Naruto © Kishimoto Masashi.
This is a work of fanfiction. No material profit is taken.
soba ni iru kara
A Naruto fanfiction
.
[bagian 12]
.
"Jadi…" Pemuda berkemeja biru garis itu mengaduk kopi kentalnya sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. Mata onyx pekatnya menatap dalam-dalam sepasang emerald milik gadis yang tengah duduk di hadapannya dengan wajah setengah ditekuk, "…bagaimana persiapanmu? Besok ujian dimulai."
Gadis emerald itu memutar bola mata bosan. Sejak mereka memulai taruhan mereka, topik yang dibicarakan Sasuke hanya berputar-putar tentang ujian dan ujian. Sakura merucutkan bibirnya sambil menyangga kepalanya dengan tangannya.
"Diam."
Reaksi jengkel Sakura membuat Sasuke menyeringai lebar. Perdebatan mengenai persyaratan yang diajukannya sudah menjadi topik basi di antara mereka. Namun Haruno satu ini tidak juga lelah untuk memaksa Sasuke mengganti persyaratannya – yang tentu saja hanya berakhir sia-sia mengingat betapa keras kepalanya seorang Sasuke.
"Yang jelas aku akan mengalahkanmu!"
Sasuke merebahkan punggungnya di sandaran sofa café di mana mereka menghabiskan akhir minggu mereka, mencari posisi paling nyaman untuk memulai perdebatan mereka lagi. Café favorit Sakura kali ini tak begitu ramai sehingga membuat mereka lebih leluasa berbicara. Hanya ada segelintir pengunjung yang duduk di meja agak jauh dari meja mereka, juga tengah mengobrol santai.
"Semangat yang bagus. Kau mulai terdengar seperti Lee," lagi-lagi Sasuke menyeringai. Kali ini ditanggapi Sakura dengan ekspresif ; ujung bibir terangkat sebelah, jidat lebar yang mengerut rapat, dan emeraldnya yang memandang Sasuke jijik, bingung sekaligus jengkel.
"Menggelikan sekali!" ucap Sakura sinis dan mengundang Sasuke untuk terus menyeringai.
Sakura ikut menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa di belakangnya, kemudian melipat tangannya di depan dada dengan kening berkerut rapat. Ini dia tingkah Sakura jika sudah merasa tidak nyaman dengan suatu obrolan. Bola matanya berputar sok tidak peduli, walaupun tak bisa dipungkiri sinar kejengkelan nyata menghiasi emeraldnya yang dihiasi frame kacamata tebal.
Karena Sasuke terlalu sering menggodanya dengan topik menyebalkan itu! Bagaimana tidak, tiap kali mereka tengah berdua seperti ini, Uchiha keras kepala itu tiba-tiba mengungkit-ungkit nama seorang kakak kelas yang paling dihindari Sakura, Rock Lee. Jangan tanya Sakura kenapa ia selalu ambil jarak dan ancang-ancang kabur atau sekedar pasang kuda-kuda saat Rock Lee ada di sekitarnya – atau nyaris mendekatinya.
Karena senpai noraknya itu sudah menembaknya dengan sangat tidak menyenangkan walau hanya untuk sekedar diingat. Bagaimana mungkin senpai berambut mangkok itu menembak dirinya – yang notabene adalah pacar teman sekelasnya sendiri – tepat di depan hidung seorang Sasuke Uchiha! Dan jangan lupa juga tentang betapa malunya Sakura disaksikan nyaris seluruh murid sekolahnya!
Dan lagi-lagi, jidat Sakura berkerut rapat, wajahnya bersemu merah antara menahan malu dan kesal, dengan bibir merucut lancip. Di hadapannya Sasuke masih santai duduk bersandar sambil memainkan sendok kopinya. Pemuda raven satu ini tak pernah puas menggoda Sakura. Sakura terlalu menggemaskan untuk sekedar dibiarkan, ia jadi ketagihan menggoda gadis kecilnya itu.
Dengan gusar Sakura mengacak rambutnya yang dibiarkan tergerai itu. Wajahnya yang kusut bertambah semrawut dengan rambut yang berantakan. Sasuke kali ini hanya menaikkan sebelah alis, menandakan ia bingung.
"Hentikan." Suara Sakura teredam karena gadis buble gum itu memilih menyembunyikan wajahnya dengan berbantalkan lengannya yang dilipat di atas meja.
Sasuke tak berkomentar, hanya alisnya yang bergerak ekspresif. Walau Sakura tak bisa melihat gerakan alisnya, tapi ia sudah paham benar kalau si Uchiha ini tengah bingung dengan sikapnya. Gestur tubuhnya yang berusaha mendekat padanya, juga kaki-kaki jenjangnya yang bergerak tak nyaman di bawah meja bisa Sakura rasakan. Namun gadis itu tak ada niatan untuk memuaskan kebingungan Sasuke. Ia hanya diam hingga bermenit-menit, membuat Sasuke semakin bergerak-gerak gusar.
