Chapter 12

warn: typos/ gaje/woman rape man/ rate: M for language and lemon/ mohon maaf apabila cerita agak melenceng dari summary-nya(maybe). Newbie author/NOT FOR UNDER 21 YEARS OLD, and etc

Summary: "Kehidupan bahagia Naruto bersama 7 istrinya yang sudah berlangsung selama 13 tahun harus berantakan karena sebuah masalah baru yang menimpa Naruto. Kali ini masalah tersebut jauh lebih ekstrem dari sebelumnya. Kira-kira apa masalah baru yang menimpa Naruto kali ini?"

Perubahan usia chara:

Naruto: 20 tahun

Konan: 22 tahun

Yugao: 23 tahun

Tayuya: 20 tahun

Shizuka: 20 tahun

Guren: 22 tahun

Hinata: 20 tahun

Hanabi: 18 tahun

Kaguya: 22 tahun

Sara: 20 tahun

The owner of Naruto is Masashi Kishimoto

Sebelumnya saya minta maaf kepada minna san sekalian jika cerita fic ini agak sedikit rumit. Akan tetapi saya harap minna san sekalian tidak kecewa dengan fic buatan saya.

Dan sekali lagi saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kalian semua.

Semoga kalian tidak kecewa membaca fic ini.

Let the story begin...

Siang hari di desa Konoha...

Siang itu desa Konoha tidak terlihat panas seperti hari-hari sebelumnya. Itu dikarenakan cuaca mendung yang masih bergelayut di langit desa di negara api tersebut.

Di dalam rumah sakit tersebut terlihat dua orang perempuan berparas cantik yang terlihat memiliki perbedaan usia cukup jauh sedang berjalan menyusuri lorong rumah sakit sambil bergandengan tangan.

Perempuan pertama terlihat memiliki surai kuning panjang selutut dan iris biru yang seindah langit yang cerah. Perempuan tersebut terlihat memiliki usia sekitar 20 tahunan.

Sementara perempuan kedua memiliki penampilan yang sedikit unik. Perempuan cantik tersebut memiliki surai berwarna coklat yang dicepol dua serta iris yang senada dengan surainya. Jika dilihat dari wajahnya, perempuan ini memiliki usia sekitar 30 tahunan. Akan tetapi kecantikannya tidak kalah jika dibandingkan dengan perempuan yang saat ini berada di sampingnya.

Kedua perempuan cantik tersebut berjalan dalam hening. Sepertinya kedua perempuan cantik tersebut sibuk dengan pikiran masing-masing.

'Kenapa aku merasakan firasat buruk saat aku melihat langit Konoha siang ini?' Tanya perempuan cantik bersurai kuning saat iris birunya melihat keadaan langit Konoha. 'Lagipula awan mendung itu, terasa tidak wajar buatku.' Lanjut perempuan tersebut masih dalam hatinya.

Sementara perempuan kedua juga terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Saat ini wanita cantik tersebut terlihat sedang berjalan sambil menundukkan kepalanya.

'Ada apa dengan perasaanku? Mengapa aku sangat menginginkan momen ini tidak akan pernah berakhir?' Ucap perempuan kedua dalam hatinya. Sepertinya perempuan kedua ini sedang bukan sibuk dengan pikirannya, melainkan sedang bingung dengan apa yang dirasakan perasaannya saat ini.

Keadaan hening tersebut menemani mereka hingga akhirnya kedua perempuan tersebut menghentikan langkah kaki mereka di depan sebuah pintu yang bertuliskan 'Ruang Gawat Darurat'.

"Anoo... Tenten chan, bisakah kau melepaskan tanganku sekarang?" Tanya perempuan cantik bersurai kuning selutut pada perempuan kedua saat mereka sudah menghentikan langkah kaki mereka.

"Uh... Ha-Hai'." Jawab perempuan cantik bersurai coklat bercepol dua tersebut dengan nada pelan bercampur kecewa. Wajah cantik perempuan kedua yang saat ini sudah mendongak, terlihat menunjukkan ekspresi kecewanya yang sangat kental di wajahnya.

Setelah itu perempuan kedua yang tidak lain adalah Tenten, langsung melepaskan genggamannya pada tangan perempuan pertama dengan berat hati.

Perempuan cantik bersurai kuning selutut tersebut jadi merasa tidak enak hati saat ia melihat raut kecewa di wajah cantik Tenten. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu untuk menghibur wanita cantik berusia 30 tahunan tersebut.

