Warning : T rate semi M, bahasa gado-gado, ada OC, OOC (Click back button if you doesn't like it).
Genres : Friendship/Humor/Romance/Supranatural/Hurt-comfort/Slice of life/School life.
Pairing : BXB/Straight (silahkan dibaca untuk tau pairnya siapa aja).
Disclaimer : Naruto dkk belong to Masashi Kishimoto.
Guest Star : Kaito Shion (Kyte) from Vocaloid by Yamaha corp.
Guest Star : Matt (Mail Jeevas) from Death note by Takeshi Obata.
Guest Star : Byakuya Kuchiki from Bleach by Tite Kubo.
Guest Star : Sebastian Michael from Kuroshitsuji by Yana Toboso.
This story belong to Lucky and Riku, edited by Riku.
Please enjoy this chapter!
XX HAPPY READ, MINNA! XX
xxx
Aishiteru, Sensei!
Chapter nine
(Blue covered by Red!)
.
.
Kaito mulai melonggarkan kerah bajunya dan membuka beberapa kancing yang menutupi bagian lehernya. Semua murid menatapnya dengan serius. Kaito tidak benar-benar melakukannya, karena dia hanya membuka lima kancing dari kemejanya setelah itu Kaito memasukkan tangannya ke dalam kemeja biru kotak-kotanya itu.
'Apa yang mau dia lakukan?' pikir Naruto dan murid-murid lain secara bersamaan.
JRENNNNNG!
"TADAAA~~ " entah apa maksudnya itu tapi Kaito mengeluarkan sebuah toples kecil dari balik kemejanya itu. Guru itu memamerkan benda yang dia keluarkan sambil tersenyum lebar, membuat para murid mengernyit tak mengerti dengan kelakuan autis dadakan sang guru.
"Sensei, sebenarnya apa yang kau lakukan?" tanya Naruto dengan heran ngeliat Kaito yang masih aja cengar-cengir.
"Lho? Bukannya kau menyuruhku untuk toples?" balas Kaito sambil memasang muka sepolos mungkin yang dia bisa.
"Iya, lalu untuk apa kau mengeluarkan toples?" tanya Naruto lagi sambil garuk-garuk bingung.
"Ingat, kau menyuruhku apa?" Kaito malah balik bertanya sambil tetap mempertahankan cengiran konyolnya.
"Aku menyuruh Kaito-sensei topless, dan bernyanyi!" jawab Naruto yang masih belum mengerti kenapa si Kaito malah bawa-bawa toples. Apa dia berniat buat gunain itu toples sebagai mic?
"Baiklah, sekarang aku ini siapa?" tanya Kaito sambil menunjuk dirinya sendiri pada yang lain.
"Kaito-sensei~~ " jawab mereka secara serempak.
"Lalu, ini apa?" kali ini Kaito menunjuk benda kecil bulat yang berada di tangannya.
"Toplessssss~~ " jawab mereka semua lagi yang masih gak ngeh apa sih maksud gurunya itu.
"Nah! Kalau digabung jadi apa anak-anak?" tanya Kaito lagi dengan gaya seperti sedang mengajar murid-murid TK.
"Jadi, Kaito-sensei toplesssss!" jawab mereka barengan dengan dudulnya gak nyadar kalau mereka ketipu. Kaito sih langsung senyum-senyum aja, ngeliat mereka responnya pada lambat apalagi pada masang tampang blo'on sejadi-jadinya. Asli, dia pengen banget ngakak keras-keras di dalam toples.
Sedetik kemudian…
"BHUUUUUUUUUU!" itulah teriak-teriakan yang sukses keluar dari mulut masing-masing murid setelah menyadari apa maksud Kaito.
"Ya udah sensei, kalau gitu nyanyi ayo!" seru Temari yang gemes banget kalau mereka dikerjain sama si Kaito dengan sukses.
"Wah, lain kali saja ya? Kalian harus melanjutkan jam pelajaran kalian! Sampai jumpa!" jawab guru itu dengan enteng. Kaito berlalu dari sana sambil dadah-dadah bahagia sedangkan murid-muridnya memandang Kaito dengan bête.