"Ayo pulang saja," ajak Sasuke memecah keheningan yang tercipta bermenit-menit di antara mereka. Bahkan seorang Sasuke Uchiha yang malas bicara pun bisa menjadi tak nyaman dengan kebisuan mereka. Onyxnya dengan intens mengawasi pergerakan Sakura yang tak kunjung mengangkat kepalanya.
Hanya terdengar gumaman yang tidak terdengar sebagai jawaban. Perlahan gadis di hadapannya mulai menggerakkan kepala hingga akhirnya tegak menghadapnya. Emeraldnya terkunci pada onyxnya yang masih setia menatap Sakura tajam. Hanya ada bosan, cemas, jengkel, dan rasa kagum yang selalu tampak dalam binar mata Sakura.
Sasuke bangkit dari duduknya, setelah meletakkan sejumlah uang dan sekaligus tip untuk pelayan café itu. Sakura dengan ogah-ogahan ikut bangkit dan bergelayut manja di lengan Sasuke. Seringai tipis lagi-lagi menghiasi wajah stoic Sasuke.
"Hng, selama seminggu kita tidak boleh bertemu."
Sasuke yang berjalan di samping Sakura terhenyak mendengar ucapan – yang lebih terkesan seperti keputusan sepihak dari Sakura. "Kenapa?" Tanpa bisa dicegah, seraut wajah bingung dan penolakan ganti mendominasi wajahnya.
Sakura mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya dari jalan menuju parkiran di depannya. "Aku harus konsentrasi."
Sasuke mengacak rambut emonya dengan sebelah tangannya yang bebas. "Tidak," tolaknya dengan tegas. "Tentu saja tidak ada hal semacam itu dalam perjanjian." Rahang kokohnya mengeras, diiringi dengan tatapan dinginnya yang selalu tajam.
Sakura mengerutkan keningnya, berpikir. "Tidak ada. Ini hanya caraku untuk memusatkan konsentrasi."
"Dengan tidak menemuiku?"
"Dengan menjauhimu."
Sasuke diam-diam menelan ludah. Onyxnya menatap kacau jejeran mobil dan motor yang diparkir rapi. Otaknya mulai berputar mencari alasan yang tepat.
"Tapi kau tidak bisa melarangku."
Sakura mengangguk menyetujui. "Ya. Kau bisa datang kapan saja ke rumah," kepala pink itu mendongak menatap Sasuke yang lebih tinggi darinya. Seringai Uchiha nyaris jebol, kalau saja Sakura tidak melanjutkan kalimatnya, "tapi yang akan menemuimu adalah Tou-san, Kaa-san, atau Nii-san." Sakura mengerling menggoda, membuat Sasuke yang segera ingin membantah jadi menutup mulutnya lagi.
Tak ada jawaban dari Sasuke hingga mereka sampai di tempat Sasuke memarkir motor hitamnya. Disodorkannya helm hitam yang biasa dipakai Sakura kepada si penumpang setia.
"Ini caramu menjatuhkanku?"
Sakura urung memakai helmnya, kemudian mendongak hingga matanya tertumbuk pada onyx hitam Sasuke yang kali ini entah kenapa dipenuhi sinar keputusasaan. Kerutan tipis menghiasi keningnya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu."
Sasuke memilih menaiki motornya. Rahangnya mengeras sekali lagi. "Terserah kau."
Dengan galau, Sakura naik ke boncengan Sasuke. Kemudian seperti biasa ia melingkarkan lengan kecilnya di pinggang Sasuke, lebih erat dari biasanya. Tanpa banyak komentar, Sasuke menjalankan motornya seperti biasa. Menikung dengan tajam di tiap belokan hingga membuat Sakura kebat-kebit di boncengannya. Mereka sampai di depan rumah Sakura jauh lebih cepat dari biasanya.
"Hah… ha… hah…" Sakura segera turun dari boncengan motor Sasuke, walaupun masih dengan jantung berdegup tak normal. "Ini…" Disodorkannya helmnya dan dengan segera diterima oleh Sasuke.
"Ehm…" Sakura berusaha membuka percakapan sebelum mereka berpisah. Tapi sepertinya Sasuke sedang tidak ingin untuk bicara. Kaca helmnya masih tertutup rapat – hal yang jarang terjadi jika mereka tengah bersama. "Sa-"
Belum sempat Sakura menyelesaikan kata-katanya, motor Sasuke sudah tancap gas dengan raungan mesinnya yang menjadi-jadi. Sakura refleks terlonjak ke belakang sambil memegang dada kirinya. Ditatapnya motor Sasuke yang menjauh dengan nanar.
—
—
"Kau sedang bertengkar dengan Sasuke?"
Sakura yang baru saja masuk ke dalam rumahnya, langsung disambut dengan pertanyaan mengintrogasi dari nii-sannya. Dengan gamang, ia menggeleng.
"Tidak."
Sasori mengangkat sebelah alisnya. "Dia sepertinya sedang tidak dalam mood bagus. Padahal tadi pagi ia masih ramah-ramah saja."
