenapa informasi darimu bisa salah sih." Gerutunya, memandang Arthur yang balik menatapnya tajam.
"Jangan salah kan aku, siapa suruh kau ikut aku." Tatapnya sinis.
"Ah, menyebalkan." Keluh Nether kembali.
Sungguh, rasanya Aussie benar – benar ingin memutilasi teman – temannya saat ini juga. Tidak disangkanya, ternyata mereka menjadikannya taruhan. Sedikit kesal, Aussie memegang pulpennya erat – erat. Hingga menimbulkan bunyi, yang membuat ketiganya serentak menoleh. Melihat Aussie tersenyum, dengan aura hitam di belakangnya.
.
"Hoh, jadi begitu," Senyumnya memandang mereka "Aku benar – benar tidak menyangka bahwa kalian…"Ucapnya, memberi jeda "Menjadikan ku taruhan," lanjutnya membuat ketiganya sontak berdiri, kecuali Nether yang memang sudah berdiri "BERANI – BERANINYA KALIAN."Teriaknya penuh amarah.
Serentak ketiga sekawan itu melesat pergi, menjauh dari kamar sang pemilik yang kini mengejar ketiganya. Kentara sekali kalau dia benar – benar kesal dengan perbuatan ketigannya, yang lebih aneh lagi. Kenapa dia tidak bisa membaca pikiran teman – temannya barusan? Padahal seharusnya, dia bisa dengan cepat menebak pikiran jelek ketiganya. Atau, karena salah satu dari ketiganya benar – benar menunjukan perasaan tidak suka, beberapa saat yang lalu. Yah, terserahlah, anggap saja sedikit karma sudah menjadikan Ivan ajang taruhan.
.
.
_#IMY#_
.
.
Berbeda dengan Aussie dan temannya, Nesia sendiri kini tampak melamun. Memandang bulan yang menurutnya makin kecil saja. Sekali – kali kepalanya ditoleh ke kikir dan ke kanan, melihat bulan dari sudut yang berbeda. Terkadang bibirnya dikerucutkan, membuatnya makin aneh saja.
"Kau bisa sakit jika berada diluar malam – malam begini, Nes." Ucap Kiku membuat Nesia menoleh.
"Kiku," Sapanya ceria, melihat pemuda itu duduk disampingnya "Kau belum tidur?" Tanyanya.
"Kau sendiri?" Tanya Kiku balik, memandang Nesia yang menggaruk kepalanya sendiri.
Benar – benar pertanyaan bodoh, jika dia ada disini dan berbicara dengannya. Tentu saja belum tidur, kenapa dia bisa menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu. Kiku sendiri hanya tersenyum melihat tingkahnya.
"…Kau tau, Nes," Ucapnya ikut memandang bulan,membiarkan Nesia memandangnya "Berita itu sudah menyebar luas dengan cepat"
"Berita?"
"Berita kau pacaran dengan Aussie." Ucapnya, memandang Nesia yang terbelak kaget.
.
Tidak disangka, gosip itu cepat menyebar. Padahal, belum ada satu hari, tapi gosip itu sudah kemana – mana. Tidak jelas siapa penyebarnya, tapi yang namanya gosip itu benar – benar mengerikan. Semoga saja gosip kali ini tidak ditambahi bumbu yang aneh – aneh oleh pihak lain. Ah, bodohnya. Memangnya dia artis apa, sampai harus ditambah bumbu penyedap agar gosip itu makin menarik.
Sedikit heran Kiku, melihat Nesia yang tampak berpikir. Entah pikiran apa lagi yang kini merasukinya, membuat Kiku menggelengkan kepala akan tingkah anehnya.
"Kenapa kau berbicara seperti itu Nes? apa dia mengancammu?" tanyanya, kali ini tatapan tajam ditunjukannya pada Nesia.
Melihat Kiku yang tidak pernah memandangnya seperti itu, membuat Nesia kaget dan reflex mundur. Kiku yang selama ini selalu tersenyum lembut memandangnya, kini bisa menatapnya setajam itu. Membuat dirinya terdiam, terlihat ragu untuk berbicara.
Berbeda dengan Nesia, Kiku yang melihat Nesia diam saja, sudah cukup menjadi sebuah jawaban baginya. Kebersamaan mereka yang cukup lama, membuatnya hapal bagaimana gadis ini. Kembali tatapan itu melembut memandang Nesia. Diulurkan tangannya menyentuh gadis itu, yang sedikit kaget akan perbuataannya.
.
"…Ma-maaf, maafkan aku." Sesal Nesia memegang tangan Kiku yang mengelus pipinya.
"Tidak apa—."
"Tidak, bukan begitu," gelengnya, membuat Kiku mengernyit heran. "Kau salah sangka, dia tidak mengancamku. Aku hanya mengatakan kenyataannya saja". dustanya, setelah merasa yakin, wajahnya tidak akan berkata lain, tidak akan mengkhianati perkataannya.
Baginya, berbohong pada Kiku adalah hal yang paling susah. Kiku selalu mudah untuk mengetahui isi hatinya yang sebenarnya. Karena itu kali ini, dia harus berhasil. Yah, dia harus berhasil, dia tidak perlu merepotkan Kiku lagi. Semua cukup sampai disini.
"Apa maksudmu?" Tanyanya heran, sedikit bingung melihat sikap Nesia "Kenapa kau berbohong seperti itu?" Tanyanya menatap Nesia yang tersenyum.
