Jeon Taekwon mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Ia begitu senang kala melihat pantulan seorang anak kecil di cermin yang berada tepat di hadapannya. Anak kecil itu terlihat keren mengenakan kemeja berwarna putih dengan motif garis-garis kecil yang samar terlihat. Kakinya dibalut celana bahan panjang yang begitu pas melekat, namun sama sekali tidak menghalangi geraknya sebagai bocah aktif.

"Uuu… siap ikut poppa bekerja." gumamnya riang. Ia berlari kecil keluar dari walk in closet ayahnya. Sepasang mata bulatnya menangkap sosok sang idola yang tengah berbincang dengan ibunya di samping ranjang.

Tangan Jungkook begitu telaten memasangkan dasi untuk sang poppa. Sebenarnya Taekwon juga sudah memiliki dasi karena semalam pria Kim membelikannya, tetapi ia menolak memakai karena merasa kain yang melingkari lehernya itu bisa saja mencekiknya. Jadilah ia hanya memakai kemeja dan celana bahan.

Balita Jeon kembali masuk ke ruang ganti berisi pakaian sang poppa. Ia lagi-lagi mengamati dirinya di cermin besar yang berada di salah satu almari. Cermin itu benar-benar besar sampai Kwonnie bisa melihat ujung kakinya yang belum berbalut sepatu di sana. Tingginya mungkin hampir sama dengan poppa, atau mungkin lebih tinggi lagi.

"Mirip poppa. Kwonnie pakai baju sepertimenjadi poppa kecil."

Dan suara kekehan membuat bocah yang masih menatap dirinya di depan cermin itu menoleh.

Poppa kesayangannya sudah siap berdiri di sana sambil tersenyum.

"Siap membantu poppa bekerja?"

Superhero Jeon mengangguk penuh semangat.

Ia lalu berjalan bersama sang ayah menuju meja makan. Momma yang memang sudah terlebih dahulu meninggalkan kamar terlihat sedang menata piring di sana.

"Ma, momma." panggil sang putra yang kini memanjat salah satu kursi.

Semalam saat berbelanja, pria Kim sudah membeli sebuah kursi khusus untuk buah hatinya sehingga meja makan mereka menjadi tidak terlalu tinggi untuk Taekwon. Sebenarnya Kim Taehyung membeli beberapa barang yang menurutnya sangat berguna, namun dicap sia-sia oleh calon istrinya. Jungkook memang sudah mengomelinya, namun pria Kim tetap melakukan apa yang ia inginkan.

"Kenapa, hm?" Jungkook duduk di samping putranya, berhadapan dengan sang calon suami. Tentu hal itu ia lakukan setelah mengambilkan makanan untuk Taehyung dan dirinya sendiri, juga si menggemaskan Kwonnie.

"Kwonnie terlihat keren seperti poppa."

Si balita tidak bertanya. Ia hanya memberitahukan apa yang berada di dalam kepalanya.

Mendengarnya, sang ibu hanya menunjukkan seulas senyum manisnya. Ia tak bisa menyangkal. Jeon Taekwon memang terlihat seperti miniatur pewaris Kim Enterprise. Bukan hanya karena mereka sama-sama mengenakan pakaian formal, namun juga karena mereka terlihat mirip.

"Berdoa, sayang…"

Kim Taehyung mengucapkannya.

Kalau boleh jujur, ia bukan tipe yang sering memanjatkan doa dan menyampaikan puji-pujian. Walau begitu, ia menyadari bahwa pemuda kesayangannya mengajarkan kepada putra mereka untuk selalu bersyukur atas apapun yang mereka punya.

Dan kini ia akan melakukannya juga.

Ia akan mulai berterima kasih atas apapun yang dimilikinya saat ini, sekaligus memohon supaya apa yang diinginkannya dapat menjadi sesuatu yang nyata.

Jungkook tersenyum kecil. Sepasang netranya diam-diam mengamati interaksi ayah-anak yang berbincang di sela-sela kegiatan sarapan keluarga kecilnya.

Semalam, Kim Taehyung menepati janjinya untuk pergi berbelanja bersama sang kekasih, juga buah hati kesayangan mereka. Ia juga meminta pemuda Jeon supaya membeli bahan-bahan yang biasa digunakan untuk membuat kue, dan rencananya hari ini Jungkook akan membuat kue sesuai dengan apa yang pria Kim minta.

"Nanti Kwonnie akan membantu poppa, oke?"

"Oke." si balita mengucap mantab. Ia merasa menjadi orang penting karena poppa meminta agar dirinya membantu ketika bekerja.

Bekerja biasanya dilakukan oleh orang dewasa. Jika Jeon Taekwon diminta membantu ayahnya bekerja, artinya si bocah sudah dianggap dewasa. Setidaknya itu yang ada di dalam pikiran polos balita Jeon.

"Nanti duduk tenang di samping poppa, lalu bantu poppa mengawasi pegawai poppa. Mengerti?"

Si bocah mengangguk penuh semangat sambil memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya yang terbuka lebar.

"Pelan-pelan, sayang." tegur sang bunda.

Jungkook memang sempat menggulung lengan pakaian yang dipakai putranya, namun tetap saja si balita harus berhati-hati supaya bajunya tidak kotor.

"Whapee Wonnie bishaa rapwe." protes balita yang tengah mengunyah. Sepasang mata bulatnya menatap sang bunda penuh intimidasi seolah ia ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah besar dan tak perlu lagi dikhawatirkan.

Taehyung terkekeh. Diulurkannya tangan kanan yang semula ia gunakan untuk makan, lalu diusapnya lembut kepala sang putra kesayangan.

"Jagoan bilang apa? Poppa tidak bisa mendengar dengan baik karena Kwonnie mengatakannya sambil makan."

Jeon mungil terlihat kesal, namun ia memutuskan untuk menyelesaikan acara mengunyah makanannya untuk kemudian ditelan.

"Tapi Kwonnie bisa rapi." ulang si bocah dengan nada kesal. Poppa sering bertanya seperti itu sehingga Taekwon harus mengulang ucapannya. Itu membuatnya sebal. "Kenapa poppa suka tanya-tanya lagi tapi Kwonnie sudah bilang dan harus bilang lagi?"

Kali ini Jungkook memberikan kecupan gemas di pipi malaikat kecilnya. "Itu karena Kwonnie mengucapkannya sambil makan. Kalau Kwonnie bicara sambil makan, momma dan poppa akan susah mendengar apa yang Kwonnie katakan."

"Memangnya susah dengar?" si bocah memastikan. Ia merasa dirinya dengan mudah memahami apa yang ia katakan ketika bicara. Dan itu sungguh membuatnya bertanya-tanya mengapa orang lain bisa kesulitan mendengarnya.

