Chapter 12 : Ideology

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa, Minna-san! Ohisashiburi ne~~
O genkidesuka, Minna?

Halo semuanya, sekarang kan masih tanggal 18, masih bisa santai. Saya kayaknya minggu depan gak bisa update beneran, soalnya acaranya udah deket, pending seminggu gak apa kan? Andai saya bisa update, palingan updatenya minggu malem, tapi jangan berharap banyak ya ^^

Chapter ini banyak mengulas soal masa lalu, saya bakal berusaha biar pembacanya gak bingung. ^^

A Fantasy Fict from me

~Heart and Soul~

Main pair : Kagamine Len & Kagamine Rin, maybe a little bit of slight pair and crack pair content

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator

Special thanks to : Square-Enix and Tecmo

Summary :

"Aku melihat dunia baru, sebuah masa depan yang baru. Aku masuk ke dalam dunia ini hanya untuk satu hal, sebuah kenangan, sebuah kenangan yang pernah aku buang, aku akan mengembalikannya walau aku akan menjadi abu sekalipun."

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.

'Abc' (italic) : Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutip satu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

HAPPY READING & RELEASE YOUR MIND!

Chapter 12 : Ideology


XOXOX


Len berlari kencang menuju ruang kesehatan, murid lain yang melihat Len langsung menghindar dari jalur Len. Mereka tahu, jika Len sudah mengeluarkan wajah serius, tidak boleh ada yang mengganggunya.

Sesampainya di ruang kesehatan, Len tidak melihat satu orangpun di sana. Len merebahkan tubuh Rin di kasur dan meninggalkannya, mencari orang yang mungkin bisa membantu Rin.

"Bagaimana ini?! Kenapa kejadiannya bisa sama seperti di dalam game?!" Len berteriak kesal sambil berlari mencari orang.

Len bingung, dia tidak mengerti kenapa Rin bisa tidak sadarkan diri secara tiba-tiba. Len terus bersumpah serapah sambil berlari, ketika dia tidak melihat arah larinya, ia menabrak seseorang di sana.

BUKK!

"Aduh!" Ucap orang yang ditabrak Len.

Saat Len melihat siapa yang dia tabrak, ia melihat Ring di sana. Semua teman Len mengikuti klub, sedangkan Len dan Rin tidak, hanya Ring di hadapannya sekarang ini yang bisa ia mintai tolong.

"Ring! Tolong, tolong Rin! Aku… Aku tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba dia pingsan! Aku… Aku…" Ucap Len sambil terisak memegang telapak tangan Ring.

"Tenanglah, ceritakan padaku apa yang terjadi." Ucap Ring sambil tersenyum, tapi anehnya, Len melihat ada yang ganjal dengan senyuman Ring.

.

.

.

Mereka sampai di ruang kesehatan, Ring langsung berinisiatif memegang urat nadi Rin. Len bisa bernafas lega saat tahu pernafasan dan alur urat nadi Rin berjalan normal lagi.

"Dia kenapa?" Tanya Len.

"Entah, aku juga tidak mengerti, sepertinya dia tidur, tapi apapun yang aku coba lakukan, dia tidak merespon." Ucap Ring.

Saat itulah, ada orang lain yang masuk ke ruang kesehatan, Cul-sensei datang setelah mendengar kabar Len berlarian mengelilingi sekolah dengan perangai panik. Cul menyuruh Len dan Ring diam dan menunggu di luar, mereka hanya bisa mengikutinya sembari menunggu hasil pemeriksaan dari Cul.

"Hei…" Ucap Ring memulai pembicaraan.

"Kau tahu kan? Aku ini anak yatim piatu?" Ucap Ring selanjutnya.

Len sempat berfikir maksud perkataan Ring, tapi dia tidak menjawab dan terus mendengarkan perkataan Ring.

