Classroom
.
.
.
Boboiboy berlari kecil menelusuri taman kastil akademi yang bagai hutan pinus dengan pepohonan menjulang tinggi dan rimbun. Cahaya bulan menjadi petunjuk arah dalam gelap serta para peri bercahaya terbang dengan gesit menemani langkah sang gadis.
Semakin dalam ia berjalan menuju rumah kaca yang akan menjadi kelas belajarnya nanti, semakin berdecak riang hatinya.
Ia menemukan keajaiban yang luar biasa kembali di salah satu menara kastil organisasi. Di mana Leao sang singa penjaga pintu gudang sihir bertahta emas yang telah berusia ratusan tahun, menjaga pintu dengan gagah dan ketatnya.
Boboiboy tak sabar ingin lekas sampai dan melihat lampu yang akan menerangi ruang kelasnya nanti. Tak peduli napasnya yang terengah karena berlari memutih tanda udara dingin yang menyelimuti malam.
Langkahnya terhenti begitu melihat rumah kaca dari kejauhan, bersinar di antara kegelapan hutan pinus menghangatkan suasana dinginnya malam di taman belakang kastil. Ia semakin memekik girang berlari kecil tak sabar ingin lekas sampai.
Begitu kakinya memijak lantai kayu rumah kaca, sang gadis terkejut melihat gurunya telah berdiri di bawah lampu yang menghias menerangi ruangan. Tubuh renta batang pohon tua yang tersembunyi di balik jubah berderit seiring sang nenek membalikkan tubuhnya mendapati Boboiboy melangkah mendekat perlahan dengan sopan.
"Selamat malam, Nenek Foglia… Maaf saya telah meninggalkan kelas dan membuat anda menunggu." Boboiboy membungkuk sopan. Para peri terbang mengelilingi sang tua berceloteh menimbulkan dentingan bel membuat sang nenek tersenyum lebar berkerut-kerut mendengar kisah mereka.
"Hohoho, jadi kau telah menemui Leao dan mendapatkan lampu ini?" kekeh tua sang nenek dijawab anggukan dari gadis mungil yang kini mengangkat wajah memandang lembut orang tua di hadapannya.
"Terima kasih, Boboiboy. Ini lampu yang bagus, anakku. Benar-benar kita butuhkan untuk menerangi ruangan ini. Dan sekarang kita bisa melihat jelas bahwa rumah kaca ini membutuhkan perawatan. Ooh… lihatlah tanaman-tanaman yang malang ini…"
Derit kayu tua terdengar seiring sang tua bergerak mendekati pot-pot bunga yang rusak dan tanaman-tanaman kering tak terawat. Bahkan dinding ruangan telah dirambati tanaman liar dan mengotori temboknya yang berwarna putih.
"Kita membutuhkan pot-pot baru dengan tanah segar serta beberapa alat bersih-bersih. Aku akan memintanya pada gollem penjaga kebun. Kau tunggu di sini saja. Kau boleh membersihkan dan merapikan tempat ini sebisamu, sayang."
Boboiboy mengantar sang nenek hingga pintu. Selanjutnya ia melakukan apa yang telah dipesankan oleh Nenek Foglia.
Dari tasnya, Boboiboy mengeluarkan beberapa alat berkebun seperti sarung tangan, sekop kecil, dan gunting tanaman. Ia telah mempersiapkan dan merencanakannya dari rumah sejak pertama kali ia berkunjung bersama tetua dan Nenek Foglia mengecek rumah kaca itu untuk pertama kali.
Bahkan celemek putih kesayangannya tak ia lupakan, kini terikat manis di tubuh, melindungi dada hingga bawah lututnya.
Boboiboy mulai membersihkan tanaman rambat liar terlebih dahulu sembari membersihkan tiang dinding dari tanah yang menempel dengan sapu yang tergeletak tak terpakai sejak lama di dekat lemari kayu yang sudah tak berpintu. Segala macam benda yang mengisi ruangan ia keluarkan dibantu para peri yang hanya bisa mengangkat beberapa benda kecil namun membuat pekerjaan Boboiboy lebih cepat.
