Mischievous Kiss
.
MinYoon's FanFiction
Remake's Story © Jimsnoona
MinYoon and others Are belongs to God, Themselves.
Rated: T
Length: Chaptered
Warning:
Boyslove, OOC, typo(S)
Summary:
Min Yoongi bukan termasuk siswa pintar, ia jatuh cinta dengan sosok tampan dan jenius bernama Park Jimin. Namun sayang, cintanya tak terbalas karena Park Jimin tidak menyukai orang bodoh sepertinya.
.
"Jadi, kau tidak membenciku?"—Yoongi.
"Aku punya banyak masalah saat bersamamu, tapi aku tidak membencimu"—Jimin.
.
Jimin membawa kembali Yoongi pulang ke kediaman keluarga Park. Yoongi menyuarakan rasa bersalahnya karena untuk kesekian kalinya ia merepotkan seorang Park Jimin.
"Maaf, aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dengan rumahku." Ujarnya dengan penuh penyesalan.
Jimin berusaha memaklumi dan memberikan alasan kalau saja ia meninggalkan Yoongi, terlebih dengan keadaan kakinya yang tengah terluka maka ia yakin, ibunya akan naik pitam.
Yoongi merasa bingung, ayahnya sama sekali tidak bisa dihubungi. Mungkin lain kali ia harus menabung atau meminta ayahnya untuk membelikannya ponsel agar mengetahui kabar masing-masing.
"Sudahlah, jangan dipikirkan." Jimin memberikan Yoongi isyarat supaya mereka berdua memasuki rumah,
Dari dalam sosok Heechul keluar menuju halaman rumah mereka, disusul oleh Taehyung yang mengikutinya dari belakang. Wanita paruh baya itu sudah menduga jika keduanya akan pulang bersama.
"Bibi, entah mengapa rumahnya sudah ada yang menempati." Yoongi menatap Heechul penuh rasa sesal, mengundang sosok keibuan seorang Heechul datang menghampirinya untuk sekedar memberikan sebuah pelukan.
"Appa juga tidak bisa dihubungi…" Heechul merengkuh sosok rapuh Yoongi yang kini tengah mengadu padanya.
"Tenang saja Yoongi-ya, Appamu sedang pergi ke agen perumahan."
"Apa, memangnya ada apa, Bi?"
"Bibi rasa ada kesalahan soal sewanya. Seseorang menandatangani sewa rumah itu sebelum ayahmu, sayang." Jawab Heechul lembut, penjelasan tersebut membuat Yoongi hanya bisa melongo mendengarnya.
"Intinya, kemungkinan ayahmu tidak bisa dihubungi karena sedang sibuk menelpon agen perusahaannya."
"Jadi Appa dan aku kehilangan tempat tinggal lagi, bagaimana ini?" gumam Yoongi.
Dengan sumringah Heechul kembali menenangkan dan berkata bila Yoongi dan Kangin bisa tinggal bersama mereka seperti sebelumnya. Namun, Yoongi merasa tak enak hati. Keputusan Heechul membuat sosok Taehyung mencibir sinis, lagi-lagi kamarnya akan menjadi korban.
"Tidak masalah, lagipula nantinya kita akan menjadi keluarga. Benar 'kan, Jiminie?" Heechul menampilkan senyum misteriusnya, membuat sosok Jimin menatapnya penuh kebingungan.
Heechul tersenyum senang begitu membayangkan semuanya akan menjadi kenyataan,
"Eomma, sudah kubilang jangan ungkit hal seperti itu," Jimin melayangkan protesnya.
"No, no, no. Eomma sudah tahu semuanya,"
"Eomma, berhentilah berkhayal." Kali ini Taehyung ikut bersuara.
"Aish, kalian ini. Sudah dibilang jika Eomma tahu segalanya, termasuk rahasia terbesar kalian berdua."
"Eh? Rahasia apa itu, Bi?"
"Kalian… sudah berciuman 'kan?"
Jimin segera melirik tajam Yoongi di sampingnya, dengan cepat pula sosok Yoongi mengelak jika bukan dirinya yang memberitahu Heechul.
"APA?! Tidak, itu tidak mungkin! Iya 'kan, hyung?" Tanya Taehyung tak percaya, membuatnya tak habis pikir jika kakaknya sudah masuk ke dalam perangkap tipu daya seorang Min Yoongi.
Jimin tidak bisa mengelak lagi, kenyataan pahit itu nampak membuat sosok Taehyung patah hati. "Bagaimana itu bisa terjadi?" keluhnya dengan tidak ikhlas.
Heechul tersenyum licik, menatap Jimin dan Yoongi penuh tatapan menyelidik,
"Kalau melihat interaksi kalian selama ini, aku tidak pernah menduganya. Tidak baik mengelabui orang tuamu, lho?"
"Bibi… dari mana bibi mengetahui ini semua?"
"Tentu saja, orang yang mendapatkan informasi akan menaklukan dunia!" jawab Heechul lalu tertawa bahagia.
.
Mischievous Kiss
.
Di kamarnya, Heechul tampak selesai menelpon salah satu agen perumahan.
"Baik, terimakasih banyak untuk kerja samanya." Heechul menutup ponselnya dan kembali tersenyum riang.
"Ah, semua berjalan lancar! Tinggal meyakinkan Kangin supaya Yoongi tetap tinggal di sini."
