Love BEFORE-AFTER
-12-
Hunkai-Chankai
..
..
Warn ::
..
Dont like, Don D!
Enjoy!^
"Sehun.."
Baekhyun mencondongkan badannya kedepan, menempelkan dadanya pada bahu lebar Sehun. Ia berbisik, tanpa sengaja ia dapat mencium wangi sampo yang dipakai Sehun. Hal yang disukai Baekhyun adalah..Pria ini selalu memiliki aroma, bau atau sejenisnya. Setiap pagi entah rambut, pakaian bahkan tubuhnya pasti akan tercium bebauan yang menenangkan.
Pria yang dipanggilnya menengok membuat hidung mereka bersentuhan. "Kau ingin sesuatu?"
Baekhyun menggeleng, dia sengaja mendesah gusar. Sehun menarik Baekhyun berhadapan dengannya, "Kenapa?"
Sejenak mereka bertatapan cukup lama, Baekhyun merasa terpesona oleh kekasihnya ini. Pria yang menawan—dia ingat pernah memuji pria ini dihari pertama ia bekerja. Dan tak lama kemudian secara mengejutkan Sehun menawarkan suatu hubungan, Bagaimana ia bisa menolaknya. Tentu saja. Dia bangga. FYI, Seluruh wanita di kantor menyukai atasan mereka ini. Dia tahu rahasia kecil para karyawati yang sengaja datang pagi atau lembur untuk secara kebetulan bertemu dalam satu lift dengan Sehun.
"Kau mencintaiku?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Tanpa berpikir lagi—dia memang tolol. Tak usah bertanya. Karena jawaban Sehun sudah terekam baik di otaknya sejak lama. Pria ini pernah mengucap kata-kata menyebalkan tapi Baekhyun setidaknya cukup mengenal siapa Oh Sehun–Pria dingin berhati batu. Kadang sulit ditebak. Sangat sempurna, bayangan kebanyakan wanita saat melihatnya pertama kali. Dan lihat sekarang? Pria itu tersenyum. Kemudian memberinya ciuman di ujung hidung.
"I love you.." Sehun hanya mengatakan seadaanya. Baekhyun menimpalinya dengan tatapan jengah, "Liar.."
Mereka saling terkekeh. Sehun membawa gadis itu duduk dipangkuannya untuk didekap. Bibirnya tak lelah tersenyum, Dia senang Baekhyun disini.
"Hei? Kapan kita menikah?"
Senyum yang semula terlihat pekat kini meluntur, Dekapannya pun juga melonggar. Baekhyun mendongak, meminta jawaban secepatnya namun rupanya Sehun berniat mengunci bibirnya. Dia cukup pintar untuk mengerti kemana arah pembicaraan ini akan berakhir. Tapi tatapan menuntut Baekhyun tidak bisa dihiraukan. Dia tidak ingin mengecewakan permintaan gadis ini..apapun alasannya.
"Apa kau hanya akan diam?" Baekhyun bertanya lagi. Dia tidak perduli bagaimana kekasih tampannya ini akan menilainya. Dia sudah sangat sabar menunggu. Satu bulan terasa seperti setahun. Sehun sangat keterlaluan mengucap janji padanya sebelum mengikat Jongin dengan cincin dan janji bodoh. Menyebalkan.
Sehun mengernyit. Dia mulai mengkhawatirkan hal yang abstrak. "Baek.. aku perlu waktu. Dan bercerai—"
Baekhyun dengan raut kecewa menyela, "Tidak mudah. Ya kan? Aku tidak perduli. Kau sudah berjanji padaku."
Sehun membiarkan mulut Baekhyun mengumpat, Dia takkan menjawabnya. Tidak—Tidak sekarang, mungkin nanti.. atau tidak juga? . Ya, Bercerai tidak semudah mengatakannya memang. Mengurus ini-itu, datang ke pengadilan, ada banyak hal lainnya. Dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Belum tentu Jongin setuju?. Ayahnya akan marah besar. Ibu dan neneknya mungkin sedih kehilangan menantu kesayangan mereka. Lagi? Tuan Kim—Sementara ini perusahaan mertuanya itu termasuk insvestor penting. Jika dia menceraikan anaknya.. bisa saja ada kerugian di beberapa sektor.
