Couple Cracks

.

.

pojokan author :

membahas soal ffn yang semakin sepi, bagaimana kalau author ikutan hiatus :v tapi yah gimana harusnya ya? ayolah memangnya para author dan para readers pergi kemana?! ada migrasi besar-besarana tau sebuah isu ffn bakal ditutup?

.

.

lanjut dulu deh.

.

.

"Apa benar ini sekolah dimana tempat Onee-sama mengajar?" tanya seorang pria, dibelakangnya berdiri 6 pengikutnya yang sama-sama mengenakan jas sekolah berlambang awan merah.

"Ya, Nagato."

"Oh, ayo kita masuk untuk memberinya kejutan,"

Hatcih! Hinata memberikan tisu yang dia pegang pada Sakura yang pipinya kemerahan, "Terima kasih, sensei" ucapnya sembari menerima tisu yang diberikan Hinata.

"Kau demam dan flu, Sakura-chan" ucap Hinata cemas, "Sebaiknya kau istirahat dirumah saja" sarannya.

Sakura menggeleng, "Aku masih bisa-Hatcih" Oh sial, hari ini ada kelas Sasuke-sensei, mana bisa Sakura bolos. "Sensei~ berikan aku obat penyembuhnya!kalau tidak- kalau tidak- aku tidak bisa tenang jika aku mati kelak" ucap Sakura sembari menguncang Hinata,

"Kau tidak akan segera mati, Sakura-chan" jawab Hinata menenangkan.

"Pokoknya, aku harus sembuh sebelum kelas terakhir dimulai, ya- ya bibi Hinata" pinta Sakura menjadi.

"Hai Hai, akan aku berikan obatnya" ucap Hinata paham.

"Dan Sasori-kun, Maaf membuatmu menunggu" ucap Hinata melirik Sasori yang sudah berdiri sejak tadi, cukup lama jika kalian ingin tahu. "Apa kau kena flu juga, Sasori?" tanya Hinata melihat masker bertengger manis diwajahnya.

"Virus" ucap Sasori sembari mengeluarkan obat semprot. Merk XXX anti kuman dan bakteri.

"Virus?"

"Harus dibasmi" tambah Sasari sembari menyemprotkan obatnya kearah Sakura bekali-kali.

"Hah? Apaan sih kau ini?!" teriak Sakura marah,

"Sensei, berikan aku plester" ucap Sasori mengabaikan Sakura yang mencak-mencak namun tak punya kekuatan lebih untuk menghajar si merah menyebalkan ini. Pandangannya terasaa berputar-putar, oh astaga.

"Apa kau mudah sakit, Sasori-kun?" tanya Hinata sembari mencari plester di kotak obat.

"Hm"

"Ah, souka" komentar Hinata, tidak biasanya Sasori tidak banyak bicara. "Ini"

Sasori menatap lama plester itu, kemudian mengambilnya setelah disemprot cairan antiseptik.

"Hehehe" tanggap Hinata dengan sudut bibir berkedut, itu yang disebut kurang ajar bukan? Kok Hinata kesel ya menanggapinya?

"Hinata sensei, kendalikan dirimu" ucap Sakura sembari memegang kepalanya yang pening dan hidungnya yang meler.

"Nani? Aku baik-baik saja, aku sungguh baik-baik saja, namun kau tadi kesal bukan disemprot dan sebut virus, benarkan? Benarkan Sakura-chan?" jawab Hinata dalam sekali tarikan nafas.

"Tidak, tidak kesal ko. Cuman ehem, rasanya pengen nonjok wajahnya sampe babak belur!" ucap Sakura ikut terprovokasi oleh ucapan Hinata.

"Sebaiknya aku tidak masuk dulu sekarang" ucap Suigetsu melepaskan gagang pintu yang dipegangnya, dia juga tak luput dari semprotan antiseptik Sasori tadi.

oOo

Bell istirahat berbunyi tanpa Hinata sadari, segera saja dia menutup buku tebal yang sedang dia baca dan memeriksa kondisi Sakura, "Demamnya sudah turun," ucap Hinata. "Sakura-chan" panggilnya. "Apa kau ingin aku membawakan bekalmu?"

