Disclaimer: I don't own Digimon
Author's Note: Takeru POV
Chapter 12
Hari ini, tepatnya satu hari sebelum tanggal satu Agustus. Aku bersama Pegasmon tengah mengarungi benua server yang sangat luas, ini semua demi kedamaian dunia digital. Anak seusiaku seharusnya berada di dunia nyata untuk berkumpul dan bermain dengan anak-anak biasa lainnya. Namun sepertinya tidak untuk kami, para anak-anak terpilih nyatanya memiliki jalan hidup yang sudah berbeda. Aku tak membenci hal itu, karena itulah mengapa aku bertemu Patamon. Bahkan menjadi seseorang yang berbeda tidaklah terlalu buruk, beberapa temanku juga tak mempermasalahkannya. Namun sekarang, apa yang akan dikatakan oleh mereka ketika mengetahui aku sedang berada disini sedang mempertahankan kedamaian? Justru hanya beberapa temanku yang bukan anak terpilih sudah mengetahui Patamon. Entahlah, sekarang aku hanya harus memusatkan tujuanku pada dunia ini.
"Takeru, aku tak menemukan di manapun tempat itu." kata Pegasmon menyadarkanku dari lamunan.
Sudah cukup lama aku dan Pegasmon berada di udara. Namun setelah sejauh ini aku tak menemukan apapun, lagipula Gennai hanya memberikan petunjuk untuk pergi ke Utara. Perlahan aku mengarahkan digivice ke segala arah seiring dengan Pegasmon yang melayang lambat. Beberapa kali digiviceku bersuara dan kemudian padam kembali, untuk beberapa arah yang berarti menunjukkan di mana tempat itu berada.
"Kesana, Pegasmon!" aku berseru menunjukkan arah ketika digivice berbunyi lebih kencang, itu menandakan kita tak jauh lagi.
Pegasmon berbelok mengikuti arah yang kutunjuk, dan terlihat sebuah bukit besar di hadapan kami. Jika digiviceku benar, maka apapun itu yang telah menghancurkan dunia digital berada di tempat ini. Sempat kualihkan pandanganku dari bukit itu, namun ternyata apa yang kulihat malah semakin membuatku merinding.
"A-Apa ini?" ujarku terbata-bata.
Di bawah sana aku melihat sehamparan hutan luas yang hangus terbakar. Seketika aku berpikir, benda seperti apa yang dapat berbuat hal mengerikan seperti ini? Ingin rasanya aku turun dan melihat keadaan, namun sepertinya aku tak menjamin seseorang masih berada disana.
"Jika monster seperti ini berada di dunia nyata, maka.." aku bergumam pada diriku sendiri.
Pegasmon turun ke darat setelah mencapai kaki bukit, aku pun mengerti kalau lebih baik kita menyusuri jalan dengan tidak ceroboh. Ia kembali menjadi Patamon dan hinggap di kepalaku seperti biasa, nyatanya memang ia sangat menyukai hal itu.
Kami berjalan menyusuri hutan yang habis terbakar itu, masih dapat kulihat beberapa sisa api yang menyala. Tidak hanya pemandangan yang mengerikan, asap dari sisa terbakarnya juga sangat menyesakkan. Maka aku berjalan sambil memeluk Patamon daripada membiarkannya berada di atas kepalaku.
Setidaknya, aku tak kehilangan suara digivice yang dapat menunjukkan kemana jalan sebenarnya. Berkali-kali aku mengarahkan digivice pada jalan yang bercabang, dan aku seperti merasakan berada di labirin terbuka. Sesaat, aku mendengar suara tangis seorang gadis yang sepertinya tak jauh darisitu. Aku tentu saja kaget mendengar suaranya. Dari tempat yang sepertinya tak mungkin berpenghuni seperti ini terdengar suara tangis, seorang gadis pula. Maka aku dan Patamon memilih untuk mencari asal suara tangis tersebut.
"Patamon, kau melihatnya?"
"Ah, Takeru!" serunya sambil menunjuk ke suatu arah.
Di sana aku melihat seorang gadis yang terduduk dan menangis. Ketika aku mendekatinya, aku merasa pernah melihat gadis kecil ini di suatu tempat. Namun secara aku menemukannya di dunia ini, apakah masuk akal jika ia pernah berada di Dunia Nyata? Entahlah, hanya saja aku merasa familiar.
