Disclaimer : This story isn't mine. This story is belongs to Baek Myo, and the characters here is belongs to themselves.

Warning : Misstypes, Update sesuka hati saya.

.

Cast:

Kim Jaejoong as Kim Jaejoong (17 years old)

Jung Yunho as Jung Yunho a.k.a Tuan Muda Ketiga (17 years old)

Shim Changmin as Jung Changmin a.k.a Tuan Muda Kedua (18 years old)

Choi Seunghyun as Jung Seunghyun a.k.a Tuan Muda Pertama (19 years old)

Choi Siwon as Pengawal Pribadi Jaejoong (24 years old)

Kim Junsu as Kim Junsu (17 years old)

Kwon Boa as Kwon Boa (19 years old)

Go Ahra as Go Ahra (17 years old)

Direktur Jung

Ibu tiri

Ayah Jaejoong

Ketika membuka mata, sudah berada di Thailand. Apakah ada yang pernah mengalaminya? Kalau Jaejoong, ia mengalaminya sendiri.

Ketika membuka mata, ia sudah di Thailand

Tempat tidur yang tak dikenal, wangi yang tak dikenal, langit-langit kamar yang tak dikenal, matahari yang tak dikenal, interior kamar yang tak dikenal. Semuanya terasa begitu asing sampai Jaejoong berpikir ia masih belum terbiasa tinggal di Sky House. Tetapi mendadak ia tersadar. Benar, ini bukan Sky House. Ketika ada sesuatu bergerak menyentuhnya, Jaejoong menoleh. Ia melihat wajah mungil dan menggemaskan.

Kenapa… Junsu ada disini? Apakah ini rumah Junsu?

Seandainya ia ke rumah Junsu saat tidur, ini akan sangat berbahaya. Bukankah ada yang membunuh orang gara-gara penyakit tidur berjalan?

Aku tidak melakukan kejahatan, kan?

Ketika sedang mencemaskan hal itu, tiba-tiba Jaejoong menyadari sesuatu.

Ah, benar. Aku kan tidak tahu dimana rumah Junsu.

Tak mungkin ia ke tempat yang tidak diketahuinya. Kalau begitu apa yang terjadi?

"Hm… " Junsu mengerang pelan sambil membuka mata. Matanya pun sangat indah. "Joong-ie."

Junsu memanggil nama Jaejoong dengan manja sambil memeluk erat pinggangnya. Sentuhan yang tidak disangka-sangka. Jaejoong sedikit risih karena belum pernah bersentuhan seperti itu dengan teman.

"Begitu bangun langsung melihat wajah yang begitu cantik. Tinggal denganku saja ya, Joong-ie?"

"Ini… di mana?"

"Hm? Thailand."

"Thailand?"

Ia pasti salah dengar.

"Kau tidur sangat nyenyak. Walaupun dipindahkan ke tempat tidur setelah sampai di Thailand, kau tetap tidak terbangun."

"kau bilang… Thailand?"

"Ya. Coba buka jendela."

Jaejoong membuka gorden sesuai saran Junsu. Melalui jendela besar, ia melihat pemandangan di luar. Ada banyak papan berisi bahasa yang tidak dimengerti Jaejoong. Sudah pasti bukan jalanan di Korea.

Mulut Jaejoong menganga lebar.

"Thailand!"

"Astaga, suaramu kencang sekali." Junsu bangun perlahan-lahan dan berdiri di samping Jaejoong. "Halo, Thailand. Sudah lama tidak berjumpa."

"Thailand! Kenapa ada di Thailand? Kenapa?"

"Kenapa? Hyung mau pergi ke Thailand bersamamu. Jadi selama kau tidur, kami membawamu kesini dengan pesawat."

"Itu tidak mungkin! Kau harus melewati bagian imigrasi… "

"Kan ada uang."

Ketika melihat senyum manis Junsu yang tanpa maksud jahat, Jaejoong hanya bisa mendesah.

"Thailand! Aku tidak percaya."

"Walaupun kau melihat dengan matamu sendiri?"

"Astaga! Aku harus pergi kerja."

"Kerja apaan?" Junsu merangkul lengan Jaejoong. "Memang bekerja keras itu baik. Mengejar impianmu itu juga baik. Tapi kau butuh istirahat."

"Istirahat kan bisa nanti saja."

"Kau harus bersenang-senang saat ini. Bukankah bagus kalau kau membuat kenang-kenangan bersama kami?"

"Benar, tapi… bukankah ini terlalu mendadak?"

"Kau tidak suka?"

"Suka… tentu saja suka. Hanya saja… "

Tiba-tiba terbersit dalam pikirannya.

Seunghyun dan Changmin merencanakan ini semua secara diam-diam tanpa sepengetahuan Jaejoong, dan memindahkannya dengan hati=hati agar tidak terbangun. Wajahnya menjadi merah dan hangat ketika memikirkan tindakan mereka yang manis ini.

"Sampai sekarang tidak ada yang memedulikanku seperti ini."

"He he… kalau begitu bagus, kan?"

