Don't Like, Don't Read

Warning: cerita didominasi oleh konten Boys Love a.k.a Yaoi, OOC demi keperluan cerita, miss typo, no sensor. Cross Over. Alur nge-slow~. Penggunaan bahasa Gue-Elo pada beberapa scene.

Pairing: AkaKuro, MuraHimu, MidoTaka, AoKise. Random pair. Slight! NijiHimu, Bro!TakaHimu, Bro!KaruAka (maybe). Request dipertimbangkan.

Note: Teikou di sini adalah nama SMA. Akashi di cerita ini adalah Ore-shi, switch ke boku-shi disesuaikan jalan cerita. Slight character dari fandom lain (beberapa berperan penting tapi tidak semua). Tokoh utama tetap para karakter KnB dan jalan cerita fokus pada karakter mereka.

Summary: Hanyalah hidup yang kujalani di bawah langit ini. Inilah kisah yang kupilih bersama warna-warninya. Tawa dan tangis. Bukankah tak ada artinya bila sendirian?—/'Apa yang sebenarnya Akashi-kun rasakan?'/—/Sendiri pun tidak apa. Karena, sejatinya akulah yang harus menanggungnya./—/ 'Sebenarnya seperti apa dirimu Kuroko Tetsuya?'/—/RnR/CrossOver/Gintama/Ass. Classroom/Yaoi/AkaKuro(main pair)


.

Klining~

"Terima kasih atas kunjungannya."

Kurokono menghela pelan setelah salah satu pelanggannya keluar lagi dari Café. Bola mata hitam memandang dari balik etalase bening yang lebar, melihat langit yang perlahan mulai memerah dan akan menggelap. Menandakan hari beranjak malam. Cafénya pun sudah menyepi dari hingar bingar-anak-anak remaja yang memanjakan diri sepulang sekolah. Hanya tersisa beberapa dari mereka yang nampak sibuk dengan beberapa percakapan.

"Tama, sudah waktunya menyalakan lampu di depan."

"Hai, Tenchou. Apa saya perlu memanggilkan Mitsuba-san untuk membantu di depan?"

"Tidak usah. Dia pasti sedang istirahat. Aku sendiri sudah cukup."

Wanita berkepang hijau itu menggangguk pelan sambil tersenyum kecil. Lalu, berjalan ke arah belakang untuk menyalakan lampu.

Klining~

Kurokono yang tadinya mau ke belakang kasir membatalkan niatnya karena bel Café kembali berbunyi, menandakan ada pelanggan lain yang datang.

"Selamat datang—oh." Kurokono tersenyum tipis melihat rombongan tamunya.

"Yoosh! Hari ini aku akan makan steak ekstra!"

"Bisakah kau Jangan berteriak? Menjijikkan sekali, ish!" delikan sinis dari pemuda tinggi berwajah cantik.

"Sore, Tenchou~ kami ganggu, ya!"

Kurokono tertawa kecil melihat tingkah ketiga remaja yang cukup unik untuknya—mengingatkan dia pada kumpulan manusia-manusia dengan stadium keidiotan sama dengan gesrek yang pernah dia kenal. Nostalgia karena generasi muda memang indah ("Penulis, aku tidak setua itu." inner dengan senyum kece pembawa kematian).

"Selamat sore Hayama-kun, Mibuchi-kun, Nebuya-kun. Baru pulang latihan klub?"

"Begitulah~... Nee, Tenchou. Sudah kubilang panggil aku Reo-chan saja~..." Mibuchi kedip manja. Mumpung yang punya Café masuk standar cowok ikemen.

Kurokono tersenyum malaikat, sinar berkah membuat kedip pinky terpental. "Maaf, itu di luar kebiasaanku. Duduklah, ada tempat kosong di dekat jendela."

Mibuchi memajukan bibir (pura-pura) kesal karena pintanya ditolak. Kurokono tersenyum saja. Memperhatikan gelagat tiga remaja SMU yang cukup dekat dengannya itu. Terutama Hayama, mereka sangat mudah diajak bersosialisasi—walau, Mibuchi sendiri awalnya hanya modus menggodanya. Haha, pikirnya geli mengingat saat pertama kali bertemu dengan ketiga bocah ini.

Oh, ya? Ngomong-ngomong kenapa sepupunya itu belum pulang hari ini? Seingatnya jadwal latihan kelas satu dan kelas dua berbeda bukan? Apa dia pergi main dulu?

Kurokono mengenyahkan pemikiran yang tidak-tidak. Kalau Kuroko tidak menghubunginya sampai petang tenggelam dia baru akan mengambil tindakan.