Sepertinya Heechul memang sengaja membuat ayah Yoongi menyerah mengenai pencariannya dalam agen perumahan tersebut. Heechul tersenyum puas, dirinya sengaja melakukan pembayaran cicilan melalui beberapa deretan kartu nama demi mengalahkan Kangin dalam melakukan sistem booking setiap rumah barunya.
Begitu selesai dengan kesibukannya, Heechul memilih untuk menghampiri kamar Yoongi. Tak beberapa lama Heechul masuk ke kamar Yoongi, didapatkan namja manis itu tengah membereskan barang-barangnya.
"Bagaimana rasanya kembali ke rumahmu sendiri?" Tanya Heechul sembari tersenyum lembut.
"Ini bukan seperti yang kami harapkan, Bi." Yoongi menjelaskan jika kejadian ini semua bukan seperti yang Heechul pikirkan, Yoongi menambahkan kalau mereka akan kembali menemukan tempat tinggal baru.
Dengan raut wajah sedihnya Heechul berkata,
"Aku bahkan ragu jika kalian akan mendapatkan rumah baru lagi. Mencari rumah tidak semudah itu, Yoongi. Jarang sekali menemukan rumah yang cocok." Tentu saja Heechul dapat berbicara seperti itu dengan sangat yakin. Dia adalah dalang di balik ini semua.
"Tidak perlu khawatir, Bibi akan bicara dengan Appamu." Heechul menggenggam erat kedua tangan Yoongi, seolah memberikan sebuah keyakinan,
Wanita paruh baya itu tersenyum anggun, berkata jika ia bertekad akan menjadikan Yoongi bagian keluarganya, apalagi mendengar perihal Jimin dan Yoongi yang sudah berciuman.
"Bibi, ini tidak seperti yang bibi pikirkan. Aku dan Jimin hanya—" Yoongi keukeuh jika hubungannya dengan Jimin bukan seperti itu, mungkin saja ciuman itu terjadi karena sebuah kesalahan, melihat selama ini bahkan mereka tidak pernah berpegangan tangan ataupun kencan.
"Jangan putus asa, Yoongi -ya. Meskipun kau belum melakukannya, kalian bisa melakukannya nanti. Ah, kencan… bagaimana jika kalian berkencan?" Heechul pun memberikan Yoongi sebuah misi yaitu berkencan dengan Jimin, kemudian beranjak keluar kamar Yoongi.
"Kencan dengan Jimin? Kalau saja aku memiliki kesempatan itu, aku pasti sangat ingin berkencan dengannya. Tapi… dia tidak mau, tidak akan mau berkencan denganku. Aku harus bagaimana?" Tanya Yoongi dalam hati.
.
Mischievous Kiss
.
Di Kantin Bangtan University, Hoseok dan Woozi tengah diadili oleh Yoongi. Seolah meminta suatu penjelasan tentang Heechul yang kini mengetahui perihal dirinya yang sudah melakukan ciuman bersama Jimin.
"Kalian yang memberitahu Bibi Heechul, 'kan? Jawab?!" Yoongi menatap kedua sahabatnya dengan penuh amarah, sudah pasti ia menyesal telah memberitahu kepada orang yang salah. Tapi mau bagaimana lagi, mereka berdua adalah sahabatnya.
"Kenapa? Hitung-hitung kami tengah membantumu, Yoongi." Hoseok dan Woozi dengan cepat mengelak kalau kejadian itu tanpa disengaja.
Tanpa mereka sadari, sosok Namjoon tengah menyimak pembicaraan mereka yang terkesan sangat heboh hingga menyita atensi seluruh pasang mata di Kantin tersebut.
"Jadi, kau sudah berciuman dengan Jimin, Yoongi-ya?" Tanya Namjoon harap-harap cemas,
"Kukira… kau sudah menyerah padanya." Lanjutnya lagi.
Yoongi hanya bisa meminta maaf pada Namjoon, mendengar itu semua Namjoon berlalu pergi dengan hati yang terluka.
"Astaga, itu terlalu berat untuk Namjoon." Kata Hoseok sengaja dengan nada mencibir, bermaksud menyadarkan Yoongi bahwa ada orang yang jauh lebih menyayanginya.
"Itu lebih baik untuk Namjoon," Woozi justru berbeda pendapat oleh Hoseok.
"Kenapa begitu?" Tanya Yoongi bingung.
"Dengan begitu Namjoon akan tahu jika tidak ada celah di hatimu," Woozi menatap Yoongi dengan santainya,
"Karena kau tidak akan pernah bisa menyerah pada Jimin." tegas Woozi penuh percaya diri. Tentu saja pernyataannya disetujui oleh kedua sahabatnya.
"A-aku.." Yoongi mendadak kelu, bingung ingin berkata apa lagi.
"Aku yakin kau sudah sadar, Yoongi-ya. Kaupun memiliki saingan dan halangan. Perasaanmu pada Jimin tidak akan pernah berubah, maka Namjoon harus menyerah dan bangkit."
Yoongi termenung mendengar penuturan Woozi, ada benarnya juga apa kata sahabatnya ini. Namun Yoongi sendiri juga menyadarinya kalau sikap Jimin yang sama sekali tak perhatian padanya ataupun melihat keberadaannya.
Kenyataan pahit itu tentu saja membuat Yoongi mendesah pilu. Merasa jika dirinya sangatlah bodoh menjadi seorang pejuang cinta sepihak. Meskipun pikirannya mencoba untuk menghadang kenyataan tersebut, namun hatinya seolah tidak merasa lelah sedikitpun.