"Ya… "

"Ah, kau sangat lucu." Junsu memeluk Jaejoong sambil tersenyum. "Benar-benar seperti kucing."

"Siapa saja yang ke Thailand?" tanya Jaejoong, masih dalam pelukan Junsu.

"Hm… anak-anak klub kami."

"Klub?"

"Ya. Klub jalan-jalan. Belum tahu?"

"Sama sekali tidak."

"Kami jalan-jalan ke seluruh dunia, makan makanan yang lezat, dan mengambil banyak foto."

"Oh… "

Setelah Ahra masuk sekolah ini, ia buru-buru membuat paspor, dan sibuk membawa majalah wisata. Jadi karena ini, ya. Karena Seunghyun tergabung dengan klub jalan-jalan.

Jangan-jangan dia juga anggota klub jalan-jalan? Pikir Jaejoong.

Seakan membaca pikiran Jaejoong, Junsu langsung menjawab. "Oh ya. Kakakmu… namanya Go Ahra, kan? Dia juga anggota klub jalan-jalan."

"Dia juga… ke sini?"

"Ya. Ini pertama kalinya dia ikut. Kau mau kami melindungimu?"

"Tidak, tidak perlu melindungiku. Hanya… " bolehkah aku meminta hal ini? "Kalau dia mengatakan apa pun… bisakah kau tanyakan padaku terlebih dahulu… "

"Jangan khawatir, Joong-ie." Junsu tersenyum dengan anggun. Senyuman yang sangat manis seperti senyuman malaikat. "Apa pun yang dia katakana, aku tidak akan percaya padanya. Tidak perlu bertanya kepadamu. Aku hanya percaya perkataan orang yang kusukai."

"Dia selalu berbohong." Anak-anak yang dekat dengan Ahra selalu yakin ap pun yang dikatakan Jaejoong adalah bohong. Mereka hanya mendengar perkataan Ahra dan berpikir jaejoong "adik yang kurang ajar". Teman yang Jaejoong merasa sudah dekat pun menjauhinya gara-gara itu.

"Kenapa… kau percaya padaku?"

Mendengar pertanyaan Jaejoong itu, Junsu memasang raut wajah "bukankah sudah jelas" sambil berkata, "Aku hanya percaya perkataan orang cantik."

Ketika keluar setelah mandi, Jaejoong melihat Seunghyun sudah menunggunya. Seunghyun yang duduk di kursi meja teh dekat jendela tersenyum lebar, lalu beranjak dan menghampiri Jaejoong.

"Tidurmu nyenyak?"

"Aku sangat kaget. Aku tidak menyangka Hyung membuat rencana seperti ini."

"Ha ha ha… aku orang yang suka kejutan. Bagaimana? Aku sangat menawan, kan?"

"Ya, menawan."

Seunghyun mengambil handuk dari Jaejoong, lalu merangkul bahu laki-laki itu dengan lembut dan membimbingnya ke kursi. Seunghyun berdiri di belakangnya, lalu mulai mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Jaejoong merasa sangat nyaman dengan gerakan Seunghyun yang sangat lembut.

"Lembutnya."

"Ya. Aku laki-laki yang lembut. Jadi jatuh cinta, ya?"

"Dasar."

"Tidak sakit kepala?"

"Tidak."

"Tidak pusing atau mual?"

"Hm… "

Jaejoong memiringkan kepala ke belakang sambil menyipitkan mata. Wajah Seunghyun merona karena tiba-tiba bertemu pandang dengan Jaejoong.

"Kenapa?"

"Kok sepertinya mencurigakan?"

"A… apanya?"

"Pusing atau mual. Sakit kepala. Aku juga berpikir ada yang aneh. Secapek apa pun, aku pasti bisa bangun jika ada yang menyentuhku."

"Hm…"

"Obat… Apakah Hyung memberiku obat?"

"… I… itu…"

Ketika melihat wajah Seunghyun yang kebingungan, Jaejoong tertawa terbahak-bahak.

Dengan ekspresi bersalah, Seunghyun berkata. "Kami hanya… bersamamu…"

"Ya. Aku tahu," kata Jaejoong sambil kembali menegakkan kepala. "Hyung ingin memperlihatkan Thailand kepadaku, kan?"

"Ya."

"Karena sudah pasti aku tidak mau jalan-jalan kesini jika tidak diberi obat."

"Ya."

"Terima kasih, Hyung, karena sudah peduli padaku seperti itu."

"Ha ha ha… tidak perlu berterima kasih."

"Tetapi…! Kalau lain kali memberi obat lagi…"

"Tidak, tidak akan. Sebagai gantinya…"

Seunghyun ragu-ragu sejenak sebelum menunduk dan mengecup ringan puncak kepala Jaejoong. Karena kecupannya sangat ringan, Jaejoong hanya merasa ada sesuatu yang menyentuhnya, tapi tidak menyangka bahwa yang menyentuhnya itu bibir Seunghyun.

"Lain kali kita jalan-jalan lagi ya."

"Ya."

Lain kali… apakah masih ada lain kali?

Meskipun berpikir seperti itu, Jaejoong menjawab.

"Oke… baiklah."