"Bohong? Aku tidak berbohong," senyumnya menatap langit, menghindar dari tatapan Kiku yang kini menatapanya tajam "Kau masih ingat dengan perkataan Aussie waktu itu kan." senyumnya melirik sekilas ke arah Kiku yang kaget.
"Aku kesini ingin mengambil milikku, Kiku."
.
Kalimat yang saat itu diucapkan oleh Aussie saat mereka bertemu waktu itu. Apa benar mereka saat itu sudah berpacaran? Tapi, bagaimana mungkin, jelas – jelas keduanya tidak akur. Yah, walau tidak separah dengan Nether, tapi tetap saja.
"Tapi Nes—."
"…Kalian berdua pada ngapain, da ze." Tanya Yong, berada ditengah – tengah mereka.
Membuat keduanya reflek menoleh kaget. Kiku sendiri, dengan cepat melepaskan pegangan tangannya pada pundak Nesia. Membiarkan tatapan penuh selidik Yong pada dirinya, menatapnya dari atas hingga bawah. Benar – benar saudara yang tidak tahu situasi, membuatnya geram saja.
"Sejak kapan Yong berada disini?" Heran Nesia.
"Hmmm, apa aku mengganggu, da ze?" Tanyanya balik, menatap Nesia dengan jurus mautnya, puppy eyes.
Membuat Hyun yang berada di sebelahnya, merasa eneg melihat tingkah saudara kembarnya ini. Berbeda dengan Kiku yang memutar mata bosan akan tingkah Yong. Nesia sendiri hanya tersenyum dan menggeleng.
"Tidak, aku hanya sedikit kaget saj—." Senyumnya terputus, melihat Yong langsung memeluknya.
"Ah…, Nesia baik, da ze." Ucapnya, memeluk badan gadis itu hingga limbung.
.
Beruntung Malay berada di belakang Nesia, hingga gadis itu tidak jatuh, dan dengan cepat memisahkan keduanya. Membuat Yong merenggut kesal, karena kepalanya dipukul Malay.
"Apa-apaan kau ini." ucapnya datar, sungguh membuat hawa yang dingin, menjadi lebih dingin.
"..Huh, Kau ini, pelit sekali, da ze," gerutunya memegang kepalanya. "Nesia tidak akan berkurang, karena aku sentuh, da ze."
"Kau kira, dia makanan apa." Pelotot Malay, mengepalkan tangannya.
Membuat beberapa pasang mata, memandang bosan dengan pola mereka berdua. Sementara Nesia lebih memilih diam, memandang ke arah Yong yang ternyata sempat membisikannya sesuatu. Kiku yang menyadari Nesia diam, memilih memandang Hyun. Membuat pemuda itu menoleh, menyadari tatapannya. Satu anggukan cukup membuat Kiku mengerti dan kembali diam. Mereka tidak butuh banyak kata, cukup sebuah isyarat yang membuat satu sama lain mengerti. Pola yang sama dan masalah yang sama, tidak terlalu sulit untuk ditebak bukan.
"Ramai seperti biasa, yah," Senyum Viet, memandang Nesia yang berada di sebelahnya dan mengangguk "Ah, ngomong – ngomong, apa berita itu benar Nesia?" Tanyanya, melirik Nesia yang menatapnya heran "Kau bepacaran dengan Auss—." Kata itu tidak pernah selesai, saat dia menyadari hawa di sekelilingnya.
.
Sebuah pertanyaan di tempat dan waktu yang salah, seharusnya Viet menyadari itu. Tapi sayangnya, pertanyaan itu sudah terlanjur keluar, membuatnya merutuki diri sendiri. Kenapa dia bisa sebodoh itu, melupakan bagaimana sifat saudara – saudaranya. Nesia sendiri mendengar pertanyaan Viet barusan hanya bisa tersenyum tidak enak, melihat wajah Malay yang masam dan ketidak sukaan di wajah yang lainnya.
"Kau tidak serius bukan, Nes…," kalimat ini, merupakan pertanyaan dari gadis manis asal Taiwan yang dari tadi diam saja, menatap Nesia tajam "Kau tidak berhubungan dengan orang – orang itu bukan."
"Eh, itu…" Ucapnya bingung merapat pada Kiku, begitu menyadari tatapan orang – orang yang sudah dianggapnya keluarga.
"Bagaimana pun juga aku tidak setuju," Ketus Malay memandang Nesia "Asal kau tau dia bukan orang yang tepat untukmu."
Pernyataan yang disetujui oleh semua saudaranya, entah mengapa semua jadi berkumpul disitu. Sepertinya, hari ini merupakan sidang yang tidak direncanakan untuk dirinya. Nesia sendiri lebih memilih diam, disaat seperti ini jika dia membantah urusannya bisa gawat. Dalam hati merutuki Aussie yang membuatnya dalam keadaan seperti ini. Seharusnya dia biarkan saja pemuda itu dicelakai oleh saudara – saudaranya.
.
"Benar atau tidaknya. Kurasa itu bukan urusan kalian bukan," Ucap Hyun, memandang saudaranya yang menatapnya tidak percaya "Kurasa Nesia sudah cukup umur untuk memilih siapa yang dia sukai." Lanjutnya, perkataan yang membuat Nesia merasa tertolong.
"Tapi, walau begitu," tampak ketidak relaan dari suara Mei "Bagaimana kalau—."