Rak dan lemari yang masih bisa dipakai turut dikeluarkannya juga. Beberapa bongkahan kayu yang telah patah dan tak terpakai ia susun di belakang rumah kaca. Sarung tangan yang dibawa dikenakannya untuk mengangkat pecahan-pecahan kaca yang tajam dan berbahaya. Dengan hati-hati pecahan-pecahan kaca turut disusun dekat bongkah kayu. Perlahan gadis itu melepas kaca yang telah pecah dari teralis jendela.
"Waw… tak kusangka tempat ini cukup luas… Bahkan lantai kayu ini masih bagus sekali."
Sekali lagi, dari tasnya Boboiboy mengeluarkan beberapa kain serta botol kecil berisi cairan pembersih lantai dan kaca. Ember yang tergeletak di tengah ruangan tak terpakai tadi langsung diambilnya. Ditemani para peri, gadis rajin itu menuju sumur yang letaknya tak jauh dari rumah kaca. Berkat penerangan dari lampu yang menggantung dalam rumah kaca, area sumur menjadi tak begitu gelap sehingga dengan mudah Boboiboy berjalan serta menimba air. Kini ember telah diisi air dan dibawa kembali menuju rumah kaca.
Boboiboy membersihkan kaca terlebih dahulu, barulah ia mengepel lantai dan memolesnya agar lantai kayu lebih awet dan nampak berkilau terawat. Dilanjutkannya pada perabotan-perabotan yang ia keluarkan tadi.
Tak terasa waktu terus berjalan. Sang gadis menikmati pekerjaannya yang ditemani oleh para sahabat baru, berdenting bernyanyi mencerahkan suasana malam yang dingin menjadi hangat.
Nenek Foglia kembali dengan seorang gollem yang membawakan alat-alat untuk berkebun serta beberapa pot baru. Keduanya terhenti begitu melihat betapa rapinya rumah kaca tersebut kini. Sang nenek terkagum begitu memasuki ruangan yang telah bersih berkilau tersebut. Gollem yang mengikutinya turut terpukau melihat pot-pot yang tadinya berserakan tak karuan kini berjejer rapi dan berisi tanah segar di sekeliling rumah kaca.
"Nenek Foglia! Saya sudah selesai merapikan rumah ini!" sambut Boboiboy dengan riang. Para peri beterbangan mengelilingi lampu gantung yang menerangi.
"Astaga, ini indah sekali, sayang. Pekerjaanmu benar-benar luar biasa!"
Boboiboy tersipu mendengar pujian dari gurunya. "Ini berkat bantuan para peri kebun. Mereka membantuku bekerja, nek."
Senyuman semakin lebar melengkung di bibir sang tua. "Hmm, di mana kau buang tanaman-tanaman yang telah mati tadi…?"
"Oh, ng… saya menguburnya di belakang. Saya pikir tanaman yang telah mati itu akan menjadi pupuk untuk tanah."
Nenek Foglia tersenyum puas mendengarnya. Ia berjalan menuju halaman belakang ditemani Boboiboy yang menunjukkan tempat di mana ia mengubur semua tanaman mati tadi.
Sang nenek menghirup napas dan menghentakkan tongkatnya pada timbunan tanah yang dimaksud Boboiboy. Sungguh ajaib. Tanaman-tanaman yang telah berupa batang dan akar pohon kering di dalam timbunan tanah tadi kini perlahan merambat keluar dan tumbuh menjadi hijau dan mekar hidup kembali.
Boboiboy terkagum melihatnya.
"A-astaga… Su-sungguh ajaib…!"
"Itulah yang akan kuajarkan padamu nanti, Boboiboy."
"Eh? Be-benarkah? Saya bisa melakukan itu?"
