…..~*~Black Rosette~*~…..
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story
Scene 11: Wheels Within Wheels
POV : Rukia
(..)
(..)
(..)
Tepis tangannya, raih pergelangan tangannya, dan jangan lupa kakiku kulangkahkan ke depan—memberi jarak yang cukup untuk menahan tubuhku. Sebelah tanganku siap meraih tangannya yang satu lagi dan…kena. Ah tidak, lebih tepatnya tanganku lah yang kena olehnya—tergenggam erat. Tangannya yang satu lagi lepas dari peganganku dan meraih bahuku. Ini terjadi seperti gerakan cepat dalam film, yang membuat tubuhku melayang tiba-tiba di udara, lalu—buakk! Menghantam tanah. Bersalju.
"Aw! Pantatku!" teriakku sakit. Ichigo terlalu kasar saat membanting tubuhku, hingga terjatuh duduk di atas salju yang dingin. Dan sekarang celanaku basah, dan dinginnya salju pada tanganku berhasil membuat gigiku bergemeletuk ringan. "Bisakah…kau lebih lembut sedikit?!"
Ichigo menyeringai lebar, dengan kedua tangannya dilipat di depan dada. "Dalam seni bela diri tidak ada kata lembut di sana. Yang harus kau perhatikan adalah konsentrasi penuh dan sikap yang lebih sigap daripada sebelumnya."
Kedua tanganku kutekankan pada salju di bawahku, untuk mendorong tubuhku berdiri. Namun, rasa dinginnya sungguh menusuk seperti listrik mengalir, membuatku kembali terjatuh ke posisi semula. Seharusnya aku memakai sarung tangan dari awal. "Ah! Dingin! Pantatku!"
"Bisakah kau berhenti mengeluh soal pantatmu itu? Kau ini sungguh lemah dalam hal ini," decak Ichigo yang mulai berjalan santai ke arahku. Sebelah tangannya terulur untuk menarikku berdiri. Tidak akan kubiarkan dia mengolok-olokku terus seperti ini, sungguh pria yang tidak sopan. Kutendang begitu saja tulang keringnya dengan keras, hingga dia hilang keseimbangan dan ikut jatuh terduduk di atas salju sepertiku. Rasakan itu.
"Sialan! Kenapa kau selalu mengincar kakiku?!"
"Kau terlalu bodoh untuk yang satu itu. Ingat, konsentrasi penuh dan sikap yang lebih sigap daripada sebelumnya," ucapku mengejeknya, mengulang kembali kata-kata yang sudah dilontarkannya tadi. Mulutku tersenyum lebar melihat ketidakberdayaannya untuk beberapa detik itu, sebelum dia memelototiku dan menggenggam sebongkah salju di sebelah tangannya. Tunggu dulu, jangan bilang, "Ichigo…tunggu…apa yang—"
Terlambat. Dia melemparkan salju itu tepat di wajahku, membuatku merasakan sensasi dingin yang begitu luar biasa hingga ke leher dan sekujur tubuhku. Aku menjerit kecil dan merinding hebat karenanya. Sial, seandainya aku lebih cepat menyadari tindakannya tadi. Kugenggam salju begitu erat dengan sebelah tangan dan melemparnya langsung ke arahnya. Dan…meleset.
"Kau terlalu lama untuk merespon, mungil!" ejeknya riang. Ichigo sudah berdiri dari jatuhnya tadi, terlalu cepat untuk kusadari. "Seharusnya kau langsung melakukan itu tanpa berpikir."
Kuambil lagi segenggam—ah, dua genggam salju dengan tanganku dan melemparnya sekuat tenaga. Ichigo yang lengah sesaat tidak lagi bisa menghindari seranganku—tepat di dada dan wajahnya. Strike!
"Rasakan itu, baka! Kau tidak bisa meremehkanku karena tubuhku lebih kecil darimu!" ucapku bangga, mungkin ini adalah hasil terbaik dariku sepanjang latihan 'terlalu posesif' dari Ichigo. Jurus dan sikap pertahanan diri yang diajarkannya sama sekali tidak bekerja untukku, terlalu sulit untuk diingat.
Ichigo segera membersihkan salju yang mengotori wajahnya sambil meringis kesal. Matanya kembali melirik ke arahku, menyembunyikan sesuatu yang kuyakini tidak bertambah baik. "Kita lihat saja, mungil!" balasnya hampir berteriak dan lari ke arahku. Spontan aku terlonjak dan segera mengambil langkah cepat ke belakangku—berlari sekuat tenaga menghindarinya. Ini sungguh ide buruk.
"Jangan mengejarku!" teriakku panik, mengitari pekarangan belakang rumah yang tidak terlalu luas ini, bingung untuk berlari ke arah mana. "Pergi!"
