Chapter baru Broken Wings' Dragon and the Fairies!
Maaf banget, dear readers, untuk keterlambatan parah yang sudah dilakukan author gaje yang satu ini (*deep bow) Yah, mau bagaimana lagi, author sudah mencapai tahun akhir kuliah dimana tanda tangan dan coretan di halaman skripsi jauh lebih berharga daripada tanda tangan presiden! Maka, sepertinya untuk waktu yang tak bisa diperkirakan, fic yang satu ini bakal ngadat kayak motor butut tahun 70-an yang dipaksa dipake di tahun 2015 (apa hubunganya? #plak!) Nah, sekian dulu curhat dari author, let's read the story~
Warning! Canon, typo, OOC-ness berkeliaran!
Happy reading~
Chapter 12
"Pe-penyihir?" ulang Ichigo, matanya melebar kaget. tentu saja dia bukan satu-satunya yang terkejut mendengar hal itu
"Yap. Teman-teman Toushiro," sahut Gray kalem.
Ichigo menatap punggung Toushiro, menatapnya dengan takjub. "Kau punya teman penyihir?!"
"Bukan urusanmu Kurosaki," kata Toushiro datar, tak memandang pemuda berambut jingga itu, yang gagal menahan kedutan jengkel di atas matanya.
"Dia memang sedingin itu ya?" tanya Erza pada Ichigo, tapi ia mengernyit kepada si rambut putih di sampingnya.
"Hell, yeah. Lalu, bagaimana kalian kenal dia?"
"Ceritanya panjang." Erza menghela napas. "Jadi itu sebabnya kau tidak pernah mengatakan apapun tentang dirimu pada kami, bahkan pada Master?"
Toushiro mencengkeram Hyourinmaru lebih erat. "Kalian tidak perlu tahu apapun."
"Karena ini bukan urusan kami, begitu?" Natsu menatap Toushiro dengan marah. "Maaf saja, berkata begitu pada teman sendiri bukan cara Fairy Tail."
Toushiro menatap Natsu dengan galak. Natsu, anehnya malah nyengir, kemarahannya menguap begitu saja.
"Erza jauh lebih menyeramkan dari itu; tidak mempan untukku."
"Apa maksudmu aku lebih menyeramkan?" Erza menatap Natsu, nada suaranya meninggi. Segera saja pemuda berambut merah muda itu bergidik dan menyambar si kucing biru dalam pelukannya. Erza mendengus kecil melihat tingkah Natsu, sebelum perhatiannya terarah pada pusaran energi bagai topan mini itu. Lingkaran sihir yang sewarna dengan rambutnya terbentuk di tangannya, bersamaan dengan munculnya pedang berbentuk salib yang gagangnya berhiaskan sayap perak. "Kau bukan satu-satunya yang pernah mengalami hal seperti ini, Toushiro. Aku juga pernah membuat kesalahan seperti ini, dan betapa bodohnya aku membiarkanku menanganinya sendirian."
Toushiro menatap Erza, tak percaya.
"Juga melupakan fakta bahwa Fairy Tail adalah temanku."
Pusaran udara itu mendadak meluncurkan tombak-tombak udara lagi, bersamaan dengan bilah-bilah es tajam. Serentak para shinigami mengangkat senjata mereka. Dan para penyihir yang berdiri paling dekat langsung siap dalam posisi bertarung. Namun, Natsu mengambil serangan balasan lebih dulu, membuat semua shinigami kecuali Toushiro terbelalak kaget saat Natsu menyemburkan napas api sambil berseru keras, "Fire Dragon's Roar!"
Kolom udara keemasan itu tersibak karena kekuatan api Natsu. Ganti Natsu yang terkejut, begitu pula semuanya. Di tempat seharusnya Kusaka berada digantikan sesok naga humanoid yang kelihatannya seluruh tubuhnya terbuat dari es.