"Hai?" aku mencoba menyapanya.
Gadis kecil itu seketika berhenti menangis, dan menatapku. Seperti seluruh darah di dalam tubuhku berhenti, tiba-tiba aku dapat mengingat jelas siapa gadis ini. Aku menemukannya sedang duduk sendiri di taman pada pagi hari waktu itu. Namun apa yang sedang dilakukannya di sini?
"Ikutlah denganku, kau harus kembali ke duniamu bukan?" ujar gadis itu dengan nada yang dingin.
"Tu-Tunggu!" bantahku terhadap ajakannya. "Bukankah kau gadis yang kutemui saat itu? Mengapa kau bisa berada disini?!"
Gadis itu menatapku dengan tenang, dan kemudian menarik pergelanganku.
"Hoii!" sontak aku terkaget karena dibawanya berjalan lebih cepat.
Gadis itu bahkan tidak menjawab pertanyaanku dan lekas saja menuju ke suatu tempat di kaki gunung, bahkan aku tak mendengar lagi digiviceku berbunyi. Sedikit curiga aku terharap gadis ini, memang benar kalau wajahnya sangatlah lucu dan menggemaskan. Namun aku sedang dalam keharusan menyelamatkan dunia! Kalau aku terjebak di sini, maka aku tak tau kehancuran apa yang akan terjadi.
Tak lama setelah ia menarik tanganku, kami sampai di depan sebuah goa dengan pintu masuk yang cukup besar. Kami berhenti sesaat dan melihat ke dalam, sangat gelap sampai tak terlihat apapun. Gadis yang belum kuketahui namanya itu kini melangkah masuk dan seketika terlihat titik api kembali menghampiriku. Ia kembali dengan membawa sebuah obor.
"Ayo.." ujar gadis itu.
Aku terdiam dan mengikuti langkah gadis itu masuk. Sepanjang jalan, aku melihat banyak lukisan dan ukiran tertera pada dinding goa yang tersinari oleh cahaya api. Jika aku melihatnya satu per satu, maka itu semua seperti membentuk sebuah cerita.
"Namaku Nat-chan, setidaknya begitulah kau dapat memanggilku." katanya tanpa berbalik sedikitpun. "Aku mengetahui alasan dirimu berada di dunia ini adalah untuk menyelamatkannya. Namun sungguh, aku sedikit terkejut melihat kau yang datang."
"Memangnya kenapa jika aku yang datang?" sahutku sedikit kesal dengan apa yang dikatakan olehnya. Bagaimanapun kedengarannya diriku di sini seperti sesuatu yang tidak diharapakan.
Nat-chan tak menggubrisku, ia kemudian menyulut salah satu tiang dan menyalalah api yang menerangi satu ruangan itu. Pandanganku yang semula tak terima, kini berubah menjadi terkesima setelah ruangan itu dipenuhi oleh cahaya. Tiga patung terbuat dari batu terletak mengelilinginya, dan aku tak percaya jika salah satu patung itu berwujud aku dan digimon bersayap sepuluh di belakangnya. Dua patung lainnya adalah Hikari-chan dan digimon yang menggenggam sebuah tombak emas, dan podium terakhir terdapat seseorang yang sepertinya adalah Daisuke-kun. Aku tak dapat melihat dengan jelas digimon yang ada di belakangnya, karena itu adalah yang tertinggi dari kami masing-masing. Jujur saja, aku tak mengenal para digimon itu. Namun kalau tidak salah, yang berada di belakang patungku adalah digimon malaikat mengenakan jubah dan menggenggam pedang.
"A-Apa ini?" tanyaku setelah tertegun melihat semuanya.
"Ini adalah tempat suci yang diperuntukkan bagi Holy Light Guardian. Namamu tertera disana, Takeru Takaishi. Berarti kau adalah salah satu-nya." jawab Nat-chan dengan nada yang dingin, entah mengapa ia seperti ini padaku sejak pertama.
"Aku? salah satunya?"
"Yah, kau adalah salah satunya. Namun ada seseorang lain yang kuharapkan datang." gumam Nat-chan dengan suaranya yang halus, walaupun terdengar tak peduli namun suaranya adalah seorang gadis kecil.
"Seseorang.. lain?" tanyaku dan berbalik menghadapnya.
