Is That True? Really?

.

BL

.

Jimin x Yoongi

Bts all mem,

.

.

.

Yoongi tak berkutik, Jimin mengurung tubuhnya dipinggir meja. Sesaat ia mendongak, memandang wajah tampan dengan tatapan lapar ke seluruh tubuhnya. "Aku tau, kau tidak akan menolak, Yoongi-ya." Yoongi merasakan benda basah nan kenyal membelai telinganya, membuatnya mengetatkan bahu serta mencengkram kain baju Jimin.

Jimin memiringkan kepala, menempelkan bibirnya diatas bibir Yoongi, melumatnya lembut hingga kasar. Jimin menikmati setiap inci bibir yang menjadi candunya itu. Jimin terus menekan, memagut, serta menyesap kedua belahan bibir Yoongi.

Sejak ucapan yang terdengar di telinganya, Yoongi merasa nafsunya meningkat hingga menginginkan seorang dihadapannya ini untuk melakukan apapun asal itu memuaskan nafsunya. Jangan katakan Yoongi nakal, salahkan seseorang kelebihan hormone yang sedang asiknya menggali serta mencari manis yang ada pada mulut Yoongi.

Yoongi tidak akan menahannya, omong kosong dengan status, yang ia butuhkan hanya Jimin dan Jimin. Yoongi mengalungkan kedua tangannya dileher Jimin, ikut memiringkan kepala demi melawan sang dominan dalam ciumannya. Sempat kewalahan saat Jimin dengan cepat melesakkan benda tak bertulang miliknya, kemudian berperang didalam mulut Yoongi. Namun Yoongi tetap menemukan ritme permainan, dia mampu menguasai keadaan. Lelehan saliva ia rasakan menuruni dagu dan leher. Jimin bermain brutal.

Tubuh Yoongi tiba-tiba turun, Jimin menurunkannya membawanya melakukan ciuman sambil berdiri. Menginginkan dua bongkahan empuk berada pada remasan kedua tangannya. "Ungh." Lenguhan kemudian keluar berkat permainan tangan Jimin.

Tubuh mereka yang menempel, membuat keduanya merasakan tekanan kuat dibawah sana. Entah Jimin maupun Yoongi mereka saling menekan satu sama lain.

Yoongi memundurkan wajahnya, melepas paksa tautan bibir karna menipisnya oksigen yang masuk dalam paru-parunya. Keduanya menyatukan kening bersamaan, helaan nafas tak beraturan menerpa kulit wajah masing-masing.

Jimin meraih tangan Yoongi, mengarahkannya ke tonjolan didalam celana. Yoongi menatap Jimin sekilas, tanpa bertanya pun ia paham apa yang Jimin inginkan. Kemudian turun mengimbangi tinggi tingginya dengan kejantanan Jimin.

Yoongi menurunkan celana kain Jimin serta dalamannya. Matanya berbinar menatap ereksi Jimin yang sudah mengacung tagak menyapanya. "Ahh shh, yeah!" Yoongi bermain dengan cepat, lidahnya memainkan milik Jimin didalam sana. Hangat, batin Jimin. Yoongi seakan menemukan mainannya yang sempat hilang.

Tangan Yoongi menjalar meremas bokong Jimin, sambil mengemut, menghisap mainannya. Jimin kagum dengan hal yang dilakukan Yoongi, sejak kejadian dipesawat Jimin terus ingin melanjutkan kegiatannya. Dan sekarang waktunya. Tak lama kemudian, Jimin mengeluarkan cum pertamanya didalam mulut Yoongi.

Tapi, Jimin tidak akan puas jika ini berakhir. Dengan cepat ia menggendong kembali tubuh Yoongi dan mendaratkan bokongnya pada meja. Jimin kembali melahap bibir yang membengkak sejak tadi itu.

Jimin meraih ujung baju Yoongi, menunda ciumannya demi melucuti baju Yoongi. Kemudian kembali namun menuju leher jenjang yang sejak tadi menggoda Jimin. "Ngghh, Jimin!" jimin semakin mendapat lampu hijau. Remasan Yoongi dirambutnya, membuat Jimin semakin bersemangat. Ia kembali mempercepat esapannya, menyisakan tanda kepemilikan yang nampak kontras karna kulit putih Yoongi.

Jimin membuka pengait celana Yoongi, sang pemilik celana ikut menaikkan sedikit tubuhnya agar Jimin dengan mudah meloloskan celananya. Ereksi yang lebih kecil dari Jimin dengan sedikit precum diujungnya, Jimin meremasnya lembut membuat Yoongi menggelinjang.