Akan tetapi setelah beberapa saat berpikir, perempuan pertama tersebut terlihat menghembuskan nafas panjang. Sepertinya perempuan tersebut tidak mendapatkan ide yang bagus untuk menghibur Tenten.

"Uh... Tenten chan, jika kau sedang luang-" "Arigatou atas waktunya tadi, Naruto kun." Ucapan perempuan pertama yang hendak menyampaikan isi pikirannya, langsung dipotong cepat oleh Tenten dengan nada yang tiba-tiba berubah ceria.

"Aku sangat senang sekali." Lanjut Tenten dengan nada yang sama.

Perempuan pertama yang tidak lain adalah Naruto, langsung mengukir sebuah senyuman manis saat ia mendengar nada ceria Tenten barusan.

"Hm..." Gumam Naruto sambil menganggukkan kepalanya. "Sekarang kau mau kemana lagi, Tenten chan?" Lanjut Naruto bertanya pada wanita berparas cantik tersebut.

"Um..." Tenten tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan Naruto padanya. Sepertinya perempuan tersebut masih belum membuat keputusan mau kemana setelah ia mengantarkan Naruto kembali ke depan ruang gawat darurat.

Beberapa saat kemudian...

"Oh ya, aku mau-" "Naruto..." Saat Tenten hendak menjawab pertanyaan Naruto, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita menginterupsinya. Suara tersebut berasal dari belakang Tenten yang saat ini sedang berdiri di depan Naruto yang sedang membelakangi pintu ruang gawat darurat.

Naruto langsung menolehkan mengalihkan pandangannya ke arah belakang Tenten saat mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Tenten juga ikut menolehkan kepalanya saat untuk melihat siapa yang baru saja menginterupsi omongannya barusan.

Ternyata suara tersebut berasal dari seorang wanita cantik yang terlihat memiliki usia tidak berbeda jauh dari Tenten. Wanita cantik tersebut memiliki surai berwarna merah muda dan iris mata berwarna hijau. Dia tidak lain adalah Sakura, sang kepala rumah sakit desa Konoha saat ini.

Sakura terlihat berjalan dengan langkah tenang untuk menghampiri tempat berdiri Tenten dan Naruto saat ini. Di tangan kanan wanita cantik tersebut terlihat sebuah gulungan yang cukup besar dan memiliki warna sedikit gelap.

"Kau kemana saja sih?!" Tanya Sakura dengan nada kesal bukan main saat ia sudah berada di dekat mantan teman se teamnya tersebut.

Naruto langsung membeku setelah mendengar pertanyaan Sakura barusan. Lidahnya langsung terasa kelu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sementara Tenten yang sepertinya tidak disadari keberadaannya oleh Sakura langsung mengalihkan pandangannya kesana kemari.

"Ak-aku tadi habis..."Jawab Naruto menggantung. Ia sengaja menggantung jawabannya sambil memikirkan sebuah jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Sakura barusan.

"Kenapa kau jadi gugup begitu, Naruto?" Tanya Sakura lagi saat iris hijaunya melihat gelagat aneh dari perempuan cantik bersurai kuning tersebut.

"Ak-aku tidak gugup." Jawab Naruto dengan wajahnya yang sudah berubah memerah padam saat pikirannya malah mengingat apa yang telah dilakukan Tenten padanya tadi.

Tenten langsung memasang pose berpikirnya untuk membantu menjawab pertanyaan yang dilontarkan wanita bersurai merah muda tersebut pada Naruto.

"Aku, tadi..." Ucap Naruto menggantung kalimatnya lagi. Sepertinya perempuan tersebut benar-benar tidak bisa menemukan sebuah jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan wanita bersurai merah muda tersebut.

"Tadi aku mengajak Naruto kun jalan-jalan, Sakura san." Jawaban ini bukan berasal dari Naruto, melainkan dari Tenten.

"Ah... Iya , tadi aku habis jalan-jalan ke taman bersama Tenten chan." Lanjut Naruto mendukung jawaban yang dilontarkan Tenten barusan.

"Eh?!" Sakura langsung terlihat terkejut saat ia melihat keberadaan Tenten yang berada di sebelahnya. Sepertinya wanita berparas cantik tersebut tidak menyadari keberadaan wanita cantik bersurai coklat dicepol dua yang berada disana sejak beberapa saat yang lalu.

