NARUTO © Masashi Kishimoto | Sasuke U. & Hinata H. & Naruto U. | Angsty Drama


Previous Chapter

Ternyata kedua matanya masih terpejam. Entahlah pria itu benar-benar sedang tidur atau tidak. Jadilah Hinata cuma bisa diam dan kemudian membiarkan Sasuke melingkari tubuhnya. Dia hela nafas sebentar, merebahkan ulang tubuhnya di kasur, lalu memiringkan kepala ke arah lain. Kalau begini caranya, bagaimana dia bisa bergerak? Mungkin dia harus menunggu Sasuke bangun dulu. Akhirnya Hinata cuma bisa menatap kosong pintu kamar Sasuke tanpa bersuara sama sekali. Menunggu waktu bergulir begitu saja.

Namun tanpa Hinata sadari, saat dia memiringkan badan dan membiarkan Sasuke memeluknya dengan posisi menyamping, ada dua mata Sasuke yang terbuka. Iris hitam sendu itu terlihat sesaat, agak tertutup lagi, dan dia memejamkan mata. Dia hirup pelan wangi tengkuk Hinata, juga dengan pelukan tangannya yang kian menguat.

Entah kenapa ada sepercik rasa tidak rela untuk melepaskan Hinata barang sedetik pun.

Apakah benar begitu, Sasuke?

.

.

Suna waktu malam. Pintu geser tertutup dengan bantingan kencang. Hanabi yang saat itu berstatus sebagai mahasiswi Fakultas Psikologi Suna Daigakusei itu menuju meja belajar berbentuk persegi. Tumpukan kertas yang sebelumnya sudah tertata rapi di sana kembali dia hamburkan. Mata lavendernya bergulir ke sana-ke sini. Dia mencari sesuatu. Ponsel.

"Ketemu..." Hanabi temukan benda komunikasi itu di tumpukan kertas. Ia mendesah lega sambil memanjatkan syukur dalam hati.

Segeralah gadis bersurai panjang itu melempar tubuhnya ke futon empuk nan tebal yang telah tersedia. Tangannya langsung menekan aplikasi email—di mana ada beberapa notifikasi yang baru saja masuk. Salah satu pesan dari kantor polisi. Isinya yang telah ia baca membuat Hanabi kecewa. Ternyata itu adalah laporan minggu ini. Di sana dikabarkan Hinata Hyuuga, sang kakak, yang hilang seminggu yang lalu masih belum diketahui keberadaannya.

Hanabi menutup ponsel flip-nya. Memejamkan mata, lalu berdesis sebal. Bukannya bisa refreshing sebentar setelah pulang kerja kelompok, dirinya malah didera kepusingan hebat. Ujian semester akan menjelang, tapi kondisi pikirannya masih dibebani ini-itu. Hinata hilang tanpa jejak. Bahkan dengan bantuan polisi pun dia tidak bisa dilacak sama sekali. Apa seharusnya dia maklumi bahwa polisi di daerah kecil seperti ini tidak bisa terlalu diharapkan?

Tapi daripada itu... kalau dipikir-pikir, siapa orang aneh yang sebegitu tidak ada kerjaannya menculik Hinata? Tidak taukah dia bahwa kakaknya sedang mengidap gangguan mental?

"Hhh..." Gadis bersurai cokelat kopi itu menghela nafas panjang. Lama-lama isi kepalanya bisa pecah juga kalau begini.

Trrrr...

Ponsel Hanabi berdering dan nada judes otomatis keluar. "Apa?"

Itu Konohamaru, rekan sekelompoknya. 'Bagaimana tugas?'

"Bukannya tadi sore aku sudah jelaskan?"

'Masih bingung.'

"Telefon dulu yang lain. Tau kan tiap pulang ke rumah aku pasti selalu dipusingkan sama masalah kakakku?"

'Santai, Hanabi. Aku tau kakakmu hilang, tapi bisa kan kau meluangkan sedikit waktu untuk tugas UAS kita?'

"Ck, mana bisa! Kakakku hilang! Dia lagi sendirian di luar sana! Dan dia sedang mengidap gangguan jiwa! Bagaimana kalau ada yang mencelakainya!?"

'Hei, janganlah seperti itu. Lagi pula kakakmu tidak gila—oh, ralat, gangguan kejiwaan. Dia terlihat biasa saja kok saat kudatangi ke kamarnya. Cuma sedikit aneh.'

Hanabi menghela nafas. "Oke, kakakku memang tidak gila. Tapi seperti apa yang sering kujelaskan, keadaan mentalnya terganggu. Dissociative disorder. Mungkin di depan kita semua dia akan terlihat sedikit normal. Tapi kalau ada 'sosok' di masa lalunya kubahas—seperti aku menanyakan: apa yang menyebabkannya bisa jadi seperti ini?—dia bisa berubah menjadi mengerikan, bodoh! Kakakku harus disembuhkan dengan terapi yang psikiater berikan!"

Konohamaru terdiam. "Jangan bilang... soal yang itu?"

"Ya, dulu saat kubahas 'pria' yang dulu menghamilinya, kau tau kan apa yang terjadi? Dia nyaris membunuhku."

.

.

.

HANDYCAM II

© Sanpacchi Fanfiction 2014

AU—Alternate Universe

Mature Themes, Grapefruit, etc.

.

.

CHAPTER V

(Alur)

.

.

Ruangan itu sejuk oleh angin AC yang berhembus tenang. Siaran berita tersetel yang terpadu dengan wangi tumbukan biji kopi dari ruang tengah menguar ke satu kamar apartemen pribadi milik Sasuke Uchiha. Hinata yang saat itu terbaring lunglai di atas kasur mengerjap pelan. Mata lavendernya yang lengket ia buka susah payah. Entah sudah berapa banyak air mata yang kemarin malam dia keluarkan untuk permainan lima jam yang ia lakukan bersama Sasuke.