"Hmm aku bisa mengambilnya sendiri" jawab Sakura, sedikit membuka matanya yang terasa berat, "Sudah jam terakhirkah?"

"Belum, ini istirahat siang, tidak apa-apa kutinggal sebentar?"

"Hm, aku sudah merasa baikan ko, aku akan segera ke kelas"

"Oke" jawab Hinata, "Jangan lupa pakai maskermu ya?"

"Hmm" balas Sakura seadannya.

Teriakan santer terdengar, walau ini masih jauh dari kantin, ah pasti salah satu dari mereka sudah ada dikantin, Naruto dan si pantat ayam? Pacarnya Sakura-chan itu? Perasaan Hinata pernah ingat namanya. Uke-kah?

Dari dalam ruang guru, Naruto keluar sembari menguap lebar, "Na-na hoam" Shh! "ko merinding ya?" ucap Naruto memeluk tubuhnya. Tapi dia tak melihat Hinata, karena dia clingkannya ke kanan dan kekiri.

"Yosh! Ajak dia Hinata! Ajak dia makan siang" gumam Hinata, mungkin saja dengan begitu Hinata dapat mengerti perasaannya. "Naru- ehhhh?!" Tubuh Hinata tersingkir oleh segerombol siswi yang berjalan seperti segerombol badak marah. Jalan maju tanpa tengok kanan kiri.

"Sensei, mau ke kantin sama-sama?" tanya segerombol siswi yang sempat menyenggol Hinata.

'Ah sial, malah ketemu mereka' batin Naruto menggerutu, kalau dia bareng siswi biasanya makan siang jadi penuh rumpi-rumpi dimana-mana, bikin Naruto ga mood saja. "Aku akan pergi sendiri" tolak Naruto.

"Yah sensei~"

Uhh Hinata menggembungan pipinya, kesal. Kalau begitu sama saja dengan Hinata yang ditolak. Ih ko kesel? Sebel? Gimana gitu. Bikin au ah gitu. Apalagi lihat mereka? Cewe Gal huh? Bedak satu senti, eye liner dari tinta buat nulis huruf kanji, kali ya. Lalu apa-apaan tuh dengan seragam fit body, emang mereka power ranger? Ckckck lah? Sejak kapan Hinata peduli dan suka mengkritik cewe gal? dulu, waktu sekolah pernah sih tapi malah disuruh duduk sopan selama 5 jam setelah pulang dari sekolah lupa tukeran baju.

Masalahnya, sejak kapan Hinata benci siswi berpenampilan gal? biasanya juga malah dipotret dan malah dipuji habis-habisan sama Hinata.

"Yo, Hinata sensei, ko malah ngelamun" tanya Rin sembari menepuk bahu Hinata, "Ga bantu-bantu di kantin? Atau klub memasak?"

"Rin, sejak kapan aku tidak suka cewek Gal?" tanya Hinata dengan wajah, kok aku ga sadar sudah berubah.

"Gal? oh cewe yang suka tampil nyentrik seperti mereka?" tunjuk Rin dengan dagunya kearah siswi yang mengerubungi Naruto, "Kayaknya sejak mereka nempel-nempel sama Naruto –sensei deh"

"Hmm" Hinata mengadukan kedua telunjukannya. Masa?

Duh Rin gemas banget deh, tapi apakah perjuangan anak klub memasak tidak sia-sia ya? Hinata mulai merasakan lovey dovey pada Naruto sensei. Dan seringai usilpun menghiasai waja Rin. "Sensei! Naruto-sensei!" panggil Rin.

"Ah, apa yang kau lakukan Rin?!" ucap Hinata panik berusaha menutup mulut Rin sekaligus dia malu juga.

"Sensei kalau mau jadi fans Naruto-sensei, jadilah yang istimewa" bisik Rin. Dia hampir menangis melihat tingkah Hinata sensei tadi pagi.

