.
.
Kyungsoo merupakan satu di antara sekian banyak orang yang berpendapat bahwa jodoh itu di tangan Tuhan. Mengapa demikian? Lelaki bermata bulat itu beralasan selama apapun seseorang terikat dalam suatu hubungan, jika pada akhirnya Tuhan tidak menakdirkan orang tersebut berjodoh dengan orang terkasihnya, maka, takdir Tuhan-lah yang akan bermain.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Patah hati? Tentu saja. Hal tersebut pastinya sudah sering dirasakan oleh siapapun yang pernah memiliki sebuah hubungan yang mereka sebut sebagai sepasang kekasih.
Setelahnya apa?
Kecewa? Jangan ditanya. Hal paling sensitif yang dimiliki manusia ialah perasaan. Rasa kecewa itu akan datang ketika apa yang diinginkannya tidak sesuai dengan perasaannya. Bahkan rasa kecewa itu akan semakin dalam saat seseorang sudah terlanjur menciptakan rasa nyaman dalam perasaannya.
Setelah kecewa, ada lagi kah? Tentu saja ada.
Ikhlas dan merelakan. Well, dua kata tersebut sangat ringan untuk diucapkan, kan? Lantas, semudah itu pula kah kita menerapkannya? Yeah, kalian tentu tahu jawabannya. Ikhlas dan merelakan merupakan dua kata yang saling berkaitan, mudah untuk dilisankan namun sulit untuk dilakukan, setidaknya hanya segelintir orang yang berhasil mengatasi patah hati dan rasa kecewa mereka, dengan perjuangan yang tidak bisa dijabarkan secara rinci sebab setiap manusia memiliki cara sendiri dalam menghadapi masalahnya.
"Hal paling menjengkelkan untukku ialah ketika kau hanya bisa berbicara tanpa bisa membantuku, Baek."
Baekhyun melengos malas mendengar perkataan Kyungsoo. Lelaki bermata sipit itu kemudian berdiri seraya membenarkan letak tas pada punggungnya.
"Dengar, Do Kyungsoo. Meski statusku sebagai sahabatmu, aku bukanlah dirimu yang harus bertindak untuk menyembuhkan sakit pada hatimu. Kau yang harus melakukannya sebab kau tahu apa yang terbaik untukmu. Aku di sini hanya sebagai pendampingmu, orang yang berperan mendengar keluh kesahmu dan memberikan nasihat serta semangat untuk apapun yang menjadi keputusanmu. Kau, Do Kyungsoo, dan aku, Byun Baekhyun. Kita adalah dua orang dengan kepribadian berbeda, namun dengan perbedaan itu kita bisa saling mengisi dan menasihati. Keputusan terbaik ada di tanganmu. Yakinlah pada apa yang kau yakini. Ingat, Kyung, setiap keputusan yang kau ambil akan memiliki risiko tersendiri. Sudah, ya. Aku pamit pulang, Chanyeol sudah menungguku."
Kyungsoo hanya mengangguk dan melihat kepergian Baekhyun dalam diam.
Selepas perkataan panjang Baekhyun, Kyungsoo hanya bergeming di tempatnya. Para pekerja di otaknya bekerja sama untuk menerjemahkan makna dari setiap kalimat yang Baekhyun lontarkan. Beberapa detik setelahnya, lelaki bertubuh mungil itu menggeleng dan ingatannya kembali terlempar pada kejadian menyakitkan seminggu yang lalu, ketika hubungannya dengan seseorang harus kandas tanpa alasan.
Kyungsoo menyebut lelaki itu sebagai kekasihnya, namanya Kim Jongin. Hubungan mereka sudah terjalin cukup lama, yaitu lima tahun. Dalam perjalanan hubungan mereka, Kyungsoo selalu berusaha menghitung berapa banyak rasa sakit yang Jongin torehkan untuknya. Namun faktanya Jongin tidak pernah melukainya, melainkan selalu berusaha untuk membahagiakannya. Tetapi, hubungan lima tahun yang sudah dibinanya dengan Jongin harus menemukan titik akhir ketika lelaki tinggi berparas tampan itu mengajaknya berkencan.
"Kupikir kau sibuk untuk persiapan ujian besok, Jongin-ah. Kenapa malah mengajakku ke sini?" tanya Kyungsoo seraya mengeratkan pelukannya pada pinggang Jongin. Kedua matanya mengedar, menatap lalu-lalang orang-orang yang tampak sibuk dengan urusan masing-masing.