"Bagaimana jika dua bulan lagi? Baek, Aku—"
"Tidak. Sehun. Tidak. Kau harus menceraikannya. Aku tidak mau menunggu kau lagi ataupun membiarkan kau se-atap dengan gadis jelek itu.. ukh."
Tangan Sehun terangkat—merengkuh wajah oval itu untuk menatapnya. Hanya sebentar Baekhyun menatapnya sebelum tertawa remeh, menampik tangan Sehun dari wajahnya. Gadis mungil itu beranjak dari pangkuan Sehun, hingga reflek Sehun pun ikut berdiri.
"Aku janji. ini yang terakhir ok?"
"Janji lagi! Sehun, ah Aku tahu—Kau tidak akan melakukannya kan?" Sinisnya menatap tajam Sehun.
"Mungkin." gumam Sehun dengan suara serak. Dia menunduk menghindari tatapan kecewa Baekhyun. "Sekarang masih sulit."
Alis Baekhyun bertaut. Memicingkan matanya curiga. "Apa yang sulit?" bibirnya membentuk terbuka seakan tak percaya pada apa yang dipikirkannya, "Kau.. Kau tidak menyukai gadis itu kan, Sehun?"
Sehun berdecak pelan. Tapi tatapannya melembut. Dia mencoba meyakinkan Baekhyun sekarang. "Sayang, percaya padaku. aku sama sekali ti—"
"Tapi kau sudah berjanji." melas Baekhyun setengah merengek.
Sehun mengalihkan pandangannya pada dinding ruang kerjanya—tak sengaja melihat jarum jam benda bundar yang tergantung disana menunjuk angka sembilan. Ini sudah malam. Benaknya tiba-tiba teringat tingkah aneh Jongin hari ini. Apa gadis itu sudah tidur sekarang? dia mulai hafal penyakit insomnia Jongin yang tiba-tiba.
"Sehun!"
Pria itu tersentak, kembali dari lamunan mendengar pekikkan kesal Baekhyun. Kekasih mungilnya itu tengah memasang wajah marah. Mungkin.. dia sudah membuat nya kesal.
"Kau akan menceraikannya kan?"
Baekhyun menggenggam kedua tangan Sehun, membawa tangan itu untuk dikecup. Dia mendongak, menatap pria itu memohon.
Sehun menghela nafas nya berat. Dia tidak bisa mengiyakan pertanyaan Baekhyun dengan begitu mudah. Tidak juga menolak. Ah, dia teringat bayangan Jongin tersenyum saat mereka di thailand membuat nya ragu. Gadis itu baik, Sebenarnya cukup baik. Dia gadis yang memiliki banyak sifat 'kadang'. Kadang baik, kadang tidak sopan, kadang pengumpat, kadang bar-bar, kadang juga bodoh polos tidak ada beda. Sehun tersenyum oleh pikirannya sendiri.
"Tidak mungkin kan, langsung bercerai. Baek..jangan memulai."
"Sudah kubilang. Aku tidak perduli!" Baekhyun bersuara dengan keras. Ini akan menjadi pertengkaran mereka yang pertama jika ia tidak menghentikan sifat possesive nya disini. Tapi maaf..Dia tidak bisa berhenti.
Dia sangat menyayangi Sehun. Dia takkan perduli ia harus jadi monster untuk membuat Sehun tidak pergi dari nya. Alasan kenapa ia melakukan kekonyolan ini.. karena rasa takut yang sangat kecil. Baekhyun perempuan. Jongin juga. Dia sangat tahu bagaimana watak mereka berdua sebagai gender yang sama. Dia takut Jongin membawa pergi Sehun—Miliknya.
