Gift Of Love
.
Naruto milik Masashi Kishimoto
.
Real Story by Julie Garwood
.
Tachibana Ema
.
Warning AU, OOC, miss typo, Lime
.
.
Naruto dan seluruh awak kapal sudah siap untuk menghadapi pertempuran yang ada dihadapan mereka. Mereka tahu pasti kalau pertempuran kali ini bukan untuk melawan, melainkan untuk bertahan. Karena dipelayaran kali ini mereka mengangkut barang berharga yang harus mereka lindungi dengan seluruh kekuatan mereka, kalau perlu mereka harus rela mempertaruhkan nyawa masing-masing.
Sementara itu Hinata dan bibinya, Shizune, juga ikut mempersiapkan diri mereka. Mereka berdua diperintahkan Naruto untuk bersembunyi di ruang bawah kapal, tepatnya di tempat penyimpanan mesiu. Saat Naruto membawa Hinata ke kabin, Hinata sempat membekali diri dengan mebawa beberapa senjata, seperti dua pistol dan sebuah belati yang sudah terasah tajam. Setelah itu Kakashi menjemputnya, untuk mengantarnya ke ruang bawah kapal. Ternyata di sana Shizune sudah menunggunya, duduk diantara peti-peti berisi mesiu.
Melihat kedatangan Hinata, Shizune memerintahkan keponakannya untuk mendekat, "Hinata kemarilah, Nak. Kita akan menikmati petualangan besar," seru Shizune sambil tersenyum. Hinata pun berjalan mendekat ke arah Shizune, lalu duduk diatas kotak mesiu yang ada disamping bibinya.
Setelah memastikan kedua wanita itu aman Kakashi berbalik hendak berjalan keluar dari ruang mesiu itu. Tapi Shizune dengan cepat memanggilnya sambil berseru. "Kakashi, berhati-hatilah."
"Tentu saja," kata Kakashi sambil menganggukkan kepalanya. "Ini akan menjadi petualangan yang luar biasa, seandainya kami tidak mengangkut barang berharga."
"Barang berharga apa?" tanya Hinata bingung.
"Maksudnya, kau dan aku, Sayang," jelas Shizune.
"Ya, benar," kata Kakashi mengiyakan. Kemudian dia berbalik lagi dan kembali menaiki tangga yang berderik-derik itu. "Sekarang kami harus mempertahankan diri bukan menyerang," lanjutnya. "Ini pengalaman baru bagi seluruh awak kapal."
Hinata yang tak mengerti dengan maksud Kakashi bertanya lagi pada bibinya. "Bibi paham apa yang dibicarakan Kakashi tadi?" tanya Hinata yang terheran-heran melihat bibinya bisa tersenyum disituasi gawat seperti ini.
"Seluruh awak kapal sedang berjuang menjaga keselamatan kita," jelas Shizune, tak memberikan penjelasan sebenarnya. Karena menurutnya Hinata belum siap untuk mendengar cerita ataupun menerima kenyataan kalau suaminya adalah seorang perompak legendaris yang ditakuti.
"Aku masih belum mengerti," kata Hinata.
"Sudahlah, kau tak perlu memikirkan tentang itu, lebih baik kita berdoa yang terbaik saja untuk keselamatan kita semua," kata Shizune. "Oh ya, apa di sini tempat penyimpanan amunisi?" tanya Shizune kemudian untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sepertinya begitu," jawab Hinata. "Sepertinya gentong-gentong ini penuh dengan bubuk mesiu ya, Bi?"
"Kalau begitu kita harus mengawasi nyala lilinnya. Kalau ada kebakaran dari bawah sini... kau pasti tahu apa yang akan terjadi, kan? Jadi jangan lupa peringatkan aku untuk mematikan lilin saat Kakashi menjemput kita nanti,"peringat Shizune pada Hinata dengan serius.
"Baik Bi," kata Hinata sambil menganggukkan kepalanya dengan menunjukkan wajah serius.
Saat Hinata hendak bertanya lagi tentang ucapan Kakashi tadi, tiba-tiba saja kapal terasa bergiyang dengan hebat.
"Oh, astaga," gumam Hinata kaget akibat guncangan itu. "Sepertinya para perompak itu berhasil menembak kapal kita."
"Sepertinya begitu," jawab Shizune ketakutan, karena saking takutnya Shizune sampai mencengkram lengan Hinata, yang membuat Hinata meringis kesakitan.
"Oh, Tuhan. Semoga Naruto bisa menyelesaikan pertempuran ini dengan cepat," kata Hinata penuh cemas. "Oh, ya. Bibi, kuperhatikan akhir-akhir ini kau dan Kakashi terlihat semakin dekat ya?" tanya Hinata tiba-tiba. Dia ingin mengalihkan pikirannya dari pertempuran yang sedang terjadi, disamping itu dia juga ingin mengalihkan rasa takut yang sedang melanda bibinya.
"Oh, Hinata. Kau benar-benar memilih waktu yang paling tepat untuk menanyakan hal itu ya?" tanya Shizune sambil tertawa kecil, untuk sejenak Shizune bisa melupakan rasa takutnya dan kembali berkata. "Ya, kau benar. Sekarang aku dan Kakashi memang cukup dekat. Dia laki-laki yang baik dan sangat pengertian. Kau tahu dia mau mendengarkan seluruh keluh kesahku, kurasa dia peduli padaku."
"Aku juga peduli padamu, Bibi."
"Iya, Sayang aku tahu. Tapi rasanya tidak sama. Kau akan mengerti, kalau kau dan Naruto sudah lebih dekat."
"Huh... hal itu takkan pernah terjadi, Bi," kata Hinata lesu. "Apa Kakashi juga menceritakan isi hatinya padamu?" tanya Hinata penasaran.
"Tentu saja, sering malah."
"Apa dia pernah bercerita tentang Naruto?"
"Ya, beberapa kali dia pernah menceritakan tentang kehidupan Naruto padaku," aku Shizune. "Sebagian ceritanya ada yang bersifat rahasia, jadi aku tidak bisa memberitahumu..."
"Ya, tentu saja kau bisa memberitahukannya padaku," potong Hinata cepat. "Lagi pula aku ini keponakanmu, dan semua yang kau ceritakan padaku tidak akan kuceritakan ke orang lain. Kau percaya padaku, kan?" kata Hinata cepat.
"Iya, tapi..."
"Oh, ayolah Bibi," mohon Hinata sambil terus mendesak Shizune, agar mau bercerita padanya.
Shizune yang terus didesak terus menerus oleh keponakannya, akhirnya menyerah juga, dan memutuskan untuk menceritakannya. "Baiklah, baiklah, kau menang. Aku akan menceritakannya padamu," kata Shizune pasrah.
"Bagus. Kalau begitu ayo ceritakan padaku," kata Hinata sambil tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membujuk bibinya.
"Hal yang kumaksud rahasia tadi, adalah tentang ayah Naruto, Namikaze Minato," kata Shizune mulai menjelaskan. "Kakashi menceritakan semua tentang Minato padaku. Apa kau pernah bertemu dengannya?"
Hinata menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan bibinya. "Tidak, aku tidak pernah bertemu dengannya. Kudengar beliau meninggal ketika Naruto berumur sembilan belas tahun. Aku juga pernah melihat surat kabar yang memuat berita kalau beliau dianugrahi gelar kepahlawan oleh Raja, kan?"