Yoongi bergegas pergi meninggalkan kedua sahabatnya, perkuliahan telah usai dan ia berencana untuk ke Restoran ayahnya. Begitu langkahnya keluar dari Kantin, tetiba saja dari jauh ia melihat sosok Jimin keluar dari kelas.
"Ah, Jimin…" Yoongi tersenyum senang, hendak menghampiri Jimin dan mengajaknya untuk pulang bersama,
"Jimin-ah, tunggu aku!" mendengar perintah seseorang itu otomatis membuat Yoongi berpaling, memutuskan untuk mencari tempat yang aman untuk bersembunyi, mengamati sosok Jimin yang disusul oleh Sungyeol.
Yoongi merengut tidak suka melihat interaksi keduanya, Jimin yang lengannya tengah dirangkul mesra oleh orang lain membuat hatinya panas seakan terbakar.
Keduanya berjalan beriringan sembari melakukan obrolan singkat. Samar-samar dapat didengarnya suara ajakan Sungyeol pada Jimin untuk berjalan-jalan di hari Minggu.
"Apa Lee Sungyeol sedang mengajak Jimin berkencan? Aish, aku tidak yakin jika aku akan menang." Tanpa Yoongi sadari, Myungsoo sunbae tengah mengendap-endap ikut mengamati keduanya.
"Heh?!" Yoongi terkejut dengan kehadiran Myungsoo yang kini berdiri di sampingnya.
"Sunbae, apa yang kau lakukan?"
"Sst... Diamlah, aku sedang memperhatikan mereka. Kau sendiri, apa yang sedang kau lakukan?" Myungsoo balik bertanya dengan wajah bingungnya.
"A-aku sedang…"
"Ah, kau sedang melihat Jimin ya?"
"Sunbae sendiri ingin melihat siapa, jangan bilang Lee Sungyeol?!"
"Aish, pelankan suaramu!" dengan sigap Myungsoo membekap mulut Yoongi demi mencegah kebocoran rahasianya selama ini.
Yoongi dan Myungsoo justru ribut sendiri, mereka berdua tidak menyadari kehadiran Jimin dan Sungyeol yang malah memperhatikan keributan yang terjadi.
Posisinya Yoongi yang terhimpit oleh tembok serta Myungsoo yang merapatkan tubuhnya sembari membekap mulut Yoongi. Sungyeol yang melewati keduanya bersama Jimin kini menjadi salah paham. Yoongi berusaha menjelaskan jika ini semua tidak seperti yang mereka lihat, namun kata-kata yang tepat tak juga keluar dari mulutnya.
"Ah, jadi benar ya gosip itu?" pikir Sungyeol berbasa-basi.
Yoongi tak mengerti maksud Sungyeol. Ia menatap sosok Jimin yang justru dibalas tatap oleh pandangan datarnya.
"Ada sesuatu antara Min Yoongi dan Myungsoo sunbae." Jelas Sungyeol, hal ini membuat Myungsoo kaget.
"Apa? Jangan asal bicara!" sanggah Yoongi tidak terima.
Yoongi mengatakan kalau itu tidak benar, ini semua hanya salah paham dan bermaksud menjelaskan pada Jimin.
"Apa peduliku?" Jimin memandang remeh sosok Yoongi. Ia memutuskan untuk berlalu pergi, namun baru beberapa langkah, Jimin teringat sesuatu.
"Oh, Sungyeol-ah. Soal yang tadi… hari Minggu aku ada waktu, kita bisa pergi nonton bersama." Ujar Jimin sembari melayangkan senyumnya.
"Ah, benarkah?!" pekik Sungyeol merasa tak percaya jika Jimin menerima ajakannya, iapun mengucapkan terimakasih.
Sungyeol menyusul sosok Jimin yang sudah pergi meninggalkan Yoongi dan Myungsoo, sebelumnya namja cantik itu berpamitan dan melayangkan senyum kemenangannya pada Yoongi.
'Aku kalah lagi…' dari tempatnya berpijak Yoongi menatap sayu kepergian Jimin bersama Sungyeol. Lagi, pikirannya tak luput oleh seberapa cocoknya mereka berdua.
"Aish, Park Jimin itu!"
"Ya, ini salahmu, sunbae!"
Yoongi menyalahkan Myungsoo karenanya ia harus patah hati melihat ajakan Sungyeol yang diterima oleh Jimin. Myungsoo langsung meminta maaf, lelaki tampan itupun mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
"Kalau kau suka Jimin, aku suka Sungyeol, tapi Sungyeol menyukai Jimin." Myungsoo menghela napasnya berat, menyadari jika semua cinta bertepuk sebelah tangan.
"Kau punya ide, tidak?" Tanya Myungsoo sembari menatap Yoongi dengan seringainya.
Yoongi yang mengerti sebuah sinyal yang dikirimkan Myungsoo itu dengan cepat mengangguk paham,
"Tidak akan ada yang bahagia kalau begini caranya, maka kita harus mengubahnya!" jawab Yoongi cepat.
Saat itu juga Myungsoo mengajak Yoongi bekerjasama dan saling membantu. Rencana mereka sudah pasti mengikuti Jimin dan Sungyeol di hari Minggu nanti, memata-matai kencan keduanya.
.
Mischievous Kiss
.
Malam ini Kangin berkunjung ke rumah keluarga Park. Pria bertubuh tambun itu segera menemui anak satu-satunya dan mulai menjelaskan seluruh kisah perjuangannya dalam menemukan rumah baru untuk mereka.