"Susah." Jungkook meyakinkan. "Buktinya poppa sering bertanya kepada Kwonnie."

"Tapi kenapa susah?"

"Karena makanan yang ada di mulut Kwonnie menghalangi suara yang akan keluar."

"Umm…" balita menggemaskan nampak berpikir sambil terus menyantap sarapannya.

Di dalam kepalanya, ia membayangkan seseorang yang tengah berbicara. Memang benar suara akan keluar dari mulut jika orang itu mengatakan sesuatu, dan makanan yang menghalangi keluarnya suara saat dirinya mengunyah sambil bicara terdengar masuk akal.

Jeon Taekwon mengangguk, tanda mengerti.

Taehyung terkekeh melihat tingkah putranya yang, menurutnya, benar-benar lucu. Ia tidak bisa membayangkan apa yang bocah pintarnya akan lakukan di kantor nanti. Ia hanya berharap supaya Kim junior-nya tidak melakukan hal-hal aneh ketika rapat penting berlangsung.

Pria Kim mengajak sang putra bekerja bukan tanpa alasan. Dirinya akan mengantar Kwonnie berkunjung ke rumah sakit. Setelah berkas-berkas kesehatan Jeon Taekwon dipindahkan dari rumah sakit di Busan, pihak rumah sakit di Seoul mengharuskan si kecil untuk melakukan check up supaya mereka mendapatkan data terbaru yang akurat. Tentu hal ini dilakukan agar kesehatan Jeon kecil terpantau dengan baik, terutama kinerja jantungnya.

Pemilik surai sekelam malam berencana melaksanakan check up putranya setelah ia menyelesaikan rapat di kantor. Jika perhitungannya benar, rapat akan selesai ketika jam istirahat makan siang, sehingga dirinya bisa kabur dari kantor untuk mengantarkan Kwonnie ke rumah sakit.

Alasan dirinya tidak mengajak Jeon Jungkook adalah karena Kim Taehyung ingin calon istrinya membuat beberapa loyang kue untuk nanti dibawa ke kediaman Kim saat makan malam.

Awalnya Jungkook menolak. Ia khawatir bocahnya akan rewel di kantor sehingga pekerjaan Taehyung bisa saja terganggu. Namun dengan kata-kata manisnya, Kim Taehyung berhasil mendapatkan persetujuan dari sang kekasih untuk mengajak Kwonnie ke kantor."

"Nanti setelah kita pulang, Kwonnie langsung tidur siang, ya?" pria Kim menatap Taekwon yang sudah selesai makan. Saat ini momma sedang merapikan lengan bajunya.

Si bocah mengeryit protes. Sungguh Jeon Taekwon merasa dirinya akan menjadi anak besar karena poppa memintanya membantu di kantor.

Dan tidur siang tidak terdengar seperti hal yang akan dilakukan oleh anak besar.

"Tapi Kwonnie tidak mau tidur siang karena Kwonnie anak besar."

"Ya sudah, nanti poppa yang tidur siang dengan momma."

Balita Jeon mengerang, lagi-lagi melayangkan protes.

Ia memang tidak ingin tidur siang, tapi jika momma dan poppa tidur siang bersama, Kwonnie harus ikut juga.

.

A fanfiction, the continuation of "Puzzled"

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung

Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Rated: M for the language and theme, and yeah

Warning: OC for Taekwon.

Ambigu, TYPO tak tertahankan, m-preg (?)

.

.

"Painted"

Part XII: the Complexion

Taehyung tersenyum kecil saat dirinya, bersama sang putra, turun dari mobil. Si kecil Jeon lagi-lagi duduk di pangkuannya yang tengah menyetir. Untung saja tidak ada polisi yang memergoki mereka.

"Poppa kantornya besar." Kwonnie bergumam. Ia menatap sekeliling dimana terdapat banyak mobil yang berjajar rapi dengan warna yang berbeda-beda. "Banyak mobil namanya tempat parkir?"

Si balita memastikan. Ia mendongakkan kepalanya menatap sang ayah yang tengah merapikan jas yang dipakainya. Tangan besar ayahnya dengan cekatan memakaikan jaket berwarna hitam, warna yang sama dengan jas yang dipakai pria Kim, ke tubuh mungil Taekwon. Poppa bilang, di ruang rapat akan sangat dingin, jadi ia memaksa putranya untuk memakai jaket.

Setelah mendapat anggukan sebagai jawaban, Taekwon segera mengulurkan tangan supaya pria Kim menggandengnya. Tentu Kwonnie akan menggandeng sang idola supaya Kim Taehyung tidak tersesat dan menghilang.

Pewaris Kim menahan senyumnya.

Ia memang sangat jarang menunjukkan senyuman jika sedang berada di kantor, dan balita menggemaskannya, yang saat ini berjalan bersamanya memasuki lobby terlihat sedang berusaha memasang wajah datar yang malah terkesan menggemaskan. Ia berusaha keras meniru ekspresi sang ayah. Alisnya yang berkerut terlihat begitu lucu, bibirnya yang coba membentuk garis lurus malah berakhir dengan mem-pout seperti saat ia sedang merajuk.

Kedatangan CEO Kim bersama seorang balita yang digandengnya tentu menjadi perbincangan hangat para pegawai. Setiap orang yang berpapasan dengan sang pemimpin perusahaan pasti menunduk dan memberikan sapaan, namun setelahnya, mereka akan mulai berbisik sambil memperhatikan bocah yang terlihat bersemangat menggoyangkan tangan pria dewasa yang tengah digandengnya.

"Paman Yoon Yoon!" pekik Jeon mungil tiba-tiba saat sepasang mata bulatnya menangkap sosok pria bersurai pirang yang berjalan santai dari salah satu sudut ruangan sambil membetulkan celananya.

Kwonnie langsung melepas tangan sang poppa, lalu berlari untuk selanjutnya menerjang kaki Min Yoongi hingga pamannya itu hampir terjengkang..

Pria bersurai pirang hampir saja mengumpat dan memukul kepala keponakannya dengan tas kantor yang ia bawa kalau saja dirinya tidak mengingat bahwa saat ini mereka tengah berada di lobby.

Meghela nafas kasar, Yoongi memilih untuk mengangkat tubuh Kwonnie yang langsung memekik girang sambil mengacak rambutnya.

"Kenapa kau di sini?"

"Wiiii… rambutnya paman Yoon Yoon rapi-rapi." tentu saja Jeon Taekwon lebih memilih untuk menarik-narik rambut sang paman yang menurutnya terlihat seperti permen kapas ketimbang menjawab pertanyaan paman favoritnya yang terkadang menyebalkan.

