Dude Ranch Bride (Remake)
.
Story By : Madeline Baker
Remake By : Zahra Amelia
.
Rate : T – M
.
Length : Chaptered
.
Cast : Cho Kyuhyun x Lee Sungmin
Other Cast : Zhoumi, Lee Sungjin, Kang Kyeong Suk, Lee Chunhwa, Lee Donghae and others.
.
Genre : Romance/Hurt/Comfrot
.
Disclaimer : KyuMin Is Destiny
.
Warning : Boys Love, Yaoi, OC, OOC, Miss Typo(s), etc
.
Sebuah novel Harlequin straight yang merupakan karya dari 'Madeline Baker' dengan judul 'Dude Ranch Bride' yang saya remake menjadi sebuah fanfiction dengan main pair KyuMin, dengan segala penambahan dan pengurangan seperlunya dari saya, demi menyelaraskan dengan karakter dari Kyuhyun dan Sungmin.
.
Chapter 11
.
Don't Like Don't Read
Happy Reading and enJOY!
.
.
.
Satu jam kemudian, mereka sudah berada dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ibu Sungmin ikut bersama Sungjin, sementara Jung Han dan Minah mengikuti dengan BMW mereka. Dan Sungmin satu mobil dengan Kyuhyun.
Di rumah sakit, Kyuhyun menunggu di ruang tunggu sementara keluarga itu masuk untuk menjenguk ayah Sungmin. Satu hal yang pasti—ayah Sungmin tidak ingin bertemu dengannya. Hanya mengetahui bahwa dia berada di gedung itu mungkin bisa membuat penyakit ayah Sungmin kambuh lagi.
Kyuhyun duduk di sana selama beberapa menit, menonton acara drama romantis di televisi, lalu berjalan mondar-mandir di sepanjang lorong.
Dia sudah berjalan mondar-mandir menyusuri lorong selama dua puluh menit saat Zhoumi berbelok di sudut lorong. Pria itu menghentikan langkahnya begitu melihat Kyuhyun, dan keduanya saling menatap tajam dalam jarak kurang lebih dua meter.
Zhoumi mengenakan celana panjang berwarna hitam, kaus polo merah, dan sepatu hitam mengkilat. Rambutnya disisir rapi dan berwarna merah menyala. Pria itu terlihat persis seperti dirinya sendiri; sombong dan kaya raya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Zhoumi. Dia memandangi Kyuhyun dari atas ke bawah dengan ekspresi merendahkan, seakan dia baru saja menemukan ulat di dalam salad-nya.
"Menunggu kekasihku," jawab Kyuhyun. Dia memberi penekanan pada kata 'kekasihku'. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Zhoumi mendengus merendahkan. "Dia bukan kekasihmu dan tidak akan pernah menjadi kekasihmu."
Kyuhyun menyeringai. "Benarkah? Seingatku dia pulang bersamaku semalam. Atau seharusnya kukatakan, aku pulang bersamanya."
Wajah Zhoumi memucat, lalu berubah menjadi merah padam mendengar kata-kata itu dengan telak mengenai sasarannya, tajam dan jitu seperti anak panah. Sembari menegakan kepalanya—angkuh, dia berjalan melewati Kyuhyun dan menghilang masuk ke dalam kamar rawat Lee Chunhwa.
Kyuhyun terkekeh pelan. "Benar-benar telak," gumamnya sembari beranjak menuju mesin penjual kopi otomatis di ujung koridor.
.
.
.
Sungmin menengadah saat Zhoumi memasuki ruangan. Wajah pria itu merah padam dan terlihat seolah baru saja menelan sesuatu yang tidak enak. Pria itu menyapa ibunya yang duduk di sebelah ayahnya sembari memegang tangan suaminya. Dia juga menyapa anggota keluarganya yang lain. Jung Han dan Minah tengah asik menonton televisi. Sungjin duduk di seberang ibunya. Seraya berdiri Sungjin menyalami Zhoumi—terlihat senang akan kedatangan pria itu.
Seraya melangkah mendekati tempat tidur, Zhoumi mengangguk ke arah Chunhwa. "Ajusshi, anda tampak jauh lebih baik daripada terakhir kali saya melihat anda."
"Terima kasih, nak," sahut Chunhwa. "Aku juga merasa jauh lebih baik saat ini."