"Maafkan Appa, Yoongi-ya. Ini semua salah Appa."
Yoongi tersenyum lembut, menghamburkan diri di pelukan sang ayah. Ia begitu merindukan sosok ayahnya yang sangat pekerja keras. Entah mengapa malam ini pelukan ayahnya terasa begitu hangat hingga menyelimuti hatinya.
"Tidak masalah, Appa."
"Appa minta maaf belum bisa menjagamu dengan baik, Yoongi. Appa benar-benar menyesal, meninggalkanmu seorang diri tiap malam. Terlebih kejadian waktu itu, Appa benar-benar menyesal. Maafkan Appa, Yoongi-ya…"
Yoongi terdiam sejenak, hatinya merindu… benar-benar merindukan sosok ayahnya yang begitu hangat. Perasaan kecewa itu ada, ketika ayahnya yang tidak bersamanya. Tetapi entah mengapa ia tidak bisa menunjukkan rasa kecewa pada orang yang sangat ia sayangi.
"Yoongi sayang Appa…" lirihan Yoongi membuat Kangin semakin mengeratkan pelukannya.
"Maafkan Appa, Yoongi-ya."
"Hm, Yoongi akan menjaga diri lebih baik lagi."
Kangin melepaskan pelukan pada putranya itu, mulai menghapus lelehan air mata yang mampir di kedua pipi putih pucat anaknya.
"Appa akan tetap membawamu pergi. Berada di sini akan menyulitkanmu untuk melupakannya…" mendengar perkataan ayahnya, Yoongi tertunduk lesu.
Melihat perubahan raut wajah putra kesayangannya itu, Kangin sudah menduga jika Yoongi memang belum bisa melupakan nama Park Jimin di hatinya.
"Yoongi…"
"Appa tenang saja, Yoongi… Yang jelas, aku mencintai Jimin." ungkap Yoongi memberikan senyum tulusnya.
"Tapi perasaan Jimin…" sela Kangin, Yoongi menjawab kalau ia sama sekali tak peduli.
"Jimin mungkin tak pernah mencintaiku. Tapi aku tidak akan menyerah sampai akhir, Appa selalu bilang seperti itu, 'kan? Tidak baik menyerah di tengah jalan."
Jeda beberapa saat lalu dengan penuh keyakinan Yoongi melanjutkan kata-katanya,
"Setelah aku meninggalkan rumah ini, aku sadar, Appa, perasaan ini… aku tidak akan menyerah lagi."
Mendengar penuturan sang anak membuat Kangin mengerti, Yoongipun meminta agar ayahnya tidak menkhawatirkannya. Karena biar bagaimanapun, meskipun ia terluka itu jauh lebih baik daripada tak melakukan apapun hingga menyesal kemudian.
"Jika seperti ini, kau sangat mirip dengan ibumu. Ah, Appa merindukan ibumu, Yoongi-ya…" Yoongi mengejek ayahnya yang kerap kali lebih cengeng darinya.
.
Mischievous Kiss
.
Hari Minggu
Cuaca Minggu pagi kali ini terlihat sangat cerah. Yoongi sibuk memilih sejumlah pakaian yang telah ia keluarkan dari lemari bajunya. Sudah hampir lima kali ia berganti pakaian yang menurutnya terlihat sangat aneh dan bukan gayanya sama sekali.
"Aku pakai ini saja ya?" Yoongi menatap pantulan dirinya di cermin, membayangkan jika kemeja berwarna peach itu membalut tubuhnya,
"Kucoba saja deh," Yoongi segera mengganti pakaiannya dengan kemeja yang ia maksud. Sedikit ragu ia mencoba membangun rasa percaya dirinya itu.
"Baiklah, yang ini saja." Yoongi menetapkan pilihannya, kemeja berwarna peach dipadukan dengan celana jeans abunya. Nampak terlihat manis seperti biasanya.
Yoongi tersenyum melihat penampilannya pagi ini, ada sedikit polesan make up tipis yang sengaja ia bubuhkan di wajahnya. Namun setelah melihat hasil keseluruhan, Yoongi seakan teringat sesuatu, ia hanya akan membuntuti Jimin yang kencan dengan Sungyeol. Merasa jika bayangannya tengah mengejek dirinya sendiri, Yoongi memutuskan untuk segera menghapus polesan make up tipis yang sudah ia lakukan dua jam lamanya itu.
"Aku lupa, yang berkencan itu bukan aku." Sedikit mendesah kecewa, lalu ia putuskan untuk berangkat menemui Myungsoo sunbae.
Dalam perjalanannya menuju Bioskop, Yoongi masih terhanyut dalam pikirannya,
'Aku juga ingin berkencan dengan Jimin, memakai pakaian bagus, nonton film berdua, lalu makan malam di Restoran mewah…'
Yoongi menggelengkan kepalanya demi mengusir khayalan bodohnya. Tidak, ia tidak bisa berkhayal terus menerus. Jika Jimin tidak mau berkencan dengannya, maka ia harus mengacaukan kencan Jimin dengan siapapun itu.
"Hei, Yoongi." suara Myungsoo langsung menarik atensi Yoongi. Keduanya sudah sampai di tempat pengintaian.
"Dimana Jimin?" Tanya Myungsoo sembari memperhatikan sosok Sungyeol yang sudah sampai dan tengah berdiri menunggu kedatangan Jimin.