Ia usap matanya sendiri dengan jari, lalu mengadah, memandangi betapa putihnya plafon kamar ini. Termenung beberapa detik lalu menatap Sasuke yang sedang sibuk mondar-mandir di dekat meja kerja, memegangi beberapa map hitam yang kelihatan penting. Wajahnya terlihat kesal, Hinata takut sendiri melihatnya. Karena itu tanpa suara ia hanya menaruh pipinya di atas bantal. Tak peduli lagi dengan setengah dari tubuh bagian atasnya yang terekspos bebas tanpa timbunan kain selimut. Toh, sudah hampir tiap hari Sasuke melihat tubuh telanjangnya. Untuk apa masih punya malu?

"Apa lagi? Iya, aku akan wisuda tahun ini. Kau tak perlu khawatir." Pria yang sedang berbicara melalui ponsel itu menjawab ketus. "Tidak, tidak perlu. Ayah dan ibu pun tak usahlah datang. Untuk apa juga? Itu hanya seremoni biasa." Dia berhenti bergerak. Membanting map di meja dan mengusap rambutnya yang sedikit lembab—habis keramas—ke atas. "Iya, setelah lulus aku akan menangani perusahaan ayah—dan, tsk, sudahlah, Itachi! Aku tau! Tanpa kau beritahu pun aku juga akan menghadap ke kantor pusat!"

Sasuke marah-marah, Hinata menggulingkan badan di atas kasur. Dia berniat mengubah posisinya jadi terduduk, namun sebelum hal itu terjadi wanita berusia seperempat abad itu memekik pelan saat selangkangannya saling bergesek. Ada yang lecet.

"Sa-Sakit..."

Manik mata Sasuke langsung terarah padanya. Pria itu ingin mendatangi Hinata di kasur tapi kalimat dari sambungan telefonnya kembali menyita perhatiannya. "Apa? Siapa yang kau dengar? Tak ada siapa pun yang bersamaku." Tampaknya Itachi bertanya mengenai suara tadi—yang tidak tau kenapa bisa terdengar sampai sana. "Bukan. Aku tidak menyembunyikan seorang wanita di kamar. Cih, terserahlah."

Pip.

Telefon tadi dimatikan paksa dari pihak Sasuke. Pria bersurai kehitaman itu menghela nafas. Ia duduk sembarangan di tepi ranjang lalu menarik siku tangan Hinata. Dia yang sedang menunduk sambil memegangi kewanitaannya cuma bisa meringis pasrah saat Sasuke membawanya mendekat. "Kenapa? Sakit?"

Hinata tak menjawab atau bahkan mengadah, tapi raut wajahnya seolah mengatakan 'ya'. Sasuke berdecak singkat. Sebenarnya kenyataannya dirinya juga begitu. Setelah beberapa hari terus-terus bermain kasar dengan wanita ini di kasur, Sasuke tak bisa menjaga batasan. Dia lepas kendali sampai-sampai beberapa bagian tubuhnya ada yang selalu linu yang menyerang di tiap fajar muncul. Kelihatannya lain kali ia harus menggunakan lotion sebagai pelicin agar tak sama-sama rugi seperti ini. Atau malah permulaan mereka yang kurang lama?

Lagi, Sasuke menarik tubuh Hinata. Membuatnya mendongak persis di wajahnya, lalu menyusupkan bibirnya ke leher bawah telinga wanita tersebut. Ingin menciumnya namun Sasuke terhenti karena satu hal.

Bau. Bau saliva keringnya sendiri, memang. Tapi tetap saja bau.

Sasuke memundurkan wajah dan bertanya. "Sudah berapa lama kau tidak mandi?"

Tak lama kemudian Sasuke menarik Hinata ke kamar mandi. Seperti kegiatannya yang biasa, harus dia lah yang memandikan Hinata—hal itu dia lakukan sejak Hinata terlihat bingung saat Sasuke menyuruhnya mandi di hari kedua. Sasuke buat Hinata duduk di dalam bathtub dan kemudian menyiram kepalanya dengan air hangat. Kucuran air shower mengagetkannya. Ia meronta-ronta bagaikan anak kucing yang sudah lama tak kena air. Terhitung sampai tiga kali Sasuke mendorong tubuh Hinata yang ingin keluar dari bathtub agar tetap diam di tempat. Untung Sasuke sudah hafal gelagat Hinata Hyuuga yang baru ini. Dia baru bisa anteng di tempat jika ia telah memberikan Himawari, boneka beruang yang telah ia anggap anak, kepadanya.

Dengan air yang sudah dipelankan, Sasuke membiarkan kepala shower-nya tergeletak di kedua paha Hinata, membiarkan dia—yang sudah tenang—memainkan air. Tak lupa setelah menggulung lengan kemeja panjangnya sampai ke batas siku, Sasuke memenuhi telapak tangannya dengan sabun cair beraroma maskulin. Ia usapkan keseluruh tubuh molek Hinata tanpa terkecuali. Beberapa bagian pentingnya seperti dada, bokong, kewanitaan sampai lubang telinganya ia bersihkan. Beberapa kali Sasuke menahan nafas, berusaha agar tak tergoda terlebih dulu. Jam kerja sudah di ujung mata.