Sakura menghela napas berat. Entah kenapa sikap Sasuke barusan jadi mengusik pikirannya, terlebih dengan nii-sannya yang mulai mengada-ada.
"Tidak, Nii-chan."
Alis Sasori belum juga turun, malah semakin terangkat tinggi. "Aku kenal Sasuke lebih cepat dari kau, Sakura."
Sakura memilih untuk tidak menggubris ocehan kakaknya dan berjalan ke arah dapur rumahnya yang sepi.
"Hei…" Rupanya kakaknya ini tidak akan membiarkannya pergi sebelum ia mendapat jawaban.
Sakura memutar bola matanya sebal, kemudian berbalik menghadap Sasori. "Kami tidak sedang bertengkar, Nii-chan."
Sasori mengangkat bahunya sekilas. "Hanya ingin tahu."
Sakura menundukkan kepalanya lesu, mengundang rasa penasaran Sasori sekali lagi. "Apa yang terjadi?" tanya Sasori lembut sambil mengusap-usap puncak kepala Sakura.
Adiknya menggeleng sekilas. "Aku hanya bilang tidak mau menemuinya selama ujian."
"Kenapa begitu?"
Dengan ragu, Sakura mulai menceritakan taruhan konyolnya dengan Sasuke, sampai saat Sasuke yang akhirnya – sepertinya – kesal dengan keputusan Sakura. Sepanjang cerita, Sasori hanya diam mendengarkan sambil sesekali tersenyum geli, bahkan nyaris terbahak.
"Ada-ada saja…" Sasori menyeringai lebar, membuat Sakura mendelik ganas padanya. "Tou-san dan Kaa-san sudah tahu?"
Sakura angkat bahu. "Entahlah. Tapi Sasuke bilang dia sudah pernah mendiskusikan hal ini dengan mereka."
"Pernah?" Sasori menggerakkan dua jari telunjuknya naik turun dan membuat tanda kutip seiring dengan pertanyaannya. "Kapan?"
Lagi-lagi Sakura menggeleng. "Tidak tahu. Lagipula, Tou-san dan Kaa-san tidak pernah mengungkit-ungkit masalah itu. Sasuke hanya melebih-lebihkan saja mungkin." Dengan cuek, Sakura berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan nii-sannya yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Hm, tunangan? Terdengar sangat Sasuke…"
—
—
Sakura mengetukkan pensilnya berkali-kali ke mejanya. Dengan bosan, ditopangnya kepala merah jambunya dengan tangannya yang lain. Matanya menatap deretan angka dan variabel-variabel x dan y yang tercetak di buku tebalnya. Apalagi kalau bukan matematika dan angka-angkanya yang selalu terlihat memuakkan? Patut disyukuri Sakura dianugerahi kecerdasan lebih, sehingga pelajaran paling memuakkan baginya tidak jadi begitu masalah.
Yang menjadi masalah adalah rasa malas luar biasa yang selalu menghinggapinya begitu ia harus berhadapan dengan angka-angka membingungkan itu. Sepertinya Haruno satu itu mengidap semacam sindrom X atau semacamnya. Walaupun tentu saja tidak separanoid Ino yang langsung histeris begitu harus mengerjakan soal-soal matematika. Seperti tadi pagi, mereka semua – tentu saja yang dimaksud dengan semua adalah semua dari mereka – berkumpul di rumah Hinata untuk belajar bersama. Hinata, TenTen dan dirinya saling berdiskusi membahas pelajaran mereka. Sedangkan Ino, Shikamaru, Naruto, Sasuke dan nii-sannya berkumpul di sudut lain karena mereka memang setingkat di atas Sakura.
Sakura tak henti-hentinya mengeluh karena suara Ino yang memang pada dasarnya kelewat 'riang' membuat konsentrasi Sakura bolak-balik pecah. Hinata hanya berusaha menenangkan Sakura yang sudah di ambang jengkel dan TenTen yang malah lebih sering berseru kesal untuk membuat Ino diam. Memperparah sebenarnya.
Sedangkan kawanan nii-sannya? Jangan tanya. Ino tentu saja sibuk dengan makian dan berbagai macam sumpah serapahnya pada buku latihan soal di depannya. Nii-sannya berusaha tetap fokus pada bukunya sendiri, walaupun masih disibukkan dengan menenangkan Ino. Shikamaru? Tentu saja dengan berbantal buku-bukunya, ia nyaman tidur. Tidak terusik sama sekali dengan lengkingan Ino. Sepertinya kepala nanas itu sudah biasa mendengar Ino berisik. Sisanya, Naruto dan Sasuke duduk di sofa rumah Hinata dengan malas. Tangan keduanya masing-masing memegang PSP dan fokus memelototi layar mini di hadapan mereka. Tidak begitu mengherankan. Tentu saja Sasuke yang sudah lebih menguasai matematika daripada gurunya sendiri – berkat otaknya yang cerdas luar biasa. Naruto?