"Baek.." Sehun sulit melanjutkan perkataannya. Matanya terpenjam sebentar menarik nafas panjang. "Pulanglah."
"Apa? Tapi—"
"Kubilang pulang."
Baekhyun mendengus, Dia melepas genggamannya lalu tertawa sarkas. "Jadi itu hanya janji kosong? Kau—Brengsek."
"Pulang!"
Baekhyun tertegun. Bibirnya tiba-tiba kelu. Tatapan tajam Sehun membuat nafasnya tercekat. Kedua mata Sehun seperti menyimpan setitik amarah, padahal dia hanya asal tebak saja. Baekhyun memberanikan diri, Dia kembali terkekeh—hanya untuk menutupi kekecewaan dalam dirinya.
"Seperti ini hah.." Lirih gadis itu pelan, ia balas menatap tajam Sehun.
"Lihat! Kau membelanya! Apa dia menggodamu? Apa dia melucuti pakaiannya agar kau tergoda sama seperti Yuri yang Jalang it—"
"Kau.." Geram Sehun berbisik, "Beraninya kau.." Dengan nafas memburu Sehun menatap tajam Baekhyun, gadis ini sudah keterlaluan bermain dengan lidahnya.
Ucapannya sudah benar-benar terhenti. Dengan tangan bergetar Baekhyun menyentuh pipi kanannya. Panas. Perih. Matanya menatap Sehun nanar, namun pria itu menatapnya begitu dingin. Beku. Sama seperti pertemuan mereka yang pertama. Kesalahan besar. Apa yang barusan dia katakan?
"S-Sehun..aku-Maaf. Aku—"
"Byun Baekhyun-Ssi" Sehun menyebut nama gadis itu sebelum dia membalikkan tubuhnya."Let's take a break. I'm too tired of you. Go now." Sambungnya pelan.
Baekhyun menegakkan tubuhnya, mendengar perkataan Sehun membuatnya tersayat. Kedua matanya basah menahan tangis sialan. Butuh beberapa detik untuk menggerakkan tubuhnya berjalan mendekati pintu dan dengan tangan bergemetar menyentuh knop pintu.
"S-selamat malam, Oh sanjangnim." Ucapnya sebelum membanting pintu kayu itu keras-keras.
''Hm."
Sehun menahan nafasnya, menyadari keputusan bodoh yang dibuatnya. Apa yang membuatnya berpikir untuk putus dari Baekhyun? Dia menatap daun pintu di ruangannya tanpa emosi yang jelas. Dia sendiri ragu untuk menyesal. Ada perasaan lega entah di bagian mananya.
Seseorang tolong katakan padanya.. alasan kenapa ia menampar Baekhyun. Terlebih ia tahu sendiri betapa sayangnya dia pada gadis itu? Jong—Aa tidak. Tidak mungkin.
Sudahlah.
Sehun tertunduk menatap lantai kosong hingga akhirnya tanpa sengaja ia memandang ke arah bingkai foto yang dipajangnya di sudut meja kerja. Foto yang membuatnya tersenyum ditengah perkerjaan yang mencekik. Disana ada dirinya, Baekhyun dan Yuri. Liburan di pantai Busan. Baekhyun terlihat manis dalam bikini putihnya. Hm..
Srakk
Sehun melempar bingkai foto itu ke dalam tempat sampah gusar. Nafasnya tersenggal menahan perasaan marah. Entah marah pada apa, Dia hanya merasa marah. Marah pada dirinya sendiri. Sehun memejamkan kedua matanya, mengatur nafasnya. Ini terlalu idiot. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Samar Sehun mendengar derit pintu ruangan terbuka dari luar, pria itu menghiraukannya dan hanya memejamkan matanya. Dalam hati ia terus mengumpat bukan terhadap apa yang dilakukannya.. tapi pada apa dan siapa yang dipikirkannya saat ini.
"Sehun?"