Kurokono mengambil alih pesanan ketiganya sekalian bercengkrama. "Sudah menentukan pesanan? Hm, tadi Nebuya-kun mau steak, minumannya?" Kurokono mencatat, tidak perlu bertanya lagi tentang medium atau rarenya karena sudah cukup tahu selera ketiganya.

"Parfait raksasa dengan bonus spesial dan steak—." Berniat mengacungkan lima jari, tapi nampak berpikir lagi. "Hum, sepuluh piring."

Kurokono nyaris tersedak. Yah, dia sudah tahu porsi makan Nebuya cukup—oh, bukan. Sangat besar. Dia juga senang-senang saja kalau pendapatannya bertambah.

Tapi, bagaimanapun dia mengerti situasi bahwa mereka masih remaja dengan uang saku pas-passan—walau standar harga penjualan di tempatnya disesuaikan dengan kantong-kantong kebanyakan, Kurokono menolak keras dengan yang namanya pemborosan. Maklum, hidup sendiri membuatnya berpikir kritis tentang makan besok nasi garam atau nasi kecap ('Aah, jadi teringat masa-masa perjuangan itu' Pikirnya mengawang langit, 'Belum lagi kalau kau punya teman dengan perut karung tukang malak.' Sungut dendam tiba-tiba menjalar. 'Ah, kepala uban sial itu belum bayar hutang.'). Selain itu kondisi pencernaan mereka masih belum memungkinkan menampung banyak makanan sekaligus setelah didera latihan klub yang lumayan keras.

"Steak kami hanya tersisa untuk tiga porsi." Kurokono pasang senyum ibu rumah tangga berbakti. "Maaf, tidak bisa memenuhi permintaanmu. Nebuya-kun. Tapi, kau tidak boleh makan sekaligus banyak setelah latihan keras."

"Tiga tidak cukup—!"

"Chotto, kau harusnya berterimakasih karena Tenchou memperhatikan kondisimu. Kau hanya akan makin mirip gorila dengan cara makanmu yang tidak cantik itu."

"Otot itu segalanya!"

Mibuchi melengos tidak peduli, "Kalau begitu aku mau sphagetti, Tenchou. Dan, butterfly tea untuk minumnya."

"Baiklah, bagaimana denganmu Hayama-kun?"

"Hum—aku bingung Tenchou! Semua terlihat enak!"

"Boleh aku rekomendasikan? Kebetulan menu hari ini ada—..." kata-kata itu tidak berlanjut saat bola mata kehitaman itu menangkap sebuah bongkah hitam yang perlahan mendekat dengan teratur ke arah mereka.

—akan menghantam etalase dalam hitungan detik.

"AWAS!"

Tubuh itu bergerak mendekat merengkuh ketiga kepala ke dalam tubuhnya.

.

PRAAANG!

.


.

12 Seasons In My Life

(...karena itulah kami di sini. Bersamamu. Bersama kalian semua. Di tempat yang akan menjadi kenangan...)

.

Original Story by Rin

Disclaimer Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Gintama © Hideaki Sorachi

Ansatsu Kyoushitsu © Yuusei Matsui

Drama, Humor, Romance, Friendship, Family

Rated T

.


9th. Season: [Spring] Different from Him.


.

Tingtong

Suara standar sebuah bel rumahan menggema saat Kuroko memencet untuk ketiga kalinya. Bersama kedua orang lainnya, Akashi dan Murasakibara mereka pergi ke apartemen tempat Himuro tinggal seperti yang dikatakan Akashi. Tapi, sudah sejak sepuluh menit berlalu tidak ada tanggapan dari dalam. Kuroko mendengus pelan karena merasa sedikit sangsi bahwa pemilik kediaman ada di dalam. "Apa Himuro-san benar-benar di dalam?"

"Sejak kemarin Muro-chin memang tidak menjawab sama sekali." Murasakibara berkata sambil mengunyah permen. Rautnya kembali malas, seolah wajahnya yang serius beberapa saat lalu hanyalah fatamorgana karena mata kekurangan vitamin A saja, "Nee, terus aku tanya tetangganyaia bilang Muro-chin memang sempat pulang tapi tidak ada orang yang keluar dari kamar ini sejak kemarin-kemarin." raut wajah itu menjadi cemas. Mungkin, karena dia tahu kebiasaan kecil Himuro yang lebih suka membeli makan di luar daripada membuat sendiri. Kuroko bahkan bisa mendengar Murasakibara menggumam, 'Apa Muro-chin sudah makan?'