"Naga…" bisik Wendy. Ia memandang Toushiro, lalu Kusaka. Natsu dan Gajeel pun memandangi mereka. "Itulah sebabnya kami merasa ada yang aneh… Zanpakutou kembar? Kalau begitu, Hyourinmaru itu…"
"Naga." Toushiro mengangguk sekali. "Ya."
"Jadi benar waktu itu," kata Gajeel, mengernyit. "Waktu kau pertama kali datang ke Markas, kau sepertinya tidak asing untuk kami, tapi kami belum pernah bertemu denganmu sebelumnya…"
"Apa maksudmu?" tanya Ichigo.
"Kau adalah naga," kata Natsu. Seringainya melebar perlahan. "Kau naga! Ha! Oi, Wendy, Gajeel! Kalian dengar itu? Kita benar!"
"Tapi dia tidak seperti kita," kata Gajeel, menyilangkan tangan di depan dada. "Dia shinigami – dewa kematian – dia bahkan tidak punya taring dan juga –"
"Tidak mabuk kendaraan," kata Pantherlily.
Para shinigami, sekali lagi, dibuat terkejut melihat kucing hitam itu. Jika saja mereka tidak mengenal Yoruichi Shihouin, kucing yang bisa bicara pastilah akan membuat mereka semua shock.
"Ini bukan waktunya mengobrol, menurutku," kata Erza tepat ketika naga es itu meraung.
"Kita harus hadapi ini bersama-sama." Ichigo mengangkat Tensa Zangetsu. "Mereka benar, kau tidak harus menghadapi ini sendirian."
"Berapa kali harus kubilang; jangan ikut campur Kurosaki! Kalian juga!" Toushiro menatap marah para penyihir Fairy Tail.
"Itukah sikap seorang komandan?! Kau harus berhenti bersikap seperti itu! Kenapa kau tak menerima fakta kalau kau punya teman-teman yang bersedia membantumu?! Kau bukan satu-satunya orang yang merasakan penderitaan!"
Toushiro menuduk, tampak seakan mengalami siksaan berabad-abad. "Aku sudah bukan komandan lagi… Aku hanya mencoba… melindungi apa yang tersisa…"
Duakh!
Wendy terkesiap kaget. Ichigo baru saja menghantamkan tinjunya ke wajah Toushiro, membuat si rambut putih jatuh tersungkur.
"Apa lagi yang harus kukatakan untuk membuatmu mengerti, hah?!" bentak Ichigo. "Kita ini teman, 'kan?! Memangnya salah kalau kita menceritakan dan berbagi beban satu sama lain, agar kita bisa menyelesaikannya dengan lebih baik?! Apa kau pikir menanggungnya sendirian jauh lebih baik, begitu?! Kau hanya akan merasa lebih menderita! Lebih lemah dari siapapun! Kau ini-!"
Ichigo terhenti mendadak. Sesuatu yang keras menepuk bahunya. Si gadis ber-armor meletakkan tangannya yang terselubung pelat baja di bahunya. Mata coklat itu menatap lurus ke arah Toushiro.
"Untuk kali ini, Toushiro, biarkan kami membantumu," kata Erza pelan. "Kau tak perlu takutkan apapun, percayalah pada kami."
Perlahan, Toushiro bangkit berdiri. Ia menyapukan ujung jarinya, menghapus darah di sudut bibirnya akibat pukulan Ichigo.
"Komandan!"
"Komandan Hitsugaya!"
Sejumlah shinigami bergerak mendekati si rambut putih. Toushiro mengerling, matanya menangkap wajah-wajah familiar. Ia mengenal mereka, tentu saja. Ia mengenal semua anggota Divisi 10. Divisi 10 yang masih percaya padanya. Mata turquoise-nya terpaku pada Rangiku, yang membeku di tempat, hanya berjarak beberapa meter darinya. Wajah cantik itu diliputi kecemasan, membuat rasa bersalah memenuhi batinnya.