Sebuah suara halus membuat Sehun mau tak mau membuka mata, Dia melirik samping tubuhnya—dan menemukan Jongin berdiri disana dengan rambut terurai, gadis tan itu mengenakan babydoll panjang yang terlihat manis. Sehun berkedip memastikan sebelum hanya bergumam sebagai balasan. Dia tak pernah tau Jongin memiliki pakaian feminim semacam ini.
Dia sangat.. cantik?
"A-apa terjadi sesuatu?" Jongin hanya tergagap setelah menyadari ia mengkhawatirkan pria ini. Bagaimana tidak, baru saja ia melihat wajah menangis Baekhyun keluar dari ruangan ini. Ditambah tatapan bencinya gadis itu padanya. Oh dia takkan lupa, mereka saling tidak menyukai.
Jongin membasahi bibirnya gugup setelah beberapa detik menunggu Sehun untuk mengatakan sesuatu tapi pria itu diam kaku menatapnya dengan sepasang mata elang.
"Kau tahu? B-baekhyun menangis setelah keluar dari sini. Apa kalian bertengkar?"
Sehun menatap Jongin. Hanya menatap gadis itu dengan mata kelamnya. "Oh.. Tidak." ucap nya datar.
Jongin melebarkan kelopak mata nya menatap Sehun seakan tidak percaya. Pria itu berekspresi aneh err.. sulit diartikan hingga Jongin mulai berpikir bahwa seharus nya ia tidak perlu masuk dan menanyakan keingintahuan nya pada sosok Baekhyun yang dilihatnya beberapa menit yang lalu. Dia sadar dia bukan siapa-siapa. Istri. itu hanya karena ia menikah dan serumah dengan Sehun. Toh.. Sehun membencinya kan?
"Ah maafkan aku. M-mungkin aku pergi tidur saja. Haha.. Em, selamat m-malam." Jongin menggaruk rambut nya. Ia akan berbalik namun suara Sehun membuat nya urung.
"Tunggu. Ah—itu.. Apa kau akan tidur?" Sehun berpura-pura menata tumpukan berkas di meja. Dia berbicara dengan tubuh membelakangi Jongin. Dia tak mau gadis itu menangkap telinga nya yang sedikit memerah karena dia baru saja melempar pertanyaan konyol.
"Iya." Timpal Jongin menatap punggung Sehun dengan tatapan bingung.
"Bisa temani aku sebentar?"
"Hah?"
Sehun hanya merutuk pada bibir nya yang mengucap hal bodoh lagi.
If you're not the one, then why does my soul feel glad today?
Jika kau bukan seseorang itu, kenapa jiwaku merasa gembira hari ini?
If you're not the one, then why does my hand fit yours this way?
Jika kau bukan seseorang itu, kenapa tanganku begitu pas dengan tanganmu?
If you are not mine, then why does your heart return my call?
Jika kau bukan milikku, kenapa hatimu menjawab panggilanku?
If you you are not mine, would I have the strength to stand at all?
Jika kau bukan milikku, apakah aku akan memiliki kekuatan untuk bertahan?
I never know what the future brings
Aku tak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan
But I know you're here with me now
Namun kutahu kau di sini bersamaku saat ini
Jongin menaruh secangkir kopi didekat Sehun, lalu mendudukkan diri didepannya sambil melipat tungkainya ke atas kursi. Hari sudah larut, tapi Sehun belum mau mengistirahatkan matanya. Pria itu gila—Gila waktu, gila perempuan, gila kerja..Jongin mulai berpikir Sehun memang orang yang sibuk.
"Kapan kau akan pergi tidur?" Jongin memperhatikan pria itu membolak-balik kertas yang sama dengan wajah mengerut, Terlalu serius.
"Nanti."
Jongin hanya mengangkat alisnya menerima jawaban sependek itu dari suaminya."Err..Kopi nya nanti dingin. lebih baik kau minum sekarang." Dia hanya mengingatkan saja, tidak ada tujuan lain.