Pria Min menghela nafas pasrah.

Ia memang sempat merapikan rambutnya di kamar mandi karena akan ada rapat dengan pemegang saham hari ini. Tapi sepertinya, ia akan mengikuti rapat dengan rambut yang mengembang tak tertata.

"Kwon, biarkan rambut paman Yoon rapi. Kalau orang-orang tahu bentuknya seperti permen kapas, mereka akan berebut memakannya."

Si bocah memasang ekspresi terkejutnya.

Sungguh Min Yoongi tidak tahu apakah ucapan sepupunya yang kini berdiri di hadapannya adalah sebuah pertolongan atau cobaan karena yang Kwonnie lakukan selanjutnya adalah menarik-narik rambutnya ke belakang dengan tenaga yang lumayan.

Rasanya sungguh sakit dan sangat menyebalkan.

Kim Taehyung terkekeh mengejek.

"Bang…"

CEO Kim mendelik saat menyadari kata laknat yang akan segera meluncur dari mulut pegawai kepercayaannya. Namun hal itu sungguh tidak menghentikan ucapan yang sengaja pria Min gantungkan.

Dengan suara yang lebih lirih, Yoongi melanjutkan. "…Sat."

Terlepas dari kedua saudara yang saling mengumpat lewat tatapan mata, beberapa pegawai menahan nafasnya saat balita yang mereka yakini sebagai sosok yang disayangi Min Yoongi menggerakkan sepasang tangan mungilnya untuk menyentuh kepala si pria priang.

Bahkan Kim Taehyung yang notabene adalah bos besar saja tidak pernah melakukan skin ship dengan sang sepupu hingga seperti itu, namun si bocah malah dengan santainya mengacak-acak tatanan rambut salah satu petinggi Kim Enterprise.

"Poppa, poppa poppa, nanti Paman Yoon Yoon ikut bekerja juga?"

Kim Taehyung menyeringai. Tangannya terulur untuk mengusak kepala bocah kesayangan yang masih berada di gendongan sepupunya. "Tentu saja. Nanti Paman Yoon akan membantu Kwonnie. Jadi, Paman Yoon akan menjadi anak buah Kwonnie."

"Yaayy!" balita menggemaskan memekik kegirangan saat mengetahui dirinya akan bekerja bersama poppa dan Paman Yoon Yoon. Ia bahkan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi saking senangnya. "Tapi anak buah itu apa? Buah-buahan memiliki anak seperti orang?"

Min Yoongi, yang awalnya ingin menyumpahi atasan sekaligus sepupu kurang ajarnya malah terkikik. Pertanyaan yang dilontarkan keponakan favoritnya mambuat pria bersurai jelaga melongo seperti orang bodoh.

"Rasakan." gumamnya penuh kemenangan. Ia lalu berjalan meninggalkan CEO Kim dan memilih untuk membawa balita gendut ke ruangannya. "Kwonnie ikut Paman Yoongi saja, oke? Biarkan poppa berdiri di sana seperti patung."

"Hihh!" Taekwon menarik masing-masing pipi kanan dan kiri pamannya gemas. "Poppa-nya Kwonnie bukan patung! Kalau patung tidak bisa punya anak yang gemas seperti Kwonnie! Poppa itu tampan dan berani seperti Swidwod tapi poppa benar tampan tidak seperti Swidwod yang bohongan!"

Min Yoongi berdecak kesal. Ia menghentikan langkah kakinya, lalu segera memakan pipi gembil Jeon mungil main-main. Terlepas dari cara Jeon Taekwon mengucapkan Squidward, pujian untuk Kim Taehyung begitu terdengar menyebalkan baginya. Apalagi Kwonnie sepertinya memiliki kadar kurang ajar yang sama seperti ayahnya. Pipinya yang pucat langsung memerah gara-gara ditarik dan ditepuk-tepuk Jeon Taekwon.

Si balita tentu saja menatap horor sambil berteriak heboh meminta tolong kepada sang ayah. Meski demikian, terselip tawa di sela teriakannya karena ia merasa kegelian.

Para pegawai yang masih berada di lobby terdiam, bocah itu memanggil sang atasan dengan sebutan yang begitu mirip dengan kata papa. Tentu mereka langsung menyimpulkan bahwa si balita yang tengah bersenda gurau dengan makhluk yang memiliki mood terburuk di Kim Enterprise adalah anak dari Kim Taehyung.

Pertanyaannya, siapa ibu dari bocah itu?

.

.

.

.

.

Kim Taehyung tampak serius saat mempresentasikan apa yang sudah ia siapkan untuk rapat kali ini. Katakanlah dirinya terlalu berlebihan, namun jika hal itu berhubungan dengan para pemegang saham, ia ingin dirinya sendirilah yang maju di garis depan.

Bukan apa-apa, pasti rekan bisnisnya akan merasa tersanjung dan dihormati apabila pemimpin perusahaan turun tangan untuk menyampaikan presentasi. Dengan begitu, rasa saling percaya dan kerjasama akan semakin erat terjalin.

Dapat terlihat diagram dengan kurva yang bisa dibilang stabil. Memang ada beberapa turunan di sela tanjakan yang terus naik, namun hal itu masih dapat dimaklumi.

CEO Kim masih saja menjelaskan beberapa keberhasilan yang dicapai perusahaannya di depan para pemegang saham, juga beberapa calon yang berniat menanamkan saham mereka di Kim Enterprise. Daripada melakukan pertemuan secara pribadi, Taehyung lebih memilih untuk membawa calon rekan bisnisnya pada rapat besar seperti ini. Dengan begiru, mereka akan mendapatkan gambaran mengenai prospek kerja sama melalui laporan yang ia sampaikan.

Bocah menggemaskan terlihat duduk tenang di kursi yang berada tepat di samping kursi kosong yang tadi diduduki ayahnya. Ia menatap sekeliling, memperhatikan satu per satu orang dewasa yang mungkin jumlahnya lebih banyak dari jumllah jari di kedua tangan dan kakinya.

Ia benar-benar mengawasi seperti apa yang diperintahkan sang poppa. Ia begitu sibuk memperhatikan hingga sesuatu yang tidak diharapkan tiba-tiba datang.

Jeon Taekwon menoleh ke kiri, ke tempat pamannya duduk. Ia mengerang kesal saat melihat pria bersurai permen kapas itu menundukkan kepala beberapa kali. Jelas sekali, Min Yoongi yang mengantuk sangat tidak bisa diharapkan.

