New chapter is coming~

Thanks a lot buat yang sudah meninggalkan jejak di fic author yang satu ini. I really-really-really appreciate it! *bow. Bagi yang review, sepertinya sudah dibalaskan via PM, ya...

Nah, tanpa berlama-lama lagi, selamat membaca~

Jangan lupa tinggalkan review, ya ^_^

Chapter 12

Para centaurus adalah salah satu dari sekian banyak makhluk sihir yang menutup diri dari dunia luar. Mereka dikenal sebagai para penjaga hutan sekaligus pembaca langit. Makhluk yang angkuh sekaligus bijak. Mereka menganggap yang di luar kawanan mereka tak lebih berarti dari diri mereka sendiri.

Dan Firenze, salah satu anggota kawanan Centurus yang mendiami Hutan Terlarang di tepi Sekolah Sihir Hogwarts, hidup dengan anggapan itu, bahwa manusia tak lebih baik dari mereka. Keserakahan manusia membutakan banyak hal dari pikiran mereka. Karena itulah ia dan kawanannya yang lain memilih menghindari manusia dan segala konfliknya. Toh kecerobohan para manusia itu sendirilah yang menyebabkan masalah kerap datang pada mereka.

Penghindaran itu membuat Firenze justru penasaran dengan kaum manusia. Tapi ia tak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan manusia sesering yang dipikirkannya. Yah, ia tinggal di area tertutup dan rahasia, ditambah lagi ia adalah Centaurus; bukan makhluk dominan yang hidup di muka bumi. Yang sering ia temui paling hanya Rubeus Hagrid atau Kepala Sekolah Albus Dumbledore. Ia menghormati penyihir uzur yang bijak itu, yang tidak memandang sebelah mata pada makhluk apapun, baik makhluk gaib atau normal, manusia atau bukan. Ia pun menghargai Rubeus Hagrid, si setengah raksasa yang lembut hati.

Dan kemudian, ia bertemu manusia itu, Yuu Kanda namanya. Tentu saja, ia 'melihat' kedatangannya dari langit yang mengungkapkan segalanya. Dan ia menganggap kehadiran pria muda itu cukup menarik. Bintang-bintang menuliskan garis kehidupannya di sana dengan sangat... unik. Sulit untuk menjelaskannya dengan kata-kata, namun tak urung itu membuatnya penasaran dengan manusia yang satu itu.

Sudah menjadi kebiasaan Kepala Sekolah untuk memberitahukan pada kawanan Centaurus tentang tambahan staf baru - jika ada – agar jika staf itu menjelajahi Hogwarts sampai ke Hutan Terlarang tidak menimbulkan kesalah pahaman dengan penghuninya. Termasuk tentang si guru baru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam itu. Ketika ia bertemu dengannya untuk pertama kalinya, ia membenarkan dirinya tentang penilaiannya terhadap Yuu Kanda.

Yuu Kanda membawa dirinya seperti layaknya seorang prajurit yang telah terjun di medan perang untuk waktu yang lama. Kewaspadaan sekaligus keangkuhan terlihat dari caranya melangkah. Wajah khas Asia-nya yang rupawan nyaris mengaburkan kesan yang didapatnya dari pertempuran. Jika bukan rahangnya yang tegas dan kaku, ekspresinya yang dingin, dan mata beriris biru gelapnya yang menyipit tajam dan waspada, Firenze hampir terperdaya.

Ya. Semua yang terbaca dari Yuu Kanda oleh Centaurus yang sepertinya memang ahli 'membaca' banyak hal menunjukkan horor masa lalu di sepasang mata yang menatap sekelilingnya dengan penuh penilaian itu. Mata itu melihat kehilangan. Mata itu memancarkan penderitaan. Mata itu dipenuhi kemarahan. Mata itu juga dipenuhi determinasi dan kepercayaan diri tak terbantahkan.

Menarik bukan?

Dan tentu saja, Yuu Kanda juga menunjukkan bahwa ia ahli dalam bertarung, dengan kemampuan luar biasa yang tak disangka Firenze dimiliki seorang manusia.