Pria pucat itu mengangguk, menuruti ucapan Jongin. Dia meminum kopi itu dalam sekali teguk. Jongin menggeleng, beranjak mendekati meja kerja Sehun—Mengambil cangkir keramik di atas meja.
"Apa kau selalu seperti ini ?"
Kali ini Sehun mendongak—Dia melepas kacamata yang semula bertengger di hidungnya. Jongin harus mengakuinya, Pria itu beribu kali terlihat tampan.
"Apanya?"
"Yaa..Begadang, Lupa tidur, Jarang sarapan, berangkat sangat pagi lalu pulang sangat larut kadang juga terlalu cepat. Hidupmu tidak teratur—tidak sehat." Jongin kembali menggeleng, merutuki kebiasan buruk Sehun. Dia tau jika pria tinggi tampan itu adalah pria dewasa yang super sibuk dengan keterbatasan waktu. Tapi.. Apa harus seperti itu? melupakan kebutuhan primernya sendiri. Tsk.
"Sarapan? apa yang harus kumakan saat kau sendiri bangun terlalu siang? Kau tidak bisa memasak kan?"
Jongin menyengir, "Maaf soal itu. Kau tau, Aku benci kompor. Hehe"
"Bocah."
Sehun mendengus. Dia menunduk megoreskan tinta bulpoin diatas kertas menulis sesuatu. Jongin yang melihatnya kembali merasa gugup. Dia pun menambahkan, "k-kalau kau mau, aku bisa mengambil les mema-"
Ucapan gadis itu terhenti saat manik tajam Sehun kembali menatapnya. Jongin bisa melihat seringai samar di bibir Sehun Ah bodoh..Sehun akan menggodanya karena mulut bodoh miliknya.
"Ho, Kau belajar menjadi istri yang baik. Bagus. Ambil saja." Jongin terpaku memperhatikan Sehun yang kini kembali sibuk dengan kertas-kertas dimeja nya.
"A-"
Jongin tiba-tiba teringat sesuatu, pagi ini.. Bukankah Ibu Sehun menelpon? Apa dia harus memberi tahu pria ini? Tapi sekarang Sehun sepertinya sibuk.
"Sehun?"
"Ashh.." Sehun mendesis kesal, dia membanting bulpoin hitamnya di atas kertas. "Sekarang apa!?"
"Itu.."
"Itu apa?" Sehun lama-lama merasa gemas menunggu Jongin mengatakan sesuatu. "Dan kenapa kau belum tidur?"
Bibir Jongin mengerucut. "Bukankah dia yang meminta untuk ditemani? tsk, pria ini. " gumamnya pelan tanpa tau Sehun bisa mendengarnya.
"Tadi pagi, ibumu menelpon.. "
Sehun mendengus geli memperhatikan wajah merajuk Jongin. "Aku tau."
"Kau .. tau?" Sehun mengangguk, dia merapikan map-map itu ke dalam tas. Lalu mematikan laptopnya.
"Aku selesai. Kau mau tidur sekarang?"
"M-maksudnya kita..kita—" Jongin dengan terbata menunjuk dirinya sendiri lalu bergantian menunjuk Sehun yang kini berdiri didepannya. Pria itu malah menyeringai, sengaja menampilkan ekspresi menyebalkan.
"Kita bisa tidur bersama. Kenapa? keberatan?" Sehun merengkuh pinggang Jongin mendekat. Ia merendahkan wajahnya agar dapat menatap manik istrinya lebih dekat. Jongin mengangguk cepat, Dia mengangkat kedua tangannya menahan bahu Sehun agar tetap memberi jarak. Dia merasa Sehun mulai sedikit ngawur. Terbentur apa kepala pria ini ingin ditemani tidur olehnya.
"Sangat!"
"Apa peduliku. Bukankah kau istriku?"