Maka Kwonnie melompat dari kursinya. Ia berjalan mendekati sang ayah yang berdiri di ujung ruangan. Tangan kirinya yang mungil menarik-narik celana kain yang dipakai sang role model.

"Sutttt… poppa." ucapnya mencoba berbisik.

Pria Kim yang tadinya sedang sibuk menyampaikan presentasinya memberikan isyarat maaf kepada para peserta rapat lainnya. Ia lalu menyejajarkan tingginya dengan putranya yang terlihat resah. "Ada apa?"

"Kwonnie mau pipis."

Dan kekehan yang bersahutan terdengar dari seluruh penjuru ruangan.

Superhero Jeon memang mengatakannya dengan suara yang tidak terlalu keras, namun microphone yang dipegang sang ayah masih dalam mode on sehingga seluruh penghuni ruangan mampu mendengarnya.

Taehyung tersenyum canggung kepada rekan bisnisnya untuk meminta maaf. Ia lalu menunjuk seseorang yang sedari tadi duduk di samping kiri Kwonnie dengan dagu.

"Minta Paman Yoon mengantarkan Kwonnie."

Si bocah menggeleng. Ia tidak mau pipinya habis dimakan si rakus Yoongi. "Tapi nanti pipi Kwonnie dimakan lagi sama Paman Yoon Yoon tidak mau jadi anak buah Kwonnie, terus nanti tidak mau antar Kwonnie pipis bagaimana?"

"Tidak akan." Taehyung mengusap kepala Taekwon. Ia ingin si balita segera pergi ke toilet karena demi apapun, menahan buang air kecil bukanlah sesuatu yang sehat. "Di kantor, Paman Yoon anak buahnya poppa. Paman Yoon harus menurut apa kata poppa."

"Uuu… nanti poppa makan pipi Paman Yoon Yoon kalau tidak mau antar Kwonnie pipis?"

Kim Taehyung hanya mengangguk. Meski microphone di tangannya sudah dalam mode off, namun hampir semua orang bisa mendengarnya karena ia dan balita menggemaskannya sudah menjadi pusat perhatian.

Mengangguk-anggukkan kepalanya, Taekwon tampak berjalan mendekati kursinya. Ia segera menarik-narik tangan sang paman sebelum bicara dengan nada yang cukup keras. Tentu hal ini diperlukan mengingat pamannya dalam keadaan hampir tertidur.

"Paman Yoon Yoon antar Kwonnie pipis karena paman anak buahnya poppa. Tidak boleh makan pipi Kwonnie lagi karena kalau nakal nanti poppa yang makan pipi Paman Yoon Yoon."

Min Yoongi yang sejak tadi memang mengantuk langsung memfokuskan pandangannya ke arah si bocah. Ia mengerang lirih hampir tanpa suara sebelum menoleh ke arah sepupunya yang hanya menunjukkan cengiran tanpa dosa sambil memberikan isyarat supaya ia keluar dari ruangan dan mengantar jagoannya yang kebelet pipis.

Yoongi berdiri perlahan dan langsung menggendong keponakannya. Padahal ia bisa tidur di ruang rapat, tapi si bocah membuatnya harus repot-repot berjalan ke kamar mandi.

"Hihhh! Kwonnie anak besar bisa jalan sendiri kalau digendong nanti tidak keren karena di kantor itu anak besar tidak digendong."

Pria Min mendelik. Ia menatap putra sepupunya itu tajam sebelum akhirnya menurunkannya. Ia sempat membugkuk kepada para peserta rapat sebelum meninggalkan ruangan dengan menggandeng tangan bocah Jeon.

"Kalau Kwonnie gandeng nanti Paman Yoon tidak akan tersesat. Poppa takut tersesat jadi Kwonnie gandeng, sekarang Paman Yoon Yoon juga agar tidak hilang."

Ucapan Jeon Taekwon yang meninggalkan ruang rapat membuat suasana yang sempat hening kembali menghangat.

"Ahh… maaf untuk yang barusan, putraku memang suka seperti itu." ucap CEO Kim ramah. Ia meletakkan microphone yang sedari tadi dipegangnya. "Aku juga minta maaf karena seenaknya mengajak jagoanku ke ruang rapat. Yeah… aku tahu tidak seharusnya aku mengajak ia kesini."

"Santai saja, Tuan Kim. Lagipula putra Anda tidak mengganggu sama sekali." sahut seorang pria paruh baya. Ia menunjukkan senyum lebarnya. "Lagipula sepertinya rapat ini memang butuh penyegaran, apalagi untuk orang yang sudah berumur sepertiku. Rapat yang terlalu serius membuatku pegal dan cepat lelah."

Suasana rapat menghangat. Beberapa peserta lain bahkan terkekeh dan menyahuti ucapan pria itu dengan ungkapan persetujuan.

Ini yang pria Kim tunggu. Project yang akan ia ajukan dirasa membutuhkan suasana kekeluargaan supaya bisa disetujui oleh para pemegang saham. Bukan sebuah rencana yang terlalu besar, memang. Ia sebenarnya juga tidak harus menyampaikan ini kepada mereka. Namun mendapatkan persetujuan secara resmi akan menguatkan posisinya.

Menguatkan posisi Kim Taehyung dan kedua orang tercintanya di depan keluarga Kim.

.

.

"Kenapa Kwonnie menyebalkan dan suka mengganggu paman?" Min Yoongi mengomel setelah ia selesai membantu keponakannya buang air kecil. Tentu saja, dirinya harus menjaga Kwonnie yang tengah mencuci tangan di wastafel.

Padahal Min Yoongi yang mengurus semuanya, tapi bocah Jeon bersikeras ingin cuci tangan juga.

"Kwonnie tidak menyebalkan tapi Kwonnie menggemaskan." Taekwon memberi isyarat bahwa dirinya ingin mengeringkan tangan. Tentu pria Min yang harus kerepotan menggendongnya.

"Katanya anak besar, tapi pendek dan tidak sampai saat mengeringkan tangan."

"Kwonnie anak besar tapi masih kecil jadi tidak apa-apa digendong sebentar karena tidak sampai." kali ini Jeon kecil yang mengomel. Ia bahkan balas mendelik ke arah pamannya yang kerjanya hanya protes saja.

Ia sudah paham maksud dari kata anak buah, dan menurutnya, Paman Yoon Yoon bukan anak buah yang baik karena suka mengomel.

"Ya, terserah kau saja." gumam penyandang marga Min sambil menurunkan si cerewet. Ia segera merapikan pakaiannya, lalu menggandeng si bocah untuk keluar dari toilet. "Kita beli makan saja, ya? Tidak usah kembali ke sana."