Jongin mengulas senyum tipis kemudian mengecup pelipis kanan Kyungsoo.
"Setidaknya aku akan belajar dengan tenang setelah melihatmu, sayang," jawab Jongin lembut.
"Kalau begitu kita ke apartemenmu saja. Aku akan menemanimu belajar," kata Kyungsoo lagi.
Jongin menggeleng kemudian mencubit sebelah pipi Kyungsoo dengan gemas.
"Ada satu hal yang harus kukatakan padamu, Kyung," jawabnya.
Kyungsoo mengernyit.
"Apa?" tanyanya heran.
Jongin kembali mengulas senyum tipis sebelum membawa dirinya dan Kyungsoo memasuki kafe yang tampak ramai pengunjung.
"Mau apa, Kyung?" tanya Jongin seraya melihat daftar menu yang ada di tangannya.
Kyungsoo turut membaca menu-menu yang ada di kafe tersebut kemudian memutuskan, "Aku mau cokelat panas dan seporsi cheese cake," katanya riang.
Mendengar suara riang Kyungsoo, Jongin tidak bisa menyembunyikan satu senyum yang terlihat di bibirnya. Lelaki tinggi itu kemudian berdiri dan melangkah menuju tempat pemesanan, menyebutkan makanan dan minuman yang dipesannya lalu membayarnya. Setelahnya ia kembali ke tempat di mana Kyungsoo menunggunya dengan senyum manis terus terlihat di bibirnya.
Setelah beberapa menit menunggu, pesanan Kyungsoo dan Jongin datang. Kyungsoo tampak antusias menyantap kue kesukaannya, sementara Jongin terlihat santai dengan kopi hitam yang sesekali disesapnya.
"Kyungsoo-ah..." panggil Jongin pelan.
Kyungsoo menatap Jongin sejenak kemudian kembali melahap kuenya. Kepalanya mengangguk dua kali menandakan jika ia merespon panggilan kekasihnya itu.
"Kyungsoo-ah..." panggil Jongin sekali lagi.
Kyungsoo melirik Jongin sejenak lalu menyesap cokelat panasnya, menaruh kembali cangkirnya di atas meja dan mulai fokus menatap wajah Jongin saat lelaki tampannya itu tampak tidak senang setelah direspon seadanya.
"Ingat jika ada hal yang ingin kukatakan padamu?"
Kyungsoo mengangguk yakin.
Jongin menjilat bibirnya yang mendadak kering. Lelaki tampan itu tampak gugup setelah melihat raut penasaran yang tergambar di wajah manis kekasihnya. Ia menghembuskan napas pelan sebelum melontarkan kalimat-kalimat yang sudah tersusun di otaknya.
"Ini... mengenai hubungan kita, Kyung," katanya pelan.
Mendengar itu, Kyungsoo mengernyit.
"Hubungan kita? Memangnya ada apa dengan hubungan kita, Jongin?" tanya Kyungsoo tidak mengerti.
Jongin membenarkan posisi duduknya kemudian menatap Kyungsoo lekat-lekat.
"Kupikir... ada yang salah dengan status kita, Kyung," kata Jongin pelan.
Kyungsoo kembali mengernyit mendengar perkataan Jongin. Lelaki mungil itu tampak mengerutkan keningnya dengan wajah masih menunjukkan raut penasaran.
"Kita adalah sepasang kekasih, Jongin. Apa yang salah dengan itu?"
"Justru karena kita sepasang kekasih, aku merasa itu adalah hal yang salah."
"Sebenarnya... apa yang ingin kau bicarakan, Jongin-ah? Kenapa kau membawa status kita dalam pembicaraan ini?" tanya Kyungsoo pada akhirnya. Jantungnya mulai berdetak tidak normal dan rasa tidak nyaman mulai menyerang perasaannya. Ada apa? Kenapa kekasih tampannya mendadak aneh seperti itu?
Melihat Kyungsoo yang tampak gelisah, Jongin merasa kegugupan yang sedang menyerangnya semakin membesar hingga membuat kedua telapak tangannya terasa dingin dan berkeringat.
"Apa... yang salah dengan status kita, Jongin? Katakan padaku dengan jelas, jangan membuatku takut..." lirih Kyungsoo. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan genangan air yang mulai terlihat di kedua sudut matanya. Bibirnya berusaha untuk tidak bergetar meski isakan kecil berusaha melarikan diri dari bibirnya.
"Maafkan aku, Kyung, tapi aku tidak bisa meneruskan hubungan ini. Aku ingin mengakhiri status kita sebagai sepasang kekasih."