Ya. Rasa bersalah.
Hyourinmaru benar, sekali lagi, bahwa ia memiliki banyak hal tanpa ia sadari.
Ia menatap para penyihir, yang wajah mereka diliputi tekad.
Tentu saja. ia tak bisa menghentikan penyihir Fairy Tail, seperti halnya Kurosaki. Kenapa hidupnya dikelilingi kekeraskepalaan?
Toushiro berbalik, memunggungi mereka.
"Toushiro!" seru Ichigo geram.
"Bersiap untuk bertarung, semuanya," kata Toushiro dalam. Segera saja, semuanya bersiap dalam posisi masing-masing. Toushiro menatap Wendy, yang tampak agak gugup, sedang memejamkan matanya. "Marvell, kau-"
Wendy membuka matanya. Ia tersenyum pada Toushiro, menyemangatinya. "Tidak apa-apa, Toushiro-nii. Kali ini, aku akan benar-benar ikut bertarung." Wendy terdiam sejenak, tampak berpikir.
"Kenapa?" tanya Lucy.
"Udaranya…" kata Wendy pelan, "…manis."
"Hah?" Ichigo menatap gadis kecil itu dengan bingung. Sejak kapan udara bisa dirasakan dengan indera pengecap?
"Atmosfer Soul Society terdiri dari reishi – partikel roh – yang konsentrasinya masih murni, bahkan lebih tinggi daripada Earthnano di Earthland ataupun Fiore. Sepertinya, disini kemampuanmu bisa jadi meningkat drastis," kata Toushiro pelan.
"Bagaimana kau tahu tentang Earthnano itu?" tanya Natsu heran.
"Semua orang di Earthland, bahkan Edolas tahu, Natsu," kata Erza tajam. "Yeah, kecuali kau, sepertinya."
"Tapi dia tidak akan repot-repot mengetahui itu, Erza. Si Kepala Kosong ini-"
"Siapa yang kau bilang 'Kepala Kosong', Balok Es?!"
"Wah, dia dengar," kata Gray kalem. "Tak heran, sih. Tapi yang kuherankan adalah dengan indera yang tajam si Mata Sipit itu masih tidak mengerti apa-apa…"
"Mata Sayu sialan!"
"Kepala Lava idiot!"
"Pangeran-model-celana-dalam!"
"Napas Kadal!"
"Astaga." Rukia terbelalak kaget. Banyak shinigami yang menatap adu umpatan itu dengan sama terkejutnya. Bagaimana bisa dalam situasi begini mereka bertengkar tidak penting begitu?
Erza menghela napas. Lucy dan Wendy bertukar pandang, sementara Gajeel menyeringai senang.
"Mereka ini…" Erza menarik napas. Dan kemudian, aura gelap mengerikan menguar dari gadis itu, membuat Natsu dan Gray terhenti dari gerakan akan saling menghantamkan tinju ke wajah lawan masing-masing. Keduanya menatap Erza yang tiba-tiba saja tampak agak menakutkan, dengan bayangan di bawah matanya dan efek angin kencang di sekitar mereka yang membuat rambut Erza berkibar liar, dan saat ia bicara, suaranya menggeram mengerikan. "Bisakah kalian diam dan fokus?"
"AYE!" Dengan tampang riang dipaksakan kedua penyihir beda elemen itu saling berangkulan, namun itu cukup untuk membuat Erza berhenti memelototi mereka. Sepertinya keduanya tak berani bertingkah di depan Erza, namun masih sempat mendesiskan 'aku benci kau' sebelum menghadapi musuh baru mereka.
Namun, sebelum satupun dari mereka bertindak, semuanya merasakan energi besar melesat ke arah si naga humanoid itu, diiringi tawa gila dan kilatan keemasan.
"Kenpachi!" seru Ichigo.
