BAB 9

Dokter Teddy mengendarai mobilnya dengan tenang menembus kemacetan jalan raya, mereka lalu tiba di belokan ke luar kota, menuju jalanan yang sepi. Kyungsoo yang selama ini diam karena menahan rasa tegang dalam perjalanan menoleh dan menatap Dokter Teddy penuh rasa ingin tahu,

"Kita akan kemana dokter?"

Dokter Teddy menoleh lalu tersenyum manis, "Ke rumah di pinggiran kota, tempatnya seperti villa di pegunungan, kau akan aman di sana dan jongin tidak akan bisa menjangkaumu"

Kyungsoo menganggukkan kepalanya dan menatap lurus ke depan, pemandangan di luar adalah hutan dan jalanan yang berkelok-kelok, malam makin gelap dan Kyungsoo mulai merasa mengantuk. Akhirnya dia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di kursi dan mulai tertidur.

Jongin menatap marah pada perawat yang dibius untuk menggantikan Kyungsoo di ranjang. Dua pengawalnya yang tadi berjaga di kamar Kyungsoo berdiri ketakutan dengan wajah lebam bekas pukulan Jongin,

"Kenapa kalian bisa sebodoh itu hah?," suara Jongin terdengar tenang, tetapi intensitas kemarahannya membuat bulu kuduk dua anak buahnya berdiri. Para pengawal itu saling bertatapan mencoba berkata-kata, tetapi tak bisa. Mereka memang bersalah. Minjoong sebagai atasan mereka telah menginstruksikan untuk memeriksa siapapun sebelum masuk dan keluar dari ruangan Kyungsoo. Tetapi karena Dokter Teddy tampaknya terbiasa keluar masuk ruangan ini dengan bebas, mereka jadi lengah dan membiarkannya. Siapa sangka kalau Dokter Teddy adalah Jackal yang ditakuti itu?

Jongin masih menatap marah kepada kedua pengawalnya, memikirkan hukuman apa yang cukup kejam untuk dilimpahkan atas kebodohan mereka. Kyungsoo melarikan diri, dan bukan hanya sendiri, Demi Tuhan! Perempuan itu sekarang ada di tangan Jackal. Minjoong datang, menyerahkan setumpuk berkas lagi, mengalihkan perhatian Jongin.

"Sepertinya dugaan Anda benar Tuan, profil Dokter Teddy sangat mirip dengan profil Jackal. Dia lulusan jenius dari kedokteran, kehidupannya sangat misterius, dan menurut desas desus, ibunya meninggal karena bunuh diri. Dia baru masuk mendaftar ke rumah sakit ini dua bulan yang lalu, dan ketika kami melakukan pengecekan terhadap masa lalunya, semuanya kosong, tidak ada satupun data tentangnya, seolah semuanya dihapus"

"Cari sampai dapat," Jongin menggertakkan giginya, "Apapun itu, alamat, nomor mobilnya, apapun untuk bisa mengarahkan kita kepadanya. Kita harus menemukan Kyungsoo, sebelum terlambat," Jongin memejamkan mata, sejenak merasakan sesak di dadanya.

Kyungsoo harus selamat, meskipun sekarang hal itu diragukan, karena Kyungsoo berada di tangan Jackal yang sangat kejam. Jongin akan menempuh segala cara untuk mendapatkan Kyungsoo kembali, selamat, dan hidup-hidup

"Kyungsoo, kita sudah sampai," Dokter Teddy mengguncang bahu Kyungsoo lembut. Kyungsoo membuka matanya dan menemukan mobil mereka diparkir di sebuah villa tua berwarna putih yang sangat indah dihujani cahaya lampu yang remang-remang.