"Aku memiliki impian, untuk orang-orang yang sama sepertiku, impian untuk menua dan mati dengan normal. Aku bahkan tidak ingat berapa umurku sekarang…" Ucap Ring dengan suasana hening.

"Jangan bercanda, aku tahu kau seumuran dengan kami, jangan bergurau." Jawab Len sambil merasa dipermainkan.

"Kau pernah dengar Highlander Syndrome? Dimana tubuh orang yang mengidapnya tidak mengalami kematian sel. Sel mu akan terus membelah sambil tidak pernah mati, membuat inangnya awet muda secara fisik… Tapi tidak secara mental…" Ucap Ring kemudian.

Len berpikir, 'kemana arah pembicaraan ini?'

"Kau… Kau mengidap penyakit seperti itu?" Tanya Len setelah dia paham arah pembicaraan ini.

"Kau tidak akan tahu rasanya menua, kau akan selalu ditinggalkan orang yang kau sayangi satu persatu di sekitarmu, meninggalkanmu menuju kematian sedangkan dirimu tidak akan mati secara normal. Aku sudah bosan, aku sudah hidup entah dari kapan, aku lupa kapan tahun lahirku, yang aku ingat, hanyalah tanggal dan bulannya… Bahkan akau tidak mau mengingat berapa lama aku sudah hidup…" Jawab Ring.

Suasana semakin hening, Len merasa ada yang salah dengan Ring. Kenapa dia tiba-tiba membicarakan hal seperti itu pada Len?

"Len! Kagamine Len!" Len terkejut mendengar namanya dipanggil tiba-tiba, Len menoleh ke arah pintu ruang kesehatan dan melihat gurunya di sana.

"Kagamine, kau bisa temani Rin hingga dia siuman. Mungkin dia hanya lelah, tidak ada yang salah dengan tubuhnya, paling tidak untuk saat ini." Ucap Cul-sensei.

Len mengangguk dan masuk ke ruang kesehatan, Ring yang melihat Len pergi, beranjak dari tempat duduknya.

"Len, terimakasih sudah mendengar ceritaku." Ucap Ring.

"Ah.. Terimakasih juga sudah menolong aku dan Rin tadi." Jawab Len.

Ring pergi dalam diam, Len mengangkat tangannya, ingin berbicara lagi pada Ring, tapi sayang Ring sudah pergi jauh. Len menghela nafasnya dengan berat, dan beranjak masuk ke dalam ruang kesehatan.

Len menunggu Rin hingga siuman, dia menggenggam tangan Rin dengan erat, mencoba membawa kehangatan bagi Rin, hingga akhirnya Len terlelap dalam tidurnya.


XOXOX


'Aku dimana?'

'Apa aku sedang bermimpi?'

Len berjalan di sebuah hamparan kosong, di dalamnya hanya ada kegelapan yang makin gelap seiring dia berjalan.

Len mengadahkan kepalanya, sejenak, dia melihat cahaya dari atas kepalanya. Len mencoba menggapai cahaya itu dengan tangannya, cahaya itu makin silau, makin membuat mata Len harus menutup karena sinarnya.

Setelah membuka mata, Len tiba disebuah ruangan yang tidak asing baginya, darah dimana-mana, dia melihat orang-orang bergeletakan tanpa tangan, tanpa kaki, tanpa kepala… Len tidak mau melihat kejadian ini, tapi dia terus berjalan ke depan, untuk melihat hal yang seharusnya sudah dia ketahui.

…. Dimana orang tuanya mati dengan sadisnya ditangannya sendiri, di tangan dirinya yang saat itu masih anak kecil berumur 7 tahun memegang pisau penuh darah ditangannya…

.

.

.

"AARGHHH!"

Len bangun dengan teriakan kencang, nafasnya terengah-engah, pupil matanya mengecil, keringat berlomba menuruni pelipis hinggga dagunya.

"Len?! Kau tidak apa-apa?!"