"Tidakk!" teriak Ichigo yang terdengar hampir menyusulku cepat. Dengan panik aku menaiki tangga teras belakang rumah dan meraih kenop pintu, memutarnya dengan gemetar. Tapi, sepertinya keberuntungan tidak berpihak padaku, saat Ichigo berhasil meraih tubuhku dan mengangkatku dengan mudah.
"Lepaskan, bodoh!" Kakiku menendang di udara, sementara kedua tangan kuatnya itu melilit tubuhku seperti ular. Suara tawanya terdengar menggema di telingaku, memberikan rasa geli yang terasa di tengukku. Rasa hangat mulai menjalar ke arah wajahku dan turun ke leher.
"Tidak akan," bisiknya jahil, dan menghempaskan tubuhku ke atas salju dengan ringan, namun cepat. Tidak ada rasa sakit yang kurasakan, begitu salju kembali menggelitiki kulitku—kali ini tubuhku sepenuhnya. Mataku terpejam kaget karena rasa dingin yang menusuk itu dan meringis kecil begitu Ichigo memenjarakan tubuhku, tepat di atasku.
"Ah, dingin! Dingin! Biarkan aku bangun," rontaku berusaha mendorong tubuhnya, tapi tidak berhasil sama sekali. Dia kuat seperti batu yang kokoh. "Ichigo!"
"Ini hukuman karena kau tidak mau mendengar apa yang kukatakan selama latihan," jelasnya sambil tertawa sinis. "Dan juga karena salju itu."
"Kau yang melempar lebih dulu!"
"Kau melempar dua bongkah salju dalam sekali serang, itu tidak adil," bantahnya.
"Tidak ada aturan…dalam pertarungan!" balasku lagi dan mulai mengambil salju lagi dari sebelah tubuhku. Tanganku mulai gemetar karena rasa dinginnya.
"Tentu saja ada." Tangannya terlalu cepat untuk bergerak, menggenggam tanganku untuk diam di tempat, membuatku kembali meringis. "Dan jangan coba-coba untuk melawanku secara diam-diam, itu tidak akan berhasil, moya lyubov (1)."
"Moya yubovu? Apa artinya itu?" tanyaku dengan gigi bergemeletuk, dan tidak bisa lagi menahan senyumku begitu melihat Ichigo yang juga tersenyum lebar. Wajahnya begitu dekat denganku, hingga bisa kurasakan napas hangatnya menyapu wajahku lembut—memberikan kehangatan yang kubutuhkan sekarang.
"Kau mau tahu artinya?" tanyanya kembali, mulai menjahiliku.
"Cepatlah! Dingin di sini…aku bisa membeku!" protesku kesal dengan sikapnya yang mulai mengulur-ulur waktu.
"Coba jatuhkan aku."
"A…apa?"
"Jatuhkan aku, seperti yang kuajarkan tadi. Aku tahu kau masih mengingat langkahnya," ucapnya tanpa melepaskan seringaian lebarnya. Sungguh, dia cocok untuk memerankan tokoh Woofy!
Aku berusaha memutar otakku untuk mengingat gerakan itu, namun nihil. Aku sama sekali tidak bisa mengingat gerakan rumit itu. Apa kaki dulu atau tanganku? Apa harus melilitnya ataukah memukul tangannya? Apa kakiku harus diangkat atau mungkin menendang….
"Jangan yang itu!" teriak Ichigo panik, memperhatikan mataku yang melihat ke 'bawah' sana. Ah, sepertinya insiden di kamar beberapa hari yang lalu masih menghantuinya? "Jangan sekali-kali menendangku lagi, tidak untuk kedua kalinya!" Kini kakinya membuka kakiku lebar dan berlutut di antaranya. Tunggu dulu—
"Ichigo! Kau ini!" mukaku terasa panas karenanya, melihat posisi kami yang sungguh…salah? Spontan aku menarik kakiku dan menendang perutnya cukup kuat, hingga membuat Ichigo tersedak napas.
"Khh…kau..menendangku? Bukan begini caranya!" omelnya kesal, memelototiku dengan tatapan tajam.
"Kau yang seenaknya merubah posisi, tawake! Aku…tidak tahu langkah apa yang harus kuambil lebih dulu."
"Ahh….Jangan menyerang Kuchiki-san di atas salju, Ichigo-kun! Itu tidak baik untuk tubuh kalian berdua!" teriak Urahara-san yang menggema—memotong perdebatan— terdengar dari beranda rumah. Sosoknya yang berbalut pakaian sangat tebal itu terlihat seperti kepompong blond-hijau.
Ichigo segera bangun dari posisinya panik dan mengambil sebongkah salju dalam tangannya. Dia akan menyerangku—ah, atau mungkin—"Bisakah kau berhenti untuk mengganggu?!" teriak Ichigo sambil melemparkan salju itu ke arah Urahara-san, seperti sedang melemparkan bola bowling ke arah pin di depan mata. Dan…strike!