Zhoumi tersenyum ke arah Chunhwa. "Saya senang mendengarnya. Semoga kondisi anda semakin membaik dan anda bisa segera keluar dari sini."
Chunhwa mengangguk. Pria paruh baya itu menatap Zhoumi lalu putra sulungnya. "Apakah kalian berdua sudah menyelesaikan masalah kalian?"
"Jangan sekarang, sayang," sela Kyeong Suk. Sembari membungkuk wanita itu menyingkirkan helai rambut dari dahi suaminya.
Sungmin menatap Zhoumi yang berdiri di sisi tempat tidur ayahnya seolah pria itu memang berhak berada di situ. Untuk pertama kali sepanjang hidupnya, Sungmin merasa seolah dia sedang mengamati keluarga orang lain. Ayahnya membalas pelukannya saat pertama kali dia tiba. Ayahnya terlihat sangat senang saat bertemu dengannya, dia yakin akan hal itu, tetapi sikap ayahnya terkesan dingin, suasana diantara mereka menjadi tegang mengingat percakapan terakhir mereka.
Sungmin mendadak bangkit, merasa perlu segera keluar dari tempat itu, menjauh dari mereka.
Kyeong Suk menengadah. "Kau mau kemana, Sungminnie?"
"Aku mau keluar sebentar, eomma. Terlalu sesak di dalam sini."
Kyeong Suk mengangguk ke arah putra sulungnya dengan ekspresi maklum.
Sungmin mendekati tempat tidur dan meremas pelan lengan ayahnya. "Sampai nanti, appa."
Pria paruh baya itu mengangguk meski tidak berkata apa-apa sampai saat Zhoumi juga hendak meninggalkan ruangan, ayahnya menyambar tangan Zhoumi. "Tinggallah."
Merasa cemburu sekaligus lega, Sungmin meninggalkan ruangan. Sembari menutup pintu di belakangnya, dia berdiri tertegun di sana selama beberapa saat, menarik napas dalam-dalam, lalu mencari Kyuhyun.
Dia mendapati Kyuhyun di ujung koridor, sedang menerawang ke luar jendela. Hanya memandang pria itu membuat seluruh indranya terjaga. Jantungnya berdetak lebih cepat, kulitnya menghangat, dan perutnya bergejolak.
Pria itu pasti melihat pantulan Sungmin di kaca, karena dia berbalik perlahan begitu Sungmin mendekat. Tatapannya menyusuri Sungmin, lalu mengerutkan dahi.
"Ada apa? Apakah appamu...?"
"Tidak apa-apa, appa baik-baik saja." Sungmin bergerak ke dalam pelukan Kyuhyun dan meletakkan pipinya di dada pria itu. Menikmati detak jantung Kyuhyun yang berdetak lembut.
Tangan Kyuhyun secara spontan mengusap-usap punggung Sungmin. "Ada apa, Sungmin? Ada yang tidak beres?"
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku sedang duduk di sana, memandang ke sekelilingku, lalu..." Sungmin mengangkat bahu, "aku mengamati appa dan Sungjin, dan tiba-tiba aku merasa seperti tidak pantas berada di sana. Aku merasa mereka semua terkesan asing, semuanya kecuali ibuku. Dan tiba-tiba aku merasa aku harus segera mencarimu." Pemuda manis itu terpejam sejenak, menikmati wangi tubuh pria di pelukkannya. "Pada hari pernikahanku, eomma berkata jika Zhoumi tidak akan pernah bisa membuatku bahagia. Melewati waktu bersamamu, aku menyadari apa yang sebenarnya coba eomma katakan padaku, bahwa di dalam hidup ini ada banyak hal lain daripada sekedar benda yang bisa dibeli dengan uang, dan..." Sungmin menatap Kyuhyun, tenggelam ke dalam tatapan pria itu, "dan aku mencintaimu, Kyuhyun."
Kyuhyun tertegun. "Sungmin..."
"Aku mencintaimu," ulang Sungmin.
"Oh, Tuhan. Sungmin!" Kyuhyun semakin erat memeluk Sungmin.
"Ayo keluar dari sini," ajak Sungmin.
"Kau yakin?"
"Ya. Aku perlu keluar dari sini sejenak."
"Tidak masalah buatku," ujar Kyuhyun.
.
.
.
Mereka sedang menunggu lift saat Zhoumi muncul di belakang mereka. Sungmin memandang Kyuhyun, lalu Zhoumi, dan berdoa agar lift segera datang.