"Nggahh, akkh." Yoongi mendesah kencang, ereksinya yang semakin dimanjakan dengan tangan Jimin yang terus bergerak naik turun dengan cepat. Serta isapan kuat pada nipplenya hanya akan menambah kenikmatan bagi Yoongi.

Jimin merasakan tangannya yang basah serta serburan yang mengenai dadanya. Ia berhenti bermain didada Yoongi. Tangan yang sudah berlumur cairan kental Yoongi dibawa untuk menyapa lubang yang berkedut dan indah itu. Jimin mulai memasukkan satu jarinya kedalam lubang Yoongi. Yoongi sedikit menjerit saat jari gamuk Jimin berhasil masuk seutuhnya.

Yoongi kembali menutup mata, menikmatinya. Jimin menambah satu jari kedalamnya, lalu kembali menggerakkannya.

Mungkin sudah cukup, ketika melihat wajah berantakan dengan peluh yang menambah kesexyan seorang Yoongi. Jimin melepas jemari, membuat Yoongi merasakan kekosongan didalam sana. Jimin mengarahkan kejantanannya, kelubang kenikmatan Yoongi. Yoongi mencengkram kuat bahu Jimin, ini pertama kali dan ia tidak akan tau akan hal seperti ini.

"Ahhh." Desah Yoongi setelah ereksi Jimin masuk kedalam lubangnya hanya dengan satu hentakan. Yoongi menunduk, bersandar pada bahu itu, tangannya memeluk erat leher Jimin. Jimin diam sesaat, demi meredakan rasa nyeri yang Yoongi rasakan.

Jimin meraih wajah menunduk Yoongi, memilih untuk mencium kembali bibir itu. Yoongi membiarkan Jimin bermain sendiri, dengan lidah yang bermain dimulutnya. Hingga Jimin menggerakkan pinggulnya perlahan. Awal yang pelan, namun Jimin menambah ritme untuk memuaskan Yoongi dan dirinya. Yoongi melingkaekan kedua kakinya kepinggang Jimin.

Yoongi semakin memeluk tubuh Jimin menahan kenikmatan yang perlahan ia rasakan. Jimin terus memaju mundurkan pinggulnya menghantam titik kenikmatan Yoongi.

"Ahh, Jimin disituh Jim!" yoongi mendesah ketika kejantanan Jimin menyentuh prostatnya. Jimin menahan punggung Yoongi dan terus fokus dalam genjotannya. Tak terasa tangan Yoongi turun untuk menaik turunkan ereksinya sendiri. Sampai lubangnya berkedut meremas ereksi Jimin.

"Ahh, akkh, Yoongih. Kau semakin sempit." Suara desahan keduanya serta tabrakan kulit dan kulit mendominasi didalam dapur itu.

"Nggghh~~" cairan Yoongi menyembur keluar mengenai tubuh Jimin. Jimin merasakan kejantanannya semakin diremas dan disedot semakin dalam. Rasa ngilu serta nikmat menghampiri Jimin. ia akan orgasme sekarang.

"Sebentar lagih, Yoongih!" Jimin semakin mempercepat genjotannya, beruntung meja itu kosong, decitannya menganggu siapa saja yang mendengarnya.

Dan akhirnya Jimin mendapatkan puncaknya, "Aku, aahhhh." Cairan miliknya mencurat dan menyembur kedalam lubang kenikmatan Yoongi. Kini yang tersisa hanya suara nafas yang tidak beraturan dari keduanya, Yoongi bersandar dibahu Jimin, rasa lelah dan mengantuk ia rasakan.

Tubuhnya terangkat kembali, Jimin membawanya kekamar tanpa melepas tautan dibawah sana. Beruntung kamar Jimin kosong, kedua penghuni lain mungkin masih berkerja. Ia mengunci pintu lalu membaringkan tubuh Yoongi dan dirinya dikasur.

Tubuh Yoongi terlihat jelas dimata Jimin. ia memandang lekat dari bawah hingga keatas sampai matanya bertemu dengan tatapan sayu Yoongi. Jimin mulai khawatir akan tatapan itu, ia menunduk serta menggerakkan tangan untuk mengelus halus pipi Yoongi. Sungguh, Jimin takut Yoongi terluka.

"Yoongie, apa aku menyakiti perasaanmu? Atau mungkin yang lain?" Yoongi diam, matanya tak lepas dari wajah Jimin. membuat Jimin semakin khawatir. "Aku takut. Tolong jawab aku, jangan membuatku khawatir!"