Komandan berhaori angka sebelas itu tak menghiraukan siapapun. Pedangnya yang bertepi kasar menebas si naga – Kusaka – dan kemudian ledakan besar terdengar sekaligus menggetarkan permukaan tanah. Asap yang tebal menutup pandangan untuk sejenak. Kemudian, debu akibat ledakan itu menipis, diikuti bunyi derak keras. Banyak shinigami terkesiap kaget saat melihat tubuh naga itu terbelah dua.
"Hah? Cuma begini?" Kenpachi Zaraki menggeram tak puas.
Detik berikutnya, tangan bercakar si naga bergerak, mencengkeram zanpakutou Kenpachi. Seketika itu juga, cengkeraman itu meluncurkan semburan es tebal, menyelubungi Komandan Divisi 11 itu. Bunyi gemuruh keras kembali terdengar saat Kenpachi menggunakan reiatsunya yang besar untuk memaksa es itu hancur berkeping-keping. Mereka semua terpana saat dua bagian yang tadinya tertebas oleh Kenpachi kembali menyatu, malah, naga itu mengepakkan sayap es-nya dan memaksa Kenpachi terangkat dari permukaan tanah.
"Kau kira kau bisa mengalahkanku, shinigami rendahan?!" kata Kusaka dengan suara baru dari wujud barunya, yang terdengar lebih mirip geraman, mengandung penghinaan.
Kenpachi tertawa, tanda ia siap untuk menjawab tantangan itu. "Kau belum mati ternyata! Ha! sepertinya kita bisa sedikit bersenang-senang!"
Kenpachi menebas pedangnya dengan liar. Kusaka dalam wujud naganya menggunakan lengannya yang berselubung es tebal untuk menangkis setiap serangan lawannya itu. dan tiba-tiba saja, Kusaka membuat gerakan mencakar yang cepat, menciptakan luka robek yang dalam di dada Kenpachi.
"Shinigami sombong!" Kusaka mengarahkan moncong naganya ke arah Kenpachi, menembakkan pisau-pisau es yang terbentuk dari sana; mirip Fire Dragon's Roar Natsu, walau alih-alih api, yang terbentuk di sana adalah es berbagai ukuran yang luar biasa tajam, dan sukses menjatuhkan Kenpachi dari Bukit Soukyoku.
Kusaka lalu terbang menjauh dari Bukit Soukyoku dan mendarat di salah satu bangunan tinggi. Begitu kaki bercakar esnya menyentuh atap bangunan itu, es tebal melebar. Sayap es di punggungnya pun mengepak pelan, melebar perlahan, seakan menandai meluasnya jangkauan es yang tercipta di bawah kakinya.
"Ini menakjubkan! Kekuatan yang hebat ini menjadi milikku!" seru Kusaka penuh kemenangan, mengangkat tangan bercakarnya; bersamaan dengan itu cabang-cabang es raksasa meluncur dari tempat menara es buatan Kusaka, menjalar sampai menembus batas tembok yang membatasi Seireitei dengan Rukongai.
Mendadak saja, dua gadis arrancar itu melesat ke arah Toushiro dan yang lainnya.
"Kami tak membutuhkan kau lagi, Toushiro Hitsugaya!" seru gadis arrancar berambut biru, zanpakutou petirnya berderik. Namun, ayunan petir biru itu tak pernah mencapai Toushiro. Erza Scarlet berdiri di depannya, dengan armor yang berbeda. Armor itu berwarna biru pucat, dengan tepian dan beberapa ornamen berwarna emas. Rambutnya tak lagi tergerai, melainkan dalam kepangan panjang dan pita kuning pucat di puncak kepalanya. Senjatanya bukan lagi pedang, melainkan tombak berhiaskan lingkaran, seperti perisai, di salah satu ujungnya.
"A-apa?" Yin, si gadis arrancar berambut biru tampak agak terkejut. "Bagaimana-?!"
