Desah napas seolah membelah hening ketika malam hari, menyisakan dua manusia yang bediri di sudut taman. Satu pria dan seorang wanita. Tak diketahui bagaimana paras sang wanita karena dia menutupi wajahnya dengan masker dan tudung. Namun dari lekuk tubuhnya, bisa dipastikan dia seorang wanita. Pria di depannya, yang mengenakan seragam kepolisian, tampak tersudut. Tubuhnya semakin menempel pada dinding toilet umum. Wanita di depannya menyeringai dan menunjukkan benda hitam di tangannya. Benda yang merupakan kepunyaan sang polisi. Pistol.

"T-tolong ampuni nyawaku! Aku memiliki istri dan anak! Aku masih ingin bersama mereka!"

Wanita itu mengangkat tangan dan tertawa kecil.

"Atas dasar apa aku harus mengampunimu? Aku bukanlah Tuhan. Hatiku kotor. Aku tidak bisa memaafkan orang lain dengan mudah dan aku benci hati yang lemah."

Sang pria meringis. Tubuhnya telah dipenuhi luka sayatan pisau. Wanita di depannya bukan wanita biasa, bahkan bisa membekuk laki-laki yang jelas memiliki tenaga jauh lebih besar.

"Siapa kau?"

"Oh? Apa aku harus memperkenalkan diri?" Wanita dengan jaket hitam melangkah mendekat. Dia meletakkan moncong pistol tepat di dahi sang polisi.

Sembari tersenyum, dia berkata.

"Sebagai kenang-kenangan di dunia sana, kuberitahu kau siapa aku. Aku adalah … Lavender."

Dengan itu, suara peluru yang ditembakkan terdengar. Tubuh sang polisi meringkuk lemas, sedangkan sang wanita berbalik dan beranjak pergi. Di sisi jasad sang polisi, selembar kertas tergeletak. Selembar kertas yang bertuliskan "Lavender". Malam yang mencekam bagi Jepang kembali dimulai. Setelah tekatup, kelopak lavender tampaknya kembali merekah.

Naruto © Masashi Kishimoto

SasuHina

AU

The Dark Fairy

Chapter XII

She Comes Back

Hinata meregangkan otot-otot tubuhnya dengan merentangkan tangan lebar-lebar. Seharian ini dia melewatkan waktu dengan membenahi sebuah apartemen yang mulai saat ini menjadi kediaman barunya. Hinata, dengan nama "Laventa", telah kembali ke Jepang dan menjadi bagian dari warga negara negeri yang dijuluki "Negeri Sakura". Merasa haus, Hinata melihat jam yang melingkar di tangannya. Waktunya afternoon tea, maka sang Hyuuga berjalan ke arah dapur dan mulai meracik minuman berwarna pekat tersebut.

"Kau sudah didaftarkan menjadi guru di sebuah sekolah swasta di Tokyo, Laventa." Ino meletakkan sebuah kardus dengan stiker bertuliskan "buku" di pojok kamar. Gadis berambut pirang itu lalu melemaskan jemarinya, merasa pegal dengan kegiatan hari ini. Hinata membawa beberapa benda pribadi dan Ino merekomendasikan agar sang gadis tidak menggunakan jasa untuk mengangkut benda-benda miliknya. Tentu saja sebagai gantinya, Ino-lah yang membantu acara pindah rumah sang gadis.

Keluarga Yamanaka telah mempersiapkan kehidupan baru bagi Hinata. Mereka menyediakan sebuah ruangan di apartemen bergaya barat yang lokasinya cukup jauh dari pos polisi. Selain itu, Inoichi bahkan telah memberikan jaminan pekerjaan sebagai guru bagi Hinata. Ya, selama tinggal di Tokyo, Hinata akan menjadi guru SMA. Dia akan memiliki kehidupan biasa sampai akhirnya dia harus kembali menuntaskan misi lamanya yang tertunda.

Hinata tersenyum. Dia baru saja keluar dari dapur dengan membawa nampan berisikan cangkir teh. "Terima kasih. Aku senang sekali. Sejak dulu, aku ingin mencoba bekerja sebagai guru."