Dan sesaat kemudian senyum mengambang manis diwajahnya, membuat Jimin juga melakukannya. Jimin merasakan sebuah tangan mengelus pipi dan rahangnya, matanya sampai terpejam menikmati belaian halus itu. "Kau tau Jimin? kenapa aku berani mengakhirnya kemarin?"

Jimin menggeleng, tangannya menyibak poni basah Yoongi. Tatapan lembut itu membuat Yoongi semakin nyaman, "Karna aku tau, bagaimana pun jadinya hubungan kita. Kau akan tetap kembali padaku."

Jimin menghentikan gerakan tangannya, raut wajahnya berubah. "Jadi, maksudmu, aku boleh kembali?"

"Kapan pun! Ngaakhh Jimh!" Yoongi kembali mendesah, wajahnya mengengadah dengan mulut terbuka dan mata tertutup. Jimin membalikkan posisi tubuh mereka sehingga ereksi Jimin kembali menumbuk prostat Yoongi.

Yoongi merasakan ereksi Jimin kembali membesar dan menegang didalamnya.

"Kau nakal, hyung. Kenapa baru mengatakannya? Sekarang kau akan dihukum."

"Lagi? Akkh, ahh Jimin!" dalam hati Jimin memuja tubuhnya, Yoongi sangat indah mendesah diatasnya. Ia menghentakkan pinggul keatas dan kebawah beraturan, membuat Yoongi mencengkram kuat bahunya.

"Lepas ini, kau curang." Seru Yoongi sambil mengangkat dan meloloskan baju Jimin. Yoongi mulai kembali menikmati permainan, bahkan ia menunduk untuk menghisap kuat leher kekar Jimin.

Sayangnya, itu tidak bertahan lama. Tidak aka nada noda kebiruan dileher itu, Yoongi tidak tahan untuk tidak mendesah karna tumbukan yang semakin cepat pada lubang kenikmatannya. Ia ikut bermain dengan menaik turunkan pinggulnya.

"Yeah, terus sayang jangan berhenti. Kau hebat, Yoongih!" racau Jimin, mereka menautkan tangan kesela-sela jari demi menopang kuat tubuh Yoongi.

Rasanya Yoongi melayang menembus langit. Kepalanya pusing menahan kenikmatan yang belum berakhir. "Jiminh!"

Jimin kembali merasakan lubang Yoongi yang mengetat dan berkedut, ia tau bahwa pelepasan Yoongi semakin dekat.

Beberapa menit kemudian keduanya melakukan pelepasan bersamaan. Yoongi ambruk didada Jimin, "Keluarkan itu, Jimin." Jimin paham mungkin Yoongi sangat lelah walau hanya untuk menggerakkan pinggulnya.

Dibalikkannya tubuhnya dan kini Yoongilah yang berada dibawah. Jimin menarik miliknya keluar lalu berbaring disamping Yoongi. Direngkuhnya tubuh kurus itu dipelukannya.

"Kau lelah?"

Yoongi mengangguk lemah, menyandarkan kepala didada Jimin. matanya terasa berat dan menutup perlahan. Jimin mengecup singkat kepala Yoongi, "Tidurlah!" Yoongi tidak menjawab, bahkan mungkin ia tidak mendengar itu. Jimin menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang mereka.

Jimin ikut menutup mata menyusul Yoongi.

..

..

..

Sesuatu mengganggu tidur Jimin, tepatnya membangunkan tidurnya. Ia merasakan cubitan kecil elusan halus yang terus berulang tepat dibibirnya. Namja tampan itu mengendus, kemudian kembali tenang. Ia sudah sadar, tanpa membuka mata pun ia telah mengetahui siapa pelakunya.

Tersenyum, lalu membuka mata. Jimin hampir terkekeh melihat wajah kaget dengan bibir yang mempout lucu dihadapannya. "Sedang apa kau?" Yoongi terkekeh, entah kenapa mencubiti bibir tebal Jimin membuatnya senang.

"Hyung?"

"Emh?"

"Sayang?" Yoongi menunduk sekilas, ia tersenyum dengan memperlihatkan gusi lucunya. Kemudian mendongak lagi menatap Jimin.

"Yeah, Jiminie!"

"Kau cantik."

"Aku tampan!"

"Lalu aku apa?"

"Kau jelek!"

"Tapi kau mendesah untukku."

"Apa hubungannya?"

"Aku mencintaimu."

"Aku tak mengerti, Jimin."

"Sama."

"Kau gila?"