"Tentu. Dengan kekuatan yang ada di dalam dirimu itu kita akan melatih mengendalikannya dahulu. Tentu saja kau harus belajar dengan giat."
Boboiboy mengangguk agak ragu. Ia tak yakin bisa melakukannya tapi sebuah kepercayaan diri timbul dalam hatinya perlahan setelah Nenek Foglia menepuk bahu sang gadis sambil tersenyum.
"Kau spesial, anakku. Berusahalah semampumu."
Nenek Foglia meminta gollem penjaga kebun kastil untuk meletakkan barang-barang yang dibawanya dekat rumah kaca dan membawa pecahan-pecahan kaca yang disusun Boboiboy agar tak membahayakan.
"Hmm, akan kita apakan bongkahan kayu tak terpakai ini…?" ujar sang nenek setelah gollem membawa pergi pecahan-pecahan kaca.
"Ah, nenek. Saya sudah membersihkan rumah kaca ini dan menemukan adanya perapian. Para peri membantu saya membersihkan lubang cerobong asap. Mungkin kita bisa memakai bongkahan kayu ini sebagai kayu bakar agar ruangan lebih hangat…"
Kembali senyuman menghias wajah sang tua. Ia mengangguk setuju.
Tak lama, untuk pertama kalinya para peri kebun merasakan hangat dari api perapian yang kini menyala dalam tungku perapian. Sayap-sayap mereka yang selalu kedinginan kini merasa lebih hangat untuk bergerak. Boboiboy menyuguhkan kue-kue serta teh panas yang ia bawa untuk para peri serta sang guru.
"Oh, ini sangat menyenangkan. Aku mulai berpikir kita bisa menyusun ruang kelas ini menjadi lebih layak untuk ditinggali. Lihat para peri ini. Mereka nampak menemukan kenyamanan di tempat yang lama mereka tinggali ini."
Boboiboy setuju. Ia berdiri dan berjalan menuju tengah ruangan, berkeliling memperhatikan ruangan tersebut.
"Lemari tua ini masih sangat bagus meski tak ada lagi daun pintunya. Pot-pot bisa digantung di atas sini dan berjejer dekat jendela. Ah, di sini bisa diletakkan meja. Buku-buku bisa disusun dalam rak ini dan masih bisa diisi benda lain lagi."
Nenek Foglia menjadi bersemangat mendengar rencana muridnya. Ia turut berdiri dari kursi tua yang ia duduki dekat perapian.
"Kau benar, anakku. Ooh, aku sudah mulai bisa membayangkan akan menaruh segala ramuan dan rempah serta bahan-bahan obat dalam lemari ini. Ukurannya pas sekali untuk toples-toples kaca milikku. Lalu buku-buku yang akan kubawa sebagai bahan belajarmu nanti bisa kita susun di rak seperti yang kau katakan. Meja dekat jendela dan tanaman-tanaman akan mengisi ruangan ini. Ah, aku akan meminta Kepala Sekolah untuk mengganti kaca-kaca yang telah pecah dengan yang baru. Lalu kita akan butuh gantungan berkait untuk menggantung segala alat meramu. Hmm, masih ada lemari yang menganggur di sini… Apa kau punya ide untuk apa lemari ini?"
"Oh! Apa saya boleh membawa perangkat teh dan beberapa alat makan? Saya ingin sekali menyuguhkan kue-kue untuk para sahabat saya di sini! Beberapa toples berisi daun teh, gula, dan madu!"
Nenek Foglia tertawa riang dan menjadi lebih bersemangat membayangkan ruang kelas yang begitu manis serta cerah. Ia menepuk dan memeluk murid satu-satunya itu, membiarkan Boboiboy membalas pelukan sang guru dengan erat penuh bahagia.
Tak terasa jam sekolah telah usai.