Memenuhi janjinya untuk menjadi lawan duelnya, Firenze menjajal kemampuan pria muda itu menggunakan pedangnya. Senjata yang digunakan untuk duel perdana itu baru pertama kali Firenze lihat – Kanda menyebutnya katana – sementara Firenze menggunakan pedangnya yang berbentuk salib. Dan harus diakui Firenze, senjata itu cocok digunakan oleh Kanda. Pedang bermata satu dan dipegang dengan kedua tangan itu begitu dikenali jelas oleh pemiliknya yang mengayunkannya dengan keahlian tingkat tinggi. Bilahnya ramping, ringan, dan tajam sedikit melengkung, yang diayunkan dengan luwes, akurat, dan mematikan sekaligus anggun, cepat, dan tanpa ragu. Ia tahu Kanda menahan diri untuk tak menggunakan seluruh kemampuannya. Namun, ini saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa ia adalah petarung yang sangat hebat, bahkan melebihi Bane, pemimpin kawanan Centaurus itu.

Bisa dinilai oleh Firenze kalau di medan perang yang sesungguhnya Yuu Kanda menjadi petarung yang luar biasa berbahaya. Ditambah lagi, pria muda itu memiliki stamina yang sangat baik; duel dua jam penuh itu tak tampak mempengaruhinya

Maka tak heran duel itu dimenangkan Kanda.

"Kau memiliki cara bertarung yang sangat menarik, Kanda," komentar Firenze. "Aku tak pernah menyangka ada manusia yang bisa melakukan semua itu."

"Kau juga tidak buruk," ujar si rambut panjang sambil bersandar mengistirahatkan diri pada pohon birch tua. "Untuk ukuran petarung yang tak sering memegang pedang."

Firenze mengerjap. Kanda menghela napas pelan.

"Kau pemanah," katanya datar.

Firenze mengulas senyum. Kanda juga pengamat yang baik ternyata.

"Kau sepertinya mengetahui cara bertarung sejak lama; kemampuan itu biasanya datang bersama pengalaman."

"Aku dilatih sejak kecil," jawab Kanda pendek.

Firenze mengangkat sebelah alisnya. Apa gerangan yang membuat Kanda mendapat latihan tarung sampai seperti itu? Tempat macam apa yang ditinggalinya sampai membuat anak kecil bersiap untuk medan tempur?

Namun, Firenze memilih diam.

Menekuk lututnya, si Centaurus itu duduk di samping Kanda. Tak ada pembicaraan berarti di antara keduanya. Hanya suara gemerisik angin dan hewan-hewan hutan yang terdengar, sementara salju mulai turun perlahan dari langit abu-abu suram.


Kanda kembali ke kastil ketika hari mulai sore. Cukup menyenangkan berada di hutan yang tenang dengan 'teman' yang tidak mengusik dengan pertanyaan tak perlu. Dan Firenze bisa menjadi partner duel yang lumayan menjanjikan selama ia berada di Hogwarts. Centaurus itu pun menawarkan diri mengajarinya memanah. Kanda tentu saja tahu dasarnya - Tiedoll dulu mengajarinya banyak hal - tapi cukup menantang baginya mendalami cara bertempur selain dengan Mugen.

Menyusuri koridor kastil, ia sedikit heran merasakan kesuraman di sana. Berbeda sekali dengan tadi pagi, di mana anak-anak tampak menggila dengan antusiasme pertandingan. Jawabannya ia temukan ketika makan malam di Aula Besar, dengan Profesor McGonagall yang berwajah masam dan Dolores Umbridge yang tampak luar biasa puas sampai memuakkan untuk memandangnya.

"Ada yang tidak beres dengan pertandingannya?" tanya Kanda dengan suara rendah pada Profesor Sprout agar tidak terdengar oleh si Inkuisitor Agung yang duduk di ujung meja.

"Kau memangnya kemana saja tadi?" tanya Profesor Sprout setengah mencela.

"Latihan," sahut Kanda sambil mengangkat bahu.

Menggelengkan kepala tak sabar, guru Herbologi itu memutuskan mengabaikannya. "Gryffindor menang pertandingannya."

Kanda mengangkat sebelah alisnya, mengerling ke meja berdekorasi merah itu. Tak ada tanda-tanda euforia kemenangan di sana.