"Hidup terlalu singkat untuk dipakai serius. Santai saja!" kilah pemuda spike itu diiringi dengan cengiran lebarnya. Cengiran itu tak bertahan lama karena TenTen sudah melemparkan sembarang buku yang dilihatnya ke wajah bodoh Naruto.
Dan pertengkaran kecil pun lagi-lagi tercipta menambah riuh suasana. Terakhir, gadis pink itu yang ganti mengamuk hingga membubarkan acara belajar bersama mereka secara paksa dan membuat jadwal pulang mereka bergeser jauh lebih cepat dari yang semestinya.
Sebuah ketukan pelan dari pintu kamarnya mengusik lamunannya dan menyadarkan Sakura. Dengan kening berkerut, Sakura berseru mengijinkan sang pengetuk masuk. Nii-sannya. Kerutan di dahi lebar Sakura bertambah rapat. Tumben sekali nii-sannya yang tidak kenal adat sopan ini mengetuk pintu?
"Tumben…" sambut Sakura begitu Sasori membuka pintu kamarnya dan masuk.
"Apa?"
"Tumben mengetuk pintu," jawab Sakura tanpa minat sambil mengembalikan posisi duduknya kembali menghadap meja belajarnya yang penuh.
Di belakangnya, Sasori berdecak. "Kau pikir aku tidak tahu aturan apa…"
Bahu Sakura terangkat sekilas, menunjukkan ketidakpeduliannya pada kehadiran Sasori. "Kurasa…" gumamnya tak berminat.
Sakura tidak begitu memedulikan nii-sannya yang kini sudah duduk di sofa single yang ada di dekat meja belajarnya, tepat di samping rak bukunya yang penuh.
"Sasuke bilang sesuatu pada Nii-chan?" tanya Sakura tiba-tiba, memecah keheningan yang sesaat tercipta di kamar Sakura yang didominasi warna putih dan pink itu.
Sasori mengerutkan keningnya lagi, mengalihkan tatapan matanya dari buku di pangkuannya ke lantai kayu. Kalau Sakura sudah memanggilnya dengan 'nii-chan' begitu, pasti adik manisnya itu menginginkan sesuatu dengan sangat.
"Tentu. Kami bicara, hampir di tiap kesempatan," jawab Sasori ragu sembari berpikir.
Sakura memutar bola matanya jengah. "Bukan itu yang kumaksud, Nii-chan."
Nah ini dia. Kalau Sakura sudah memanggilnya dengan 'nii-chan' ditambah dengan tekanan dalam pengucapannya, berarti Sasori harus segera tahu apa mau gadis satu ini. Kalau tidak, tentu saja selain pemuda merah itu akan ditendang jauh-jauh dari kamarnya dan bisa dipastikan Sakura akan merajuk.
Bukan masalah Sakura yang merajuk yang membuatnya cemas, tapi lebih pada nasihat beruntun kaa-sannya. Begitu cerewetnya Sakura, begitu pula dengan kaa-sannya.
"Erm… Kalau yang kau maksud tentang kau, uhm tidak. Sasuke tidak menyinggung tentang dirimu sama sekali."
Dari kursi putarnya, Sakura menghela napas berat kemudian memutar kursinya menghadap mejanya lagi. Dengan lemas, direbahkannya kepalanya ke mejanya.
"Kalian kenapa memangnya?"
Sakura menggelengkan kepalanya lemah, kemudian mengubah posisi kepalanya untuk memandang nii-sannya. "Memangnya aku berlebihan untuk melarangnya menemuiku seminggu?"
Sasori memutar bola matanya jengah, menyadari betapa mirip caranya memutar bola mata dengan Sakura melalui pantulan dirinya di cermin besar Sakura.
"Gadis bodoh…" Dengan gerakan perlahan, Sasori bangkit dan beranjak menuju kursi Sakura. Tangannya mengusap rambut Sakura lembut. "Tidak peka sekali kau ini."
Sakura mencekal pergelangan tangan Sasori lemah. "Apa maksud Nii-chan?"
Seulas senyum terukir di wajah kalem Sasori. "Itu namanya sayang, bodoh."
Sakura merucutkan bibirnya, tidak begitu menangkap maksud nii-sannya. "Aku tahu! Aku juga menyayangi Sasuke! Lalu?" tanyanya setengah frustasi.
"Dia membutuhkanmu lebih dari yang kau tahu, Sakura," jawab Sasori kalem.
Sakura memandang Sasori dengan tatapan aneh. Tepatnya sorot keheranan dan terperangah melihat tidak ada secuil pun sinar jenaka dari Sasori. Hal yang jarang didapatinya selama ini.
"Dia bisa bilang kalau memang itu maksudnya."
Lagi-lagi Sasori memutar bola matanya. "Jangan bodoh. Sasuke itu harga dirinya tinggi. Mana mau dia bilang seperti itu."
Sakura mendengus di kursinya. "Uchiha bodoh."
"Kau juga bodoh karena menyukainya."
"Ah, bagaimana dengan Ino?"