Len melihat di hadapannya ada Rin yang sudah terbangun, Rin masih memegang tangan Len dengan kuat, mencoba menenangkan Len.

Len mengedipkan matanya berkali-kali, merasa dirinya sudah baikan, Len kembali mengehela panjang nafasnya, berusaha untuk mengatur pernafasannya.

"Ya… Aku tidak apa-apa, hanya mimpi buruk."

Suasana mendadak hening, hingga Rin memulai pembicaraan.

"Mimpi buruk… Seperti apa?"

Len terkejut mendangat pertanyaan Rin. Ia melepas genggaman Rin dan membelakangi Rin.

"Aku yakin, kau tidak mau dengar." Jawab Len.

Rin tiba-tiba memeluk Len dari belakang, Len terkejut dengan pelukan Rin.

"Tidak apa-apa, kita berjanji tidak ada rahasia lagi di antara kita bukan?"

"Aa.." Len membuka mulutnya, kemudian menutupnya lagi, dia harus bisa mengatur emosinya di hadapan Rin.

"Rin… Kau tahu rasanya terjebak di dalam ideologi menjadi seorang pahlawan? Rasa dimana kau ingin menjadi pahlawan untuk banyak orang?"

Rin menggeleng.

"Misalkan kau ada di dalam suatu keadaan, dimana kau memegang nasib dua kapal dengan penumpang masing-masing 200 dan 300 orang. Kedua kapal itu memiliki kerusakan pada mesinnya dan hanya kau yang bisa memperbaikinya, jika kau memperbaiki salah satu kapal, dengan terpaksa kapal lain harus tenggelam. Kau memilih untuk memperbaiki kapal dengab penumpang terbanyak yaitu 300 orang, tapi 200 orang lain menghalangimu dan memaksamu memperbaiki kapal mereka lebih dulu, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Len.

"Aku… Aku akan berusaha sebaik dan semaksimal mungkin agar kedua kapal itu selamat!" Jawab Rin optimis, Len tersenyum dengan jawaban Rin, tapi sayangnya jawaban Rin tidak sesuai dengan pikiran Len.

"Kalau kau bertanya apa yang akan ku lakukan, aku… Aku… Aku akan… Membunuh 200 orang itu untuk menyelamatkan jiwa yang lebih banyak…" Jawab Len dengan senyuman sedih.

Len menutup mulutnya, air mata mulai mengalir dari matanya. Rin tidak percaya dengan apa yang yang dikatan Len.

"Aku ingin menjadi pahlawan dari kecil, tapi karena itu juga, aku tidak pernah merasakan kasih sayang. Aku sudah menjadi yatim piatu dari umur 7 tahun, hampir semua keluargaku meninggal saat itu dan hanya aku yang hidup. Anggota keluarga yang lain tidak mau mengakui dan mengasuhku. Aku mulai tinggal dalam keputus asaan hingga akhirnya aku bisa mendapat beasiswa penuh dan bisa hidup dengan normal lagi." Jawab Len.

"Dorongan untuk menjadi pahlawan tidak bisa kuhilangkan dari dalam diriku. Aku terus melakukan hal yang buruk demi kesejahteraan orang yang lebih banyak. Aku hidup di dalam bayang-bayang penghancuran minoritas demi mayoritas yang layak. Aku hanya ingin merasakan rasanya hidup dengan normal, merasakan kasih sayang, mendapatkan teman dengan cara yang normal juga… Pada dasarnya, ideologi pahlawan tidak semenyenangkan namanya. Aku mencoba bersikap berbeda, Aku hanya ingin agar orang-orang di sekitarku tidak khawatir denganku. Saat aku berganti kelas di LoW, itu mengingatkanku dengan masa lalu yang sebenarnya tidak ingin kuingat." Ucap Len lagi dengan senyum miris.

Rin tidak bisa mengatakan apa-apa, dia terdiam. Hingga akhirnya pintu ruang kesehatan terbuka, memperlihatkan Oliver dan yang lain di sana. Mereka semua nampak terengah-engah, kelihatan sekali mereka lari dengan kecepatan penuh.