Dokter Teddy turun terlebih dahulu, lalu membuka pintu penumpang dan membantu Kyungsoo turun. Mereka berjalan bersisian memasuki teras rumah, ketika Dokter Teddy membuka kunci pintu rumah itu, Kyungsoo mengernyit dan bertanya,

"Ini rumah Dokter?" Lelaki itu tersenyum lagi dan menggeleng,

"Bukan, ini properti milik sahabatku yang dititipkan kepadaku, sekarang dia sedang di luar negeri. Kupikir tempat ini adalah tempat yang paling aman untukmu sekarang-sekarang ini…. Kau bisa bersembunyi di sini sementara, karena aku tahu Jongin pasti sedang sangat marah sekarang dan pasti dia akan menggunakan segala cara untuk mencarimu". Kyungsoo menggigil mendengar kemungkinan itu, dan membiarkan dirinya dihela masuk ke dalam vila itu. Bagian dalam villa itu sangat indah, secantik bagian luarnya, dengan ornamen Belanda yang kuno dan rapi, tampak begitu nyaman untuk ditinggali,

"Ayo, kuantar kau ke kamar sementaramu, kau bisa beristirahat di sana, aku yakin kau pasti lelah setelah perjalanan panjang." Dokter Teddy melangkah melalui anak tangga dan Kyungsoo mengikutinya.

Kamar untuk Kyungsoo adalah kamar sederhana yang tertata rapi, dan ranjang bulu angsa berseprai putih di tengah ranjang tampak sangat empuk dan menggoda untuk ditiduri. Tanpa sadar Kyungsoo menguap dan Dokter Teddy terkekeh,

''Tidurlah Kyungsoo, semoga besok pagi kau bangun dengan lebih segar". Kyungsoo menganggukkan kepalanya,

"Terima kasih dokter, terima kasih atas segalanya, saya tidak tahu bagaimana harus berterimakasih kepada dokter karena sudah menyelamatkan saya dari Jongin"

Dokter Teddy melangkah ke pintu, senyumnya tampak misterius di balik cahaya remang-remang,

"Tidak apa-apa Kyungsoo , aku senang bisa membawamu ke sini," Lalu lelaki itu melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.

Kyungsoo terbangun karena rasa haus yang amat sangat, dia terduduk di ranjang dan sedikit terbatuk-batuk. Dengan pelan dia memandang ke sekeliling, masih gelap. Mungkin ini masih dini hari.

Dengan langkah hati-hati Kyungsoo turun dari ranjang, dan keluar dari kamar. Dimanakah dapurnya? Dia ingin minum…. Lorong lantai dua tampak gelap, tetapi ada cahaya putih di ujung sana, mungkin itu dapurnya.. pikir Kyungsoo dalam diam. Dia lalu melangkah hati-hati menuju cahaya itu, dan terbawa ke sebuah pintu yang sedikit terbuka di ujung lorong. Kyungsoo membukanya, dan tertegun. Ini bukan dapur. Dia sudah hendak membalikkan badan, ketika pandangan matanya terpaku pada sesuatu, dan wajahnya memucat.

Di sana, di salah satu sisi tembok itu penuh dengan foto-foto yang ditempel. Dan itu bukan foto-foto biasa, itu foto-foto Jongin sedang melakukan aktivitasnya, beberapa di antaranya ada Jongin yang sedang bersama Kyungsoo. Dan melihat ekspresi Jongin di sana, tampaknya foto-foto itu diambil dengan kamera tersembunyi, tanpa seizin objeknya.

"Ada pepatah, kalau rasa ingin tahu yang besar suatu saat akan menjadi penyebab kematianmu"

Kyungsoo terlonjak kaget, mendengarkan suara yang mendesis itu, dia membalikkan badannya dan berhadapan dengan Dokter Teddy yang berdiri diam di balik bayang-bayang. Lelaki itu tersenyum, seperti biasanya, tetapi senyumnya yang sekarang bukanlah senyum manis secerah Matahari, melainkan seringai jahat yang menakutkan.

"Kita sudah berhasil melacak mobilnya," Minjoong datang dengan terengah, mendatangi Jongin yang menunggu sambil mondar-mandir tak tenang di ruangannya.

Jongin langsung berdiri dan bergegas, dia menyiapkan senjatanya, belati berat yang selama ini ada di kakinya dan sebuah magnum miliknya. Kalau dia harus membunuh demi Kyungsoo, akan dia lakukan. Lelaki itu memejamkan matanya, semoga dia tidak terlambat datang.