Yin melompat mundur, menghindari petir berwarna keemasan yang muncul dari ujung tombak Erza. Gadis berambut merah itu berdiri tegak, ekspresinya mengeras.
"Bagaimana armornya bisa berubah secepat itu?" tanya Unohana heran.
"Baru pertama kali menghadapi penyihir, Cewek Petir?" tanya Erza kalem.
"Armor itu…" kata Yin pelan.
"Lightning Empress Armor," kata Erza tenang. "Armor ini dirancang khusus untuk menghadapi penyihir lain yang menggunakan elemen petir, membuatku bisa bertarung dengan elemen yang sama. Tapi ternyata, ini bisa juga kugunakan untuk melawanmu; kau tidak akan melukai Toushiro."
Tampaknya dua gadis arrancar itu tergesa dengan misi mereka. Yang, si rambut merah, berusaha menyerang dari arah lain, dengan bola api besar di tangannya. Lagi-lagi, serangan itu tertahan oleh Natsu.
"Kau lagi!" geram Yang.
"Yap.! Aku lagi! Ini akan menyenangkan, eh? Fire Dragon's Iron Fist!"
Yang terpaksa mundur untuk menghindari tinjuan berselubung bara api yang luar biasa dari si penyihir berambut merah jambu itu.
"Ice Make: Ice Lance!"
Luncuran tombak-tombak es besar menyerang kedua arrancar itu, memaksa keduanya mundur dalam jarak yang lumayan dari mereka semua.
"Es?" Yin menatap Gray tak percaya. "Hanya Master Kusaka dan bocah Hitsugaya itu yang bisa menggunakan es di Seireitei ini! Atmosfer disini sudah dipengaruhi oleh Hyourinmaru! Ryouka rendahan macam kau tidak bisa melakukan apapun!"
"Omong kosong!" kata Gray tak peduli. "Apa yang ada di sekitar memang menunjang kemampuan penyihir es. Tapi kalau kau mau tahu, sumber utama kemampuan sihir kami adalah diri kami sendiri, dan yang kubutuhkan selanjutnya adalah," Gray menempelkan jari telunjuknya di pelipisnya, seringai terbentuk di bibirnya, "apa yang kusebut dengan imajinasi! Ice Make: Ice Geyser!"
Yin dan Yang terpaksa meledakkan es berbentuk semburan air yang membeku itu untuk membebaskan diri mereka.
"Wah, para bocah ryouka itu di luar dugaan," komentar Kyouraku.
"Para bocah ini…" Yin menggeratakkan giginya dengan geram. Dengan gerakan cepat pada jari telunjuknya, ia membuat titik hitam muncul di langit Seireitei, yang makin lama makin melebar.
"Garganta?!" seru Rukia terkejut. "Mereka memanggil para hollow!"
Benar saja. Ratusan, bahkan mungkin ribuan makhluk-makhluk ganjil dengan topeng-topeng berwarna putih tulang menutupi wajah mereka muncul dari lubang yang seakan merobek langit itu.
"Apa mereka itu?" tanya Natsu heran.
"Singkat saja, mereka makhluk tanpa hati yang akan memakan jiwaamu jika kau tidak hati-hati," kata Toushiro. Perhatiannya terfokus pada naga es yang berada di seberang Bukit Soukyoku. "Bunuh mereka adalah opsi terbaik."
"Kedengarannya seperti rencana." Ikkaku menganggukkan kepalanya.
"Semuanya!" titah Komandan Tertinggi lantang. "Hentikan semua gerakan Soujiro Kusaka dan pendukungnya, eksekusi mati untuk mereka semua!"
"Baik!" seru para shinigami. Gerakan besar segera saja terjadi. Beberapa komandan dan letnan memimpin maju lebih dulu.
"Tidak semudah itu, shinigami!" seru Yang licik. Dengan gerakan tangannya, seakan memberi kode, rombongan besar para hollow itu bergerak ke arah para shinigami.
