[11]

kita

dari kindovvf
(id: 4961192)

Honne Dell & Momone Momo

we used to be siblings, don't we?


.

Momo memotong rambut pendek-pendek. Sependek rambut adik laki-lakinya yang mati kemarin sore. Potongannya tidak rata hingga siapapun tergerak merapikan, tapi Momo tidak peduli atau tertarik untuk peduli. Helai-helai rambut itu ia remas erat-erat, berharap dapat membakarnya namun tak bisa, lalu membuang ke tempat sampah. Bersama jejalan kardus dan roti-roti gosong dari toko roti. Tangannya yang dibalut nyaris tergunting berkali-kali. Sejak bom biologis itu disebarkan di desa, psikomotor Momo selalu terganggu. Bom biologis yang membuat adiknya kejang lalu muntah darah, tercekik oleh napasnya sendiri, dan bom itu mencabut nyawanya dalam seminggu setelah masa-masa berat yang Momo lalui dengan penuh ketakutan.

"Kenapa kau membunuh adikku?"

.

.


.

Dell telah membunuh perasaannya, berkali-kali. Tindakan yang ia lakukan sejak bergabung ke pasukan militer. Setelah segala pertengkaran dan bentakan Momo, bahwa taruh kepalamu di tempatnya lalu berpikir atau apa kau gila atau aku tidak mengerti pikiranmu. Momo tidak sekalipun berkata aku mengerti, Dell ingat benar, dan ia memang tidak berharap Momo akan berkata demikian.

Kini, setelah duduk di bawah tebing, menanti matahari terbit sambil bertahan dengan perbekalan seadanya, meringkuk nyaris kehabisan darah, Dell mulai berandai-andai. Ia membayangkan ucapan Momo tentang bukankah aku sudah bilang. Ia mulai berharap Momo pernah mengucapkan aku mengerti. Tapi, kenapa? Seharusnya, Momo lah pihak yang paling mengerti. Paling mengerti alasan Dell bergabung ke pasukan militer.

"Aku akan bergabung. Untuk meringankan beban kakak."

.

.


.

Dell pernah membanting pintu di depan mata Momo, dulu, di waktu yang telah lampau. Hal itu terasa baru saja berlalu, walau kalender telah berganti tahun. Momo ingat betapa pelupuk matanya terasa panas, betapa ia ingin membanting barang-barang lalu meneriaki Dell tepat di depan hidung, demi menyadarkan kekeliruan pola pikir Dell.

Ia tidak pernah berharap memiliki adik seperti itu.

.

.


.

Momo tidak mengerti mengapa mata Dell kering. Momo tidak mengerti mengapa Dell tampak amat datar bahkan setelah kabar kematian itu tiba, lewat selembar kertas bertuliskan nama ayah dan ibu. Momo tidak mengerti mengapa Dell tidak menunjukkan tanda kesedihan bahkan hingga jasad ayah dan ibu dikebumikan, melebur kembali bersama tanah. Momo tahu Dell bukan orang yang mudah menunjukkan perasaan, tapi untuk sekali ini saja, Momo ingin mendengar Dell mengucapkan aku kehilangan.

Tapi Momo memilih diam. Memeluk adik terkecil mereka yang baru menginjak empat bulan, tidur tenang. Ini semua tidak adil, demikian Momo membatin, pahit menyerang tenggorokannya sementara ia berusaha keras tidak tercekat. Adik mereka bahkan belum mengingat seperti apa wajah orangtuanya. Jahat, jahat. Segala perang dan wajib militer itu tidak adil. Seorang anak baru saja lahir, baru saja akan mengintip dunia, namun ayah dan ibunya direnggut begitu saja. Direnggut lewat surat tugas dan sebutir peluru tepat di jantung. Momo ingin sekali meneriaki kurir pesan itu, kurir pesan pengantar kabar bahwa orangtuamu mati beserta sedikit uang untuk bertahan hidup. Momo hanya meminta kurir pesan segera keluar, pergi, sementara sebilah pisau ia genggam kuat-kuat dalam saku. Ayah yang mengajarkan. Selalu, selalu waspada, dan selalu genggam senjata.

Momo tidak mengerti mengapa Dell terus bisu. Seolah kabar kematian ayah dan ibu hanya serupa pendirian kamp militer baru; tidak penting, tidak penting, bahkan tidak dianggap. Momo hampir mengajak Dell bicara. Tapi tengah malam kala ia terbangun, adik bungsu menangis keras, ia mendengar suara itu. Dell menangis di balik pintu. Menggenggam pigura foto mereka berlima sambil menggenggam panah berburu usang pemberian ayah. Momo tertegun dari balik celah pintu kamar, melangkah mundur, hingga isakan Dell tidak terdengar lagi.