(..)
"Ini semua salahmu!" teriakku kesal, kembali mengeratkan selimut tebal yang menyelimuti diriku. Rasa dingin mulai membuat hidungku gatal dan bersin beberapa kali. "Aku bisa terkena flu musim dingin, dan itu rasanya tidak enak!"
"Itu tidak seberapa dengan rasa dingin di kutub utara," ucap Ichigo cuek, melangkah santai di belakang sofa yang kududuki nyaman. Perapian kembali dinyalakan, berharap rasa hangat segera menyentuh kulitku—hidungku. "Untung saja kau tidak terkena hipotermia."
"Me…memangnya kau pernah pergi ke sana? Ke kutub?" Mulai terbayang pikiran akan penguin yang berlarian ke sana kemari secara berkelompok. Apa Ichigo pernah melihat burung menggemaskan satu itu secara langsung, atau mungkin diserang secara berkelompok oleh burung-burung itu karena otak bodohnya?
"Tidak pernah."
Hah? "Lalu…mengapa kau bisa beranggapan kutub utara lebih dingin daripada di sini?" tanyaku bingung, bercampur kesal. Jalan pikirnya itu memang sulit sekali untuk dimengerti, seperti berjalan di sebuah maze.
Ichigo sudah berdiri di sampingku dan mengambil tempat duduk kosong di sebelah. Bahunya menyentuh lembut bahuku, membuatku bergidik tanpa sebab. "Itu secara teori, Rukia. Anak kecil juga tahu hal itu," katanya penuh percaya diri. Ralat. Terlalu percaya diri, hingga membuatku hampir meninju wajah bodohnya itu. "Kemarilah."
Kedua tangannya menjangkau tubuhku dan mengangkatku dengan begitu mudah. Napasku tercekat kaget begitu dia mendudukkanku di atas pahanya dan memelukku ringan. "Tu…tunggu Ichigo!"
"Begini lebih hangat, bukan?" tanyanya dengan memberikan wajah polosnya itu, menatap tanpa merasa bersalah. Menyebalkan. "Perapian tidak bisa langsung menghangatkan tubuhmu yang hampir membeku ini. Lagipula, ini sebagai tanda permintaan maaf dariku."
"Haruskah?" Seperti ini?!
"Hah?"
Aku hanya bisa menghela napas sesaat, menghadapi Ichigo bukanlah hal yang mudah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak semudah membuat boneka salju di malam bersalju. Sungguh menyebalkan. "Terserah kau saja," ucapku pasrah dan membenamkan wajahku ke bahunya, mencari kehangatan di sana. Dan, memang hangat. Tercium wangi citrus bercampur kayu manis dari tubuhnya—lebih seperti wangi alam yang hangat. Aku suka dan membuatku merasa nyaman.
Suara derak kayu terbakar mengisi kekosongan ruangan yang terasa hening, sesekali diikuti oleh irama jam yang berdetak pelan. Kurasakan dada Ichigo yang naik turun seirama, menarik napas perlahan secara normal. Dan suara-suara itu membuat mataku terasa berat karena terlalu nyaman, mengantarkanku pada tidur yang sebentar lagi akan membelaiku lembut. Dalam dekapan hangat ini. Sudah lama tidak kurasakan lagi perasaan seperti ini, didekap begitu hangat oleh orang terdekat. Hisana nee-san. Aku merindukannya, sangat rindu akan kehangatan pelukannya dan kata-kata manisnya di saat badai besar menerjang di luar jendela rumah di tengah malam—membangunkanku sepenuhnya dari tidur lelapku. Masa kecilku. Tapi, ini terasa berbeda. Pelukan yang membuat jantung berdebar cepat, namun kembali stabil karena rasa amannya. Sesuatu yang terasa…benar. Aneh. Sebuah hal yang tidak kusukai, namun disukai secara bersamaan. Sesuatu yang bisa kuwakilkan dengan tersenyum miris karenanya.
"Kau hangat," gumam Ichigo samar-samar, menahan mataku untuk terpejam sepenuhnya. Sesuatu yang lembut menyentuh dahiku, hangat. Aku pernah merasakan hal ini sebelumnya. Apa mungkin dia—
"Aih aih… apa yang kaulakukan di saat Kuchiki-san sedang tertidur? Sungguh manis, Ichigo-kun!" bisik seseorang yang terdengar lantang di belakangku. Itu membuatku terlonjak dari posisi tidurku dan—buakk!
"Kepalaku," ucapku meringis, merasakan sesuatu sudah menghantam puncak kepalaku dengan keras—kini terasa berdenyut.
Kulirik Ichigo yang menyandarkan kepalanya ke arah bantalan sofa, dengan sebelah tangan memegangi dagunya. "Aghhh! Kau membentur daguku dengan…kepalamu, Rukia!"