Restoran yang ada di lantai atas di hotel ini dilihat sekilas saja sudah sangat mewah. Ada beberapa orang asing yang terlihat seperti turis kaya dan di tempat dekat jendela yang ditutupi dinding pemisah, ada anak-anak dari klub jalan-jalan. Seperti biasa, Jaejoong mencari Ahra. Tapi gadis itu tidak kelihatan.

Syukurlah. Jaejoong mendesah lega.

"Jangan khawatir. Murid dari kelas bawah tidak bisa ke sini." Celetuk Junsu yang seakan bisa membaca isi hati Jaejoong.

"Oh ya?"

"Ya. Di sini mahal. Uang saku mereka tidak mungkin cukup."

Astaga, sebenarnya harga satu porsi makanan berapa?

Tetapi Jaejoong tidak bertanya. Harganya sudah pasti teramat sangat mahal. Lebih baik tidak perlu tahu jumlah pengeluaran orang-orang kaya. Ada beberapa orang yang belum Jaejoong kenal, tetapi mereka menyalaminya seakan sudah kenal. Ia membalas sapaan mereka dengan riang kemudian duduk di samping Seunghyun. Yunho duduk menyamping sambil menatap ke luar jendela.

"Tidak sakit kepala?" tanya Yunho sambil lalu.

"Ya. Tidak apa-apa."

"Mual?"

"Tidak ada."

"Kau baik-baik saja atau tidak bukan urusanku."

"Kau sendiri yang tanya!"

"Ya sudah. Aku masuk duluan."

Yunho berkata dengan singkat lalu beranjak dari tempat duduknya. Junsu menatap Yunho dengan mata membelalak lebar. Raut wajah laki-laki itu seperti ingin menanyakan sesuatu. Yunho tahu Junsu mau bertanya tentang apa, jadi ia cepat-cepat keluar dari restoran untuk menghindarinya.

Semalam saat di pesawat pribadi menuju Thailand, Seunghyun bertanya. "Aku dengar kau berpacaran dengan Kwon Boa, ya?"

Pasti Boa yang memberitahunya.

Yunho tahu. Boa masih mencintai Seunghyun. Walaupun gadis itu bilang mau berhenti mencintai Seunghyun, sebenarnya dia tidak pernah berniat melakukannya. Bagi Boa, Yunho tidak lebih daripada jembatan untuk mendekati Seunghyun. Yunho sangat menyadari hal itu. Tetapi tidak apa-apa.

Kalau aku bisa membuat Boa tersenyum ceria seperti saat aku masih kecil, aku tidak peduli meskipun aku dimanfaatkan.

"Ya. Kami pacaran." Jawab Yunho tajam.

Seunghyun menatap Yunho serius lalu berkata, "Sebaiknya hentikan saja semua itu."

"Kenapa? Hyung menyesal karena sekarang Nuna pacaran denganku?"

"Sama sekali tidak. Aku hanya..."

"Jangan ikut campur. Aku tidak tahu perasaan Boa Nuna sekarang, tetapi dia pasti akan segera melupakanmu. Cinta seumuran kita kan seperti itu."

"..."

Percakapan mereka sampai di situ saja. Mungkin Junsu mendengar tentang Yunho yang berpacaran dengan Boa. Junsu menatap Yunho dengan khawatir.

Sial. Apa sih yang dikhawatirkannya? Bukankah tidak akan ada masalah?

Toh cintanya bertepuk sebelah tangan. Selama sepuluh tahun, Yunho hanya mengharapkan satu gadis saja, walaupun gadis itu mencintai laki-laki lain. Sekarang, walaupun mereka berpacaran, keadaan Yunho tidak berubah. Rasa sepi dan sedih yang selama ini membayangi hatinya pun masih terus ada.

Yunho mengetuk pintu kamar Boa. Ahra yang berambut basah seperti habis mandi membuka pintu. Wajah Ahra memerah melihat tamu yang tidak disangka-sangka.

"Ah... ah, em... kenapa ke sini...?"

Yunho yang tidak kenal Ahra mengernyit sambil berkata, "Ada Boa Nuna?"

"Ah... ya..."

"Panggil dia."

Jelas-jelas Yunho berkata dengan nada memerintah, tapi Ahra masuk tanpa merasa tersinggung sedikitpun.

Astaga... bagaimana ini? Aku bicara dengan Jung Yunho. Dilihat dari dekat, dia sangat ganteng. Ya ampun!

Boa sedang mengobrol dengan temannya sambil duduk di tempat tidur untuk dua orang. Ahra tidak suka dengan Boa karena gadis ini dekat dengan kakak-beradik Jung, padahal dia juga murid kelas biasa. Tapi apa boleh buat. Yunho sendiri yang datang ke sini dan mencarinya.

"Unnie."

"Ya?"

Dengan rambut sebahunya yang diselipkan ke belakang telinga, Boa mengulas senyum dewasa.

Ah... benar-benar benci, batin Ahra.

"Jung Yunho datang mencari Unnie."

"Oh ya?"

Tuan Muda Ketiga Grup TOHO datang mencarinya, tapi gadis itu malah beranjak dengan santai. Ahra semakin benci padanya.