Ino tersenyum lebar. Gadis bermata biru menyandarkan kepala ke sofa dan meluruskan kaki. Mereka berdua berbincang banyak setelah itu sampai akhirnya Ino harus beranjak pergi.

"Aku tidak bisa sering-sering kemari. Keluargaku tetap masuk daftar orang yang patut dicurigai terkait kasus Lavender. Bisa gawat jika mereka melacak sampai ke tempat ini. Aku akan mencari tempat yang aman untuk bertemu dan menghubungimu. Kau tetap bisa bertanya apa pun padaku lewat Line." Ino mengenakan sepatu boots-nya sembari berucap. Jujur saja, putri dari keluarga Yamanaka itu merasa khawatir. Dia tidak ingin meninggalkan Hinata untuk tinggal sendirian di Jepang, di negara yang kini tengah mencarinya. Bahkan kalau boleh memilih, Ino lebih senang melihat Hinata tinggal di Bibury dan menjalani kehidupan sebagai gadis biasa.

Hyuuga cantik mengangguk kecil.

Sebelum membuka pintu, Ino seolah teringat sesuatu. Dia lekas merogoh tas mahal yang disampirkan di bahunya dan mengeluarkan sebuah benda. Bergegas, benda itu kini telah bertengger di atas telapak tangan Hinata. Tentu saja gadis bermata mutiara hanya berkedip heran.

"Kau harus memakai softlens. Mulai saat ini, kau adalah Laventa."

Ino melambaikan tangan dan berlalu. Saat sosok sang gadis menghilang di balik pintu besar berwarna putih, Hinata mengarahkan pandangannya pada dua benda yang diberikan kepadanya.

'Mulai saat ini, aku adalah Laventa,' batin sang gadis.


Keesokan harinya, Hinata memutuskan untuk berjalan-jalan mengitari pertokoan yang berjajar di dekat apartemennya. Namun sebelum itu, Hinata teringat pesan dan benda titipan Ino. Oleh karenanya, sebelum melenggang keluar, Hinata meraih benda tersebut dan berdiri cukup lama di depan cermin besar berbingkai putih. Kini, lensa mata serupa mutiara itu digantikan kelereng safir. Sejak awal, paras Hinata memang tidak seperti orang Jepang. Sedikit saja sentuhan dan dia terlihat seperti orang lain. Benar-benar seperti penduduk Bibury.

Mengenakan setelan kemeja berwarna peach dan rok bermotif kotak selutut, Hinata memasuki sebuah kafe yang bertuliskan "Konoha". Aroma kopi yang memikat menarik tubuh Hinata untuk menduduki salah satu kursi di sana. Gadis yang kini usianya telah memasuki angka dua puluh itu menghabiskan beberapa saat di sana, menikmati cairan yang masuk ke tenggorokannya dan sebuah sponge cake berukuran kecil yang meleleh di lidah.

Hinata sedikit banyak mencuri dengar pembicaraan hangat yang nyaris dibicarakan setiap pelanggan kafe tersebut. Mereka menyebut satu nama yang tidak asing lagi di telinganya. Kegaduhan di dalam kafe membuat Hinata merasa tidak nyaman. Dia ingin menikmati panganan ringan di depannya dengan tenang. Entah gerak-gerik Hinata yang gusar terlihat kentara ataukah sang pelayan terlalu jeli. Namun, kini seorang pelayan mendatangi meja Hinata.

"Nona," panggil seorang pelayan.

Hinata menengadah. Alisnya bertaut.