Begitu bel terdengar berdentang menggema, dari kejauhan terdengar gemerisik mendekat dan semakin keras… yang ternyata Fang melompat dengan cepat melesat menjemput kekasihnya di rumah kaca kelas Boboiboy.
"Boboiboy! Aku dataaaang!"
"Fa-Fang…? Astaga, kenapa terburu sekali…?"
"Ketika jam istirahat tadi aku ingin sekali mengunjungimu! Tetapi ketika aku berpapasan dengan nenek tua ini yang sedang berbincang dengan gollem penjaga kebun di halaman sekolah tadi, aku justru dilarang untuk mengunjungimu! Menyebalkan!"
Nenek Foglia terkekeh jahil mendengar protes Fang yang membuat Boboiboy merasa tak enak hati karena pemuda itu jelas-jelas terlihat tak menyukai Nenek Foglia dan tak segan menunjukkan ketidak sukaannya.
"Fang! Kau tak boleh begitu…!"
"Huh! Biar saja! Habisnya… aku… wo-wow…"
Fang takjub akan rumah kaca yang tadinya tak terawat dan nampak terasing kini menjadi lebih bersih dan rapi. Ia langsung tahu bahwa itu adalah hasil pekerjaan Boboiboy.
"Ka-kau yang membersihkan dan merapikan tempat ini…?"
"Aku dibantu para peri kebun. Tempat ini manis sekali! Oh, aku begitu bersemangat untuk belajar!"
Nenek Foglia tersenyum lebar. Ia mengelus lembut kepala gadis berambut hitam pendek yang menjadi muridnya itu.
"Nah, sekarang pulanglah dahulu. Beristirahatlah, anakku. Besok kita akan lebih sibuk mengisi ruangan ini menjadi ruang kelas yang menyenangkan."
Boboiboy mengangguk antusias dan berpamitan pada guru dan sahabat penghuni rumah kaca.
Fang hanya mengendus sebal melihat sang nenek tua yang menurut sang pemuda selalu mengganggu hubungannya dengan Boboiboy. Sementara Nenek Foglia selalu terkekeh geli melihat kelakuan werewolf muda yang tak pernah menutupi perasaannya itu.
Fang berhati-hati dalam berlari dan melangkah menuju kastil Keluarga Lang. Di punggungnya sang maid bertubuh mungil tengah terlelap karena lelah sambil tersenyum. Senyum bahagia dan puas. Sama seperti ketika perjalanan pulang kemarin.
Fang tak bisa menahan senyumnya. Ia tahu Boboiboy sangat bahagia setelah membersihkan rumah kaca yang akan menjadi kelasnya itu.
"Gadis aneh. Kau ini senang sekali bekerja." Kekeh Fang kecil sambil terus berlari dengan penuh hati-hati.
Dengan lembut, Elizabeth membantu Boboiboy yang sudah terkantuk-kantuk luar biasa untuk berganti pakaian. Gadis itu nyaris tertidur di kamar mandi kalau tak ditemukan Elizabeth yang membuka pintu dan melihat Boboiboy bersandar di dinding kamar mandi seusai menyikat giginya.
Kini dalam balutan gaun tidur, gadis mungil itu terlelap dengan cepat begitu kepalanya menyentuh bantal nan empuk dan tubuhnya dilindungi dengan selimut tebal hangat oleh Elizabeth.
Sang Nyonya bergegas menuju ruang kantor Hao di mana Fang tengah mengobrol dengan ayahnya mengenai apa yang Boboiboy ceritakan padanya sebelum gadis itu tertidur di punggung selama perjalanan pulang tadi.
"… rumah kaca itu menjadi benar-benar bersih dan rapi! Boboiboy bahkan bercerita besok ia akan merapikan dan mengecat ulang tiang-tiang dinding yang sudah kotor itu. Serta memoles lemari dan mengisinya dengan beberapa perangkat teh agar bisa menyeduhkan teh untuk para peri kebun serta Nenek Foglia di sana…"
"Oh! Apa!? Benarkah!?"
