TOPENG SANG PUTERI

Editor : Han Lu

Main Cast : Oh Se Hun, Lu Han (HunHan)

Genre : Kingdom, Romance, Family

Length : Chapter 12 0f 12

Summary :

Sehun, seorang Putra Mahkota dari Kerajaan Skyvarrna. Baru saja diangkat menjadi seorang Raja demi menggantikan Ayahandanya yang telah wafat. Demi kepentingan rakyatnya Sehun ingin menyatukan Kerajaannya dengan Kerajaan Aqnetta.

Konon sejak Kerajaan Aqnetta berdiri, banyak yang berusaha menguasainya tetapi tidak pernah ada yang berhasil. Dan sampai sekarang hal itu tidak pernah terjadi. Kekuatan militer Aqnetta tidak dapat diabaikan. Kekuatan militernya yang tangguh itulah yang membuatnya tetap damai dalam kebebasannya. Siapapun yang ingin menyerang Kerajaan Aqnetta selalu berpikir berulang kali. Apalagi terdengar adanya kabar bahwa Kerajaan Aqnetta mempunyai sekelompok pasukan rahasia yang tiada tandingnya.

Akhirnya Sehun memutuskan untuk melamar Sang Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta dengan niat untuk menyatukan dua kerajaan. Namun siapa menduga rencananya ini akan membawanya ke dalam kisah cinta yang indah.

.

.

.

DISCLAIMER :

Hai Readers, AKU KEMBALI LAGI MEMBAWA FANFIC YANG AKU AMBIL DARI NOVEL TERJEMAHAN BERLATAR BELAKANG KERAJAAN EROPA tapi tetap My Bias EXO Specially HunHan yang menjadi Main Castnya.

SEKALI LAGI AKU KATAKAN, KALO AKU NGEPOSTING FANFIC INI NIATNYA BUKAN UNTUK MENG-COPAS tapi hanya untuk berbagi dengan kalian semua yang suka hunting fanfic di FFN, terutama yang suka HunHan sebagai tokoh utamanya.

NB. Tulisan miring hanya untuk kata yang Berbahasa Inggris dan kata hati tokoh yang bersangkutan.

.

.

.

Happy Reading ^-^

.

.

.

CHAPTER 12: EPILOG

.

.

.

"Aku merasa kau sedang berbohong padaku, Luhan," gerutu Sehun ketika istrinya memaksanya duduk diam di Ruang Rekreasi Istana Vezuza.

Luhan tersenyum dan berkata tenang, "Tidak ada yang kusembunyikan padamu."

"Aku juga belum mendapat penjelasan mengapa kau tiba-tiba pulang tanpa memberitahu lebih dulu?" Raja Zhoumi mengingatkan.

"Saya ingin menunjukkan bakti saya pada Anda, Ayahanda."

"Dengan pulang tiba-tiba dan memaksa kami duduk diam sementara kau berputar-putar ke sana kemari seperti kicir angin?" gerutu Raja Zhoumi.

Luhan diam saja.

Sehun tersenyum. Seperti itulah perinya. Selalu diam bila merasa tidak perlu mengatakan apa pun. Gadis itu sibuk membantu para pelayan menata makanan di meja ruangan itu.

Sehun terus memperhatikan punggung istinya itu.

"Sebenarnya apa yang sedang direncanakannya?" tanya Raja Zhoumi tiba-tiba.

"Saya tidak tahu. Ia juga tidak mengatakannya pada saya."

"Makan malam sudah siap," kata Luhan melaporkan. Luhan mendekati Sehun dan menariknya berdiri lalu beralih pada ayahnya.

"Apa yang membuatmu berubah sejauh ini?" tanya Raja Zhoumi heran.

"Tidak ada," jawab Luhan tenang. Namun di matanya, Sehun melihat gadis itu menyembunyikan sesuatu. Luhan tahu yang dipikirkan Sehun dan berkata, "Mari, makan malam telah menanti kita."

Luhan memeluk lengan Sehun di tangan kanannya dan memeluk lengan ayahnya di tangan kirinya.

"Apa yang membuatmu berubah?" tanya Sehun keheranan.

"Tidak ada," jawab Luhan tenang, "Aku hanya senang dapat pulang di malam Natal dan makan malam bersama keluargaku."

Raja Zhoumi tiba-tiba berhenti dan berkata tegas, "Sebelum kau mengatakan apa yang kau rencanakan dari kami, aku tidak mau makan."

Sehun melihat Raja Zhoumi menatapnya dan berharap ia melakukan hal yang sama. "Aku juga tidak mau makan bersamamu kalau kau tidak mengatakan apa yang sedang kau rencanakan."

"Aku tidak merencanakan apa-apa," kata Luhan tenang, "Ayo kita makan."