"Tapi Seeker dan Beater mereka diprovokasi oleh Slytherin yang kalah. Mereka berkelahi setelah pertandingan. Tentu saja, harusnya Kepala Asrama masing-masing yang berhak memberi hukuman. Tapi, Inkusitor Agung kita memutuskan bahwa ia lebih berhak melakukannya. Dia membuat Harry dan si kembar Weasley tak bisa main Quidditch lagi sebagai hukumannya."

"Oh, begitu."

Kanda menarik semangkuk sup panas dan mulai memakannya. Jelas ia tak sadar mendapat tatapan sangat tercengang dari Profesor Sprout.

"Hanya itu reaksimu?"

"Memangnya aku harus bagaimana? Lagipula itu masalah mereka, bukan masalahku."

Profesor Sprout menggelengkan kepalanya, sementara Profesor Sinistra dan Profesor Flitwick menahan senyum mereka.

"Kau benar-benar makhluk dingin," komentar guru Herbologi itu setengah putus asa setengah geli. Namun Kanda memutuskan untuk menikmati supnya saja, dalam hati ingin sekali menyantap soba dan tempura.


Hari Minggu digunakan Kanda untuk sedikit bersantai. Tidak salah kan merasakan punya waktu luang – hell, ia menghabiskan seluruh waktu hidupnya untuk siaga dipanggil ke medan tempur! Meskipun, waktu luangnya ini digunakannya untuk memeriksa esai PR anak-anak yang menumpuk seminggu ini.

Maka, hari itu ia memilih mengurung diri seharian di ruangannya yang hangat oleh perapian yang menyala. Ia berdiri menghadap jendela, menatap butiran salju yang jatuh seperti hujan kapas di luar sana. Ia lalu duduk di belakang mejanya, sesekali menyeruput teh hijau hangat yang disiapkan Dobby si peri rumah untuknya, sambil menarik esai salah satu murid kelas tiga Hufflepuff. Mendengus, ia menorehkan A dengan pulpennya. Ya. Pulpen. Ia tidak mau merepotkan diri menggunakan pena bulu.

Tidak terasa, waktu berlalu begitu saja sementara ia menyelesaikan koreksinya untuk anak-anak penyihir itu. Dilihatnya makan siang – kaserol daging dan salad – yang tadi dibawa si peri rumah sudah dingin. Ia meregangkan tulang-tulangnya yang serasa kaku karena duduk selama berjam-jam.

Ini benar-benar gila. Baru kali ini ia merasa hidup seperti orang normal. Dan itu benar-benar terasa aneh, seakan bukan dirinya saja. Ia lebih banyak memegang pulpen daripada pedang, dan ia bahkan tak mengeluarkan sumpah serapah penuh warna yang tak lulus sensor. Lalu, jika diingat lagi, jumlah akuma yang dibantainya juga tidak memenuhi standarnya yang biasa selama ini.

Kanda mengusap wajahnya tak percaya. Lalu diliriknya tumpukan esai yang masih sepertiga masih menunggunya, juga laporan untuk Markas yang belum diselesaikannya.

Sialan. Ia benci semua itu.


Keesokan paginya di Aula Besar, ia mendapati sosok baru yang berada di meja guru. Seorang laki-laki berewokan bertubuh besar - lebih besar dari Marie, malah - dan berselubung jubah kulit tikus mondok. Kendati Dolores Umbridge memberinya tatapan waspada, laki-laki itu sedang sibuk menerima salam si kembar Weasley dan Lee Jordan yang dengan gembira menyambutnya. Namun dilihat Kanda kalau tak semua anak sama senangnya, beberapa malah terang-terangan memasang ekspresi kecewa dan cemas.

"Kau pasti guru baru yang diceritakan Profesor Dumbledore," gelegar si pria besar ketika dilihatnya Kanda mendekati meja guru. Perawakannya yang seakan tak terawat dengan rambut coklat kemerahan yang awut-awutan dan jenggot tebal tak meluluhkan keramahan di mata hitamnya. Ia pun menyalami Kanda dengan tangannya yang selebar tutup tempat sampah penuh semangat, membuat seluruh bahu Kanda ikut bergetar.

Kanda mengernyit jengkel pada si kembar yang meninggalkan meja guru sambil terkekeh samar di belakangnya.

"Lebih muda dari dugaanku. Baik-baik saja di Hogwarts?"

