Chapter 12
Pada suatu hari, saat semua Sakura berkumpul beserta 3 anggota Akatsuki yang masih hidup. Di mansion Akatsuki, alias tempat yang kini hanya ditenpati oleh Itachi dan Sakura-chan saja.
Di ruang TV tenpat mereka berkumpul, ada kabar mengejutkan dari Ren Haruno alias Sakura-nii dikarenakan pria itu sedang bosan, karena alasan remeh itu pula dia berniat pergi dari Jepang untuk mengusir kebosanan.
"Pergi ke Mesir?" Tanya Sakura-nee kawatir.
"Yaaa." Sakura-nii menjawab bosan dengan menguap.
"Kenapa harus mesir? Kenapa juga kau harus meninggalkan Jepang, aniki-san?" Sakura-sama membetulkan kacamatanya dan pandangan matanya serius, dia memang selalu serius tapi dia lebih serius dalam pertanyaan ini.
"Huaam! Kenapa juga aku menurutimu, kacamata? Ini hidup, hidupku!" Ketus Sakura-nii
"Nii-san! Sakura-sama kan hanya kawatir!" Sakura-nee memarahi nii. Kemudian wajahnya menjadi sedih. "Lagipula kami akan merindukanmu jika kau pergi nanti."
Mendengar omelan peacemaker dari salah satu kepribadian Sakura, aniki merasa bersalah.
"Hahh.. oke, maafkan aku kacamata."
"Baiklah, permintaan maaf diterima." Balas Sakura-sama dengan anggukan.
Sakura-nii melanjutkan. "Hanya saja, peacemaker. Kita sudah berpisah dan mempunyai tubuh masing-masing, sudah saatnya kita memilih jalan masing-masing juga."
"Jadi Nii-chan ingin pergi dari sakula-chan ya? Jahat! Padahal Sakula-chan sedih! Sakula-chan nggak mau nii-chan pelgi!"
"Jangan perlgi! Jangan tinggalin sakula-chan! Sakula-chan juga mau ikut! Hueeeeee!!"
Sakura-chan menangis meraung memeluk kaki Nii-channya, semua menjadi terganggu dengan tangisannya dan Saku-nee kawatir. Sasuke yang sedang di sebelah Sakura-san menyalakan musik dengan memasang earphone di kedua telinga sementara Saku-san menikmati raungan tangis dari Saku-chan.
"Apa suara yang menyakitkan telinga ini bisa membunuhku?" Saku-san tersenyum berharap.
"Tidak. Kau hanya boleh mati oleh kedua tanganku." ternyata Sasuke mendengar itu. Ia membawa Saku-san ke pangkuannya dan mencium bibirnya mesra.
Tiba-tiba sebuah benda asing mendarat di kepala Sasuke, benda kecil yang entah apa itu tapi cukup membuat kepala benjol.
"Aduh! Sakit! Siapa yang memukulku? Naruto!" kesal Sasuke sambil memegangi dahinya.
"Sakit? Aku juga mau." Komen Sakura-san, iri. Matanya berbinar-binar ingin.
Naruto menggeleng tidak mengaku dan menunjuk Itachi.
"Jangan bo-" Sasuke tidak mempercayai Naruto. Tapi begitu dia melirik kakaknya, ia langsung percaya. Dirinya ciut melihat tatapan kelam dari Itachi yang sedang cemburu akan kemesraan adiknya sedangnya istrinya merengek manja kepada pria lain, well, pria lain walaupun pria itu adalah istrinya sendiri, sosok lain dari Sakura-chan lebih tepatnya. Mengetahui fakta ini akhirnya wajah Sasuke memucat, tapi dia bukan orang yang kuat akan nafsunya, jadi bukannya dia berhenti tapi membawa Sakura-san ke kamar lamanya untuk melanjutkan bermesraan secara privasi. Sedikit tidak rela, tapu Itachi membiarkan adiknya melanjutkan aksinya, asalkan dia tidak mempertontonkan kemesraan di depannya.
"Hm? Kamu mau ikut, bocah kecil? Aku sih tidak masalah." jawab Sakura-nii santai.
"Benalkah?! Hol-" kedua mata Sakura-chan berbinar-binar senang, hanya beberapa detik.
"One second thought, aku berubah pikiran! Kamu enggak boleh." Sakura-nii cepat berubah pikiran kala merasakan killing intent dari Itachi.