"Ya benar, dia memang dianugrahi gelar kepahlawanan. Tapi semua itu hanya pura-pura. Kakashi menceritakan padaku kalau Minato sebenarnya menghianati negaranya ketika dia masih menjabat sebagai kepala bagian kemanan negara pada saat itu," Shizune segera melanjutkan penjelasannya ketika Hinata berusaha menyangkal ucapannya. "Aku tahu ini cerita yang sangat mengerikan. Saat itu Minato berkomplot dengan dua orang pembangkang lainnya, mereka menjuluki diri mereka dengan Akatsuki. Mereka menjadi penghianat negara ketika mereka bertiga hendak menggulingkan pemerintahan yang dipimpin raja Hashirama saat itu. Dan seperti yang pernah diceritakan Kakashi padaku, rencana mereka gagal karena Minato berubah pikiran, dan berniat untuk melaporkan rencana kelompoknya pada Raja. Dan karena hal itu jugalah Minato terbunuh."
"Oh, Tuhan. Kasihan sekali Naruto," bisik Hinata. "Saat itu Naruto pasti sangat malu, karena harus menanggung kesalahan-kesalahan Ayahnya."
"Oh, tidak. Tidak sama sekali," kata Shizune. "Tidak ada yang tahu mengenai kisah itu. Orang-orang masih percaya kalau ayahnya meninggal karena kecelakaan. Belum ada skandal yang terbongkar. Kuperingatkan saja padamu, kalau keluargamu sampai tahu tentang ini, mereka akan memanfaatkan informasi ini untuk meminta raja yang berkuasa membatalkan perjanjian pernikahan kalian."
"Perjanjian itu takkan pernah bisa dibatalkan, Bi. Sekarang ataupun nanti," kata Hinata penuh keyakinan.
"Kau sangat naif Nak, kalau berpikir keluargamu akan melepaskanmu begitu saja. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk memisahkanmu dari Naruto. Apalagi saat perjanjian pernikahan kalian dibuat, kau masih berusia empat tahun. Itu bisa saja dibatalkan."
"Tapi... tapi kami kan, sudah hidup seperti suami-istri. Raja takkan melakukan hal sekejam itu Bibi..."
"Dia bisa melakukan apa pun yang dia inginkannya," sanggah Shizune cepat.
"Bibi, kekhawatiranmu tak beralasan," kata Hinata menyela. "Lagi pula, aku tak akan menceritakan hal ini pada siapa pun, termasuk pada orang tuaku. Aku bahkan tidak akan membiarkan Naruto tahu kalau aku tahu. Dia harus menceritakannya dulu padaku."
"Syukurlah kalau begitu," kata Shizune lebih tenang. "Oh, ya. Apa kau tahu dari mana luka dipunggung Naruto berasal?"
"Kalau diperhatikan luka itu seperti luka bekas cambukkan, tapi aku tak tahu luka itu karena apa, habis Naruto tak menceritakannya padaku," kata Hinata.
"Bukan... itu bukan luka bekas cambukkan," bantah Shizune. "Punggungnya luka karena terbakar api."
"Oh, Tuhan," kata Hinata terkejut. "Apa itu disengaja? Apa ada yang sengaja membakarnya?"
"Iya, pelakunya seorang wanita," kata Shizune sambil berbisik seolah pembicaraan mereka akan ada yang mendengar. "Menurut Kakashi, seseorang yang bernama Shion lah pelakunya," kata Shizune penuh keyakinan. "Kalau kata Kakashi, dulu Naruto pernah menjalin sebuah hubungan spesial dengan si Shion ini. Menurut cerita, mereka bertemu di pelabuhan ketika Naruto pulang dari tugasnya dipelatihan perang."
"Bagaimana mereka bisa menjalin hubungan spesial itu?" tanya Hinata penasaran.
"Aku tak tahu, Kakashi tidak menceritakan semuanya padaku," kata Shizune. "Tapi dari yang aku tahu, Shion adalah perempuan yang agak sedikit liar. Menurut kabar yang kudengar, wanita itu sudah banyak mengencani pria-pria kelas atas."
"Apa Naruto pernah dikencaninya juga?" tanya Hinata penuh harap kalau Naruto bukan bagian dari pria-pria yang dikencani wanita jahat itu.
Shizune mengulurkan tangannya dan meraih tangan Hinata kemudian menepuk-nepuknya penuh perhatian. "Naruto hanya sedang bermain-main di masa mudanya, Sayang. Di mataku, Naruto adalah pria yang sangat rasional. Dia tak akan membiarkan dirinya jatuh cinta pada wanita itu. Dan aku berani mempertaruhkan seluruh warisanku padamu, ketika Shion mengakhiri hubungannya dengan Naruto, kemungkinan besar Naruto membencinya. Kakashi bercerita padaku kalau wanita itu hanya memanfaatkan kepolosan Naruto, untuk membuat pacarnya cemburu."
"Oh Tuhan. Sepertinya kehidupan Naruto dimasa mudanya sangat berat, ya Bi? Aku kasihan padanya," bisik Hinata penuh rasa simpati dan emosi. "Dia pasti sangat menderita ketika mengetahui wanita jahat itu menghianatinya. Tapi wanita itu juga sangat beruntung karena Naruto mencintainya."
"Kalau menurutku Naruto tidak mencintai wanita itu," tampik Shizune.
"Pasti sangat menyenangkan kalau semua itu hanya kesenangan masa lalu," kata Hinata penuh harap kalau semua ucapan bibinya benar.
"Yang penting sekarang Naruto sudah kembali kejalan yang benar, kan?" kata Shizune berusaha menghibur keponakannya itu.
"Ah, ya Bibi. Sekarang aku mengerti," kata Hinata penuh semangat, membuat Shizune bingung karena perubahan sikap Hinata yang tadi sedih menjadi semangat seperti ini.
"Tepatnya, apa yang kau mengerti?" tanya Shizune bingung.
"Sebelumnya aku belum pernah menceritakan masalah ini padamu, tapi kini setelah aku mendengar ceritamu, aku mengerti kenapa Naruto selalu melindungi perasaannya," kata Hinata. "Ya pasti karena alasan itu, alasan kenapa Naruto tak suka saat aku mengatakan kalau aku mencintainya."
"Aku tak mengerti, melindungi perasaan? Alasan apa? Aku tak mengerti Maksudmu, Nak?" kata Shizune semakin kebingungan.
"Begini, tadikan kau bilang kalau Naruto dikhianati perempuan yang bernama Shion. Mungkin saja karena hal itu Naruto tak mau membuka hatinya lagi, mungkin saja dia trauma, trauma dan takut dikhianati lagi."
"Oh, Nak. Kejadian itu sudah lama sekali," kata Shizune. "Sekarang Naruto sudah dewasa, dia bisa memutuskan mana yang baik dan buruk untuk dirinya kelak."
"Tapi tetap saja Naruto masih belum bisa membuka hatinya untukku. Saat aku menyatakan perasaanku dengan tulus, dia akan menjadi kaku dan mengalihkan pembicaraan kehal lain. Dia juga tidak pernah mengatakan kalau dia sayang padaku. Mungkin saja Naruto masih membenci semua perempuan... kecuali aku tentunya."
"Kecuali kau?" tanya Shizune sambil tersenyum.
"Iya aku. Aku yakin sekali kalau di dalam hatinya Naruto sangat mencintaiku. Hanya saja dia masih kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya padaku."
"Itu kau tahu. Berikan dia waktu, Sayang. Laki-laki perlu waktu jauh lebih lama untuk memahami semuanya. Semua itu karena mereka mahluk yang keras kepala."