Kanda mengangkat sebelah alisnya, lalu mengedik ke arah wajah penuh luka Hagrid; bagaimana orang ini mendapat luka seperti itu? "Lebih daripada kau."

"Yah, jelas, sih." Hagrid terkekeh sambil mengibaskan lengannya. "Namaku Rubeus Hagrid. Aku ajarkan Pemeliharaan Satwa Gaib."

"Kanda," balas si Exorcist pendek. "Kau tahu lowongan apa yang kosong..."

Hagrid terkekeh, mirip dengusan anjing, "Tapi kau berani sekali ambil pekerjaan ini. Risiko tinggi, kau tahu."

Tentu saja ia sudah mendengar rumor tentang keramatnya jabatan sebagai guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Komui sendiri yang mengatakannya, diberitahu Kepala Sekolah. Tujuannya sih agar Kanda lebih berhati-hati. Tapi, karena Komui yang memberitahunya, ia tahu ada maksud lain. Kutukan Firaun saja lebih diributkannya.

"Kau tidak kelihatan dari sini," ujar Hagrid penasaran. Diamatinya pria muda di depannya; mata sipit, kulit terang, dan garis khas Timur, juga nama yang tak biasa tapi familiar baginya. "Jepang? Tapi bahasa Inggris-mu bagus..."

"Dibesarkan di China. Dan aku sudah tinggal di Inggris selama sebelas tahun."

"Ah, begitu." Hagrid manggut-manggut. "Yah, senang ketemu kau. Tapi aku punya beberapa hal yang harus kupersiapkan; ini hari pertamaku, soalnya."

Kanda hanya mengangguk, sementara Hagrid meninggalkan Aula Besar.

Kanda berkesempatan bertemu Hagrid lagi keesokan harinya. Ia baru selesai latihan paginya yang biasa di Hutan Terlarang – di hari Selasa ia selalu memulai mengajar agak siang sehingga punya waktu untuk dirinya sendiri – ketika Hagrid membawa anak-anak kelas lima Gryffindor dan Slytherin masuk ke dalam hutan. Mereka tentu saja tak melihatnya, yang nyaris tersembunyi di antara semak-semak. Yang ia herankan adalah, pengganti Hagrid yang sebelumnya, Grubbly Plank, tidak pernah membawa anak-anak sampai sejauh ini ke hutan. Dan Hagrid juga memanggul setengah bagian bangkai sapi.

Kanda mengerjap heran. Tidak mungkin mereka mau mengadakan pesta barbeque, kan?

Selain itu, Kanda mengernyit, ia bisa merasakan beberapa hawa kehadiran yang tak biasa. Makhluk hidup, kemungkinan besar termasuk spesies sihir. Ia memang tak mendeteksi hawa jahat, namun aura kematian yang familiar itu mengusiknya.

Ia belum melihat apa-apa, tapi itu cukup membuatnya penasaran.

Melangkah tanpa suara, ia mengikikuti rombongan itu semakin masuk ke dalam hutan. Hagrid berhenti di tanah kosong tanpa salju yang dipagari pepohonan tua. Suasana yang temaram tak urung membuat anak-anak itu tampak gugup, memandang berkeliling seakan bisa diserang kapan saja.

"Ayo, ayo, kumpul sini," kata Hagrid dengan suara menggelegar. "Mereka akan datang jika mencium bau daging, tapi aku akan panggil mereka jadi mereka tahu aku yang datang dan – eh? Profesor Kanda?"

Hampir semua kepala menoleh ke arah Hagrid menatap guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam mereka yang bersandar di pohon ek tua. Harry bertukar pandang dengan Ron; jika Hagrid tidak menyapanya, mereka semua tidak akan tahu kalau pria muda itu ada bersama mereka. Tak heran, sih. Profesor Kanda mengenakan pakaian serba hitam. Aura suramnya benar-benar menyatu sempurna dengan Hutan Terlarang.

Kanda hanya mengangguk sekali sebagai jawabannya. "Lanjutkan saja."

Menggoyangkan kepalanya sambil menyibak rambut tebalnya, Hagrid mengeluarkan suara ganjil, mirip suara burung besar nan buas. Tak ada yang tertawa, semua terlihat terlalu takut untuk bahkan berkomentar. Harry melihat hanya Kanda yang tampak heran, mengangkat sebelah alisnya. Hagrid mengulangi mengeluarkan suara panggilan ganjil itu, sampai akhirnya Harry melihatnya.