Yang sayangnya Sakura-chan tidak menyadarinya. Entah karena kebal atau dia terlalu polos. "Eehhhh? Kenapa? Kenapa??" Sakura-chan merengek sedih.
"Hm... Karena.." mata Sakura-nii melotot ke arah Itachi tapi Sakura-chan tetap tidak menyadarinya. "Aku tidak bisa mengajakmu, kau akan merepotkan."
"Sakula-chan tidak akan melepotkan!"
"Kau akan merepotkan."
"Tidak."
"Iya."
"Tidak!"
"Iya."
"Sakula-chan janji! Tidak! Sakula-chan kan tidak pernah berbohong! Beebohong itu tidak baik, itu kata Sakula-sama-san(Kakak Nona Sakura). Ya kan, Sakula-sama-san?" Sakura-chan menengok ke arah Sakura-sama. Sakura-sama mengangguk dan dan mengacungkan jempol tangan kanannya.
"Yes! Sakula-chan pintal!" Sorak Sakura-chan dengan mengangkat kedua tangan. Dia kemudian lari girang ke mendekati Itachi. "Anata! Sakula-chan pintal kan? Puji dong! Puji!" Dan tersenyum lebar.
"Bagus." Itachi menganguk tersenyum sambil mengelus-elus rambut Sakura-chan.
Anata? Sejak kaoan bocah itu memanggil Si Pedo(Itachi) dengan sebutan begituan? Sakura-nii bingung. Tapi Ya sudahlah! Masa bodoh.
"Pokoknya kau tidak bisa ikut denganku, bocah. Kalau kau ikut majikanmu pasti kesepian."
"Anata kesepian? Benarkah?" tanya Sakura-chan yang sudah di jelaskan siapa itu 'majikan' dirinya dari Sakura-nii. Tentu saja dengan menggunakan tipuan-tipuan yang dengan polosnya ia percaya. Menjadikan majikan itu sebutan yang mencondong ke Babysitter atau sebaliknya, padahal Sakura-nii memacu hal itu kepada ejekan.
"Ya, aku kesepian jika kau pergi, little one. Jadi jangan pergi, ya?" pinta Itachi dengan muka memelas.
Sakura-chan luluh. "Mm.. baiklah kalau anata bilang begitu."
Sakura-nii melihat drama pasaran mereka berdua. Dasar bocah itu mudah dibujuk seperti biasa.
"Baiklah, masalah terselesaikan. Jadi sampai jumpa lagi kalian semua!" Sakura-nii berbalik pergi.
"Tunggu! Kau kan pergi sekarang?" Sakura-sama kaget.
Dengan tenang, Sakura-nii membalas. "Ya. Tiket pesawatnya sudah kupesan dari jauh hari." Sakura-nii berhenti, tapi dia tidak membalikan tubuhnya untuk menjawab.
"Kenapa kakak mengatakan hal ini mendadak sekali seperti ini? Kami bahkan belum membuat pesta perpisahan untukmu, kak!" Sakura-nee kecewa. Naruto mencoba menghiburnya dengan memeluknya.
"Tidak usah berlebihan segala. Seperti aku tidak akan pulang selamanya saja." balas Sakura-nii, datar.
"Tapi kita tidak akan tahu berapa lama kakak akan pergi. Aku tahu aku berlebihan, tapi itu wajar,Mesir itu jauh Maklumlah, kita kan selalu bersama." Jawab Sakura-nii.
"Ya, Nee-san benar, nii-san." Dukung Sakura-kun, dia akhirnya membuka mulut. Walaupun dia agak senang Nii-sannya pergi, karena hubungan mereka tidak akur. Walaupun itu kesalahannya karena Nii-san selalu benci dirinya merayu para gadis. Tapi mereka sudah seperti saudara bahkan melebihi ikatan persaudaraan saudara kembar. Jadi dia juga merasakan kesedihan pada perpisahan ini.
"Aku tahu. Tapi aku sudah kubilang, kalau sudah saatnya kita semua meninggalkan sarang. Masa depan kita tidak lama terikat dalam 1 tubuh. Kita harus menyongsong masa depan kita masing-masing."
Pernyataan Nii-san mereka membuat semua kepribadian Sakura dan Sakura terdiam. Mereka semua menyerap pernyataan Nii-san mereka dengan serius.