Naruto segera melirik ke belakang, melihat orang yang memanggilnya, "Oh, Rin. Ada apa?" tanya Naruto, disampingnya berdiri Hinata yang bediri dengan, malu-malu? Tapi syukurlah, kalau seperti ini tinggal mengajak- eh tidak tidak. "Mau membantu di kantin hari ini?" tanya Naruto, tidak masalah dia akan mengajak Hinata berjalan bersama ke kantin. Yosh katakan Naruto! Katakan Pejantan Tangguh!

"Hinata sensei libur hari ini, bagaimana kalau kalian makan siang bareng? Tadinya sih ngajak aku tapi aku sudah ada janji sama Karin" ucap Rin mendahului Hinata berbicara.

Horay! Hasek! Naruto bersorak riang (dalam hati), kalau ada Hinata, para siswi itu pasti menolak mendekat. "Ayo" ajak Naruto.

"Sana. Bersenang senanglah sensei" ucap Rin sembari mendorong Hinata dan memberinya sebelah kedipan mata.

"Se-sepertinya matamu kelilipan, Rin. Kenapa kau berkedip sebelah?" tanya Hinata malah berbalik melihat Rin.

"Haaa?" Ucap Rin dengan wajah udahlah Sensei pergi aja napa? Bikin susah dia saja. "Dengar ya sensei. Ini" tambahnya sembari mengedipkan sebelah matanya berkali kali "Isyarat untukmu untuk pergi dan nikmati waktumu oke? Masa sih ga paham juga?"

"Hehe" tanggap Hinata, dia tahu sih tapi dia masih malu, masa dia duluan yang mengajak Naruto. Kan gengsi?

"Hehe. Hehe." Cibir Rin kesal "udah pergi sana" ucap Rin.

"Oke" jawab Hinata sembari berjalan mendekati Naruto yang sedang menunggu penyelamat perutnya eh maksudnya perasaannya.

"Hoy Rin, Nanti jam istirahatnya keburu abis" panggil Karin, "Lah matamu kenapa kedip-kedip terus?"

"Dududuh aku beneran kelilipan" ucap Rin tak bisa menghentikan kedipannya sendiri.

"Waa, jangan digosok! Jangan! Ayo cuci dulu" Panik Karin.

Naruto bersenandung walau dalam hati, kalau sampai dia berseri-seri bisa-bisa fansnya tambah banyak. Dibelakangnya Hinata berjalan mengikutinya. Loh kok rasanya agak aneh ya? Dia didepan sementara Hinata dibelakang. Loh malah kaya majikan sama babu?

Hinata masih mengutuk gengsinya, ga boleh! Lupakan. Inikan Cuma makan bersama, cuman untuk mengetes apa dia jatuh cinta sama Naruto atau tidak. Duh tapi ini mah lebih ekstrim daripada kegiatan mata-mata yang digeluti Hinata 2 hari ini.

Kalo punya tombol loud speaker, Detak jantung Hinata sudah pas buat dugem semalam suntuk, ajebnya mantep dah! Duh.. saking mikirin jantungnya sendiri, kaki Hinata saling mengait alias dia kesandung kakinya sendiri.

"Eh, Na-naruto-kun" ucap Hinata, tubuhnya berputar layaknya balerina sebanyak 3 kali putaran, adegannya sungguh mengharu biru, dia akan menabrak atau malah Naruto menangkapnya? What is your choice?

Karena memikirkan hal itu, Hinata sampai berfikir, dia akan ditanggap layaknya putri negeri dongeng, jangan lupa putaran maut layaknya tarian waltz berpasangan dengan romansa bunga.

Diakhirnya, Naruto menyentuh pipinya sembari bersuara gentle "Apa kau baik-baik sajah Hinata? Kau harus lebih berhati hati lagi, untung saja aku bisa menangkapmu"

KYAA! Hinata tak sanggup membayangkannya lagi! Senang! Senang senang! Ayo cepatlah, tanggap dia, Naruto! Adegan yang disaksikan banyak siswi dan sungguh ditunggu tunggu ini akan segera mendapatkan jawabannya.