"Seseorang yang telah mengajarkanku apa namanya persahabatan, seseorang yang telah menunjukkanku apa itu kesetiaan, dan seseorang itulah yang memberikanku nama.. Nat-chan." ujarnya bertubi-tubi. "Seseorang itu, Motomiya Daisuke."
"A-Apa? Daisuke-kun?" kembali aku bertanya dalam keterkejutan.
"Setelah kedatanganmu, aku pikir orang itu adalah Daisuke. Memang benar jika kau adalah salah satu dari Holy Light Guardian, namun aku sedikit kecewa ketika kau ternyata bukan Daisuke." tandasnya.
Mengetahui hal ini, aku jadi sedikit canggung terhadap Nat-chan. Bukan apa-apa, namun tujuanku kesini adalah mengembalikan kedamaian dunia seperti semula. Haruskah seorang gadis kecil ini 'memilih' seseorang dari tiga yang ada? Jikalaupun aku tak harus sendiri, maka aku sudah bersama yang lain. Saking kesalnya, aku hampir lupa pada diri dan tujuanku yang sebenarnya.
"Nat-chan, aku.." belum selesai aku mengatakan apapun, terasa permukaan tanah yang kuinjak seperti bergetar dan kemudian terdengar suara gemuruh.
"Ah! Lari!"naluriku dalam bahaya telah menuntunku untuk seketika menarik tangan Nat-chan dan berlari keluar. Saking paniknya aku tak melihat kemana diriku melangkah, aku menendang sebuah batu dan kemudian tersandung. "Whoaa!"
Beruntung bagiku karena tak merasakan sakit, hanya sedikit tergores. Hal yang kukhawatirkan adalah Nat-chan, walau ia terlihat aneh bagaimanapun ia adalah seorang gadis kecil. Tak mungkin aku dapat meninggalkannya sendirian bukan? Lagipula bukankah ia berada di dunia nyata sebelumnya? Itu berarti aku pun harus membawanya kembali.
"Nat-chan! Kau tak apa-apa?"
Ia mengangguk pelan ketika aku membantunya berdiri. Terlihat air mukanya berubah menunjukkan suatu kekhawatiran yang amat mendalam. Ini semua bukanlah tanpa alasan. Karena ketika aku ingin menarik tangannya kembali, sebuah bayangan yang besar tiba-tiba terlihat di hadapanku. Aku sempat mematung untuk beberapa saat, ketakutan yang sangat kuat kini seperti menyelimutiku. Saat aku berputar, seseorang.. tidak, digimon yang sangat kukenal itu telah berada di sana. Ia adalah, Piemon.
"Takeru!" teriak Patamon dan menunjuk ke atas.
"Erabareshi kodomo.." gumam Piemon dengan suara tawa yang menakutkan. "Sudah lama sekali tak berjumpa denganmu, setelah waktu yang kuhabiskan berada di alam kekal. Namun sekarang aku kembali, dengan kekuatan yang tak terkalahkan! Ha ha ha.."
Aku memandangnya geram, kekesalanku pada kegelapan kembali muncul. Tak kusangka jika Piemon dapat hidup kembali setelah hal terakhir yang kami lakukan untuk melawannya. Aku masih dapat mengingat jelas seberapa kerasnya Taichi-san bertahan dengan WarGreymon, akupun masih mengingat bagaimana kami lari darinya, dan juga masih sangat nyata dalam benakku saat Hikari-chan adalah satu-satunya yang tersisa selain diriku. Sejak saat itu, aku tak ingin lagi seseorang pun terluka oleh kejamnya kegelapan. Sepertinya apa yang terjadi dahulu kala, kembali terulang dengan adanya Nat-chan dan Patamon bersamaku. Masih dengan tatapan dendam pada Piemon, aku menghalangi Nat-chan darinya.
Namun itu semua tidaklah seperti yang kubayangkan, Nat-chan berbalik dan melangkah melewatiku. Ia sempat berhenti sebentar dan menatap Piemon dengan amarah yang amat besar. Aku tak mengerti mengapa ia melakukan hal seperti itu, maka aku meraih tangan kecilnya dan mencoba untuk menarik Nat-chan kembali.
"Dame yo!" tolak Nat-chan dan segera melepaskan tangannya.
"Nat-chan! Kau tak tau apa yang kau hadapi!"