Jeon Taekwon menggeleng. Ia menyeret pamannya untuk kembali berjalan melewati lorong yang seingatnya membawa mereka ke ruangan besar tempat poppa berdiri dan bicara-bicara. Tugasnya adalah untuk mengawasi para pegawai, dan membawa Paman Yoon Yoon kembali ke ruangan yang tadi dianggapnya sebagai bagian dari pekerjaan yang kudu dilakoni.

"Min Yoongi!" seru sebuah suara, dan itu membuat dua makhluk berbeda tinggi badan langsung berhenti.

Yang dipanggil tampak menoleh, ia mengeryit ketika mendapati sosok kepala bagian produksi yang berjalan sedikit tergesa ke arahnya sambil membawa map. Jam segini, tidak seharusnya Kim Seokjin berkeliaran di kantor. Ia seharusnya berada di gedung yang lain.

"Ada apa, hyung?"

"Kau bukannya sedang rapat?"

Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya.

"Dan ini siapa?"

Kim Seokjin suka anak-anak. Jadi saat dirinya menyadari keberadaan makhluk kecil yang digandeng oleh sepupunya yang hobi menggerutu, ia langsung berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuhnya.

"Halo, namamu siapa?"

Kata momma, Kwonnie harus berhati-hati dengan orang asing, maka Jeon Taekwon beringsut untuk bersembunyi di belakang kaki paman Yoon Yoon. Memang pamannya itu tidak setinggi sang ayah, tapi lumayan juga untuk bersembunyi.

"Tidak apa-apa." gumam Yoongi menenangkan, sebelah tangannya terulur ke belakang untuk mengusap kepala si keponakan, lalu perlahan menuntunnya supaya keluar dari persembunyian. "Ini kakak sepupunya paman. Kakak sepupunya poppa juga. Kwonnie perkenalkan diri."

Si kecil Jeon mendongak. Matanya yang bulat menatap ragu pamannya. Namun setelah mendapatkan senyuman, si bocah memberanikan diri untuk menatap pria berbibir tebal yang masih berjongkok di depannya.

"Umm… namaku Kwonnie. Kwonnie bisa makan papika dan suka Optimus Prime. Umurnya Kwonnie empat. Kwonnie baru saja pipis dengan Paman Yoon Yoon."

Seokjin terkekeh mendengar perkenalan menggemaskan balita di hadapannya. Ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Halo, nama paman, Kim Seokjin. Kwonnie bisa memanggil Paman Jinnie. Bagaimana?"

Jeon Taekwon menyambut uluran tangan paman barunya, lalu mengangguk.

"Anak pintar."

Si bocah terlihat malu-malu saat mendapatkan usapan di kepalanya. Matanya berbinar ketika Seokjin memberinya sebungkus permen coklat.

"Kau bilang kau pamannya, berarti Kwonnie keponakanku juga?" Seokjin berdiri perlahan. Ia mengeryit saat mendapat anggukan dari sepupunya sebagai jawaban. "Anak siapa?"

Pria Min menghela nafas. Ia bosan mendengar suara Seokjin yang menurutnya sangat mengganggu. Ya, menggangu… karena seharusnya ia bisa kembali duduk tenang di kursinya, namun malah tertahan di sini untuk menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak berguna.

"Poppa-ku namanya Kim Taehyung." ucap si bocah tiba-tiba. Ia mengulurkan permennya kepada Paman Yoongi, minta untuk dibukakan. Setelahnya, mata bulatnya bertatapan dengan mata bulat Paman Jinnie. "Katanya poppa nanti Kwonnie namanya tidak Jeon Taekwon lagi tapi menjadi Kim Taekwon agar lebih keren seperti poppa. Katanya nanti momma juga pakai Kim, jadinya Kim Jungkook, begituuuu."

Pria berbahu lebar hampir tersedak ludahnya sendiri. Bukan karena mendengar vocal u panjang yang diserukan si bocah Kwonnie, namun karena mengetahui bahwa bocah di hadapannya adalah anak dari sepupunya yang terkenal bebal untuk urusan menikah dan berkeluarga.

Dan tahu-tahu, anak Taehyung sudah sebesar ini?

Siapa tadi nama ibunya?

Jeon Jungkook?

Nama itu sungguh tidak asing… tapi siapa?

"Sudahlah hyung. Kau nanti juga akan tahu lebih jelasnya saat makan malam di rumah imo." gumam Yoongi memotong lamunan Seokjin. Kalau boleh jujur, ia mengatakannya demi menghindari tanggung jawab menjelaskan segala pertanyaan di kepala lawan bicaranya. "Kau datang, 'kan?"

Pria Kim tampak berdehem sekali. Ia menunduk untuk menatap wajah polos Jeon Taekwon yang juga tengah menatapnya. Mata bulatnya mengerjab lucu, bibirnya bergerak-gerak karena tengah mengulum permen.

"Well, aku sebenarnya ada acara." ungkapnya pelan. Ia kembali mengusap puncak kepala bersurai halus si balita. "Tapi sepertinya aku harus membatalkannya dan lebih memilih untuk menghadiri undangan imo."

"Kau memang harus, karena bocah ini dan ibunya yang jadi bintang utama."

"Ah! Begitu rupanya…"

Seokjin sepertinya paham point dari acara yang diadakan bibinya. Bagaimanapun, beberapa kali bibi Taeyeon mencoba untuk mengenalkan Taehyung kepada wanita yang dianggapnya berkelas. Kemungkinan besar, ibu dari si bocah ini tidak disukai, makanya Nyonya Kim mengundang banyak orang untuk makan malam keluarga.

Mungkin, hanya mungkin, untuk menunjukkan bahwa keluarga Kim adalah keluarga yang terpandang atau sejenisnya.

"Paman Yoon Yoon ayo kembali ke tempat poppa katanya tadi poppa minta tolong Kwonnie bantu bekerja. Kalau lama-lama terus nanti Kwonnie tidak bisa bantu mengawasi."

Yoongi merasakan tarikan di tangannya dan langsung menghela. "Baiklah, beri salam kepada Paman Seokjin dulu."

"Bubye Paman Jinnie, Kwonnie mau kembali bekerja dulu, oke?"

Dan Seokjin tertawa renyah. Ia mengangguk setelah memberikan cubitan gemas di pipi gembil keponakannya.

"Baiklah, paman juga harus kembali bekerja. Sampai jumpa nanti malam."

Si bocah mengangguk saja meski ia tidak tahu kenapa Paman Jinnie ingin berjumpa dengannya nanti malam. Ia memutuskan untuk menyeret si pemalas Paman Yoon Yoon ke ruang rapat.

.