"Kurasa dia di dalam. Aku bisa merasakannya." Akashi yang berdiri di samping Kuroko sambil bersidekap meneliti pintu tertutup terlalu intens. Seolah menerawang di dalamnya. Kuroko curiga kalau mata Akashi kalau belang bisa tembus tembok.

Kuroko dan Murasakibara melihat Akashi dengan cenung.

'Ih, tuh kan. Mata Akashi-kun porno.'

"Jangan berpikir yang tidak-tidak Kuroko." Akashi mendelik ditatapi dengan raut wajah jijik sedatar talenan. Sial. Bocah ini maunya apa sih? Dikasih tangan banyak prasangka. Dibiarkan menghina dina. Mungkin, Akashi perlu beri privat tata krama dan pengalaman hidup supaya tengil satu ini bisa menundukkan kepala di kakinya. Ah, ide bagus kebetulan dia banyak tahu kelemahan bocah ini. Akashi tertawa setan dalam hati.

Kuroko merinding, menoleh pada Akashi yang wajahnya dibalur lulur surga. Cerah berseri.

'Akashi-kun, dia mau apa?' pikirnya bergidik—terus langsung pencet bel lebih ganas. Merindingnya sampai ke ujung jari. Akashi Seijuurou punya bakat mistis luar biasa. Hawanya mencekam sampai ke sumsum tulang.

Kuroko memencet bel sekali lagi, dan sama seperti tadi tidak ada reaksi berarti dari kehidupan di dalam sana.

"Tidak diladeni sama sekali, Akashi-kun." Nada suara Kuroko menjadi monoton fals. Bukti dia minta izin menggunakan kekerasan untuk mendobrak pintu untuk masuk. Tapi, tidak diizinkan. Katanya percuma, Kuroko itu hanya tulang dilapis kulit dibalur tepung putih. Otot tak punya coba hantam pintu, mati patah tulang Akashi tak mau tanggung jawab urus mayatnya. Kuroko terhina luar dalam.

"Muro-chin!"

Tapi, pada akhirnya yang habis sabar duluan adalah Murasakibara. Rasa geram karena diabaikan berhari-hari tentu menyayat habis sumbu kesabaran. Ditambah Murasakibara yang dikenal bermental bocah, bisa tahan diri tiga hari saja rasanya keajaiban.

"Nee, Muro-chin di dalam kan? Buka pintunya Muro-chin!"

"Jangan dipukul pintunya Murasakibara-kun. Nanti pintunya rusak kita harus ganti rugi."

Akashi mendecak. Dasar plin-plan. Tadi, siapa yang ngasih kode untuk menghancurkan pintu?

Tapi, syukurlah tidak dilakukan. Karena, sedetik setelah ucapan Kuroko, gerandel kunci yang dibuka lumayan terburu masuk ke pendengaran mereka.

Klek

"Atsushi...?" daun pintu kecokelatan terbuka menjeblak. Menampilkan seorang Himuro Tatsuya yang nampak lebih lusuh dari sebelumnya. Kelereng abu itu membelalak antara ketidak percayaan dan rasa lega melihat kunjungan dadakan tersebut.

Menarik alis, Akashi berpikir kalau pemuda di depannya ini lebih kurus dari sebelumnya.

"Kenapa kalian di s—." Greptanpa aba-aba Murasakibara langsung menerjang Himuro dalam satu pelukan erat. Empunya nyaris terpelanting jika tidak di tahan gravitasi raksasa di depannya.

"Muro-chin aku kangeen..." sengguk manja di balik lehernya. Suara itu merasuk pelan ke dalam telinganya. Dan bagai sihir, memberi cercah sinar ke dalam sklera yang memendung.

"...ya."

Bibir membuka lalu terkatup rapat. Nafas ditarik untuk dilepas dalam satu dengusan pasrah. Alis tertaut dalam. Tapi garis wajah memberi tahu bahwa dia tersenyum.

"Terimakasih sudah merindukanku Atsushi." Himuro tersenyum antara pahit namun senang dan ingin menangis. Menepuk pelan punggung besar yang bergelayut manja padanya. Himuro tidak kuasa menolak—bukan karena dia nyaris sesak nafas karena peluk itu begitu erat.

Hanya saja dia memang menginginkan ini.

Kehangatan akan sebuah peduli dari seorang manusia yang lain.

"Boleh kami bicara di dalam Himuro-san?"

.

.