Istirahat…
"Sialan banget, kita ketipu sama Kaito-sensei!" dengus Naruto yang masih emosi sama Kaito. Dia ngomel-ngomel sambil ngelalap ramen kuah kesukaannya di kantin.
"Sejak awal Kaito-sensei itu emang gak berniat buat melakukan taruhan itu, Naruto!" sambar Shikamaru yang dengan santai memakan nasi gorengnya. Naruto mengernyit sambil menatap Shikamaru dengan heran.
"Apa maksudnya?" tanya Naruto yang gak begitu paham sama maksud omongan Shikamaru.
"Yah… Dia itu hanya berniat untuk bikin lo belajar! Makanya dia sengaja ngambil sikap menantang kayak gitu dan ternyata dia sukses besar bikin lo bener-bener belajar, bahkan sampai dapat nilai sempurna lagi!" jawab Shikamaru yang sepertinya mengetahui rencana dan tujuan Kaito. Shikamaru menatap takjub pada Naruto sambil geleng-geleng gak percaya kalau anak itu benar-benar dibuat belajar.
"Dengan kata lain Kaito-sensei itu pengen naklukin lo! Karena kalau lo berhasil ditaklukan otomatis semua anak kelas 2-C bakalan bisa dia taklukan juga!" sambar Suigetsu sambil ketawa.
"Dan, lo udah masuk ke dalam permainannya," timpal Shikamaru sambil sedikit menyeringai. Tentu saja pernyataan Shikamaru dan Suigetsu membuatnya geram. Kenapa Naruto tidak menyadarinya sejak awal, dan kenapa juga si brengsek nanas itu tidak mengatakan padanya.
"Ughh… " Naruto hanya bisa mendengus sebal.
Saat mereka bertiga tengah makan, tiba-tiba saja Sasuke dan Neji datang menghampiri mereka. Dengan gaya yang angkuh Sasuke dan Neji berdiri di hadapan mereka.
"Sedang tidak sibuk, kan Naruto?" kata Sasuke yang muncul di depan Naruto dengan suara datar sambil menatap Naruto dengan dingin.
'Arghh, pasti ini soal taruhan itu!' batin Naruto dengan was-was. Dia sudah bisa menduga niat kedatangan Sasuke menemuinya.
"Kalau mau bicara cepat katakan saja!" balas Naruto dengan cuek berusaha bersikap normal meskipun saat ini dia sedang merasa sangat gugup dan berpikir, kira-kira apa yang akan dikatakan Sasuke padanya. Dia memiliki hutang taruhan dengan pemuda itu.
"Kau tentu tidak lupa dengan taruhan kita, kan?" Sasuke mengatakan kata-kata taruhan dengan penuh penekanan. Sasuke membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke telinga Naruto. Naruto tak berani melihat Sasuke tapi dia dapat merasakan kalau pemuda itu tengah menyeringai di sebelahnya.
"Te-tentu saja aku tidak lupa! Sekarang, apa yang kau inginkan?" perlakuan Sasuke membuat jantung Naruto sedikit berdegup keras, dia sangat tidak menyukai keadaan seperti ini, membuatnya agak risih. Naruto bertanya dengan cepat agar pemuda itu dengan cepat juga mengatakan tujuannya.
"Sebenarnya aku ingin sekali kau kembali padaku, tapi aku tau kau pasti akan menolaknya… " balas Sasuke sambil memasang wajah pura-pura sedihnya. "Begini, senin besok adalah pembukaan musim summer. Kau tau, kan kalau pembukaan musim itu selalu diadakan festival di sekolah kita dan kami selalu tampil untuk bernyanyi pada festival itu. Jadi aku minta kau bagaimana caranya menggantikan kami tampil, karena kami ada kesibukan tour ke luar kota." Sasuke mengatakan hal apa yang harus dilakukan Naruto.
"Maksudmu? Kau meminta kami yang tampil nyanyi di festival itu?" tanya Naruto untuk memastikan kalau dia tidak salah dengar. Sasuke mengangguk sambil setengah menyeringai.
"Jangan tidak datang, ya," kata Sasuke yang kemudian pergi dari sana dengan Neji sambil tertawa.
.
"Naruto! Lo udah gila? Kita mana mungkin tampil dicara seperti itu!" setelah Sasuke dan Neji pergi, Suigetsu langsung menyambar dan mengatakan kalau Naruto benar-benar nekad menyanggupi apa yang disuruh Sasuke.