Hinata setuju dengan pendapat bibinya itu. "Andai aku bisa bertemu dengan Shion. Mungkin aku akan..."
"Kalau kau ingin bertemu dengannya, sebenarnya kau bisa bertemu dengannya," potong Shizune. "Sekitar setahun terakhir Shion tinggal di Konoha. Kata Kakashi, dia sedang mencari pria-pria lain untuk menjadi mangsa berikutnya."
"Apa Naruto tahu dia ada di sana?"
"Kata Kakashi, Naruto tahu kalau Shion ada di sana," jawab Shizune.
Saat Hinata hendak menanyakan pertanyaan berikutnya, tiba-tiba saja suara keributan di luar menarik perhatian mereka. Membuat Hinata maupun Shizune terdiam sejenak. Saat suara-suara ribut itu menghilang, Shizune mengutarakan rasa kekhawatirannya. Tapi Hinata tak begitu memperhatikan ucapan bibinya, karena dia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Hinata sedang memikirkan informasi yang baru saja diceritakan bibinya. Shion wanita yang pernah dicintai Naruto, suaminya. Dia sedang berpikir apa mungkin Naruto masih menyukai wanita itu? Tapi pemikiran-pemikiran itu terhenti saat Shizune menyentuh lengannya.
"Seandainya aku bisa melihat apa yang terjadi, aku takkan sekhawatir ini," bisik Shizune pelan.
"Mungkin aku bisa menyelinap keatas untuk melihat apa yang terjadi di sana," kata Hinata menawarkan diri, ketika melihat kerutan kekehwatiran di wajah bibinya.
Mendengar tawaran keponakannya, Shizune menolak dengan keras. Dia takmau Hinata keatas hanya untuk melihat keadaan di sana, dia tak mau Hinata dalam bahaya. Lagi pula dia juga tak mau Naruto marah karena mengijinkan Hinata keluar dari sini.
Saat Shizune adu pendapat tentang usulan Hinata itu, tiba-tiba saja pintu tempat mereka bersembunyi terbuka, seketika itu juga mereka terdiam. Masing-masing dari mereka mulai merapalkan doa-doa dan berharap kalau yang membuka pintu itu Kakashi. Tapi ketika tidak ada yang memanggil-manggil nama mereka, keduanya pun menarik kesimpulan mengerikan kalau musuh sudah menguasai kapal. Lalu Hinata pun mengisyaratkan pada Shizune untuk menyelinap di pojok ruangan untuk bersembunyi di balik sebuah peti kayu besar, kemudian dia sendiri berbalik untuk meniup lilin disampingnya. Setelah itu dia menyelinap pelan-pelan ke samping tangga, menanti kesempatan untuk menjatuhkan perompak jahat itu.
Hinata menunggu kedatangan perompak itu disamping tangga dengan perasaan was-was. Sebenarnya dia sangat gemetar juga takut. Tapi sekarang bukan waktunya untuk takut, jadi dia berusaha mengusir rasa takutnya dengan memperkuat keberaniannya. Setelah merasa lebih tenang Hinata mulai berpikir logis. Hal pertama yang dipikirkannya adalah Naruto, suaminya. Jika musuh benar-benar sudah naik ke kapal, apa suaminya masih hidup atau sudah mati?
'Tidak, itu tidak mungkin, Naruto kuat. Dia tak mungkin kalah,' pikir Hinata saat itu. Sambil mengusir bayang-bayang mengerikan kalau Naruto sedang tergeletak ditengah genangan darah.
Saat pintu terbuka sepenuhnya, seberkas cahaya menyeruak masuk menerangi ruangan, tapi tidak cukup terang untuk menerangi sudut-sudut ruangan, sehingga Hinata ataupun Shizune tetap aman ditempat persembunyiannya. Walau musuh tak bisa melihatnya, tapi Hinata masih bisa melihat dengan jelas ke dua orang yang jalan menuruni tangga. Kedua perompak itu mengenakan baju berwarna kuning yang cukup mencolok. Sehingga Hinata tak perlu menyipitkan mata untuk mengenali kedua orang itu.
Ketika para perompak berjalan menuruni tangga yang berderit, Hinata mulai mempersiapkan diri. Salah satu perompak yang berjalan didepan, menusuri tiap ruangan dengan hati-hati, lalu setelah perompak itu merasa tempat itu aman, dia menyuruh temannya untuk turun, tapi sayang perompak yang kedua terperosok dianak tangga yang sudah lapuk, sehingga perompak itu terjepit disana.
"Wohhh," kata perompak kedua itu, ketika dia terperosok.
Perompak yang lainnya saat mendengar jeritan keterkejutan itu menengok ke arah temannya, "Kau kenapa?" tanya perompak pertama yang terkejut melihat temannya terjebak diantara bilah-bilah kayu.
"Diam kau," rutuk perompak kedua. "Hei, bodoh jangan tertawa saja, bantu aku keluar dari sini."
Sambil terkekeh, perompak pertama berusaha membantu temannya keluar dari jepitan bilah-bilah kayu. Tapi sebelum dia sempat mengangkat kawannya, Hinata sudah berdiri dibelakangnya dengan memegang sebuah balok kayu besar dikedua tangannya. Dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya Hinata mengangkat balok kayu besar itu keatas, kemudian menjatuhkan balok kayu itu tepat di atas kepala si perompak pertama. Seketika itu juga si perompak pertama jatuh dan pingsan ditempat.
"Oh, Tuhan. Apa aku membunuhnya?" tanya Hinata segera berlutut untuk memeriksa apa perompak itu masih bernapas atau tidak. Dan ketika mengetahui kalau perompak itu masih benapas, Hinata menghela napas lega. Sambil berkata. "Maaf ya."
Setelah memeriksa perompak yang pingsan itu, Hinata berdiri kemudian berjalan melangkahi perompak itu untuk menemui perompak ke dua yang tejebak. Dia bergegas menaiki anak tangga untuk menghadapi korban keduanya. Laki-laki jelek itu menyipitkan matanya, ketika menatap Hinata dengan cemas. Ketika mengetahui kalau orang yang berdiri didepannya adalah seorang perempuan. Perompak itu terkejut.
Andai saja perompak itu tidak melihat wajahnya, mungkin Hinata sudah memukulnya juga. Tapi Hinata tak tega melakukan hal keji itu lagi, karena si penjahat juga sudah terjepit dan terlihat pasrah pada apa yang akan dilakukan Hinata. Jadi Hinata memutuskan untuk merobek baju bagian bawahnya untuk menyumpal mulut perompak itu agar dia tidak berteriak meminta bantuan. Dan saat itu lah Shizune keluar dari persembunyiannya, dia ingin melihat apa yang sudah terjadi.
Saat tanpa sengaja kakinya menyetuh seseorang yang tergeletak di lantai, Shizune hampir saja menjerit, tapi segera dibungkam mulutnya. Dan dengan perasaan khwatir dia memanggil-manggil keponakannya.
"Hinata... Hinata... di mana kau?"
"Di sini, Bi," kata Hinata sambil melambaikan tangannya.
Mendengar sahutan itu, Shizune mendongakkan kepalanya dan menemukan keponakannya sedang mengikatkan sebuah kain ke mulut seorang perompak yang terjepit di anak tangga. Shizune jalan mendekati keponakannya, dan menawarkan diri untuk membantu mengikat kaki dan tangan perompak itu. Dengan senang hati Hinata menerima tawaran bibinya, dan memberikan sebuah kain lainnya yang dia sudah siapkan.