.

.

.

.

"Nanti, Kwonnie harus bersikap sopan, mengerti?"

Jeon Taekwon mengangguk saat momma dengan lembut mengusap kepalanya. Ia baru saja mandi, dan momma langsung memakaikan kemeja biru muda dan celana pendek berwarna putih. Ada dasi kupu-kupu kecilnya juga, dan kali ini Kwonnie tidak menolak untuk memakainya.

Poppa bilang dirinya akan menjadi bos besar karena ia satu-satunya yang memakai dasi, sedangkan ayah dan ibunya hanya memakai kemeja santai tanpa dasi.

Bocah keren mana yang menolak posisi bos besar?

Pasti orang itu bukanlah Jeon Taekwon.

Jungkook dengan kemeja bermotif garis vertikal hitam-putih terlihat sedang mencoba merapikan rambut, sementara Taehyung yang telah selesai mengenakan kemeja putih polos yang dimasukkan ke celana hitamnya kini menggendong sang putra dan mencium gemas pipinya.

"Memangnya mau kemana?" tanya si bocah pada akhirnya. Sepasang mata bulatnya menatap sang ayah yang terlihat santai membawanya keluar dari kamar. "Tapi nanti tidak makan malam?"

Seingat Kwonnie, ia pergi ke rumah sakit setelah rapat melelahkan di kantor poppa-nya selesai. Dirinya dan poppa sempat makan siang di kantin rumah sakit sambil melakukan video call dengan momma yang juga sedang makan. Sampai di rumah, Taekwon tidur siang. Kegiatannya hingga saat ini sungguh tidak ada yang menempati posisi makan malam, dan jika bocah keren sepertinya tidak makan malam, nanti ia bisa kelaparan saat bangun di tengah malam.

Itu bukan ide yang bagus.

Pewaris Kim terkekeh ringan. Ia mendudukkan putranya di sofa putih gading yang ada di depan televisi. "Kwonnie akan bertemu kakek dan nenek, juga keluarga yang lain. Ada Paman Yoon Yoon juga. Nanti kita akan makan malam bersama."

Balita menggemaskan mengangguk paham. "Sama Paman Jinnie juga?"

"Paman Jinnie?" pria Kim membeo. Ia mengangkat sebelah alisnya, tanda tidak mengerti.

"Tadi Kwonnie bertemu Paman Jinnie Seokjinnie di kantor poppa katanya sampai jumpa nanti malam begitu."

Taehyung mengangguk sebagai tanda bahwa ia memiliki pemikiran yang sama dengan balita lucunya.

"Kwonnie tunggu di sini sebentar sambil nonton TV, poppa akan menjemput momma di kamar, oke?"

Jeon mungil mengacungkan ibu jari sebelah kirinya. Ia lalu fokus menonton tayangan kartun di televisi yang berukuran sangat besar.

Pewaris Kim Enterprise pun langsung beranjak untuk segera kembali masuk ke kamar. Ia tersenyum tipis saat melihat sang kekasih nampak gelisah sambil menggigit bibir bawahnya resah.

"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." gumam Taehyung santai. Sepasang lengannya dengan sangat kasual memeluk calon istrinya dari belakang. Dikecupnya lembut tengkuk pemuda Jeon.

"Aku tidak bisa, hyung. Jantungku tidak mau diam."

Pria Kim tertawa renyah. Perlahan ia membalik tubuh Jungkook sehingga mereka kini berhadapan, masih dengan kedua lengannya bertengger di pinggang yang lebih muda.

"Jantungnya jangan diam, nanti kau mati."

Jeon Jungkook cemberut. Ia memukul lengan kekasihnya, lalu menenggelamkan wajah yang memerah ke dada bidang pria bersurai arang.

"Kau dengar?" gumam Taehyung usai dirinya puas tertawa. Tangannya mengusap perlahan tengkuk Jungkook, sedikit menekannya sedemikian rupa hingga telinga pemuda manis yang dicintai kini menempel tepat di dada kirinya. "Aku juga sedang sangat gugup."

Pemuda Jeon mendongakkan kepala hanya untuk mendapati pria pujaannya tersenyum tipis.

"Tapi aku berpura-pura tenang agar bocah kesayanganku menganggapku keren." Taehyung merasakan sepasang lengan mengalung di lehernya erat. Ia kembali tersenyum. "Boleh aku minta agar kau menyembunyikan keresahanmu sedikit saja? Aku ingin kau menunjukkan wajah sedih dan gelisah hanya di hadapanku. Di depan orang lain, jadilah Jeon Jungkook yang kuat. Aku tahu permintaanku sangat egois, apalagi setelah selama ini kau berjuang sendirian. Bersamaku, kau pasti ingin melepas penat yang selama ini kau rasakan. Tapi bisakah kau menahannya jika sedang berada di depan keluargaku? Aku ingin mereka tahu bahwa calon menantu keluarga Kim adalah pemuda tangguh yang lebih dari pantas untuk bersanding dengan diriku."

"Cerewet." sahut Jungkook cepat. Sebuah kekehan lirih lolos, dan ia mengangguk singkat.

Kim Taehyung bukan pria yang pandai merangkai kata-kata, namun ia paham betul bahwa kekasihnya itu memohon agar dirinya ikut berjuang untuk hubungan mereka di hadapan keluarga Kim. Jungkook mengerti, Taehyung tidak akan bisa merebut hati keluarga besarnya sendirian.

Maka sosok yang berusia enam tahun lebih muda mendongakkan kepalanya. Ia mengecup lembut bibir sang pria pujaan. Memang hanya sebuah kecupan tanpa nafsu di dalamnya, dan Kim Taehyung membalasnya dengan lumatan perlahan sebanyak tiga kali.

"Mommaaaaaa!"

Teriakan menggema bocah Jeon berhasil membuat kedua orangtuanya tersentak. Ia berlari mendekati ayah dan ibunya yang masih berpelukan.

Jeon Taekwon tidak menyukai ini.

"Kenapa Kwonnie tidak diajak pelukan-pelukan? Selalu momma dan poppa diam-diam pelukan tidak mengajak Kwonnie tapi Kwonnie ingin ikut juga karena momma dan poppa kesayangannya Kwonnie!"

Taehyung menyambut putranya yang langsung menubrukkan badan. Pira Kim menggendongnya, lalu mencium gemas pipi gembil yang menggembung karena kesal.

"Sini, poppa juga mau peluk erat kesayangan poppa."

"Sama momma juga peluk Kwonnie!" protes si bocah karena sang bunda hanya menatap dirinya dan poppa sambil terkekeh.