Siapkan kamera untuk mengabdikan moment langka romantisme duo sensei, Hinata dan Naruto sensei.

HOP! SET!

GUBRAK!

"Untung saja masih bisa berkelit" ucap Naruto lega. "Eh?"

Krik krik krik….

"SHAAAAANAAAROOOO!" teriak Sakura dipenuhi inner kemarahan.

"GYAAA Sa-Sakura-chan?! Tu-tunggu!"

Tendangan maut menghantam telak Naruto yang ketakutan, tendangan sekuat tenaga itu mampu membuat Naruto terpelanting sejauh 2 meter dengan cap kaki Sakura Diwajahnya.

"Apanya yang untung?" ucap Sakura, niatnya ingin balik ke kelas buat makan siang, tapi adegan pamannya yang malah berkelit saat bibinya jatuh membuatnya naik pitam. Sungguh keterlaluan, "Yang jatuh itu istrimu, istrimu tahu!"

BUK! BUK! BUK! Lagi Sakura menganiaya Naruto. "BIKIN MALU SAJA! MATI SAJA SANA! BANCI! CELENG! HUMU! K&^ &%&%"

"Sakura-chan bibirmu! Bibirmu"

oOo

denyutan dari hasil aniaya Sakura masih terasa. Tega sekali dia menjatuhkan harga dirinya, iya sih salah dia dan dia telat sadar juga.. karena kebiasaan menghindar jadi tubuhnya bergerak sendiri. Gituh..

Dulu waktu dia masih baru, awalnya, ada siswi yang jatuh dan dia menolongnya, tapi ternyata tindakannya malah mengundang masalah besar, setelah hari itu, tiap kali Naruto lewat pasti ada saja yang jatuh dihadapannya, kalo sekali dua kali sih oke, tapi ini berkali-kali. Berkali-kali coy!

"Sudah abaikan saja" saran guru-guru yang lain.

Setelah hari itu dia mengabaikan mereka namun para siswi malah semakin berani, kali itu mereka mulai menjatuhkan Naruto juga, dan itu sungguh bikin kesal. Jadi dia belajar ilmu copet eh ilmu tubuh berkelit saat liburan musim panas dan mulai bisa menghindari serangan para siswi yang mengganas seperti demam musim panas.

Kembali ke masa sekarang, Naruto sudah bisa bangkit kembali dengan mengaduh. Sakura masih saja mengomelinya dengan wajah marah. 'Mirip banget nenek nenek itu' batin Naruto

Hinata masih setia mencium lantai, bodo! Dia malu akut. Gusti! Mau ditaruh dimana muka Naruto sensei? Mukanya udah ditaruh dilantai, tolong seseorang lenyapkan Hinata sekarang juga.

"Hinata-sensei, kau baik-baik saja?" tanya Sakura.

Hinata mengangkat tangan dan memberi Sakura jempol ke atas.

"Tapi rasanya malu banget ya?" tambahnya.

Kali ini Hinata membalik Jempolnya untuk menghadap kebawah.

"Liha- loh ilang?" ucap Sakura, maunya ngomel lagi tapi Naruto sudah secepat kilat untuk menolong Hinata.

Dengan sekali angkat, Hinata sudah berada dipelukan dada milik Naruto, kedua tangannya refleks menutup wajahnya yang bukan hanya merah oleh rasa malu tapi juga cairan darah yang tak sanggup Hinata tatap. "A-aku bisa berjalan sendiri" ucap Hinata.

"Maaf, salahku juga" ucap Naruto sembari mengeratkan pelukannya agar Hinata tak jatuh dua kali.

"…"Astaga Hinata malu, malu deh malu banget, tapi diantara ras malu itu terselip rasa kaya nano nano, selain rasa asem ketek Naruto, ada manis-manisnya gitu. "Maaf" bisik Hinata.

"Sudah kubilang kan, aku yang salah" ucap Naruto segera membawa Hinata kembali ke arah ruang kesehatan. Ma! Rasanya Naruto jadi cowok gentle sejati hari ini, duh tapi lama-lama pegel juga. "Hinata, berapa berat badanmu?" tanya Naruto keceplosan.