"Aku hanya punya teh saja. Tidak masalah, kan?" Himuro nampak meracik teh yang dimaksud di dapurnya. Kedua pasang merah biru duduk di sofa berdampingan, menunggu empunya selesai membuat minuman. Murasakibara sendiri memilih mengekor pada induknya meski sudah disuruh berkali-kali untuk duduk saja. Tapi, memang tipikal dasarnya adalah anak mama Himuro pasrah digelayuti bocah kelebihan massa tersebut.

"Muro-chin kenapa tidak masuk, siih?" gelayut Murasakibara sambil tanya-tanya sedari tadi. Bobot pertanyaannya sepele, tapi cukup untuk wajah Himuro yang mengeras mendengarnya. Tentu saja, masalah ini bukan hal yang bisa diceritakan begitu saja.

Walau, sangat ingin dia gamblang agar hati ini menjadi lega.

"Ah—aku hanya sedang tidak enak badan saja, Atsushi." Dusta Himuro lancar.

"Muro-chin kok kayaknya tambah enteng." Lingkar pinggangnya jadi makin kecil. Dia tahu Himuro itu langsing, badannya ideal bikin sirik cewek yang mau diet. Tapi, karena gender menyatakan dia cowok, tetap saja berat. Tapi, sekarang? Murasakibara yakin dia akan dengan mudah mengangkat Himuro sebelah tangan. "Muro-chin sudah makan belum hari ini?"

"Y—ya, sudah kok... sedikit." Himuro mendesah. Satu lagi kebohongan, satu lagi dosa bertambah. Sudah berapa banyak dia memelintir kenyataan dengan lidahnya? Tak terhitung mungkin? Entah apa kebohongan disadari oleh bocah ungu di belakangnya ini.

Tapi, mungkin bocah berambut merah itu mengetahuinya.

Buktinya mata itu memandangnya tajam penuh selidik.

Himuro jengah. Diamati seperti pidana bukanlah hal yang menyenangkan.

Akashi sendiri paham kalau dia menyelidik terlalu tajam. Tapi, nyatanya dia tahu kalau pria berponi itu berbohong. Akashi tak perlu sebaris rantai penjelasan, cukup dengan mengamati dia tahu bahwa tidak sekalipun pemuda itu menyentuh makanan dalam dua-tiga hari ini. Terbukti dengan tempat sampah yang begitu bersih dan tidak adanya bekas alat-alat masak maupun makan di wastafel.

Untuk apa dia berbohong? Untuk menutupi rentet tanya meminta kepastian sebuah kejelasan? Kenapa ditutupi? Bukankah itu membuktikan dia punya rahasia yang mati-matian untuk dilindungi?

Pikir. Pikir. Sungguh sulit mengorek langsung karena tersangka bukanlah mahluk polos yang dengan mudah membuka mulut. Dia setara Akashi. Licik. Punya seribu macam cara untuk bersembunyi. Memiliki senyum tak berdosa sebagai tameng yang mumpuni. Sungguh—akan lebih mudah jika mereka berada dalam sunyi mencengkam sebelum satu sesi wawancara menegangkan. Tapi, sial. Suasana terlalu fuwa-fuwa. Murasakibara terlalu rindu hingga lupa tujuan utama. Himuro Tatsuya sungguhnya punya kemampuan mengerikan memanfaatkan kepolosan dan kemanjaan Murasakibara untuk menciptakan atmosfer. Dia pelakon yang terlalu baik sampai gundah gulananya tak terlihat sama sekali.

Yah.

Dengus.

Kecuali ada orang yang terlalu bodoh membaca situasi dan

"Himuro-san? Apa kau tidak masuk karena ini ada hubungannya dengan pria yang kemarin?"

punya mulut sesadis jelaga bara yang sinkron dengan batu kali.

Akashi nyengir kemenangan. Dalam hati. Sasuga, Kuroko Tetsuya. Kau dan mulut tidak tahu dirimu memang paling pas menghancurkan atmosfer.

Tringsendok membentur bibir gelas, gula terjun merata pada permukaan lantai, Himuro tercengang.

Himuro Tatsuya itu licin seperti belut.

Tapi, rapuh sekali sentuh.

Bibir terkatup dengan nafas ditahan sekian detik. Kelereng abu mengecil, pupilnya bergetar dalam satu sentak. Ah, dia lupa kalau Kuroko saat itu ada di sana. Sungguh. Itu adalah tanya yang tidak harusnya dikatakan dalam sesi damai ini, kan? Apa anak ini tidak punya filter tentang yang namanya basa-basi?

"Ahaha, apa maksudmu? Jangan aneh-aneh, deh." Himuro tersenyum dengan lugas seolah hal itu tidaklah terjadi—sambil mencari serbet untuk membersihkan gula-gula yang tercecer. Sekejap dia merasa tegamh. Berpikir penuh kekalutan. Apa mungkin Kuroko bermaksud mencari tahu tentang hal itu? Sekarang? Di sini?