"Bagaimana kau bisa-" "Aku yang memberitahunya dia, Sakura chan." Sakura yang hendak melontarkan sebuah pertanyaan kepada Tenten langsung dipotong oleh kalimat Naruto. "Tadi aku bosan karena menunggumu terlalu lama di dalam ruang gawat darurat, jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan ketaman. Dan kebetulan disana aku bertemu dengan Tenten chan." Lanjut Naruto berbohong. Meskipun sedang berbohong, intonasi yang dalam kalimat yang dilontarkan Naruto terdengar sangat meyakinkan. Jadi siapapun tidak akan ada yang tahu, jika perempuan cantik tersebut baru saja berbohong.

"Oh... Begitu..." Ucap Sakura sambil manggut-manggut.

"Apa yang sedang kau pegang itu, Sakura san?" Tanya Tenten yang saat ini pandangannya tidak lepas dari tangan Sakura yang terlihat sedang memegang sebuah gulungan yang cukup besar dan terlihat lumayan tebal. "Apakah itu sebuah gulungan jutsu?" Lanjut Tenten bertanya pada wanita berparas cantik tersebut.

"Oh iya..." Ucap Sakura seolah ia baru saja mengingat sesuatu. "Saat tadi aku merawat Chojuro san, dia menitipkan gulungan ini kepadaku. Dia menyuruhku untuk memberikan gulungan ini kepadamu, Naruto." Lanjut Sakura sambil menyerahkan gulungan yang sejak tadi ia pegang.

Tanpa menjawab ucapan Sakura, Naruto langsung mengambil gulungan yang berada di tangan Sakura dengan cepat. Dan tanpa ba bi bu, Naruto langsung membuka tali yang mengikat gulungan tersebut, lalu membaca isinya di depan kedua wanita cantik yang sedang bersamanya saat ini.

Beberapa saat kemudian...

Brukkk

Tiba-tiba Naruto langsung jatuh bersmpuh ke atas lantai setelah beberapa saat membaca isi dari gulungan tersebut. Wajah cantik perempuan bersurai kuning selutut itu langsung menunjukkan ekspresi sangat ketakutan bercampur shok yang luar biasa. Iris birunya yang sejak tadi terlihat tenang, langsung membelalak seperti mau keluar dari tempatnya. Dan kedua tangannya langsung jatuh lunglai seperti kehilangan tenaganya. Sehingga, gulungan yang barusaja ia baca langsung tergeletak di atas lantai dengan kondisi terbuka.

"Kau baik-baik saja Naruto/Naruto kun?" Tanya kedua wanita cantik yang berada di dekatnya saat iris mereka melihat perempuan tersebut jatuh bersimpuh di atas lantai.

"Ak-aku baik-baik saja." Jawab Naruto sambil berdiri dari posisi bersimpuhnya. Dan setelah berhasil berdiri, perempuan bersurai kuning tersebut langsung menghilang dari hadapan kedua wanita cantik yang berada di dekatnya.

Sakura dan Tenten langsung salig berpandangan setelah kepergian Naruto. Setelah itu mereka berdua langsung berjongkok dan membaca isi gulungan yang ditinggalkan Naruto di atas lantai begitu saja.

'Hai Naruto chan... Jika kau sudah menerima gulungan ini dari Chojuro kun, maka itu artinya, kau akan mendapatkan sebuah kabar buruk. Yaitu, semalam aku telah meratakan Kirigakure, Tapi aku akan memberikanmu sebuah kabar baik. Yaitu, aku akan kembali tidur hingga dua bulan kedepan. Dan setelah itu, aku akan bangun dan akan menghancurkan dua desa lagi. Aku sengaja menyisakan para pimpinan desa tersebut dan memberikan gulungan ini kepada mereka. Saat mereka membuka gulungan ini, mereka akan langsung muncul di depan rumah sakit desa Konoha. Dan alasanku yang lain membiarkan mereka hidup adalah biar mereka bisa cerita ke semua orang bahwa suatu hari nanti, aku akan datang. Baiklah cukup sekian pesan dariku. Salam sayang, Muachhh muachhh muachhh. Dari Messiah NB: aku harap bisa segera bertemu denganmu dan Kurama.' Ucap Sakura dan Tenten dalam hati saat mereka membaca isi gulungan yang berada di atas lantai rumah sakit tersebut.

