He's not my man, he's not my man
Ooh, I have a masterplan
I'm gonna do what I know is right
(He's Not My Man – Elina Orkoneva)
Previous Chapter: Sungmin dan Kyuhyun saling bertaruh, yang kalah akan mengabulkan tiga permintaan dari yang menang.
..
"Astaga, Minnie! Lalu bagaimana kelanjutannya?" tanya seorang perempuan yang sekarang duduk tepat di hadapan Sungmin.
Perempuan itu sebaya dengan Sungmin. Perempuan cantik dengan maskulinitas yang begitu kentara. Dengan rambut pendek dan kemeja kebesaran. Ia memperhatikan Sungmin yang terlihat kacau.
Sungmin menghela napasnya berat. Wajahnya kusut. Rambutnya dikuncir asal, kemejanya dibiarkan keluar dari rok hitamnya, dan Sungmin bertelanjang kaki, membiarkan sepatu hak tingginya tergeletak begitu saja di bangku kosong di sebelahnya.
"Mau bagaimana lagi? Aku menerima persyaratannya karena aku juga memintanya menjadi murid yang baik sampai masa taruhan kami selesai," jawab Sungmin dengan suara parau.
"Tidak menghindarinya sampai nilai ujian semesternya keluar? Itu akan membuatnya lebih banyak melakukan hal gilanya padamu. Bukankah kau bilang anak itu menyebalkan?"
Sungmin mengangguk lemah. "Aku tidak punya pilihan, Shinhye. Yang penting anak itu tidak membolos dan berjanji menjadi murid yang baik, setidaknya untuk tiga bulan ini."
"Lalu setelah itu? Tidak ada jaminan kalau dia akan berubah," pendapat Shinhye yang sebenarnya dalam hati dibenarkan oleh Sungmin.
Sungmin mengaduk lemon ice -nya. "Memang benar, aku juga tidak tahu akan jadi apa anak itu tiga bulan lagi. Aku akan memikirkan lagi cara lain. Aku sudah bertekad untuk mengubahnya menjadi siswa yang baik. Setidaknya ini salah satu usahaku."
"Bagaimana kalau kau yang berubah?" tanya Shinhye kemudian.
Dahi Sungmin berkerut, tidak mengerti apa yang diucapkan sahabatnya itu. "Maksudmu?"
"Ya, bagaimana kalau kau yang berubah?" Shinhye mengulang pertanyaannya, membuat kerutan di dahi Sungmin semakin bertambah. "Bagaimana kalau kau yang terbawa olehnya? Bukan tidak mungkin kan, kau berbalik menjadi suka padanya? Seperti yang kau katakana, tidak ada yang bisa menjamin."
Sungmin menertawakan ucapan Shinhye. "Aku tahu di mana posisiku. Dan itu tidak akan berubah. Hanya Cho Kyuhyun yang akan berubah di sini."
Shinhye sedikit tersentak saat Sungmin menyebutkan nama seseorang yang dari tadi mereka bicarakan. "Kyuhyun katamu? Maksudmu Cho Kyuhyun pewaris tunggal CHC itu?" Sungmin mengangguk sebagai jawaban. "Aku tidak menyangka sama sekali. Kau baru datang dari Busan, mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan, dan punya pacar super-berondong yang super-kaya," komentar Shinhye sambil berdecak penuh kekaguman.
Sungmin mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Shinhye yang menurutnya konyol itu. "Asal sekali kau bicara. Dia bukan pacarku, Park Shinhye!" Sungut Sungmin.
"Kudengar dia pewaris tunggal perusahaan CHC? Wah, kau benar-benar beruntung ditaksir olehnya," ujar Shinhye, membuat Sungmin semakin terlihat kusut.
"Apa untungnya buatku?" Elak Sungmin. "Lagipula lihat sendiri dirimu. Setelah lulus SMA pindah ke Seoul tanpa tujuan, tapi kemudian aku mendengar kabar kau akan menikah dengan rock star super-keren, Jang Geun Suk. Yang sepantasnya dikatakan beruntung itu kau," ujar Sungmin balas mengomentari sahabat baiknya saat sama-sama bersekolah di Busan. Ya, Sungmin dan Shinhye sama-sama berasal dari Busan, mereka sahabat sejak kecil. Begitu lulus SMA, Shinhye memutuskan hijrah ke Seoul untuk bekerja, sementara Sungmin tetap di Busan dan kuliah di sana. Mereka akhirnya bertemu setelah satu bulan lebih Sungmin berada di Seoul.
Shinhye mengedikkan bahunya, tapi kemudian tersenyum bahagia. "Aku juga tidak menyangka. Sepupuku bersahabat dengan Geun Suk. Awalnya aku dikenalkan dengannya untuk mengisi additional gitar album terbaru band-nya Geun Suk..."
Kalimat Shinhye berhenti begitu saja karena ponselnya berbunyi, deringnya pun lagu yang dinyanyikan Jang Geun Suk. Ia memberi isyarat pada Sungmin untuk menunggu. Selama menunggu Shinhye menyelesaikan panggilan teleponnya, Sungmin melanjutkan memakan kentang gorengnya.
"Aku tidak menerima alasan apapun. Kau harus hadir pada pernikahan adik sepupu dan sahabatmu ini," ujar Shinhye kemudian jeda, ia terlihat serius mendengarkan ucapan seseorang yang mengubunginya. "Benarkah? Kau akan benar-benar pindah? Kalau begitu segera selesaikan urusanmu di sana dan sempatkan untuk datang ke pernikahanku. Oke?" Shinhye kembali terdiam sejenak. Kemudian mengakhiri pembicaraannya.
Shinhye beralih pada Sungmin yang sedang mengunyah kentang terakhir dari piringnya. "Apa kau sudah menyelesaikan makanmu? Aku harus pergi menemui Geun Suk," ujar Shinhye setelah melihat jam di ponselnya.
Sungmin mengangguk, lalu mengambil tisu untuk membersihkan jari dan mulutnya dari sisa makanannya. Kemudian Sungmin memakai sepatu hak tingginya selagi Shinhye membayar tagihan mereka.
Sungmin sudah lebih baik sekarang setelah bertemu dengan Shinhye dan berbagi cerita dengannya setelah bertahun-tahun mereka berkomunikasi jarak jauh.
"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi, kau harus menemaniku untuk fitting baju," ujar Shinhye mengingatkan saat mereka keluar dari restoran cepat saji.
Sungmin menganggukkan kepalanya. "Aku akan menunggu dengan senang hati. Salam untuk calon suamimu, Nyonya Jang," ujar Sungmin. "Mintakan tanda tangannya untukku," lanjut Sungmin sambil memberi Shinhye pelukan perpisahan.
Shinhye membalas pelukan Sungmin. Saat mereka selesai berpelukan dan kembali berhadapan, Shinhye tersenyum, "Salam juga untuk Kyuhyun-mu itu."
"Dia bukan Kyuhyun-ku!" Sungut Sungmin kesal.
TBC
Dear readers, mohon maaf ya kalo ada yang kurang berkenan dengan pair yang aku buat. :)