JDUAK! Naruto sampai meringis merasakan dagunya dihantam kepala Hinata. "Menanyakan berat badan wanita itu, tidak sopan." Omel Hinata, dia tidak bermaksud membenturkan kepalanya pada Naruto.

"Oh Naruto sensei, Hinata-sensei kenapa?" tanya Sasori, namun fokusnya malah pada tangan Hinata yang dari sela jemarinya keluar darah. "Tunggu"

Naruto berdecak, duh pegel ini teh. Apa si rambut merah yang absen abadi dikelas olahraganya ini tidak tahu rasanya?, dia juga seneng mengendong Hinata seperti ini tapi tetep aja dia manusia normal bukan superhero. "Apa?"

Sasori segera menarik kemeja Naruto dan membisikkan sesuatu yang membuat Naruto mangut-mangut mengerti. "Beneran?"

Sasori mengangguk sekali dan berjalan meninggalkan mereka.

Naruto menurunkan Hinata dengan hati-hati. "Mau sampai kapan kau menutup wajahmu?" tanya Naruto sembari mengibaskan tangannya heboh, suer pegel abis. Mumpung Hinata tidak lihat.

"Aku bisa melakukannya sendiri" ucap Hinata, "Ambilkan saja, tisu diatas meja"

Naruto memegang tangan Hinata dan memaksanya untuk menjauh dari wajah Hinata. Bisikan nan manja dan menggelitik dari bibir sekseh, eh salah maksudnya bisikan Sasori bilang kalau Hinata phobia pada darah.

"J-jangan." Tolak Hinata.

"Tutup saja matamu." Perintah Naruto, duh hidungnya mimisan.

"Tapi aku penarasan!" ucap Hinata.

Haah, takut tapi ingin lihat? Apa mungkin kepalanya membentur lantai juga? "Aku akan menutupi matamu dengan tanganku sementara aku membersihkan darahnya." Tawar Naruto, tangannya segera menutup mata Hinata.

Dapat Hinata rasakan sentuhan kasar dari tangan tak berpengalaman milik Naruto yang membantunya mengelap darah yang keluar dari hidungnya, sesekali Hinata bicara untuk memberi tahunya cara yang benar.

Sentuhan Naruto bergerak menuju bibir Hinata, gerakannya konstan ke kiri dan kekanan seolah Naruto sedang memoles pewarna bibir pada bibir Hinata. Tangan Hinata yang sudah bersih perlahan mengangkat tangan Naruto yang menutupi matanya, ada sentuhan lembut dibibirnya. Sangat, sangat lembut.

Hinata menarik nafas persis seperti orang terkena asma, Naruto sangat sangat dekat, ja-jantungnya hik, bibirnya hik. Apa Naruto sedang mencium bibirnya hik?

"Ah?! Aaaah?!" Naruto mengeluarkan suara aneh, baru sadar mas? "Tidak maksudku Hinata, aku hanya.. MAAFKAN AKU?!" teriak Naruto dan langsung melarikan diri, membuka pintu tanpa permisi,

"Ittai" jerit seseorang.

"Maaf!" teriak Naruto lagi.

"Itu bukannya suaminya Hinata?" ucap Gaara sembari berdiri dan menepuk debu yang mungkin menempel pada jasnya. "Permisi? Aku walinya Sabaku Sasori, apa anda perawat baru? Mohon bantuannya untuk menjaga adikku~ Hinata?"

"Ha- eh –uh kau menagih yang waktu itu?" tanya Hinata salah tingkah.

"Aku hanya ingin memberi salam." Jawab Gaara sembari memperlihatkan buket bunga, yah kirain dia bisa mengencani perawat sekolah yang baru dan lebih muda, soalnya yang dulu tolong mending jangan dibahas, Gaara kau hanya pemeran pembantu. "Kira-kira suamimu kenapa lari?" tanya Gaara.

Bukannya menjawab Hinata malah menyembunyikan wajahnya dan menggeleng heboh, "Aku tidak marah saat dia melakukan itu, aku juga tidak jijik, aku malah senang dan hatiku bebunga-bunga" ucap Hinata.