"Sepertinya Anda datang dari luar Jepang, ya? Berhati-hatilah. Saat ini, kondisi di Jepang tidak cukup bagus. Sudah satu bulan Jepang dicekam kasus pembunuhan berantai. Pelakunya tidak lain adalah Lavender. Dia adalah penjahat kelas kakap yang sempat menggegerkan seisi Jepang beberapa tahun lalu. Sosoknya tidak diketahui siapa pun dan dia menghilang setelah kepolisian membengkuk organisasinya. Konon katanya, dia datang untuk membalaskan dendam. Terbukti dari korban pembunuhan yang seluruhnya adalah anggota kepolisian. Meski begitu, beberapa korban adalah warga sipil. Menurut dugaan sementara, mereka dibunuh karena tanpa sengaja menjadi saksi pembunuhan yang dilakukan Lavender. Jangan sampai Anda menjadi salah satu dari korban Lavender, Nona." Sang pelayan memperingatkan dengan nada serius.

"Apa Lavender begitu mengerikan?"

Sang pelayan mengangguk mantap. "Sangat mengerikan! Dia membuat kepolisian Jepang nyaris bertekuk lutut. Keberadaannya bahkan membuat Jepang menjadi negara yang tidak aman selama beberapa tahun terakhir. Masyarakat menjadi takut untuk keluar rumah dan lembaga kepolisian bahkan melarang pengadaan acara piknik bagi pelajar dan pekerja."

"Begitu, ya."

Hinata mengangkat cangkir di tangannya, menyesap sedikit kopi yang tersisa.

"Terima kasih atas informasinya. Aku akan berhati-hati agar tidak menjadi korban Lavender," timpal sang gadis enteng.

Gadis yang kini memiliki surai berwarna cokelat bergelombang sebahu berjalan keluar dari kafe yang baru saja disinggahinya. Hiruk-pikuk di Jepang sedikit membuatnya merindukan kedamaian di Bibury. Terutama saat mendengar nama "Lavender" disebut, Hinata seolah ingin menjalani kehidupan seperti saat dirinya masih berada di desa indah tersebut.

Lavender yang tengah menjadi sorotan publik di Jepang saat ini bukanlah dirinya. Ada orang lain yang mengaku menjadi Lavender. Dengan kata lain, ada Lavender palsu. Yang jadi persoalan, apa motif pembunuhannya? Jika dia memang memiliki dendam terhadap kepolisian Jepang, kenapa nama "Lavender" harus disangkut-pautkan? Apa arti di balik kejadian ini? Hinata harus segera menghubungi Ino untuk mendiskusikan persoalan ini.

Langkah kaki Hinata terhenti. Sebuah mobil melaju di sisinya. Embusan angin yang cukup kencang membuat sang gadis menyelipkan sebagian helaian rambutnya di belakang telinga. Bola mata gadis bertubuh proporsional itu membulat seketika. Aroma cologne yang merasuk ke hidungnya membuat Hinata seolah terpatung. Wewangian yang membuat rindu, seakan dia mengenal baik sang pemakainya. Sayang, roda mobil melaju melewati dirinya dan aroma itu pun memudar disapu angin.

"Besok aku sudah mulai mengajar. Aku harus mempersiapkan keperluan untuk esok hari." Hinata memalingkan muka dari jalan dan berjalan menuju apartemennya. Ketimbang berpikir menerawang, ada hal pasti yang harus dilakukannya.


Kebisingan memenuhi ruangan cukup besar di markas kepolisian Jepang. Keriuhan ini tentu bukanlah tanpa sebab. Kemunculan Lavender menjadi alasan mengapa seluruh aparat kepolisian dikumpulkan dan disiagakan di beberapa lokasi.

"Lavender kembali muncul!"

Teriakan yang dibawa seorang aparat membuat seorang pria tampan bersurai hitam memperbaiki posisi duduknya. Dia menegakkan punggung seraya melipat tangan di atas meja, tampak teganggu dengan teriakan tersebut. Seolah mengerti pandangan yang tersirat dari sepasang oniks hitam, sang sahabat menyikut pelan pinggang sang pria.

"Dia memang orang yang berisik. Aku pernah menyelesaikan misi bersamanya, jadi sudah terbiasa."

"Itu karena kau juga sama berisiknya, Dobe."

Sang pria berambut pirang, Naruto, berdecih dan membuang muka. Pipinya tampak mengembung.

"Hei, Sasuke. Apa Lavender yang akan kita selidiki adalah 'dia'?"