Auchh! "Ma...maaf." Berusaha kutahan seringaian kemenanganku, sebelum diketahui oleh Ichigo.
"Apa lagi, Urahara-san?!" teriak Ichigo kesal. Dan, sebelah tangannya masih melingkar di perutku, menahanku untuk beranjak turun dari pangkuannya—membuat wajahku memanas malu. "Bisakah kau tidak selalu…muncul di saat yang…tidak tepat?!"
"Seperti apa maksudmu, Ichigo-kun?" tanya Urahara-san yang memamerkan gigi putihnya dengan sebuah senyuman lebar. "Di saat kau memeluk Kuchiki-san, atau menyerangnya? Ah…atau mungkin saat kau mencium—"
"Kepalamu akan terpisah dari tubuhmu dalam waktu sepuluh detik," ancam Ichigo kesal, memelototi Urahara-san yang berdiri di belakangnya.
Kedua tangan Urahara-san terbuka di depan dada—sebagai sikap defensif dari ancaman Ichigo. "Ah…baiklah. Aku tidak bermaksud mengganggu kalian berdua, hanya saja—"
"Apa?"
"Ketua memberikan kabar untukmu, Ichigo-kun. Sepertinya ini terdengar penting," jelas Urahara-san. Raut wajahnya sedikit berubah, terlihat lebih serius dari biasanya. Begitu pula dengan Ichigo, yang terasa menegang begitu mendengarkan kabar itu. Sesuatu yang lagi-lagi tidak kumengerti.
"Baiklah," jawab Ichigo sambil mengangkat tubuhku—lagi-lagi dengan begitu mudahnya—dan mendudukkanku kembali di atas sofa. "Kau tunggu di sini, Rukia."
Aku hanya bisa mengangguk pelan dan memperhatikan kepergian Ichigo yang mengikuti Urahara-san, menuju tempat kerja pria pirang-hijau itu. Kembali lagi rasa itu meliputi diriku, seperti diasingkan dan dianggap sebagai sesuatu. Bukan seseorang.
(..)
"Kemasi barangmu, Rukia," ucap Ichigo datar. Hanya perintah itu yang diberikannya padaku, sambil meraih tanganku dan menarikku untuk mengikutinya dalam hening. Kurasakan rasa tegang dan keanehan dari dirinya. Terlalu kaku. Ya, kembali kaku seperti dulu, sesuatu yang tidak kusukai dari dirinya. Seperti robot yang diberi perintah oleh tuannya.
"Mengapa kau selalu seperti ini?" tanyaku miris, berusaha menepis tangannya, namun tidak bisa. Ichigo berhenti sejenak, tepat di depan kamarku sekarang—kamar sementaraku.
Dia menengok ke arahku, menatap tanpa menunjukkan ekspresi apapun. "Apa maksudmu?"
Kueratkan telapak tanganku, berusaha mengusir amarahku menjauh. "Ya, seperti ini. Kau lagi-lagi bersikap kaku di depanku. Perintah apa lagi yang kaudapatkan? Kembali ke Jepang? Atau mungkin kembali melarikan diri dari orang-orang yang mengincarku?"
"Kau tidak perlu tahu akan hal itu, Rukia. Ini adalah sesuatu yang—"
"Sesuatu yang tidak perlu aku tahu karena ini belum saatnya aku tahu, bukan? Itu yang selalu kau katakan padaku, Ichigo. Bisakah, setidaknya kau mengatakan maksud dari pelarian ini? Sedikit saja?" tanyaku frustasi. Sesuatu yang berharga bagiku telah diambil oleh mereka—baik SSF maupun orang-orang yang mengejarku. Dan sekarang Ichigo—seseprang yang mulai bisa kupercayai sepenuhnya— tidak mau mengatakan apapun padaku, sepatah katapun. Selain Aizen di balik semua ini, yang sebenarnya aku tidak tahu siapa dia. Apa hubungannya denganku? Apa maksudnya untuk mengincarku hingga sejauh ini?
"Tidak bisa, Rukia. Yang menjadi prioritas utama sekarang ini adalah dirimu, yang harus dilindungi dari tangan Aizen. Dia berbahaya dan kami tidak bisa berbuat banyak bila kau sampai tertangkap."
"Aku bukan sesuatu yang bisa kalian bawa kemanapun kalian mau. Aku bukan barang!" teriakku keras, lepas emosi. Kututup mulutku dengan kedua tanganku, terkejut dengan kata-kataku sendiri. Aku tidak bermaksud untuk membentak Ichigo dan…membuatnya kembali kecewa padaku—menatapku dengan tatapan miris.
Sebelah tangannya meninju tembok di belakangku, tepat di sebelah wajahku. Aku bergidik kaget, hampir saja berteriak lagi karenanya. Tatapan Ichigo berubah tajam, dengan warna hazel hangatnya yang berubah lebih terang. Aku takut. "Aku sama sekali tidak menganggapmu sebagai barang, Rukia! Setidaknya, aku berusaha melindungimu agar tidak tersentuh oleh tangan-tangan kotor itu! Kau sesuatu yang berharga untukku, tidakkah kau mengerti hal itu, hah?!"