Mata Kyungsoo hanya bisa menatap dalam ketakutan, lelaki di depannya ini sudah berubah total, dari lelaki ramah dan baik hati menjadi monster yang menakutkan, Tubuh Kyungsoo diikat di sebuah kursi dan Kyungsoo sepenuhnya tidak bisa bergerak, di bawah kuasa psikopat gila yang sekarang sedang berjalan mondar-mandir sambil memainkan pisau di tangannya.

"Membunuh dengan pisau adalah favoritku," Dokter Teddy memainkan pisau itu di dekat Kyungsoo, membuat kilatannya menyilaukan dalam kegelapan. "Karena itulah aku dipanggil Jackal," lelaki itu terkekeh mengerikan melihat sinar ketakutan yang terpancar dari mata Kyungsoo, "Yah kenalkan, akulah Jackal yang kalian cari-cari itu"

Kyungsoo mencoba meronta, kengerian merayapi dirinya ketika menyadari bahwa lelaki di depannya ini bukan saja orang jahat, tetapi dia adalah psikopat menakutkan yang diceritakan oleh Jongin.

Dokter itu tertawa melihat usaha Kyungsoo yang sia-sia untuk melarikan diri, kemudian mendorong kursi kyungsoo ke dinding dan menekankan pisaunya di pipi kyungsoo

"Pisau ini sangat tajam," Dokter gila itu memain-mainkan pisau itu di pipi Kyungsoo, "Aku ragu apakah Jongin masih mau menjadikanmu pelacurnya kalau mukamu rusak," diletakkannya besi dingin itu di pipi Kyungsoo membuat mata Kyungsoo terpejam ketakutan. Tetapi kemudian kata-kata Dokter ini menyulut amarahnya, dia bukan pelacur Jongin.

"Aku bukan pelacurnya !," dengan Lantang Kyungsoo meneriakkan bantahannya. Dan rupanya bantahannya itu malahan memancing emosi Dokter Teddy,

"Bukan pelacurnya katamu? Kau tidur dengannya dan menikmatinya, kau menerima segala fasilitas darinya dengan suka rela, dan kau membayar dengan tubuhmu. Dari pengamatanku, kau adalah pelacur yang paling disukai dan istimewa di mata Jongin dibandingkan pelacur-pelacurnya yang lain, dan aku membayangkan kepuasan yang kudapatkan ketika dia menyaksikan tubuhmu yang sudah mati, penuh dengan sayatan pisau,"

Lalu Dokter Teddy tertawa dengan mengerikan, "Mari kita mulai ritual ini…. Aku akan menyayatmu pelan-pelan di bagian-bagian tubuhmu hingga kau akan mati pelan-pelan kehabisan darah….," pisau itu berkelebatan dengan main- main di depan Kyungsoo "Lalu aku akan membuang tubuhmu tepat di depan mata Jongin, pasti aku akan puas sekali…. Sebelum kemudian akan kuhabisi Jongin dengan tanganku sendiri," Dengan tawa mengerikannya yang terkekeh dan menakutkan, Dokter Teddy mengayunkan pisaunya, dan sekejap, Kyungsoo merasakan pedih karena sayatan besi tajam itu di lengannya.

Jongin memasuki rumah itu dengan marah, Minjoong dan yang lain-lain sudah mengepung villa putih itu. Villa itu tenang dan sepi seolah tidak ada siapapun di sana. Lalu mata Jongin mengarah ke pintu di ujung lorong yang setengah terbuka, dan melangkah kesana, lalu masuk dengan marah ketika melihat apa yang terjadi di sana.

Dokter Teddy sudah melukai Kyungsoo dengan dua sayatan berdarah di lengan Kyungsoo, membuat Kyungsoo meringis menahan sakit dan nyeri dalam kondisi terikat di kursi dan hampir kehilangan kesadarannya.

"Lepaskan dia, Jackal," suara Jongin dingin, mencoba menahan kemarahannya dengan terkendali. Lelaki itu sedang memegang pisau di dekat Kyungsoo, dia tidak ingin Kyungsoo terluka lebih dari ini.