Tentu Jungkook langsung mengabulkan permintaan balitanya yang menggemaskan. Dipeluknya tubuh sang calon suami dengan Jeon Taekwon di tengah keduanya. Bukannya mengerang protes karena sesak, Kwonnie malah tertawa senang saat berada di dalam dekapan ayah dan ibunya.

.

.

.

.

.

Mobil hitam milik Taehyung memasuki gerbang kediaman Kim yang kelewat mewah. Kwonnie saja sampai terkagum-kagum, mengatakan bahwa kediaman keluarga Kim nampak seperti istana yang biasa muncul di film animasi Disney.

"Tapi kalau di dalam kartun ada yang ada monsternya tinggal di rumah besar. Di rumah ini ada monsternya juga?"

Jungkook terkekeh mengusap balita yang duduk di pangkuannya. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa sebagian besar penghuninya memang monster. Tapi mana ia tega? Jagoan kecilnya harus menjadi seorang yang penyayang. Ia tak mau mengajarkan anaknya untuk membenci.

"Sini gandeng poppa." ucap sang ayah saat mereka turun dari mobil.

Seorang wanita paruh baya langsung mendekat dan membungkuk hormat. "Selamat datang, Tuan Muda."

"Kau melakukan apa yang kuminta, Bi?"

Pertanyaan itu dijawab anggukan.

"Bagus, ada di kursi penumpang bagian belakang. Nanti kuncinya tolong berikan kepada Minjae saja agar ia memindah mobil ke garasi."

Kepala pembantu kediaman Kim mengangguk. Ia melirik sekilas tuannya yang terdengar begitu ramah dan bahagia. Dan ia tersenyum kecil kepada balita yang digandeng oleh tuannya.

"Pa, pa, poppa kenapa memberi kunci mobilnya kepada bibi yang tidak dikenal?" tanya si balita polos membuat wanita paruh baya di hadapannya terkekeh. Kwonnie menoleh kepada momma-nya saat merasakan usapan di kepala. "Kenapa?"

"Poppa kenal dengan Bibi Song. Coba Kwonnie kenalan dengan Bibi Song juga." Jungkook berucap lembut. Bibi Song ditugaskan oleh nyonya besar untuk mengecek rumah pribadi Taehyung sebanyak tiga kali seminggu, dan itu biasanya menjadi waktu dimana Jungkook bertemu dan berbincang dengan wanita paruh baya yang masih terlihat muda itu. "Bibi Song orang yang baik."

Jeon kecil meringis ragu. Ia menatap kedua orangtuanya bergentian sebelum memutuskan untuk memperkenalkan diri kepada bibi yang sejak tadi tersenyum.

"Aku namanya Kwonnie. Kwonnie suka makan kue dan menggambar." si bocah berusaha membungkuk meski masih dengan sebelah tangan yang menggandeng jemari ayahnya.

"Kwonnie putraku dan Jungkook, Bi."

Awalnya, Bibi Song tersenyum saat melihat tingkah lucu bocah yang baru ditemuinya, namun ketika tuannya memberitahukan sebuah fakta, ia tidak bisa memungkiri bahwa dirinya terkejut.

Ia mendengar bahwa Tuan Muda Kim akan membawa seseorang, juga seorang anak kecil ketika makan malam nanti. Awalnya, ia tidak terlalu mempeduikan karena Bibi Song bukan tipe yang suka ikut campur dengan hal-hal yang di luar kendalinya. Terlepas dari itu, Kim Taehyung yang memiliki seorang putra menggemaskan bersama Jeon Jungkook, yang notabene adalah pemuas nafsunya, terdengar mengejutkan.

"Poppa, bibinya tidak mau berkenalan dengan Kwonnie…" balita bercelana pendek merengek. Tangan mungilnya mengayun-ayunkan lengan besar sang ayah. Bibirnya yang mencebik terlihat menggemaskan.

Mendengar itu, sang kepala pembantu tertawa renyah. Ia lalu berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan Tuan Muda Kecilnya yang lucu. "Maafkan bibi, tadi bibi terpesona karena Tuan Muda sangat tampan dan menggemaskan."

Jeon Taekwon tersenyum malu-malu, sungguh menggemaskan. Kalau saja Bibi Song tidak mengingat bahwa bocah di hadapannya adalah putra dari sang Tuan Muda, ia pasti sudah mencubit pipinya yang menggemaskan.

"Tapi Kwonnie namanya Kwonnie, bukan Tuan Muda. Kwonnie mau dipanggil Kwonnie saja."

Sang kepala pelayan terkekeh. Kwonnie benar-benar mirip dengan Jungkook. Ia pun menganggukkan kepala. "Baiklah, Bibi akan memanggil dengan sebutan Kwonnie. Kwonnie boleh memanggil bibi dengan nama Bibi Song, oke?"

Jeon Taekwon mengangguk. Ia masih tersenyum malu-malu karena dipuji tampan.

"Ya sudah, Bi. Kami masuk dulu."

Setelahnya, Bibi Song berdiri dan mengangguk. Ia menerima kunci mobil dari Tuan Mudanya untuk membuka kursi penumpang bagian belakang.

"Pa, Pa, Poppa… Minjae itu siapa? Kenapa nanti Minjae memindah mobil poppa?"

"Minjae itu sopir di rumah ini."

"Uuu… sopir itu pandai menyetir mobil?"

"Sopir pandai menyetir mobil karena pekerjaannya menyetir mobil."

"Tapi momma bisa menyetir mobil?"

"Momma tidak bisa menyetir mobil, tapi momma bisa mengendarai sepeda motor yang keren."

"Ayolah, Kook… jangan mencoba terlihat keren."

"Tapi aku memang bisa naik sepeda motor, hyung."

Bibi Song tersenyum melihat interaksi keluarga kecil Taehyung. Ia tahu betul tuannya tidak suka jika ada yang melebihi dirinya. Apalagi sekarang Taehyung memiliki seorang putra yang lincah, pasti pewaris Kim Enterprise itu ingin terlihat sebagai sosok yang paling keren di mata anaknya.

Lepas dari lamunannya, wanita dengan rambut yang dicepol itu segera melaksanakan apa yang Tuan Mudanya perintahkan.

.

.

"Take a deep breath…." bisik Taehyung sembari melingkarkan lengannya ke pinggang pemuda bersurai madu yang berjalan di sampingnya. Sementara itu, tangannya yang lain menggandeng si balita yang riang menggoyangkannya sambil berjalan.

Jungkook mengangguk. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya sekuat tenaga. Kim Taehyung saja bisa melakukannya. Sebagai calon pendamping sang Tuan Muda, Jungkook juga harus mampu melakukan hal yang sama.