Sepasang mata putih yang kosong muncul di antara kegelapan, membuat Harry nyaris terlonjak kaget. Dan kemudian, kepala reptil menyeruak dari semak-semak, diikuti tubuh kurus seperti kuda kurang nutrisi berbalut kulit berbulu hitam yang tampaknya langsung menempel di kerangkanya. Sayap lebar seperti sayap kelelawar terlipat di sisi-sisi tubuhnya. Makhluk itu berjalan tanpa suara mendekati bangkai sapi yang dibawa Hagrid, menyapu pandangan dengan mata putihnya ke seluruh anak-anak sebelum menunduk dan mulai memakan sajiannya.

Harry menghela napas lega. Jadi makhluk itu nyata dan Hagrid bahkan tahu tentangnya. Harry, dengan perasaan lebih ringan, menoleh ke Ron, yang justru bertampang bingung.

"Kenapa Hagrid tak memanggil lagi?" tanyanya.

Harry memandang berkeliling. Tak hanya Ron, hampir seluruh kelas tampak kebingungan. Kecuali dirinya, Neville yang menatap si makhluk yang sedang mencabik daging dengan taringnya dengan cemas dan salah satu anak Slytherin yang jangkung yang menatap si makhluk dengan jijik. Harry mengerling Profesor Kanda, dan dilihatnya ia tak lagi bersandar pada batang besar ek tua. Mata biru gelapnya terpaku pada si kuda kurus.

"Ah, ini datang lagi!" seru Hagrid, tak menyembunyikan nada riangnya. Dua makhluk yang sama datang lagi dan langsung mendekati bangkai sapi. Namun, dilihat Harry kuda-kurus ketiga muncul dari belakang Kanda. Kali ini lebih kecil dari yang lain, mungkin masih anak-anak, yang mengendusnya dengan tertarik namun diabaikan si rambut panjang.

"Jadi, siapa yang bisa melihat mereka silakan angkat tangan," kata Hagrid. Tentu saja Harry dengan senang mengangkat tangannya. Begitu juga dengan Neville dan si anak Slytherin jangkung.

"Maaf," kata Malfoy menghina, "tapi apa tepatnya yang harus kami lihat?"

Sebagai jawabannya, Hagrid menunjuk potongan bangkai sapi yang sedang dinikmati para makhluk ganjil itu. Beberapa anak terpekik kaget. Harry yakin, pastilah aneh melihat potongan daging tercabik dari tulangnya dan menghilang entah kemana.

"Apa yang terjadi? Apa yang memakannya?" tanya Parvati ketakutan, mundur ke pohon terdekat.

"Thestral," jawab Hagrid kalem, sementara Hermione mengeluarkan suara oh! Pelan sambil mengerling Harry. "Hogwarts punya sekawanan di sini dan..."

"Tapi mereka pertanda buruk! Mereka membawa kabar buruk bagi siapapun yang melihatnya! Profesor Trelawney bilang..."

"Tidak, tidak," kekeh Hagrid, sementara ada dengusan mencemooh dari arah guru yang satu lagi. "Itu hanya takhayul. Sebaliknya, mereka sangat pintar dan berguna! Tapi tak banyak yang mereka lakukan di sini selain tarik kereta sekolah. Dan kadang Kepala Sekolah pinjam salah satu dari mereka kalau mau pergi tapi tak ber-Apparate. Nah, sekarang siapa yang bisa beritahu aku kenapa ada yang bisa melihat mereka dan ada yang tidak?"

Tak ada yang heran ketika tangan Hermione teracung.

"Ya?"

"Yang bisa melihat thestral," kata Hermione segera, "adalah mereka yang sudah melihat kematian."

"Tepat sekali. Sepuluh angka untuk Gryffindor," ujar Hagrid. Ia menoleh ke arah Kanda; si thestral kecil menyundul-nyundul tangannya; Harry menahan senyum melihat ekspresi jengkelnya. Hagrid juga menatap Kanda ingin tahu. "Dia kelihatannya suka kau, Profesor."

"Che. Suruh dia menjauh dariku," gerutu Kanda.