Aku hanya bisa terdiam di tempat, mengamati mata Ichigo yang tidak kunjung lepas menatapku marah, bercampur sedih. Ah, lagi-lagi aku menyakitinya. Secara mental. Tanganku bergetar hebat di depan mulutku, berusaha kutahan untuk tidak terlihat goyah di depannya. Air mata di mataku terasa berat, hampir menetes turun. Kupejamkan mataku sekuat mungkin dan menunduk dalam, berusaha menghalau hal itu.
Kurasakan tangan Ichigo yang tertarik mundur dari sebelah wajahku, dan dirinya melangkah pergi meninggalkanku. Sendirian. Di lorong yang terasa semakin hening ini. Kulangkahkan kakiku yang terasa lemas menuju pintu kamarku, memutar kenopnya perlahan. Aku langsung jatuh terduduk di lantai, begitu menutup pintuku rapat-rapat—menghalau udara luar untuk menyampaikan isakanku yang terasa mengiris hati. Terlalu sakit untuk di dengar. Aku hanya ingin dia memelukku lagi seperti tadi, menenangkanku dalam kehangatan tubuhnya. Bukan seperti ini, menyakiti satu sama lain tanpa alasan yang jelas. Sesuatu yang mengikis perlahan hingga ke relung hati—seperti ombak pada batu karang.
Beberapa menit kuhabiskan terduduk di lantai, bersender pada pintu. Menyadari tindakanku ini hanya menghabiskan waktu—sebelum Ichigo mendobrak masuk kemari—aku memutuskan untuk berdiri dan berjalan gontai menuju lemari pakaian. Kukeluarkan tas koperku dan mulai mengemasi barang-barangku. Pakaian. Dompet. Passport. Kebutuhan pribadi. Baju hangat. Segala sesuatu yang harus menjadi kebiasaanku mulai saat ini. Ya, membereskan barang dan mengemasinya lagi kemudian sudah memasuki rutinitas harianku. Dan terasa berat.
(..)
"Baiklah, ini tiket perjalanan kalian," ucap Urahara-san sambil menyodorkan sebuah amplop pada Ichigo. "Sudah kupesan beberapa menit yang lalu melalui internet."
"Terima kasih, Urahara-san," balas Ichigo datar dan memasukkan amplop itu pada saku jaketnya. Aku hanya bisa mendesah pasrah dan menggenggam ujung shawl ku erat-erat.
"Yo! Kalian sudah mau pergi?" tanya suara yang terdengar khas di telingaku. Yoruichi-san baru memasuki pintu depan yang sudah terbuka lebar untuk kami.
"Yoruichi-san," panggil Ichigo, terdengar rasa rindu pada suaranya. "Ya, kami akan segera pergi. Maaf tidak mengabarimu sebelumnya, ini keputusan mendadak."
Yoruichi-san hanya tersenyum lebar sambil menepuk pundak Ichigo ringan. Lalu mata kami bertemu secara tak sengaja, membuatku harus memberikan senyuman simpul padanya. Suasana hatiku tidak mendukung sama sekali.
"Kuchiki? Apa yang terjadi pada matamu?" tanya Yoruichi-san tiba-tiba dan meraih pipiku dengan kedua tangannya. Dengan panik aku menggelengkan kepalaku dan menunduk malu. Mata bengkakku tetap tidak bisa kusembunyikan. "Apa yang kau lakukan padanya, Ichigo?"
Ichigo tidak menjawab, hanya terdiam di sana dan membuat suasana di sini semakin terasa hening. Aku hanya bisa menunduk kesal. Kesal pada diriku yang lemah dan kesal pada Ichigo yang selalu bersikap kaku bila tugas sudah menyambutnya di depan mata.
Tiba-tiba suara rintihan Ichigo terdengar, membuatku mengangkat wajahku dan segera melihatnya. Yoruichi-san sepertinya melakukan sesuatu padanya. "Yoruichi-san! Apa-apaan kau ini? Kau benar-benar serius memukul lenganku?"
"Itu karena kau sudah menyakiti perasaan perempuan, bocah! Pernahkah aku mengajarimu tentang hal itu?" Yoruichi-san membentak Ichigo, terlihat marah. Menakutkan.
"Baiklah baiklah! Kita sudahi acara perpisahannya sampai di sini!" ucap Urahara-san, terlihat gigih untuk mencairkan suasana. Senyum khasnya masih menghiasi wajah pucatnya. "Ayo kita segera berangkat, sebelum kereta meninggalkan stasiun 30 menit lagi!"