Sasori yang hendak berbalik untuk kembali duduk di sofa Sakura, berhenti sejenak. "Bagaimana apanya? Kau mengalihkan pembicaraan."
"Nii-chan… Nii-chan sedang dekat kan dengan Ino?"
Sasori mengenyakkan posisinya di sofa empuk itu sebelum mulai membuka bukunya lagi. "Kau terlalu banyak bergosip."
Boneka beruang kecil yang ada di samping Sakura segera melayang mengenai kepala Sasori, membuat sang pemilik kepala melotot dan segera menyuarakan protesnya.
"Nii-chan playboy!"
Sasori terlongong bingung. Keningnya berkerut rapat. "Apa maksudmu?"
Sakura mendengus sekali lagi. "Nii-chan harus benar-benar serius pada Ino! Mengerti?"
Sasori memutar bola matanya jengah. "Memangnya siapa yang berniat mempermainkannya?" gumamnya dengan lirih.
"Eh? Apa?"
"Tidak."
"Nii-chan payah!"
"Biar!"
—
—
Matematika? Centang dengan kegagalan besar! Sakura mengurut keningnya yang tiba-tiba terasa penat. Baru saja ujian matematika di jam pertama ini berakhir begitu bel sirine bergema di seluruh koridor sekolah, membuat nyaris seluruh siswanya mendesah frustasi lantaran belum menyelesaikan ujian di hadapannya.
TenTen yang duduk di pojok kelas – tak jauh dari meja Sakura – menyeringai kecut. Sakura yang jauh lebih pintar darinya saja sudah kalang kabut, apalagi dirinya? Soal matematika tadi memang benar-benar mematikan! Anko-sensei yang merupakan guru matematika kelas dua rupanya tak tanggung-tanggung dalam membuat soal ujian kali ini. Perutnya sampai mulas!
Dengan langkah gontai, TenTen beranjak dari bangkunya menuju meja Sakura. Kepala pink yang tampak lunglai itu tersenyum kecut melihat TenTen.
"Bagaimana?"
Sakura menggeleng samar sembari tersenyum kecut. "Entahlah," gumamnya nyaris tanpa suara.
"Ah, berakhir! Ayo ke kantin! Untung saja yang selanjutnya bukan pelajaran eksak. Bisa gila aku!"
Sakura dengan langkah terhuyung berusaha bangun dari duduknya. Sambil memegangi Sakura, mereka berdua berjalan ke luar kelas dan menuju kantin. Rata-rata wajah-wajah yang keluar dari kelas memang tidak lebih baik dari wajah TenTen dan Sakura. Beberapa berjalan gontai, yang lain duduk lemas, sisanya sudah kuyup dengan keringat.
"Gila… Sepertinya akan sedikit yang lulus di ujian matematika kali ini."
Sakura mengangguk sekilas, masih dengan wajah tegangnya yang basah keringat. Gadis merah jambu itu cemas akut, pasalnya ia tidak yakin dirinya menjawab soal-soal maut itu dengan benar apa belum. Bayangan kekalahannya dari Sasuke sudah menghantuinya dan membuat gadis itu semakin lemas.
TenTen menguatkan pegangannya begitu Sakura semakin merosot. Ditatapnya gadis itu gugup. "Kau tidak apa-apa, Sakura?"
Dengan pias, Sakura mengangguk lemas. "Iya…"
Tak lama mereka berjalan, sekelompok pemuda berjas biru membuat keramaian sepanjang koridor utama yang lumayan sepi itu. Seketika itu juga, Sakura dan TenTen menoleh ke sumber keributan dan langsung bertatapan dengan gerombolan itu.
"TenTen! Sakura-chan!" Seorang pemuda blonde bermata biru melambaikan tangannya, lengkap dengan cengiran khasnya yang bodoh.
TenTen menuntun Sakura untuk mendekati gerombolan itu. Dengan langkah setengah enggan, Sakura menurut – masih bertumpu pada gadis bercepol itu.
"Sakura-chan kenapa?" tanya pemuda itu, Naruto.
Sakura menyeringai lemah. "Tidak apa-apa."
"Anko-sensei benar-benar membunuh kami!" TenTen meremas-remas kepalan tangannya emosi. Urat kejengkelan tercetak jelas di wajahnya.
"Anko-sensei yang membuat soal ujian kalian?" Ganti seorang pemuda berambut merah bertanya, Sasori.
Lagi-lagi Sakura mengangguk dan TenTen langsung menanggapinya dengan keantusiasan berlebih.
"Anko-sensei keterlaluan! Masa soal seperti itu diberikan pada anak kelas satu?"
Wajah-wajah pemuda di hadapan mereka kompak menyeringai, minus seorang pemuda raven yang tetap stay cool dengan kedua tangan di saku celana seragam sekolahnya. Mata onyxnya masih belum berpindah dari sosok Sakura yang tampak kacau.
"Bagaimana ujian kalian?"
Naruto dan Sasori kompak menyeringai sambil menunjukkan jempolnya. "Tentu saja kami hitung kancing!"
TenTen dan Sakura melongo seketika, membuat duo baka itu menyeringai semakin lebar.