"Bawa dia ke makanannya situ," saran Hagrid geli, sementara anak-anak yang tak bisa melihat thestral bertukar pandang bingung. Kanda menatap pria besar di depannya dengan jengkel, tapi ia toh bergerak ke arah bangkai sapi, diikuti si thestral kecil.

"Tidak tahu kau bisa lihat juga," celetuk Hagrid, ketika si bayi thestral memutuskan untuk makan juga bersama kawanannya.

"Lihat mereka beberapa kali, tapi aku tak tahu apa persisnya..."

Beberapa anak mendongak, menatap guru muda mereka dengan ingin tahu. Hagrid juga menatapnya, agak kaget.

"Sejak kapan kau bisa melihatnya?" engah Hagrid.

"Hm." Kanda mengernyit ketika salah satu thestral mendekatinya dan mengendusnya. "Aku pertama kali lihat mereka waktu aku sepuluh tahun, kurasa. Di hutan kecil di pinggiran Wina. Mereka ada di mana-mana, ternyata."

Hagrid tampak senang sekali. Harry memiliki pemikiran lain, tapi. Profesor Kanda sudah bisa melihat thestral ketika dia sepuluh tahun? Kematian siapa gerangan yang dia lihat di usia semuda itu? "Ya! Mereka ada di mana-mana! Mendiami hutan-hutan gelap dan sunyi. Apa menurutmu soal mereka?"

"Bukan penggemar berat mereka, tapi mereka cukup berguna," Kanda mengangkat bahu. "Dulu makhluk itu yang menuntunku keluar gara-gara tersesat di hutan itu."

"Mereka memang penunjuk arah yang hebat," Hagrid mengangguk-anggukkan kepalanya bersemangat. "Mereka makhluk liar, tapi sangat toleran pada manusia. Tapi, jika ada yang bisa melihat mereka pun kebanyakan akan ketakutan. Yah, orang-orang begitu, kan? Sayang sekali, thestral makhluk yang baik, tapi orang-orang menghindarinya hanya karena mereka, yah..."

"Berbeda."

Hagrid mengangguk. Tapi, Harry menatap sang profesor muda. Ketika ia mengatakannya, Harry bisa mendengar pemahaman penuh di sana. Mata biru gelap Kanda tertuju pada thestral kecil yang mengabaikan dagingnya dan mengendusnya dengan tertarik, dan sangat heran karena Kanda kelihatan tak keberatan seperti sebelumnya.

"Kurasa Bob ini suka padamu," kata Hagrid riang. Kanda mendengus pelan. Thestral ini aneh sekali. Makhluk hidup lain akan berlomba-lomba menghindarinya, bukan mendekatinya. "Kenapa, ya?"

Kanda merasa ia sudah tahu jawabannya. "Hanya bisa dilihat oleh mereka yang melihat kematian, eh?" Tangan Kanda menyentuh kepala tak berbulu yang sepertinya hanya kulit pembungkus tengkorak si thestral kecil. Ada senyum tipis yang suram di wajahnya. "Apa ini? Kau mencium bau kematian dariku? Kau tahu terlalu banyak yang kulihat?"

Hagrid menatap profesor muda itu dengan tercengang. Tak hanya itu, banyak murid yang mendongak kaget padanya, padahal yang dikatakannya pelan saja.

Harry menelan ludah, menatap Kanda yang tak jijik sama sekali ketika si thestral kecil mengendus jari-jarinya. Apa memang begitu banyak kematian yang dilihatnya?

"Hem, hem."

Harry tak heran melihat bahu si profesor muda tampak langsung kaku mendengar batuk manis itu. Kanda lalu menegakkan diri, sementara si thestral kecil menyundul pelan tangan Kanda, yang diabaikannya.

"Ah! Kau di sini, Profesor Kanda? Bukannya –"

"Aku pergi, kalau begitu," kata Kanda dingin, mengerling sekilas ke arah Hagrid yang agak heran, mengacuhkan Umbridge yang mencibir tersinggung padanya.

"A-ah, y-ya. Tentu."

Menyentuh sekilas pada kepala si thestral kecil, Kanda meninggalkan area itu, bahkan tak memandang Umbridge sama sekali. Sosok jangkungnya yang angkuh segera menghilang dari hutan.