Tubuh penuh sabun dan gelungan rambut yang telah diberi sampo membuat Sasuke cukup kewalahan. Dia duduk di atas lantai kering di samping bathub putih yang Hinata gunakan. Ia hela nafasnya sekali dan mengusap dahinya yang sedikit berkeringat. Hinata yang masih berendam meliriknya sekilas dan Sasuke langsung meresponsnya malas.

"Apa lihat-lihat?"

Dua lavendernya bergeming sesaat. Lama-lama kelopak matanya turun dan tatapannya berbelok pelan. Hinata menunduk. Tangannya membasuh ulang kepala Himawari. Sasuke bergeming. Ada sesuatu di dalam hati kecilnya yang seolah menyesal mengucapkan kalimat tadi. Dia menarik nafas, mendekat, lalu menarik dagu basah Hinata agar kembali memandang matanya.

Pasang mata kontras bertemu.

Bibir Sasuke bergerak dan berbisik, nyaris tak bersuara. "Jangan." Katanya. "Menghadap lagi ke sini. Aku suka matamu." Satu kecupan singkat diterima di tulang hidung Hinata. "Teruslah melihatku."

Lantas suasana berubah hening. Hinata tak membalas, begitu pun juga Sasuke. Hingga pada akhirnya pria itu berdecak. Ia lepaskan Hinata dan berdiri. Tubuhnya berbalik. "Abaikan yang tadi."

Tak ada yang melihat kini Sasuke tengah menutup wajahnya yang memerah dengan telapak tangan. Ia berdesis sambil memejamkan mata. Sepertinya dia terlalu berlebihan dalam berkata-kata. Segeralah ia berjalan keluar kamar mandi sembari menurunkan lengan kemejanya yang kini agak kusut.

"Aku mau pergi sekarang. Kau keringkan badan dan pakailah baju."

.

.

® handycam ii

.

.

Namun sebelum itu, mari kita kembali ke sehari sebelumnya. Kala di mana petang tenggelam, malam menjelang. Naruto Uzumaki tertidur di kamar flat. Badannya masih terbalut pakaian kerja. Kedua kaus kaki masih terpasang, kancing kemeja bagian atas terlepas, rambut acak-acakan, serta ikat pinggang longgarnya yang masih terpasang di celana. Sudah dapat diduga Naruto yang kelelahan setelah pulang langsung menjatuhkan tubuh ke kasur empuknya. Hanya saja bukannya kedinginan karena lupa mengenakan selimut, dia malah berkeringat. Bulir-demi bulir asin membasahi leher dan punggungnya.

Naruto mengernyit. Dia terlihat tak nyaman.

Dan nyatanya benar saja. Di alam bawah sadarnya yang lain, ada sesuatu yang mengganggunya. Dia, Naruto—bukannya terlelap dengan tenang—malah berdiri di sebuah dunia gelap yang tak berujung. Nafas terengah dan tatapannya yang mengeliling menjelaskan bahwa dari tadi ia sudah berlari-lari mencari jalan keluar, tapi tak ada yang bisa ia temukan. Sepanjang jalan hanya ada kegelapan dan kegelapan.

"Tsk... apa-apaan ini?" Naruto merutuk sambil mengusap wajah. Dia cemas.

Sebenarnya dia tau, sungguh tau malah, bahwa dia saat ini berada di dunia mimpi. Tapi tolonglah, entah kenapa, seberapa sering ia mencubit tangannya sendiri, dia sama sekali tak terbangun. Desisan pelan keluar dari sela giginya. Naruto menghentakkan kaki.

"Kapan mimpi buruk ini akan berakhir?"

Ia hela nafas panjang-panjang dan menjatuhkan diri. Dia baringkan tubuh lalu memejamkan mata. Wajahnya ia timpa dengan tangan. Dia benar-benar ingin cepat kembali ke dunia asalnya. Terbangun di dalam flat-nya yang sedikit berantakan, lalu menghela nafas lega bahwa ia keluar dari dunia kelam ini. Sungguh.

Sepuluh menit terdiam di keheningan, Naruto menarik lengan. Ia buka mata. Inginnya kembali bangkit dan melakukan sesuatu, tapi nyatanya kini di hadapannya sudah ada orang yang berada tepat di hadapannya. Wajah perempuan yang terlihat jelas—sungguh mengherankan padahal suasana di sini benar-benar gelap sempurna. Tak perlu lagi ditebak siapakah wanita itu. Dia, Hinata Hyuuga, yang selalu menghiasi segala mimpi buruknya dari waktu ke waktu. Ia menunduk dan menaruh telapak tangannya di dada Naruto.

Naruto tersentak. Dia ubah posisinya dan bertanya pelan. "Hi-Hinata?"

"Naruto..."

Dia menelan ludah. Menatap sekeliling untuk yang kesekian kalinya, lalu memandang lavender sayu yang sedikit menghindari tatapannya.

"Tolong... tolong aku..."

"Eh?"

"Tolong aku..." Kali ini Hinata memberanikan diri menatap matanya. "Aku tak mau bersamanya... a-aku tak mau, Naruto-kun..."

Naruto tak mengerti. Sekalipun keringat masih terus memenuhi permukaan kulit tan-nya, Naruto mencoba menyimpulkan sesuatu. "Ta-Tapi tunggu dulu, aku sama sekali tidak mengerti. Kenapa kau minta tolong?"

"Aku bersama orang lain... yang bukan dirimu." Dia menggeleng. "Aku tidak mau..."

"Orang lain? Siapa? Siapa yang kau bicarakan?" Dia benar-benar tidak mengerti. Ingin kembali bertanya, tapi benda yang ada di tangan Hinata membuat pria bersurai duri itu terbelalak. Dia membawa gunting.