Dokter Teddy membalikkan tubuhnya dan tersenyum melihat Jongin berdiri di ruangan itu,

"Ah… sang pangeran penyelamat akhirnya datang," dengan tenang Dokter Teddy mengacungkan pisaunya ke arah Jongin, "Kau lihat Jongin , pelacurmu ini sedang dalam proses meregang nyawa, tadinya aku ingin mempersembahkannya mati dan tersayat kepadamu. Tetapi rupanya kau terlalu cepat datang".

"Aku akan membunuhmu, kau tahu itu," geram Jongin marah. Tawa jackal membahana ke seluruh ruangan. "Tentu saja, sekarangpun aku tahu bahwa seluruh pengawalmu sedang mengepung tempat ini, siap menembakku kapanpun aku lengah," dengan cepat jackal bergerak ke sebelah Kyungsoo dan menempelkan pisau tajam itu ke lehernya

"Tapi sebelum kau membunuhku, aku akan membunuh pelacur ini dulu". Kyungsoo terkesiap, menahan sakit dan ketakutan ketika besi dingin itu menempel di lehernya, lapisannya yang tajam telah menyayat lehernya, menimbulkan sedikit perih di sana.

"Kalau kau lakukan sesuatu kepadanya, aku bersumpah kau akan mati dengan mengerikan," Kali ini Jongin sudah tidak bisa menahan kemarahannya, "Aku akan membunuhmu dengan pelan dan mengerikan hingga kau akan merasakan setiap detik-detik menjelang kematianmu"

"Kau ketakutan, kau takut aku menyakiti pelacur ini, bisa kulihat di matamu," Jackal menatap Jongin dengan senyuman gilanya, memain-mainkan pisaunya di leher Kyungsoo.

"Satu sayatan saja, aku akan memotong nadinya, tepat di leher… darahnya akan mencucur keluar dan dia akan mati dengan cepat… tepat di depan kedua matamu…dan aku rela mati demi kepuasan menyaksikan adegan itu,"

Lalu dengan gerakan secepat kilat, Dokter gila itu mengangkat pisaunya, lalu membuat gerakan menghujam untuk menikam leher Kyungsoo. Kyungsoo memejamkan matanya, menanti detik-detik kematiannya.

Tetapi kemudian dia tidak merasakan sakit, apakah memang kematian tidak terasa sakit? Dengan ragu di bukanya matanya, dan dia terkesiap dengan pemandangan di depannya.

Jongin sedang menahan pisau itu, dengan tangan telanjang. Bagian tajam pisau itu mengiris telapak tangannya, tetapi lelaki itu menggenggam pisau itu tanpa ekspresi, meskipun darah mulai bercucuran dari tangannya dan mengenai Kyungsoo. Sekali lagi, Jongin menyelamatkan Kyungsoo dari kematian. Jackal tampak terperangah dengan gerakan Jongin yang tak disangkanya itu, dia berusaha menarik pisaunya dari genggaman Jongin, tetapi Jongin menarik pisau itu dan melemparnya jauh-jauh,

"Aku akan menghajarmu sebelum membunuhmu…," Jongin menerjang Jackal ke lantai, dan mereka bergulat saling memukul. Tetapi Jackal itu tidak terbiasa berkelahi dengan tangan kosong sehingga dia kewalahan, Jongin terus dan terus menghajarnya tanpa ampun, ketika kemudian rintihan Kyungsoo menghentikannya.

Jongin melihat Kyungsoo kehilangan kesadarannya, mulai oleng dalam kondisi terikat di kursi, Perhatian Jongin teralih, dan dia berdiri untuk meraih Kyungsoo, pada saat itulah, Jackal yang sudah babak belur mencoba meraih pisau yang dilemparkan Jongin tadi, dia berhasil meraihnya dan mengarahkannya untuk menikam punggung Jongin dan…DOR!

Tubuh Jackal ambruk ke lantai karena tembakan itu. Jongin menoleh ke belakang, melihat Dokter gila itu ambruk dengan pisau masih di tangannya, dan dia lalu menoleh ke pintu, ke arah Minjoong yang memegang pistol di tangannya.