Sasuke kini bertopang dagu. Matanya menerawang, mengingat sosok seorang gadis yang kini keberadaannya masih menjadi misteri. "Entahlah. Bisa saja itu dia dan bisa saja bukan. Aku belum melihat data penyelidikan milik kepolisian, jadi belum bisa berkomentar banyak. Jika menyangkut Lavender, aku tidak ingin gegabah."

Uzumaki dewasa terkekeh. "Kau masih menyukainya. Kurasa, saat ini kau pasti berharap Lavender yang muncul sekarang adalah dia sehingga kau bisa bertemu lagi dengannya."

Sasuke memejamkan mata dan menghela napas. "Aku ingin bertemu dengannya sekaligus tidak ingin bertemu dengannya. Aku bimbang. Aku tidak ingin bertemu dengannya hanya untuk memasukkannya ke dalam penjara. Di sisi lain, aku memang merindukannya."

"Kau sendiri?" Kali ini Sasuke bertanya pada sang sahabat. Sepasang oniks milik sang pria memandang tajam pada sosok hakim di sisinya. "Apa kau akan berbelas kasih padanya dan mencoba mengurangi hukumannya ataukah sebenarnya kau memendam rasa benci padanya karena dia pernah melakukan percobaan pembunuhan pada tunanganmu?"

Naruto mengulaskan senyuman getir. Ditanya begitu membuat dia mau tak mau terkenang pembicaraan lama dengan sang tunangan.

Sebelah alis Nauto terangkat. "Bukankah jika dibandingkan denganku, kaulah yang seharusnya membenci gadis itu? Bagaimanapun dialah yang membuat Itachi—"

"—Aku tidak bisa membencinya. Aku tahu dia memiliki alasan kuat untuk berbuat seperti itu."

Naruto ingin menanggapi ucapan Sasuke. Namun, suara inspektur kepolisian Jepang membuat sang pria berambut pirang menahan diri dan memilih berkonsentrasi pada diskusi hari ini.

Sasuke bersyukur Naruto tak lagi mengungkit pembicaraan mereka. Dia beruntung karena diskusi hari ini menginterupsi topik yang paling dia hindari. Sasuke tidak ingin membicarakan gadis itu untuk saat ini. Namun tentu saja, diskusi hari ini pun akan membahas "dia" yang eksistensinya masih dipertanyakan. Sasuke merasa lega sesaat dan kini harus memijat pelipis.

'Aku ingin melupakannya. Andai saja aku bisa.'


"Aku ingin melupakannya. Andai saja aku bisa." Hinata bergumam.

Saat ini gadis Hyuuga tengah pergi keluar untuk sekadar mencari beberapa bahan masakan esok hari. Hinata ingin membuat pancake, maka dia membutuhkan bahan seperti tepung terigu, gula, dan mentega. Hinata merapatkan jaketnya. Meski masuk musim panas, Tokyo tetap dingin di malam hari. Sang gadis berjalan masuk ke dalam sebuah minimarket dan memilih beberapa bahan makanan serta kebutuhan lain selagi dia berada di sana. Ketika membayar belanjaannya, kasir yang melayani Hinata memperingatkan sang gadis untuk berhati-hati. Kembali, nama "Lavender" meluncur. Gadis yang kini mengenakan lensa safir menimpali perhatian kasir tersebut dengan ucapan terima kasih walau dalam hati, Hinata harus menahan diri untuk tidak menghela napas.

Di mana pun dia berpijak, nama "Lavender" mencuat.

Jalanan benar-benar menjadi sepi meskipun waktu baru menunjuk pukul sepuluh malam. Tampaknya desas-desus kemunculan kembali Lavender membuat bulu kuduk penduduk setempat dibuat merinding dan membuat mereka tidak ingin mengambil risiko bertemu secara tidak sengaja dengan sang Lavender.

"Maaf!" Hinata spontan membungkuk saat tanpa sengaja bertubrukan dengan seseorang. Sepertinya inderanya mulai tumpul. Biasanya sang gadis tidak akan melonggarkan pengawasan sedikit pun. Dia akan menyadari hawa keberadaan seseorang, apalagi orang biasa.