"Mau bagaimana lagi? Gue udah terlanjur bertaruh sama dia!" balas Naruto dengan cepat. Sebenarnya dia juga stress mikirin gimana caranya dia tampil di festival itu? Apalagi disuruh nyanyi, mendingan dia terak-teriak ala si amang ketauan dia jagonya.
"Minta bantuan Kaito-sensei aja! Dia bukannya juga ngajar kelas musik? Gue yakin dia pasti mau bantu," sambar Shikamaru dengan cepat mengingatkan kalau wali kelas mereka itu juga jago dalam bidang musik.
"Minta bantuan dia?" Naruto tampaknya tidak begitu yakin untuk meminta bantuan pada Kaito.
"Iyalah! Dikit lagi hari sabtu terus senin, kalau gak cepat kita bisa dipermalukan sama Sasuke dan anak-anak kelas 2-A itu lagi!" celetuk Suigetsu mengingatkan Naruto tentang sikap anak kelas 2-A yang pasti akan merendahkan mereka lagi kalau sampai Naruto tidak berhasil memenuhi tuntutan Sasuke pada festival itu.
"Ck! Iya-iya nanti gue ke rumah Kaito-sensei minta bantuan dia!" jawab Naruto yang sepertinya sedikit terpaksa. Dia masih sebal sama guru itu yang tidak menepati janjinya, apalagi dia baru sadar kalau Kaito hanya bermain-main saja dengannya agar Naruto mau belajar. Benar-benar guru sialan, pikir Naruto sambil mengerucutkan bibirnya.
xxxxx
"Tsunade-sensei, kenapa kau menyuruh kami semua untuk berkumpul disini?" tanya Pein dengan bête, soalnya dia berencana untuk pergi ke toko anting buat nambahin koleksinya tapi dia malah stuck di kantor sama akatsuki lainnya.
"Aku hanya ingin memberitahukan pada kalian kalau selama musim summer kalian akan mengisi kegiatan di sekolah ini," kata Tsunade sambil tersenyum mencurigakan.
"Bisa dapet duit gak?" samber Kakuzu yang sukses kena keplak sama Tsunade.
"Berisik! Ini sebenarnya adalah ide dari Kaito-sensei untuk membuat kalian memiliki kegiatan agar kalian tidak berkeliaran kemana-mana!" balas Tsunade geregetan melihat para akatsuki yang kagak sabaran banget.
"Emangnya kita disuruh ngisi kegiatan apa sih, un?" tanya Deidara yang penasaran juga, emangnya kegiatan apa yang bakalan mereka isi, jangan-jangan disuruh ngurusin pasien sakit jiwa lagi.
"Kalian akan mengisi sebuah kegiatan bernama 'Radio Cinta Nista'!" jawab Tsunade sambil senyum-senyum. Akatsuki cuma bisa melongo mendengar nama kegiatan yang disebutkan Tsunade barusan.
'Lumayan juga tuh! Gua bisa nyebarin aliran jashin lewat itu kegiatan!' batin Hidan nista yang malah berniat nyebarin virus Jashin lewat radio.
'Wah, gue bisa cari majalah –beep- lewat itu radio!' yang ini giliran Pein yang berpikiran bejat.
'Kira-kira lewat itu radio, gue bisa komunikasi sama temen-temen gue di laut Atlantica gak, ya?' pikiran Kisame melayang jauh ke sodara-sodara selautannya (termasuk Patrick, spongebob dan squidward).
'Gua bisa pake itu radio buat dagang!' Kakuzu otak bisnisnya langsung aja jalan. Sisa akatsuki yang lainnya cuma manggut-manggut aja.
"Hey! Kalian dengar tidak? Pokoknya setelah ganti musim kalian mulai melakukan kegiatan itu dan setiap kegiatan kalian akan dicatat sama Byakuya-sensei yang akan mengawasi kalian!" kata Tsunade yang heran liat tampang-tampang akatsuki pada aneh-aneh. Ada yang senyum-senyum gak jelas, nyengir-nyengir gila sampe ada yang ileran segala. Akatsuki cuma manggut-manggut doang.