Setelah selesai mengikat perompak yang terjebak, Shizune menyarankan Hinata untuk mengikat perompak yang pingsan dibawah tangga itu juga. Hinata pun menyetujui saran itu, lalu dia merobek gaunnya lagi untuk mengikat perompak yang pingsan. Tapi Shziune melarangnya, karena dia menemukan sebuah tali yang cukup panjang untuk mengikat perompak itu.
Sambil mengikat tangan perompak yang pingsan Hinata memperhatikan wajah Shizune, karena dia khawatir dengan keadaan Shizune. Tapi ketika melihat wajah Shizune yang biasa-biasa saja, Hinata menyimpulkan kalau bibinya tak tahu apa yang terjadi di atas, bibinya pasti tak mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi Hinata sangat tahu apa yang sedang terjadi di atas, dia tahu kalau perompak yang menyerang kapal mereka sudah menguasai kapal.
"Yap, selesai. Sekarang kita bisa sedikit lebih tenang," kata Shizune setelah selesai mengikat perompak yang pingsan.
"Bibi, sepertinya aku harus ke atas, untuk melihat apa semuanya baik-baik saja," kata Hinata. "Aku sangat khawatir."
"Oh sayang... baiklah kalau begitu," kata Shizune dengan berat hati, "Kau harus berhati-hati ya, aku tahu para perompak itu pasti sudah menguasai kapal."
"Bibi tenang saja, aku akan jaga diriku dengan baik," kata Hinata meyakinkan bibinya. "Oh iya, ini bawa lah ini untuk jaga-jaga," kata Hinata sambil menyerahkan sebuah pistol ketangan Shizune.
"Tidak, kau lebih membutuhkannya, kau kan harus menyelamatkan Naruto dan Kakashi, sayang," kata Shizune menolak pemberian pistol itu.
"Oh, Bibi. Kau benar-benar mau melimpahkan beban itu padaku ya?" bisik Hinata lemas. "Aku tak yakin bisa menyelamatkan seseorang."
"Tidak, kau harus yakin kau bisa. Ayo, pergilah," perintah Shizune. "Kau bisa mengejutkan mereka. Aku akan menunggu di sini sampai kau menyelesaikan tugasmu."
Dengan berat hati Hinata menganggukkan kepalanya dan mulai menaiki anak tangga. Sambil bejalan Hinata berdoa semoga hal terburuk tak terjadi padanya.
.
.
Setelah keluar dari ruang amunisi, Hinata berjalan menuju ruang perwira. Saat sampai didepan ruang perwira, Hinata berhenti sejenak untuk memeriksa apa suaminya ada di sana atau tidak, karena di sana suasananya sangat sepi dan tak ada siapa pun. Tapi saat masuk ke dalam ruangan itu, Hinata mendengar suara beberapa orang yang jalan menuruni tangga. Dengan cepat dia menyelinap ke pojok segitiga dibalik partisi dan menunggu.
Hinata mengintip diantara partisi, dia ingin melihat siapa yang turun dari lantai atas. Tapi saat dia melihat Jiraya yang pertama-tama muncul, Hinata serasa ingin marah dan berteriak pada siapapun yang sudah melukai temannya itu. Dia sangat marah juga takut, melihat Jiraya berlumuran darah di dahinya.
Dengan tersaruk-saruk Jiraya berjalan sambil menudukkan kepalanya, tangannya terikat kebelakang dan dibelakangnya dia dikawal oleh tiga orang perompak yang berwajah seram. Pria itu terlihat pasrah apa yang terjadi padanya. Hinata ingin sekali menolong pria itu, tapi apa yang bisa dia buat. Dibanding dengan itu dia juga mengkhawatirkan suaminya, kalau Jiraya saja terluka seperti itu, apa kabar suaminya? Apa Naruto sudah mati?
'Tidak, tidak. Naruto kuat, dia tak mungkin dibunuh semudah itu,' pikir Hinata berusaha membuat dirinya tenang.
Saat Hinata sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri, suara tersaruk-saruk lainnya mengalihkan perhatiannya untuk melihat siapa yang turun lagi dari lantai atas. Dan di sana lah dia melihat suaminya yang tangannya terikat sama seperti Jiraya, keadaan Naruto tak jauh berbeda dari Jiraya, tapi yang membuat Hinata terkejut bukan luka di wajah Naruto, tapi wajah Naruto yang menampakkan wajah bosan yang menyebalkan itu. Suaminya itu terlihat tak peduli dengan keadaan disekitarnya.
'Bisa-bisanya dia memasang wajah menyebalkan itu saat situasi seperti ini,' gerutu Hinata dalam hati.
.
.
Saat Hinata mengalihkan perhatiannya ke Jiraya lagi, dia melihat kalau Jiraya sedang menganggukkan kepalanya pada Naruto. Anggukan itu takkan terlihat kalau Hinata tak memperhatikannya. Karena gerakan Jiraya sangat cepat dan tak mungkin disadari para perompak-perompak itu. Kemudian Jiraya memiringkan kepalanya ke arah partisi tempat Hinata bersembunyi. Naruto menengok ke arah yang ditunjukkan Jiraya. Dan saat itu lah Hinata tersadar kalau Jiraya mengetahui dia bersembunyi di sini.
Kemudian Hinata mengikuti arah pandang Naruto yang mengarah ketempatnya bersembunyi, tepatnya kelantai tempat dia berdiri. Dan Hinata segera mengetahui kalau ujung gaunnya agak mencuat keluar dari balik partisi. Dengan segera Hinata menarik kebelakang ujung bawah gaunnya yang mencuat.
"Bawa mereka ke kabin," perintah seorang perompak pada perompak lainnya. Membuat Hinata terlonjak kaget.
Hampir saja dia menjerit, kalau tak cepat-cepat menguasai rasa kagetnya. Lalu setelah lebih tenang Hinata kembali mengintip, dan melihat kalau Naruto kembali didorong-dorong untuk kembali berjalan. Tapi dengan sengaja Naruto menyadungkan kakinya ke salah satu tali yang menjutai di lantai, dengan cara jatuh yang direncanakan. Naruto terjatuh ke sudut partisi tempat Hinata bersembunyi.
"Lihat aku menemukan minuman," kata salah seorang perompak yang muncul dari dalam kabin. "Kita bisa minum-minum sambil menonton pembantaian ini. Kira-kira kapten akan membunuh si kapten pertama kali atau terakhir ya?"
Selagi perompak itu bertanya, Hinata menaruh salah satu pistol ke tangan Naruto, yang jaraknya hanya beberapa senti dari tempatnya bersembunyi. Saat suaminya tak segera memanfaatkan apa yang diberikannya, Hinata menyenggolnya pelan. Tapi tetap saja Naruto tak bereaksi. Hinata menunggu semenit lagi, dan ketika Naruto masih tidak menembak, akhirnya Hinata ingat kalau tangan suaminya masih terikat.
Saat itu lah dia teringat belati yang terselip di lengan gaunnya, lalu dengan segera Hinata berusaha memotong tali yang mengikat tangan Naruto, karena tali itu sangat tebal Hinata jadi kesulitan saat memotongnya dan secara tak sengaja dia menusuk kulit tangan Naruto beberapa kali. Hinata yang kesal akhirnya menyerah dan memberikan belati itu ketangan Naruto, agar Naruto melepas tali itu sendiri. Dengan sekali usaha Naruto berhasil memotong tali itu, membuat Hinata bengong dan heran.