Mungkin, daripada Momo, Dell jauh lebih kehilangan.

.

.


.

"Kak," ucap Dell suatu hari, menyendok sup kaleng dengan tenang, Momo masih menggosok sepatu untuk menyelinap ke hutan lalu berburu, "aku akan bergabung ke pasukan militer."

Momo mengusir Dell, benar-benar mengusir Dell, seminggu setelahnya. Menyaksikan punggung kecil Dell menjauh, ditelan relawan-relawan muda yang akan dilantik menjadi kader pasukan militer baru, malam ini.

Momo tidak repot-repot mengucapkan selamat tinggal.

.

.


.

Jika ia tahu bahwa misinya adalah membunuh, mungkin Dell akan mengurungkan niat bergabung. Memilih menemani Momo dan adik bungsu di rumah. Memilih menggali tanah di kebun belakang tak seberapa luas, menanami dengan beberapa wortel, atau kentang. Ia sanggup mendapatkan bibit dengan mudah; paman pemilik toko di ujung pasar kerap memberi bonus segenggam kecil atas sekantung lobak. Lalu dia akan menemani adik bungsu bermain, menunggu Momo pulang. Jika beruntung, Momo akan membawa daging kelinci atau burung. Menambah menu makan malam. Berburu adalah ilegal, tapi begitulah cara mereka bertahan hidup.

Dell mulai belajar memanah, menguliti, mengincar mangsa. Momo mengajari beberapa hal dan menyuruh belajar sisanya. Dia bertekad akan meminta giliran berburu dengan Momo esok hari, namun kurir pesan datang tepat saat Dell akan mengutarakan keinginan.

"Aku tidak tahu pikiranmu sekerdil itu," kata Momo, keras, ini kali pertama Momo terlihat amat marah. "Baiklah. Pergi saja kau. Jangan pernah kembali."

.

.


.

Dell nyaris tidak mengenali adik bungsu. Untuk sesaat, dia merasa buta, hilang arah, dan amat bingung. Tidak yakin apa yang harus ia lakukan. Berlari kembali ke tempat persembunyian sebagaimana rekan-rekan, atau menghampiri tubuh kecil yang terbaring lemas di dekat rumpun ivy. Kaki-kakinya hampir melangkah, namun tarikan seorang rekan lebih kuat. Menarik ia kembali dengan berlari. Dell tergagap, untuk sesaat merasa suara-suara hilang dari dunia, ketika melihat sesosok berambut merah jambu berlari. Menghampiri tubuh kecil yang sepertinya tengah sekarat. Sosok berambut merah jambu itu panik, mungkin setengah ingin menangis, tapi ketegaran yang amat familiar itu menuntunnya berdiri, memapah tubuh kecil mencari tabib. Mengantri lama, lama sekali, cukup lama untuk memperburuk kondisi si tubuh kecil.

Anak bungsu menghirup gas beracun itu terlalu lama. Dan Dell tidak pernah merasa setakut ini sebelumnya.

.

.


.

"Aku selalu bilang. Pasukan militer tidak sebagus yang kaukira. Tidak, tidak. Kau tidak pernah mendengarkanku. Kau bahkan tidak tahu bahwa kau diseret masuk ke pasukan musuh. Bukan pasukan tanahmu sendiri."

"Menurutmu, apa yang pasukan militer lakukan untuk memenangkan perang? Apa yang mereka lakukan kepada pihak musuh?"

"Dell? Kau mendengarku?"

"Dell, kau menyedihkan."

Dell terbangun, terengah-engah menarik napas. Melihat sekeliling hanya untuk mendapati kesunyian.

Dell seolah mendengarnya. Mendengar Momo berkata. Ia bertanya-tanya mimpi seperti apa yang mampu membuat halusinasi semacam itu, dan termangu.

.

.


.

"Aku bisa mendapatkan uang."

"Tapi kau akan menukarnya," seru Momo. "Dengan hidupmu."

"Yang penting, kakak dan adik bisa hidup tenang. Tidak perlu berusah-susah lagi. Aku bisa."

Perdebatan terakhir mereka berakhir amat buruk. Momo memukul kepala Dell, mengatakan satu kalimat yang tak pernah ingin Dell dengar, lalu berbalik pergi. Membanting pintu.

Ayah dan ibu akan sangat kecewa padamu.

.

.


.

Kenyataan itu menjadi amat jelas.