"Sepertinya sebentar lagi ia sampai." Jawab Yoongi.
"Ah, Sungyeol-ku cantik sekali hari ini…" Myungsoo tersenyum hingga menunjukkan dimplenya. Menerawang kalau saja ia yang pergi berkencan dengan sosok pujaan hatinya.
"Hei Yoongi, apa Jimin termasuk lelaki agresif?"
"Apa? Tidak, dia tidak seperti itu. Jimin sangat lambat dalam urusan percintaan."
"Itu jika dia bersanding denganmu, kita sedang membicarakan Lee Sungyeol, si cantik yang seksi sekaligus. Kau lihat saja penampilannya hari ini, kemeja putih kebesarannya dengan ripped jeansnya sungguh menggoda."
Yoongi sweatdrop di tempat, lama kelamaan sunbaenya ini semakin mesum saja, pikirnya.
Tak lama, Jimin mulai menunjukkan batang hidungnya. Myungsoo dan Yoongi kembali fokus mengamati pasangan yang bersiap kencan itu, keduanya mengambil jarak lebih dekat namun tetap tak terlihat oleh Jimin dan Sungyeol.
"Hai, Jimin." sapaan Sungyeol dibalas Jimin melalui senyuman,
"Penampilanmu bagus hari ini." puji Jimin melihat penampilan Sungyeol yang sedikit berbeda.
Lain halnya dengan dua pasang mata lain yang tengah mengintai pasangan Jimin dan Sungyeol, mereka nampak terbakar api cemburu. Yoongi dan Myungsoo akhirnya membuntuti Jimin dan Sungyeol yang melangkah pergi.
"Ya, Sunbae tunggu aku. Jangan terburu-buru."
"Kau lama sekali, Yak! Jangan injak kakiku, aish."
Lagi-lagi justru pasangan Myungsoo dan Yoongi yang heboh. Mereka kerap kali cekcok dan mengalami pertengkaran kecil. Yoongi dan Myungsoo mengikuti Jimin dan Sungyeol menonton film, bahkan Yoongi sengaja memesan tiket yang duduk di belakang mereka persis.
"Kita masuk jika lampu sudah dimatikan saja, Yoongi."
"Ya, bagaimana aku bisa melihat nomor bangkunya, sunbae?"
"Gunakan cahaya di ponselku, bodoh."
"Ah, benar juga. Kau pintar ya, sunbae."
Yoongi dan Myungsoo memasuki Bioskop dengan membawa minuman dan popcorn. Keduanya benar-benar duduk di belakang Jimin dan Sungyeol. Antusias mereka justru terlihat seperti Myungsoo dan Yoongi yang tengah melakukan kencan.
Film dimulai, selama lima belas menit dirasa aman karena tidak ada interaksi apapun antara Jimin dan Sungyeol.
"Jimin-ah, aaa?" Yoongi melotot horror begitu Sungyeol menyodorkan beberapa popcorn untuk menyuapi Jimin.
Di sampingnya persis, sosok Myungsoo sudah mengembang kempiskan hidungnya sembari menahan amarah melihat Jimin yang dengan gampangnya menerima suapan dari Sungyeol.
Dari celah tempat duduk, dapat terlihat siluet keduanya yang saling melemparkan senyuman. Lagi-lagi kedua orang di belakang Jimin dan Sungyeol kembali terbakar api cemburu.
Beberapa menit ke depan adegan film mulai masuk ke inti cerita, ada bagian-bagian dimana sang karakter utama melakukan acting sedihnya. Hal itu membuat Sungyeol berpura-pura sedih dan hendak menyenderkan kepalanya di bahu Jimin.
Yoongi yang melihatnya dengan sigap langsung menghalangi tindakan Sungyeol itu dengan berpura-pura menjatuhkan bukletnya-yang berisi tentang jadwal film Bioskop- melalui celah bangku antara Jimin dan Sungyeol.
"Oh sayang, kau harus lebih hati-hati lagi." Agar tak ketahuan, Myungsoo dan Yoongi bermesra-mesraan dengan suara mereka yang disamarkan.
"Ah, iya. Kau benar, sayang." Balas Yoongi lalu keduanya berpandangan sambil mengacungkan jempol mereka melihat Sungyeol yang beringsut menjauhi Jimin.
Melihat Jimin yang diam saja, Sungyeol berinisiatif untuk memegang tangan Jimin. Myungsoo terkejut, sama halnya dengan Yoongi. Maka tanpa pikir panjang, Yoongi sedikit menumpahkan popcorn di tangannya ke arah mereka.
"Aish!" habis sudah kesabaran Sungyeol dengan orang di belakang bangkunya itu.
Sungyeolpun berdiri dan menoleh ke arah Yoongi dan Myungsoo yang menyembunyikan wajah mereka dengan buklet tipis sembari asik berbincang dengan suara menggelikan mereka.
"Berhenti mengganggu!" tegur Sungyeol murka, ia kembali duduk karena beberapa penonton di belakang complain tak bisa menonton film karena terhalang olehnya.
Yoongi dan Myungsoo menutup mulut mereka masing-masing, menahan tawanya karena geli dengan kesalnya Sungyeol yang berhasil mereka ganggu.
.
Mischievous Kiss
.