"Bereskan dia," Jongin memerintah cepat, lalu perhatiannya sepenuhnya terarah kepada Kyungsoo, tidak dirasakannya telapak tangannya yang tersayat dalam, dia membuka ikatan Kyungsoo, dan perempuan itu langsung jatuh ambruk ke pelukannya.

Ketika kesadarannya kembali, Kyungsoo berada di ruangan putih itu, dan dia memejamkan matanya lagi, tak pernah sebelumnya dia merasa begitu bersyukur berada di ruangan ini.

Kengerian masih merayapinya, membayangkan pisau yang berkelebatan di mukanya, di tubuhnya, di lengannya…. Aduh!

Kyungsoo merasa nyeri yang amat sangat dan menoleh ke arah lengannya, lengannya itu sudah dibalut perban yang amat tebal, nyerinya masih terasa tetapi lebih karena trauma mendalam akibat pengalaman buruknya itu. Kyungsoo terduduk, Jongin telah menyelamatkannya, sekali lagi. Kenapa lelaki itu menyelamatkannya? Apakah benar karena dia dianggap sebagai pelacur istimewa Jongin? Karena dia melayani Jongin dengan tubuhnya? Dengan pucat Kyungsoo memalingkan mukanya, merasa dirinya begitu rendah.

Kyungsoo memejamkan matanya, membayangkan bagaimana Jongin, menghalangi pisau yang hendak menikamnya dengan tangannya. Kyungsoo masih ingat darah yang mengalir itu, dan mau tidak mau Kyungsoo menyadari kalau dihitung-hitung sudah beberapa kali dia diselamatkan oleh Jongin. Kenapa lelaki itu menyelamatkannya? Itu adalah pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. Bertahun-tahun Kyungsoo menumbuhkan kebencian di hatinya, memupuk rasa dendam yang mendalam, dengan pengetahuan bahwa Jongin yang jahat telah menghancurkan keluarganya. Yah, Jongin memang jahat. Tetapi selain mengurungnya , Jongin memperlakukan Kyungsoo dengan baik... Apakah dia memang menganggap Kyungsoo sebagai kekasihnya?

Pipi Kyungsoo memerah membayangkan itu semua. Apakah semua kebaikan Jongin murni disebabkan karena dorongan gairah?

Dengan gemetar dia meraba lengannya yang di perban, dan menangis. Seluruh kehidupannya berubah hanya dalam waktu singkat, seluruh rencana yang dibuatnya matangmatang telah hancur, dan dia sekarang terpuruk di sini. Kembali dalam cengkeraman lelaki iblis itu, dan bahkan sekarang berutang nyawa kepadanya.

"Jangan menangis".

Kyungsoo terlonjak ketika suara itu terdengar di dekatnya, dengan ketakutan dia menoleh dan mendapati Jongin di sana, duduk di sofa tak jauh dari ranjang dan mengamatinya.

Dengan kasar Kyungsoo menghapus air matanya dan menatap Jongin marah,

"Semua ini gara-gara kau!," serunya menuduh, "Kalau kau tidak melibatkanku dalam kehidupanmu yang penuh musuh itu, aku tidak akan mengalami ini!"

"Dan kalau kau tidak gampang tertipu oleh bujuk rayu dokter yang selalu tersenyum itu, kau tidak akan diculik dengan mudah," sela Jongin tajam.

"Aku hanya ingin lepas darimu, kenapa kau tidak melepaskan aku?," kali ini Kyungsoo berteriak penuh frustrasi, "Aku mohon aku sudah muak berada di sini… aku…"

"Tidakkah engkau bahagia di sini ?," Jongin mendekat ke ranjang dan menyentuh dagu Kyungsoo dengan jemarinya. Pada saat itulah Kyungsoo melihat, telapak tangan Jongin di balut perban, "Aku memenuhi kebutuhanmu, aku memberimu apa yang tidak bisa kau beli dengan uangmu sendiri, apakah menurutmu itu tidak cukup?"

"Aku bukan pelacur," desis Kyungsoo tajam, "Kekayaan dan ketampananmu sama sekali tidak ada pengaruhnya untukku, yang aku inginkan hanya kematianmu, karena kau telah menghancurkan keluargaku. Tetapi jika itupun tidak kudapatkan, aku sudah cukup puas bisa lepas darimu!," Kyungsoo menatap Jongin dengan tatapan menantang.