Pemuda berambut tufty blue lantas ikut membungkuk, membuat kepala mereka berdua resmi berbenturan. Sang pemuda terlihat gelisah. Dia lantas berlutut dan meraih beberapa benda miliknya dan milik Hinata yang jatuh berserakan.

Entah bagaimana, Hinata dan sang pemuda yang mengenalkan diri sebagai "Chojuro" duduk bersama di dekat lampu jalan, tepat di sisi vending machine. Pemuda itu menyodorkan sekaleng kopi hangat pada sang gadis.

"Jadi namamu 'Laventa Walcott', ya."

Keduanya berbincang cukup banyak. Hinata cukup waspada sejak pertemuan mereka ketika tahu bahwa seragam yang pemuda bergigi runcing kenakan adalah seragam kepolisian. Meski ceroboh, toh, dia adalah penegak hukum di Tokyo. Hinata tidak boleh memandang remeh kepolisian Jepang. Ada otak jenius yang bekerja di balik simbol kepolisian itu.

Chojuro seketika mencengkeram kain celananya. Wajahnya menunjukkan kecemasan. "Aku baru bekerja di kepolisian dua bulan. Namun, mereka sudah memberiku tugas berjaga di malam hari, terlebih saat ada desas-desus kemunculan Lavender."

"Kenapa kau ingin menjadi polisi, Chojuro-kun?" Tanya Hinata penasaran. Dilihat dari sisi mana pun, Chojuro tidak cocok dengan pekerjaannya saat ini. Bahkan dari pertemuan awal mereka, Hinata bisa menilai bahwa Chojuro adalah pemuda kikuk dan pemalu.

"Ayah dan ibuku menginginkanku menjadi polisi. Aku ingin memenuhi keinginan mereka."

Gadis Hyuuga terpekur sejenak. Chojuro adalah pemuda kikuk dan pemalu. Namun, dia adalah pemuda gigih. Dia tidak menghindar dari misinya. Pemuda berkacamata itu tetap berjaga di malam hari dan mengesampingkan rasa takutnya.

Hinata meletakkan kaleng kopi di sisi kanan dan menggunakan tangannya yang bebas untuk menepuk bahu Chojuro perlahan. "Kau akan baik-baik saja, Chojuro-kun."

'Aku, sebagai Lavender, akan menjamin keselamatanmu,' janji Hinata dalam hati.

Perjumpaan mereka diakhiri dengan Chojuro yang bersikeras ingin mengantarkan Hinata pulang. Awalnya sang gadis menolak. Namun Chojuro lebih keras kepala dari yang ada di pikirannya sehingga mau tak mau Hinata menunjukkan kediamannya saat ini … pada seorang polisi. Oh, bagus sekali. Seperti meletakkan tangan di dalam kolam hiu.

Chojuro melambaikan tangan penuh semangat pada Hinata. Pemuda bermata gulita bahkan mengatakan "sampai jumpa" yang berarti akan ada pertemuan kedua di antara mereka, baik sengaja maupun tidak sengaja.


"Sensei, kau cantik sekali!"

Pujian demi pujian diterima Hinata atas dandanannya hari ini. Dia mengangkat rambut yang kini dicat dengan warna asing sehingga menampakkan leher jenjangnya. Kemeja merah dan rok hitam membalut tubuh langsingnya. Tak lupa, sapuan lisptik warna merah membuat Hinata terlihat dewasa.

Wajah sang guru memerah. Rasanya salah tingkah dipuji sedemikian rupa oleh murid sendiri. Ketika waktu istirahat tinggal sepuluh menit, Hinata awalnya memutuskan untuk mengadakan permainan kecil. Namun, salah seorang guru berjalan masuk sembari mempersilakan dua sosok di belakangnya untuk melangkah maju.

"WALCOTT-SAN!"