"Yeah, tidak semudah itu," kata Erza. Gadis berambut merah itu melesat, menyongsong para hollow; banyak shinigami yang terkesiap kaget. Selama sepersekian detik tubuh Erza tampaknya seperti diselubungi cahaya putih keperakan, dan saat cahaya itu memudar, armor Erza telah berganti. Pelat baja keperakan menutupi dadanya, dengan hiasan seperti bunga di bagian tengahnya. Tak seperti bagian atas tubuhnya yang agak terbuka, untuk bagian bawahnya Erza memakai rok putih panjang yang mengembang, dengan pelat-pelat baja di bagian atasnya. Sayap putih yang terbentuk dari bilah-bilah pedang seakan menyatu dengan punggungnya. Rambut merah panjangnya tergerai, dihiasi jepitan berbentuk sayap si kedua sisi kepalanya.
"Eh? Armornya berubah lagi?" ujar Mayuri Kurotsuchi, matanya dipenuhi rasa ingin tahu yang liar.
"Sepertinya kalian benar-benar baru dengan kemampuan sihir mereka." Carla si Exceed betina berbulu putih tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat para komandan dan shinigami lain yang masih berada di Bukit Soukyoku; Komandan Tertinggi, Ukitake, Kyouraku dan Letnannya Ise Nanao, Unohana, dan Kurotsuchi.
"Apa – siapa – kamu sebenarnya?" tanya Ukitake. "Bagaimana kalian kenal Toushiro?"
Carla menatap pria berambut putih panjang itu. Jika dilihat sekilas saja, siapapun akan tertipu tentangnya, menganggap pria itu adalah ayah dari Toushiro, jika melihat dari kesamaan warna rambut mereka. Apalagi, sikap Ukitake yang jauh dari kesan menuduh ataupun curiga seperti Komandan Tertinggi; Komandan Divisi 13 itu tampak seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan anaknya. Meskipun demikian, setelah melihat lebih dekat, Carla bisa melihat perbedaan besar antara Toushiro dan pria di depannya itu. Bentuk wajah Ukitake jauh lebih tirus dan pucat, terkesan seperti orang sakit. Selain itu, garis bentuk mata mereka berbeda; mata Toushiro lebih lebar dengan iris turquoise yang dingin, berbeda jauh dengan mata coklat Ukitake yang bersinar hangat. Alis gelap yang membingkai bagian atas matanya menunjukkan bahwa warna putih pada rambut panjang Komandan Divisi 13 itu tidak alami seperti Toushiro. "Yah," kata Carla memulai, "seperti yang kami bilang tadi, ceritanya panjang. Yang jelas Tim Natsu menemukannya luka parah dan Wendy," Carla menunjuk gadis kecil berambut biru yang berbicara cepat dengan Lucy. "menyembuhkannya. Dan aku, juga Happy dan Pantherlily adalah Exceed, makhluk sihir dari Negeri Edolas, kami bertiga adalah partner bagi para Dragon Slayer itu."
"Dragon Slayer?" tanya Unohana.
"Earthland, tanah asal kami dihuni oleh para manusia. Sebagian diantaranya diberkahi dengan kemampuan sihir. Meskipun demikian, jumlah penyihir yang ada tidak banyak, hanya sepuluh persen dari total penghuni Earthland. Dan setiap penyihir memiliki kemampuan masing-masing. Ada tiga jenis sihir utama yang dimiliki tiap penyihir. Yang pertama adalah Holder Magic; penyihir yang menggunakan alat atau senjata untuk menyalurkan energi sihirnya. Contohnya di antara mereka adalah Lucy, dia penyihir celestial, menggunakan kunci roh bintang sebagai senjata. Erza juga, tapi tipenya berbeda. Erza pengguna requip magic. Itu jenis sihir yang membuatnya mampu menggunakan berbagai jenis armor atau zirah dan senjata sesuai kebutuhan. Kemudian, jenis kedua adalah Caster Magic. Ini jenis sihir di mana penggunaannya berdasarkan elemen; air, api, angin, petir, tanah, kayu, dan lainnya. Gray si penyihir es itu juga termasuk pengguna Caster Magic, tipe es, tepatnya jenis statis; menciptakan berbagai bentuk es yang bersifat tetap bukan hidup. Nah, jenis sihir terakhir adalah Lost Magic. Ini jenis sihir paling kuno, paling langka, dan juga berbahaya. Ada berbagai tipe yang termasuk jenis ini, di antaranya sihir waktu, kutukan Rune, dan sihir naga."