Sayangnya doanya tidak terkabul kali ini. Zhoumi sudah berdiri tepat di sampingnya.
"Aku masih tidak percaya inilah alasan kau meninggalkan aku," ujar Zhoumi dengan nada mengejek. "Seorang pemandu berkuda."
"Zhoumi," tegur Sungmin dengan nada letih. "Sudahlah."
"Ayahmu mungkin takkan mengakuimu lagi sebagai anak jika kau menikah dengan bajingan ini." Zhoumi tersenyum meremehkan. "Lalu, apa yang akan kau lakukan? Tinggal di peternakan? Disebuah tempat yang bahkan tidak layak kau sebut sebuah rumah, menghabiskan sisa hidupmu terkurung di sana bersama kuda dan hewan lainnya tanpa bisa melihat lagi dunia luar. Kau terlalu naif, Sungmin."
Otot rahang Kyuhyun menegang. "Sebaiknya kau jaga ucapanmu!"
Zhoumi mendengus. "Siapa yang peduli."
"Zhoumi!" Sungmin memandang sekelias ke sekelilingnya, menyadari bahwa ruang perawat hanya berada beberapa meter dari tempat itu.
"Biar aku yang menangani." Dengan perlahan dan sengaja, Kyuhyun mendorong Sungmin ke belakangnya.
"Aku memang tinggal di peternakan, tapi kau tidak berhak merendahkan tempat tinggalku. Kau berhutang maaf kepada pamanku dan juga Sungmin."
"Aku tidak peduli dengan pendapatmu," ejek Zhoumi. Dia menarik Sungmin ke arahnya, ujung-ujung jarinya menekan lengan pemuda manis itu. "Bilang padanya untuk enyah dari sini."
Sungmin meringis. "Zhoumi, lepaskan aku sebelum aku berbuat kasar padamu!"
Cengkeraman Zhoumi menguat. "Oh, kau mau mengeluarkan kemampuan bela dirimu itu?"
Sungmin menatap Zhoumi tajam. "Bila itu diperlukan."
Zhoumi tertawa meremehkan, yakin Sungmin hanya menggertaknya.
"Lepaskan dia!" ujar Kyuhyun.
"Urus urusanmu sendiri, dasar pria miskin menjijikan!"
"Zhoumi, aku sudah memperingat—"
"Dialah urusanku," potong Kyuhyun, lalu tanpa peringatan langsung melayangkan tinjunya ke wajah Zhoumi.
Zhoumi terjatuh dan menjerit kesakitan saat darah memuncrat dari hidungnya.
Lift tiba dan pintunya mengeser membuka. Seraya meraih tangan Sungmin, Kyuhyun menarik pemuda manis itu bersamanya.
"Teganya kau," ujar Sungmin begitu pintu lift menutup. "Menurutku tadi kau mematahkan hidungnya."
"Dia beruntung aku tidak mematahkan lehernya."
Sungmin menatap Kyuhyun sejenak, lalu saat ketegangan dalam dirinya berkurang, dia mulai tertawa. "Sejujurnya aku tidak keberatan terkurung seumur hidup denganmu. Aku penasaran bagaimana rasanya. Kurasa kita harus segera memulainya."
Kyuhyun menyeringai menatap Sungmin. "Apakah kau sedang melamarku?"
"Kurasa begitu. Apakah aku harus berlutut?" Sorot matanya berbinar jahil.
"Tidak. Seharusnya akulah yang berlutut." Ekspresi Kyuhyun berubah serius, dia memegang kedua tangan Sungmin, menatap kedua manik bening itu dalam. "Maukah kau menikah denganku, Sungmin?"
Mata Sungmin membelalak. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Oh, Kyuhyun..."
"Apakah itu berarti ya?"
Sungmin tertawa ringan. "Kau sungguh tidak romantis, Tuan Cho. Tidak ada bunga, cincin atau makan malam romantis."
"Kau menginginkan semua itu?"
Sungmin menggeleng. "Tidak. Tapi, apa kau serius?"
"Apa aku kelihatan tengah bercanda? Aku mencintaimu, Sungmin. Aku bahkan tidak pernah berhenti mencintaimu. Jadi, apa jawabanmu?"