'Bagaimana dia bisa memotong talinya semudah itu?' tanya Hinata dalam hati.
.
.
Setelah ikatan di tangan Naruto terlepas, salah seorang perompak itu berseru, "Di mana kapten?" kata perompak itu. "Hei, aku butuh minumanku," katanya lagi.
'Jadi mereka menunggu sang pimpinan sebelum melakukan pesta pembantaiannya, ya?' tanya Hinata dalam hati. 'Syukurlah, aku datang tak terlambat.'
Setelah beberapa menit berlalu, Hinata yang merasa heran pada suaminya yang tak juga beraksi. Akhirnya mendorong-dorong punggung Naruto agar cepat mengusir para perompak itu dari kapal. Padahal ikatan ditangannya sudah terlepas, apa yang ditunggunya? Apa dia menunggu sampai jumlah perompak berlipat ganda? Bukan kah itu akan mempersulitnya? Padahal senjata sudah ditangan, dan siap untuk digunakan.
Hinata masih terus mendorong-dorong Naruto untuk segera menyelesaikan semuanya. Kesal karena tak juga ditanggapi Hinata mencubit tangan Naruto yang memegang pistol kencang-kencang. Tapi saat mendengar sebuah suara dari atas tangga, Hinata menarik tangannya. Sambil Naruto mendorongnya lebih dalam masuk ke dalam partisi.
Suaminya itu seolah memberi perintah padanya untuk tetap bersembunyi di sana sampai semuanya selesai. Hinata yang mengerti dengan perintah itu hanya diam dan menurut.
Lalu saat pria yang baru turun dari atas itu memberi perintah kepada beberapa orang yang ada di sana, Hinata langsung berpikir kalau pria itu adalah pimpinan dari gerombolan perompak itu.
Setelah selesai memberi perintah, pimpinan bajak laut itu. Duduk di salah satu kursi yang ada di samping dinding. Lalu memberi perintah kepada anak buah yang lainnya untuk mengambil minuman untuknya. Setelah anak buahnya membawa minuman untuknya, salah seorang bajak laut lainnya berjalan melintasi ruang pewira dan membuka pintu kabinnya. Bajak laut itu masuk ke dalam kabinnya, lalu keluar lagi dalam waktu beberapa menit sambil membawa salah satu gaunnya. Gaun ungu kesayangannya, dan laki-laki berengsek itu memegangnya.
Dan pada saat itu juga Hinata bersumpah takkan mau memakai gaun itu lagi.
"Ada perempuan di kapal, kapten," seru penjahat itu sambil menunjukkan gaun yang dibawanya.
Si kapten yang sedang duduk itu segera berdiri, beruntung bagi Hinata karena kapten dari perompak itu berdiri membelakanginya, jadi dia tak perlu melihat wajah perompak itu. Hinata bersyukur karena terbebebas dari siksaan itu untuk sementara waktu. Melihat badan pimpinan perompak itu saja sudah cukup mengerikan untuknya. Apa lagi kalau sampai melihat wajahnya. Tinggi laki-laki itu hampir setinggi suaminya, tapi pria itu sangat gemuk sampai-sampai kemeja yang dikenakannya terihat meletet dibadannya.
Kemudian si kapten menjijikan itu terkekeh pelan, sambil memberi perintah. "Cari perempuan itu," perintahnya. "Kalau aku sudah selesai dengannya, kalian bisa bergiliran memakainya."
Hinata cepat-cepat menangkupkan tangan ke mulutnya agar tak berteriak, akibat mendengar penuturan si pimpinan perompak kejam itu.
"Ah, kapten," seru yang lainnya lagi. "Pasti dia sudah mati sebelum giliran kami tiba."
Mendengar komentar dan tawa-tawa menjijikan itu, ingin rasanya Hinata menangis. Ini sudah cukup, dia sudah tak sanggup jika harus mendengar lebih banyak hal kejam apa yang akan dilakukan para perompak itu padanya. Makanya dia kembali mendorong-dorong bahu Naruto, tapi kali ini lebih keras dan menuntut.
Setelah beberapa kali dorongan, akhirnya Naruto menuruti permintaan istrinya. Dia bergerak secepat kilat, berubah menjadi sekelebat bayangan kabur saat bergerak menyerang dua perompak yang berdiri di depan pintu kabin mereka. Dan bahkan ketika sedang melempar pisaunya. Bilahnya menemukan sasaran di antara kedua mata seorang bajak laut yang berdiri santai di dekat tangga. Sementara itu tembakan pistolnya menjatuhkan satu orang lainnya. Kemudian Naruto menghantamkan bahunya ke kedua laki-laki yang menghalangi pintu. Benturan itu membuat keduanya jatuh masuk ke dalam kabin. Naruto mengikuti mereka. Dia mempersingkat pertarungan dengan mengadu kepala kedua lawannya.
Kemudian Jiraya yang tak mau kalah pun ikut membantu, dia menggunakan kepalanya untuk menjatuhkan si pimpinan perompak. Akibat kedua tangannya masih terikat, pukulan yang dia lakukan ke si pimpinan hanya membuat si kapten agak kehilangan keseimbangan saja. Tak lama kemudian si pimpinan sudah pulih kembali. Kemudian si pemimpin perompak itu memukul samping leher Jiraya dan mendorongnya jatuh ke lantai. Si pimpinan kemudian menendang-nendangi perut Jiraya. Setelah puas menendang Jiraya, sang pimpinan menghadap ke pintu kabin tempat Naruto masuk. Lalu dia mengambil pistol yang terselip di celananya dan mengancungkannya ke arah pintu.
Naruto yang hendak jalan keluar dari kabinnya, segera menghentikan langkahnya saat melihat si pimpinan perompak meneriakkan sesuatu sambil mengancungkan pistol ke arahnya. "Kau akan mati pelan-pelan dan menyakitkan."
Melihat suaminya dalam bahaya, Hinata melupakan rasa takutnya. Dia berusaha memberanikan diri untuk mengitari partisi tempatnya bersembunyi dan berdiri tepat dibelakang si pimpinan sambil mengancungkan pistol yang dibawanya sambil berkata, "Dan kau akan mati cepat," bisik Hinata marah.
Begitu si pemimpin perompak merasakan sentuhan baja dingin dikepalanya, seketika itu juga pria gendut itu terpaku seperti mayat. Hinata senang melihat reaksi itu. Naruto juga terlihat senang, karena Hinata sempat melihat senyum kecil di wajah suaminya.
"Naruto?" seru Hinata kemudian. "Kali ini, kau ingin aku menembak di mana? dileher atau di kepala?"
Gertak sambal Hinata membuat si kapten perompak takut. Karena si pimpinan perompak tampak pucat pasi sambil berkata, "Ka-kali ini?" katanya sambil tergagap.
Tapi gertakan ini masih belum cukup menurut Hinata, karena pimpinan perompak itu masih mengancungkan pistolnya ke arah Naruto.
"Benar, kali ini, bodoh," kata Hinata berusaha membuat gaya suaranya terdengar sekejam mungkin. Dan sepertinya itu juga berhasil.
"Kau lebih suka yang mana?" tanya Naruto balas berseru. Dia sengaja bersandar ke ambang pintu, menunjukkan kesan santainya agar si pimpinan perompak tak melihat kekhwatirannya.