"Etoo, kau bicara apa?" tanya Gaara, sungguh dia tak mengerti, apa sebaiknya dia meletakkan bunganya diatas meja dan langsung pamit. Atau ini cerita ero yang baru terjadi barusan? Disini?

CR- uh hampir saja Gaara mimisan karenanya. Tahan. Tahan Gaara. "Maksudmu melakukan ueu?" tanya Gaara.

Hinata menatap marah pada Gaara dan langsung menyentaknya, dasar cowok! "Mana mungkin aku melakukan ueu disini."

"Sensei, siapa laki-laki mesum ini?" tanya Rin dengan ekspresi jijik, inget om ini sekolah bukan hotel melati. "Hinata-sensei baru saja berciuman dengan Naruto sensei.. ngomong-ngomong ueu itu apa?"

Hinata melotot pada Gaara, dan melembut menatap Rin "Itu hanya bahasa anak jaman dulu"

"Baru ciuman, dan dia gembira?" tanya Gaara mengalihkan membicaraan dan fokus pada apa yang tadi dilakukan Hinata, "Mereka ini kenapa sih?"

"Aku juga heran!" tanggap Rin semangat, akhirnya sekutu klub memasak bertambah lagi. Bisa dinego-nego nih, "Om temannya Hinata sensei."

"Jangan panggil Om dong, baru juga kepala dua setengah"

Dan sekejap saja Gaara dan Rin jadi akrab, mangut-mangut memahami situasi masing-masing sebagai pendorong suami-istri somvlak ini.

"Yaya, begitu memang sulit" ucap Rin.

"Hmhm, mereka itu sesuatu, mau kuberi tahu rahasia?" ucap Gaara.

"Hentikan! Kalian tidak malu membicarakan aku dihadapanku sendiri?" teriak Hinata marah.

Jiii mereka memandang Hinata dengan pandangan dasar penganggu. "Habis kalian itu bodoh atau bego?" ucap keduanya bersamaan.

UGH, shock! Hinata sampai membatu dibuatnya, dan dengan tega mereka berdua meninggalkan Hinata masih dengan membicarakan Hinata,

"Bagaimana kalau tukeran nomor, akan aku ceritakan semua tentang Hinata senseimu" tanya Gaara

"Ih, maaf om mau mencium panci klub memasak?" jawab Rin.

"Ahahaha hanya bercanda. Hanya bercanda." Ucap Gaara. Anak jaman sekarang pada ngeri ya?

oOo

Dibangku taman belakang sekolah aura gelap mengalir kesegala arah, sesekali berganti dengan aura bunga, "hehe perkembangan yang bagus, tidak itu tidak gentle" gumamnnya.

Naruto oh Naruto sampai dilupakan, dia sedang galau. Segalau galaunya, mau nangis malu, mau curhat malah nanti dia ditertawakan. Duh nasibmu bang, sungguh malang.

"Hei kuning!" tanya para siswa yang menggenakan seragam dengan awan merah.

CTAK! Oh beraninya dia pada Naruto.

"Kami lihat apa yang kau lakukan pada Onee-sama kami, kau mau mati ya?"

CTAK! Mati? Mereka sedang mengancam sensei kedisiplinan.

"Hei kalau ketua bicara itu perhatikan. KUNING SDOR! DOR!"

CTAK! Naruto memang sDOR! DOR! uuuu kena telak….. Naruto harus beri mereka pelajaran berharga agar mereka bisa ingat, menganggu orang galau bisa menyebabkan kecelakaan yang disengaja.

10 menit kemudian.