Fang dan Hao terkejut mendengar Elizabeth memekik riang tiba-tiba dari pintu.
"Oh! Aku akan membawakan perangkat teh yang paling manis untuknya! Hmm, kebetulan besok pagi kau ada keperluan di organisasi, aku akan ikut denganmu, Hao! Agar Boboiboy tak repot membawa perangkat teh dan mungkin aku bisa membantu dengan menyuruh pekerja mengecat rumah kaca itu besok!"
Hao menghela napas. Ia berencana akan pergi sendiri ke organisasi karena urusan para petinggi. Kini Elizabeth memaksa agar dirinya ikut karena ingin membantu merapikan rumah kaca untuk gadis kesayangannya yang kini terlelap damai di kamar.
Fang terkekeh geli melihat ibunya heboh memaksa ayahnya untuk tidur cepat agar bisa bersiap besok pagi.
Seperti biasa di mana pagi hari tiba maka Boboiboy turut bangun meski semalam ia telah bekerja keras hingga lelah. Jam tubuhnya terus membangunkannya pada waktu yang sama di pagi hari.
Gadis itu justru selalu bangun dengan senyum di wajah.
Ia menyapa mawar putih yang menghias jendela kamar dan menuruti nasihat Nenek Foglia agar memakan beberapa batang mawar putih setiap ia bangun pagi untuk mengisi tenaga.
Setelah mengenakan seragam maid kesayangannya, sang pelayan mungil berjalan riang perlahan menuju dapur tua kesayangannya, menyapa para sahabat yang telah menunggu di luar jendela.
Bahkan tiga ekor tikus gandum yang biasa bersembunyi di lubang telah bersiap di atas meja, mencicit menyapa sang gadis.
"Selamat pagi, semua!"
Dengan lincah dan rajin, tangan-tangan Boboiboy memasak sarapan penuh ketelatenan. Santapan dengan aroma harum memenuhi dapur. Dibantu para peri yang membawakan dedaunan segar untuk dijadikan teh serta buah-buahan liar yang dibawakan tupai serta landak.
Tak bosannya para sahabat mendengar cerita sang gadis sembari menikmati sarapan. Melodi lembut nan ceria mengalun selama ia bekerja ditemani para sahabat.
Hari-hari yang menyenangkan bagi sang gadis, namun ada satu hal yang hari itu tak biasanya ia temui. Hao dan Elizabeth keluar dari kamar mereka dengan pakaian lengkap hendak keluar.
"Tu-Tuan dan Nyonya…? Apa anda akan bepergian?"
Elizabeth memekik girang dan langsung mendekati bahkan memeluk erat gadis kesayangannya. "Boboiboy! Sayangku! Aku senang sekali mendengar cerita dari Fang semalam mengenai ruang kelas barumu! Aku tak sabar ingin melihat rumah kaca itu!"
Boboiboy terkejut dipeluk sedemikian rupa oleh Elizabeth tiba-tiba. Gadis itu langsung teringat mengenai rumah kaca yang diceritakan Fang pada ibunya.
"Ah, Nyonya… Ng, saya ingin minta ijin. Anu, bolehkah saya membawa perangkat teh yang anda berikan pada saya ke rumah kaca itu…?"
Elizabeth terdiam. Ia tahu jelas betapa bahagianya Boboiboy menjamu para sahabatnya di dapur tua dengan perangkat teh yang diberikan oleh Sang Nyonya untuk gadis itu.
"Tapi, bukankah kau senang sekali menggunakan perangkat itu untuk menjamu teman-temanmu, sayang?"
Boboiboy terdiam. Ia baru menyadarinya, bahwa perangkat teh yang begitu berharga baginya itu senantiasa ia gunakan untuk para sahabatnya yang selalu menyapa di pagi hari dari balik jendela.