Banyak waktu tapi kenapa harus sekarang?

Saat di depan Murasakibara Atsushi?

Tegup ludah. Pahit sekali. Bukan tidak ingin dia bercerita. Dalam lubuk hati dia pun mengharap seseorang yang menyadari perihal dirinya. Ingin mengutarakan pada orang yang sekiranya tepat.

Dia hanya tidak siap.

Dan, jika boleh memilih. Himuro lebih-lebih tidak ingin hal ini diketahui oleh anak besar ini—ataupun Nijimura sekalipun.

Himuro sudah sadar kalau Murasakibara tengah memasang telinga. Buktinya dia berhenti bermanja dan berhenti menambah beban di tubuhnya. Tengah menunggu bibir itu menjawab sebuah balas yang valid. Tapi, nyatanya tak kunjung juga terucap. Bibir itu tak sekalipun bergeming dan hanya menaruh bisu.

Mungkin, Murasakibara tidak tahu karena dirinya tidak fokus. Atau, mungkin Himuro yang terlalu ahli dalam berekspresi.

Tidak menyadari bola mata itu membentuk segaris tajam sebuah nafsu keji.

"Pria bermata satu dengan poni menjuntai mirip style Himuro-san kenapa kau takut dengannya?"

Yang dituakan menggeram. Dasar anak yang mengerikan. Punya berapa nyali sebenarnya dia?

"Dengar. Aku tidak—."

"Pria siapa Muro-chin? Dia mengancammu?"

Gulp—andai lawan bicaranya hanya Kuroko Tetsuya mungkin dia bisa mengelak dengan berbagai dalih. Atau dengan mengancam sedikit? Dia juga bukan orang biasa yang baik-baik.

Tapi, dia tidak mau membuat bayi titannya ini lebih khawatir lagi.

Apa dia tidak memikirkan perasaannya bertanya seperti itu?

Aku tahu mereka khawatir.

"Apa dia pernah melakukan hal yang buruk pada Himuro-san?"

Kenapa dia mengoceh terus dari tadi?

Apa kau tahu seberapa dalamnya kalau hal itu terumbar dari mulutku sendiri?

Walau, aku senang mereka peduli padaku.

Mata kebiruan mulai memancarkan kilat desak. Dia tidak mau mundur. Akashi yang sangat tahu kalau Kuroko itu batu dan kalau sudah mau tahu—disuruh mundurnya harus ngotot. Satu-satunya untuk menyingkirkan adalah dengan jalan kekerasan. Itupun tidak yakin berhasil kalau orang lain yang melakukannya.

Terakhir dia nyaris kena hantam oleh Haizaki saja masih kuat ngototnya.

Kuroko sendiri masih merapat pada sofa. Dia masih duduk dengan sopan. Tangan dikepal di atas paha. Suaranya masih mutlak datarnya. Mungkin, menahan diri untuk tidak maju menerjang. Setelah diberi bendera hijau oleh Akashi tentang bantuan—setelah pusing terbentur tiang tak-tahu dan atribut sopan mengurat nadi—ditambah edisi tindih-tindihan di bawah matahari senja, Kuroko sudah tidak ambil pusing lagi mengungkap rasa penasarannya.

Hanya satu hal saja yang dipikirkannya saat ini.

Dia tidak bisatidak mau membiarkan Himuro.

Dan satu tanya lagi, untuk menyulut bom itu meledak.

"Himuro-san... Apa kau baik-baik saja selama ini?"

Himuro menghardik cangkir.

Cukup!

BRAK!

"JANGAN BICARA LAGI!"

Prang!

Raung menggema. Murasakibara yang di dekat Himuro hanya membola matanya. Terkejut dengan keberingasan tiba-tiba sang induk. Sisi lain yang tak pernah dia tahu—tahu, tapi biasanya kan hanya Kapten monyong yang kena. Tidak ada lagi yang namanya menjaga image, Himuro Tatsuya sudah menggelap, memandang tajam dengan kilat amarah. Satu picu ledakan lagi dia tidak yakin dirinya bisa menahan untuk tidak melukai.

"Sebenarnya mau apa kalian kemari?"

Dia benci dengan semua rasa ingin tahu yang mengoreknya paksa.

"Apa kalian hanya ingin memberondongku dengan tanya-tanya itu? Tidak bisakah kalian tidak ikut campur?"