"Kita lihat saja nanti, jika dia macam – macam kurasa dia sudah tau resikonya, da ze," Senyum Yong menatap saudara – saudaranya "Bukankah permainan ini semakin menarik Nesia?" Tanyanya lagi.
Senyum, yah Nesia tahu Yong tersenyum. Tapi, dibalik senyum itu, entah mengapa Nesia merasa ada jiwa psikopat di dalamnya. Apalagi dilihatnya wajah – wajah saudaranya yang lain yang kini ikut tersenyum seperti Yong. Dalam hati Nesia hanya bisa berkata.
'Semoga setelah ini kau selamat Aussie, sepertinya aku sudah berbuat terlalu jauh.' Batinnya ngeri, melirik Kiku yang mengangkat bahu, seolah tidak peduli.
.
.
_#GIE#_
.
.
Tuk…tuk…tuk…
Terdengar suara meja yang diketuk perlahan, membuat orang yang berada di dekatnya mengernyit heran. Tidak terbiasa dengan sifatnya yang sedikit berbeda hari ini.
Tuk…tuk…tuk…
Kembali suara ketukan itu terdengar, sebelum akhirnya terhenti. Menyadari sosok di sampingnya yang dari tadi memperhatikan ulahnya.
"Bicaralah, Viet." ucapnya, membuat gadis di sebelahnya tersentak kaget.
Tidak disangkanya, ternyata pemuda di hadapannya ini menyadari tingkahnya. Membuatnya menghela nafas sesaat sebelum akhirnya menggelang.
"…Tidak, tidak ada yang ingin kukatakan, Kiku." ucapnya, kembali memperhatikan buku bacaannya.
Sedangkan Kiku kembali sibuk dengan pikirannya, memandang lurus ke luar jendela. Memperhatikan seorang pemuda, yang kini sedang berjalan bersama teman – temannya. Viet yang kini menekuni bukunya, tersentak kaget mendengar suara patahan dari pulpen yang digenggam Kiku. Kembali menghela nafas mengetahui penyebab keanehan pemuda itu.
.
"Mau sampai kapan kau begini?" tanyanya, sedikit heran Kiku menoleh ke arahnya.
"...Maksudmu?" tanyanya balik, tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan itu.
Viet sendiri dari pada menjawab, lebih memilih memperhatikan pulpen yang dipegang Kiku. Membuat sang pemilik ikutan kaget, menyadari pulpen yang dipegangnya kini terbelah dua.
"Kau sendiri yang memilih, mau seperti apa akhirnya. Maju atau mundur." nasehatnya, mengambil tas dan berjalan keluar ruangan. Meninggalkan Kiku yang kini diam di tempat.
Maju atau mundur? Entah apa maksud dari gadis itu. Apa dia tidak punya istilah lain yang lebih mudah untuk dipahami? Bukan kalimat yang tidak jelas seperti ini. Maju, apa yang maju? Mundur? Mundur dari apa coba? Mundur dari perkelahian? Jika itu sepertinya tidak mungkin. Seorang Kiku mundur dari perkelahian, itu adalah hal yang sangat mustahil terjadi. Apa dia lupa itu? Sedangkan maju? Maju kemana coba? Dia ingin Kiku kemana?
.
Sepertinya perkataan Viet barusan benar – benar membuat Kiku berpikir lebih keras. Hingga tidak menyadari seseorang sudah menatapnya dari tadi. Memperhatikan wajah berpikirnya yang tampak lucu, menurutnya. Seorang Kiku, berpikir sangat serius seperti ini adalah sesuatu yang sangat langka.
Berbeda dengan Kiku yang masih sibuk dengan pikirannya. Menerka – nerka maksud dari gadis itu, yang menurutnya sangat aneh hari ini. Maju dan mundur, apa ini berhubungan dengan sesuatu? Atau seseorang? Seseorang? Jika seseorang siapa? Apa…
"Nesia." Gumamnya.
"Yah."
"Eh?"
Seakan tersadar, Kiku memperhatikan asal suara yang menyahutnya barusan. Terkejut mendapati orang yang berada di depannya, tersenyum menatapnya. Mata yang tampak kaget itu, berubah dengan cepat kembali seperti biasa.
.
"Sejak kapan kau disitu?" Tanyanya.
"Baru saja," senyumnya, memperhatikan Kiku yang heran "Kira – kira sudah 30 menitan," lanjutnya, membiarkan Kiku beranjak dari kursi "Apa yang kau pikirkan? Serius sekali."
"Eh? Tidak ada," gelengnya, membuat Nesia mengangguk. "Yang lain kemana?" Tanyanya, sedikit heran mendapati Nesia ke kelasnya sendiri.
"Ah, Yong, seperti biasa menempel pada Nee-Chan," senyumnya, mengikuti langkah Kiku "Sedangkan Malay dan Hong sedang sibuk dengan mainan barunya." Lanjutnya, menimbulkan tanda tanya pada benak Kiku atas kalimatnya barusan.
Mainan? Mainan apa yang dimaksud oleh gadis ini. Sejak kapan kedua orang itu senang bermain. Kecuali, mainan tersebut sesuatu yang benar – benar menarik bagi mereka. Tapi, mainan seperti apa yang bisa membuat kedua orang itu merasa tertarik.