"Kalau bukan bersamamu, lebih baik aku mati saja..." Ia buka gunting itu dan mengarahkan dua capit besinya yang terbuka ke pergelangan tangannya sendiri. Naruto segera menarik tangannya.

"Jangan pernah lakukan itu!" Dia tampak tak yakin melanjutkan. "A-Aku... aku akan menyelamatkanmu."

"Sungguh?" Alis Hinata yang sempat tertekuk turun merileks kembali. Bibir merah mudanya tersenyum. "Tapi... kalau kau tidak menyelamatkanku... apa konsekuensinya?"

"Konsekuensi...? Apa maksudmu?"

Dirinya bergumam. "Kalau kau tidak bisa membawaku pergi darinya... boleh kupotong jarimu, Naruto?"

Nada lembut dia padukan dengan kalimat tadi keluar dengan mudah.

Cklik.

Dua lempengan besih tajam menyentuh jari kelingking Naruto. Kulit terobek rapi. Darah merah mengalir. Melihat itu Naruto tercekat sampai tak bisa bernafas. Mata birunya menegang saat kelingking yang ia punya sudah setengah terputus dengan bentuk tak wajar. Terkesiap, ngilu, perih, itu yang Naruto rasakan. Hinata hanya tersenyum sambil terus menggerak-gerakkan guntingnya hingga kelingking Naruto benar-benar terjatuh ke atas lantai hitam ini.

Naruto tak sanggup berkata-kata. Saking terkejutnya, setetes air mata menggenang. Kedua bahu pun refleks menaik apalagi saat tangan Hinata menyentuh bagian selangkangannya. Menekan pelan, lalu menjumput bagian yang sedikit menegang di bawah sana. Hinata tertawa kecil, nyaris berbisik, lalu dia mencium bahu Naruto yang terlapis pakaian.

"Kalau kau ingkar... maka benda inilah yang menjadi selanjutnya."

Satu bulir keringat mengalir dari pelipis Naruto. Dan hanya ada wajah polos Hinata Hyuuga yang merilis senyum padanya.

Trrrr...

Naruto terbangun setelah mendengar deringan ponsel. Tanpa ada niatan menjawab sambungan itu, segeralah ia angkat salah satu tangannya dan memperhatikan kelima jari di sana yang bergetar. Naruto yang terengah lantas merilekskan badan. Keningnya yang dipenuhi keringat dingin ia usap. Dia bersyukur menemui kelingkingnya yang utuh, tidak cacat satu seperti yang dia bayangkan. Ternyata baru ia sadari dirinya lagi-lagi memimpikan Hinata Hyuuga. Namun wanita tersebut tidak hanya datang untuk menggodanya saja. Dia semakin gila. Belakangan ini saja sudah dua kali berturut-turut Naruto mendapati wanita tersebut berencana memutilasinya pelan-pelan.

Memang. Di mimpi itu Hinata memang hanya sekedar memotong jarinya—yang jujur saja tidak sakit karena itu hanya sebatas ilusi. Naruto memandangi kelingkingnya sendiri. Tapi tetap saja. Semua itu tidak membuatnya nyaman memejamkan mata. Lama-lama Naruto muak. Dia ingin menghentikan ini segera. Apapun caranya. Pria itu menuruni ranjang. Dia usap rambut jeraminya dan kemudian meneguk air putih di meja kecil sebelah. Mendesah pelan, Naruto menyandarkan kepala ke dinding. Dia mencoba berpikir sesaat. Dan kemudian terlintaslah pesan Hinata yang sempat ia tinggalkan di mimpi barusan.

Dia minta tolong, bukan?

Namun... kalau benar Hinata yang sebenarnya minta tolong, kenapa saat kemarin dia menghampirinya di suna, wanita itu malah kelihatan tak mau bertemu dengannya?—ah, bukan. Salah. Waktu itu Hinata sedikit menyambutnya dalam bentuk respons. Hanya saja setelah dia mengucapkan kalimat yang memang sedikit tak pantas disebutkan—seperti tak bisa bertanggung jawab atas kehamilan yang sempat Hinata tanggung—Hinata histeris. Oke, itu memang wajar. Jadi secara keseluruhan tentu di pihak Naruto lah yang salah saat kejadian ke rumah Hyuuga itu.

Naruto mengacak-acak rambutnya, rungsing. Pantas saja setelah bertemu Hinata dirinya malah dibanjiri mimpi-mimpi mengerikan lainnya.

Mungkin dalam waktu hitungan jam dia harus berencana ulang menemui Hinata Hyuuga di Suna.

Trrrr...

Itu sudah panggilan kedua untuk hari ini. Naruto melirik layar ponsel dan mengaduh pelan saat tau itu telefonan dari Sakura Haruno, kekasihnya.

.

.

® sanpacchi

.

.

Enam tahun non-stop Sasuke menimba ilmu di universitas-universitas ternama Jepang. Sebagai salah satu penerus usaha keluarga, semua itu dia lakukan untuk memenuhi permintaan ayahnya mendapat gelar magister di usianya yang ke dua puluh lima. Karenanya Sasuke Uchiha sedang berada di tengah-tengah kesibukan. Belum lagi ada sekian banyak surat undangan kerja dari beberapa perusahaan ternama lain yang memintanya ikut andil memajukan usaha mereka. Mungkin masih banyak yang tidak tahu bahwa orang yang mereka tawarkan itu adalah calon direktur utama di sebuah perusahaan terbesar di kawasan Kanto. Ya, keluarga Uchiha memanglah penguasa properti yang sangat kaya di bidangnya.