"Aku lebih suka di leher," jawab Hinata seolah tak peduli pada apa yang akan dia lakukannya. "Apa kau tak ingat saat aku menembak di kepala, kita sangat kerepotan membersihkan lantai akibat noda yang ditumbulkan tidak mau hilang hampir seminggu. Tapi sepertinya orang ini otaknya lebih kecil, mungkin lebih mudah untuk dibersihkan. Tapi terserah kau sajalah, apa keputusanmu aku ikut saja."
Mendengar kebohongan Hinata itu, tangan si perompak terkulai ke samping dan pistol yang digenggamnya jatuh ke lantai. Hinata pikir kemenangan sudah ada di tangannya, tapi sebelum Naruto sampai di depan pria itu, si perompk tiba-tiba saja berbalik. Punggung kepalanya menghantam pipi kiri Hinata, sebuah gerakan kikuk untuk menjatuhkan pistol di tangan Hinata itu, mengakibatkan mala petaka untuk perompak itu.
Karena gerakan itu membuat Hinata terhuyung-huyung kebelakang, kemudian dia tersandung kaki Jiraya yang besar dan tiba-tiba saja tembakan dari pistol yang digenggamnya meletus dan tembakan tak sengaja itu mengenai wajah si perompak. Dan dalam waktu sekejap lolongan kesakitan itu memenuhi ruangan.
Seperti sedang dalam gerak lambat Hinata melihat si pimpinan perompak memegangi wajahnya yang mengeluarkan darah, pemandangan itu sangat mengerikan sebelum akhirnya dia jatuh dan tak sadarkan diri.
.
.
Hinata siuman beberapa menit kemudian. Dia mendapati dirinya ada di atas tempat tidur, dan Kakashi serta Jiraya sama-sama menunduk merawatnya. Kakashi memegangi kain dingin untuk mengompres pipinya, sementara itu Jiraya mengipasinya dengan salah satu peta yang ada di meja Naruto.
Tapi ketika matanya memperhatikan kesekeliling kabin, Hinata tak menemukan Naruto. Kemana suaminya? Begitu sadar sepenuhnya, Hinata menyibakkan selimut ke samping dan berusaha bangkit. Tapi Jiraya menahan tubuhnya agar tetap tidur.
"Diam dulu, Hinata. Pukulan yang kau terima cukup keras. Lihat pipimu sudah membengkak sekarang," perintah Jiraya.
Hinata tak menghirukan perintah Jiraya itu, dan dia malah bertanya. "Di mana Naruto?" tanyanya. "Aku ingin dia di sini besamaku."
Sebelum Jiraya menjawab, tanpa disadari Hinata sudah duduk di tepi ranjang. Hinata merenggut kain dingin dari tangan Kakashi dan mulai membersihkan luka di dahi Jiraya.
"Perempuan kecil ini tenaganya sangat kuat kalau sedang marah ya, Kakashi?" gumam Jiraya kesal. "Sudah, jangan pedulikan aku," gerutunya.
Hinata tak mempedulikan perintah itu dan malah bertanya, "Kakashi, apa dia akan baik-baik saja? Lukanya tidak terlalu dalam, tapi mungkin dia butuh..."
"Dia tak apa-apa," jawab Kakashi cepat memotong ucapan Hinata.
Hinata mengangguk mengerti. Kemudian dia mengembalikan topik pembicaraan ke kekhawatirannya yang lain. "Seharusnya seorang suami selalu ada di sisi istrinya, saat istrinya pingsan," katanya kesal. "Siapa pun yang punya logika pasti tahu. Kakashi, cepat panggil Naruto kesini. Demi Tuhan, dia harus menemaniku sekarang, atau dia akan tahu akibatnya."
"Begini Hinata," sela Kakashi berusaha menenangkan amarah Hinata. "Suamimu kan kebetulan adalah kapten di kapal ini, dan dia harus mengurus beberapa... masalah penting saat ini. Lagi pula, aku sangat yakin. Kalau kau tak akan mau ditemani olehnya sekarang. Bocah itu sedang sangat bernafsu membuh orang."
"Karena para perompak naik ke kapalnya?"
"Karena bajingan itu memukulmu, Hinata," sela Jiraya. "Setelah kau dipukul, kau pingsan. Jadi kau tidak sempat melihat wajah suamimu. Sungguh itu pemandangan yang takkan pernah kulupakan. Aku belum pernah melihatnya semurka itu."
"Oh, senang aku mengetahuinya," bisik Hinata sambil tersenyum membayangkan wajah suaminya saat itu.
Tapi berbeda dengan kedua pelaut tua itu, karena sekarang Jiraya dan Kakashi sedang saling pandang dengan wajah putus asa karena frustasi, mereka berdua bingung kenapa Hinata bisa senang mengetahui suaminya murka. Hinata tak mempedulikan keputus asaan mereka, karena dia teringat pada apa yang dia lakukan pada perompak yang menyerangnya tadi.
"Oh Tuhan, aku menembak perompak itu di wajahnya," pekiknya. "Aku pasti akan masuk neraka."
"Kau takkan masuk neraka," sergah Jiraya. "Saat itu kau hanya berusaha menyelamatkan nyawa suamimu."
"Dia pasti akan jadi... jelek seumur hidupnya," bisik Hinata.
"Tidak, Hinata. Dia memang sudah jelek," kata Kakashi berusaha menenangkan Hinata.
"Aku justru berhapa kau membunuh bajingan itu," kata Jiraya. "Ternyata, kau hanya menembak hidungnya..."
"Ya Tuhan, aku menembak..."
"Jiraya," desis Kakashi kesal. "Kau hanya membuatnya semakin khawatir."
"Apa orang malang itu sudah tidak punya hidung lagi?"
"Orang malang?" Jiraya mendengus keras. "Orang itu iblis. Apa kau tahu apa yang akan terjadi padamu seandainya..."
"Jiraya! Berhentilah membuatnya khawatir," desis Kakashi semakin kesal. "Hinata, si bangsat itu masih punya hidung. Kau hanya membuat sedikit lubang kecil dihidungnya. Itu saja."
"Sudahlah jangan khawatir, kau sudah jadi penyelamat hari ini," kata Jiraya akhirnya.
"Aku benar-benar jadi penyelamat?" tanya Hinata tak percaya sekaligus senang.
Kedua laki-laki itu mengangguk secara bersamaan.
"Apa para pegawaiku tahu, kalau aku yang..." Hinata tak melanjutkan ucapannya ketika mereka berdua menggangguk lagi. "Kalau begitu, mereka tidak bisa menganggapku terkutuk lagi, kan?"
Sebelum Jiraya menjawab, Hinata sudah bertanya lagi. "Oh, ya. Memang masalah penting apa yang harus diurus Naruto?"
"Pembalasan," kata Jiraya. "Mata dibalas mata, Hinata. Tadikan mereka mau membunuh kita, jadi..."
Sebelum penjelasan Jiraya selesai. Hinata sudah memekik marah dan segera berlari keluar kabin. Jiraya dan Kakashi pun segera pergi mengejarnya.
.
.
Sesampainya di ruang kemudi, Hinata mendapati suaminya sedang berdiri di dekat kemudi. Sementara itu komplotan bajak laut yang berusaha menguasai kapal sedang dibariskan di geladak. Seluruh anak buah Naruto mengepung mereka.
Hinata segera bergegas menghampiri dan berdiri disamping suaminya. Dia menyentuh lengan Naruto untuk meminta perhatiannya. Tapi Naruto tak menoleh padanya, karena suaminya itu hanya terus memandangi gembong perompak yang berdiri beberapa meter darinya.