JDER
Bagai tersambar petir, Kyungsoo langsung merasakan sengatan kuat pada hatinya, memecah organ tubuh itu menjadi beberapa bagian sebelum akhirnya jatuh dan hancur berkeping-keping. Ia tidak bisa mencegah airmata meluncur dari kedua matanya, juga tidak bisa mengelak senyum miris yang mendadak muncul di bibirnya.
Kalimat Jongin yang baru saja masuk ke telinganya langsung terserap dengan baik di dalam pikirannya, menghasilkan simpulan yang menyebabkan satu lubang perlahan-lahan muncul di hatinya. Sejenak senyum miris masih terlihat di bibirnya sebelum senyum itu menghilang dan ia memberanikan diri untuk menatap lelaki yang duduk di hadapannya.
"Apa alasannya? Mengapa kau menginginkan hubungan ini berakhir, Jongin-ah? Apa aku melakukan kesalahan, atau kau merasa bosan padaku?" tanya Kyungsoo lirih.
Jongin berusaha menahan letupan tidak menyenangkan yang terjadi di hatinya. Lelaki tampan itu berusaha terlihat biasa saja di depan Kyungsoo meski jauh di lubuk hatinya ia merasa tidak tega telah menyakiti orang yang sudah mengisi kekosongan hatinya itu.
"Ya, aku bosan dengan hubungan kita yang seperti ini, Kyung," jawab Jongin lugas.
Kyungsoo mengangguk. Ya, mungkin Jongin memang sudah bosan dengannya, mengingat hubungan yang mereka bina sudah cukup lama, hal tersebut pasti menimbulkan rasa jenuh untuk Jongin. Namun Kyungsoo pun tidak bisa mengelak jika lima tahun waktunya bersama Jongin merupakan satu dari beberapa kebahagian yang didapatnya meski kini kebahagian itu harus berjalan pergi, meninggalkan goresan luka yang mungkin memerlukan waktu lama untuk menyembuhkannya.
Kyungsoo berusaha mengerti. Lelaki manis itu berusaha memaklumi dan menerima keputusan Jongin. Walau bagaimanapun, ia tidak bisa memaksa lelaki tinggi itu untuk tetap di sisinya jika perasaan lelaki tinggi itu sudah tidak ada untuknya.
See? Tuhan mulai bermain-main dengan takdirnya. Hanya dengan menjentikkan jari, Tuhan bisa mengubah perasaan seseorang. Tuhan bisa membuat sebuah hubungan yang sudah terjalin lama kandas hanya dalam waktu beberapa menit. Tuhan bisa mengubah semuanya, apapun, sesuai kehendaknya.
Maka dari itu, Kyungsoo berusaha belajar, bersabar, dan menerima semua yang Tuhan kehendakkan untuknya. Lelaki itu tidak lagi meneteskan airmata meski sakit pada hatinya semakin terasa. Bibirnya mencoba untuk mengulas senyum manis, meyakinkan lelaki tampan yang duduk di hadapannya jika dirinya akan baik-baik saja dengan keputusan tersebut, sebab Kyungsoo pernah mendengar seseorang berkata, "Lelaki harus memiliki hati yang lebih kuat daripada perempuan.", untuk itu Kyungsoo akan mencobanya, menguatkan hatinya agar ia tidak dipandang layaknya perempuan, karena ia adalah seorang lelaki.
"Terima kasih untuk waktu lima tahun yang kau luangkan untukku, Jongin. Terlalu banyak kebahagiaan yang kita buat hingga aku tidak bisa menjabarkannya. Terima kasih untuk perhatian dan cinta yang kau berikan untukku, semua kenangan kita akan selalu terekam di hati dan otakku. Terima kasih sudah memilihku untuk menjadi kekasihmu, juga mengajarkanku untuk mulai belajar melepaskan sesuatu yang bukan milikku lagi, sebab kau pernah berkata padaku, sesuatu yang Tuhan titipkan pada kita akan Tuhan ambil kembali jika masanya sudah selesai. Aku menerima keputusanmu, Jongin. Mulai detik ini, status di antara kita bukan lagi sepasang kekasih..."
Jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi namun Kyungsoo tidak henti-hentinya menghela napas panjang. Lelaki bermarga Do itu tampak bosan menunggu di ruang tamu rumahnya. Lelaki mungil yang berstatus sahabatnya tidak kunjung datang padahal pesan singkat yang dikirimkan lelaki itu sudah sejak satu jam yang lalu. Sekali lagi ia menghela napas panjang sebelum beranjak ke kamarnya untuk mengambil ponsel kesayangannya.