"Aku tidak mau, sayang. Kau harus mengatakan dulu apa yang kau sembunyikan dari kami," kata Sehun bersikeras.

"Tidak seorang pun yang mau makan bila kau tetap menyembunyikannya," tambah Raja Zhoumi tegas.

"Aku tidak merencanakan apa pun," kata Luhan merajuk, "Sungguh."

"Katakan padaku, sayang, apa yang kau sembunyikan dari kami," bujuk Sehun lembut, "Atau tidak ada makan malam bersama di malam Natal ini."

Luhan menatap kedua pria yang disayanginya itu bergantian. "Kalian jahat," katanya semakin merajuk.

"Ayolah katakan," bujuk Sehun.

Untuk kesekian kalinya Luhan mendengar perkataan, "Kalau kau tidak mengatakannya, kami tidak mau makan."

Luhan memandang kesal ayahnya lalu Sehun dan berkata, "Baiklah. Aku memang menyembunyikan sesuatu tetapi aku ingin memberikannya tengah malam nanti. Aku ingin memberi kalian hadiah Natal yang paling indah dalam hidup kalian."

"Katakan saja sekarang," desak Raja Zhoumi, "Aku tidak akan mau membuka mata sampai tengah malam. Setelah menyantap semua makanan enak yang kau sediakan itu, aku tidak yakin dapat membuka mata."

"Semua makanan itu membangkitkan selera makanku. Aku tidak tahu apakah aku bisa tetap terjaga sampai tengah malam bila aku sudah kekenyangan," timpal Sehun.

"Kalian jahat," kata Luhan kekanak-kanakan, "Aku benci kalian kalau kalian melakukan itu."

"Karena itu beritahu kami sekarang," bujuk Sehun.

"Baiklah," kata Luhan menyerah. Tetapi gadis itu tidak mau memberitahu begitu saja, ia memberikan teka-teki, "Aku sekarang tidak sendirian lagi. Ke mana-mana aku selalu ditemani olehnya. Ke manapun."

"Apa yang hendak kau katakan itu?" tanya Raja Zhoumi keheranan.

Luhan melihat Sehun tetapi pria itu tidak menunjukkan ia juga tahu apa yang dimaksudkan Luhan. "Apakah kau ingin mengatakan aku selalu menemanimu?" tanya Sehun.

"Bukan," rujuk Luhan kesal, "Sekarang aku berbadan dua!"

"Apa!?" kedua pria itu bertanya tak percaya. Mereka saling berpandangan dan saling bertanya, "Apakah itu benar?"

"Saya tidak tahu. Ia tidak memberitahu saya," kata Sehun lalu ia menatap Raja Zhoumi.

"Aku juga tidak tahu. Ia juga tidak memberitahuku," kata Raja Zhoumi.

Kedua pria itu kembali menatap Luhan.

Luhan kesal melihat tatapan tidak percaya itu. "Benar, aku hamil," katanya kesal. Tiba-tiba Sehun memeluk Luhan dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Aku senang sekali mendengarnya, Luhan."

"Kapan kau mengetahuinya?" tanya Raja Zhoumi yang masih tidak percaya.

"Awal bulan ini," jawab Luhan.

"Mengapa kau tidak memberitahuku?" tanya Sehun.

"Aku sudah mengatakannya. Aku ingin memberi kalian hadiah Natal yang paling indah dalam hidup kalian," kata Luhan manja.

"Pantas saja sikapmu akhir-akhir ini menjadi lebih manja," gumam Sehun.

Raja Zhoumi mendengar gumaman itu dan menyahut, "Pasti kau mengandung anak laki-laki, Luhan."

Sehun menurunkan Luhan dan bertanya, "Maksud Anda?"

"Konon ketika Ratu Sooyeon mengandung putra pertamanya, ia menjadi lebih manja dan lebih mudah tersinggung, seperti Luhan saat ini. Sejak itu setiap Putri Kerajaan Aqnetta yang sedang mengandung anak laki-laki selalu menjadi lebih manja dan lebih mudah tersinggung terlebih ketika dalam bulan-bulan pertama kandungannya," Luhan memberi penjelasan.

"Pasti anak dalam kandunganmu itu laki-laki," kata Raja Zhoumi senang, "Aku akan punya cucu laki-laki."

Raja Zhoumi menarik Luhan ke meja dan memberikan banyak makanan ke piring gadis itu.

Tidak ada ruginya Luhan memberikan hadiah Natalnya saat ini karena kedua pria itu sangat senang sehingga mereka tetap terjaga hingga pagi. Mereka yang semula mengatakan tidak mau membuka mata sampai tengah malam, membuat Luhan merasa lelah dan mengantuk tetapi mereka tidak mengijinkan Luhan tertidur.