Oleh sebab itu segala kepusingan yang Sasuke dapatkan di lingkungan kampus bisa mulai redam apabila ia sudah duduk di mobil lexus pribadinya yang nyaman. Suara luar tak terdengar, udara pendingin berhembus, dan Sasuke bisa memejamkan mata sejenak. Semenit terlewat, ia siap-siap menarik rem tangan. Pedal gas dia injak dan Sasuke berjalan kembali ke apartemennya yang berada di bagian barat kota Tokyo.

Trrrr...

Ketika ia sudah sampai di basement apartemen, ponselnya berdering pelan. Ia menghela nafas malas ketika melihat nama Sakura yang muncul di layar ponsel. Sedikit berdecak ia mengangkat sambungan tersebut.

"Hn?"

'Sasuke-kun, apa hari ini kau sibuk?'

"Ya. Seperti apa yang kau tau."

Sakura mendesah pelan. 'Ah, gomen ne. Aku terpaksa menelefonmu karena aku ingin menanyakan kabar Naruto.'

"Naruto? Kenapa dengan dia?"

'Akhir-akhir ini ponsel Naruto sering mati. Dia sama sekali tak bisa dihubungi. Apalagi sekarang. Siang tadi dia cuma bilang kalau dia membatalkan janji makan malam kami karena harus pergi keluar kota. Padahal aku lagi butuh cerita banyak kepadanya.'

Selama Sakura bercerita Sasuke tak banyak berkomentar. Dia hanya mendengarkan sambil mengemasi barang dari mobil dan naik ke atas lift—menuju kamar. Sampai akhirnya Sakura diam sesaat, Sasuke mencoba menanggapi dengan basa-basi. "Memangnya Naruto pergi ke mana?"

'Suna.'

Detik itu mata gelap Sasuke terbelalak.

'Apa kau tau untuk apa dia ke sana?'

"Suna?" Sasuke yang awalnya tak ingin melanjutkan obrolan mendadak kepikiran sesuatu. Suna kan tempat di mana Hinata tinggal. Kalau iya Naruto berniat menemui Hinata lagi, untuk apa juga? Apa tujuannya? Bukannya Hanabi sudah mengusirnya? Lagi pula... apa Naruto belum tau bahwa Hinata sudah tak ada lagi di rumah keluarga Hyuuga?

Cklek.

Bersamaan dengan itu Sasuke membuka kunci pintu apartemennya menggunakan kartu. Ia memasuki apartemennya yang kosong dan hening. Perangkat listriknya masih menyala memang, tapi hening, tak ada suara. Pergerakan pun tak ada. Sasuke mengabaikan Sakura yang masih menjelaskan sesuatu di ponsel. Dia lebih fokus pada matanya yang sedang mencari sesosok wanita yang biasanya ada di ruang tamu saat ia pulang.

Di mana Hinata?

Di mana Hinata-nya?

Tidak tau kenapa kepanikan menumbuh di relung hatinya saat tidak menemukan Hinata di kawasan dapur. Kalau tidak menonton kartun di televisi dengan wajah bingung, dia suka mengambil cemilan tanpa izin di kulkas. Seperti mengemut selai blueberry menggunakan jari. Tapi kini Hinata tak ada.

'Sasuke? Err... halo, Sasuke? Kau masih ada mendengarku?'

Sasuke menutup ponsel flip-nya tanpa berpikir. Segeralah ia melangkah ke kamar dan membuka pintu. Hasilnya apa yang dia dapat? Tetap tidak ada? Tak menyangka dengan apa yang dia dapat, mulutnya sedikit terbuka, alisnya menekuk sambil memberi pandangan was-was ke sekitar. Bersama rasa kehilangan yang tak terbayang seberapa besar, Sasuke berniat balik ke ruang tamu dan kembali mencarinya. Hanya saja pintu kamar mandi yang terbuka menyita perhatian. Sasuke berlari ke sana dan membuka pintunya lebar-lebar.

Dan melalui apa yang saat ini dia lihat, kedua bahu Sasuke sontak melemas. Ekspresinya yang sempat tegang kembali rileks saat ia mendapati Hinata yang masih berendam di bak mandi. Dia tertidur. Sasuke lepaskan dulu tas dan juga ponselnya di meja wastafel, lalu menyentuh wajah Hinata. Kulit hingga rambut bagian atasnya kering. Tapi saat tangannya yang terendam air dia angkat, kulit keriput kasar Sasuke rasakan. Pria itu langsung tersentak hebat dan menarik tubuh telanjang itu keluar dari bathtub.

Air berkecipak. Hinata terbangun. Kedua matanya mengerjap kaget. Sadar-sadar dia sudah diangkat oleh tangan kuat Sasuke sampai dirinya berdiri. Bunyi aliran air menetes memenuhi indra pendengarannya. Sasuke kelihatan marah. "Jadi sejak pagi tadi kau kutinggalkan di sini, kau belum beranjak dari bathtub, hah!? Kau mau mati kedinginan!?"

Berjengit, Hinata menunduk sampai kedua matanya tertutup poni. Telapak tangannya mengusap tubuh putihnya yang sedikit membengkak karena terlalu lama di air. Persis seperti orang yang kelamaan berenang. Dia juga menggigil. Mungkin baru ia sadari seberapa dinginnya AC kamar Sasuke—yang belum dimatikan bahkan sejak pagi—yang mulai menerpa tubuh basah kuyupnya. Sasuke yang kasihan cuma menghela nafas sambil menutupi tubuh itu dengan tiga lapis handuk. Ia matikan AC terlebih dulu, lalu menuntun Hinata ke kamarnya.