"Len! Kenapa kau tidak bilang kalau Rin pingsan tiba-tiba!" Oliver datang dengan wajah menyebalkan dan menarik pipi Len.

"Uiya! Myaaf-myaaf!" Jawab Len tidak jelas karena pipinya di tarik-tarik.

"Untung saja bidadari kecilku ini tidak apa-apa! Nyu~~" Meiko langsung melompat sambil mengelus-elus pipi Rin dengan pipinya.

"Jangan mesum di sini!" Yukari berteriak melihat tingkah laku Meiko.

"Maaf-maaf."

Oliver masih menarik-narik pipi Len, hingga Rin tiba-tiba menanyakan sesuatu.

"Len? Miku itu siapa?"

Deg!

Len terkejut. Len tidak penah ingat memberi tahu Rin tentang Miku, Len bingung darimana Rin tahu Miku? Semua orang di sana sepertinya terpancing dengan perkataan Rin, Len tidak bisa mengelak lagi.

"Benar itu Len, sepertinya kau masih ada hubungan dengan Miku benar? Dilihat dari hubunganmu dengan Mikuo." Titah Oliver.

Len makin berkeringat, dia benar-benar tidak bisa mengelak lagi.

"Anu… Aku ada urusan… Jadi sebaiknya aku per-" Grep! Tepat saat Len ingin pergi, Rin menarik kerah Len dengan tatapan 'katakan atau aku akan bocorkan yang kau ceritakan tadi.'

"Sepertinya memang tidak bisa kusembunyikan lagi." Ucap Len.

.

.

.

Mereka semua duduk di lantai ruang kesehatan, kecuali Rin yang duduk di atas ranjang. Semuanya menunggu Len berbicara.

"Dulu, saat LoW masih masa open beta, aku bermain sebagai pemain solo untuk mengetahui seluk beluk gamenya secara detil sebelum closed beta. Saat itulah Miku dan Mikuo mulai mengajakku bermain bersama, kami menjadi tester berkelompok pertama waktu itu ditengah keegoisan para pemain lain yang ingin mengeksplorasi LoW dari masa open beta sendirian. Kalian ingat beberapa waktu lalu, saat semua jaringan internet mati, semua peralatan eletronik tidak ada yang berfungsi dengan benar hingga aliran listrik kacau tidak karuan, peristiwa itu diingati dunia pertama kali dengan network crisis yang pertama, dan itu terjadi pada hari-hari akhir LoW dikabarkan akan menutup open beta menjadi closed beta. Sekian lama aku menyelidiki, banyak rumor berkata ada pengalihan tenaga besar-besaran oleh Sky-scream tapi rumor itu hilang termakan waktu. Saat network crisis, aku, Miku dan Mikuo masih terjebak di dalam LoW, terjebak di sebuah dungeon yang paling dihindari, Izumo Tower." Ucap Len, semuanya masih mendengarkan Len dengan serius.