"Kau pikir aku bisa menolak?" Sungmin kembali tertawa. "Oh, Tuhan. Aku dilamar kekasihku di dalam lift tanpa cincin ataupun yang lainnya. Ini lucu sekali."
Kyuhyun ikut tertawa. "Bukankah itu bagus? Kita melakukan hal yang berbeda dengan kebanyakan pasangan normal lainnya."
"Ya. Lagi pula, kita bukan pasangan normal." Sungmin mengalungkan kedua lengannya ke leher Kyuhyun, lalu mengecup ringan leher pria itu. "Aku mencintaimu."
Mereka tidak menyadari bahwa lift sudah berhenti dan pintu lift sudah membuka sampai mereka mendengar suara deheman dari seseorang. Mereka langsung menghentikan ciuman mereka. Mengintip dari balik bahu Sungmin, Kyuhyun melihat beberapa orang berdiri di depan pintu lift. Seraya menggenggam tangan Sungmin, Kyuhyun membungkuk singkat, lalu bergegas melangkah keluar lift dan menuju lobi.
Kyuhyun tertawa lantang begitu mereka memasuki mobilnya. Sembari menarik Sungmin dalam pelukannya, dia mencium pemuda manis itu sekali lagi. "Kau tadi benar-benar menjawab ya, kan?"
"Berhentilah tertawa!" ujar Sungmin, pipinya merona malu.
"Ayolah, kau benar, Sungmin. Ini semua sungguh lucu."
"Tidak. Kejadian yang barusan tidak masuk hitungan."
"Baiklah. Apapun untuk calon pendamping hidupku," goda Kyuhyun.
Sungmin tertawa mendengar pernyataan Kyuhyun. "Kau sedang berusaha menggodaku. Well... tidak buruk."
Kyuhyun mengecup kening Sungmin. "Sebaiknya sekarang kita pergi dan mencari cincin yang kau inginkan."
Senyum manis terlukis di bibir Sungmin. "Tentu saja. Sepertinya kali ini kau benar-benar berhasil menggodaku, Tuan Cho."
.
.
.
Sungmin nyaris tidak bisa menahan kegembiraannya saat mereka memasuki toko perhiasan yang berada di kawasan Itaewon. Sejurus kemudian, seorang pria yang sepertinya penjaga toko menyambut kedatangan mereka.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga toko itu seraya tersenyum ramah.
"Kami ingin melihat cincin pertunangan dan cincin kawin," jelas Kyuhyun.
Penjaga toko itu sekilas terkejut, sebelum kembali tersenyum ke arah mereka. "Baiklah, Tuan. Anda ingin yang terbuat dari emas, platina atau emas putih?"
Kyuhyun menoleh ke arah Sungmin.
"Aku suka yang emas putih. Kau suka yang mana?"
"Baiklah, yang emas putih," jawab Kyuhyun.
Seraya membuka pintu etalase kaca, sang penjaga toko mengeluarkan baki beralas beledu yang berisi beragam cincin berlian.
Kyuhyun menggeleng. "Bukan yang itu."
Sungmin menarik pelan tangan Kyuhyun. "Kyuhyun, itu juga cukup bagus."
"Tidak. Tidak untukmu." Dia lalu menunjuk baki yang lain. "Kami ingin melihat yang itu."
"Anda yakin, Tuan?"
Otot rahang Kyuhyun berkedut. Sialan! Kau pikir aku tidak mampu membayarnya. "Ya. Aku yakin."
"Kyuhyun," bisik Sungmin. "Cincin-cincin itu sangat indah. Tapi, harganya pasti sangat mahal."
"Cincin itu akan menjadi investasi yang bagus," jawab Kyuhyun. "Bagaimanapun, kau akan memakainya seumur hidupmu. Pilihlah yang manapun yang kau suka?"
Sungmin mengamati cincin-cincin itu dengan cermat. Meskipun itu sebenarnya tidak perlu. Dia sudah tahu mana yang dia inginkan begitu penjaga toko mengeluarkan baki yang diminta Kyuhyun ke atas etalase. Cincin pertunangan itu berhiaskan berlian berwarna Sapphire Blue berukuran kecil yang menghiasi setengah lingkaran dari cincin tersebut. Terlihat mewah dan elegan, namun tidak berlebihan. "Yang ini."
"Pilihan yang tepat," ujar sang penjaga toko. "Apakah anda ingin mencobanya?"