Sambil mengusap rambut indigo panjang Hinata menggunakan handuk lain, Sasuke pandangi bibir wanita tersebut yang memucat. Sasuke berdecak. Dia cuma tak habis pikir. Hanya karena dia tidak mengeringkan tubuh Hinata serta memakaikannya pakaian, dia sama sekali tak beranjak dari bak mandi. Apa Hinata sengaja atau memang dianya yang tidak punya inisiatif? Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup Sasuke menggelengkan kepala, prihatin. "Kau ini benar-benar seperti anak kecil."

Hening sesaat.

"Maaf..."

Menghela nafas lewat hidung, Sasuke duduk di tepi ranjang, persis di sebelah Hinata. Dia buka bagian atas handuk yang menutupi tubuh Hinata dan melihat kulitnya yang sudah terlalu banyak menyerap air. Ia belai dengan jari, lalu perlahan ia cium tulang selangka gadis itu. Tangan Sasuke meraba paha. Hinata menunduk, rambutnya menyentuh permukaan wajah Sasuke yang mulai mengadah. Satu ciuman terkecup dari bibir Sasuke untuk Hinata. Ciuman kedua pun berlaku. Lalu saat Sasuke telah menarik kepala Hinata agar ciuman ketiga mereka bisa berakhir dengan aksi yang lebih dalam, Hinata sedikit memalingkan muka.

Sasuke ditolak. Dia tak bergerak selama satu menit, cuma ada dua pasang mata kontras yang bertemu. Ingin memaksa Hinata kembali, namun kehadiran suara geraman yang berasal dari dalam perut Hinata membuat Sasuke tak bergerak.

"Kau... lapar?"

Ragu, dia menurunkan tundukan kepala.

Sasuke mengusap tengkuk dan berdiri. Apa boleh buat?

.

.

® handycam ii

.

.

Di atas meja minibar memanjang yang dimiliki oleh dapur Sasuke, Hinata—yang sudah memakai kemeja pinjaman Sasuke—duduk di kursi tingginya. Sasuke meletakkan beberapa pilihan piring; ada dua telur mata sapi lengkap dengan beberapa bacon, semangkuk sup krim instan dan juga potongan buah. Aroma yang lezat membuat jemari Hinata menyentuh asupan protein terlebih dulu.

"Kau lapar, kan? Makanlah."

Garpu yang diberikan Sasuke membuatnya langsung menusuk lempengan putih telur beralas margarin yang terlihat lezat. Meski berkali-kali terjatuh, akhirnya ia bisa menggigitnya dengan gerakan pelan. Selesai menuangkan susu di cangkir kaca, pemuda raven itu mengisi bangku sebelah. Dia bertopang dagu sambil memperhatikan wanita tersebut makan, tak lupa dengan wajah datarnya yang khas.

Bibir mungilnya tak henti-henti mengunyah. Seharian tidak makan—karena berendam tanpa henti di bathtub—membuatnya begitu konsen menghabiskan telur beserta daging babi yang tersedia di piringnya. Hanya saja Hinata terlalu menunduk. Helai rambut panjangnya yang sudah agak kering bahkan sampai ikut kemakan tanpa sadar. Sasuke menarik rambut-rambut itu dengan ujung jari. Hinata menoleh singkat. Pipi Hinata berhenti bergerak. Pandangan matanya seolah bertanya.

"Jangan makan terburu-buru..."

Agak malas Sasuke berdiri. Dia ambil karet gelang di lemari dan kemudian mengikatkan rambut lurus Hinata dari belakang, sengaja dibuat tak terlalu kencang—berkali-kali menguncir rambut Hinata selama dia di sini menjadikan pria itu tau bahwa karet ini susah dilepas. Setelah selesai tangan Sasuke turun ke pinggang Hinata, posisi memeluk. Kepalanya ia turunkan sampai puncak hidungnya menyentuh bahu Hinata. Wangi lembut sabun menguar dari tubuhnya. Sasuke memejamkan mata.

"Hinata..." Sasuke memanggil, wanita itu tak menjawab. "Aku ingin buat rekaman lagi denganmu."

Mendengar kata 'rekaman' membuat Hinata termenung. Garpu yang sempat menusuk buah itu tak jadi ia arahkan ke mulut. Matanya malah ke bawah. Isi kepalanya seperti terbayang ulang hal yang akan terjadi tiap kali Sasuke mengucapkan kalimat tadi; cengkeraman kuat di tangan, tusukan beruntun di kewanitaan, juga hisapan dan gigitan yang diterima oleh kedua buah dadanya. Dan biasanya Sasuke rekam lewat handycam yang ditaruh di sudut ruangan, entah apa tujuannya. Itu jelas bayangan yang menyakitkan, apalagi Sasuke sudah membuang segala gengsi untuk menyentuhnya. Dia jadi lebih tak segan.

"Kau mau yang seperti minggu lalu?"

Hinata memandang meja berkaki rendah yang diapit oleh televisi dan sofa. Senin lalu, atau tiga hari sesudah dia di sini, Hinata ingat Sasuke membaringkannya di meja kaca itu dengan sedikit paksaan. Pakaiannya setengah dibuka, celananya dilepas, lalu tubuh polosnya disiram sup kentang. Dengan rontaan kecil Hinata dihabisi di sana. Dihabisi dalam arti digauli sampai pinggangnya sakit, tak bisa digerakkan. Di awal-awal Sasuke memang terlihat bersemangat menyiksanya, tapi karena sekarang Sasuke sudah sedikit melunak, dia cuma ingin hal itu tak terulang kembali.

"A-Aku... mau..."

Suara Hinata membuat Sasuke yang akan mengulangi pertanyaannya terdiam, menunggu kata selanjutnya.

"Aku mau belanja..."