Aku kemudian melihat Piemon tersenyum sinis, tak terpikirkan olehku jika segala kehancuran ini dikarenakan olehnya. Terlebih, Dunia Digital bukanlah satu-satunya tempat yang ia tuju.
"Ha ha ha, apa yang dapat dilakukan oleh gadis kecil sepertimu?" tanya Piemon.
"Urusai." ujar Nat-chan lirih. "Kau telah menghancurkan tempat ini, kau bahkan telah menyebarkan penderitaan pada Dunia Digital. Tidak-kah cukup dengan apa yang kau lakukan? Kejahatan seperti dirimu tak layak berada di dunia ini. Itulah mengapa, kau harus mati."
Piemon tampak terkejut dengan apa yang dikatakan Nat-chan. Mata itu memperlihatkan kekesalan terhadap ucapan keji seorang gadis kecil untuknya.
"Bodoh, itu semua hanyalah omong kosong!" tukas Piemon dan menghunuskan salah satu pedangnya.
"Nat-chan!" sergahku.
Seiring dengan suasanya menegangkan, aku melihat Nat-chan dikelilingi oleh cahaya yang entah darimana berasal. Seperti sekumpulan kunang-kunang yang kian meruah. Namun aku tak melihat cahaya ini seperti kunang-kunang, melainkan seperti chip data.
"Takeru, menjauhlah.." pinta Nat-chan ketika ia berbalik menghadapku.
"Dame!" balasku untuk apa yang dikatakannya tadi.
"Aku tak dapat meninggalkanmu di sini, Nat-chan!"
Saat itu, Nat-chan tersenyum hangat padaku. Kali pertama aku melihatnya dengan tatapan yang amat tulus. Tubuhnya kini diselimuti oleh cahaya terang itu, dan seketika terpancarlah kekuatan yang amat hebat.
"Argh!" pekik-ku sambil menutupi wajah karena kekuatan yang terhempas. Perlahan aku mengangkat tanganku untuk melihat, namun cahaya yang sangat terang itu menghalangiku. Sesekali terasa angin kencang berhembus yang memejamkan mataku.
"Nat-chaaaaaan!"
Namun semua itu tiada guna, aku terpaku ketika mendengar suara raungan makhluk buas yang amat menyeramkan. Ketika cahaya terang itu meredup, perlahan aku membuka mata dan menemukan monster mengerikan dengan cakar besarnya yang tajam. Monster itu kian mengamuk dan menerjang Piemon.
"Nat-chan..." gumamku lirih.
"Percuma! Seperti apapun kau tak dapat menghentikanku!" murka Piemon terletak jelas.
"Trump Sword!"
Keempat pedang yang terletak di punggung Piemon kini tengah menuju kearah monster raksasa yang tak lain adalah, Nat-chan. Aku tak dapat melihat apa yang dilakukannya, pedang itu sangatlah cepat. Seketika, terdengar jerit raungan dari monster itu. Jantungku seperti berhenti berdegup ketika terlihat jelas olehku pedang itu menusuknya.
"Tidaaak!"
Keheningan terjadi sesaat, dan monster itu kembali bercahaya menampakkan sosok Nat-chan kembali. Terdengar bunyi lonceng kecil pada gelangnya, juga ia tersenyum padaku.
"Takeru, arigatou.." ucapnya lembut. "Sampaikan salamku pada Daisuke.."
"Nat-chan.."
"Selamat tinggal.."
Aku menatapnya dengan rasa sakit yang amat dalam, kejahatan telah merenggut kembali satu temanku. Sudah sekeras apapun aku mencoba untuk menahan air mata kesedihan ini, namun aku tak dapat meredamnya.
"Nat-chaaaaaaaann!" teriak-ku dalam kesedihan.
Seketika digiviceku bercahaya terang, dan terlihat lambang harapan itu menyala di dalamnya. Seakan memberi keyakinan yang penuh, aku menggenggam erat digivice itu dan kembali menatap Piemon. Tersirat rasa dengki yang teramat sangat di antara kami.
"Piemon, kau tak dapat bertindak lebih jauh dari ini." ujarku geram.