Ia telah membunuh adiknya sendiri. Si bungsu. Si bungsu yang tidak pernah mengingat wajah kedua orangtuanya. Si bungsu yang dilahirkan ibu dengan penuh perjuangan dan taruhan nyawa. Si bungsu yang ibu peluk sambil menangis lalu berkata matanya mirip sepertimu, Dell. Dia akan menjadi adik yang beruntung. Si bungsu yang ibu timang penuh sayang di malam-malam saat bulan purnama, menyenandungkan nina bobo, lalu tangisan ibu yang pecah saat surat tugas datang lagi ke rumah. Memutuskan bahwa waktu cuti melahirkan telah habis. Ibu dibutuhkan di rumah sakit tempat semua prajurit-prajurit terluka dilarikan, dirawat, hanya untuk ditarik kembali ke garis depan.

Si bungsu yang amat disayangi Momo.

(Momo tidak akan pernah mau melihat wajahnya lagi.)

.

.


.

"Mengapa kau membunuh adikku?"

Dell tidak mampu menjawab. Momo ada di sana, terlindung di balik jubah kusam yang dijahit dengan tudung, menggenggam panah dan busur berburu erat-erat. Tapi panah itu tidak pernah menembus tubuh Dell. Momo hanya mengulang pertanyaan dua kali. Dua pertanyaan yang sama. Dua pertanyaan yang sempurna membungkam Dell. Momo mundur namun matanya yang amat tajam itu—Dell tidak akan melupakan api kebencian yang menyala di sana, Momo, kakaknya yang tangguh dan selalu ia kagumi diam-diam—tidak dapat hilang dari ingatan Dell. Dell tidak sanggup bertanya mengapa Momo tampak seperti akan pergi, ke mana Momo akan pergi, dan sejuta tanya lain yang, pada akhirnya, tak pernah sempat ia keluarkan.

Momo menghilang di balik malam.

.

.


.

Pagi itu, Dell sengaja mengambil jalan memutar. Menyimpang sedikit dari jalur pasukan. Mengintip dari semak-semak.

Rumah mereka kosong. Tanpa cahaya.

.

.

.

"Mengapa kau membunuh adikku?"

Adikku.

Momo bahkan tidak repot-repot menambahkan adikmu juga.

.

.

.

Dell sengaja mengambil jalan memutar. Menyimpang sedikit dari jalur pasukan. Mengintip dari semak-semak.

Rumah mereka kosong. Tanpa cahaya.

.

.

.

Untuk kedua kali dalam hidupnya, Dell kembali merasa seorang diri.

.

.

.

"Mo-mo," seorang anak perempuan tertawa ceria. "Mo-mo. Panggil aku seperti itu, ya? Mo-mo."

"Mo … mo."

"Ya, benar, benar sekali! Dan ibu akan menjadi ibumu. Dan ayah akan menjadi ayahmu. Ya?"

"… Ya," kata seorang anak laki-laki, dan untuk kali pertama dalam hidupnya, ia merasa lahir kembali. Lahir di antara cahaya, cahaya yang menghangatkan.

Ah, dia bisa melihat dua sosok dewasa itu tersenyum; orangtuanya yang baru.

.

.

.

"Oh, lihat, anak manis ini. Siapa yang tega membuangnya?"

"Ibu akan memungut dia?"

"Bukan memungut, Momo sayang." Ibu tersenyum. Lembut, meruntuhkan segala rasa pahit dan kesepian anak yang dibuang itu. "Mungkin, dia bisa menjadi adikmu."

"Adik?" seorang anak perempuan mengulang. Mata anak itu berpendar. "Adik? Momo akan punya adik?"

Ibu kembali menatap si anak laki-laki. "Anak manis, kau ingin ikut bersamaku?"

Anak itu tidak menggeleng. Mengangguk ragu-ragu. Betapa dia sudah lama terlunta-lunta di jalan, kelaparan, diusir, menerima muntahan kata-kata kasar; segala bentuk kehidupan yang dapat diterima oleh anak buangan, anak buangan seperti dia, anak buangan di distrik tempat anak-anak bernasib serupa dapat dengan mudah ditemukan. Dia merindukan kehangatan, jauh, jauh di dalam hatinya.

"Siapa namamu?"

Anak itu menggeleng. Dia bahkan tidak ingat orangtuanya pernah memberi ia nama.

Ibu kembali tersenyum. Mengulurkan tangan, mengusap kepala anak yang dibuang itu penuh kasih sayang. Ibu selalu, dan selalu begitu; ibu selalu menyayangi anak-anak. Terutama anak-anak yang kehilangan keluarga. "Kalau begitu … kita akan menamainya Dell. Honne Dell."