Sedikit mengernyit heran, Kiku memandang Nesia yang tersenyum. Sepertinya Nesia tahu mainan seperti apa, yang membuat kedua orang itu begitu tertarik. Melihat dari senyumnya, dapat di pastikan bahwa mainan itu adalah seseorang yang di kenalnya. Seseorang? Mainan? Dilihat dari sifat jahil keluarga asianya yang entah mengapa akhir – akhir ini sering muncul. Mungkin itu adalah salah satu bentuk aksi kesal mereka, terhadap masalah masing – masing. Masalah yang terkadang tidak jelas, pangkal permasalahannya. Atau hanya sekedar mengusir rasa kebosanan mereka akhir – akhir ini. Benar – benar keluarga yang kurang kerjaan.
.
.
_#CHAN#_
.
.
Sepertinya, Aussie benar – benar harus berpikir dua kali dalam berkata, atau harus belajar mantra penangkal kutukan dari Arthur. Bahkan kalau perlu, dia harus belajar mengutuk dari Arthur, atau mempelajari ilmu hitam dan segala macam yang berkaitan dengan itu. Pokoknya, semua yang bisa membebaskannya dari dua manusia Asia di hadapannya sekarang, yang kini memandangnya datar.
Bahkan, jampi – jampi mantra penangkal nasib buruk pun harus di pelajarinya. Jika, seandainya dia hidup setelah berhadapan dengan kedua orang ini. Tatapan yang seakan siap membunuhnya, aura hitam yang benar – benar membuat bulu kuduknya berdiri. Hah, kini akhirnya dia mengerti bagaimana perasaan Ivan yang selama ini di kejar – kejar adiknya, Natali seperti apa.
Sepertinya setelah ini dia harus meminta maaf pada Ivan. Mentertawai nasib buruk seseorang ternyata bisa terkena imbasnya. Istilah bekennya, karma pasti berlaku. Kini, dia benar – benar mengerti apa maksud dari senyum Nesia saat itu. Gadis itu ternyata biang masalah, musuh yang harus di hindari.
Niatnya ingin mencari informasi dari Antonio kini bernasib buruk, tidak disangkanya ternyata dua anggota Asia berada di sana. Ikut berlatih menembak bersama Antonio. Peluru nyasar yang hampir mengenainya, kini membuatnya berdiri terdiam menyandar tembok. Senyum manis, mulut berbisa terlontar dari setiap kata – kata Malay. Sepertinya perkataan pemuda ini yang tidak terima hubungannya dengan Nesia yang tentu saja bohong, benar – benar di buktikannya. Bahkan, penjelasan yang ingin dia keluarkan dari tadi terus dipotong.
.
"Aku benar – benar tidak mengerti, dari segi mana bagusnya kau hingga Nesia mau berpacaran denganmu." ucap Malay, menatap Aussie. Di belakangnya berdiri Hong memegang senjata.
'Paling tidak jika dibandingkan kau, masih bagus aku,' batinnya, menatap kearah Malay yang masih memperhatikannya dari bawah ke atas, membuatnya dongkol saja "Entahlah, mungkin dia merasa lebih nyaman bersamaku dibandingkan bersamamu." Sahutnya.
"APA?" Sudut siku – siku kini bermunculan di kepala Malay. Sedangkan Hong hanya diam memperhatikan keduanya yang kini bertengkar. Seperti anak – anak saja.
Sama seperti Malay, dirinya pun menatap kearah pemuda ini. Entah mengapa ada sebuah firasat yang membuatnya berpikir ulang tentang perkataan Nesia saat itu. Apa benar mereka berdua berpacaran? Jika diperhatikan lebih jauh hubungan keduanya, tidak ada satu pun yang membuatnya yakin bahwa mereka berpacaran. Bahkan tingkah Nesia akhir – akhir ini pun, tidak ada satu pun yang menunjukan kedekatan keduanya, selain kedekatan sebagai musuh.
Satu hal yang membuatnya yakin dan berpikir ulang bahwa keduanya tidak berpacaran. Tingkah si kembar yang terlihat adem ayem, alias tenang – tenang saja. Seakan – akan tidak mempermasalahkan peristiwa ini. Terutama si berisik Yong, walau kemarin terlihat tidak suka dan sempat berkata seperti itu. Tapi, jika dilihat hari ini, sepertinya pemuda itu malah santai – santai saja. Malah tidak mengurangi kegiatannya untuk mengganggu hubungan Yao dan Ivan. Padahal, jika dilihat seperti apa kedekatan Yong dan Nesia, tentu pemuda itu tidak akan tinggal diam.
.
Beberapa meter dari ketiganya, tampak Hyun diam memperhatikan. Walau dirinya tidak begitu menyukai Aussie, tapi sepertinya pemuda itu, tidak jelek – jelek amat. Lagian bukankah hubungan mereka berdua, palsu. Jadi, sepertinya dia tidak perlu turun tangan untuk hal ini. Cukup menjadi pengamat, rasanya itu jauh lebih menyenangkan dari pada ikut beraksi. Memperhatikan perang mulut yang terjadi antara Aussie dan Malay, yang terlihat seperti anak – anak. Mereka berdua ini benar – benar bodoh. Bisa – bisanya masuk dalam permainan gadis itu.
