Pemandangan yang kini ada di hadapannya bukanlah sesuatu yang bahkan bisa dimimpikannya beberapa bulan yang lalu. Tidak sedikit dari orang yang lalu lalang di depannya dengan beberapa diantaranya memakai pakaian yang sama, membuatnya menyadari bahwa semua ini nyata.
Ia telah berhasil membuka restorannya sendiri.
Membuka sebuah usaha -yang walaupun kecil, memang bukan impiannya sejak kecil namun hanya dalam jangka waktu yang pendek saja. Ketika kehidupannya berbalik 180 derajat dari sebelum kedua orang tuanya meninggalkannya. Atau paling tidak begitulah yang ia yakini sampai beberapa hari yang lalu.
May, M & Mae
Nama yang mungkin aneh untuk sebuah restoran yang menyediakan makanan biasa. Ah, mungkin tidak biasa juga, karena dekorasi dan menu yang disediakan di restoran atau lebih pantas disebut cafe kecil ini berkesan sangat manis. Nuansa yang terpancar dari dekorasi dan segala macam pada cafe itu akan mengingatkanmu pada masa kanak-kanakmu.
Segala hal yang mengingatkan Arthit pada sosok dua balita yang namanya menjadi nama cafe kecil itu.
Perasaan Arthit sejak beberapa bulan lalu semakin tidak menentu. Tidak, ia tidak merasa sedih atau apapun, sebaliknya, ia merasa lega. Sangat lega hingga ia berpikir apakah baik jika ia merasa begini leganya?
Meninggalkan hidupnya di rumah mewah itu dengan membawa begitu banyak uang dari mantan majikannya sehingga ia bisa menjadikannya modal untuk membeli sebuah rumah kecil yang telah lama tidak ditempati, menyulapnya menjadi begini cantik sekarang. Mendapatkan pinjaman dari Bank untuk menambah modal -yang sangat disyukurinya karena begitu ia mempunyai rumah tetap yang walau kecil membuat Bank tidak ragu untuk meminjamkan modal untuk usaha kecilnya.
Membuka sebuah cafe bertema seperti sekarang bukanlah sesuatu yang ia impikan, apalagi sebagai seorang lulusan jurusan tehnik industri sepertinya. Namun hidup orang tidak ada yang tahu akan kemana pada akhirnya, bukan? Begitu pula hidupnya. Walau ia mungkin saja tidak mengingat beberapa tahun dalam hidupnya seperti kata beberapa orang yang sepertinya ia kenal, ia sendiri pun mungkin telah mengalami perubahan yang cukup drastis dari kehidupannya yang sebelum ini.
Mungkin saja, karena ia masih tidak ingat memiliki hidup lain selain apa yang diingatnya.
Mengingat apa saja yang dijelaskan polisi yang datang menemuinya beberapa hari yang lalu dengan membawa orang-orang dari perusahaan asuransi dan juga pengadilan itu saja ia tidak bisa. Tidak bisa mencernanya dengan baik. Atau mungkin ia tidak mau mengakui bahwa apa yang dijelaskan polisi itu tentang pamannya -dan hidupnya, adalah kenyataan.
Bagaimana mungkin ia begitu saja bisa mengakui bahwa hidupnya selama tiga tahun terakhir adalah palsu belaka? Dan bahwa hidupnya sebelum tiga tahun itu adalah yang benar, ketika ia menjalani semuanya sendiri. Walaupun memang karena kendali dari plot yang dibuat oleh pamannya.
Arthit tidak akan mengakuinya. Juga, bahwa kenyataan yang mengatakan bahwa ia adalah istri sah dari Kongpob Suthiluck berdasarkan surat dari pengadilan yang kini ia simpan di suatu tempat di dalam kamarnya yang berada di lantai dua cafe kecilnya ini.
Tidak mau.
Meskipun semua itu benar, tapi ia tidak mau mengakui bahwa ia adalah benar istri Kongpob. Bahwa Kongpob hanya melihat sosoknya yang bahkan tidak bisa ia ingat lagi.
Ia tidak mau Kongpob melihatnya sebagai orang lain. Meskipun orang lain itu adalah dirinya dimasa lalu. Ia ingin Kongpob melihat dirinya yang sekarang.
"Permisi,"
Lamunannya terhenti ketika ia mendengar sebuah suara seorang pria yang duduk di meja yang berada tepat di samping jendela kaca besar yang menghadap pada jalan raya di depan kafe. Dahinya mengernyit tidak suka.
"Khap?"
"Aku tadi memesan telur dadar dengan daging babi cincang dan nasi, bukan omelet seperti ini." kata pria itu yang sudah jelas memesan omelet sesuai dengan yang ada di menu.
Mata besarnya seketika menyipit ketika ia melotot pada sang kostumer dengan kesal. Perapatan imajiner muncul di dahinya.
"Jangan bertingkah disini tuan. Aku pemilik kafe ini dan kau tidak bisa membuatku dipecat -lagi."
Pria di depannya terdiam, lalu bertawa terbahak.
"Maafkan aku, P'Arthit khap." pria yang berparas tampan itu pun tersenyum teduh, menatap lurus pada matanya hingga membuat jantungnya kembali berdetak tak menentu.
"Apa yang kau lakukan disini tiap hari, Kongpob?" ujarnya, menghela nafas panjang, kemudian duduk di bangku di depan Kongpob agar tidak menarik perhatian kostumer lain. "Kalau kau ingin mengacaukan hidupku lagi, sebaiknya lupakan."