Lelaki itu menatap Kyungsoo tajam, lalu mengangkat bahunya dan menatap Kyungsoo lurus-lurus, "Sudahlah, Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu," ditatapnya Kyungsoo dengan serius, "Bagaimana kondisimu?",

Jongin menunduk dan mengamati Kyungsoo. Kyungsoo terdiam, otomatis memalingkan wajah dari Jongin, "Kyungsoo", Jongin memanggil namanya dengan penuh penekanan, membuat Kyungsoo akhirnya mau menatap matanya,

"Aku baik-baik saja", jawab Kyungsoo ketus, "Biarpun aku tahu semua ini terjadi karena kau dan musuh-musuhmu".

Jongin terkekeh, "Hmm... Mengingat kau sudah kembali galak kepadaku, aku yakin kau sudah sembuh", Jongin menyentuhkan jemarinya di pipi Kyungsoo, "Maafkan aku".

Kyungsoo tertegun karena permintaan maaf Jongin, dia menatap Jongin dengan hati-hati. "Kenapa kau meminta maaf?"

"Karena membuatmu terlibat dalam situasi ini", lelaki itu mengangkat bahu, "Situasi seperti ini tidak akan bisa terhindarkan, mengingat kondisiku. Tetapi kau harus tahu, ketika kau bersamaku, aku akan menjagamu" Kyungsoo mendengus,

"Aku lebih memilih tidak bersamamu. Kalau aku sendirian aku pasti akan lebih baik-baik saja"

Jongin menatap Kyungsoo tajam, "Tidak bisa, situasi kemarin membuat kau dikenal sebagai kesayanganku. Orang yang mengincarku pasti akan mengincarmu, karena kaulah yang paling lemah. Itu membuatmu harus selalu bersamaku, di bawah perlindunganku", Jongin menatap Kyungsoo lurus-lurus, "Kau adalah kelemahanku"

Pipi Kyungsoo memerah, bukan cuma karena arti mendalam dalam kata-kata Jongin. Tetapi karena cara Jongin mengucapkannya, begitu erotis dan penuh makna seolaholah Jongin mengucapkan sesuatu yang sensual dari perkataannya yang biasa itu. Dan Jongin tampaknya sengaja. Sialan lelaki itu. Dia sengaja mengucapkan kata-katanya dengan nada sensual untuk mempengaruhi Kyungsoo.

"Kau bebas keluar masuk seisi rumah ini, tapi aku mohon padamu, jangan mencoba melarikan diri dari rumah ini. Aku memang jahat, tapi aku akan menjagamu, tidak demikian halnya dengan musuh-musuhku," Jongin mengangkat tangannya yang terluka untuk mengusap rambutnya, dan Kyungsoo langsung teringat peristiwa itu, ketika Jongin dengan cepat menggenggam pisau itu, menghalanginya untuk terluka, tanpa sadar dia bergidik ngeri.

"Ya," gumam Jongin, memperhatikan reaksi Kyungsoo, "Kau seharusnya takut Kyungsoo, karena mereka semua akan melakukan apa saja untuk melukaiku lewat dirimu. Kau aman disini, bersamaku. Dan aku yakin kau berpikiran sehat sehingga tahu bahwa kau lebih baik bertahan di sini"

Kebebasan keluar masuk kamar ini dinikmati oleh Kyungsoo sepenuhnya. Oh, dia memang masih bermaksud pergi, tapi tidak sekarang. Dia masih trauma akan kejadian itu. Setidaknya di rumah ini dia aman. Minjoong masih mengawasinya diam-diam ketika dia mondar-mandir keluar kamar, terutama ketika dia berjalan-jalan di taman. Tetapi Kyungsoo belajar untuk mengabaikannya.

Sore itu, suasana rumah sangat sepi, dan Kyungso berjalan menelusuri area lantai satu rumah itu. Rumah itu sangat luas dengan lorong-lorong yang tidak tahu akan menuju kemana, sepertinya tidak cukup satu hari untuk menjelajahi keseluruhan rumah itu. Kyungsoo berhenti di sebuah pintu yang terbuka dan sedikit mengintip. Dia terpesona menemukan rak-rak tinggi yang memenuhi dinding-dindingnya, penuh dengan buku!