Lebih daripada itu, dia marah karena Kuroko tidak memberinya kesempatan untuk kembali bersembunyi. Menggelung dalam kepompong. Agar aman. Agar tidak tersentuh. Agar dia tidak kembali bertemu dengan rasa sakit itu.

"..." Kuroko terdiam. Akashi melirik pada warna biru yang mengatup. Mungkin dia kaget. Mungkin menyesal. Mungkin dia merasa terpojok karena bersalah sudah bertanya yang tidak-tidak—HA!

Pikiran darimana itu Akashi Seijuurou?

Bocah ini terlalu biadab untuk fantasi macam itu.

"Aku hanya tidak mau membiarkanmu Himuro-san."

Lihat?

Justru dia yang terkejut dengan nada tenang yang mengerikan itu

Apa orang biasa bisa setenang itu setelah dihardik karena mengganggu privasi?

Cerulean teduh. Safir tak beriak. Tegas dalam kaca tak berembun.

Biru yang jernih tanpa sedikitpun gentar atau keraguan.

"Aku ingin tahu. Jadi, aku bisa bertindak untuk membantumu. Berdua lebih baik daripada satu, kan?" Pandang terarah pada cermin abu. Lurus menusuk. Dunia hanya pajangan semata baginya. Karena, di bola mata yang tercermin itu hanya ada seorang Himuro—hanya dia.

Himuro menegup ludah—intimidasi macam apa ini?

Tidak. Ini bukan intimidasi. Perasaan tertekan ini lebih pada…—sebuah ketegasan.

"Kau tidak sendirian Himuro-san."

Sebuah kebulatan tekad.

.

Aku... Sama sekali tidak berpikir bahwa aku harus mengatakan ini pada orang lain.

Sendiri pun tidak apa. Karena, sejatinya akulah yang harus menanggungnya. Aku justru akan mengutuk diriku andai hal ini tak dapat kuselesaikan sendiri.

Tapi... Mendengar ada orang lain yang bertekad menerimaku dan membantuku.

.

"Tetsuya, apa yang kurasakan, bukan urusanmu. Kau tidak perlu sengaja terlibat dalam masalahku."

.

Aku senang sekali.

.

Tapi, bahkan sampai titik dimana Himuro mengetahui keseriusannya dia masih mengatup. Tuli akan perhatian. Membisukan kenyataan.

'Karena pada orang yang harusnya tahu akan kebenarannya aku pun tidak bisa jujur.'

pada orang yang harusnya dia curahkan semuanya saja dia tetap membisu.

'Shuuzou.'

Akashi yang dari tadi hanya diam—memperhatikan, bukan tidak peduli. Karena, dimanapun dia harus jadi pihak yang meluruskan. Pihak yang memvalidasi hasil akhir dalam rangkuman aksara. Membenarkan dan selalu benar—membuka mulut. Tahu bahwa ini gilirannya. Sesaat setelah Himuro tahu bahwa kebatuan Kuroko tidaklah mudah dipecah. Saat itulah dia mengambil alih.

"Aku akui yang dilakukan Kuroko tidak sopan Himuro-san." Dalam sebuah ketegasan yang hening, "Tapi, terutama Murasakibara dan Kuroko sangat mengkhawatirkanmu sampai bertengkar dengan Nijimura-san."

Dan sedikit bumbu penarik.

Kepala ungu langsung panik.

"Aka-chin kok dibilangin!" Murasakibara naik nada tinggi. Marah? Lebih tepat lagi kalau dia seperti anak yang menyembunyikan kenyataan bahwa dia ngompol dan saudaranya membeberkan di depan sang ibu yang siap mengaum.

Dalam konteks ini, itulah kenyataannya.

"Kau bertengkar dengan Shuuzou?" Himuro memandang Murasakibara tidak percaya. Perhatiannya melengah dan mereka siap baku hantam? Himuro bingung harus menghardik atau tertawa.

Murasakibara langsung mencibir ngambek, tekuk lutut sambil monyong terus goleran di dapur, kesal karena si kepala merah itu ember pada sang induk. "Habis dia nyebelin."dengan nada merajuk khas anak-anak yang tidak mau disalahkan. Menggembungkan pipi dengan imutnya. Sampai hati Himuro mencubit pipinya pelan.

Di luar dugaan kikik itu mengalun.

"Hahaha… Fuh, dasar. Untuk dia tidak sampai turun tangan. Shuuzou itu karateka, lho." Mendesah. Mengelus kepala yang tingginya keterlaluan. Sambil membatin jahat (yah, tapi kalau kau sampai kena hajar si monyong itu dia yang akan kuapa-apakan.)