"Ya sudah, sekarang kalian keluar dari kantorku!" kata Tsunade lagi dengan galak sambil nendang para akatsuki itu keluar dari kantornya.
BRUKH!
Akatsuki pada tengkurep saling tindih-tindihan, sampe diliatin orang-orang lewat. Kosetsu sama Izumo langsung ngakak gak ketulungan liat para akatsuki itu udah persis kayak tumpukan ikan yang lagi dijemur.
"Ukon tunggu!" saat itu melintas Ukon yang sedang berjalan setengah berlari dengan agak tergesa. Kelihatannya pemuda itu tampak sedang menghindari Sakon yang sedang mengejarnya dari belakang.
"Kenapa tuh duo kembar ubanan, un? Tumben, un… " celetuk Deidara yang gak biasanya melihat kedua bocah kembar itu ribut. Biasanya juga pada akur-akur aja.
"Ukon, tolong dengarkan aku dulu!" terlihat Sakon yang berusaha untuk memanggil Ukon, tapi sepertinya sang kakak kembar terus saja berlalu tanpa mau mendengarkan Sakon. Keduanya berlari keluar dari gerbang sekolah.
.
.
Terlihat Sakon yang masih berusaha mengejar Ukon sampai pada akhirnya Ukon yang tidak fokus menabrak seseorang di depan pintu gerbang.
BRUKH!
"Ukon? Kenapa kau jalan tidak hati-hati?" kata sosok yang ditabrak Ukon yang ternyata adalah Kaito. guru itu kembali untuk mengambil headset miliknya yang tertinggal di meja kantor gurunya.
"Ukon!" tampak Sakon yang baru tiba dan berdiri di belakang Ukon.
"Sakon, perlu kau ketahui orang yang kusuka itu seperti Kaito-sensei!" tampaknya Kaito terjebak dalam situasi yang sangat tidak dia suka, pertengkaran antara dua saudara kembar identik.
"A-apa? Ta-tapi sejak kapan kau tertarik pada Kaito-sensei?" tanya Sakon yang langsung melotot angker ke arah Kaito, sedangkan guru itu hanya bisa tersenyum canggung sambil sweatdrop. Diam-diam Kaito berusaha menyingkir dari TKP karena dia tidak ingin terlibat ke dalam masalah yang tidak jelas.
"Itu bukan urusanmu! Ayo, sensei kita pergi!" Ukon menjawab dengan sedikit ketus dan langsung menarik tangan Kaito.
"Tidak, aku ingin me-" sebenarnya Kaito ingin menolak ajakan Ukon karena dia harus mengambil headset miliknya yang tertinggal, tapi tidak jadi karena omongannya sudah dipotong oleh Ukon.
"Aku akan mentraktir sensei es krim di toko sana! Ayo, sensei!" kata Ukon dengan cepat menyambar omongan Kaito. Kaito yang mendengar kata es krim malah balik bersemangat dan malah dia sekarang yang menarik Ukon pergi ke toko mini market yang letaknya tak jauh dari sekolah mereka. Sakon hanya menatap keduanya dengan kesal.
Kaito dan Ukon kini berada di depan mini market tersebut. Ketika Kaito mencoba untuk membuka pintu tersebut tiba-tiba ada seseorang yang keluar dengan cepat dari dalam mini market itu. baik Kaito maupun Ukon segera menyingkir dari orang yang baru saja berlari dengan cepat. Dapat terdengar teriakan dari penjaga mini market tersebut.
"KEMBALI KAU PENCURI!" teriak penjaga toko tersebut dengan marah.
"Itu, kan Tayuya… " Ukon menunjuk gadis berambut merah muda panjang itu yang kini tengah berlari ke tengah jalan.
"Ah, bahaya sekali!" kata Kaito yang langsung mengejar gadis itu ke tengah jalan. Dia khawatir kalau Tayuya berlari dengan cara yang berbahaya seperti itu, dia bisa tertabrak.
Benar saja dugaan dari Kaito karena dari arah kiri jalan ada sebuah truk yang melintas cukup cepat. Sepertinya pengemudi itu terkejut dengan Tayuya yang berlari di tengah jalan dan gadis itu tidak cukup cepat untuk bereaksi.