"Bisakah kau tidak memotong pembicaraanku seenaknya, Kisuke?" Sekarang Yoruichi-san lah yang memarahi Urahara-san, sungguh tragis.
Tiba-tiba Ichigo meraih sebelah tanganku dan menarikku untuk berjalan menyamai langkahnya. Tubuhku membentur tubuhnya, yang segera kuhindari untuk tidak melakukan kontak fisik itu terlalu lama—selain tangan kami yang bertaut canggung. Salju mulai turun menyentuh wajahku, terasa dingin. Mungkin ini akan menumpuk tebal malam ini, dimana aku tidak ada lagi di sini. Suasana yang akan segera kurindukan.
"Ichigo! Aku belum selesai bicara denganmu!" teriak Yoruichi-san lantang dari belakang, yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Ichigo.
"Kau yakin tidak mau berbicara dengannya?" tanya Urahara-san di belakang kami, berjalan menyusul dengan cepat. Kunci mobil tersampir di sebelah tangannya. "Kau akan merindukannya."
Ichigo hanya menatap sinis Urahara-san, sebelum membukakan pintu mobil untukku dan kembali menutupnya dalam diam setelah aku masuk. Setidaknya, aku merasa hangat di dalam mobil ini.
(..)
Suara deru kereta kembali terdengar merdu. Sudah cukup lama aku tidak merasakannya, terduduk diam di dalam kereta sekarang ini. Hanya memandang pemandangan di luar jendela dengan tatapan bosan. Ini lebih baik daripada harus menatap Ichigo di depanku. Kusenderkan kepalaku pada dinding kereta, kembali merenungi nasibku saat ini. Kereta mulai berjalan maju, sesuatu yang kubutuhkan saat ini. Namun, ini tidak membawaku maju ke depan—mengikuti deru mesinnya yang bergetar berirama—untuk sesuatu yang mengganjal di dadaku saat ini, dalam pikiranku. Hal itu seakan menarikku ke belakang dengan cepat, menahanku di tempat sementara orang-orang bisa berjalan dengan mudah ke depan. Menyongsong masa depan mereka yang terlihat menyilaukan.
"Rukia," panggil Ichigo, yang hampir membuatku terlonjak kaget. Aku berusaha untuk tetap menatap ke luar jendela dan menghindarinya sebisa mungkin.
"Rukia." Kali ini terdengar lebih lembut, dan tulus. Namun, itu masih belum cukup untuk mengobati kekesalanku. Walaupun, dia juga tidak berhak merasakan rasa sakit itu.
"Aku seharusnya tidak membentakmu tadi," lanjutnya, tanpa menghiraukan tatapanku yang tidak jatuh padanya. "Maaf."
Perlahan aku mulai menatap dirinya, walaupun enggan kulakukan. Kudapati mata tajamnya itu berubah lembut, terasa hangat dan perih. Ada kepedihan di sana, sesuatu yang menyesakkan dadaku seketika. "Seharusnya aku tidak mengatakan hal seperti itu padamu, hingga membuatmu mena—maksudku, sedih."
Terbentuk lagi kecanggungan baru di antara kami, sementara aku hanya bisa terdiam. Hilang kata-kata. Ichigo terdengar tulus mengatakannya, bukan sepertiku yang terus mempermasalahkan hidupku, dimana sudah sepenuhnya berubah. Juga menyalahkan dirinya. Selama ini dialah yang melindungiku dari orang-orang itu—yang selalu mengarahkan peluru padaku. Bila tidak ada dia di sampingku, mungkin peluru itu sudah menembus kepalaku.
"Kau tidak perlu mengatakan itu padaku…Ichigo," ucapku kikuk.
"Ya, aku tidak bermaksud menyakitimu dengan mengatakan kata-kata yang mengintimidasimu—"
"Bukan. Maksudku…'maaf' mu itu."
Ichigo terdiam menatapku, berusaha untuk mengerti apa yang kukatakan. Sesulit itukah untuk dimengerti? "Aku yang seharusnya…meminta maaf," lanjutku.
"Rukia—"
"Aku terlalu bodoh karena pemikiranku sendiri. Tidak seharusnya aku membentakmu dan mengatakan bahwa…kau tidak berarti apa-apa untukku. Kau sama sekali tidak membuat hidupku seperti ini, Ichigo. Malah sebaliknya, kau lah yang menyelamatkan hidupku. Bila tidak ada dirimu, aku tidak mungkin bisa bernapas dan berjalan dengan kedua kakiku saat ini. Tidak akan bisa…mengetahui masa laluku…bersamamu." Lagi-lagi air mata berusaha menghambat kata-kataku. "Aku meremehkan tugasmu. Dan…aku melupakan janjimu padaku…untuk melindungiku seterusnya. Maaf Ichigo, maaf karena aku—"
"Kemarilah," ucap Ichigo lembut, merentangkan tangannya untukku. Lagi-lagi sebuah kata seperti menyihirku, membuat seluruh tubuhku luluh karenanya. Tanpa pikir panjang kuraih tangan itu dan memeluk tubuh Ichigo sekuat yang aku bisa. Kembali ke dalam pelukan hangatnya, sesuatu yang menjadi kerinduanku saat ini. Rasa aman yang kubutuhkan. "Kau hangat."