Senyum di wajah tampannya meredup mendengar kalimat yang dikeluarkan Arthit. Kongpob menyadari bahwa tindakannya sedikit banyak mengacaukan hidup yang dimiliki Arthit setelah ia kehilangan ingatannya. Namun ia tidak pernah berpikir akan sesakit ini mendengarnya langsung dari mulut istrinya itu.
Jika ia masih bisa menyebutnya itu.
Walaupun ia ingin sekali mengatakan semua hal yang ada di benaknya, namun Kongpob menahannya. Ia kembali memasang senyumnya, mencoba untuk tenang.
"Maafkan aku, khap." ujarnya perlahan. "Aku tidak pernah bermaksud untuk mengacaukan segala seperti ini, P'Arthit."
Perlahan tangannya terulur untuk menggenggam tangan berkulit putih di depannya. Memberikan selusan perlan dengan ibu jarinya di punggung tangan halus itu.
"Aku hanya sangat merindukanmu." tambahnya kemudian.
Wajah Arthit perlahan memanas mendapatkan perlakuan dan pengakuan manis itu.
"Kau merindukan istrimu."
Kongpob tersenyum kecut. Inikah akibat dari perbuatannya?
Perlahan ia mengangguk, kemudian berdiri dan berjalan keluar dari kafe kecil itu dengan kepala tertunduk. Meninggalkan Arthit yang melihat punggungnya menghilang dibalik pintu kafe dengan raut kecewa di wajahnya.
.
.
Pelanggan di kafe miliknya itu telah lama pergi, meninggalkan dirinya dan pegawai kafe yang juga secara satu persatu berpamitan untuk kembali ke rumah masing-masing. Jam menunjukkan jam 11 malam ketika ia berniat untuk mengunci pintu lantai satu rumahnya yang telah beralih fungsi menjadi kafe itu.
Jari-jarinya berhenti memutar kunci pada pintu ketika matanya menangkap sebuah mobil yang sangat familiar terparkir tak jauh dari kafenya. Mobil yang membawanya menjauh dari apartemen kumuhnya dulu, yang membawanya menuju rumah mewah yang sempat menjadi tempat tinggalnya selama beberapa bulan.
Tanpa disadarinya, kakinya telah membawanya tepat di samping pintu mobil. Perlahan ia memicingkan matanya, mencoba melihat lebih jelas kedalam mobil itu, membuat mata bulatnya melebar begitu menemukan sosok Kongpob dan dua orang lainnya di kursi belakang.
Tangannya langsung memukul-mukul kaca pintu bagian pengendara itu dengan keras, tak memperdulikan telapak tangannya yang sedikit sakit. Membangunkan sosok yang ternyata tertidur dengan posisi terduduk.
"P'Arthit?" Kongpob tampak terkejut dengan kehadirannya ketika ia membuka pintu mobilnya secara perlahan, mencoba agar tidak membangunkan dua sosok yang sedang terlelap di kursi belakang mobil itu.
"Apa yang kau lakukan, Kongpon?" geramnya.
"Khap?" tanya Kongpob, seakan tidak mengerti pertanyaannya -membuatnya semakin geram.
"Mengapa May dan M tidur dalam mobil seperti ini?" sergahnya, menunjuk pada sosok kedua balita yang masih betah tertidur di kursi belakang mobil itu.
Kongpob menatap kedua anaknya itu dengan mata sendu, entah apa yang dirasakannya, sedih, rasa bersalah?
"Kongpob!" bentak Arthit pada pria yang masih betah mendiamkannya itu.
Untuk sesaat, Kongpob seperti tidak yakin dengan apa yang ingin disampaikannya pada pria cantik itu. Saat ia ingin mencoba untuk berbicara, Arthit sudah membuka pintu belakang mobil dan mengambil May dalam gendongannya dan berjalan menuju rumah kecil di sebrang jalan tempatnya memarkir mobilnya.
"Ambil M dan bawa ke rumahku dulu, aku tidak ingin tubuhnya sakit besok." ujarnya tanpa menoleh pada Kongpob yang tersenyum padanya.
Walaupun sangat kesal, Arthit memilih untuk lebih mendahulukan May dan M. Lalu ia akan memutuskan apakah ia akan mengakhiri hidup ayah dari kedua balita itu atau tidak.
Setelah menempatkan May dan M di tempat yang benar -diatas kasur dalam kamar tidurnya di lantai dua- Arthit kembali turun ke lantai satu untuk membuatkan Kongpob minuman. Ia tidak mengijinkan Kongpob untuk naik ke lantai dua karena ia sendiri masih belum terlalu mempercayai perasaannya akan pria itu. Ia tidak ingin gegabah membiarkan pria itu masuk dalam zona nyamannya yang telah ia jalani beberapa bulan ini dalam kesendirian.
Ia tidak ingin ada jejak Kongpob kembali dalam hidupnya yang nyaman sekarang.
"Minumlah," ujarnya, meletakkan secangkir coklat panas di atas meja dan duduk di sebrang Kongpob. "sekarang, ceritakan alasan kau membawa May dan M tidur dalam mobilmu keparatmu itu."
Seulas senyum kembali muncul di bibir Kongpob, membuat pria satunya semakin melotot tak suka padanya.
"Jadikan aku suamimu, P'Arthit." kalimat yang meluncur dari mulutnya kali ini membuat pelototan yang diterimanya berubah menjadi sebuah keterkejutan yang sulit untuk digambarkan di wajah Arthit. "Aku mohon...khap." lanjutnya.
Sebuah tamparan keras diterimanya kali ini.
Dan Kongpob menerima itu dengan senyumannya -merasa lega.
.
.
tbc~