Sehun terkekeh pelan. Jongin membuatnya lupa diri. Gadis itu sedang kesal akibat ucapannya. Terbukti dari cara gadis Kim ini membuang muka serta bibirnya yang samar-samar tengah mengerut lucu.
"Biarkan Yuri tidur dikamarmu. Kau, Tidur denganku." Jongin menatap Sehun aneh. "Kau bilang apa?"
Sehun hanya menyeringai.
"A-akh! Apa yang kau lakukan, Oh-Se-Hun!" Jongin memejamkan matanya bersamaan dengan dekapan erat ditubuhnya.
"Lepas!"
"Tidak mau."
"Aaaa! Lepas!"
"Diamlah sebentar."
Sehun memerangkap Jongin dalam pelukannya. Dia teringat kasarnya ia menampar Baekhyun hanya karena.. yah begitulah. Dia tidak menyesal. Hanya berasa berat saja. Sangat berat. Disisi lain, Jongin menahan nafasnya. Gadis itu mendadak lupa cara bernafas layaknya manusia. Dia membiarkan lengan Sehun mempererat pelukan mereka.
Hening tercipta. Jongin tidak lagi memberontak dalam dekapan Sehun. Dia tidak perlu munafik, untuk apa juga menolak. Pelukan Sehun mengingatkannya pada Chanyeol. Mereka sama hangat dan nyaman. Bau tubuh mereka juga hampir mirip. Percampuran Mint dan kayu pinus.
Sudah melewati sepuluh menit. Jongin menunggu suara husky Sehun mengucapkan sepatah dua kata agar ia tidak perlu merasa canggung. Dia menyesap bibir bawahnya gugup.
"Se-Sehun.." Cicitnya pelan, menyadarkan pria pucat yang memeluknya sadar dari lamunan. Sehun bergumam menyahuti Jongin.
"Apa terjadi sesuatu? K-kau..bisa bercerita. itu kalau kau m-mau. Aku—Aku tidak mem.."
"Jangan sok tahu. Tidak terjadi apapun."
Apa-apaan pria ini? Kenapa malah mengoloknya. akh dasar aneh. Pria aneh. Jongin menekuk wajahnya kesal. Dia melirik ke atas, berhadapan langsung dengan dagu runcing Oh Sehun. Ah, Sehun memang tampan. Rahang tegas, Mata yang berkilat tajam, garis alis yang tebal nan lurus. Jongin menahan senyum. Terkadang dia lupa Jika Sehun bisa kapan saja membuatnya terpesona. Umur mereka jaraknya sangat jauh.. lebih dari tiga tahun. Jika diingat. Bukan kriteria Jongin saat masih Sma.
"Sebenarnya.." Sehun membuka suara, Namun masih enggan melepas pelukannya. Jongin hangat dan Aroma mawar dari diri Jongin membuatnya sulit melepas diri. "Kami bertengkar lalu berakhir aku menamparnya."
"Jahat sekali." Komentar Jongin. "Kenapa?"
Sehun ingin berkata, Itu karena dia merendahkanmu. Tapi dia diam saja, tidak memberi tahu alasan sebenarnya.
Jongin mendongak lagi, menatap heran pada Sehun. "Jadi.. Kalian berakhir?" Pria itu mengangguk menatap lurus pada manik menggemaskan Jongin.
"Tapi kau belum memberitahu alasannya. Eum, kenapa?" Sehun melepaskan pelukannya. Jarinya mendorong kening Jongin menjauhi tubuhnya, Dia menunduk memicing pada wajah Jongin.
"Berisik."
"Tsk," Jongin kembali merengut.
Sehun tertawa, Dia membiarkan Jongin memukul lengannya kesal. Pria itu menghindar dan berlari menuju pintu. Jongin berdecih dengan wajah yang tertekuk.
"Pria tua aneh!"
Pukul empat pagi, Di kamar Jongin rupanya Yuri tak sengaja terbangun. Gadis itu mengusap matanya dan meraba ruang kosong di ranjang. Merasa tak menemukan Jongin, Dia pun membuka matanya.