Tepat ketika kedua kakinya sudah berada di depan pintu kamarnya, Kyungsoo mendengar bel rumahnya berbunyi. Dengan cepat ia melangkah ke pintu depan, membukakan pintu dan langsung berdecak kesal saat melihat cengiran lebar yang diperlihatkan sahabat mungilnya.
"Harga pasta gigi tidak semurah zaman dahulu, Baek," ucap Kyungsoo sinis.
Baekhyun menggendikkan bahunya kemudian melangkah masuk dan menyerahkan beberapa kantung plastik berisi makanan pada Kyungsoo.
Kyungsoo mengernyit melihat Baekhyun membawa cukup banyak makanan. Meski begitu tangannya tetap bergerak untuk mengambil kantung plastik yang Baekhyun sodorkan padanya dan melangkah ke arah dapur.
Baekhyun mengikuti Kyungsoo dan berhenti di depan kulkas kemudian mengambil sekaleng soda tanpa seizin Kyungsoo. Kyungsoo yang melihat itu hanya mendengus dan memutar kedua bola matanya.
'Rumah orang serasa rumah sendiri, ya?' sindirnya dalam hati.
Baru saja Kyungsoo ingin mengambil susu kesukaannya, bel rumah yang berbunyi lantas menghentikan pergerakannya. Ia terdiam sesaat dengan para pekerja otaknya yang berusaha mencari jawaban atas pertanyaan sendiri.
'Siapa lagi yang datang? Bukankah Ibu dan Ayah baru saja pergi?' tanyanya dalam hati.
Sadar jika pertanyaannya tidak akan mendapat jawaban, Kyungsoo kembali melangkah ke depan pintu, membukakan pintu, dan terkejut setelah melihat orang yang bertamu ke rumahnya.
Itu... Jongin. Kim Jongin.
Lelaki berparas tampan, bertubuh tinggi, pandai menari, berkulit coklat, memiliki senyum yang memikat, dan pernah membuatnya terjerat hingga merelakan diri menjadi kekasihnya.
PLAK
Satu tamparan tak kasatmata berhasil menyadarkan Kyungsoo dari lamunannya. Ia mendesis dan merutuki kebodohannya yang baru menyadari jika lelaki tampan di hadapannya itu bukan lagi kekasihnya.
"A—ada... apa?" tanyanya terbata. Ia merutuki suaranya yang mendadak aneh dan mendesis kesal saat kegugupan perlahan-lahan mulai menyerangnya.
Jongin tersenyum manis.
"Boleh aku masuk, Kyung?" tanya Jongin lembut.
Tanpa mengeluarkan suaranya, Kyungsoo mempersilakan mantan kekasihnya itu kembali memasuki tempat tinggalnya setelah beberapa lama lelaki tampan itu tidak datang ke rumahnya. Ia kemudian melangkah ke dapur untuk membuat minuman.
"Silakan diminum, Jongin," kata Kyungsoo seraya menyodorkan teh hangat ke hadapan Jongin. Jongin mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih, Kyung," balasnya.
Kyungsoo mengangguk kemudian memilih untuk duduk di hadapan Jongin.
"Tunggu sebentar, ya," kata Jongin membuat wajah Kyungsoo memunculkan raut kebingungan.
"Huh?"
Tanpa menjawab, Jongin hanya membalas kebingungan Kyungsoo dengan senyum manisnya. Sementara itu kedua matanya sesekali melihat pada pintu rumah Kyungsoo yang tertutup.
Cklek
Bunyi pintu yang terbuka memaksa Kyungsoo untuk menoleh. Seketika kedua matanya membulat saat melihat kedua orang tua Jongin datang bersama kedua orang tuanya. Beberapa detik setelah itu Baekhyun muncul dari arah dapur dengan membawa kotak kecil berwarna biru di tangannya.
Kyungsoo mengerjap-ngerjap bingung sebelum menatap satu per satu sosok yang ada di rumahnya.
"Ini... maksudnya apa?" tanyanya tidak mengerti. Ia mengalihkan pandangannya ke arah kedua orangtuanya, meminta pada kedua sosok yang dicintainya itu untuk menjelaskan hal apa yang sedang terjadi.
Tuan dan Nyonya Do hanya tersenyum simpul kemudian menyuruh Kyungsoo untuk menatap Jongin. Kyungsoo hanya menurut. Dengan cepat ia membawa kembali pandangannya untuk menatap lelaki tampan yang sampai saat ini masih singgah di hatinya.