Selesai menonton di Bioskop, Jimin mengajak Sungyeol untuk mampir ke sebuah café. Berniat untuk sekedar mengobrol singkat lalu melanjutkan acara jalan-jalan mereka selanjutnya. Seperti yang sudah diduga, Yoongi maupun Myungsoo tetap mengekor di belakang Jimin dan Sungyeol.
"Jujur saja, aku sudah tertarik denganmu sejak masih SMA." Tutur Sungyeol lembut, Yoongi dan Myungsoo menajamkan pendengaran mereka, jarak duduk mereka tidak jauh dari Jimin dan Sungyeol.
"Kau tertarik denganku?" Tanya Jimin tidak percaya, memilih untuk diam dan mendengarkan saja.
"Seseorang bilang padaku, ada siswa Bangtan High School yang sangat jenius. Tidak hanya itu, dia tampan dan jago bermain basket. Ayahmu lulusan Seoul University dan seorang direktur perusahaan, 'kan? Mendengar kau tetap meneruskan kuliah di Bangtan University… aku merasa senang sekali."
Sungyeol tersenyum riang hingga kedua matanya membentuk eyesmile yang cantik. Setelah menjelaskan semuanya, Sungyeol sendiri merasa jika itu semua sudah takdirnya ia dipertemukan dengan Jimin.
"Benarkah?" Tanya Jimin tersenyum menanggapi.
"Ya, Jimin. Apakah, apakah kau sudah memiliki… kekasih?"
Hening sejenak, Sungyeol cemas menunggu jawaban Jimin. Tak lama kemudian sosok Jimin tersenyum dan menggeleng lembut,
"Untuk saat ini aku belum memiliki kekasih."
"Lalu, tipemu yang seperti apa?" Tanya Sungyeol lagi.
Dari tempat duduknya, Yoongi dan Myungsoo menyimak. Keduanya fokus mendengar obrolan antara Jimin dan Sungyeol. Yoongi sedikit membenarkan penampilannya sembari membusungkan dadanya berharap dirinya yang akan disebut oleh Jimin.
"Hm, yang pasti dia manis, berpenampilan bagus, cerdas, pandai memasak dan berpikir sebelum melakukan sesuatu." Jawaban Jimin langsung membuat Yoongi merasa terjatuh dari dunianya. Hal yang disebutkannya barusan sungguh bertolak belakang dengan sifat Yoongi.
Myungsoo yang ikut mendengarnyapun langsung menenangkan Yoongi,
"Aku yakin ada suatu hal yang baik pada dirimu, jangan diambil hati."
"Aku baik-baik saja, tidak perlu memberiku semangat, sunbae."
Lain halnya dengan Sungyeol, begitu mendengar jawaban Jimin dia optimis jika dirinya dan Jimin akan menjadi pasangan yang paling serasi.
"Mungkin saja?" timpal Jimin sambil mengeluarkan tawanya.
Yoongi cemas seketika, apa mungkin dirinya tidak memiliki kesempatan lagi melihat Sungyeol yang telah jauh mencuri startnya.
"Sunbae, apa sebaiknya kita pulang saja?"
"Apa maksudmu pulang?"
"Mereka tampak serasi…"
"Jangan berpikiran bodoh seperti itu, kita harus tetap pada rencana awal!"
"Tidak sunbae, aku merasa jika mereka mungkin cocok dan—"
"Yoongi, jangan bicara seperti itu!"
Myungsoo menarik Yoongi yang hendak undur diri dan pergi dari café itu. Hal tersebut mampu menghentikan Yoongi namun, segera ditepisnya tangan Myungsoo. Yoongi berbalik lagi, mulai ancang-ancang untuk berlari dengan kecepatan penuh. Tetapi nasibnya malang, ia justru tersandung oleh kaki kursi dan tubuhnya ambruk serta menyenggol seorang bapak tua bertubuh tegap.
"Ya! Bajuku yang mahal! Aish, bocah sialan."
"Aa—Maaf! Maafkan saya. Saya tidak sengaja, astaga, maaf!"
Bapak tua itu mulai emosi melihat bajunya yang kotor akibat minumannya yang tumpah mengenai pakaiannya. Itu semua ulah Yoongi yang telah menyenggolnya.
"Ganti rugi!"
"Maaf-maafkan teman saya, Tuan." Myungsoo ikut ambil alih dan menghampiri Yoongi.
"Sunbae, aku rasa ini hukuman karena kita telah mengacaukan kencan mereka." Yoongi mengeluarkan wajah mirisnya.
"Cepat bayar! Hei, pakaianku mahal dan kau beraninya menumpahkan minumanku!" lagi-lagi bapak tua itu berteriak, mengundang beberapa orang untuk berkumpul mengerumuni mereka bertiga.
"Baju itu kau dapatkan dari harga grosiran, pak. Jangan membual!" interupsi seseorang langsung menyorot perhatian seluruh pasang mata di café itu.
Bapak tua itu tidak terima dengan sikap Jimin yang datang tiba-tiba dan mengacaukan urusannya. Jimin menghindar ketika bapak tua itu hendak memukulnya namun ia justru terjerembab jatuh.
"Berani-benarinya kau?!"
"Kau bisa dilaporkan atas tindakan penipuan, pak."
Jimin menatap remeh bapak tua yang hendak berdiri dari duduknya. Myungsoo heran melihat Jimin yang menarik Yoongi untuk bersiap pergi,
"Kau sudah mengikuti kita hari ini. Sekarang giliranmu, tunjukkan pada Sungyeol kehebatanmu dan ambil hatinya." Kata Jimin memberikan Myungsoo isyarat.