Sepi sesaat. Hinata yang sebenarnya juga tak mengerti kenapa malah kalimat itu yang terucap. Tidak terkira apa reaksi Sasuke nantinya. Cemas, tangan Hinata yang bebas sampai mencengkeram erat kain kemeja yang menutupi pahanya. Sasuke kan moody. Pria itu bisa menjadi kasar padanya sewaktu-waktu.

"Kau... mau belanja?" Sasuke bertanya dengan nada heran.

Hinata baru ingat Sasuke tak pernah mengizinkannya keluar apartemen. Dia jadi bingung menjawab.

"Hari ini kau mau menemaniku belanja?"

Hinata menoleh takut. Tapi raut tegang yang sebelumnya dia tunjukkan mengendur kala ia melihat Sasuke.

Apa hanya pendapat Hinata seorang bahwa Sasuke... terlihat senang?

.

.

® sanpacchi

.

.

Matahari masih menuju barat saat Naruto kembali datang ke kota Suna menggunakan mobilnya. Sambil menutup serta mengunci pintu, dia yang sudah berdiri di luar kendaraan menatap bangunan kecil bergaya Jepang yang berada di depannya. Sungguh tak Naruto disangka dirinya akan balik ke sini. Kira-kira seperti apa lagi sikap kasar Hanabi saat menemukannya di depan pintu? Naruto menelan ludah sambil sesekali memandang cemas ke arah belakang—mobil. Berharap ini belum terlambat untuk pulang. Tapi ya biarlah, ini sudah terlanjur.

Di depan pintu geser berbahan kayu itu Naruto mengetuk sendi-sendi jarinya ke sana, menciptakan sebuah bunyi yang dapat memanggil seseorang untuk keluar. Tak ada jawaban untuk sepuluh detik, Naruto berniat mengulangi ketukannya, namun semua terhalang karena mendadak ia mendengar langkah cepat seseorang yang mulai mendekat. Pintu pun terbuka.

"Apa kalian sudah menemukannya—?"

Suara serak Hanabi membuat Naruto yang berada di depannya terbelalak. "Menemukannya, katamu?" Dia bertanya. "Siapa yang kau cari?"

Hanabi yang kala itu terkejut melihat Naruto langsung menutup mulutnya yang sempat menganga. Wajah cemas yang sempat terlihat tadi mendadak berubah menjadi emosi dalam hitungan detik. Ah, tidak. Hanabi tidak hanya marah. Dia murka. "KAU! UNTUK APA KAU DATANG LAGI KE SINI!? APA KAU MAU MENGAKUI BAHWA KAU LAH YANG MENCULIK HINATA-NEE, HAH!?"

Naruto tak bergeming. Ia benar-benar tak mengerti.

"Tunggu, jelaskan dulu sebenarnya apa yang terjadi. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan..."

Hanabi menutup wajah-hampir-meledaknya dengan kedua telapak tangan. Sepertinya Hanabi telah banyak menangis belakangan ini. Lihat saja kantung mata yang benar-benar tercetak jelas di wajahnya. Hanabi merilis pandangan benci ke Naruto. Ia sama sekali tidak bisa tenang. Apalagi saat melihat sosok Naruto Uzumaki ini.

"HINATA-NEE HILANG SETELAH MINGGU LALU KAU BERKUNJUNG DI SINI, BERENGSEK! HINATA-NEE BENAR-BENAR HILANG TANPA JEJAK!"

Bulu kuduk Naruto meremang. Matanya menyipit heran. "A-Apa? Hilang?"

"DI MANA KAU MENYEMBUNYIKANNYA!? DI MANA!?"

Jadi yang dimaksud permintaan tolong Hinata lewat mimpi tadi malam... adalah ini? Karena dia diculik?

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Thanks to

Quest, astia morichan, chiee69, MRSME, anniewez, Vampire Uchiha, Uchiha Ryuuki, dylanNHL, NJ21, Kawaii Aozora, L lawliet, aiko, Hyuchiha, Ay shi Sora-chan, Guest, ookami-yan, Ritta-Frijayanti, nafita 137, WHO, pembaca handyam, Putchy, Saus Kacang, chan, dtc-susi, hyunkjh, kazekageashainuzukaasharoyani, Ayzhar, Pembaca Rahasia, Hee - chan, kensuchan, Mizuira, Pembaca Rahasia, Silent reader tobat, Luluk Minam Cullen, Just Me, stillewolfie, FressyaSH-NFYJ, CloverLeaf as ifanaru, yuhui, chibi beary, Haniuda-Hime, Dewi, anita-indah-777, zielaviena96, sushimakipark, hinatauchiha69, ore, katsumi, Gray Areader, Soran ibrahim, Yamigakure no Ryukage, Wazza numb, Killing junk, Mahdi, juita, Goodnight, ajo-anisyagreey, shanzec, NaruHina, Guest, sasuke ganteng, Imoet 07 fadli, uchiha hyuga family, Park Panda EXO Love, hyuuga nala, Baghdadi, ISTANBUL 1453, N, aindri961, MTK, Guest, nonono, Hyde'riku, NB, anisa-NHL, Anonymous, Hem, X, Kimberly, Ayu Hinata Chan, Durara, SHL always, Midorikawaii, SHARAH, chipana, QPR, Re Na Ta, kim Hae Rim, No Name, Hnisa Sahina, Ryuk, Jessie, Guest, noorzha lee, Noordin, Po chan, Sparkling Starlight, Ghincunkz Tampan, narutouzumaki-un42, Guest, Guest, alta0sapphire, Dipra, selenavella, eigar alinafiah, Guest, gothic-girl, sulissetiaN79, Nicki, devi, Rechi, Guest, Ugremony, pein-antimaho, HinataLF, Re Shirogane, RinZiTao, ejacatKyu, angelzvr, Namikaze Yuli, Hinata Hikari, Guest, Guest, 137km, yukina, Guest, uchihapachira, Zaoldyeck13, Guest, uzumakikiroi, Seseorang, S-A-I, Quinto'L Mesum, Licha uchiha, Clara Merisa, Guest, Kimochi, UriRomy, aurind, n, Lady Lollipop, Irfan sher, I-N-O, Devzlee, Owlsome, Namikaze Aira-Chan, sasuhina, diynazha-gint, Go This First, What The Hell, WTH, Guest, Bonbon 0330, devil beside you, luna sasuhina, Revailleuchiha, UriMelong-chan, siska-putri-10690, harunayoi12, Guest, zahra, Juli Alio, Haru3173, Mrs Sasori, yg nunggu lama, Guest, fuuchi, t-a, ulvha, Sena Ayuki, tea, Rabenda Miku, Guest, alluka-chan, Hyugazumaki.