"Apa kau menganggapku sebagai mantan kekasihmu, Kyung?" tanya Jongin seraya mendekat satu langkah ke arah Kyungsoo.
Dengan kaku Kyungsoo mengangguk.
"Tapi aku tidak pernah menganggapmu sebagai mantan kekasihku, Kyung..." kata Jongin lagi kemudian tersenyum simpul.
Kyungsoo mengerutkan kening, tidak mengerti dengan makna kalimat yang Jongin lontarkan. Apa maksudnya? Bukankah lelaki itu yang sudah memutuskan hubungan mereka? Lantas kenapa lelaki itu tidak pernah menganggap dirinya sebagai mantan kekasihnya?
"Jongin, mungkin kau sedang sakit. Kita sudah tidak memiliki hubungan apapun sekarang, itu artinya aku mantan kekasihmu," jelas Kyungsoo pelan.
Jongin melangkah semakin dekat ke arah Kyungsoo kemudian menangkup kedua pipi Kyungsoo dan mengecup bibirnya.
"Aku tidak pernah mengatakan kalau kita putus, Kyung. Aku hanya mengatakan ingin mengakhiri hubungan kita. Kau pikir, ada berapa banyak hubungan di dunia ini sampai kau menganggap jika aku mantan kekasihmu dan kau mantan kekasihku, huh?"
Kyungsoo menggeleng tidak mengerti.
Jongin tersenyum maklum. Ia meminta Baekhyun mendekat ke arahnya dan mengambil kotak kecil berwarna biru yang sejak tadi Baekhyun pegang. Ia kemudian membuka kotak itu dan memperlihatkan satu cincin dengan desain yang cukup rumit.
Kali ini Jongin tersenyum manis. Lelaki bermarga Kim itu kemudian menatap penuh sayang wajah manis di hadapannya. Tangannya bergerak untuk menggenggam tangan kiri Kyungsoo dan menyematkan cincin tersebut di jari manis Kyungsoo.
"Inilah akhir dari perjalanan cintaku, Kyung. Aku sudah memantapkan hatiku untuk memilihmu sebagai pendampingku selamanya. Seminggu yang kugunakan untuk menyakitimu sekarang telah kubayar dengan menjadikanmu milikku seutuhnya. Sekarang hubungan kita bukan lagi sepasang kekasih, melainkan sebagai tunangan. Namun tidak lama dari itu, aku akan menjadikan status kita sebagai suami-istri."
Kyungsoo tidak tahu harus melakukan apa. Dirinya hanya bisa terdiam layaknya patung saat kata-kata Jongin secara teratur memasuki indra pendengarannya, juga saat secara mendadak Jongin menyematkan cincin di jari manisnya dan melamarnya. Tuhan... inikah yang dinamakan takdir? Inikah yang dinamakan jodoh di tangan Tuhan? Ketika Tuhan sempat memisahkannya dengan Jongin selama beberapa waktu, akhirnya Tuhan kembali menghendakinya untuk bersama Jongin, bahkan kali ini sebagai seseorang yang dipilih lelaki itu untuk menjadi pendamping hidupnya.
Kyungsoo tersenyum haru. Perasaannya campur aduk saat ini. Ia senang, sedih, terharu, dan marah. Ya, marah, sebab kejutan yang Jongin berikan untuk melamarnya benar-benar tidak lucu.
Kyungsoo tersadar, mengerjapkan kedua mata bulatnya kemudian melihat ke sekelilingnya dan menemukan enam pasang mata yang sedang menatapnya haru dengan senyum manis tersungging di bibir mereka. Kyungsoo ikut mengulaskan senyum pada bibirnya sebelum mengecup cincin yang tersemat di jari manisnya kemudian memeluk Jongin erat dan mendaratkan bibirnya pada bibir tebal milik Jongin.
Jongin tersenyum di sela aktivitas Kyungsoo melumat bibirnya. Perlahan-lahan lelaki kelahiran Januari itu mulai membalas ciuman Kyungsoo, melumat bibir atas dan bawah Kyungsoo secara bergantian. Sesekali giginya dengan jahil menggigit bibir bawah Kyungsoo, menghasilkan erangan samar keluar dari bibir Kyungsoo. Walaupun begitu, Kyungsoo tidak berniat melepaskan ciuman mereka meski ia tahu jika ada kedua orangtua Jongin dan kedua orangtuanya, serta Baekhyun yang sedang menonton aksi tidak senonoh mereka.