Carla berhenti sejenak. Ia menyadari para shinigami itu mendengarkannya, sambil mengawasi pertarungan yang berlangsung. Carla merasa ia harus mempercepat penjelasannya agar bisa membantu Wendy.
"Di antara mereka, ada penyihir yang mendapatkan kemampuan ini. Jenis Lost Magic untuk sihir naga. Mereka mendapatkannya dalam kesempatan langka untuk hidup bersama naga, diasuh oleh naga, dan diajari sihir oleh para naga. Para penyihir yang mendapatkan kekuatan itu, kekuatan yang sama dengan orangtua naga mereka, kekuatan untuk mengalahkan naga, mereka disebut Dragon Slayer. Ada tiga Dragon Slayer di sini, Natsu Dragneel, putra Igneel, si Fire Dragon Slayer," Carla menunjuk satu per satu penyihir yang dimaksud. "Gajeel Redfox, putra Metallicana, si Iron Dragon Slayer, dan Wendy Marvell, putri Grandeeny, si Sky Dragon Slayer."
"Jadi," kata Komandan Tertinggi setelah beberapa saat, "kalian semua… bermaksud membantu?"
"Toushiro sudah melindungi teman-teman kami dan Fairy Tail, kenapa kami tidak melakukan hal yang sama untuk teman-teman dan rumahnya ini?" kata Carla. Ia mengerling pada para komandan yang tampak terkejut. Komandan dingin sekaliber Toushiro Hitsugaya ternyata memiliki nilai sentimental pada Seireitei dan segala isinya, paling tidak itu yang dianggap oleh Carla muncul dalam pikiran para komandan itu. ia menghela napas pelan. "Walaupun tampaknya rumahnya ini berniat untuk membunuhnya, Toushiro tetap bermaksud melindunginya."
"Para hollow itu mengganggu!" seru Ichigo gusar. Sekalipun ia menggunakan Getsuga Tenshou berkali-kali, para hollow terus saja bermunculan, menggantikan mereka yang telah dimusnahkan. Kalau begini, semuanya akan membuang tenaga sedangkan Kusaka di seberang sana semakin meluaskan cabang-cabang esnya.
"Kita perlu serangan skala besar untuk membuka 'pintu' melewati mereka," kata Toushiro.
"Kedengarannya pekerjaan untuk kami!" seru Natsu keras, membuat para shinigami termasuk para komandan memandangnya. "Aku, Gajeel, dan Wendy akan gunakan Dragon's Roar kami bersamaan dan…"
"Apa itu akan cukup?" tanya Byakuya Kuchiki sangsi.
"Dan kenapa aku harus setuju dengan itu?" gerutu Gajeel.
"Bah, kau cerewet, Besi Karatan! Menurut saja pada Demon Lord Dragneel ini!"
"Sejak kapan namamu bertambah jadi 'Demon Lord'?" celetuk Gajeel.
"Kurasa itu ide bagus, Gajeel-san," kata Wendy, tersenyum, anehnya malah membuat Gajeel bergidik.
"Kita buat dua lapis serangan." Erza menoleh pada rekan-rekan penyihirnya, lalu menoleh pada para shinigami. "Setelah kalian bertiga gunakan Dragon's Roar, kalian semua segera pergi tinggalkan bukit ini. Aku akan gunakan pedang-pedangku untuk mencegah para hollow itu menyerang kalian."