"Di sana, entah kenapa, terjadi bug besar-besaran, semua monster berkumpul di luarnya dan menghalangi kami pergi dari menara itu, aku, Miku dan Mikuo tidak bisa melakukan apa-apa lagi, pada dasarnya kami ingin membiarkan diri kami mati dan kembali ke katedral, tapi terjadi distorsi yang tidak biasa di tempat itu, dimana semua luka yang kami dapatkan tiba-tiba menjadi nyata dan sangat terasa sakitnya. Yang masih aku ingat adalah saat Mikuo menebas salah satu monster dan darah monster itu bercipratan kemana-mana, membuat Mikuo gemetaran dengan hebat karena seharusnya darahnya akan hilang dalam hitungan detik tapi nyatanya tidak. Kami makin stress, entah kenapa bar HP kami tidak turun lagi, tapi semua luka yang kami dapatkan sangat terasa sakit dan terasa nyata. Akhirnya Miku memutuskan untuk menumbalkan dirinya untuk membuat aku dan Mikou kabur, awalnya Mikuo menolak tapi aku membawanya paksa dari sana. Setelah itu, paginya, Mikuo mendatangi ku dan berkata tidak melihat tubuh kakak nya disampingnya saat dia bangun. Aku dan Mikuo melaporkan hal tersebut ke polisi, tapi sayangnya setelah sebulan pencarian, kasusnya diberhentikan karena ada dugaan Miku telah terbunuh. Aku dan Mikuo tidak bisa percaya tentang apa yang kami dengar, hingga setelahnya Mikuo lama-kelamaan membenciku karena tidak bisa menjaga kakaknya saat di game, Mikuo melimpahkan kesalahan padaku, dia sudah berkata dari awal kalau seharusnya aku dan mereka berdua tidak boleh berteman." Lanjut Len.

"Tapi kenapa Mikuo bisa mendapatkan hipotesis seperti itu?" Tanya Oliver.

"Aku awalnya sangat marah, memang karena hal ini tidak masuk akal, bagaimana orang yang mati di dunia nyata, kematiannya dianggao kesalahanku yang hanya tahu keadaannya dalam game? Sangat tidak mungkin bukan? Tapi setelah beberapa bulan, aku dan Mikuo mendengar tentang proyek besar teleportasi oleh Sky-scream, aku berpikir, mungkin saja Miku berpindah dari game bersama dengan tubuh dunia nyatanya karena dampak proyek teleportasi tersebut, dan nampaknya Mikuo juga berpikiran sama. Aku mencoba melaporkan ke polisi, tapi sayangnya aku dikira orang gila. Mikuo, walaupun ia berpikiran sama, tapi bukannya membantuku membuktikan hal tersebut, dia semakin yakin kalau ini semua adalah salahku. Setelah lama aku mencari, di Battle Royal kemarin, aku dan Mikuo bertemu Miku yang menjadi pemilik Izumo Tower, bahkan dia ingat aku dan Mikuo serta apa yang terjadi di hari itu. Ini membuktikan kalau mungkin saja teoriku benar… Tapi tetap tidak ada pendukung atas teoriku… Teori tentang tubuh serta jiwa Miku yang dipindahkan ke dalam game oleh sesuatu atau seseorang yang aku tidak tahu namanya." Akhirnya Len selesai menceritakan semuanya.

Rin masih tidak terlalu mengerti, tapi satu yang ia paham, Len merasa kalau orang yang ia cari selama ini di dunia nyata ada di dalam game tersebut dan Len berusaha mengembalikannya.

"Aku masih tidak terlalu paham, tapi jika memang benar begitu, ayo kita cari bersama di dalam LoW! Kalau kita cari bersama dan kita bujuk bersama, pasti akan lebih mudah!"

Semuanya terkejut atas perkataan Rin, tapi kemudian Len tertawa keras, dia benar-benar mengerti jalan dari pikiran Rin saat ini.

Len benar-benar mengerti dengan maksud Rin, akhirnya mereka semua setuju untuk masuk lagi ke dalam LoW untuk mencari Miku yang menurut cerita Len berpindah dari dunia nyata, walau belum dengan teori dan penjelasan yang jelas. Len tertawa lagi seperti biasa, tapi dia masih mengkhawatirkan sesuatu, mengkhawatirkan jika sebenarnya Rin itu adalah salah satu 'yang sama' seperti kasus Miku…


XOXOX


Fiuh~~ Selesai juga.

Nanti kalau nantinya fict ini agak 'menyakitkan' jangan salahkan saya XD

Nanti beneran ada death chara, dan saya gak tanggung jawab kalau pada 'gak suka' sama cara matinya XD

Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.

Jaa~~ Matta ne~~ ^^

Best Regards,

Aprian