Kekuatan yang besar mulai merasuk sekujur tubuhku, perasaan yang sama dengan mimpi malam itu. Tubuhku dan Patamon mulai diselimuti oleh cahaya terang, tak lain adalah cahaya yang telah bersama kami selama berada di Dunia Digital. Aku memejamkan mata dan mengatur napas, rasa sakit ini sangatlah luar biasa. Walaupun semua ini tak sebanding dengan rasa sakit yang diterima oleh mereka, semua sahabatku yang telah pergi karena kejamnya kegelapan. Suatu alasan, aku berada di dunia ini adalah untuk menghentikannya.
"Arghh!" pekik-ku.
"Berjuanglah, Takeru! Kita dapat melakukannya!" sahut Patamon terdengar olehku.
"Arigatou, Patamon."
"Aku selalu di sini untukmu, lakukanlah."
Berakhirlah rasa sakit ini, aku dapat merasakan kekuatan yang besar mengalir dalam diriku. Tak dapat dipungkiri, keyakinan seorang teman adalah sebuah dorongan besar untuk melakukan suatu hal. Aku memejamkan mata dan perlahan menghembuskan napas panjang...
"Matrix Evolution!"
"Patamon shinkaaaaa...!"
Perlahan aku dapat merasakan jiwa Patamon menyatu denganku, juga kekuatan itu terus bertambah seiring kami berevolusi. Satu demi satu pakaian yang kukenakan terlepas, dan kemudian bersatulah diriku dengan Patamon. Pandanganku yang semula kupejamkan, kini aku mencoba untuk membukanya. Walaupun tak terlihat aku mengenakan apapun, namun rasanya aku seperti memakai baju pelindung dan juga penutup kepala yang seakan juga sejajar dengan mataku.
"... HolyAngemon Priest Mode!"
Lahirlah kembali diri kami yang telah bergabung menjadi suatu kekuatan baru, sebagai ksatria kudus penjaga kedamaian dan cahaya Dunia Digital. Perasaan ini seperti tak dapat kukatakan, namun apa yang kurasakan itu ia adalah aku, dan aku adalah ia.
Kurasakan kedua tanganku seperti menggenggam sebuah pedang, yang tak lain adalah pedang suci Excalibur berukirkan Dejitaru Monsutā. Aku yakinkan dapat mengembalikan kedamaian dunia dengan segenap kekuatan dan tangguhnya persahabatan kami.
"Piemon, tak akan kubiarkan kegelapanmu berada di dunia ini. Kau akan membayar semua ini dengan nyawa."
"Kau.." timpal Piemon. "Kau tak akan bisa menghentikanku! Dunia ini tak lama lagi tunduk pada kekuasaanku. Lihatlah wajah-wajah yang menderita itu, bahkan temanmu sangatlah bodoh untuk menyerahkan dirinya.."
Piemon mengulurkan tangannya dan terbentuk sebuah bola hitam yang dilemparkannya ke langit. Terbentuklah suatu pusaran awan kegelapan yang perlahan membuka seperti lorong, tampaknya itu adalah portal menuju duniaku.
"Sekarang semua sudah terlambat. Duniamu akan hancur, ha ha ha.." gumam Piemon dan kemudian melesat menuju pusaran awan hitam di atas sana.
"Kita tak dapat membiarkannya lolos.." ujarku pada HolyAngemon yang juga sekarang adalah diriku.
Aku merasakan HolyAngemon yang membentangkan sayapnya, dan menghempaskan dirinya ke udara. Tepat sebelum gerbang itu tertutup, kami berhasil masuk ke dalamnya. Seperti yang kubayangkan, itu adalah sebuah lorong dimensi penghubung kedua dunia. Tak seperti yang biasa kurasakan, kami melayang lebih cepat dari biasanya. Saking cepatnya aku tak dapat melihat kemana kami mengarah, HolyAngemon lah yang menuntunku untuk melintasi lorong itu. Sampai aku menemukan ujung dari lorong dimensi yang bercahaya terang. Aku memejamkan mata ketika melewatinya, dan kembali membuka mata sesaat setelah kurasakan cahaya itu meredup.
Terhamparlah dunia nyata di hadapanku. Suasana kota Tokyo di siang hari itu sangat familiar bagiku, panas matahari yang menyengat tentu mengingatkanku pada saat jam pulang sekolah. Jika kuingat, tempat ini adalah Hikarigaoka. Semua kenangan anak terpilih berada di tempat ini, termasuk milikku. Namun kini semuanya telah berbeda, kegelapan yang teramat jahat telah berada di dunia ini.