"Nanti Kwonnie akan bertemu paman, bibi, juga kakek dan nenek. Beri salam dan jadi anak yang baik, siap?"

"Siaaapp…" gumam si bocah riang. Ia menoleh ke arah ibunya yang baru saja berpesan. "Kwonnie anak jagoan harus bersikap baik karena anak baik itu baik."

Pemuda Jeon terkekeh.

Keluarga kecil itu berjalan memasuki ruang tengah dimana beberapa orang sudah berkumpul.

"Ahh, sudah datang rupanya." ucap seseorang cukup keras. Pria itu memakai kemeja santai berwarna merah muda yang dipadukan dengan celana panjang putih berbahan jeans. "Kwonnie!"

"Pa, itu Paman Jinnie." ucap Taekwon mencoba berbisik saat ia melihat seseorang yang tadi siang berkenalan dengannya di kantor sang ayah.

Taehyung hanya mengangguk sambil menunjukkan senyuman.

Ia segera membawa calon istri dan anaknya mendekati sofa, tempat para sepupunya berkumpul.

"Kwonnie, ayo berkenalan dengan paman dan bibi."

Si bocah beringsut untuk bersembunyi di belakang kaki momma-nya. Bagaimanapun, ia tidak pernah berkenalan dengan orang sebanyak ini, apalagi semuanya orang dewasa, dalam waktu yang bersamaan. Di kantor ayahnya tadi, ia hanya perlu duduk dan mengawasi sehingga ia merasa dirinya baik-baik saja. Tapi sekarang, ia harus memperkenalkan diri dan bicara dengan mereka.

"Tidak apa-apa, paman dan bibi baik." Jungkook mencoba menenangkan. Ia segera menggendong putranya yang terlihat malu dan ragu.

"Yang duduk di sana itu Paman Chan dan Paman Baek." sang ayah mencoba mengenalkan dari yang duduk di ujung paling kanan. Ia mengatakannya urut sehingga Taekwon bisa mengingatnya lebih mudah. "Kwonnie sudah bertemu dengan Paman Jinnie di kantor poppa. Lihat, Paman Jinnie tersenyum kepada Kwonnie."

Si bocah melambaikan tangannya ragu ke arah pria berkemeja merah jambi. Bibirnya tersenyum lebar menunjukkan rectangle smile yang mirip seperti milik ayahnya.

"Ada Paman Jongin dan Bibi Krystal."

Kali ini giliran pria berlukit eksotis yang ditunjuk oleh Taehyung. Pria itu duduk bersebelahan dengan wanita cantik berwajah dingin.

Kim Taehyung sepertinya paham dengan apa yang coba ibunya lakukan pada makan malam kali ini.

Tidak ada paman atau bibi Taehyung, namun beberapa sepupunya yang terbilang sukses turut hadir. Kemungkinan, Kim Taeyeon ingin menunjukkan bahwa Kim Taehyung seharusnya bersanding dengan sosok yang sukses seperti para sepupunya.

Min Yoongi belum datang, ada kemungkinan beberapa orang lagi akan ada di acara makan malam nanti.

Tanpa sadar sebelah lengan Taehyung memeluk erat pinggang pemuda Jeon. Dadanya terasa sakit. Ia sadar, kekasihnya bahkan tidak kuliah. Dan itu membuatnya merasa takut. Kim Taehyung sungguh takut kalau nanti latar belakang pendidikan Jungkook akan dijadikan bahan guyonan.

"Perkenalkan…"

Suara lembut itu membuyarkan lamunan seorang Kim Taehyung. Ia segera menoleh hanya untuk mendapati wajah rupawan sang kekasih yang tengah tersenyum sambil menatap para sepupunya.

"Namaku Jungkook, Jeon Jungkook. Salam kenal…"

Pemuda Jeon membungkukkan tubuhnya, masih dengan menggendong putra mereka, masih dengan lengan Taehyung yang erat memeluk pinggang rampingnya.

Tak berapa lama, Jeon Jungkook menegakkan badan, membujuk putranya supaya memperkenalkan dirinya juga.

"Kwonnie, jagoan momma, perkenalkan dirimu, sayang."

Jeon Jungkook tersenyum lembut, terlihat sangat manis di sepasang mata kecoklatan pewaris Kim Enterprise. Ada rasa percaya diri, juga harapan yang terselip di sana.

Ahh… benar juga. Kim Taehyung yang memintanya untuk terlihat tegar dan kuat.

Bocah kesayangannya terlihat ragu, namun ia menatap paman dan bibinya satu per satu. Dengan tubuh yang masih berada di gendongan sang ibu, Taekwon menghadapkan tubuhnya ke arah para orang dewasa yang baru ditemuinya. "Nama Kwonnie, Kwonnie. Umur Kwonnie empat tahun, dan suka Optimus Prime dan Bumble Bee. Kwonnie bisa makan papika tapi tidak terlalu suka, tapi Kwonnie bisa makan. Kwonnie juga suka menggambar."

Kim Seokjin menjadi satu-satunya yang memekik gemas saat keponakannya itu membungkukkan badan.

Ia segera beranjak dari sofa untuk selanjutnya mendekati balita Kwonnie yang lucu.

"Sini gendong Paman Jinnie. Paman Jinnie ingin menggendong keponakan paman yang pintar."

Awalnya Taekwon terlihat ragu, namun ia berakhir dengan berpindah ke gendongan Seokjin karena pria berbahu lebar itu mengiminginya dengan permen coklat.

Taehyung hampir saja menggandeng kekasihnya untuk duduk di sofa, tetapi sosok seorang wanita yang sangat dihormatinya berjalan memasuki ruangan dengan diikuti oleh sosok pria.

"Eomma…" gumamnya sambil sedikit membungkuk. Pelukannya pada pinggang sang kekasih mengerat.

Jungkook melakukan hal yang sama, membungkuk.

"Taehyung…"

Suara itu terdengar begitu familiar, diikuti sesosok wanita lainnya yang muncul dari balik badan pria yang mengikuti Nyonya Kim. Wajahnya menunjukkan keterkejutan saat sepasang matanya menangkap Jeon Jungkook berdiri di samping Kim Taehyung.

"Kau…"

Bibir si wanita bersurai panjang bergetar. Ia segera berjalan mendekati kedua lelaki yang terpaut usia enam tahun, lalu memeluk salah satunya erat seolah dirinya tak akan pernah mau melepasnya lagi.

Sesak.

Dada Jeon Jungkook terasa sangat sesak.

.

.

TBC

.

.

Tidak akan banyak berkata diriku ini…..

.

Langsung ke akhir kata saja,

Review please