"Oh, benar juga…"
"Jangan khawatir, sayang! Aku tahu bagaimana memecahkan masalah ini! Ah, ngomong-ngomong kenapa kau bekerja pagi hari begini? Kau pasti masih lelah! Istirahatlah kembali!"
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya justru terbiasa begini dan senang sekali bisa melakukan banyak hal untuk orang-orang di sekeliling saya. Oh, sebelum Tuan dan Nyonya pergi… Ng, mohon tunggu sebentar saja…"
Elizabeth dan Hao terheran melihat Boboiboy bergegas lari menuju dapur antik kesayangannya itu. Tak lama ia membawa sebuah keranjang yang berisi sesuatu terbungkus oleh kain.
"Maaf kalau saya merepotkan. Tapi bawalah ini untuk sekedar mengisi perut anda jika lapar. Ini sarapan yang saya buat tadi."
Elizabeth kembali memekik girang dan memeluk Boboiboy dengan gemas tanpa ampun. Hao mulai khawatir calon menantunya akan pingsan kehabisan napas jika ia tak menghentikan Elizabeth.
Kini Sang Nyonya duduk dengan nyaman sambil memeluk keranjang dari Boboiboy di atas punggung Hao yang telah berubah menjadi serigala hitam besar dan melesat menuju kota di mana kastil organisasi berada.
Di tengah perjalanan, Elizabeth meminta suaminya berhenti sebentar. Hatinya begitu penasaran membuka isi bungkusan yang Boboiboy berikan untuk mereka.
Pada wajah cantik Sang Nyonya vampir terlukis senyuman nan lebar. Ia meminta Hao duduk di sampingnya menikmati pemandangan perbukitan yang hijau segar tertutupi sedikit oleh kabut tipis sebelum melanjutkan perjalanan ke organisasi. Werewolf yang telah mengubah wujudnya kembali menjadi seorang pria terheran sembari mengikuti kata-kata istrinya.
Dari keranjang, Elizabeth mengeluarkan sebuah sandwich lezat berisi daging dan sayur serta telur rebus yang terpotong-potong rapi. Mentega gurih teroles lembut di permukaan renyah roti yang terpanggang hangat. Dari sebuah termos berisi teh kesukaan Sang Nyonya dituang pada tutup termos sehingga mengepul asap menghangatkan hati pasangan yang kini duduk berdampingan menikmati pemandangan pagi hari dan sarapan buatan gadis kesayangan mereka.
Kembali pada kastil Keluarga Lang, gadis maid yang kini telah bersiap dalam balutan mantel berpamitan pada para sahabatnya untuk pergi ke pasar di desa kecil seperti biasa. Para tupai berlompatan bersama tiga tikus mungil yang dengan gesitnya memanjat pagar untuk mengantar kepergian sang gadis pelayan.
Di jalan setapak depan kastil, ia menunggu kereta kuda yang mengangkut jerami seperti biasa. Gadis itu menyapa petani yang senantiasa rajin mengantar jerami ke desa untuk dijual. Sang petani mengangkat topinya sopan sembari tersenyum membalas sapaan gadis yang sudah berlangganan turut serta menumpang di gerobaknya yang ditarik kuda menuju desa untuk berbelanja.
"Selamat pagi, Boboiboy!"
"Selamat pagi, pak! Ini sarapan untuk anda."
"Woah! Terima kasih! Masakanmu memang selalu terbaik! Bahkan istriku mengakuinya. Ia titip salam untukmu, nak."
"TUNGGUUUUUUU!"
Teriakan terdengar dari arah belakang gerobak yang sudah bergerak agak jauh dari kastil. Membuat Boboiboy dan petani yang memegang tali kendali menoleh, mendapati Fang yang telah rapi mengenakan kemeja putih lengkap dengan sweater biru tua dan celana panjang hitam berlari mendekati mereka.
Ia melompat dari jauh dan mendarat mulus di atas jerami dalam gerobak mengejutkan Boboiboy.