Tapi, apa pantas Himuro berpikir seperti itu sekarang?

Kedua tangan bertumpu pada counter dapur, mendadak pening menjalar hebat. Himuro tahu kalau memang sudah saatnya dia membuka mulut—karena sejatinya dia tidak ingin menjadi sama seperti orang itu.

Yang selalu membisu di balik usap hangatnya. Yang berbohong untuk segalanya.

Mengepal. "Kalian tahu dari siapa?"

Hatinya tersayat. Perih. Logikanya mengatakan tidak ingin. Tidak boleh. Jangan. Bahaya. Tutup mulut. —Kau akan ditinggalkan lagi.

Namun, hati begitu ingin. Menginginkan. Ingin terbuka. Ingin menangis. Ingin berteriak. Ingin jujur. Karena tersentuh. Karena terharu. Karena...—yah, dia harus.

Sebelum semuanya terlambat baginya.

Sebelum dia kehilangan dunia yang bagai mimpi di siang hari ini.

"... Maaf, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Tasuke-nii dengan Sakata-sensei... hari itu." Kuroko setengah menunduk kali ini, membuka aib bahwa dirinya menguping, sementara menguping adalah tindakan tak patut dan bisa kena pelangaran privasi. Tapi, mau bagaimana lagi? Situasi saat itu tak memungkinkan dirinya mundur setelah didera rasa khawatir yang sangat.

Hari itu. Hari saat Takasugi kembali menampakkan diri setelah sekian lama menghantui mimpinya. Hari yang membuat dirinya kembali merasa kacau hingga tidak bisa mengendalikan emosi. Hari yang membuatnya mengenang lalu terpuruk kembali.

"... Begitu... Master, ya..." Himuro dari dulu sudah curiga, kalau sebenarnya Kurokono mengetahui tentang dirinya. Lihatlah perlakuan yang protektif itu, tidak ditunjukkan terang-terangan dan karena dasarnya dia baik pada semua orang. Tapi, Himuro tentu merasakannya.

Kebaikan orang yang tidak tahu apa-apa dengan orang yang mengetahui itu berbeda.

Kuroko gelisah karena Himuro diam saja. Apa Himuro ingin henshin kembali jadi mahluk kegelapan? "Apa kau marah pada Tasuke-nii?"

"Eh?" Himuro malah kaget ditanya begitu. "Tidak—bukan begitu."

"Kurasa akan lebih pas kalau Himuro-san gondok padamu."

Kuroko mengalihkan pandang pada Akashi dengan sebal. "Akashi-kun, kenapa malah mem-bullyku? Kau janji mau bantu, kan?"

"Aku sudah membantumu. Untuk meluruskan kesalahpahaman karena mulutmu yang tidak mau direm itu."

"Jadi, Akashi-kun pikir aku cablak?"

"Memang iya Kuroko. Ternyata selain mulut tidak tahu diri, kinerja otakmu setara siput buntung."

"Jangan mengatai orang Akashi-kun. Nanti berbalik padamu tahu rasa."

"Huh, aku takut sekali."

Merah Biru adu pelotot. penonton hanya pajangan. Himuro tersenyum miris . Sejak kapan tajuk awal menjenguk dirinya jadi sarana berantem para chibi-chibi? ("Biarin aja Muro-chin, Kuro-chin sama Aka-chin juga begitu kok di kelas. Hehe.", "Aku malah heran kalau ternyata mereka bukan jodoh, lho.")

"Aku tidak marah pada Master... Atau padamu. Yah—walau tadi sempat ingin kulempar cangkir. Tapi... Mungkin aku hanya tidak habis pikir..."

Orang seperti kalian ada.

"Kalian... Terlalu baik."

Orang yang bisa mengutamakan orang lain sebelum dirinya sendiri.

Himuro tidak bisa tidak terharu dengan semua itu. Lebih daripada itu, kebaikan yang begitu besar dilimpahkan membuatnya sesak sampai dia ingin menangis.

Lenggang, mengapit nampan dengan kedua tangan, teh sudah di tata siap di bawa, disajikan di depan para tamu. Pecahan kaca dibiarkan saja, belum ada niat untuk dibereskan. Di belakang Murasakibara mengikut, duduk menyandar di sofa panjang bersama Akashi dan Kuroko. Himuro mengambil sofa kecil. Membisu saja. Menyiapkan diri. Memilih kata untuk merangkum kisah.

Agar tidak menangis nanti.

Desah menenangkan hati, "Takasugi Shinsuke."

Kepala biru dan ungu meneleng bingung. Tidak kenal.