"Kalian berdua bodoh ya..?" TenTen menggeleng-gelengkan kepala bercepolnya, kemudian kembali menyeret Sakura untuk berjalan menuju kantin. Di belakangnya, empat pemuda itu mengekor. "Bagaimana dengan Shikamaru dan Sasuke?"
Sambil memasukkan kedua tangannya di balik saku celananya, Naruto memutar bola matanya, tak lupa dengan sebuah dengusan. "Bahkan dalam sejam, mereka sudah meletakkan kepala mereka di bangku. Dan tidur!"
Sakura tersenyum kecut. Matilah dia! Tak ada halangan yang berarti bagi jalan Uchiha keras kepala ini untuk melaksanakan niatnya. Sakura hanya bisa harap-harap cemas dan berdoa pada Kami-sama. Apa saja, asal Sasuke bisa gagal di salah satu ujiannya!
—
—
Sakura membubuhkan tanda silang besar-besar di kalender yang tergantung manis di dinding kamar mungilnya yang didominasi warna pastel itu. Dihelanya napas berat. Baru lewat tiga hari. Masih tersisa tiga hari lagi sebelum ujian benar-benar berakhir.
Tiga hari ini berlalu dengan mulus, tentu saja minus ujian matematikanya yang bisa dijamin tidak akan berakhir baik. Sakura masih belum bisa bernapas lega. Pasalnya, selama tiga hari ini, nii-sannya juga tampak santai-santai saja. Nii-sannya yang jahil itu tidak sibuk menggerutu sepanjang pulang sekolah. Pemuda itu malah terkesan tenang dan bisa melewati ujian dengan baik.
Yah, walaupun tidak bisa dijamin juga keberhasilan nii-sannya itu. Mengingat nii-sannya juga bukan tipe yang serius dalam menghadapi sesuatu. Paling-paling Sasori tidak memedulikan ujiannya. Sakura menggigit bibir bawahnya cemas. Mata hijau zamrudnya menatap kalender beraneka warna itu lesu. Sepertinya tidak ada harapan baginya untuk menang dari seorang Sasuke Uchiha.
Dan itu artinya, Sakura harus mau bertunangan dengan Sasuke. Lagi-lagi helaan napas berat dihembuskan gadis itu. Bukannya ia tidak mau – sungguh, ia juga sangat senang – tapi, masih banyak persoalan yang menghantui dirinya dan keluarganya. Juga hubungannya dengan Sasuke. Walaupun selama ini Sakura terkesan tidak ambil pusing mengenai masalah keluarganya, tapi sebenarnya gadis manis itu terus berpikir. Ia tidak bisa menjauhkan bayang-bayang masa lalunya dan kenyataan bahwa kakek Sasuke punya hubungan dengan keluarganya dulu.
Dan ia benci dirinya yang terus berusaha menyalahkan orang lain atas kemalangannya.
"Sakura..?" Sebuah ketukan samar dari arah pintu kamar Sakura yang terkunci segera membuyarkan lamunan gadis itu.
Dengan langkah tergesa, Sakura membuka pintu kamarnya. "Ya, Nii-san?"
Sasori berdiri di depan pintu kamar Sakura sambil memandangi imoutonya itu lekat-lekat. "Ayo makan," ajaknya.
Sakura menggeleng sekilas. "Aku tidak lapar."
"Kau sudah makan?"
Sakura mengangguk singkat. "Ya."
"Sou ka… Ya sudah kalau begitu."
Begitu Sasori berlalu dari kamarnya, gadis itu langsung menutup pintu kamarnya perlahan. Disandarkannya tubuhnya lunglai pada dahan pintu coklat itu. Tiba-tiba saja kepalanya terasa berat dan pening. Dengan sedikit tekanan, Sakura memijit-mijit keningnya. Perlahan-lahan dengungan di kepala Sakura semakin menjadi-jadi, membuat gadis itu hanya bisa pasrah melorot di lantai.
"Apa yang terjadi padaku.."
Tanpa disadarinya, setitik darah menetes dari salah satu lubang hidungnya dan jatuh di atas lantai kamarnya yang dingin.
—
—
"Hei, Sakura! Kau kenapa? Sakit?" Telapak tangan Ino menempel dengan seenaknya di kening Sakura, membuat sang pemilik kening oversized itu risih dan menepis pelan tangan Ino.
"Aku baik-baik saja," gumam Sakura sembari menelungkupkan kepalanya di balik lengannya.
Ino, TenTen dan Hinata yang duduk melingkar di kursi meja kantin saling pandang. Jelas-jelas kawannya satu ini tidak tampak baik-baik saja. Wajahnya lebih pucat dari biasanya, ditambah dengan kantung mata mengerikan di bawah mata Sakura. Tentu saja mengundang Ino dan TenTen untuk menjerit – sedikit over.
"Ah, hei!" TenTen tiba-tiba berseru sambil melambai ke arah lima kakak kelas yang tengah berjalan bergerombol memasuki kantin yang lumayan sepi, tidak seperti hari-hari biasanya.