Jimin meminta maaf pada Sungyeol dan menarik Yoongi lari menjauh, sementara Myungsoo menghadapi bapak tua itu dengan gertakannya yang luar biasa. Ia membereskannya dengan membawa bapak tua itu pada security karena telah membuat keributan.
.
Mischievous Kiss
.
Yoongi melihat salah satu tangannya yang tengah digenggam Jimin untuk berlari.
'Aku tidak menyangka… Jimin membawaku berlari bersamanya…'
'Aku berharap waktu bisa berhenti sekarang juga…'
Keduanya sampai di pinggir sungai, mereka nampak mengatur napas masing-masing sembari bersandar pada pembatas jembatan yang memperlihatkan pemandangan air sungai Han.
"Kurasa kita aman, ini sudah cukup jauh." Kata Jimin memulai suara.
"Jimin… maaf telah mengacaukan—"
"Aku tahu."
"Eh, kau tahu kalau kita mengikuti kalian?" Yoongi mengerjap polos memandang Jimin dengan penuh tanya.
"Tentu saja. Aku bahkan telah melihatmu saat di lokasi pertama." Jimin terkekeh geli melihat Yoongi yang menggerutu sambil memukul-mukul jembatan.
"Jadi, kau sudah tahu kalau Myungsoo sunbae menyukai Sungyeol?"
Jimin mengiyakan meskipun kemarin ia merasa jika Yoongi dan Myungsoo ada hubungan, namun ia sadar begitu melihat Yoongi dan Myungsoo yang mengikutinya.
"Saat aku menemukan kalian, reaksinya lucu sekali." Ujar Jimin tak dapat menahan tawanya lagi.
Yoongi terpaku melihat Jimin yang tertawa di hadapannya kali ini, entah mengapa hatinya ikut berbunga meskipun hanya melihat sebuah tawa dari seorang Park Jimin.
"Begitu mendengar kau berkencan dengan Sungyeol, aku tidak punya pilihan lain untuk menghancurkan kencan kalian. Maaf…" ungkap Yoongi penuh penyesalan, sementara Jimin nampak tak acuh, ia malah bertanya ingin pergi kemana mereka.
"Apa?"
"Kau tidak tuli, 'kan? Kita ingin pergi kemana?"
'Kita?'
Yoongi mulai berpikir keras mempertanyakan maksud kata kita yang Jimin maksud.
Melihat reaksi Yoongi yang lamban, Jimin hanya bisa berkata jika ia akan pulang saja lalu melangkah pergi.
"Eh, jangan! Ayo kita pergi, kemana saja!" Yoongi berhasil menghentikan perginya Jimin.
Senyum manis Yoongi yang terlihat bahagia itu nampak makin bersinar lewat pantulan cahaya matahari senja. Jimin menepis pikiran bodohnya yang sempat-sempatnya terpaku dalam tiga detik lamanya.
"Jimin?"
"Ya, kita mau kemana?" Tanya Jimin sekali lagi.
Yoongi memekik senang. Ia ingin mengajak Jimin berbelanja dan makan malam di Restoran mewah.
"Kau pikir kita akan pergi dengan pakaianmu yang penuh noda itu?"
Benar juga, bagaimanapun tumpahan minuman bapak tua tadi membuat baju Yoongi sedikit lusuh dan kotor. Yoongi menyadari hal itu hanya akan membuat Jimin malu.
Tak ingin melihat Yoongi yang berubah murung, Jimin menyuruh namja manis itu mengikutinya. Dan Yoongi semangat sekali menerima ajakan Jimin.
"Kita di sini saja, oke?"
Ternyata Jimin mengajak Yoongi melihat pemandangan di jembatan, Yoongi nampak bersemangat sekali melihat pemandangan sungai Han yang terhampar cukup luas. Tanpa menyadari hilangnya sosok Jimin, Yoongi mulai tersadar dan iapun segera mencari Jimin hingga memanggil-manggil namanya.
"Jimin…" Yoongi berlari kesana-kemari mencari sosok pujaan hatinya itu.
Namun hampir dua puluh menit lamanya ia tak jua menemukan Jimin dalam jangkauan matanya sehingga Yoongipun kembali ke tempatnya semula. Hatinya mendadak perih jika mengingat Jimin yang menghilang begitu saja.
"Mungkin ia mempermainkanku lagi…" ucap Yoongi sedih,
Dalam diam Yoongi tenggelam menikmati pemandangan di jembatan beserta matahari yang mulai tenggelam. Merutuki kebodohannya yang untuk kesekian kalinya dipermainkan oleh Jimin.
'Srek'
Secara tiba-tiba Jimin sudah berada di samping Yoongi, sambil menyodorkan sebungkus hamburger. Kehadirannya sukses membuat Yoongi terbengong.
"Kau suka burger? Kita tidak bisa ke Restoran dengan penampilanmu itu. Ini, makan malammu." Ujar Jimin.
Yoongi terharu. Jimin di hadapannya seperti yang dia impikan selama ini, begitu baik dan penuh perhatian. Mereka duduk di salah satu tempat yang cukup rindang dimana tersedia sebuah bangku yang mereka manfaatkan sebagai fasilitas umum.
"Terimakasih, Jimin-ah. Kukira kau meninggalkanku…"
Jimin terdiam menyimak perkataan Yoongi yang ditujukan untuknya,
"Kukira kau mempermainkanku lagi," lanjut Yoongi.