Dengan bersemangat Kyungsoo memasuki ruangan itu, dan berdiri terkagum-kagum sambil mengamati buku-buku di dalam rak itu. Jongin rupanya penggemar buku-buku sastra klasik, berbagai bacaan tampak menggoda siap untuk dinikmati,

"Kau sepertinya suka membaca," suara Jongin mengejutkan Kyungsoo, dia menoleh dan saat itu baru menyadari kalau Jongin duduk di sudut ruangan, di meja kerjanya yang besar dan mempelajari berkas-berkas perusahaannya, lelaki itu menatapnya dengan mata cokelatnya yang tajam.

Dengan angkuh Kyungsoo mendongakkan dagunya, "Ya aku suka membaca, tetapi buku-buku mahal di sini termasuk yang tidak bisa kubeli," Kyungsoo tanpa sadar mengernyit.

"Kau boleh membaca di sini," Jongin menawarkan tampak begitu berbaik hati. Tetapi Kyungsoo merasakan ada sesuatu di sana, sesuatu yang berbeda yang sedikit menakutkan baginya. Ketegangan seksual yang memenuhi ruangan ini terasa begitu tidak nyaman. Dan meskipun tawaran Jongin terasa begitu menggoda, Kyungsoo tidak berani.

"Aku tidak akan mengganggumu," Jongin mengangkat alis melihat Kyungsoo nampak ragu-ragu. "Aku tidak akan mengganggumu," lelaki itu mengulang lagi katakatanya, "Aku bahkan tidak akan berdiri dari kursi ini"

Kyungsoo menatap Jongin curiga, "Tidak bisakah aku meminjam buku-buku ini dan membawanya ke kamarku?"

Jongin menggelengkan kepalanya. Oh, tentu saja bisa, gumam Jongin dalam hati, tetapi dia akan kehilangan kenikmatan menggoda Kyungsoo, dia ingin Kyungsoo terpaksa berada di ruangan ini, bersamanya, "Tidak bisa buku-buku itu mahal, aku tidak yakin kau akan menjaganya dan tidak merusakkannya"

Kata-kata Jongin terasa menyinggung Kyungsoo, jangan-jangan Jongin bahkan menyangka Kyungsoo ingin mencuri buku-buku mahalnya. Kurang ajar lelaki itu. Tetapi ajakan Jongin untuk membaca buku di ruangan yang sama terasa begitu menggoda. Dan lelaki itu jelas-jelas menantangnya, menyadari betapa besarnya ketegangan seksual di antara mereka, dan memaksa Kyungsoo menunjukkan diri apakah akan menjadi pengecut ataukah berani menghadapi Jongin.

Kyungsoo sedikit mengentakkan kakinya dan melangkah mendekati sofa, diambilnya salah satu buku di rak itu dan dia duduk, berusaha tampil nyaman di sana.

Jongin tersenyum. Gadis itu jelas-jelas ingin menantangnya. Dan kehadiran Kyungsoo di ruangannya sangat menarik perhatiannya, dia bahkan tidak tertarik lagi akan pekerjaan di mejanya. Dilipatnya kedua tangannya di meja dan dia mengamati Kyungsoo yang sedang berakting membaca itu dengan intens.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?," Kyungsoo akhirnya mencetuskan apa yang ada di dalam pikirannya, Jongin sudah sejak beberapa menit lalu hanya duduk dan menatapnya. Lelaki itu memang tidak mengganggu, bahkan lelaki itu sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya. Tetapi pandangan matanya yang intens dan penuh gairah itu terasa sangat mengganggu. Membuat seluruh saraf tubuh Kyungsoo mengejang ke dalam gelenyar panas yang membuat suhu ruangan ber-AC itu tiba-tiba terasa panas.