Diperhatikannya Hong yang lebih memilih diam, ikut memperhatikan Malay. Senapan yang tadi di pakainya untuk membidik Aussie kini berada di bahunya. Menatap Aussie dengan perasaan yang sulit diartikan apa maknanya. Dari dulu, saudaranya ini memang sulit untuk ditebak. Walau kemarin terlihat tidak suka. Tapi, entah mengapa saudaranya ini diam saja dari tadi, semenjak senapannya mengeluarkan isinya. Membuatnya menghela nafas sesaat, sebelum akhirnya mendekat. Tidak tega juga, membiarkan Aussie yang terlihat terpojok, bagaimana tidak terpojok. Dua pemuda dihadapannya memegang senjata, dan salah satunya kini sudah siap membidik.
"Sedang apa kalian?"
Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut Hyun, membuat ketiganya serentak menoleh. Melihat Hyun tiba – tiba muncul, membuat Aussie merasa, nasibnya yang sudah buruk akan bertambah buruk. Lagi – lagi anak Asia, sepertinya masalahnya bertambah lagi. Walau tadi merasa, Hong sepertinya tidak akan ikut campur urusannya dengan Malay. Tapi, jika ada Hyun yang pikirannya sangat sulit untuk dibaca sepertinya, nasib berkata lain.
.
"Hyun." Serentak Malay dan Hong berkata, begitu melihat Hyun berdiri didekatnya.
"Sebaiknya kalian segera kembali, sebelum Antonio mengetahui kalau kalian bermain – main dengan senjata milik Lovi." Sarannya memandang kearah Malay, yang sedikit merenggut kesal. Berbalik pergi, diikuti Hong yang meliriknya sekilas.
Berbeda dengan kedua pemuda Asia yang pergi, Hyun sendiri lebih memilih diam. Membiarkan tatapan Aussie tertuju padanya, sedikit tidak percaya dengan perbuatannya. Menatap ke arah pemuda itu, dan berusaha keras membaca pikiran pemuda Asia dihadapannya yang kini menatapnya.
Tatapan yang membuat Aussie merinding sesaat, merasakan Aura yang dikeluarkan Hyun. Aura yang sama, saat dirasakannya Nesia merencanakan niat jeleknya. Membuatnya meneguk ludah, sepertinya lebih menyenangkan berhadapan dengan Malay. Dibandingkan harus berhadapan dengan Hyun yang kini menatapnya. Tatapan yang sulit diartikannya, walau dirinya sendiri memiliki kemampuan membaca pikiran.
.
.
_#IMYGIE – CHAN#_
.
.
Senyum tulus terlukis di wajah Nesia, menatap kearah Kiku yang kini memandangnya. Pandangan protes tampak jelas diwajahnya, protes terhadap hubungan yang terjalin antara Nesia dan Aussie. Suatu kesalahan yang semestinya tidak pernah terjadi, kesalahan yang akan membuat Nesia menderita suatu saat nanti. Kesalahan yang diharapkan belum terlambat baginya, untuk memperbaiki jalan pikiran gadis ini.
"…Apa Kiku tahu," senyum Nesia, memandang Kiku yang heran "Ada sebuah perasaan yang baru bisa kita pahami, setelah kita jatuh terpuruk kedasar jurang kehidupan yang paling dalam. Setelah dihujani segalam macam keindahan yang berkelimpahan. Lalu, jatuh terperosok dalam kubangan kotor yang berlumpur. Baru saat itu kita sadar, betapa kita sangat mencintai keindahan yang dulu pernah kita miliki."
"Maksudmu?" Bingung Kiku, heran dengan maksud kata – kata Nesia.
"Agar bisa merasakan sakit, kita memerlukan kelembutan hati. Sama seperti kegelapan yang memerlukan cahaya. Kita tidak bisa meremehkan semua itu, karena masing – masing bukanlah suatu hal yang ada dengan percuma, benarkan." Ucapnya, memandang Kiku yang masih bingung dengan inti dari kalimat Nesia. Dan sejak kapan kata - kata gadis ini begitu terkesan dewasa.
"Yah, kau benar. Tapi—."
"Karena itu, walaupun mungkin kita telah salah langka. Kesalahan itu kelak pasti tidak akan menyebabkan sesuatu yang sia – sia. Asalkan kita bertekad untuk tidak menyia – nyiakan semua yang telah terjadi. Kita akan bisa memetik pelajaran berharga untuk bekal kita selanjutnya." senyumnya, memandang kearah Kiku yang mulai paham.
"Jadi, maksudmu, walau itu suatu kesalahan, kau akan tetap menjalaninya, begitu?" Tanya Kiku, menatap ke arah Nesia yang tersenyum "Bukankah sebaiknya dihindari, jika memang sudah tahu bahwa itu salah," gelengnya tidak percaya "Memangnya, pelajaran yang seperti apa yang kau harapkan, dari hubungan kalian yang tidak jelas begitu." Gerutunya, masih tidak bisa menerima alasan Nesia.
"Entahlah, kuharap waktu yang akan menjawabnya." senyumnya ceria.
.
Senyum? ada satu hal yang luput disadari Kiku. Sebenarnya kata – kata itu lebih tepat untuk menggambarkan, apa yang sedang dilakukannya sekarang bersama dengan Nether. Seandainya memang bisa dihindari, tentu akan dihindarinya kesalahan yang sudah diperbuatnya sekarang. Dirinya sendiri pun masih bingung, pelajaran seperti apa yang bisa didapatnya dari taruhan yang dibuatnya bersama pemuda itu. Apa setelah ini semua akan baik – baik saja, atau hancur berantakan. Sampai saat ini dirinya pun masih bingung, akan kearah mana semuanya.