"Makanan apapun itu, tidak akan lebih enak dari hamburger pemberianmu ini." Yoongi tersenyum senang dengan gummy smilenya yang semakin terlihat manis.
Jimin mulai bangkit dari duduknya diikuti Yoongi, keduanya mulai bersandar pada pembatas jembatan sambil menikmati pemandangan sungai Han.
"Aku tidak pernah punya masalah besar sampai sekarang. Semuanya bermulai saat kau memberiku surat cinta di masa SMA. Hampir setiap hari, ada masalah besar dan membuatku frustasi. Kurasa… kau adalah cobaan hidup yang diberikan padaku." Ungkap Jimin menceritakan keluh kesahnya selama ini.
Kali ini justru Yoongi yang terdiam, memilih untuk menyimak obrolan yang Jimin mulai terlebih dahulu.
"Aku yang terbiasa hidup tenang mulai panik saat cobaan pertama datang di dalam hidupku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk kabur, lari dari kenyataan."
"Jangan perlakukan aku seperti penyakit menular." Sela Yoongi tidak terima.
"Tetapi aku sadar hidupku menjadi lebih menarik saat aku menghadapi tantangan itu daripada tidak ada kesulitan sama sekali. Terima kasih." Ucap Jimin panjang lebar, Yoongi termenung mencoba untuk mencerna kata-kata Jimin barusan.
"Tidak masalah jika kau tidak mengerti."
"Aku paham, aku tidak bodoh. Aish." Sanggah Yoongi.
"Yang kau katakan itu… kau mencoba menjauh dariku, tapi saat kau memikirkan ulang…" Yoongi seakan tersadar dari sesuatu, ia mengira jika Jimin akan menikahinya dan mungkin saja ia sedang dilamar.
"Apa?! Bodoh, mana mungkin aku sampai sejauh itu?!" seru Jimin tidak terima dengan pemikiran konyol Yoongi barusan.
Jiminpun menjelaskan jika ia sama sekali tidak keberatan dengan Yoongi yang tinggal di rumahnya,
"Jadi, kau tidak membenciku?" Tanya Yoongi.
"Aku punya banyak masalah saat bersamamu, tapi aku tidak membencimu." Jawab Jimin dengan memberikan sebuah senyuman hangatnya.
Yoongi terharu mendengarnya sampai ia tak bisa menahan bulir air matanya lagi,
"Hah, bukan hanya pakaianmu, wajahmu juga akan kotor nanti." Kata Jimin mengingatkan.
Tetap saja Yoongi tak bisa menahan air mata bahagianya itu. Dengan lembut Jimin mengeluarkan sapu tangan berwarna biru dongkernya lalu memberikannya pada Yoongi. Jimin mencuri pandang pada sosok di sampingnya itu yang justru menggunakan sapu tangannya untuk membersihkan ingusnya.
.
Mischievous Kiss
.
Yoongi mematut dirinya di cermin, melihat wajahnya yang kusut iapun segera mencuci mukanya.
'Kejadian tak terduga. Jimin dan aku melakukan kencan pertama kami. Ini jauh berbeda dari yang kubayangkan. Kami berlari bersama, ia menggenggam tanganku, aku merasa Jimin sangat dekat padaku.'
Yoongi tersenyum bahagia mengingat kembali kencan mereka yang dilakukan secara tak sengaja itu.
Selesai membersihkan diri, Yoongi memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan turun menuju ruang keluarga. Di tengah perjalanannya, ia tak sengaja mendengar percakapan keluarga antara Jimin dan kedua orang tuanya.
"Tidak! Eomma tidak setuju!"
Yoongi terbelalak kaget mendengar Heechul yang berseru pada Jimin, ibu dua anak itu menyatakan protesannya dan tidak setuju jika Jimin pergi meninggalkan rumah.
"Eh, rumah?" bisik Yoongi bertanya pada diri sendiri.
"Seorang pria harus mengalami itu. Jika itu yang Jimin inginkan, mungkin itu bagus baginya untuk pindah dan hidup sendiri." Pikir Hankyung yang nyatanya beliau setuju dengan pemikiran Jimin untuk hidup sendiri.
Jimin mengucapkan rasa terima kasihnya kepada sang ayah, ia kembali memohon persetujuan dari ibunya yang sepertinya susah untuk diambil hati.
'Bukankah tadi sore dia bilang tidak keberatan aku tinggal bersama dengannya? Mengapa ia akan pindah dan tinggal sendiri? Apa ia berbohong, mungkinkah ia membenciku?'
.
.
Tbc.
a/n: Haluuu, salam jumpa dengan Jimsnoona. Apa kabar semuanya? Masih dengan fanfic Mischievous Kiss yang temanya gini-gini aja. Gak ada peningkatan buat Jimin dan Yoongi. Padahal FF ini udah jalan 2 tahun dan gini-gini aja, sedih deh ya. Tapi tetep aja, ff ini bakal terus berlanjut meskipun jam terbitnya super ngaret. Hihihi. Udah mulai sibuk kerja lagi nih sementara masih nunggu yudisium kelar. Siapa tau lulus wisuda ada yang bersedia… melamar pekerjaan yang lain maksudnya? WKWKWK.
Okeee, makasih buat yang sudah mampir di chapter sebelumnya. Luv luv buat semua para pembaca. Hihihi.
Jangan lupa ya kalau boleh reviewnya lagi? Hueheheh.
Jimsnoona.