"Ya, aku gila karnamu."

"Jimin!"

"Ehe." Yoongi menggelengkan kepala melihat tingkah mantan yang sudah menjadi kekasihnya lagi itu. "Mandilah lebih dulu, aku akan keluar sebentar." Yoongi mengangguk, ia melihat Jimin yang mengambil celana baru dan keluar dari kamar.

Beruntung, keadaan dorm sedang sepi pagi ini, mungkin karna sang leader dan hyung tertua masih kelelahan berkat kegiatannya tadi malam serta yang lain tengah bermalam diagensi mereka. Jimin berjalan kedapur demi menemukan pakaian mereka yang tertinggal. Satu persatu dipungut Jimin.

Ia mengambil baju Yoongi yang tergeletak diatas meja, kemudia terkekeh mengingat kegiatannya tadi malam. Lalu seketika rautnya berubah kerutan timbul pada dahinya.

"Jadi, Yoongi-hyung milikku? Sudah jadi kekasihku?" terdiam sebentar memikirkan apapun yang terjadi semalam, "HUUH, YEAAH! Min Yoongi milikku kembali sekarang." Pekiknya kegirangan.

Dengan cepat Jimin kembali kekamar, pandangannya menyebar keseluruh sudut ruangan. Mengetahui Yoongi tidak ada diranjangnya. Lantas Jimin berjalan kearah kamar mandi. Matanya menemukan Yoongi yang sedang sibuk menyabuni tubuhnya, tanpa tau seseorang sedang memperhatikan gerak geriknya.

Jimin ber woah ria, melihat pinggul seksi milik kekasihnya. Tanpa disadari, adik kecilnya kembali menegang dibawah sana. Ia menelan lidah sendiri saat menatap dan merasakannya. Tanpa pikir panjang, celananya ia lepas lalu melemparnya kesembarang arah. Memegang kejantannannya yang semakin menegang.

Jimin mulai menggerakkannya naik turun dengan ritme cepat. Ia berfantasi dengan tubuh didepannya. Merasa ada suara lain selain suara jatuhnya air, Yoongi menghadap kebelakang. Batapa kagetnya ia melihat Jimin yang sedang menatap lapar padanya. Belum lagi tangan Jimin yang sedang bermain dengan adiknya, membuat Yoongi mengaga seketika.

Yoongi mematung, melihat Jimin yang mendekat. Ia menghentikan kegiatannya, menumbruk tubuh Yoongi dengan ciumannya. Saking brutal dan kasarnya ciuman itu membuat tubuh Yoongi, terdorong hingga punggung dan kepalanya menabrak dinding dingin kamar mandi.

Yoongi kembali mendesah karna pagutan panas mereka, membuat ereksi Jimin semakin tidak sabar untuk menyapa lagi hole sempit milik kekasihnya.

Jimin menghentikan ciumannya, "Jimin, aku lelah dan ini masih sakit."

"Tapi kau tegang lagi." Yoongi menunduk melihat ereksinya yang kembali menegang karna berdesakan dengan milik Jimin.

"sial." Gerutu Yoongi hampir tak terdengar.

Tiba-tiba, Jimin meraih kedua tangannya lalu meletakkan diatas shower dengan air yang masih keluar. "Tetap seperti ini. Dan jika kau mendesah karna godaanku, maka aku akan melanjutkan yang tadi malam."

Yoongi hanya bisa menghela nafas dan pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Jimin menyeringai, ia mulai dari rahang mengemutnya bagaikan permen. Tak lama mulut dengan bibir tebal itu turun, kepala miring menyesap leher Yoongi. Yoongi menahannya dengan menggigit kuat bibir bawahnya.

Jimin melumat dan menggigit kecil kulit yang sudah memburu akibatnya semalam. Membuat warnanya semakin terang. Kekanan kiri ia terus mengisap menjilatnya tanpa lelah. Tangannya tak diam, meremas kedua bokong sintal dengan lihainya.

Bibirnya kembali turun menemukan kedua putting Yoongi yang menegak karna nafsu yang semakin membesar. Jimin mengulum puting itu, tangannya memainkan putting yang tidak tersentuh. Hangat, licin lembut sangat jelas terasa oleh Yoongi. Ia menggenggam kuat gagang shower sambil menutup mata, menikmati kegiatan Jimin.

Jimin beralih keputing lainnya. Yang kali ini membuat Yoongi hampir mendesah, karna ia menggigitnya agak keras. Kepala Yoongi sudah terasa pusing karna Jimin terus memberikan kenikmatan padanya.