Yang dia tahu hanya satu, tetap menjalankan semua rencananya. Walau nanti akan berakhir buruk sekalipun. Ditatapnya Kiku yang kini menghela nafas, sepertinya menyerah akan sifatnya yang tetap keras kepala. Kembali dirinya tertawa, membuat pemuda itu memandangnya heran.
"…Ada apa?" Tanyanya, Kiku menatap gadis dihadapannya yang kini menggeleng.
"Tidak, aku hanya senang saja,"senyumnya, menatap Kiku yang memandangnya heran "Aku senang, selama ini bisa begitu dekat dengan Kiku. Kiku benar – benar saudara terbaik yang pernah aku dapatkan, sama seperti Nee-chan," ucapnya bahagia, tidak disadarinya Kiku yang sedikit kaget akan ucapannya. Seakan teringat sesuatu dan menambahkan "bukan berarti yang lainnya tidak baik hanya saja, aku—."
"Aku paham,"senyum Kiku mengelus kepala gadis itu "Aku paham maksudmu." ucapnya, tersenyum.
Senyum yang entah mengapa sedikit berbeda hari itu, terlihat sedih. Seandainya mereka sadar, seseorang tengah memperhatikan mereka dari tadi. Sorot kesedihan terlihat dimatanya, memandang kearah mereka berdua, dan kembali memandang Kiku yang masih mengelus kepala Nesia. Seakan ikut bersimpati kepada pemuda itu yang kini tersenyum.
.
Tampak dua pemuda kini saling bertatapan dilorong bagian selatan. Salah satunya kini, menatap tidak percaya pada pemuda dihadapannya yang kini diam memandangnya. Tatapan serius yang tidak pernah ditunjukannya selama ini. Tatapan yang sangat dan teramat jarang, ditunjukannya pada dirinya. Membuatnya kembali tidak percaya begitu mendengar perkataan pemuda itu.
"…A-apa? Bisa kau ulangi, Yong?" Tanyanya, berusaha kembali menyimak perkataan yang keluar dari bibir pemuda itu.
Sedikit menghela nafas, sebelum akhirnya kembali Yong berkata "Hyung adalah alasannya, kenapa dia berkata seperti itu, da ze," ucapnya memandang kearah Yao yang terkejut tidak percaya "…Tanpa kukatakan, bukankah sebenarnya Hyung sudah lama menyadari itu," ucapnya, menyadari keterkejutan pemuda itu "Dan apa yang diinginkannya dari Hyung sendiri." sambungnya, tatapan sedih terlihat dimatanya memandang kearah Yao yang bungkam.
.
Jika ini mimpi, bangunkanlah dia. Sejak kapan saudaranya yang doyan main, tidak pernah serius bisa berkata seperti itu. Apalagi yang mereka bicarakan saat ini bukanlah orang yang tidak mereka kenal. Justru adalah orang yang sangat dekat baginya dan juga…
"Aku—." ucap Yao tertunduk.
"Kuharap apa pun keputusan Hyung nanti, itu adalah hal yang baik." ucap Yong memandang Yao, sedikit tersentak kaget atas perkataan pemuda itu.
"Aku mengerti."Senyumnya sendu memandang Yong.
Membuat Yong ikut membalas senyumnya, walau dalam hatinya tahu bahwa kini Yao tampak berpikir. Hingga tidak menyadari Ivan yang berada di gedung seberang menatap keduanya. Membuat Yong tersenyum sinis, sedikit mengolok pada Ivan yang kini menatap tajam padanya.
.
Berbeda dengan Yong dan Nesia, Alfred yang saat itu berada di kelas bahasa bersama dengan Nether hanya bisa terdiam memandang pemuda itu. sedikit heran akan pertanyaan yang kini dilontarkan olehnya. Tidak disangkanya untuk menanyakan pertanyaan seperti ini saja, pemuda ini bisa menunggu seharian. Padahal, tadi malam mereka bertemu, kenapa tidak pada saat itu saja.
"Apa sebenarnya rencanamu, Al?" tanya, Nether memandang kearah Alfred yang terhenti mengemasi buku – bukunya saat ini. "Apa sebenarnya yang kau rencanakan pada Nesia , apa tujuanmu sesungguhnya?"
Kembali ditatapnya pemuda itu, sebelum akhirnya tersenyum. Dasar orang aneh, ternyata bisa juga dia menyembunyikan perasaan ingin tahunya dengan cukup baik.
"Tujuan?" tanyanya tersenyum, memandang kearah Nether "Hanya membantu, itu saja."
"Membantu" ulang Nether, menatap Alfred tajam "Orang sepertimu, tidak mungkin membantu tanpa ada unsur tertentu didalamnya." ucapnya, jelas kemarahan sebisa mungkin ditahannya.
.
Sedikit tidak percaya, Alfred memandang Nether. Tidak disangkanya sahabatnya ini bisa menilainya seperti itu. apalagi bisa menanyakan pertanyaan aneh seperti ini.
"Begitukah, kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" senyumnya, memandang Nether "Nesia sahabatku, tentu saja aku ingin membantunya dengan tulus" ucapnya, kembali memasukan buku – buku ke tasnya "dan lagi, jika memang aku ada niat tertentu. Kenapa kau yang harus marah? bukankah kalian adalah musuh," tanyanya, tersenyum menyeringai "Atau, jangan – jangan kau memiliki perasaan khusus pada gadis itu." tebaknya, memandang Nether yang kaget.