"Ending Snipe!" suara yang tak lain adalah Piemon, ia mengarahkan tembakannya pada jembatan.
"HolyAngemon!" teriak-ku.
HolyAngemon membentangkan sayapnya dan melayang cepat ke arah seseorang disana. Sebelum serangan itu mengenai apapun, aku meringkuk untuk melindunginya. Ledakan itu cukup keras, dan runtuhlah jembatan penyebrangan Hikarigaoka tepat menimpaku. Setidaknya aku masih dapat merasakan diriku dalam bentuk digimon seperti ini.
Perlahan aku membuka mata, dan merasakan detak jantungku seperti berhenti. Seseorang yang telah kuselamatkan tadi adalah seorang gadis yang sangat kukenal. Rambut berwarna cokelat, yang sepadan dengan warna matanya, ia memakai mantel berwarna pink dan juga sebuah topi. Tak kusangka jika ia akan berada di tempat ini, tak lain adalah Hikari-chan. Terlihat raut wajahnya itu sangat ketakutan.
"Aku berjanji untuk melindungimu.." ucapku halus.
Terlihat wajahnya kini memancarkan rasa tak percaya, sekaligus tertegun. Perlahan senyumnya kembali terurai di wajahnya. Suatu tujuanku melindungi Hikari, untuk tak kehilangan senyum manisnya.
~Hikari POV~
Sore ini aku menuju Hikarigaoka setelah melihat berita tersiar di televisi tadi. Aku tak mengerti, namun perasaanku mengatakan untuk pergi ke tempat ini. Apa aku terlalu khawatir pada Takeru? Namun aku sudah berjanji padanya untuk tetap percaya.
Namun ternyata semua hal yang kukhawatirkan bukanlah tanpa sebab, sejenak yang lalu tempat ini masih dilalui oleh orang-orang. Tak lama kemudian, di hadapanku tampaklah seorang musuh besar bagi anak-anak terpilih. Tidak lain adalah Piemon, Dark Master terakhir pada waktu itu.
Ia menatapku dengan pandangan sinis, juga menyimpan dendam yang amat sangat. Walaupun telah empat tahun berlalu, sepertinya ia masih mengingat bagaimana anak terpilih yang telah menguncinya dalam alam abadi.
Tanpa berkata apapun, Piemon menyatukan telapak tangannya dan terbentuk sesuatu seperti aliran listrik. Aku pernah melihat hal ini sekali ketika WarGreymon sedang bertarung melawannya, ia menggunakan hal ini untuk menjatuhkan WarGreymon.
Piemon mengarahkannya tepat ke jembatan di atas tempatku berdiri, maka aku sontak meringkuk dan memejamkan mata. Kudengar suara ledakan itu sangatlah jelas di telingaku, hal itu kembali membangkitkan ingatanku saat tinggal di Hikarigaoka. Namun sepertinya mustahil jika aku selamat, karena tak ada Greymon atau Onii-chan yang bersamaku kan?
Perlahan aku membuka mata, dan menemukan diriku selamat. Saat itu juga, aku menyadari ada seseorang yang telah menyelamatkanku. Aku tak pernah melihat sosok ini sebelumnya, namun entah mengapa aku dapat mengenalinya begitu saja.
"Aku berjanji untuk melindungimu.." sosok malaikat suci itu berkata dengan suara yang sangat kukenal.
Aku terperangah setelah mendengar suara ini, aku sangat mengenalnya. Aku tak mungkin keliru mendengar suara dari seseorang yang telah bersamaku sejak kecil. Walaupun aku tak melihatnya dimanapun, namun entah mengapa pandanganku tertuju pada Digimon malaikat itu. Entah bagaimana, aku seperti melihat Takeru sebagai digimon itu. Seseorang yang dapat membuatku tersenyum dalam ketakutan.
"Berjuanglah.." gumamku sedikit berbisik.
~Takeru POV~
Aku kembali bangkit berdiri dan menyingkirkan reruntuhan itu dari tubuhku. Disana, Piemon terlihat gusar dengan apa yang terjadi. Wajahnya seperti menyimpan dendam, seraya ia mengambil dua bilah pedang dari sarungnya.
"Ergh, kau lebih baik tidak menghalangiku." tuturnya.
"Aku tak memiliki pilihan lain.." sergahku dan juga menghunuskan pedang ke hadapannya dengan kedua tangan.