Puas dengan dada Yoongi ia turun dan berjongkook menatap ereksi Yoongi yang telah basah akan precumnya. Tak ingin bermain lebih lama, Jimin mulai mengarahkan milik Yoongi kedalam mulutnya. Ini pertama kali Yoongi merasakannya. Merakan Jimin memanjakan kemaluan Yoongi dengan mulutnya.

Mulut Yoongi terbuka, kemudian kembali menggigit bibirnya, saat Jimin mengisap kasar serta memainkan bolanya. Tak lama, ia mengangkat satu kaki Yoongi untuk diletakkan dibahunya. Ia mulai menjilat lubang pantat Yoongi. "A-akh, Jimin!" Akhirnya, Jimin tersenyum disela kegiatannya.

Hingga Jimin menghentikan kegiatannya, Yoongi membuka mata dan menunduk merasa heran dengan Jimin. ternyata ia sedang menjilat jemarinya, sesudah itu ia langsung memasukkan jarinya kedalam lubang Yoongi secara perlahan. Yoongi berteriak, kesakitan. Namun seiring berjalannya waktu, rasa nikmat itu mulai terasa. Jimin pun menambah jarinya, membuat Yoongi melayang penuh kenikmatan.

"Terus, Jimin!" Yoongi tidak bisa menahannya, ia ingin lebih.

Jimin mengerti, ia berdiri mengangkat kaki Yoongi kepinggangnya. Serta mengerahkan kejantanannya yang menegak kelubang kenikmatan Yoongi. Tangan Yoongi terlepas dan jatuh kebahu Jimin. ia menarik nafas mencoba merilekskan tubuh.

"Akk!" wajah Jimin mendekat, mencium lembut bibir Yoongi. Bersamaan dengan itu Yoongi merasa perih dilubang pantatnya. Namun jimin tetap meneruskannya dengan mengalihkan rasa sakit dalam ciumannya.

"Akkhh." Yoongi menjerit panjang, saat milik Jimin masuk seutuhnya didalamnya.

"Boleh, aku melakukannya sekarang?" Yoongi hanya mengangguk dengan tatapan sayunya.

Jimin mulai menggerakkan pinggulnya, mencoba mencari titik kenikmatan Yoongi. Hingga Yoongi merasakan kenikmatan yang luar biasa didalam sana.

Yoongi kembali mendesah, Jimin berhasil menyentuh prostatnya. Membuat Yoongi menggelinjang kenikmatan. Yoongi meremas kuat kepala Jimin.

Suara berisik dari bertemunya kulit memenuhi kamar mandi. Jimin semakin gencar menumbuk prostat Yoongi. Hingga rasa ngilu menghampiri mereka. Ereksi Jimin berkedut didalamnya, nafas meraka semakin memburu.

"Jimh, aku."

"Bersama Yoongihh!"

Keduanya klimaks bersama, desahan panjang keluar dari mulut keduanya. Yoongi lelah dan bersandar ditubuh Jimin. Jimin menarik ereksinya keluar, kemudian membersihkan tubuh mereka.

Setelahnya, ia menggendong Yoongi. Membawanya untuk duduk ditepi ranjang. "Tahan sebentar, sayang." Jimin mencari pakaian untuknya dan Yoongi, lalu kembali untuk memakaikannya.

Mata Yoongi semakin menyipit karna mengantuk. Selesai dengan bajunya Jimin berlutut dihadapan Yoongi setelah mencium sekilas dahi dan pipinya.

Yoongi ikut menunduk mencium kilat bibir Jimin, "Sekarang biarkan aku tidur. Kau membuatku kembali mengantuk."

Jimin terkekeh, "Emh, tidurlah. Aku aka nada untuk memelukmu." Jawabnya dengan tatapan lembut kearah Yoongi.

Yoongi tersenyum dan membaringkan diri diikuti Jimin disebelahnya. Mereka berpelukan dibawah selimut, tangan Jimin mengelus halus punggung kekasihnya. "Terima kasih, Yoongi-ku. Aku mencintaimu."

"Aku juga." Setelahnya terdengar suara nafas teratur dari Yoongi. Jimin ikut menutup mata dan tidur dengan wajah yang menempel dikepala sang kekasih.

..

..

..

.bersambung.

Daku cuman bisa berharap ada yang baca disamping kompor. APA INI? Daku gak puas ini gak hot, hot in aja deh sendiri. Dan apa, 2k cuman buat naena astogeh.

Udah ah, males mikirin, ehe.

Tapi ini berlebihan yeheth