Ketika Hinata menatap pimpinan perompak itu, refleks Hinata maju selangkah. Si penjahat itu sedang memegang sebuah kain lap yang ditempelkan ke hidungnya. Hinata ingin minta maaf padanya karena telah melukainya. Dia juga ingin mengingatkan laki-laki itu bahwa semua itu salahnya sendiri, seandainya laki-laki itu tidak memukul Hinata, pistol itu pastinya takkan meletus dan melukai hidung pria itu.
Tapi Naruto sudah lebih dulu menebak niat istrinya. Dia meraih lengan Hinata dengan cengkraman keras, kemudian menyentak Hinata ke sampingnya. "Kembali ke dalam kabin," perintah Naruto dengan suara pelan yang mengesankan, 'Jangan membantahku.'
"Tidak sampai kau memberitahuku apa yang akan kau lakukan pada mereka," sergah Hinata.
Seandainya Naruto tidak menunduk dan melihat lebam di wajah Hinata, mungkin dia akan berkata dengan lembut. Tapi dia sudah terlanjut melihatnya, dan dia pun berkata dengan geram. "Kami akan membunuh mereka."
Setelah berkata seperti itu Naruto kembali berpaling memandang anak buahnya, lalu berkata lagi. "Kembali ke kabin kita, Hinata. Semua ini akan selesai degan cepat."
"Kau tak boleh membunuh mereka," kata Hinata sambil bersedekap tak mempedulikan perintah suaminya.
Berkat penyangkalan Hinata, Naruto kembali berpaling lagi padanya. Sambil menunjukkan wajah kemarahannya yang jelas kentara. Naruto berkata. "Itu tak mungkin," balasnya dengan geraman pelan.
Lalu Hinata mendengar beberapa dengusan setuju dari anak buah Naruto. Dia sudah hendak mengulangi ketidaksetujuannya, tapi Naruto meluruhkan amukannya ketika dengan tiba-tiba dia mengulurkan tangannya dan menyentuh lembut pipi Hinata. Naruto membungkuk sedikit, kemudian berbisik. "Dia menyakitmu. Aku harus membunuhnya."
Menurut Naruto perkataannya itu masuk akal dan cukup untuk menjelaskan niat baiknya. Tapi Hinata tidak mengerti. Naruto mengetahui itu dari ekspresi wajah Hinata yang kebingungan.
"Jadi maksudmu, kau akan membunuh siapa pun yang pernah memukulku?" tanya Hinata mengancam.
"Tentu saja," gumam Naruto tak peduli.
"Kalau begitu kau akan membunuh separuh anggota keluargaku?" sergah Hinata marah.
Hinata segera tersadar dengan kata-kata yang baru saja dia ucapkannya. Ketika dia melihat wajah Naruto yang tersenyum dengan lembut padanya, kemudian dengan nada yang sangat manis Naruto berkata, "Beritahukan namanya padaku, dan aku akan membalasnya. Aku janji padamu. Aku tidak mau ada orang lain melukai apa yang sudah menjadi milikku."
"Itu benar. Memang sudah menjadi hak kami untuk membunuh semua bajingan ini," seru Tobi salah satu anak buah Naruto.
"Tobi, jika kau mengucapkan kata-kata kotor lagi dihadapanku, akan kucuci mulutmu dengan cuka," kata Hinata sambil terus menatap Tobi tajam sampai akhirnya pelaut itu mengangguk, kemudian berbalik menghadap Naruto lagi.
Kemudian Hinata berbalik menghadap suaminya lagi dan berkata, "Naruto kau kan kapten kapal ini. Dan hanya kau yang bisa mengambil keputusan penting ini. Karena aku istrimu, aku seharusnya bisa merubah keputusanmu, kan?"
"Tidak."
"Oh, ayolah Naruto. Kau keras kepala banget sih," pekik Hinata kesal. "Pokoknya aku tidak mengizinkanmu membunuh mereka. Kalau kau membunuh mereka, berarti kau tidak lebih baik dari mereka. Kalian semua akan menjadi penjahat. Naruto, karena aku istrimu, berarti aku juga akan menjadi penjahat kalau aku tetap membiarkanmu membunuh mereka."
"Tapi, Nona. Kami memang penjahat," seru Danzo.
"Kita bukan penjahat," kata Hinata. "Kita warga negara yang baik dan menaati hukum yang berlaku."
Melihat istrinya tetap bersikukuh untuk tidak membunuh para perompak itu, Naruto mengulurkan tangannya dan meredakan rasa amarahnya. "Hei, Hinata..."
"Stop. Jangan berani-beraninya kau membujukku," potong Hinata. "Dan jangan berikan tatapan menjijikan itu. Apa pun yang kau lakukan, aku takkan mengizinkanmu membunuh mereka."
Naruto sedang tidak ingin menenangkan ataupun membahas hal ini, tapi dia tahu dia harus menyuruh Hinata kembali ke dalam kabin sebelum bisa melampiaskan semua kemarahannya. Dia terpikir untuk menyuruh Jiraya menyeret Hinata pergi, lalu berubah pikiran dan memilih rencana alternatif.
"Baiklah Hinata, bagaimana kalau begini saja," ujar Naruto akhirnya berusaha mengalah. "Aku akan melakukan pemungutan suara. Nanti yang paling banyak mendapatkan suara dia yang akan memang, bagaimana?"
Naruto sudah siap untuk menghadapi tentangan sebelum akhirnya Hinata menyerah, tapi ternyata dia cukup terkejut ketika Hinata berkataka kalau dia setuju dengan idenya itu. "Baiklah."
"Bagus," kata Naruto. Kemudian dia berbalik menghadap anak buahnya. "Semua yang setuju untuk..."
Saat tangan-tangan sudah terancung, Hinata menyela ucapan Naruto. "Tunggu sebentar, tolong tunggu sebentar."
"Ada apa lagi sekarang?" gerutu Naruto.
"Ada yang ingin kukatakan pada para pegawaiku sebelum pemungutan suara ini dimulai."
"Hinata," geram Naruto kesal.
"Naruto, bukankah aku yang menjadi penyelamat hari ini?"
Naruto yang tidak siap dengan pertanyaan itu, mendengus kesal. Dia tahu Hinata sedang memanfaatkannya sekarang.
"Tadi Jiraya bilang padaku, kalau aku lah penyelamat hari ini. Sekarang aku ingin mendengarmu mengakuinya juga."
"Sebenarnya tanpa bantuanmu pun aku sudah punya rencana," kata Naruto membela diri. "Tapi... ah sudahlah, iya Hinata. Kau lah penyelamat hari ini. Puas?"
"Terima kasih," kata Hinata sambil mengaggukkan kepalanya.
"Kalau begitu sana turun," perintah Naruto lagi.
"Tunggu dulu," kata Hinata lagi. Kemudian dia berbalik dan tersenyum pada anak buahnya. Matanya menangkap jelas kalau semua pegawainya sudah tidak sabar untuk melakukan pemungutan suara. Tapi hal itu takkan bisa mengurungkan niatnya.
"Kalian semua tahu kalau akulah yang melepaskan ikatan Naruto, meskipun ya... dia bisa melepaskannya sendiri, tapi bagaimanapun juga akulah penyelamat hari ini," serunya dengan bangga.
"Hinata," kata Naruto lagi dengan nada memperingatkan.