Aku tersenyum begitu mendengar kata-kata itu. "Kau sudah mengatakan hal itu sebelumnya, Ichigo."
Ichigo terdiam sesaat, membuatku kembali merasa canggung. Kulirik wajahnya yang sedikit ternganga, menatapku bingung. "Kau…tahu?"
"Hmm? Ya, tentu saja."
"Kau tidak…tidur saat itu?" tanyanya lagi, sedikit ragu.
"Hampir, sebelum kau mengatakan hal itu dan Urahara-san berbisik begitu keras."
Ichigo mengendurkan pelukannya dari pinggangku, dan melotot tidak percaya. "Jadi…kau tahu aku..me…aku—"
"Apa?" kuulang lagi memori itu, beberapa jam yang lalu di pagi hari. Aku mengingatnya, sesuatu menyentuh keningku lembut. Yang mungkin adalah, "Kau menciumku?"
Spontan Ichigo menutup wajahnya dengan sebelah tangan, menyembunyikannya dariku. Semburat merah terlihat di pipinya sekilas, hingga membuat telinganya ikut memerah. Ini sungguh lucu, belum pernah aku melihatnya malu seperti ini. Senyum lebar di wajahku menggantikan rasa debaran di jantungku.
"Jadi kau tahu, ya?" bisik Ichigo, terdengar seperti penyesalan baginya. "Aku tidak bermaksud…"
Aku hanya bisa tertawa kecil melihat reaksinya itu dan membenamkan wajahku pada bahunya. Reaksi yang tidak terduga, hampir membuatku mati karena tawa. "Kau…sungguh terlihat…bodoh! Padahal kau sudah pernah menciumku sebelumnya, tepat di kening."
"Itu berbeda!"
"Eh?" tanyaku bingung, membuat Ichigo kembali bungkam seribu kata di depanku. "Apa maksudmu?"
(..)
"Switzerland."
"Hah?"
"Perlukah aku mengulangnya lagi, Rukia?" tanya Ichigo, sedikit kesal dengan tanggapan bodohku. Kami kembali berjalan di dalam bandara Moskow, Russia, yang tentunya selalu ramai dikunjungi orang banyak. Apa sebagian dari mereka juga akan mengunjungi Switzerland?
"Tidak…hanya saja…wow!" ucapku tidak percaya. Bisa pergi ke negara memukau seperti Switzerland merupakan suatu kesempatan yang luar biasa. Di samping pengejaran anehku saat ini, yang sedikit menghambat namun juga menguntungkan.
Ichigo menautkan alisnya bingung, sambil tersenyum miris melihat reaksiku. Sungguh menyebalkan. "Apa?"
"Kau terlihat seperti anak kecil yang baru menemukan permen di bawah meja," ucapnya santai, setengah mengejek. Ichigo kembali mengambil langkahnya pergi, sambil menggenggam tanganku erat—protektif. Aku hanya bisa mengkerutkan alisku kesal, dan mengurungkan niatku untuk menendang kakinya—setidaknya untuk saat ini hingga tiba di Swiss.
"Kau menyebalkan."
"Aha," jawab Ichigo datar, terdengar tidak tertarik. "Terima kasih, aku sudah sering mendengarnya."
"Apa kita akan mengunjungi kastil Château de Chillon?" tanyaku penuh harap. Setidaknya kami bisa melewati daerah itu dan memandang kastil tua itu dari luar. Itu sudah cukup bagiku.
"Kita tidak sedang berpiknik, Rukia," balas Ichigo, sedikit ada tanda penyesalan di sana.
Aku hanya bisa menunduk lemas, sedikit kecewa dengan jawaban yang diberikannya. Yang bisa kulakukan sepanjang hari hanyalah duduk di sebuah rumah persembunyian, tanpa bisa mengunjungi daerah sekitar. Tentunya tidak bisa keluar tanpa pengawasan dari Ichigo. Dan kali kesempatanku untuk melihat-lihat negara indah Switzerland, hampir hilang di depan mata.
Sebelah tangan Ichigo mengelus kepalaku lembut, yang sedikit membuatku bergidik kaget. Tapi tidak menyurutkan rasa kecewaku. "Mungkin…kita akan lewat sebentar, bila ada waktu untuk mengunjungi daerah itu."
"Benarkah?" tanyaku penuh harap, mendongak untuk menatap wajahnya.