"Fa-Fang!? Kenapa kau-!? Seharusnya kau istirahat agar tak lelah malam nanti!"
"Aku tak mau! Aku mau ikut menemanimu ke pasar!" ujar Sang Tuan Muda sambil membetulkan letak kacamatanya dan membersihkan jerami-jerami yang menempel pada bajunya.
"Aduh, Fang… Bagaimana kalau sampai Tuan dan Nyonya tahu…"
"Biarin aja! Aku' kan mau menemanimuuuu…!"
Petani di sebelah Boboiboy terus memegang kendali kuda yang menarik gerobak sambil tertawa mendengar Fang merajuk manja. Mau tak mau gadis mungil itu membiarkan Fang meneruskan tidurnya di antara jerami yang empuk hingga mereka sampai di pasar.
Para pedagang dengan hangat dan ramah menyapa gadis pelayan kesayangan Keluarga Lang. Bahkan Fang kini tak menyembunyikan wujudnya lagi, tanpa segan berjalan dengan gagah di samping pujaannya menemani belanja. Meski kadang-kadang membuat Boboiboy repot karena pemuda itu selalu tertarik pada aroma daging dan merajuk bagai anak kecil meminta agar dibelikan daging panggang. Sementara Elizabeth selalu melarang Fang untuk jajan sembarangan, karena sang ibunda tahu porsi makan anaknya begitu besar. Bisa-bisa uang belanja Boboiboy tak cukup untuk membeli bahan makanan lain.
Hari-hari yang ceria dijalani oleh gadis berseragam maid yang setiap hari hatinya terus berdoa dan bersyukur.
"Atok, aku bahagia sekali di sini. Atok tak perlu khawatirkan Boboiboy lagi. Ayah dan ibu juga. Tenanglah di surga sana. Kini Boboiboy merasa sangat bahagia menjalani hidup dan tak sendirian lagi. Semoga Atok, ayah, dan ibu juga berbahagia di sana…"
TBC…
Salam kenal untuk para pembaca baru ^^ Saya senang sekali mendapati beberapa mengenalkan diri melalui PM maupun review ^^
Terima kasih kalian sudah menyempatkan diri membaca ff saya, juga para pembaca setia yang masih mengikuti ff ini meski saya harus hiatus lama.
Akhir-akhir ini kondisi badan saya memang kurang mengenakkan, mungkin karena pergantian cuaca. Musim hujan kali ini benar-benar membuat lega dan menyejukkan. Semoga kasus asap di daerah-daerah yang belum selesai dengan turunnya hujan kita bisa bernapas lega kembali. Semoga teman-teman sehat selalu.
Saya baru ingat kalau saya memiliki akun twitter yang sudah saya buat kira-kira setahun lalu... dan nyaris saya lupakan xD
Silakan follow twitter saya dengan nama akun Widzilla ^^ Meski mungkin saya kurang sering bercuit ^^
Ada pertanyaan kira-kira berapa chapter lagi ff Melodi Malam Hari ini selesai.
Saya belum memperkirakannya. Tapi mungkin akan panjang. Saya sudah memikirkan akhir cerita namun untuk mengisi pertengahan cerita sungguh sangat sulit. Banyak yang ingin saya ceritakan dan sampaikan. Dan jika hanya mengambil point penting saja terkadang saya kurang puas.
Semoga ada waktu senggang di mana saya bisa menulis lagi. Mohon pengertian teman-teman kalau saya harus hiatus. Terlebih ada libur natal-tahun baru nanti. Kemungkinan saya harus pulang kampung berkumpul dengan keluarga dan meninggalkan ff untuk sementara.
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang sudah memberi semangat dan memberi bantuan asupan melalui Facebook dan Deviantart ^^ Tak terkira kebahagiaan saya jika melihat ada yang membuat fanart dari ff yang saya tulis xD
Salam sayang,
Widzilla