"J-jangan bercanda, mana mungkin aku—."
"Baguslah kalau begitu," potong Alfred cepat, melirik kearah Nether "Kalau begitu aku bisa tenang." senyumnya, memandang kearah Nether yang kini membelakan mata.
Tidak percaya dengan pendengarannya, dan sekali lagi memandang kearah Alfred yang kini tersenyum menatapnya. Senyum yang dia tahu maknanya, bahwa ada rencana didalamnya. Rencana yang tidak akan pernah diharapkannya sedikit pun. Rencana yang akan selalu berhasil, jika pemuda itu benar – benar serius. Sedikit mengangkat bahunya, melihat Nether yang kini terdiam. Alfred lebih memilih berjalan pergi, sambil mengunyah makanannya. Meninggalkan Nether sendirian di kelas, bersama salah satu 'teman' Arthur yang tentu saja tidak disadari oleh keduanya.
.
.
Tbc
A/N : Hola semua, saya datang lagi. *lambai-lambai* Baiklah langsung saja saya akan membalas review dari semuanya ^^ dan maafkan atas super duper keterlambatan saya.
.
7 sableng
Ayane : Ah, tidak apa – apa. makasih sudah membawa Yoshimi untuk mengenal fict saya ini ^^
Yoshimi: Makasih, dan salam kenal ^^
Sanae: *nyeretKiku yang panic* silahkan memeras dujinnya habis-hab*Plak*dihajarKiku*
Haruka: eh, sepertinya megumi-san. Senang banget dengan nation yang tersiksa, wah satu selera nih *senyumcerah* Ivan: oh, benarkah, da *lirikAuthor yangketakutan denganaurahitam*
Yao: eh, sa-saya pilih *lirikIvan dankeluarga asia* yang…yang *lirikAuthor* bolehkah saya tidak menjawabnya, aru. All: tidak, jawab sekarang. yao: yang…yang…*kabur*
Natalia: 6pat, menikahlah denganku, kita sudah mempunyai saksi lebih dari cukup *mengejar ivanyang berteriak* Ivan : Tidakkkkkkkkkk‼‼
Aussie: Akhirnya, setelah sekian lama *menangisharu* Gie: cup-cup*tepukbahu*
Kiku: Baiklah, akan segera saya buat *mulaikerja*
Hiroki: makasih atas reviewnya, ah, benar juga, si Nether akhir – akhir ini jarang disiksa yah *mulaimerencanakan sesuatu* Nether: *nyeretauthor*jangan mikir yang macam-macam.
All nation: Maafkan atas keterlambatan Gie-chan *bungkuk2*. Gie: Wah dapat ku..e *begegarliatyangngantar*
.
lady black22
Yeah, saya kembali. Iya saya lagi ikut UAN. All : Bo'ong *Plak*ramai2bersiap menghajarAuthor*. Huee, iya2 saya ngaku. Saya lagi banyak tugas *pundung*. Jadi maafkan saya.
Natalia: *Berbinar2liat Katalog*. Gie: yah, mulai deh lupain tugasnya difict ini*menggerutuliatNatalia sibuksendiri*. Natalia; Apa? *bersiap2ngeluarin pisau* Gie: eh, tidak*menjauh*
Benarkah, makasih^^ gara2 flashdisk berjalan entah kemana, cerita kali ini sempat ragu untuk di update. Nesia: ceroboh *ngelirikAuthor yangmanyun*. Gie: yang pentingkan, masih ingat ma alurnya*ngolok Nesia* Nesia: ho,sudah berani yah*lempar bamburuncing*
Aussie: lebih baik dilempar kejurang koala dari pada harus berhadapan dengan mereka *liatanak2 Asia*
Gie:He? mereka baik kok *memperlihatkanluka yang diobatinYao, kueyang dikasih Thai* iya kan *liatanak2Asia* Thai : Iya nih, Aussie kami baik kok *menyembunyikanmantra kutukandibelakang* jangan takut gitu ah *merangkulbahu Aussie* kami, akan baik2 dengan kamu kok *melihatAussie yangmulai panic*
Gie : hoh, klappertart,blueberry muffin *mulaitergoda olehtawaranyang diberikan* foto2 top secret *senyumsumeringah* Nether: Woy, jadi Author tuh, jangan mudah terbujuk kenapa? *geramliat Author yangbersiap nyerbu*menyeretpaksamenjauh* Gie: Hueeee, blueberry muffin, foto2 top secret ku *ditarikpaksa* (tunggulah, ku pasti menjemput kalian bluebeery muffin, n foto2 top secret)
.
Al Landers
Ni hao ^^. Eh…NetherIndo, hehe… yah pairnya kan memang dari awal NethNesAuss. Jadi yah, mau melenceng dari itu juga susah. Pinginnya sih Kiku, tapi apa mau dikata. Idenya saat itu belum muncul, jadi bersabar saja. Tar saya buat pair yang lain deh *senyumbisnis*. Yao: yakin bisa *lirikAuthor* Gie: eh *mandanglangit* mendung nih. All :ckckck, dasar*geleng2liatAuthor*
Eh, benarkah, semoga si typo gak ketemu2. All: Amin. Eh, tipe Kiku…mau2.#Plakk# Nesia: itu untuk Yao, jangan sembarangan nyerobot gie *nyeretAuthor* Yao : hmm, benarkah *Senyum*
Aussie: enggak kok, benaran siapa juga yang mau sentuh orang kaya…*merasakanhawaburuk* Nesia: bilang sesuatu Aussie *senyumpsikopat* Aussie: *kabur*
Iya – iya, saya juga heran ngapain dia kesana, nih kerjaan si kakek roma yang nyuruh dia kesana, baiklah akan saya tanyakan nanti. Nesia: ckckck, mulai deh *liatAuthor denganpandangan iba*.