"Semua hollow itu? Mustahil!" seru Marechiyo Omaeda tak percaya.
"Semua mungkin jika namamu adalah Erza 'Titania' Scarlet, Queen of Fairy Tail," kata Pantherlily.
Tepat saat itu, Erza bergumam pelan, "Sword Requipping." Ratusan pedang dengan bentuk sama seperti yang dipegang di kedua tangannya muncul, melayang di sekitar Erza. Banyak shinigami yang terkesiap kaget melihat hal ini.
"Heaven's Wheel Armor adalah zirah khusus yang digunakan oleh Erza untuk menghadapi lawan berjumlah besar," kata Carla menjelaskan. "Untuk hitungan kasar, paling tidak ada dua ratus pedang yang bisa ia kendalikan secara telekinesis dengan zirah yang satu itu, untuk menjatuhkan lawannya."
"Luar biasa," komentar Kyouraku. "Baru kali ini kulihat kemampuan seperti itu, diakukan oleh penyihir muda, gadis lagi."
"Erza adalah penyihir wanita terkuat di serikat kami. Yah, seluruh Kerajaan Fiore pasti mengenalnya, terutama julukannya 'Titania', sebagai penghargaan atas kekuatan dan dedikasinya. Dan, sebagian anggota Fairy Tail juga punya julukan khusus, yang biasanya menggambarkan kemampuan mereka."
"Seperti 'Salamander' untuk si Fire Dragon Slayer itu?" tanya Ukitake.
"Benar sekali."
"Kenapa 'Salamander'?" tanya Kyouraku ingin tahu. "Setahuku itu makhluk sejenis reptil yang tinggal di air… bukannya malah berlawanan dengan elemennya?"
"Oh, entahlah. Aku hanya tahu julukannya begitu…" kata Carla kalem. "Mungkin karena dia begitu licin, seperti salamander, untuk meloloskan diri dari tangkapan atau hukuman penegak hukum dan disiplin Dewan Sihir Fiore karena tindakannya yang sangat destruktif dalam penyelesaian masalah di setiap misinya… Hampir semua misi yang jatuh ke tangannya berakhir dengan ledakan." Carla menatap para komandan, eksprsinya agak ganjil, seperti menahan senyum. "Tak hanya Natsu, tapi hampir semua penyihir Fairy Tail begitu. Jadi benar-benar minta maaf jika tempat ini akan, eh, sedikit berantakan. Tak ada orang waras di Fairy Tail, apalagi tim yang satu ini."
"Semuanya! Bersiap!" teriak Natsu lantang."Fire-"
"Iron-"
"Sky-"
Ketiga Dragon Slayer itu sedikit membungkukkan tubuh mereka, dengan kedua pipi menggembung. Dan kemudian, ketiganya berseru lantang, "Dragon's Roar!"
Energi sihir besar berupa campuran antara api, logam, dan angin yang dahsyat berpusar cepat bak topan horizontal, menghantam semua hollow yang berada dalam lintasannya, bahkan menciptakan lekukan dalam di permukaan bukit. Tak ada waktu untuk mengagumi kombinasi mengagumkan itu, semuanya langsung bergerak ke arah Kusaka, kecuali Erza yang mengarahkan semua pedangnya untuk mencegah para hollow yang berusaha mencapai teman-temannya dan para shinigami.
"Dance, my blades!" Pedang-pedang perak itu berputar, sebelum melesat ke arah para hollow dengan gerakan anggun yang mematikan.
"Susul kami setelah kau selesai, Erza!" teriak Natsu, sebelum berlari di atas salah satu cabang es besar bersama Gray dan Lucy; Wendy, Gajeel, dan Pantherlily sudah melesat lebih dulu mengejar Toushiro.
End~