"Sepertinya mau mengajak kencan." Komentar Ahra sinis.

Tetapi Boa tetap tersenyum. "Ya. Sepertinya begitu."

Begitu Boa keluar, Gyeongmi langsung berlari menghampiri Ahra.

"Apa? Jung Yunho dan Kwon Boa berpacaran?"

"Sepertinya… tapi benarkah? Dia kan selalu mengejar Seunghyun Oppa."

"Tapi Jung Yunho menyukainya. Ya ampun… akhirnya berpindah hati ya."

"Sepertinya begitu. Ah, aku paling benci gadis seperti itu. Suka gonta-ganti. Gadis yang suka dengan laki-laki mana pun."

"Benar. Punya wajah cantik, lalu bisa ke laki-laki ini, ke laki-laki itu. Sejujurnya, walaupun dia bilang suka dengan Seunghyun Oppa, tapi dia malah lebih sering menempel pada Yunho. Dia pasti mau memiliki kedua laki-laki itu."

"Bagaimanapun, ini berarti dia akhirnya lepas dari Seunghyun Oppa."

"Baguslah. Sekarang coba kau lancarkan seranganmu."

"Tapi…" ekspresi Ahra menggelap. "… Di samping Seunghyun kan ada Jaejoong. Aku… agak… takut dengan Jaejoong."

"Ah… tidak mungkin… dia sampai memukulmu, kan?"

"Kau belum tahu. Aku…"

Gyeongmi menatap Ahra yang terlihat mau menangis itu dengan kasihan. Dalam hati, Ahra terseyum.

Yang benar-benar kasihan itu Boa Unnie. Dia sendiri yang mundur. Sekarang hanya tinggal kau, Kim Jaejoong.

"Pulau karang?"

"Ya. Hari ini kita ke pulau karang dan menikmati suasana laut."

Mereka berencana pergi ke pulau karang yang terletak di Pattaya. Pulau karang yang hanya pernah didengarnya. Pulau yang airnya sangat biru. Jaejoong benar-benar ingin ke sana, jadi ia sudah sangat menantikannya. Ia dengar mereka akan ke dermaga dengan mobil Mercedes Benz.

Di depan hotel ada Ahra. Jaejoong yang keluar bersama Junsu bertemu pandang dengan kakak tirinya itu. Ahra menunduk dengan wajah pucat.

"Jae… Jaejoong… kabarmu gimana?"

Siapa saja melihat pasti berpikir Ahra adalah korban yang dianiaya Jaejoong. Ini selalu terjadi.

Ah… mulai lagi… pikir Jaejoong.

"Kau siapa sampai berani bicara sembarangan?"

Ketika mendengar bentakan Junsu yang dingin, Gyeongmi yang sedang menatap Jaejoong dengan benci langsung menganga kaget.

"Kau harus sadar posisimu! Kenapa sembarangan memakai bahasa yang tidak formal?!"

"Ah…" Ahra tidak pernah menyangka akan mendapat tanggapan seperti ini. Kali ini wajahnya benar-benar memucat. Ia pun melangkah mundur.

Changmin menghampiri mereka dan merangkul bahu Jaejoong sambil tersenyum ceria. "Ada apa?"

"Gadis itu memakai bahasa yang tidak sopan kepada temanku. Kurang ajar," tukas Junsu.

"Oh… begitu?" Changmin menatap Ahra.

Dengan ekspresi hampir menangis, Ahra berusaha mencari-cari alasan. "Bu… bukan seperti itu… Jaejoong adalah… adikku…. Walaupun kami bukan saudara kandung, tetap saja… aku khawatir…."

"Oh ya? Kalau bukan saudara kandung, tidak ada yang perlu kaukhawatirkan. Anggap saja adikmu yang bernama Kim Jaejoong tidak ada lagi. Laki-laki yang bernama Kim Jaejoong ini anggota keluarga Sky House. Jangan mengusiknya."

Dengan wajah dihiasi senyum ceria, Changmin melontarkan kata-kata dingin yang menghujam hati. Jaejoong sedikit kaget, sama sekali tidak menyangka Changmin yang selalu seperti anak kecil polos bisa berkata seperti itu. Tetapi ia senang karena Changmin menggunakan kata "keluarga".

"A… ayo kita pergi."

Gyeongmi sepertinya tidak berani membalas tatapan Changmin. Jadi sambil menunduk, Gyeongmi membawa Ahra pergi.

"Tidak apa-apa?" tanya Changmin dengan khawatir.

"Aku bukan gelas kaca. Kalian terlalu melindungiku."

"Kau lebih berharga daripada gelas kaca."

Mereka naik mobil yang berbeda dari kelas biasa. Mobil mereka besar dan sejuk.

Siwon yang sedang menyetir bertanya, "Tuan, perut Tuan tidak apa-apa?"

"Ya. Tidak apa-apa."

"Sakit kepala…"

"Tidak ada. Aku juga tidak merasa pusing."

"Ah…" raut wajah Siwon berubah kaku. "Saya minta maaf karena tidak bisa mencegah hal ini."