Kedua wanita cantik tersebut awalnya hanya bisa sweetdrop saat membaca isi gulungan tersebut. Akan tetapi, tubuh mereka berdua langsung membeku dan terasa sulit untuk digerakkan saat mereka membaca nama sang penulis yang tertera di akhir dari gulungan tersebut. Wajah cantik mereka berdua juga langsung dibanjiri oleh keringat dingin setelah membaca pesan tersebut.

'Siapapun yang menulis gulungan ini, pastinya bukan orang biasa. Padahal aku baru membaca namanya dari pesan gulungan ini. Akan tetapi, perasaanku langsung dilanda ketakutan yang luar biasa.' Ucap Sakura dalam hati yang merasa kesusahan untuk menggerakkan tubuhnya yang tiba-tiba membeku di tempatnya saat ini.

'Siapapun dia, pastinya dia memiliki kekuatan yang sangat hebat hingga bisa meratakan sebuah desa besar dalam waktu semalam saja.' Ucap Tenten dalam hati yang mengalami kondisi tidak jauh berbeda dari Sakura saat ini. 'Padahal aku baru membaca namanya dari pesan gulungan ini. Akan tetapi, perasaanku langsung dilanda ketakutan yang luar biasa.' Lanjut Tenten dalam hati yang mengucapkan hal yang sama dengan Sakura.

Sementara itu di dalam kamar tempat Naruto dirawat...

Terlihat dua orang perempuan cantik dengan usia yang tidak terpantau jauh sedang duduk di dalam kamar yang terbilang lumayan luas tersebut.

Perempuan cantik yang pertama memiliki surai berwarna putih dan iris mata yang berwarna senada dengan surainya. Perempuan tersebut terlihat berdiri sambil memandang langit gelap di atas desa Konoha melalui jendela di kamar pasien tersebut. Dia tidak lain adalah Kaguya.

Sementara perempuan cantik kedua, memiliki surai berwarna merah dan iris berwarna coklat. Perempuan tersebut terlihat sedang duduk di samping kasur dengan ekspresi yang terlihat sudah bosan. Sepertinya perempuan tersebut sudah bosan menunggu kedatangan seseorang yang seharusnya berada di atas kasur di dalam kamar tersebut. Perempuan tersebut adalah Sara.

"Kaguya san, apakah kau masih tidak bisa merasakan tekanan chakra milik Naruto kun?" Tanya Sara pada perempuan cantik bersurai putih yang saat ini terlihat sedang membelakanginya.

..." Tidak ada jawaban dari Kaguya. Sepertinya perempuan cantik bersurai putih tersebut terlalu fokus pada apa yang sedang ia pandang melalui jendela kamar tersebut. Sehingga, ia tidak mendengar atau tidak peduli pada pertanyaan yang dilontarkan Sara padanya.

"Kaguya san?" Panggil Sara saat ia tidak mendengar jawaban dari perempuan bersurai putih yang saat ini masih terlihat memandang langit dari jendela yang ada dihadapannya.

'Ada apa ini? Mengapa aku merasakan firasat buruk tentang langit yang berada di atas Konoha saat ini?' Tanya Kaguya dalam hati tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari langit yang ia lihat saat ini.

Sara langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri tempat Kaguya berdiri saat ini. Lalu ia mengikuti arah pandang perempuan cantik bersurai putih tersebut.

"Kaguya san, mengapa kau memandang langit Konoha terus?" Tanya perempuan tersebut sambil menolehkan kepalanya pada perempuan cantik yang saat ini berada di sampingnya.

Akan tetapi, lagi-lagi Sara tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya.

Kaguya masih diam seolah membeku di tempatnya berdiri saat ini. Perempuan cantik tersebut seolah terhipnotis dengan apa yang ia pandang saat ini.

Tap

"Eh?!" Perempuan tersebut langsung terkejut saat ada seseorang yang tiba-tiba menepuk pundaknya. Bukan hanya Kaguya, Sara pun juga ikutan terkejut saat melihat sebuah tangan berjari lentik tiba-tiba menepuk pundak perempuan cantik bersurai putih tersebut.

Kedua perempuan berparas cantik tersebut langsung menolehkan kepalanya ke sang pemilik tangan untuk melihat siapa pemilik tangan berjari lentik tersebut.