Hahaha, sebenarnya mau buat Yong berisik seperti biasa, Cuma yah berhubung Hyun lagi sakit, terpaksa digantikan Yong. Nesia : Gie, kayaknya masih demam*periksa keningAuthor* Sejak kapan Nation bisa sakit *teriakdikupingAuthor* gie: huee, bisa dong, harus bisa *nangis2dilantai* Nesia: ckckck.
All: cie…cie…suit…suit… Yao dilamar tuh, makan2*besorak,liatYao blushingakut* terima2. Yao: a...
Yong : END, enak, saja Yao itu milik ku, da ze *nyerobot*. Ivan: Bukan2, milikku, kami tidak pernah END, da *berebutansamaYong*
Gie: jadi yao, enak yah, banyak yang suka*liatYao yangditarik2* tapi, sakit juga yah. Ckck kasihan. Oh, yang tentang pair itu yah. Bener2 sedikit sekali, apa sedikit yang suka mereka yah *poseberipikir*.
.
Lady raven
Yeah, aye update lagi *besorak2* yap, itu merupakan sedikit penjelasan dari mimpi buruknya. Hohoho, domba memakan serigala, hmm itu adalah perumpaan yang dipakai oleh Nesia untuk mengingatkan Yao. Mengenai apa, sepertinya itu hanya diketahui oleh mereka.
Memindahkannya, hmm. Mungkin saya pikir – pikir dulu, takutnya berubah pikiran, berhubung saya tipe2 gak jelas. Nesia: banget,jangan ditiru*geleng2*. Karena rated M bukan hanya berkisar tentang kedua adegan itu saja, tapi bisa tentang sesuatu yang rumit dalam fict itu sendiri. Yang entah kenapa dalam fic ini juga belum muncul *bingungsendiri* Tapi, makasih untuk sarannya ^^,
.
Yukishirozakura
Yukiiiiii ‼‼ Saya…saya…saya lapar, maukah anda memberi saya sesuatu *digeplakNesia*.Ba-baiklah, lupakan yang barusan, thanks untuk kumajinya.
Haha, jangan bingung2, puji saja saya, saya terima dengan senang hati kok revnya. ^^ Nesia :Ngarep*geleng2*
Yah, begitulah, berhubung yang lainnya lagi cuti jadi mereka saja yang saya munculkan. Berhubung Alfred anak baik, yah akan saya terus munculkan, tapi jika saya niat loh *digeplakAlfred* Nesia:kumat nih anak *pusingLiat Author*. Iya Akhirnya, bisa juga saya memunculkan AussieNesia. Walau lebih banyak menyiksa Aussienya. Yah, begitulah, menyiksanya merupakan kesenangan bagi saya, tapi jangan bilang2 Aussie loh*bisik2*
Net, Art : Apa tulip/peri? Tulip ku terlalu mahal untuk diberikan(Nether). Peri ku terlalu sayang untuk diberikan (Arthur). Ambil saja dia (Art&Neth) *berikanAuthor*. Gie: Woy *teriak* Huaaa, Neth, Arth jahat, berani2nya *diam2siapinNaskah*
.
Raby
I-iya..., sa-saya lanjut*berwajah ala Ivanketakutan* be-benarkah ^^ asik *jingkrak2*Plakk* Nesia:Kerja yg serius*melirikAuthor*. Iya Nesia kan habis buat sambel, makanya rada pedas gitu Hehe. Aussie : Yes, akhirnya dukungan buat ku bertambah, baiklah Author akan saya suruh untuk memper*DigeplakNesia*. Gie: *liatAussie Ygkesakitan* Untuk Pair mereka akan saya usahakan.
.
rk-hime
Salam kenal juga ^^,
Haha, buat jadi bodyguard makanya si tuyul dibawa terus ma Nesia. Habisnya bawa peralatan buat dukun kan repot hehe. Iya nih, Nesia kan orang indo tulen, makanya pemikiran kematian rada –*Plak digeplakNesia*. Soal Aussie yang tidak masuk kelompok Asia, karena melihat banyaknya kesamaan antara Aussie sama eropa. Makanya Aussie didepak dari geng Asia. Hehe *alasannglantur*. Soal lemon, itu emm..*ngelirikcalon korban yg tiba-tiba merinding* kira - kira siapa yang pantas yah *senyumdevil*
.
Sekian balasan review dari semuanya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mereview. ^^. Berhubung sesuatu dan lain2 maafkan atas keterlambatan yang diluar perkiraan ini, mungkin tidak bisa tepat waktu seperti chpter2 sebelumnya lagi*Bungkuk2*. Karena itu untuk chapter sekarang dan selanjutnya akan sedikit saya perpanjang.^^ Jadi akhir kata, terima kasih buat reviewnya. Walaupun masih ada typo yang nyelip, jangan jera untuk kembali mereview ^^ dan membantu saya memperbaiki fict ini.
All: Read n Review Plizzzzzzzzzzzzz