"Tidak apa-apa. Ini menyenangkan."

"Baguslah, kalau Tuan memang merasa demikian. Mulai saat ini, saya akan lebih berhati-hati."

Mereka naik kapal dari dermaga dan berlayar di laut biru. Jaejoong merasa senang dengan angin laut asin yang menyentuh pipinya. Sinar matahari yang lembut terpantul di ombak-ombak laut. Pemandangan begitu indah sampai menyilaukan mata.

Sudah lama aku tidak ke laut.

Ketika ibu masih hidup, Jaejoong pernah ke laut satu kali. Jalan-jalan pertama sekaligus terakhir bersama ibunya. Kalau dipikir-pikir, ia tidak mempunyai banyak kenangan bersama ibunya.

"Ternyata tidak begitu banyak kenangan bersama Ibu."

Sepertinya Changmin mendengar gumaman Jaejoong. Changmin yang tadi sibuk mencari burung camar sambil mendongak ke langit, mendadak menoleh ke arahnya.

"Apa?" tanya Changmin.

"Ah…. Tidak."

"Ibumu sudah meninggal, bukan?"

"Ya."

"Tidak ada kenangan bersama ibumu?"

"Ya. Setelah dipikir-pikir aku hanya pernah satu kali berjalan-jalan dengan Ibu. Ibu yang kuingat selalu…"

Dipukul ayah.

Jaejoong tidak sanggup melontarkan kata-kata itu, jadi ia hanya menelan ludah.

"Kalau pulang dari sekolah, apakah ibumu menyambutmu dengan 'selamat datang'?"

Ketika Changmin bertanya dengan riang, Jaejoong tersenyum kecil sambil mengangguk.

"Ya,"

"Kalau berangkat ke sekolah, apakah ibumu bilang 'hati-hati di jalan'?"

"Ya."

"Kalau kau sakit, ibumu juga mencemaskanmu, kan?"

"Betul."

"Semua itu kenangan." Changmin tersenyum lembut. "Kehidupan sehari-hari semuanya juga kenangan."

"Ah… benar juga."

Ibu suka bercanda dan selalu tertawa. Kalau dipikir-pikir, bahkan dalam situasi yang membuat orang tidak ingin tertawa, kenapa ibu selalu bisa tertawa?

"Ibuku… kenapa beliau bisa tertawa setiap hari?"

"Tentu saja. Di depannya kan ada putra yang sangat manis. Aku juga pasti akan tertawa setiap hari."

"Oh ya?"

"Ya. Coba lihat. Sekarang aku melihatmu sambil terus-menerus tertawa."

"Hyung kan hanya asal bicara."

"Aku heran kenapa banyak orang yang bilang begitu. Padahal aku laki-laki yang sangat serius."

"He he."

Changmin menatap Jaejoong. Seakan melupakan Changmin di sampingnya, Jaejoong memandang laut dengan wajah yang dihiasi senyuman. Memang sih bila kedua ujung bibir ditarik sedikit ke atas, itu artinya "senyuman", tetapi…

Kenapa ekspresinya terlihat sedih? Entah kenapa, Changmin merasa Jaejoong sepertinya ingin menangis.

"Kau sedih?"

Karena Changmin bertanya blak-blakan, Jaejoong menatap laki-laki itu dengan mata terbelalak. Seperti mata kucing yang kaget. Matanya bersinar misterius karena pantulan air laut biru yang membuatnya terlihat seperti harta yang sangat berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang.

"Kalau mau menangis, menangis saja di sini." Kata Changmin sambil menepuk dada.

Jaejoong terdiam sesaat menatap Changmin, kemudian tertawa kecil. "Dasar bodoh. Kenapa aku harus menangis?"

Karena laki-laki itu langsung menolaknya, Changmin tidak bisa mengutarakan apa yang ingin dikatakannya.

Kau bertanya kenapa menangis? Kalau sedih ya menangis.

Klub jalan-jalan.

Walaupun klubnya sama, kelas biasa dan kelas khusus tidak pernah melakukan kegiatan bersama-sama. Hanya namanya saja yang sama. Kedua klub itu boleh dianggap klub yang berbeda. Kamar hotel, restoran, bahkan mobil yang dinaiki pun berbeda. Gara-gara Ahra yang pernah bercerita dirinya sudah dekat dengan Seunghyun sejak mereka satu klub, Jaejoong hanya bisa bingung melihat perbedaan yang sangat jauh ini.

"Apakah kelas biasa dan kelas khusus selalu melakukan kegiatan masing-masing?" tanya Jaejoong saat menuju ruang ganti pakaian.

"Tentu saja. Anggarannya kan berbeda."

"Kalau begitu, lebih baik klubnya dibedakan."

"Dulu memang begitu. Kali ini kami menerima kelas biasa gara-gara Boa Nuna. Yunho yang protes."

"Ah… Boa Nuna juga kelas biasa, ya?"

"Kelas biasa memang boleh masuk klub ini, tapi karena kebanyakan tidak cukup uang, mereka tidak akan bertahan lama di klub ini. Kebanyakan murid yang bergabung pun sebenarnya ingin mendekatkan diri pada kakak-beradik keluarga Jung."