Biarlah. Ia terlalu merindukan lelaki tampan yang sedang dipeluknya dan menciumnya. Ia hanya ingin memuaskan hasrat yang terpendam di hatinya setelah seminggu lamanya ia menahan semua perasaan yang membuatnya tidak nyaman.
Sekarang ia bisa bernapas lega sebab doanya untuk memiliki Jongin seutuhnya telah terkabul. Ia akan menjaga hubungannya, semakin belajar menghargai apa yang telah dimilikinya sebelum ia kehilangan hal itu untuk kedua kalinya.
Sekarang Kyungsoo paham. Ia hanya tidak perlu memaksakan sesuatu yang memang sudah bukan miliknya. Ia hanya perlu terus belajar untuk ikhlas dan merelakan, sebab bisa jadi Tuhan sedang menguji dirinya untuk mengukur apakah dirinya pantas untuk disandingkan dengan sosok sempurna seperti Kim Jongin. Nyatanya Tuhan sudah menghendakinya sejak awal, meski dibumbui sedikit rasa sakit. Sekarang pun Kyungsoo sadar, jika semua hal yang terjadi di dunia ini sudah ada Tuhan yang menulis dan mengaturnya. Tuhan tahu yang terbaik untuk semua makhluk ciptaannya. Maka dari itu, tetap belajar ikhlas dan merelakan, karena bukan tidak mungkin kita semua akan merasakan yang namanya kehilangan.
.
.
.
End
.
.
.
Aku memegang keningku sebelum mengetik ini, dan ternyata keningku panas. Tapi kenapa aku bisa menghasilkan tulisan di atas padahal moodku sedang berantakan? Huh, tugas kuliah benar-benar membuat emosi. Akhirnya sebagai penghibur diri aku menulis cerita di atas, dan kuharap review kalian dapat memperbaiki moodku, hehehe.
Berarti KaiSoo World gak jadi tamat di chapter kemarin ya, kan malam ini aku publish chapter yang baru :D Gimana? Ada manis-manisnya gak? Pasti aneh ya? Duh, maafkan kalau aneh ya. Tapi aku tetap berharap kalian menyukainya ya ^^
Balasan review:
awrerei: Ah, kenapa begini? Coba tanyakan pada rumput yang bergoyang :D hmm, aku juga tidak tahu kenapa hasilnya bisa seperti itu/mikirkeras/ tapi terima kasih sudah menyukai tulisanku ^^
Soonini: Sarannya boleh juga sih, tapi apalagi ya yang harus kutulis?/mendadakgakbisanulis/ :D ini sudah dilanjut dengan chapter baru ya, semoga suka ^^
Rizkinovitasarii: Iya, mereka gak bisa bersatu dan Jongin malah jauhin Kyungsoo. Jahat, ya? Jangan sedih ya, kan ini sudah manis lagi ceritanya :D semoga suka ya ^^
dinadokyungsoo1: Yap, ketika membuatnya aku memang sedang membayangkan kisah KaiSoo yang sekarang, kisah yang buat Kyungsoo sakit hati saat... sudahlah, aku terlalu malas mengingatnya lagi :( ini sudah dilanjut, ya. Semoga suka ^^
Eun810: Kamu nungguin aku? Yaampuuuuuun. Baru kali ini ada yang nungguin aku, uh aku jadi terharu, huhuhu. Maaf ya sudah membuat kamu menunggu. Sekarang nungguin aku lagi gak? Kan sudah sebulan lebih aku gak update :D kali ini ceritanya gak menyakitkan, kan? Semoga suka ya ^^ YASH! SEMANGAT!
Lovesoo: Kalau gitu baca yang ini pasti gak akan sedih lagi :D maaf ya sudah membuatmu sedih.
meliarisky7: Ini sudah dilanjut, ya. Semoga suka ^^
nstplw: Jangan lupa buka PMnya lhoooo :D
.
.
Big Thank's To:
[Chapter 11 – My Story]
Awrerei ll Soonini ll Rizkinovitasarii ll dinadokyungsoo1 ll Eun810 ll Lovesoo ll meliarisky7 ll nstplw
.
.
.
Review kalian merupakan penyemangatku, terima kasih ^^
.
.
.
Yang berkenan dan ikhlas...
Bisa memberikan reviewnya untukku?
Kritik dan saran diterima dengan lapang dada dan tangan terbuka :*
.
.
.
Terima kasih ^^