"AWAS TAYUYA!" Kaito untungnya dapat merespon dengan cepat. Dia mendorong Tayuya ke pinggir jalan dengan cepat.
Meskipun Kaito dapat menyelamatkan Tayuya, namun dia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Karena tepat setelah Tayuya berhasil didorongnya, truk untuk langsung menghantam dirinya dengan keras.
CRASSSHHH!
Tabrakan itupun tak bisa dihindari lagi. Kaito tertabrak truk yang cukup besar itu.
"KYAAAAAAA!" terdengar jeritan dari pejalan kaki yang melintas dan melihat kejadian itu. Tayuya hanya mampu menatap gurunya yang tergeletak dengan cairan merah yang keluar dari tubuhnya.
"KA-KAITO SENSEEEI!" Ukon sempat tercengang sesaat, kemudian dia berlari menghampiri gurunya.
.
Semua orang segera berkumpul di area itu tanpa ada satupun orang yang berani mendekat.
"Hey, jangan diam saja! Kau cepat panggil ambulan kemari!" kata salah seorang pejalan kaki yang menyuruh sang penjaga toko tersebut untuk segera menghubungi ambulan rumah sakit terdekat.
"Ba-baiklah!" kata wanita itu dengan sedikit gugup. Dia berlari kembali masuk ke dalam tokonya dan memanggil mobil ambulan untuk datang.
"Kaito-sensei bertahanlah!" Ukon terlihat sedang memangku gurunya itu. Dia berusaha berbicara pada Kaito agar gurunya itu tetap sadar. Jujur saja dia sangat takut apalagi melihat tubuh Kaito yang sudah dipenuhi darah seperti itu.
Sedangkan bagi Kaito sekarang dunianya terasa berputar. Dia merasa sudah tidak bisa merasakan semua anggota tubuhnya lagi, semuanya terasa mati rasa dan kaku. Dia dapat melihat Ukon secara samar dan pemuda itu terisak. Kaito melihat telapak tangan kirinya yang dipenuhi darah, sesaat dia kembali teringat apa yang terjadi pada dirinya.
"Ta… Yuya… Ba-bagaimana… Dengan dia? Apa… Dia… Baik-baik saja?" dengan sisa tenaganya Kaito berusaha untuk menanyakan keadaan muridnya itu. Dia khawatir kalau terjadi apa-apa pada gadis itu.
"Tayuya baik-baik saja, sensei… Kumohon bertahanlah!" jawab Ukon sambil melirik Tayuya yang masih terduduk di pinggir jalan dengan tatapan mata penuh ketakutan.
"Syukurlah… Aku lega… " balas Kaito sambil tersenyum lega. Perlahan Kaito mulai menutup matanya, dia merasa sangat lelah dan membutuhkan tidur. Dia memejamkan matanya dan dunianya menjadi gelap seketika.
"Sensei… Sensei bukalah matamu!" Ukon mengguncangkan tubuh Kaito dengan agak keras begitu melihat gurunya terpejam tanpa bereaksi. Darah terus mengalir dari bagian kepalanya, dia sangat cemas dan takut, apalagi denyut jantung Kaito semakin melemah.
"Ambulan! Dimana ambulannya!" dia berteriak panik saat dirasanya denyut jantung sudah menghilang dari tubuh Kaito.
"Kami disini!" balas dua orang petugas ambulan yang ternyata sudah tiba di tempat kejadian. Tanpa mengulur waktu lagi, kedua orang petugas itu segera menggotong Kaito ke atas tempat tidur dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Ukon kepada petugas-petugas yang membawa Kaito itu.
"Kami tidak tau, kelihatannya dia kehilangan banyak sekali darah. Tapi kami akan berusaha membawa dia secepatnya ke rumah sakit untuk diberikan pertolongan pertama," jawab salah satu petugas itu yang kemudian dia segera menutup mobil ambulannya dan segera pindah ke depan.
Akhirnya mobil ambulan itu jalan juga. Ukon hanya bisa menatap dari jauh sambil berdoa semoga gurunya itu selamat. Setelah itu dia berjalan mendekati Tayuya yang sepertinya masih benar-benar shock.