Ucapan yang sinis, tapi masuk akal.

"Nah, ini celana renangmu."

Begitu melihat celana yang dikeluarkan Junsu, Jaejoong langsung ternganga. Celana renang pendek, yang sangat pendek dan ketat.

Junsu terus-menerus memaksa Jaeoong mengenakannya. Jaejoong mendesah dan menerima celana renang tersebut. Memang susah menang adu mulut dari Tuan Muda.

.

Junsu tersenyum kecil dan mengamit lengan Jaejoong.

"Ayo keluar untuk pamer."

Air laut yang berwarna safir di pulau karang. Terdengar gemerisik suara ombak yang menghantam pasir. Ada banyak turis yang berkeliaran, tapi di antara mereka ada yang lebih menarik perhatian dibandingkan yang lain.

Seunghyun, Changmin dan Yunho sepertinya sudah terbiasa diperhatikan. Mereka sama sekali tidak peduli, hanya berkumpul di satu tempat dan mengobrol. Seperti biasa, Yunho memasang ekspresi jengkel dan sibuk menyepak-nyepak pasir.

"Hei!"

Junsu melambai, menarik perhatian orang. Begitu Junsu muncul, semua orang langsung memperhatikannya. Jaejoong masih tidak terbiasa menjadi pusat perhatian. Karena itu ia mencoba kabur diam-diam, tapi Junsu tidak pernah melepaskan lengan Jaejoong.

"Ayo ke sini." Seunghyun menolong Jaejoong dalam situasi yang tidak enak itu. Ia merangkul bahu Jaejoong dengan akrab dan menariknya mendekat. "Tubuh pacarku tidak boleh sembarangan diperhatikan pada siapa pun," guraunya.

"Sudah gila ya. Siapa yang mau lihat?" gerutu Yunho.

"Changmin yang mau lihat."

Mendengar Seunghyun bilang seperti itu, Yunho menoleh kea rah Changmin. Da tentu saja, laki-laki itu sedang memandang Jaejoong dengan mata berbinar-binar.

"Hyung tidak punya harga diri?" tukas Yunho.

"Harga diri? Aku ingin lihat, kenapa harus peduli dengan harga diri?" balas Changmin.

Ketika mendengar balasan Changmin yang jujur seperti anak kecil, Yunho hanya menggeleng-geleng tidak mengerti dan berjalan ke arah pantai. Boa yang sedang memperhatikan mereka dari jauh mengikuti Yunho. Boa memakai celana pendek berwarna biru tua yang sederhana bersama kaus tank top, tapi terlihat menawan. Yunho tersenyum manis pada Boa sambil melambai.

"Aku senang karena bisa datang ke pantai," kata Boa sambil menyipitkan mata.

"Tidak takut pada air?"

"Tidak. Mau sewa ban karet dan main-main di air?"

"Boleh juga."

Kedua orang itu berjalan menuju tempat penyewaan ban karet. Bahkan ketika berjalan sambil berpegangan tangan dengan Yunho, Boa masih beberapa kali menoleh ke arah Seunghyun. Sejak sampai di tempat itu, sudah lebih dari sepuluh kali, bukan, setiap detik ia melihat ke arah Seunghyun. Tapi ia tidak pernah bertemu pandang dengan laki-laki itu. Mata Seunghyun yang dulu selalu tertuju pada Boa sambil tersenyum lembut sekarang sudah beralih kepada Jaejoong. Boa tahu cinta mudah berubah. Ia juga tahu orang-orang bisa putus meskipun dulunya cinta mati dengan pasangannya. Namun, ia tidak pernah menyangka Seunghyun berubah begitu saja. Ia selalu yakin mata cokelat Seunghyun akan terus tertuju padanya selamanya.

.

Seunghyun menarik seledang berwarna cokelat yang menutupi tubuh Jaejoong. Selendang tersebut jatuh dan akhirnya bahu bulat dan putih, pinggang yang langsing dan kaki kurusnya kalihatan.

"Kau ini!"

Jaejoong menjadi gusar, tapi Seunghyun menggulung selendang tersebut dan melemparnya ke belakang.

"Wah… kau benar-benar cantik."

"Mau mati, ya?"

Walaupun pujian Seunghyun tulus, Jaejoong tidak begitu senang. Tubuhnya diperhatikan seperti ini…

Saat itu tiba-tiba Jaejoong merasa ada yang menutupi bahunya. Changmin menutupi bahu Jaejoong dengan selendang yang tadi dilempar Seunghyun.

Seunghyun mengerutkan kening pada Changmin. "Apa yang kau lakukan?"

"Walaupun Hyung pacarnya, jangan lakukan hal yang tidak disukainya."

Raut wajah Seunghyun berubah kaku. Changmin juga balas menatap Seunghyun dengan ekspresi serius. Jaejoong menjadi bingung karena situasi tegang di antara dua orang yang sangat dekat ini.