"Oh, ya," ujar Sungmin seraya mengulurkan tangannya.
Sang penjaga toko menyelipkan cincin itu di jari Sungmin dan menyatakan bahwa cincin itu terlihat sangat cocok dipakai olehnya. Berliannya berkilauan diterpa cahaya lampu.
Sang penjaga toko menatap Kyuhyun. "Apakah anda akan langsung membawanya?"
Kyuhyun mengangguk. "Ya." Dia lalu meraih dompetnya, mengeluarkan kartu kredit, dan menyerahkannya kepada sang penjaga toko.
"Maaf," ujar sang penjaga toko seraya melepaskan cincin itu dari jemari Sungmin. Setelah menyimpan kembali baki ke dalam etalase, pria itu kembali menguncinya dan menaruh kuncinya dalam saku. "Tolong ditunggu sebentar, Tuan. Saya akan segera kembali," katanya dan menghilang ke bagian belakang toko.
Kyuhyun menatap Sungmin. "Jangan khawatir. Kartu kreditku masih berlaku."
"Tapi, itu tadi harganya sangat mahal. Apa kau yakin...?"
Kyuhyun melayangkan jemarinya ke pipi Sungmin. Mengusapnya lembut. "Aku tidak mau mendengar apapun lagi tentang hal ini. Aku tidak akan membelinya jika aku tidak mampu." Tentu saja, berarti dia harus menunda untuk membeli sebidang tanah seperti apa yang tengah dia rencanakan.
Sungmin mengangguk kalah. "Baiklah."
Sang penjaga toko muncul kembali sepuluh menit kemudian. Pria itu menyerahkan kartu kredit Kyuhyun dan sebuah bungkusan kecil dengan lambang nama toko tersebut tertera di situ. "Terima kasih, Tuan Cho Kyuhyun," ujarnya. "Silakan datang lagi jika anda membutuhkan yang lain."
Ucapan sang penjaga toko itu diwarnai nada penuh hormat yang sebelumnya tidak terdengar, bathin Kyuhyun menyadari hal itu. Dia menduga pasti karena kartu kreditnya telah diterima.
Seraya mengangguk, Kyuhyun mengajak Sungmin keluar dan meninggalkan toko itu.
"Sebaiknya aku segera mengantarmu pulang ke rumah sakit," ujar Kyuhyun. "Sebelum keluargamu khawatir jika kau pergi terlalu lama."
Sungmin mengangguk. "Baiklah," ucapnya setuju seraya berjalan di samping Kyuhyun menuju ke arah mobil mereka.
Pesta dansa sudah berakhir, bathin Sungmin. Saatnya menghadapi kenyataan.
.
.
.
TBC
Maaf untuk update yang yah lumayan lama. Saya mencari mood yang bagus serta waktu luang untuk menulis kelanjutan cerita ini. Dan sepertinya saya harus sungkeman ke Isayama sensei atas RiRen moment yang beliau buat di chapter 70 kemarin. Momen yang sukses membuat mood saya bagus beberapa hari ini ^^. Berharap mereka resmi dinikahkan oleh ship-nya sama seperti Akashi dan Kuroko, OTP saya dari fandome sebelah.
Chapter depan itu last chap. Saya inginnya sih update tanggal 13 Juli, tapi sepertinya kemungkinan besar setelah Idul Fitri baru saya bisa update last chapternya.
Berhubung sebentar lagi Ramadhan, saya minta maaf jika ada kata-kata saya yang menyinggung teman-teman sekalian. Jika curcol saya kadang ganggu juga tehe. Saya hanya ingin jujur sih ke kalian, saya sekarang memang memegang beberapa OTP dr Anime (Rivaille x Eren dari SnK, Akashi x Kuroko dari KnB, Kirito x Asuna dari SAO). Meskipun satu-satunya bias dari real life hanya Sungmin dan satu-satunya OTP hanya KyuMin. Saya merasa tidak ada yang bisa menggantikan Sungmin dan KyuMin bahkan couple yang real gay sekalipun. Well, Sungmin dan KyuMin itu cinta pertama saya di dunia fangirling ini (Cinta pada pandangan pertama, merasakan apa itu cinta untuk pertama kalinya, mengajarkan saya apa itu cinta, memandang cinta dari sudut pandang berbeda.). Because we can LOVE, we can also HURT.
Terima kasih atas reviewnya. ^^
RnR?