"Naruto kun?!" Ucap Kaguya dan Sara secara bersamaan saat melihat sang pemilik tangan berjari lentik tersebut. Mereka langsung terkejut bukan main, karena perempuan cantik tersebut datang tanpa hawa kehadiran dan tidak membuka pintu kamar tempat mereka menunggunya saat ini.

"Ba-bagaimana bisa kau-" "Kaguya san, ada yang ingin aku dan Kurama bicarakan denganmu." Ucapan Sara yang hendak bertanya bagaimana cara Naruto datang langsung dipotong dengan cepat oleh ucapan bernada dingin dari perempuan cantik bersurai kuning tersebut.

"Baiklah." Jawab Kaguya dengan nada tenang tanda bahwa perempuan cantik tersebut tidak terintimidasi dengan kalimat dingin yang diucapkan Naruto barusan.

Sara yang tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan Naruto dan Kaguya hanya bisa mengangkat sebelah alisnya. Sepertinya keberadaannya di dalam kamar tersebut tidak dianggap oleh kedua perempuan berparas cantik tersebut.

'Bagaimana Naruto kun bisa masuk kedalam kamar ini? Dan siapa itu Kurama?' Tanya perempuan tersebut dalam hati secara beruntun sambil terus mengangkat sebelah alisnya karena penasaran. Akan tetapi perempuan tersebut langsung mengurungkan niatnya untuk bertanya saat ia mengingat betapa dinginnya nada yang diucapkan Naruto barusan.

"Kepalkan tanganmu seperti ini." Ucap Naruto memberi sambil memberi petunjuk pada perempuan cantik bersurai putih tersebut. "Setelah itu tempelkan kepalan tanganmu dan fokuskan pikiranmu untuk memasuki alam bawah sadarku. Kau mengerti?" Lanjut Naruto menjelaskan dan di akhiri dengan sebuah pertanyaan pada perempuan cantik bersurai putih tersebut.

"Hai'." Jawab Kaguya singkat sambil melakukan apa yang dikatakan Naruto barusan.

Naruto langsung melakukan hal yang sama seperti apa yang ia arahkan pada Kaguya.

Sementara Sara hanya bisa memandang bingung kedua perempuan berparas cantik tersebut yang saat ini sedang duduk bersila di atas lantai di dalam salah satu kamar yang ada di rumah sakit Konoha. Akan tetapi dia tidak mau berlama-lama memandangan pemandangan tersebut.

Setelah beberapa detik memandang Naruto dan Kaguya, ia mengalihkan pandangannya pada langit mendung yang ada di atas Konoha saat ini.

Srettt

Baru saja perempuan tersebut mengalihkan pandangannya pada langit Konoha, tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu kamar tempat Naruto dirawat.

Terlihat 2 orang wanita berparas cantik dengan surai yang berbeda, sedang berdiri di ambang pintu masuk kamar tersebut. Mereka berdua adalah Tenten dan Sakura.

Sepertinya mereka berdua mencari perempuan bersurai kuning yang saat ini sedang duduk bersila di atas lantai di dalam kamar tersebut.

"Ano... Sara san, apakah Naruto ada di sini?" Tanya Sakura pada perempuan cantik bersurai merah yang saat ini sedang berdiri membelakangi jendela di kamar tersebut.

"Hai', Sakura san." Jawab Sara dengan nada yang terdengar lesu dan tidak bersemangat. "Memangnya ada perlu apa Sakura san?" Lanjut Sara bertanya pada perempuan bersurai merah muda tersebut.

"Aku hanya ingin menanyakan siapa penulis pesan di gulungan ini. Sepertinya Naruto tahu sesuatu tentang penulis gulungan ini."Jawab Sakura panjang lebar.

"Bagaimana kau bisa bilang jika Naruto tahu tentang penulis pesan di gulungan tersebut, Sakura san? Dan apa isi pesan di dalam gulungan itu?" Tanya Sara penasaran.

"Tadi Chojuro san atau sang Rokudaime Mizukage memberikan gulungan ini kepada Naruto. Lalu setelah membaca gulungan ini di depan kami, Naruto langsung pergi begitu saja dan meninggalkan gulungan ini secara terbuka di depan kami. Karena penasaran, jadi kami membacanya. Tapi saat kami membaca nama penulis gulungan ini, entah mengapa kami merasakan rasa takut yang luar biasa merayapi hati kami." Jawab Sakura panjang lebar sekaligus menjelaskan mengapa ia mencari perempuan cantik bersurai kuning selutut tersebut.