"Chojuro-kun!" Hinata sontak memekik saat melihat kenalan barunya berada di kelas.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Sang pemuda kikuk tertawa kecil. "Kami sedang mengadakan sosialisasi untuk mengantisipasi keberadaan Lavender dan kriminalitas lainnya. Boleh kami minta waktu?"

Hyuuga muda tersenyum. "Tentu. Sebentar lagi waktu istirahat. Gunakanlah sisa waktu pelajaranku untuk melakukan sosialisasi."

Pemuda berkacamata membungkuk dalam-dalam sebelum memanggil seorang rekan yang sedari tadi hanya diam. "Ao, ayo kita lakukan sosialisasi!"

Saat tubuh pemuda jangkung di sisi Chojuro melintas tepat di depan Hinata, dua kelereng Hinata seolah teringat siapa pria dengan penutup mata layaknya bajak laut itu.

"Bunuh aku! K-kau bagian dari organisasi keji itu, bukan?! Aku tidak perlu dikasihani olehmu! Aku memilih mati untuk membela keyakinanku daripada hidup di bawah belas kasihan kalian!" Seorang pria berkata dengan terbata-bata. Dia memaksa Hinata meraih pisau yang tergeletak di sisi Hinata.

Keringat dingin mengalir di pelipis sang gadis. "Membunuh"? Hinata tidak bisa melakukannya!

"Nona! Lakukanlah!" Pria itu meronta dengan kondisi kaki dan tangan terikat kuat. Jika dibiarkan, pria ini akan menjadi sasaran anggota organisasinya dan mati. Mati seperti manusia lain di ruangan ini.

Tangan putih Hinata meraih pisau yang ditunjuk sang pria. Gadis itu mendekat sembari mengacungkan pisau yang dia pegang. Bukanlah tubuh yang dihunus oleh pisau tersebut, melainkan tali yang mengikat tangan sang pria. Sang gadis berlutut di depan pria tersebut dan menggenggam tangan sang pria.

"Jangan mati di sini. Kumohon."

Hinata lantas meletakkan pisau tersebut di sisi sang pria dan menutupi tubuh pria tersebut dengan kain. "Di sebelah utara tidak ada penjagaan apa pun. Kau bisa aman keluar dari sini melalui rute itu."

"Lavender-sama, apa yang Anda lakukan di sini?" Anko berusaha menyeret Hinata pergi. Kala itu, mereka baru saja menunaikan sebuah misi "pemusnahan" dan Hinata di luar dugaan keluar dari mobil untuk masuk ke dalam lokasi.

Tidak ada polisi yang selamat. Anko adalah salah satu anggota andalan organisasi. Dia terkenal karena kesadisannya, tak ada mangsa yang lolos dari jeratan ular.

Tidak kecuali pria tadi.

Ketika Anko dan Hinata telah mencapai pintu, mereka dikejutkan dengan sebuah teriakan.

"AKAN KUBUNUH KALIAN DI SINI!"

Pria tadi berlari ke arah Anko dan Hinata. Sang Hyuuga memejamkan mata. Pria itu keras kepala. Dia hanya berbekal pisau kecil dan berharap bisa menandingi kemampuan Anko?

"Anko, biar kuurus dia."

Hinata melesat menerima terjangan pria tersebut. Dengan gerakan gesit, Hinata merunduk dan menendang kaki sang pria. Selagi pria itu kesakitan, Hinata merebut pisau darri tangan sang pria. Anko menyeringai dari jauh, menikmati pertunjukan seorang Lavender.

'Gadis itu memang berbakat. Jika dipoles, dia akan menjadi ketua yang hebat.'

Percaya dengan kelihaian Hinata, Anko undur diri. Kini, tinggallah Hinata dan pria tersebut. Pria yang nekat dan bertekad baja. Pria yang mencari mati.

"Kau … kau menyesal bukan karena tidak membunuhku? Bagaimana? Sekarang kau pasti berpikir untuk membunuhku, bukan?"

Lavender berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepala. "Benar. Aku akan membunuhmu."

Hinata mengarahkan pisaunya. Darah mengalir … dari sebelah mata sang pria.