Sehun berusaha membuat gadis itu terjaga dengan menyuruhnya mengenalkan leluhur-leluhurnya. Luhan membawa Sehun ke Galeri Keluarga di mana di tempat itu terdapat lukisan seluruh keluarga Kerajaan Aqnetta dan harta pusaka mereka.

Ketika mereka tiba di depan lukisan Ratu Sooyeon, Luhan berkata, "Inilah Ratu Sooyeon. Di cantik sekali. Aku selalu mengaguminya."

"Tetapi ia tidak secantik kau," kata Sehun.

Lalu Luhan membawa Sehun ke lukisan kakaknya. "Ini kakakku. Ia mirip sekali dengan Ratu Sooyeon"

Seorang gadis dalam lukisan itu memandang penuh semangat ke sekitarnya. Wajahnya menunjukkan semangatnya yang tinggi. Rambut merahnya bersinar terang. Gadis cantik itu tampak bersinar.

"Kau benar. Ia lebih terlihat bersinar daripada siapa pun. Aku tidak heran kau mengatakan ia lebih cantik darimu. Tetapi aku tetap merasa kau yang paling cantik," kata Sehun. "Yang membuatku heran dan tidak percaya sampai saat ini adalah bahwa kau hamil."

"Aku benar-benar hamil," rujuk Luhan kesal.

"Tetapi kau masih sangat muda."

"Kau tidak senang aku hamil," Luhan menunjukkan rasa tidak senangnya.

"Aku senang, sangat senang, tetapi…"

Luhan menutup mulut Sehun dan berbisik, "Tidak ada tetapi. Sekarang kau tahu kau akan punya anak."

.

.

.

Sehun sangat senang ketika sembilan bulan kemudian Luhan melahirkan putranya yang gemuk. Setelah menanti cukup lama dalam kecemasan di depan kamar, akhirnya ia mendengar tangis bayi. Tak lama kemudian Minseok muncul dengan bayi yang sehat.

Sehun ingin menggendong putranya tetapi ia sudah keduluan kakek si bayi. Sehun mengalah dan ia masuk untuk melihat keadaan Luhan.

Kebahagiaan yang dirasakan Sehun saat melihat Luhan yang duduk bersandar di ranjang dengan keringat bercucuran tak terkatakan. Ia duduk di samping istrinya dan berkata, "Kau ibu tercantik yang pernah kulihat."

"Dan kau akan menjadi seorang ayah yang paling bahagia."

"Tetapi saat ini aku tidak bahagia. Anakku direbut kakeknya."

Luhan tersenyum geli melihat ayahnya mengangkat tinggi-tinggi bayi laki-laki yang baru lahir itu.

"Kau akan menjadi penerusku," kata Raja Zhoumi senang, "Aku akan mendidikmu menjadi pemimpin Reischauer yang paling hebat."

"Kurasa kita harus siap menyerahkan dia ke dalam asuhan ayahku," kata Luhan.

"Aku pikir juga demikian."

Tiba-tiba bayi itu menangis.

Minseok cepat-cepat mengambilnya dari Raja Zhoumi. "Mungkin ia ingin bertemu ayahnya," katanya ketika mengambil bayi itu.

Luhan menerima bayinya dari Minseok.

"Ia bayi yang cantik."

Luhan melihat tubuh mungil itu.

Sehun tertawa geli. "Baiklah, ia bayi yang tampan."

"Aku kalah dengan kalian. Si kecil lebih senang bersama kalian."

"Jangan berkata seperti itu. Kelak ia akan menyayangi Anda pula, Ayahanda," hibur Luhan. "Ia akan mencintai kedua kerajaan ini."

"Ia akan menjadi cucu kesayanganku."

"Kesayangan kita semua sampai anak berikutnya lahir," sahut Luhan sambil tersenyum. Mereka setuju dan senang mendengarnya.

Sehun melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Luhan dan dengan mesra ia menatap wajah bayi mungilnya yang sedang tidur dengan nyenyak di pelukan ibunya. "Aku akan menantikan kehadiran bayi yang lain," bisiknya.

.

.

.

END

.

.

.

Akhirnya END teman-teman. Maaf kalau tidak sesuai dengan imajinasi kalian semua. Terlalu sedikitlah, gak naik rate lah atau apapun itu. Ya, walau begitu aku tetap berharap kalian suka dengan keseluruhan fanfic ni.

Terima kasih buat yang nge-Follow dan nge-Favorite ni fanfic.

Truz terima kasih pake banget, ingat ya pake banget, bangetnya banyaaaaaakk, tuk yang nge-Follow plus nge-Favorite plus nge-REVIEW ni fanfic, baik di setiap chapternya atau pun bolong-bolong, pokoknya udah ninggalin jejak, walaupun aku lebih suka ma yang ninggalin jejaknya rutin.

Maaf, aku gak bisa sebutkan satu persatu.

With Love: Han Lu

.

.

.

"290515"