Mereka semua menyadari hal ini. Tapi tetap saja hati mereka enggan untuk berpisah. Itu sebabnya para kepribadian Sakura masih tinggal berdekatan dan jarang dari mereka berpisah lebih dari seminggu tanpa kabar dan mengunjungi kepribadian lain.
"Tapi camkan ucapanku, ini bukan berarti perpisahan. Aku pasti mampir dan pulang suatu saat nanti."
"Aku.. aku mendukungmu, Sakura-nii!" Membuat terkejut semua orang, Sakura asli membuka mulut juga.
Sakura-nii akhirnya menengok dan tersenyum lembut. Melularkan senyuman ke Sakura asli juga. Semua kepribadian Sakura bahkan selain mereka akhirnya menyerah dan mengerti. Mereka tersenyum juga.
"Baiklah, aku pergi dulu." Kemudian Sakura-niipun mendorong koper besarnya, membuka pintu dan pergi. Disertai sorak-sorak dari beberapa kepribadian Sakura yang lain.
"Sampai ketemu nanti!"
"Jaga dirimu!"
"Hati-hati!"
"Cepatlah pulang!"
"Haha! Aku bahkan baru selangkah pergi dari rumah ini." tawa Sakura-nii. Kemudian ia melambaikan tangan ke belakang. "Sampai jumpa!"
Semua orang menatap punggung Sakura-nii dengan ekspresi yang sulit diungkapkan dan rindu.
Saat Sakura-nii telah berada di jalan raya, dia menyetop sebuah taksi untuk mengantarnya menuju bandara. Tiba-tiba masuk seorang gadis ke dalam taksi itu sesudah ia masuk. Gadis itu langsung menutup pintu kasar dan dia menyuruh supir taksi untuk segera pergi dengan wajah panik dan sikap terburu-buru. Pak Taksi bingung tapi dia mengikuti permintaan pelanggan yang dia kira bersama Sakura-nii juga. Tentu Sakura-nii juga tidak kalah bingung, tapi saat dia melihat ke belakang dia melihat ada berapa pria berpakaian hitam mengejar taksi ini dengan berlari sampai akhirnya mereka hilang dari pandangan mereka karena taksi telah melaju jauh. Sakura-nii tidak mau mempersulit diri, dia terlalu cuek sehingga tidak memperdulikan gadis di sampingnya. Tidak masalah karena gadis itu tidak mengganti lokasi yang dituju taksi ini, jadi dia yang bersandar santai di jok dan menyetel musik HP miliknya dengan memasang earphone di kedua telinga. Walau begitu ia sadar, sesekali gadis di sampingnya itu juga meliriknya. Wajah gadis itu terlihat seperti perempuan asia biasa; mata hitam dan rambut hitam pendek tapi keriting imut. Wajahnya yang rupawan penuh dengan keringat dan bajunya juga basah. Matanya menatap was-was ke arahnya, gadis ini terlihat seperti ingin mengajukan pertanyaan jadi Sakura-nii mencopot satu earphone miliknya dari telinga.
" Ada apa? Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Sakura-nii.
"Ah, ya. Aku ingin berterima kasih karena kau membiarkan aku menumpang di Taxi yang kau engkau pesan terlebih dahulu. Maafkan aku telah menyerobot tanpa izin." Ia menunduk.
"Tidak apa. Selama itu tidak menggangguku."
Gadis itu mengangkat wajahnya dan tersenyum. "Terima kasih banyak."
"Sama-sama." balas Sakura-nii.
"Ada apa denganmu? Kau terlihat lelah seperti habis berlari lari. Siapa pria-pria berpakaian hitam yag mengejarmu tadi?"
Wajah gadia itu pucat, kemudian terdiam. Mencari-cari alasan.
"Aku... seseorang mengincarku. Mengincar nyawaku! Mungkin kau tidak percaya tapi aku berkata benar!" kedua mata gadis ini berbinar-binar semangat. Melihatnya saja membuat Sakura-nii tahu dia dibohongi. Tapi ia ikut masuk dalam permainan.
"Aku percaya."
"Benarkah?" kedua mata gadis itu semakin menyilaukan.
"Ya. Tapi aku tidak peduli. Itu bukan urusanku."
"Ah, ya! Tentu saja aku tidak akan membuatmu terlibat! Ini berbahaya."
"Baguslah."
"Ngomong-ngomong, boleh aku tahu kemana kau akan pergi dengan taxi ini?"
"Ke bandara."