"He, Suigetsu? Tumben sekali ikut…" komentar Ino begitu melihat jas merah menyembul di antara kerumunan jas biru.
Suigetsu yang berjalan paling belakang hanya menggerutu. "Kau tidak suka, hah?"
Ino merucutkan bibirnya. "Apa sih…"
"Kau kenapa, Sakura?"
Yang ditanya hanya menggumam tak jelas. "Hmmmm…"
Sasori mengerutkan keningnya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil menepuk pundak Sakura.
"Hmmmm…"
Kelima pemuda itu memilih ikut duduk di kursi-kursi yang tersedia di meja itu. Lagi-lagi sepertinya mereka berkomplot untuk menyisakan satu kursi kosong hanya di sebelah Sakura. Si gadis buble gum itu belum sadar kalau Sasuke duduk di sebelahnya, sampai pemuda itu – dengan sedikit berbisik – bertanya tepat di sebelah telinganya.
"Kau kenapa?"
Sakura menoleh sekilas. "Tidak apa-apa."
"Ayo ke ruang kesehatan," dengan genggaman kuat namun lembut, Sasuke menarik lengan Sakura untuk memaksa gadisnya itu berdiri.
Dengan ogah-ogahan, Sakura akhirnya bangkit dan ikut berjalan dengan gontai mengikuti Sasuke. "Jaa~"
—
—
Sasuke hanya duduk diam di sofa tunggu ruang kesehatan sambil menangkupkan kedua tangannya di depan hidungnya. Matanya tajam mengawasi Sakura yang tengah berbaring di salah satu ranjang rawat dan diperiksa oleh dokter yang tengah berjaga – Shizune.
"Kau sudah makan tadi pagi?"
Samar-samar Sasuke bisa mendengar Shizune menanyai Sakura sambil memeriksa Sakura. Sedangkan Sakura hanya menjawab dengan gelengan dan cengirannya.
"Kau ini! Sudah berapa hari kau tidak makan, heh?"
Sasuke mengangkat alisnya dengan keterkejutan, menunggu jawaban Sakura.
"Aku makan kok. Tadi aku sudah makan roti bakar."
"Yeah, dan kau tidak makan untuk malam hari. Jangan bohong!"
"Hehe…"
"Sasuke?"
Merasa dirinya dipanggil, Sasuke segera beranjak dari duduknya dan mendekat ke bilik di mana Sakura terbaring.
"Paksa Sakura makan. Akan kusiapkan obat untuknya," perintah Shizune yang mengundang keheranan pada pasangan itu. "Ambil roti sebanyak yang kau mau dan paksa Sakura. Rotinya ada di lemari."
Begitu Shizune keluar dari ruangan itu, Sasuke segera beranjak menuju lemari yang dimaksud Shizune dan mengambil beberapa buah roti.
"Jangan paksa aku makan!" seru Sakura dari balik selimut yang ditariknya hingga menutupi wajahnya.
"Jangan kekanakan, ayo makan!"
"Tidak!"
Tangan Sasuke bergerak menarik paksa selimut yang ditahan Sakura dengan sekuat tenaga. Sayangnya, tenaga Sakura kalah jauh dengan tenaga Sasuke. Dengan mudah, pemuda raven itu menyingkap selimut yang menutupi wajah Sakura.
"Ayo, buka mulutmu!"
"Hm!" Sakura membekap mulutnya sambil melotot – sebagai penolakan.
Sasuke menghela napas, kemudian mengambil duduk di sisi ranjang Sakura. "Kenapa kau jadi begini?"
Sakura memalingkan mukanya dari tatapan Sasuke yang lagi-lagi membuat jantungnya berdegup kencang, kebat-kebit. Sudah berhari-hari ia tidak bertemu dengan Sasuke. Dan tentu saja rasa kangen yang membuncah tidak mungkin disangkalnya.
"Hanya lupa makan kok," jawab Sakura cuek, masih berusaha memalingkan wajahnya.
"Apa ini menyangkut taruhan kita?"
Sakura memandang Sasuke dengan mata terbelalak. "Kenapa kau sampai berpikir seperti itu?"
"Sasori bercerita sedikit tentang sikapmu beberapa hari ini. Kalau kau tidak setuju, bilang saja."
"Eh?"
"Aku tidak mau memaksamu, Saku. Kalau kau tidak mau, aku sama sekali tidak keberatan. Bilang saja padaku," tatapan Sasuke menyendu, membuat Sakura mau tak mau merasa bersalah.
"Bu-bukan begitu, hanya saja…" Sasuke menunggu Sakura yang terlihat bimbang untuk melanjutkan ucapannya. "Aku hanya…" Sakura menghembuskan napas berat. Tatapannya beradu dengan Sasuke yang masih setia menunggu, "aku masih belum bisa menerima kenyataan keluargaku…" Suara Sakura melirih seiring dengan tatapan Sasuke yang berubah nanar.