"Jongin?"
Yuri mengeluarkan suaranya pelan, berharap menemukan gadis manis yang dianggapnya adik keluar dari kamar mandi di sudut kamar. Tapi tidak. Dia menunggu dua menit namun Jongin tidak ada disana. Dia keluar berniat mencari Jongin ke dapur. Dan sekali lagi dia tak menemukannya disana. Dengan berat hati ia akan kembali tidur saja. Toh besok ia bisa menemukan Jongin.
Yuri terdiam di depan pintu kamar Jongin, dia menoleh memperhatikan pintu kamar Sehun ragu. Dia mulai berpikir mungkin saja Jongin disana. atau tidak? Lagipula Sehun tak suka jika ada orang asing di ranjangnya. Pria itu tidak akan membiarkan nya.
Menelan rasa ingin tahu, Yuri secara hati-hati memutar knop. Dia hanya memastikan jika firasatnya salah. Kepalanya menyelinap di celah kecil pintu yang sengaja dibuatnya. Yuri mencari Jongin ke sekeliling ruangan. Tak ada. Syukurlah. Yuri tertawa pelan merutuki pikiran buruknya pada Jongin.
"Apa yang kulakukan? mencurigai Jongin? Astaga."
Tapi tawa itu memelan dan tak lama hilang. Yuri membuka pintu itu lebar-lebar, memastikan apa yang dilihatnya hanyalah bayangan dan itu salah. Kedua kakinya mengambil jarak yang cukup dengat untuk memastikan siapa gadis yang direngkuh Sehun dengan erat. Itu pasti Baekhyun. Tapi tidak, Baekhyun memiliki kulit susu dan..
"J-Jo.."
"..ngin."
Yuri menutup bibirnya dan segera pergi dari sana. Ia kembali bergelung di atas kasur dengan perasaan kalut.
o
.
.
o
Sehun mengernyit merasakan seberkas cahaya menusuk matanya, Dia meraba ranjang—menghela nafas lega karena dia masih menemuka Jongin disana. Sudah pagi, pikirnya mengerling pada sosok yang bergelung nyaman disisinya.
"Hngg.."
Sehun mengangkat sudut bibirnya, setengah tersenyum melihat wajah mengantuk Jongin di pagi hari. "Morning."
Jongin menoleh sekilas lalu merenggangkan kedua lengannya sebentar dan kembali menempatkan tangannya memeluk Lengan Sehun. "Pagi." Gumamnya singkat pada pria yang kini menatapnya geli.
"Kau tidak bekerja?" Sehun menggeleng, masih belum melepas pandangannya pada wajah Jongin tanpa alas make up.
"Hari ini libur."
"Ah, Kalau begitu.." Jongin dengan mata yang masih terpejam menepuk bantal. Bibir nya melengkung mengeluarkan segaris kikikan. "Tidur lagi."
Sehun mendengus geli, Dia tau Jongin masih belum terbangun sepenuhnya. Gadis itu menggumakan hal-hal random persis orang mabuk. "Bangunlah." Dia mengguncang bahu Jongin. Tapi gadis itu mengerang kesal menampik tangannya dan bergerak memunggunginya.
"Lima menit lagi.." rengek Jongin dengan suara parau.
Sehun mengiyakan, Dia menaikkan selimut pada tubuh Jongin. Tubuh tingginya mendekat pada Jongin, menempelkan dadanya pada punggung sempit Jongin. Pria itu memejamkan matanya sebentar. Mencium aroma coklat meleleh di sekitar tengkuk Jongin. Kemarin mawar.. sekarang Coklat?
"Bau mu enak."
"Hei berhenti, i-itu Geli."