"Aku membunuh sisi gegabah dalam dirimu sekarang. Luka di matamu adalah tanda bahwa kau akan tetap hidup. Ingatlah hari ini, ingatlah kematian rekan-rekanmu, dan balaskan dendammu."

Sang pria tak berkutik. Dia melihat Hinata dengan pandangan tidak percaya.

"Jika mencoba membunuhku dan berhasil membunuhku, kau pasti akan mati tak lama setelah aku. Hiduplah."

'Dia pria yang waktu itu,' pikir Hinata. Sang gadis merundukkan kepala sedikit dan mengulaskan senyuman ramah.

Sosialisasi berlangsung dengan kondusif. Ketika Hinata selesai mengajar Chojuro seorang diri rupanya masih menunggu. Merasa tidak enak jika mengabaikan sang pemuda, Hinata menyetujui ajakan Chojuro untuk makan malam bersama.


"Makanannya sangat enak!" Chojuro menepuk perutnya yang terlihat sedikit buncit. "Kau menikmati makanan yang kau pesan tadi, Walcott-san?"

Hinata turut menepuk perutnya satu kali. "Sangat. Tadi lezat sekali. Savory galette di sana benar-benar meleleh di mulut."

"Syukurlah. Ah! Aku lupa membeli permen!"

"Permen?" Alis Hinata berkerut.

Chojuro sangat menyukai permen semasa dia sekolah. Gigi sang pemuda nyaris tidak pernah absen menggigit makanan mengandung gula tersebut. Setelah menjadi polisi, dia berusaha menekan kebiasaannya mengulum permen. Namun, tampaknya upaya tersebut sangat sulit direalisasikan. Terkadang saat tidak bersama rekan sesama polisi, Chojuro akan mengunyah permen diam-diam. Hinata tertawa saat melihat Chojuro menyembunyikan permennya di dalam kantong rahasia yang dia buat di balik kemejanya.

"Itu dia! Mangsaku hari ini!" Seorang wanita tersenyum tipis. Dua matanya yg tertutup kacamata hitam memperhatikan Chojuro dan Hinata dari kejauhan. "Polisi, malang sekali nasibmu."

Wanita itu menghubungi seseorang lewat ponselnya. Beberapa orang lekas mengelilingi Chojuro dan Hinata ketika dua muda-mudi tersebut berada di lokasi yang sepi dan minim penerangan. Mereka merebut pistol milik Chojuro dan memukulkan kayu ke kepala sang pemuda, membuat kesadaran pemuda berambut tufty blue enyah. Hinata mengepalkan tangan. Pergi malam-malam seperti ini memang berbahaya. Bukan baginya, melainkan bagi Chojuro yang seorang polisi. Jika mengalahkan mereka, Hinata tidak tahu berapa orang yang masih bersembunyi. Chojuro tengah tidak sadarkan diri dan akan sangat menyulitkannya untuk pergi. Di samping itu, Hinata tidak mungkin membiarkan Chojuro menjadi mangsa mereka. Dia tidak akan meninggalkan Chojuro di sini, entah dibawa pergi atau dibunuh. Hinata menahan diri untuk melakukan perlawanan dan menerima pukulan keras di tengkuknya.

Orang biasa mungkin akan jatuh pingsan menerima pukulan itu. Namun, pukulan yang dia terima saat latihan lebih menyakitkan. Hinata berpura-pura tidak sadarkan diri. Dalam keadaan sadar, sang gadis merasakan tubuhnya diangkat dan kini berada di dalam sesuatu, mungkin mobil.

"Kita akan menggunakan polisi ini sebagai umpan."

Bola safir membelalak. 'Kami akan disandera untuk dijadikan tawanan.'

"Lavender-sama pasti akan senang."

Hati Hinata mencelos. Bukan hanya menggunakan codename miliknya sembarangan, Lavender palsu itu bahkan mengelabui anggotanya! Apakah … orang-orang yang menculiknya saat ini adalah bagian dari organisasi yang belum pernah melihat dirinya secara langsung?

'Aku akan melindungimu, Chojuro-kun.'