"Eh? Ada mobil ambulan? Tidak biasanya… Ada apa, ya?" tanya Naruto yang heran melihat mobil ambulan yang tak biasanya melintas di sekitar daerah mereka. Pemuda itu hanya mengangkat bahunya dengan cuek kemudian kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju rumah Kaito dan mengembalikan headset milik guru itu atas permintaan Tsunade. Lagipula dia memiliki tujuan sendiri untuk meminta bantuan guru itu mengajarkannya untuk memainkan musik dan meminta pendapat soal lagu yang akan dia bawakan nanti di festival.
Konoha Hospital…
Kedua petugas itu dengan cepat menurunkan Kaito dari dalam mobil dan segera mendorongnya masuk ke dalam rumah sakit.
"Minggir-minggir! Ada pasien gawat akibat kecelakaan! Dokter tolong bantu kami!" sepanjang jalan kedua petugas itu berteriak meminta bantuan.
"Apa yang terjadi padanya?" sambar seorang dokter berambut putih segera menghampiri Kaito.
"Dia tertabrak truk di sekitar jalan dekat Konoha Highschool! Keadaannya sudah sangat parah!" balas salah satu petugas itu menceritakan apa yang terjadi pada Kaito.
"Baiklah kalau begitu! Cepat bawa dia ke emergency room!" dokter itu segera mengangguk mengerti apa yang menimpa Kaito. "Suster! Cepat panggilkan beberapa perawat ke dalam emergency room!" dokter itu menepuk salah satu suster dan memintanya untuk mengirim beberapa perawat untuk membantunya menangani Kaito.
.
Tak berapa lama semua perawat sudah berkumpul untuk menangani Kaito bersama dengan dokter itu.
"Dokter, tekanan darah pasien semakin menurun!" kata salah satu perawat dengan panik.
"Celaka kita kehilangan dia!" sambar yang satunya lagi begitu melihat detak jantung Kaito semakin melemah.
"Kalian cepat lakukan terbaik yang bisa kalian lakukan! Kau, cepat hubungi keluarga atau orang terdekat pasien!" kata dokter itu yang sepertinya masih belum mau menyerah untuk mempertahankan nyawa Kaito. Dia lalu meminta salah seorang perawat untuk mencari informasi mengenai keluarga atau orang terdekat Kaito lalu menghubunginya.
Perawat itu bergegas menggeledah tas Kaito yang memang tadi dibawa oleh kedua petugas ambulan itu. dengan hati-hati dia memeriksa hingga akhirnya dia mendapatkan sebuah nama 'Matt'. Perawat itu segera menghubungi orang yang bernama Matt itu.
"Dokter kita kehilangan pasien! Dia sudah… " salah satu perawat memastikan kalau Kaito sudah tidak dapat diselamatkan, sedangkan sang dokter langsung menggeram marah sambil menonjok tempat tidur.
Bagaimana nasib Kaito selanjutnya? Apakah dia benar-benar tak bisa diselamatkan lagi? Apakah ini akhir dari Kaito? Lalu apa hubungan Matt dan Kaito?
TBC...
A/N : Sempet berdebat soal kemunculan Sebastian tapi pada akhirnya tokoh itu dimunculin juga. Disini diperkenalkan Radio cinta! Yang bakal dibawain sama para akatsuker eh... Akatsuki! Sepertinya di fic ini masih bersangkut-paut dengan tema supranatural (yang gue bingung sendiri kenapa alurnya bisa jatoh kesana *lirik-lirik Luki*). Disini radio cinta akan jadi interaksi baru buat para OC dan akatsuki. Nanti para OC bila minta kencan sama siapapun di akatsuki *tersenyum setan*. Yang punya masalah cinta silahkan lapor akatsuki sang dokter cinta!
Tambahan baru untuk OC Hisuke yang masuk ke kelas 2-A dari Kiroyin9. Buat OC lain akan segera menyusul. Thanks buat supportnya. Yang ada ide, saran, kritik dan pendapat silahkan kirim ke review ataupun PM. Bagi yang nunggu Neverland side story sama Princess from abyss, kata Yuki mohon maaf telat sedikit. Mungkin sabtu atau minggu dia akan update. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih bagi yang sudah membaca cerita kami, semoga kalian terhibur.
.
.
"Lucky and Riku say thanks for all of you! Thanks for reading".