"Aku hanya ingin mengetahui seberapa jauh kau akan pura pura berakting membaca. Setelah itu mungkin kau bisa menyadari betapa besarnya ketegangan seksual di antara kita," gumam Jongin dengan tenang, tidak bergeser sedikitpun dari tempat duduknya, tetapi tampak begitu mengancam. Pipi Kyungsoo memerah mendengar perkataan Jongin itu, dengan marah dibantingnya buku itu di sofa dan berdiri, "Kurasa sebaiknya aku pergi"

"Takut, Kyungsoo?," Jongin bergumam dengan nada mencemooh, "Kau takut kalau kau akan menyerah dalam pelukanku ya? Aku tadi menawarimu di sini, ingin melihat seberapa jauh kau berani berdua saja bersamaku di dalam satu ruangan… ternyata kau lari ketakutan seperti kelinci yang akan dimangsa"

Oh Ya! Tatapan Jongin kepadanya memang seperti elang yang akan memangsa kelinci buruannya. Kyungsoo merasa sudah sewajarnya dia ingin menyelamatkan diri.

"Aku akan keluar dari sini"

"Kau memang harus keluar dari sini, karena kalau tidak pilihanmu hanya satu, berbaring di ranjangku"

"Itu hanya ada dalam mimpimu!," Kyungsoo setengah berteriak, berlari ke pintu dan membanting pintunya keras-keras, masih didengarnya tawa Jongin mengiringi kepergiannya.

"Kyungsoo," suara Jongin mengagetkan Kyungsoo yang sedang termenung di balkon. Balkon yang sama tempat dia dilempar Jongin dengan cara mengerikan ke kolam di bawahnya beberapa waktu yang lalu.

Kyungsoo menoleh dan mendapati Jongin sedang berdiri diambang pintu balkon, menatapnya dengan tenang. Lelaki itu sepertinya baru saja pulang dari tempat kerjanya, Kyungsoo tidak tahu, karena dari balkon ini pemandangannya hanyalah halaman belakang dan kolam renang yang luas.

"Kenapa kau berdiri di balkon malam-malam begini?," Jongin mengernyit mengamati hujan rintik-rintik yang turun makin deras, bahkan airnya bercipratan mulai membasahi Kyungsoo yang memang berdiri sambil menatap halaman di bawah.

Sejak Kyungsoo dibebaskan, inilah pertama kalinya dia bisa menikmati hujan secara langsung. Dulu ketika dikurung di kamar putih Kyungsoo hanya bisa menikmati hujan dari jendela, tanpa menyentuhnya. Sekarang bisa merasakan percikan air membasahi tubuhnya terasa begitu luar biasa untuknya.

"Aku sedang menikmati hujan," Kyungsoo membalikkan tubuhnya membelakangi Jongin, mencoba mengacuhkan lelaki itu.

"Kau akan membuat dirimu sendiri sakit," Jongin mulai menggeram, tampaknya lelaki itu menahan marah.

Kyungsooo menoleh lagi dan menatap Jongin dengan menantang, "Entah apa yang kau katakan tentang memberikan kebebasan padaku itu bohong, atau kau memang suka mengatur-atur dan menggangguku. Aku bisa mengurus diriku sendiri dan kuharap kau tidak menggangguku"

"Oke," Tatapan Jongin kepada Kyungsoo terasa membakar di suasana hujan yang begitu dingin, "Terserah, silahkan buat dirimu sendiri sakit, aku harap kau tidak merepotkanku nantinya".

Lelaki itu membalikkan badan, tetapi setelah beberapa langkah dia memutar tubuhnya kembali dan menatap Kyungsoo

"Setelah kau siap aku ingin bicara denganmu"

"Tentang apa?," Kyungsoo mengernyitkan kening, mulai merasa terganggu dengan interupsi-interupsi dari Jongin. Dia sedang ingin menikmati hujan dan lelaki itu tampaknya selalu muncul di saat yang tidak tepat dan mengucapkan kata-kata yang tidak tepat pula.

"Nanti, ini mengenai ulang tahunmu yang ke dua puluh lima"

tbc

Hwuua selesai juga hari terakhir ulangan, gomawo buat yang udah review dan buat yg semangatin, hehehe. Ini fast update kan? Semoga suka dan maaf ya kalau ada typo