Ini yang selalu menghantui Sasuke semenjak kepulangan mereka ke Jepang. Ia paham betul, suatu hari Sakura akan mengungkit masalah sensitif ini. Tapi ia hanya tidak menduga secepat ini Sakura akan mengungkit masalah ini. Penjelasan macam apa yang harus diberikan Sasuke? Ia tahu dengan benar bahwa Sakura punya hak untuk tahu kebenaran mengenai keluarganya. Dan kunci dari semua masa lalunya itu tak lain adalah kakek Sasuke. Bukan hal yang mustahil kalau suatu hari nanti Sakura akan balik membenci keluarganya jika ia tahu kenyataan yang sebenarnya.
Rahang Sasuke mengeras seiring dengan menutupnya kelopak matanya. Bibirnya terkatup rapat, bingung dan kalut harus menjawab apa. Tiba-tiba saja Sasuke merasa ingin sekali menghilang dari hadapan Sakura. Tapi ia tahu, kalau ia pergi begitu saja, Sakura hanya akan semakin terluka. Semakin lama kenyataan ini disimpan rapat, semakin sakit pula nanti Sakura. Dan semakin besar kebencian yang akan meledak. Itulah satu-satunya hal yang Sasuke takutkan sekarang. Maka dari itu, ia ingin secepatnya mempunyai ikatan dengan Sakura. Sehingga, kalau-kalau nanti Sakura akhirnya berbalik membencinya, ia masih punya alasan dan ikatan yang menghubungkannya dengan Sakura. Ia hanya tak ingin Sakura meninggalkannya.
"Makanlah."
Sasuke mengangsurkan roti yang diambilnya tadi pada Sakura yang menerimanya dengan keheranan. Tanpa memedulikan Sakura, pemuda Uchiha itu bangkit dan berjalan keluar ruangan. Meninggalkan Sakura yang masih bingung dengan sikapnya barusan.
—
—
"Ojii-san."
Sosok pria gondrong yang dipanggil 'ojii-san' tadi segera berbalik begitu mendengar panggilan cucunya.
"Oh, Sasuke," sapa pria itu, Madara. "Ada apa?"
Rahang Sasuke mengeras. "Sakura…"
Mendengar Sasuke menyebut nama Sakura membuat ekspresi wajah Madara yang tadinya sumringah menjadi sendu. "Ada apa dengan Sakura-chan?"
Sasuke menelan ludahnya susah payah. Tangannya terkepal rapat, seolah hendak meninju seseorang. "Sampai kapan kita – aku…" Sasuke menggantung kalimatnya sejenak, "…menyembunyikan masalah ini?"
Madara meletakkan map biru yang dipegangnya di meja. Pandangan matanya terarah pada tumpukan berkas-berkas di kanan kirinya. "Itu semua keputusanmu, Sasuke. Kau bebas mengatakannya kapan saja."
"Mengalihkan tanggungjawab padaku, hah?"
Madara segera berbalik begitu mendengar Sasuke menggeram marah. Wajah yang biasanya datar itu kini berubah merah menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Sakura akan membenciku! Membenciku! Dan kau seenaknya bilang itu semua terserah aku? Hah?" Tiba-tiba saja Sasuke sudah berada di depan Madara sambil merenggut kerah kemeja kakeknya kasar. "Itu dosamu! Harusnya kau yang menebusnya! Bukan aku! Bukan juga Sakura!" bentak Sasuke lepas kendali.
Madara tersenyum sendu. "Maaf. Maafkan, Jii-san. Jii-san tahu, semua murni kesalahan Jii-san. Tapi itu semua… hanya tugas."
"Dan Sakura bukan gadis dewasa yang bisa menerima alasan macam tugas seperti itu! Dia hanya gadis biasa, dia masih kecil!" Kepalan tangan Sasuke mengencang. Matanya nyalang menatap Madara yang hanya bisa pasrah menerima kemarahan Sasuke. "Sakura tidak akan bisa menerima penjelasan macam 'tugas' atau 'perintah' seperti kau menjelaskannya padaku, Kakek Tua!"
Kepala Madara tertunduk lunglai. "Lalu kau mau aku yang menebus dosaku sendiri? Dengan apa? Menyerahkan nyawaku untuk dibunuh Sakura-chan?"
Rahang Sasuke mengeras. Kali ini lidahnya kelu tanpa jawaban. Perlahan renggutan di kerah kemeja Madara mengendur. Kakinya melangkah mundur. Kini pemuda raven itu berdiri gamang.
"Maaf, Sasuke. Maaf. Jii-san tidak bisa lakukan apa pun. Kalian berdua yang kena imbasnya."
Pemuda Uchiha itu berdiri dengan lutut gemetar. Rasa cemas dan ketakutan mulai menggerogoti tiap inchi sarafnya. Apa yang harus dilakukannya? Terlebih, apa yang bisa dilakukannya untuk meyakinkan Sakura? Otak jeniusnya tak lagi mampu berpikir jernih. Hanya ada rasa takut, takut dan takut. Takut kehilangan Sakuranya.
—
—