Jongin menjauhkan tengkuknya, Dia merasa geli menerima hembusan nafas panas. Dia tak tahu apa dan bagaimana wajah Sehun sekarang karena dia memunggungi pria itu. Jongin terkesiap merasakan lengan lain menelusup dibawah Selimut dan menarik pinggangnya kebelakang. Pelukan dipinggangnya begitu nyaman, Jongin tidak sanggup melepaskannya. Namun terasa erat.
"A-akh, Apa—Apa yang kau lakukan!?"
Jongin memekik. Lehernya terasa ngilu, dia menutupi nya dengan tangan. Dia menoleh kebelakang menemukan wajah menyebalkan Sehun tengah menyeringai.
"Kenapa kau menggigitku?"
Sehun melirik tengkuk Jongin, lalu membasahi bibirnya menatap Jongin. "Maaf." dia menyunggingkan senyum nya tanpa rasa bersalah.
"Dasar mesum!"
Sehun tergelak, dia menggaruk kepalanya kikuk. Jongin tengah memicing padanya dan sekarang memperlihatkan wajah lucunya saat merengut. "Hentikan." ucapnya menatap Jongin dengan mata yang menyembunyikan sarat frustasi yang tiba-tiba dirasakannya.
"Apa? Apanya? Tsk, Tidak jelas." sembur Jongin dengan wajah yang masih merengut.
Sehun berdebar, Dan tak berhenti menatap Jongin. "Baiklah-Lupakan saja."
Sehun beranjak dari ranjangnya cepat. Dia bergegas menuju kamar mandi membasuh wajah dan pikirannya. Jongin hanya mengangkat alisnya bingung memperhatikan punggung suaminya menghilang tertutup pintu.
Jongin ikut beranjak, ketika melewati cermin dia berhenti untuk mematut diri. Kedua tangannya dengan terampil menyanggul rambutnya sembarang. Sejenak gadis itu terpaku pada bayangannya sendiri. Mendadak dia teringat Chanyeol. Sudah lama juga dia tidak mengunjungi pria itu. Pria itu sepertinya punya waktu kosong saat makan siang. err dia akan datang berkunjung. Nanti. Jika diijinkan Sehun. Tentu saja. Jongin memutar bola mata memikirkannya. dasar pria tua menyebalkan. beruntung tampan.
"Sehun?" Panggil Jongin kala dalam cermin dia melihat Sehun keluar dari kamar mandi dengan handuk putih ditangannya. Sehun berhenti menatap Jongin lewat cermin yang sama. Gadis itu terlihat sempurna pagi ini. Sanggulan rambut yang tak begitu rapi milik Jongin membuat Sehun ingin mencium gadis itu. Biasanya dia akan melihat gadis itu memakai ponytail atau sekedar digerai. Kali ini.. gadis itu tampakberbeda.
Fvck. Dia tak tahu Jongin seksi.
"Apa ada waktu? Bagaimana kalau kita berkunjung ke rumahmu?" Suara halus Jongin menyadarkan Sehun dari lamunannya. Pria itu berdeham mengalihkan pandangannya ke benda lain.
"A-a.. kurasa ada. hm, Jam sembilan kita pergi."
Jongin tersenyum. "Terima kasih." Sehun hanya mengangguk, berjalan ke balkon dengan bahasa tubuh yang kaku. Jongin tertawa pelan menganggap Sehun makhluk aneh lagi.
"Hm, Dasar pria." Meski begitu ia tidak melunturkan senyumnya barang sedetik saat dirinya menatap bayang Sehun dicermin. "Aku tau kau melamun apa tadi. Ck, Mesum." Jongin terkekeh sendiri seraya menggelengkan kepalanya.
.
.
.
.
RnR?
.
.
.
TBC
Note : :
Sebelumnya minta maaf buat yang marah dan yang kecewa sama chap sebelas kemarin. Progessnya emang sengaja diperlambat. Sekali lagi maaf kalau pengejaanya salah. atau hal lain yang masih keliru. Saya akan belajar memperbaiki di Chap selanjutnya. makasih
Next is..Make you love me ( Sehun ver.)
see ya:))
LV/3