.

.

Frequently Asked Qustions

Hinata kayak cewek murahan banget. Kalau cewek murahan itu yang asal ngegoda cowok padahal ngga ada status, imo. Buat Sasuke sadar dan jatuh cinta sama Hinata dong. :) Mistakes-nya mana? Udah tamat. Perasaan Hinata ke Sasuke itu seperti apa? Takut, sebenernya. Tapi lama-lama ya liat aja sendiri. Ada yang rancu di chap 11. Edited, thanks. Mau bagaimanapun yang ngerusak Hinata itu Sasuke, dia yang harus tanggung jawab. Hmm. Anda merusak moral remaja dengan membuat fict ini. Apa aku menyuruh para readers untuk melakukan hal negatif? Jangan-jangan Sansan korbannya Emon yang tidak waras. Lucu. Kenapa Sansan bilang 'yakin Sasuke suka Hinata'? Aku cuma bertanya. Jangan buat sad ending. Aku juga udah bosen buat sad end. Plotnya ngga keliatan. Terlalu lambat, ya? Sanpacchi itu NHL atau SHL? Hinata-cent. Karena kebanyakan scene SasuHina, jadi eneg bacanya. Awal Handycam I juga dipenuhin sama scene NaruHina, kan? Gantian, ya. Bagaimana jika ada anak dibawah umur yang membaca fict ini? Sejak dulu Handycam itu fict rate M, bukan fict rate K/T. Karena itu kalau ada anak kecil yang bandel baca, ya itu sudah menjadi resiko mereka sendiri. Scene lemon di sini sudah kelewat batas. Say no to lemon. Sayangnya nasi sudah menjadi bubur. Maaf. Scene NaruHina-nya mana? Sabar, ya. Jelasin penyakit Hinata lebih banyak dong. Hinata kena gangguan identitas disosiatif atau kepribadian majemuk. Cari aja di wikipedia. Ada typo. Tolong disebutin juga ada typo di bagian mana, biar bisa diperbaiki :) Jangan-jangan fict-mu adalah salah satu penyebab situs FFn diblokir. Entah. Yang jelas sampai detik ini FFn masih diblokir dan aku bisa membukanya dengan proxy. Apa fict ini punya moral? Jangan hamil di luar nikah, mungkin? Hinata di sini cuma jadi objek liar anda. Aku cuma mengikuti tema genre yang kubawa. Suka fict yang isinya fluff dari awal sampai akhir? Bacalah fict romance, jangan fict angst kayak gini. Di sini Sakura kedapetan peran, ngga? Lumayan. Authornya mungkin mengalami kelainan seksual karena fict-fictnya selalu menjurus ke perzinahan. Fine lah :) Remaja Indonesia ternyata suka cerita seks. Suka sih wajar, asal jangan ngelakuin aja. Sansan jangan liat flamers, liat aja kami yang mendukung ceritamu. Terima kasih, sungguh. Menghasilkan review banyak namun dengan isi seperti ini, apa itu yang kau harapkan? Jujur aja: ngga. Tapi udah secara mutlak isi kotak review adalah milik readers untuk melempar opini. Jadi ngga apa jika ada yang menghujat ataupun muji. Asal jangan debat aja. Buat yang bilang ilangin lemon di fict ini, kukasih tau kalau masih banyak fict lemon lain di FFn yang lebih parah. Setuju. Perbaiki EYD. Oke, maaf sebelumnya. Aku udah nyaman dengan EYD yang kupakai sekarang. Jadi kalau konkritnya hanya membahas elipsis harus di tengah-tengah spasi, sebelum tanda kutip tutup harus pakai koma, dll, aku ngga nerima. Mohon dimaklumi. Anda tipe orang yang inkonsisten dalam menentukan pairing. Aku sudah menentukan pairing apa di ending, tapi memang sengaja ngga kuberitau (lain dari LIB yang udah kuspoiler di tengah cerita supaya ngga ada yang debat). Karena fict ini memang bercerita tentang Naruto, Hinata dan Sasuke :) Btw kok Sansan santai aja di-flame? Udah terbiasa. Ambil hikmahnya aja. Kamu selalu bilang ngga suka lemon tapi kok di fict selalu buat lemon. Memang kenyatanya begitu. Jangan karena banyak review lo jadi buta. Buta? Ana*** Ai*** pencinta *** Hinata. Pernah ngga kalian merasa malu setelah menghina orang, yang kalian kira aku, tapi tau-taunya salah? :) Hapus fict kontroversi ini. Kontroversinya kan kalian yang nyiptain sendiri.

.

.

I'll be pleased if you enter your comment

Mind to Review?

.

.

Ramenly,

SANPACCHI