Hiks Hiks, tangisan lebay menguar membuat satu sekolah penasaran. Biasanya kalau ada tangisan kaya begitu Naruto-sensei sedang menghukum murid yang nakal. Wajah satu kelas yang diajar Sasuke langsung bermuka suram 'Kira-kira siapa korban Naruto-sensei kali ini? Dia belum kapok juga'

"Master!" teriak mereka lantang, tubuh mereka sedang berdiri dengan satu kaki dan tangan direntangkan sejajar bahu. Sakit beud, pegel. Padahal senamnya sudah berakhir tapi pegalnya malah menjadi,

"Tanganmu itu" ktuk ktuk! Dengan sengaja Naruto mengetuk tanga salah seorang dari mereka. "Kalian harus ingat. Dengar, tadi itu namanya senam angel. Praktekan setiap hari maka otot tanganmu akan kuat! Sehat! Dan.." 'Alat siksa yang bagus' batin Naruto,

"Huaaa! Mama!" teriaknya sembari menangis, tangannya pegal dan sekarang tanpa ampun di ketok ketok kaya batang besi.

"Gimana sakit? Sakit banget kan?" ejek Naruto,

Pria itu mengangguk cepat. "Maafkan kami!" teriaknya disusul teriakan anak-anak lainnya.

"Hontou, Gomen Nasai, master!" teriak mereka lantang.

SRAK! Jendela koridor tiba-tiba saja terbuka. "AH! Aku mencari kalian sejak tadi!" teriak Anko sensei. Untung saja ketemu. "Kalian ini, sudah kubilang untuk tetap berada dibelakangku, kan?"

"Mereka tamu?" tanya Naruto yang seperti sengaja diabaikan,

"Mereka narasumber buat sosialisasi Reproduksi ituloh untuk tingkat pertama" jawab Anko sensei.

Hah? Mereka? Tampang-tampang preman ini? Tidak, tidak mungkin, "Haha kau pasti sedang bercanda?"

"Mana mungkin kan aku bercanda?!" ucap Anko sensei tidak terima dengan wajah menggelap.

"Kami mantan preman, sekarang sedang magang dirumah sakit Akatsuki. Kami tingkat kedua akademi keperawatan Konoha, siap memberikan lulusan yang kompeten!"

"Pe-ra-wat?" eja Naruto, sepertinya tadi mereka bilang Onee-sama juga?

"Kenapa kalian ada disini?!" tanya Hinata tiba-tiba muncul dengan wajah berseri-seri. Oh anak didiknya yang manis manis pakai seragam rumah sakit Akatsuki, apa mereka serius mendengarkan nasehatnya dan bertaubat dari jalan preman yang dulu?

"Onee-sama!" teriak mereka dengan nada khawatir, Onee-sama mereka yang malang, mereka mendengar gosip kalau dia tak diterima hampir diseluruh rumah sakit yang ada di negara api ini? Mereka fikir Onee-sama akan depresi, namun sepertinya dia baik-baik saja?

"Hm hm aku baik-baik saja, walau aku hampir ditolak seluruh rumah sakit sih.." jawab Hinata melihat kekhawatiran dari para mantan anak didiknya.

"Syukurlah~"

"Hinata-sensei," panggil Anko-sensei sembari memijat bahu Hinata, "Bisa kalian nostalgianya nanti saja, aku bisa kena marah Kepala Sekolah kalau tak cepat-cepat membawa mereka ke aula" lanjut Anko sensei, kau tahukan seperti apa dia? Kan-kan Hinata-sensei?

"Ah, maaf-maaf. Nanti datang saja ke UKS, aku ada disana sepanjang waktu." Ucap Hinata sembari tertawa hambar, aura Anko-sensei tidak mengenakan, memang berurusan dengan kepala sekolah itu yang paling dihindari.

Kemudian semuanya bubar begitu saja, menyelesaikan tugasnya masing-masing.

"Sepertinya ada yang terlupa?" ucap Mereka.

Ah, benar. Kalian sungguh benar. Kalian melupakan Naruto yang masih diluar menganga dan mematung, segera dia berjongkok dan memeluk lututnya. Gumaman yang persis kutukan menguar keseluruh sekolah. "Ga boleh nangis, ga boleh nangis! Dia sensei, dia segede kera sumatra, dia bernafas, dia berkedip. KENAPA DIA DILUPAKAN MELULU SEJAK TADI, AUTHOR-SAN?! WHY?!"

.

.

.

Maaf maaf TBC..,