Sosok Lavender terdesak. Seorang pria keluar muncul dari dalam mobil. Pria yang memiliki surai sebahu yang diikatnya rendah. Pria dengan seragam kepolisian Jepang tersebut menatap punggung sang Lavender dalam diam, sejenak, sebelum akhirnya ikut bicara.

"Selamat malam, Lavender palsu."

Sosok Lavender lekas berbalik dan kini berhadapan dengan sang pria. Mata pucat sang gadis kini terbelalak. Kenapa orang di depannya bisa tahu bahwa dia bukanlah Lavender? Bukankah sosok Lavender tidak diketahui sama sekali? Bagaimana bisa mereka melacak keberadaan dirinya hingga kemari? Dia berniat melancarkan aksinya dan dia justru terjebak dalam kondisi kelinci di antara serigala.

"Kau kaget? Kami mengetahui identitas Lavender. Namun, kami menunjukkan pada publik seolah kami tidak mengetahui apa pun tentang Lavender."

Lavender palsu tertawa. Dia menarik wig kelabu panjang yang menutupi kepalanya dan masih tertawa. "Aku memang bukan Lavender-sama. Saat ini, Lavender-sama ada di tempat lain. mungkin Lavender- sama tengah melenyapkan salah satu di antara kalian."

Lavender palsu yang merupakan seorang pria masih tertawa terbahak. Dia menyayangkan nasib polisi yang menjadi sandera. Namun, dia ingin melihat wajah depresi polisi-polisi itu. Dia telah menyamar sebagai perempuan dan sengaja mengincar area yang mudah ditemukan kepolisian untuk menyampaikan hal ini.

Ponsel milik Ao yang berada di antara polisi lain berdering. Sebuah pesan masuk dengan menggunakan nomor ponsel Chojuro membuat sang pria berteriak.

"CHOJURO! Sialan! Mereka menyandera Chojuro!"

Sang pria, Lavender palsu, tertawa kian keras.

"Jadi namanya Chojuro? Apakah kalian akan mengorbankan rekan kalian, heh? Kondisi kita seimbang, bukan?"

Beberapa polisi terlihat gentar, kecuali Polisi dengan rambut diikat rendah dan Ao. Mereka telah merencanakan untuk menjadikan Chojuro mangsa mereka. Pemuda itu, pemuda bergigi runcing itu, adalah cucu dari salah seorang petinggi kepolisian Tokyo.

Ao memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Pria dengan sebelah mata yang telah tidak berfungsi itu teringat sosok gadis yang ditemuinya siang tadi. Kenalan Chojuro. Bocah itu mengatakan bahwa dirinya akan menanti sang gadis.

'Sepertinya gadis itu pun disandera oleh mereka.'

Benak Ao langsung saja memunculkan sosok gadis berambut ikal cokelat dengan mata safir.

"Aku membunuh sisi gegabah dalam dirimu sekarang. Luka di matamu adalah tanda bahwa kau akan tetap hidup. Ingatlah hari ini, ingatlah kematian rekan-rekanmu, dan balaskan dendammu."

Ucapan Lavender seolah mendengung di telinganya, mengulang saat-saat dirinya berjumpa dengan sosok sang peri. Benar. Siapa sangka gadis itu akan menjadi Lavender? Gadis berkulit seputih kapas dan berambut indigo. Sosok yang tidak pernah dia ungkapkan pada kepolisian dan membuat kepolisian harus mengulur waktu untuk menguak identitas aslinya. Ao ingin tahu alasan kenapa dia tidak membeberkan sosok Lavender.

'Gadis bernama Walcott itu ….' Ao membatin. Seringai kecil menghiasi bibirnya.

To be Continued


Thanks!

Next Chapt:

"Aku Lavender yang asli."

"Apa aku harus membunuh lagi?"

"Bunuh. Bunuh semuanya!"

"Orang tua kami berdua …."

"Inilah alasan aku tertarik padamu, Uchiha Sasuke. Kau akan menjadi milikku."

"Aku … bersedia menjadi kekasihmu."

(Grey Cho, 2015)