"Jadi kalian kemari untuk menanyakan siapa sebenarnya penulis gulungan tersebut?" Tanya Sara yang membuat kesimpulan.

"Hai'." Jawab Sakura sambil menganggukkan kepalanya.

"Jika benar Naruto kun ada disini, dimana dia sekarang?" Tanya Tenten yang terlihat sudah tidak sabar untuk meminta penjelasan dari perempuan bersurai kuning tersebut.

"Dia ada disini uh..." Sara hanya bisa menggantung jawabannya karena ia tidak tahu tentang perempuan cantik bercepol dua yang datang bersama Sakura.

"Tenten." Ucap Tenten sambil membungkukkan badannya. "Namaku Tenten, Sara san. Gomen, tadi aku lupa memperkenalkan diriku." Lanjut Tenten saat ia sudah berdiri tegak kembali.

"Naruto kun memang ada disini, Tenten san." Ucap Sara dengan sambil mengulas sebuah senyuman di wajah cantiknya. "Tapi... Kurasa dia sedang tidak bisa diganggu." Lanjut Sara sambil mengalihkan pandangannya pada lantai di samping kasur.

Sakura dan Tenten langsung memutuskan untuk memasuki kamar tersebut dan berjalan mendekati Sara. Setelah berada di dekat Sara, kedua wanita berparas cantik tersebut langsung mengikuti arah pandang Sara saat ini.

"Apa kau tahu apa yang sedang mereka berdua lakukan, Sara san?" Tanya Tenten saat iris coklatnya melihat Naruto dan Kaguya sedang duduk bersila di atas lantai sambil menempelkan kepalan tangan mereka.

"Aku sendiri kurang tahu, Tenten san." Jawab Sara. "Tadi Naruto kun datang secara tiba-tiba. Lalu dia bilang jika dia dan Kurama ingin bicara dengan Kaguya san. Dan setelah itu, mereka berdua sedang duduk di bawah lantai di sini." Lanjut Sara menjelaskan sambil menunjuk lantai tempat Kaguya dan Naruto duduk saat ini.

Setelah mendengar penjelasan dari Sara, Sakura dan Tenten yang sejak tadi berada di ambang pintu kamar langsung melangkahkan kakinya untuk memasuki kamar tersebut. Setelah itu, kedua wanita berparas cantik tersebut langsung mengalihkan pandangan mereka berdua ke arah jari telunjuk Sara menunjuk saat ini.

"Apa kau tahu apa yang sedang mereka lakukan, Sara san?" Tanya Tenten kepada Sara yang sedang masih menunjuk ke arah Naruto dan Kaguya.

Sara hanya mengangkat kedua bahunya tanda bahwa ia tidak tahu apa yang kedua perempuan berparas cantik tersebut sedang lakukan saat ini.

Dan setelah itu, ketiga perempuan tersebut diselimuti oleh keheningan. Sepertinya ketiga perempuan tersebut sudah kehabisan topik pembicaraan.

"Jadi, kita hanya bisa menunggu mereka selesai menyelesaikan urusan mereka." Ucap Tenten memecah keheningan yang terjadi di antara ketiga perempuan tersebut.

Sara dan Sakura hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda bahwa mereka berdua setuju dengan apa yang barusan dikatakan wanita cantik bersurai coklat dengan gaya dicepol dua tersebut.

Dan setelah itu mereka hanya bisa menunggu Kaguya dan Naruto dalam keheningan yang terjadi di dalam kamar tersebut.

Sementara itu dengan Kaguya dan Naruto yang saat ini berada di dalam mindscape Naruto...

Terlihat dua orang perempuan cantik sedang berdiri di atas genangan air berwarna kuning di sebuah tempat yang terlihat seperti pembuangan air. Di dalam tempat tersebut juga terlihat seekor rubah besar berbulu orange yang sedang duduk di belakang perempuan cantik bersurai kuning selutut yang ada di ruangan tersebut. Sembilan ekor rubah tersebut terlihat bergerak kesana kemari.

"Apa maksudnya ini, Kaguya?" Tanya Naruto dengan suara yang terdengar mengintimidasi perempuan bersurai putih yang saat ini sedang berdiri di depannya.