"Asal kau berjanji satu hal padaku," lanjutnya, dengan kedua tangan bersandar pada kedua bahuku. Matanya menatapku tajam, memiliki maksud yang tidak kumengerti. "Apapun yang terjadi, kau harus tetap percaya padaku, Rukia. Dan jangan pernah pergi dari sisiku, kau mengerti?"
Mendengar penuturannya tersebut seperti dalam sebuah drama berseri yang sering kutonton di televisi. Hanya saja ini bukan romansa, tetapi lebih kepada sebuah kepercayaan yang sedikit ambigu. "Hmm," balasku yang disertai anggukan. "Aku mengerti."
Sebuah senyum menghiasi wajahku, menatap yakin Ichigo yang masih terdiam di tempat. Entah mengapa dia sedikit ragu dengan diriku, semakin mengeratkan tangannya yang mengkait dengan tanganku. Mungkin, aku tidak perlu terlalu khawatir dengan hal itu, selama dia masih berusaha untuk melindungiku. Berusaha meyakinkanku untuk dirinya.
~*~(to be continued…)~*~
(..)
(..)
(..)
Author's note:
Dictionary's here:
(1) moya lyubov: arti dalam bahasa Inggris adalah my love.
Wheels within wheels: idiomatic expression yang berarti sebuah proses, motif, dan sebagainya yang saling berhubungan secara kompleks, dan sulit untuk dimengerti.
Château de Chillon adalah sebuah kastil tua yang terkenal di Veytaux, Switzerland. Terletak di tepi danau Geneva. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat melalui google. ^^
Scene 11's cut! Oce, salah satu scene yang sedikit sulit untuk kutulis, karena penjelasan setiap karakter berbeda, sekaligus terlibat perdebatan (lagi). ^^ Semoga kalian menyukai chapter ini dan masih mau terus membaca fic ini!
Hmmm….don't know what to say.. tentang penjelasan perasaan Ichigo ke Rukia, kalian bisa tebak sendiri untuk saat ini..thehehe.. aku belum bisa menjelaskan lebih lanjut, apakah hubungan mereka sudah berkembang pesat? Apakah Ichigo sudah mempunyai perasaan pada Rukia? Just wait for another chapter guys! Tapi yang pasti, chapter berikut ada sebuah kenyataan besar yang harus dihadapi oleh Rukia. Hal yang menjadi point utama dari fic ini. Fufufufufu~
Terima kasih banyak untuk para readers yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca fic ini! Yeaaay~ Juga bagi yang baru membaca pertama kali, salam kenal! Dan…bagi para reviewers yang selalu memberi masukan berupa pesan, kesan, kritik, dan saran, terima kasih banyak! XD Juga yang sudah me-fave ataupun me-follow fic ini! Arigatou gozaimasu! Love u all~ *bighug!
Bagi yang memiliki pertanyaan ataupun mau memberi pesan, kesan, kritik, silahkan melalui review ataupun PM ^^~ I'll be waiting…
Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:
ichigo: Hai, makasih udah review ya! Gapapa kok, santai aja…hhihihihi ak juga baru bisa bales n update sekarang TAT…. Kamu udah sempetin review, aku udah seneng kok ^^b wkwkwkwk malah jadi bingung.. Oke deh! Makasih semangatnya ya! Semoga kamu suka dengan chapter ini…hhihihi
life's really hard: Hai! Makasih udah review lagi ya…XDb Eh? Bingung? Hoo…sepertinya itu ada kata2 yang hilang ya (?) yang "yg pasti ini…" ga ada lanjutannya lagi..hihihi atau memang segitu? XD Ini aku dah update, semoga kamu suka ya! ^^
Nematoda: Halo, makasih udah review lagi! XDb Eh, hontou desuka? Hihihih…makasih banyak Nematoda-san! ^^Makasih juga semangatnya! Akan terus aku pertahankan ke depannya~ hehee..
Ini balasan untuk yang tidak log-in ataupun anonymous reviewer untuk fic one-shot ku, "Rain as Cold as Ice" karena bingung mau balas dimana..hhhihihi semoga reviewer membaca balasanku di sini… Oce, thank you for:
Ryoma Ryan: Makasih sudah review ya Ryoma-san! Wah, beneran? Berasa jadi flashback ya XDb Semoga ficku bisa menjadi sebuah fic yang menghibur (comfort), dan tidak membawa kesedihan dari masa lalumu (hurt)..hehehe ^^
Thanks for my playlist (jika mau mendengarkan selama membaca fic ini ^^;) :
Tim Mcgraw feat Taylor Swift and Keith Urban: Highway don't Care
Carrie Underwood: See You Again
Gabrielle Aplin: The Power of Love, Home
Daughtry: Home
Labrinth feat Emeli Sande: Beneath Your Beautiful
Seal: Kiss from a Rose
The Lumineers: Stubborn Love
Lifehouse feat Natasha Bedingfield: Between the Raindrops
Lady Antebellum: Just a Kiss
Of course these songs not belong to me! XD