"Kau mau ke luar negeri?" Gadis itu melirik sekitar Sakura-nii tapi tidak menemukan apa-apa, mungkin kopernya dimasukan di bagasi mobil.
"Ya. Aku akan pergi ke Mesir."
"Mesir ya? Kedengaran negeri yang... aku tidak tahu, aku hanya pikir itu tempat strategis untuk berpetualang."
"Ya. Itu tujuanku."
"Eh? Kau berpetualang sendirian?" gadis ini kaget.
"Ya. Aku ingin mencari sesuatu yang memacu adrenalin, sesuatu yang menantang dan... kebebasan kebebasan."
"Kebebasan.." lirih gadis ini. "Aku juga menginginkannya."
"Hm? Kenapa kau tidak mencarinya kalau begitu?"
"Pergi berpetualang sepertimu? Mencari kebebasan? Namun aku tidak melakukannya sendirian. Aku tidak berani."
"Kau boleh ikut denganku kalau kau mau."
"Benarkah?" gadis ini merasa punya harapan. Kemudian ekpresinya berubah gundah. "Tapi kau tau aku sedang dikejar-kejar, kau akan dalam bahaya. Dan juga, kau tidak tahu apakah aku orang baik atau jahat. Bisa saja aku orangbjahat dan menipumu sekarang."
Kalau masalah ditipu, aku sudah tahu ceritamu tadi bohong. batin Sakura-nii.
"Jika kau penipu atau irang jahat, kau penjahat yang baik telah memperingatiku." Kekeh Sakura-nii.
Gadis itu merona melihat wajah Sakura-nii yang terkekeh. Dia tampan juga. Batin si gadis.
"Lagipula. Aku tetap tidak peduli. Masalah justru membuatku puas, semakin menantang semakin memuaskanku. Itu lebih dari cukup untukku."
Dia.. keren sekali. batin si gadis kagum.
"Kau.. kau serius? Serius mengajakku?"
"Aku tidak pernah bercanda tentang hal seperti ini."
"Um.. boleh aku bertanya? Apakah kau bisa bela diri? Kau kuat? Kau bisa menggunakan senjata?"
"Bisa atau tidak, ya?" Jahil Sakura-nii.
"Hei!"
"Tapi.."
"Hm?"
"Semua pertanyaanmu hanya akan terjawab jika kau mencari tahu jawabannya sendiri dengan berada di sisiku." Sakura-nii tersenyum.
Pernyataan Sakura-nii membuat gadis ini salah paham, penyataan tadi terdengar seperti pernyataan cinta. Dan mungkin, bagi siapapun yang mendengarnya juga.
"Baiklah, aku ikut denganmu! Namaku Yukina Saotome, boleh aku tahu namamu?"
Sakura-nii hendak mengatakan nama dirinya yang sebenarnya, tapi itu terasa aneh untuk orang lain selain kepribadian Sakura lainnya. Apalagi nanti jika dia bertemu dengan kepribadian dengan nama mereka yang aneh dan hanya satu nama diberi embel-embel jepang saja untuk dibedakan. Jadi dia menggunakan nama umumnya, yaitu :
"Ren. Panggil saja aku dengan nama itu."
"Salam kenal, Ren." Yukina mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan, Ren menyambutnya.
Kemudian Yukina dan Ren menuju Bandara, Yukina mengeluarkan uang dari tas gandeng miliknya untuk membeli tiket pesawat dan mereka pergi bersama menuju Mesir.
Beberapa minggu kemudian, Ren mengetahui fakta bahwa Yukina Saotome adalah putri dari seorang pengusaha kayaraya yang dijodohkan setelah lulus SMA. Yukina kabur karena jodohnya adalah duda mata keranjang yang telah kawin cerai selama 10 kali, apalagi pria itu adalah om-om gemuk yang menjijikan. Yukina lebih memilih memutuskan tidak akan kembali ke Jepang daripada di jodohkan dengan pria seperti itu.
Beberapa bulan mereka berpetualang, dari desa ke desa, kota ke kota bahkan negeri ke negeri. Ren menikmati petualangan menantang mereka sedangkan Yukina jatuh hati kepada Ren. Entah perasaan Yukina tersampaikan atau tidak.. itu tergantung imajinasi dari pembaca.
THE END
Next -- Kisah Sasuke x Sakura-san dan Sakura-kun.. etc.. sampe chapter 15 Tamat.
Ada ide buat chapter depan? Azure mentok ide nih! Plis HELP!!