"Oke." Raut wajah Seunghyun yang berubah tenang lebih dulu. "Ya. Aku yang salah karena memaksa melepaskan selendangmu padahal kau tidak suka. Aku minta maaf, Joong-ie." Katanya sambil menyinggungkan senyum yang sangat indah.

Begitu Jaejoong mengangguk dan bilang "tidak apa-apa", Seunghyun langsung bertanya pada Changmin yang sedang berdiri di belakang Jaejoong sambil menutupi tubuhnya dengan selendang.

"Sudah puas?"

"Ya. Kalau Jaejoong sudah bilang tidak apa-apa."

"Kalau begitu, bisa tolong lepaskan tanganmu dari bahu pacarku?"

"Ah… ya."

Changmin menarik kembali tangannya sambil tersenyum pahit. Begitu pegangan erat di bahunya menghilang, Jaejoong merasa sedikit kehilangan walaupun masih ada selendang yang menutupi tubuhnya.

"Kalau mau tetap pakai selendang, kau tidak bisa masuk ke air. Jadi bagaimana? Mau ke tempat yang sejuk saja?" tanya Seunghyun sambil merangkul bahu Jaejoong, menggantikan Changmin.

"Aku akan beristirahat di bawah paying sambil melihat-lihat. Hyung pergi main-main di laut saja."

"Bagaimana bisa aku bermain-main dengan asyik tanpa dirimu?"

Kata-katanya seperti diucapkan pasangan sungguhan. Jadi Jaejoong berjinjit dan berbisik pada Seunghyun.

"Tidak perlu berpura-pura berpacaran sampai seperti ini."

"Ha ha ha… kenapa? Kau takut jatuh cinta sungguhan padaku?"

"Tidak mungkin. Aku tidak suka pembohong."

"Aku tidak pernah berbohong."

"Oh ya?" mata Jaejoong yang berbentuk almond berkilat seperti sedang membaca pikiran Seunghyun.

Seunghyun menelan ludah sambil melangkah mundur. "Hei… jangan membaca pikiranku."

"Aku tidak mempunyai kemampuan untuk membaca pikiran orang lain."

Seunghyun berbalik sambil tersenyum bercanda. Setelah tidak terlihat oleh Jaejoong, raut wajah Seunghyun berubah dingin.

Apakah itu benar-benar menyenangkan?

Jaejoong termangu memandangi orang-orang yang bermain di pantai. Bermain air dan naik ban karet sambil tertawa. Pemandangan tersebut sangat menakjubkan.

Air laut pasti sangat asin. Tiba-tiba Jaejoong sadar. Seberapa asin, ya?

Saking lamanya tidak bermain-main di air, ia tidak ingat lagi.

.

"Mau ke pantai bersama Ibu?"

Walaupun sudah mempunyai anak, tapi Ibu masih kelihatan seperti gadis. Kalau tersenyum, mata Ibu terlihat seperti bulan sabit. Karena sangat menyukai mata seperti itu, Jaejoong juga berlatih tersenyum sambil mengernyitkan hidung seperti Ibu.

Pada suatu malam sebelum ulang tahun Jaejoong yang ketujuh, Ibu dan Ayah bertengkar hebat, ah tidak, Ayah-lah yang memukul dan melontarkan kata-kata kasar pada Ibu.

"Anak itu benar-benar anakku?"

Selalu persoalan yang sama.

"Sepertinya genku terlalu kuat. Dia sangat mirip denganku, kan? Tapi bukankah itu hal yang patut disyukuri? Dia tidak begitu mirip denganmu."

Terdengar suara Ibu yang penuh canda tapi bercampur tangis.

"Tidak peduli berapa kali kau memukulku, tidak peduli seberapa besar kecurigaanmu, anak itu sungguh-sungguh anakmu. Kumohon jangan curiga lagi. Aku berusaha keras tersenyum seperti ini. Jadi tolong jangan curiga lagi."

Walaupun hanya berusia tujuh tahun, Jaejoong mengerti semua perkataan Ibu. Meskipun sakit hati, meskipun berlinang air mata, yang bisa Jaejoong lakukan hanya tetap mengunci diri di kamar dan tidak muncul di hadapan Ayah. Ayah Jaejoong akan semakin marah jika melihat Jaejoong yang sama sekali tidak mirip dengannya muncul di hadapannya. Karena Jaejoong tahu hal itu, ia hanya bisa meringkuk di kamar gelap dan memelankan suara tangisnya.

Jaejoong sangat merindukan ibunya. Ia bersedia memberikan apa saja seandainya bisa melihat senyuman manis ibunya satu kali lagi. Meskipun harus hidup miskin dengan pakaian compang-camping, ia rela melakukannya asalkan bisa melihat senyuman ibunya lagi.

"Kenapa kau selalu merusak suasana?"

Jaejoong menoleh ke asal suara yang tajam itu dan melihat Ahra berdiri di depan matanya. Ahra yang memakai bikini hitam dan sangat seksi itu langsung duduk di samping Jaejoong.

"Kau sadar betapa jahatnya dirimu?"

"Apa lagi?"