"Apa itu, Naruto kun?" Tanya Kaguya dengan nada tenang. Perempuan cantik tersebut seolah tidak terpengaruh dengan nada intimidasi yang dilontarkan perempuan bersurai cantik bersurai kuning selutut yang berada di depannya barusan.

"Dia..." Ucap Naruto menggantung sambil menundukkan kepalanya.

DiaDia?Ucap Kaguya dan Kurama secara bersamaan. Sepertinya Kurama tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi pada jinchuurikinya barusan. Yang ia tahu adalah jika emosi Naruto tiba-tiba meluap tanpa alasan yang jelas.

"Dia... Semalam telah menghancurkan Kirigakure." Ucap Naruto dengan pundak yang mulai naik turun. Ekspresi perempuan tersebut tidak terlihat karena wajahnya yang masih menunduk.

DEG

Kurama dan Kaguya yang mengerti arti dari kata dia, langsung membeku di tempat mereka. Lidah mereka langsung terasa kelu setelah mendengar ucapan Naruto barusan.

"Apa maksudnya ini, Kaguya? Mengapa dia bisa muncul tanpa tanda-tanda yang kau ucapkan beberapa waktu yang lalu?!" Ucap Naruto beruntun sambil mengangkat wajah cantiknya yang sudah berlinang air mata.

Naruto, tenangkan dirimu...Ucap Kurama yang sempat membeku. Sepertinya ia sangat shok setelah mendengar penuturan Naruto barusan.

"Dia juga bilang, bahwa dia akan kembali tidur selama dua bulan kedepan!" Ucap Naruto dengan nada sarkastik. "Akan tetapi, saat dia kembali bangun, dia akan menghancurkan dua desa lagi!" Lanjut perempuan cantik bersurai kuning selutut tersebut dengan suara yang mulai meninggi.

Kaguya langsung bungkam seribu bahasa setelah mendengar nada ucapan Naruto barusan. Sebenarnya, perempuan cantik bersurai putih tersebut tidak tahu menahu tentang hal ini.

Sementara Kurama yang berada di belakang Naruto, hanya bisa memandang punggung perempuan cantik tersebut dengan pandangan khawatir.

Setelah itu tidak ada yang membuka suara lagi. Tiga makhluk yang ada di ruangan tersebut hanya terjebak dalam pikirannya masing-masing setelah mendengar ucapan salah satu dari mereka.

"Go-gomen, Na-Naruto kun." Ucap Kaguya memecah keheningan yang terjadi di antara dia, Naruto, dan Kurama. "Ak-aku benar-benar tidak tahu jika dia bisa keluar tanpa tanda seperti yang kau maksudkan." Lanjut perempuan cantik bersurai putih tersebut.

"JANGAN BERBOHONG PADAKU, KAGUYA!" Teriak Naruto dengan berlinang air mata. "Hiks, hiks, jika saja aku tahu dia akan muncul di desa Suna dan Kiri... Pasti aku bisa membantu-hiks Chojuro san dan Gaara." Lanjut Naruto disela isak tangisnya.

Naruto...Panggil Kurama dengan nada pelan dan hampir tidak terdengar. Sepertinya rubah besar berwarna orange tersebut merasa tidak tega saat melihat keadaan Naruto saat ini.

Sementara Kaguya tidak bisa mengatakan apapun lagi. Sepertinya perempuan cantik bersurai putih tersebut telah kehabisan kata-kata untuk menjawab ucapan Naruto.

Naruto, Kaguya itu tidak bersalah. Mungkin Kami sama punya alasan sendiri, mengapa beliau tidak memberitahu Kaguya tentang hal ini.Ucap Kurama dengan nada bijaknya.Mungkin jika kau tahu dia akan muncul pada hari tertentu, kau pasti akan mendatanginya saat itu juga. Dan apabila kau mendatanginya saat itu juga, kemungkinanmu untuk menang melawannya itu hampir tidak ada, bahkan mustahil kau bisa mengalahkannya dengan kekuatanmu saat ini. Meskipun kekuatanmu setara dengan Rikudou jiji, akan tetapi aku ragu kau bisa menandingi kekuatan perempuan itu, Naruto.Lanjut rubah besar tersebut panjang lebar setelah beberapa saat diam.

Naruto tidak langsung menjawab pernyataan Kurama barusan. Melainkan dia memikirkan tentang ucapan rubah tersebut secara masak-masak.