Tak mempedulikan peringatan itu, Hinata melanjutkan, "Seperti yang kalian ketahui akulah yang menembak pimpinan perompak itu, meski harus kuakui kalau aku tak bermaksud untuk melukai orang itu. Sekarang dia akan menanggung bekas luka itu seumur hidupnya, dan seharusnya itu sudah cukup sebagai hukuman yang setimpal untuk siapa pun juga."
"Tembakkannya kurang memuaskan," seru salah seorang anak buah Naruto. "Tembakannya hanya melukai lubang hidungnya."
"Seharusnya menembak kepalanya saja,"teriak yang lainnya.
"Ya benar, seharusnya kau menembak matanya saja, jadi dia takkan bisa melihat lagi Nona," teriak yang lainnya lagi.
'Astaga, ini benar-benar sekumpulan orang-orang yang haus darah,' pikir Hinata sambil menatap nanar para pegawainya. Dia menghela napas dalam-dalam dan mencoba lagi. Dilambaikannya tangan ke arah si gembong perompak sambil berkata, "Laki-laki itu sudah cukup menderita."
"Benar, Hinata," sela Kakashi sambil menyeringai. "Dia akan memikirkanmu setiap kali ingin bersin."
Seketika itu juga tawa terbahak-bahak menggelegar menyambut ucapan Kakashi. Kemudian Tobi maju dengan langkah mengancam. Tangannya berkacak pinggang ketika berseru, "Sebentar lagi dia tak akan memikirkan apa-apa lagi. Karena mereka semua. Ya, semuanya akan menjadi santapan ikan hiu jika pemungutan suara berjalan seperti yang kuperkirakan."
Keberutalan dalam nada suara Tobi membuat nyali Hinata ciut. Secara refleks dia mundur sampai tanpa sadar dia bersandar di dada suaminya.
Naruto tahu kalau Hinata takut, walau dia tak bisa melihat wajahnya, tapi melihat gerakan mundur Hinata sudah cukup menunjukkan kalau Hinata takut. Dan tanpa disadarinya, dia melingkarkan tangannya ke pundak Hinata, seolah seperti menenangkan Hinata dan memberikan istrinya kekuatan untuk menghadapi Tobi.
Mendapatkan pelukan dari suaminya, rasa takut yang menyelimutinya seperti lenyap. Seolah dia sedang diberi kekuatan untuk menghadapi Tobi yang menyebalkan itu, Hinata membalas perkataan Tobi dengan kata-kata menyindir. "Tobi, apa kau dilahirkan dengan sifat buruk seperti itu?" sindir Hinata kemudian.
Tobi yang tak punya jawaban atas pertanyaan itu hanya bisa mengangkat bahunya.
"Baiklah kalau begitu," teriak Hinata. "Silahkan saja kalian memilih," lanjutnya sambil melepaskan pelukan Naruto dan maju selangkah. "Tapi ingat satu hal," Hinata buru-buru menambahkan ketika tangan-tangan awak kapal mulai terancung lagi. "Aku akan sangat kecewa jika kalian memilih hukuman mati sebagai pilahan kalian," lanjutnya dengan nada dramatis. "Tapi jika kalian memilih untuk melempar mereka ke laut dan membiarkan mereka berenang kembali ke kapalnya, aku akan sangat senang. Kalian semua mengerti sikap yang kuambil ini, kan?"
Hinata terus terdiam sambil memperhatikan satu per satu awak kapal Naruto sampai mereka menganggukan kepalanya. Kemudian dia berbalik ke hadapan suaminya. "Silahkan."
"Itu saja?" tanya Naruto seolah tak percaya. "Itu saja yang harus kau katakan untuk mengubah pendapat mereka?"
"Iya, Naruto. Sekarang kau boleh memulai pemungutan suara. Tapi menurutku kau tidak boleh ikut dalam pemilihan ini."
"Kenapa tidak?" tanya Naruto sebelum sempat menahan dirinyan untuk bertanya.
"Karena saat ini kau tidak bisa berpikir jernih."
Melihat Naruto yang kebingungan dengan maksudnya, Hinata pun menjelaskannya. "Begini, Naruto. Kau itu kan masih sangat marah karena... istrimu yang tersayang ini terluka."
"Istriku tersayang?"
Hinata menatap Naruto kesal, "Iya, aku."
"Aku tahu siapa istriku, Hinata" gerutu Naruto.
"Ah, sudahlah. Pokoknya biarkan anak buahmu saja yang memilih," kata Hinata kemudian.
Naruto pun mengiyakan hanya agar istrinya mau pergi. Hinata memaksakan diri untuk tersenyum ketika melangkahkan kakinya ke arah tangga.
"Tetap di dalam kabinmu, Hinata. Sampai semua ini selesai," perintah Kakashi.
Hinata bisa merasakan kalau semua sorot mata di dalam ruangan itu sedang tertuju padanya. Dia tahu mereka semua menunggu sampai dia tidak terlihat sebelum melanjutkan niat buruk mereka. Jiraya bahkan sudah menutup pintu palka kabinnya, mungkin agar suara-suara mengerikan tak akan terdengar olehnya.
Hinata sudah membulatkan niatnya, ya dia memang harus melakukan hal ini. Karena dia tak mau pegawainya menjadi seorang penjahat. Makanya dia menganggap kalau keputusan yang akan diambilnya ini adalah hal baik. Dia tak bisa membiarkan pegawainya membunuh para perompak itu, seburuk apa pun perbuatan mereka selama ini, Hinata yakin mereka akan bersyukur karena sudah mengambil keputsan ini.
Setelah memantapkan hatinya, Hinata berhenti ketika sampai di anak tangga teratas. Dia tidak berbalik ketika berkata, "Naruto? Aku tak akan menunggu di kabin, tapi tolong kirim orang untuk meberitahuku bagaimana hasil pemungutan suaranya. Aku ingin tahu apa aku kecewa atau tidak."
Naruto mengerutkan keningnya ketika mendengar permintaan aneh itu. Dia tahu Hinata sedang merencanakan sesuatu, tapi dia tidak bisa membayangkan apa yang sedang direncanakan istrinya untuk mengubah keputusan anak buahnya.
"Di mana kau akan menunggu, Nona?" tanya Jiraya yang juga penasaran.
Hinata berbalik hingga bisa melihat wajah para awak kapal ketika menjawab. "Aku akan menunggu di dapur."
Seketika itu juga sebagian besar dari mereka menangkap maksud Hinata. Mereka tampak ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan Hinata jika dia kecewa. Senang dengan rekasi itu Hinata tersenyum, lalu ketika matanya melihat Naruto sedang menyeringai padanya. Hinata balas dengan memelototkan matanya.
"Sebenarnya aku tidak ingin memakai taktik ini, tapi kalian tidak memberiku pilihan lain. Sebaiknya hasil pemungutan suara tidak mengecewakanku," kata Hinata seolah merasa bersalah karena mengambil cara ini.
Segelintir awak kapal yang berotak kurang tajam masih belum memahami ancaman terselubung itu. Dan Tobi adalah salah satunya. "Apa yang akan kau lakukan di dapur, Nona?"
"Memasak sup, Tobi," kata Hinata dengan manis.
.
.
TBC
Ini sudah diedit ya, kalau masih ada kesalahan tolong ingatkan aku. Terima kasih.
.
Ayo tinggalkan kesan, pesan, kritik, saran dan semua unek-unek kalian tentang chap 12 ini dikotak review ya...
.
Jaa, sampai ketemu di chap selanjutnya ya