"Gara-gara kau, hubungan antara Seunghyun Oppa dan Changmin Oppa menjadi tidak baik. Aku tidak pernah melihat dua orang yang akrab itu bertatapan dengan ekspresi marah seperti itu. Gara-gara kau sok polos mau memakai selendang, Seunghyun Oppa menjadi malu. Ada apa sih denganmu?"

"Aku kan tidak suka. Kenapa aku harus mengikuti perasaan orang lain?"

"Karena itu kau jahat. Meskipun kau tidak suka, kau harus bertahan. Kalau tadi kau bertahan, suasananya pasti akan baik-baik saja. Bukankah orang lain biasanya hidup seperti itu? Meskipun tidak suka, kita harus menyesuaikan diri dengan perasaan orang lain."

"Kau saja yang menyesuaikan diri dengan orang lain. Kalau aku tidak suka, aku tidak akan melakukannya."

"Wah, kau benar-benar egois. Aku tidak tahu apakah Seunghyun Oppa sudah tahu sifatmu yang sebenarnya. Kalau dia tahu, kau pasti akan dicampakkan."

"Ya sudah, cepat beritahu dia."

Ahra sangat kesal. Walaupun dia sudah melakukan segala cara untuk memojokkan Jaejoong, laki-laki itu selalu memasang raut wajah tenang. Ia ingin sekali memukulnya, tetapi tentu saja ia tidak bisa melakukannya di tempat yang banyak orang seperti ini. Ia mengobrol dengan Jaejoong tentang hal-hal yang tidak penting sambil memperhatikan sekelilingnya. Ada tas kecil berwarna cokelat yang sepertinya milik Jaejoong.

"Jangan di sini terus. Tidak bisa ya, kau main-main saja di sana? Suasana menjadi tidak enak gara-gara kau tidak mau ikut padahal yang lainnya sedang main."

"Mereka kelihatan baik-baik saja kok."

"Ah dasar! Kau sekarang ikut aktivitas klub. Kalau anggotanya pergi main, kau juga harus ikut. Kenapa kau sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama?"

"Karena aku tidak akan melakukan hal yang tidak kuinginkan. Tapi sepertinya aku akan pergi karena kau berisik. Mulutmu tidak capek? Kenapa ke sini dan menghabiskan energimu dengan sia-sia?"

"Karena kasihan dengan kakak-beradik Jung."

"Astaga, kau sungguh baik hati."

Jaejoong berdiri sambil mendesah. Ahra menepuk-nepuk punggung Jaejoong sambil terkekeh. Ketika Jaejoong menatapnya dengan aneh, Ahra hanya mengangkat bahu.

"Aku hanya berharap kau bermain dengan senang." Kata Ahra.

Ketika mellihat Jaejoong berdiri, Changmin melambai sambil berlari ke arahnya. Kemudian ia menarik lengan Jaejoong ke arah air. Seunghyun dan Junsu yang bermain di kejauhan juga mengikuti Changmin.

Menyebalkan.

Ahra sangat benci melihatnya.

Sudah jauh-jauh ke sini, masih harus melihat Jaejoong. Ditambah lagi sikap Seunghyun dan Changmin. Ketika melihat dua orang itu bersikap begitu baik kepada Jaejoong, Ahra merasa begitu kesal sampai susah bernapas. Apa sih kelebihan Jaejoong sampai mendapat perlakuan sebaik itu? Apa lagi Junsu yang biasanya tidak mudah dekat dengan orang lain menganggap Jaejoong sebagai temannya.

Apa kelebihan orang itu? Orang seperti dia ada di mana-mana. Yah. Sudahlah. Di mana Kim Jaejoong menaruh ponselnya, ya?

Setelah memastikan tidak ada yang melihatnya, Ahra membongkar tas Jaejoong. Ia menemukan ponsel dengan gaya kuno di saku depan tas. Kemudian ia pergi ke belakang payung untuk mengecek ponsel tersebut. Jaejoong tidak memakai pin di ponselnya.

Hm. Kim Jaejoong. Malam ini aku akan menunjukkan pada semuanya siapa kau sebenarnya.

.

.

.

TBC

Huft /lap keringet/

4,2k words hanya untuk ceritanya saja.

Sebenarnya cerita di Thailand masih belum selesai. Ada satu bab lagi, dan itu berarti chapter depan adalah chapter terakhir di buku pertama. Masih ada satu buku lagi /sigh/

Pertama-tama, terimakasih kepada semua orang yang mau nungguin, saya terharu nih /sobs/

Soal bukunya sendiri, Cinderella and The 4 Knights atau Cinderella dan Empat Kesatria karya Baek Myo terjemahan dari bahasa Korea ke bahasa Indonesia. Saya beli sekitar dua tahun lalu, di toko buku Gramedia. Dulu juga pernah tanya soal pdfnya, tapi ya saya pernah cari tapi tidak ada. Ada yang bisa menemukan pdfnya, mungkin bisa bagi-bagi dengan saya /?

Yasudahlah, sekian saja. Maaf jika banyak typos, jangan salahkan saya tapi salahkan keyboardnya /? Thanks for all reviewers, followers and favorite-ers.

Last, find me at BBM 7676C1AC

See ya!