'Benar juga apa kata Kurama barusan.' Ucap Naruto dalam hati setelah ia memikirkan ucapan partnernya barusan. 'Jika dilihat dari kemampuanku saat ini, pasti aku hanya akan mengantarkan nyawaku padanya.' Lanjut Naruto masih dalam hatinya. Sepertinya Naruto baru bisa berpikir jernih setelah mendengar penuturan Kurama barusan.

Setelah itu, perempuan cantik bersurai kuning tersebut mulai menghapus bekas air mata di kedua pipinya. Lalu dia berjalan mendekati Kaguya.

Kurama langsung mengukir seringainya saat iris vertikalnya yang berwarna merah melihat Naruto yang berjalan mendekati Kaguya yang sedang berdiri di depannya.

"Kaguya chan, uh... Maafkan aku ya." Ucap Naruto sambil membungkukkan badannya 90 derajat. "Setelah kupikir-pikir, apa yang dikatakan Kurama tadi ternyata ada benarnya. Maafkan aku yang malah menyalahkanmu tentang masalah ini." Ucap Naruto setelah ia menegakkan badannya.

"Hm... Tidak apa-apa, Naruto kun" Ucap Kaguya sambil tersenyum. 'Arigatou Kurama. Hagoromo pasti akan sangat bangga padamu.' Lanjut Kaguya dalam hatinya sambil mengalihkan iris putihnya untuk melihat rubah besar yang sedang duduk di belakang Naruto.

Kurama yang merasa dipandangi oleh Kaguya langsung mengalihkan pandangannya pada perempuan cantik bersurai putih panjang tersebut.

Apa lihat-lihat? Kau naksir aku ya?Ucap Kurama yang kepedean tingkat dewa.

Twitch twitch twitch

Senyuman manis Kaguya langsung menghilang seketika setelah mendengar apa yang dikatakan Kurama barusan. Saat ini dahi perempuan cantik bersurai putih tersebut sudah dipenuhi oleh 3 perempatan yang baru saja muncul.

"Ka-Kaguya chan, tenang ya tenang..." Ucap Naruto sambil menggosok kedua bahu perempuan cantik bersurai putih tersebut.

Kaguya yang diperlakukan seperti itu oleh Naruto langsung kembali tenang. Amarahnya seolah tertiup oleh angin dan pergi entah kemana dalam sekejap.

Naruto yang melihat perempuan cantik tersebut kembali tenang langsung mengukir senyumnya.

Kalau naksir bilang saja...Ucap Kurama yang memanas-manasi Kaguya lagi.Gak usah pandang-pandang segala.Lanjut rubah besar tersebut dengan seenak jidatnya.

"HIIHH... RUBAH BESAR KURANG AJAR! SUDAH JELEK, JOMBLO, NGENES, HIDUP LAGI!" Teriak Kaguya yang sepertinya terprovokasi oleh omongan Kurama barusan. Sepertinya urat kesabaran perempuan cantik tersebut sudah terputus.

JAGA OMONGANMU, DASAR NENEK GENIT!Balas Kurama yang tidak terima dengan omongan Kaguya barusan.MEMANGNYA KAU SENDIRI TIDAK JOMBLO DAN NGENES HAH?!Lanjut Kurama balas mengejek Kaguya.

"ITU DULU, RUBAH GOBLOK." Ucap Kaguya sambil tersenyum sinis "Sekarang kan aku sudah punya Naruto kun." Lanjut Kaguya sambil bergelayut manja pada perempuan cantik bersurai kuning yang keberadaannya sempat dilupakan tersebut.

Naruto langsung sweet drop saat mendengar ucapan Kaguya barusan. Sementara Kurama terlihat semakin marah saat melihat Kaguya sedang bergelayut manja pada jinchurikinya.

WOI, DIA ITU JINCHURIKIKU! JADI KAU PERLU IZIN DARIKU UNTUK MENDEKATINYA, NENEK GENIT!Balas Kurama dengan suara yang menggelegar. Sepertinya rubah besar tersebut benar-benar tidak suka dengan apa yang dilakukan Kaguya saat ini.

Dan setelah itu, Naruto akhirnya menjadi bahan perebutan antara rubah besar melawan seorang perempuan cantik bersurai putih di dalam mindscapenya sendiri.

Naruto sendiri hanya bisa menghela nafas pasrah saat melihat partnernya mau meladeni setiap omongan dari Kaguya.

TBC