"Itu orang yang waktu itu Kuroko." Himuro tersenyum. Palsu yang tidak menyenangkan. "Dia kakak angkatku."

Kali ini terdengar suara tersedak.

"Kakak?" Kuroko membingung. Reaksi Himuro waktu itu sungguh tidak menyenangkan untuk sebuah status yang begitu akrab. Apa dia dijahili? Disiksa kakaknya?

"Akashi tahu, kan?"

Fokus beralih pada sklera darah yang melebar. Gumam kecil sebelum menjawab. "Dari berita saja."

"Kakak Muro-chin orang terkenal?" Murasakibara polos. Himuro tertawa kecil. Membuat Murasakibara menghenyak, sungguh tawa itu bukan karena rasa senang.

"Haha—terkenal. Yah... Begitulah. Kurang lebih."

Senyum itu begitu pilu. Murasakibara tidak menyukainya. Apapun itu pasti bukan karena hal baik.

"Siapa sebenarnya dia, Himuro-san?"

"..."

"Dia salah satu tersangka hilangnya para petinggi Negara sampai setahun lalu—itulah yang diberitakan." Akashi ganti menjawab tanya itu. Yakinlah bahwa mata itu tidak salah dengan gelagat Himuro yang terlalu enggan membuka mulut. Dia pasti tahu hal itu—dan menyembunyikan kenyataan dalam waktu lama.

Pertanyaannya. Kenapa? Walau, Akashi yakin ini lebih berhubungan dengan ego si rambut poni.

"Tung—gu…" tubuh besar bereaksi sampai setengah berdiri karena informasi yang terlalu hitam untuk otaknya yang murni terisi tidur dan makan saja. "Muro-chin, apa maksudnya. Muro-chin bukan—kan?"

Ah, reaksi yang sangat wajar. Walau, menyakitkan memang mendapat binar kecewa yang tertera jelas pada warna yang disukainya itu.

"Tenanglah, Atsushi, aku tidak terlibat dengannya—secara langsung. Tapi, kuakui. Dulu aku anak yang sedikit nakal." Nada jenakanya sama sekali tidak meyakinkan ketiga juniornya. Yah, kalau sampai punya nama yang mengaung di antara berandalan bisa dibilang sedikit.

"Ceritanya panjang, kenapa aku bisa menjadi adiknya. Yang pasti...—ada hal yang tidak bisa aku maafkan darinya, karena melibatkan orang yang aku pedulikan."

"Apa hal ini berhubungan dengan Nijimura-san?"

Himuro tertegun. Benar-benar mengerikan Akashi itu. Apa dia memperhatikan sekitarnya sampai sedetil itu? Bahkan, orang yang dimaksud saja terlalu bodoh untuk peka dan sadar.

Tapi, justru ini memudahkannya.

"...ya."

Akashi mendengus puas. Terjawab sudah.

Teka-teki yang menghubungkan runtut keping berlubang di kepalanya. Kisah tentang orang ini. Kekhawatiran Kuroko. Perilaku Nijimura. Hubungan dan segalanya. Semua cocok.

Jika, itu yang sesungguhnya. Maka sangatlah wajar.

"Tolong jangan beritahu Shuuzou soal ini... Karena, hubungan hal ini dengannya. Lebih banyak karena salahku."

Dosaku.

"Aku ingin mengatakannya sendiri padanya."

Senyum lembut yang sayu. Bagai tangis akhir seorang malaikat. Begitu indah karena kalutnya. Dan menyedihkan akan senyum yang terulas.

Di mata yang mengilaukan warna fajar, begitulah sosok seorang Himuro Tatsuya yang dia lihat.

Tubuh besar terpasung dalam gumpalan kosong di kepalanya. Satu rasa dimana kau tak mau dan tak bisa menerima maupun mensolusikan segala hal.

Hampa.

.


.xOx.


.

PRAAANG

Permukaan bening terhantam dan membuncah karena tolakan kuat. Bulir kaca terpental menjadi serpih. Keping-keping berhamburan, menyayat udara yang bertebangan. Satu dua. Suaranya bergemerincing bertemu gravitasi.

Mibuchi sebagai saksi yang tak menutup mata, berkedip pelan melihat dirinya dan kedua rekan lainnya terhempas ke lantai dalam sebuah lindungan tubuh seorang pria.

Tes.

Cair pekat berbau besi, arusnya mengalir kecil dari pelipis ke pipi.

"Ukh... kalian tidak apa-apa?"

Warna merah yang sungainya berujung menetes pada wajahnya.

Darah.

"Tenchou!"

Teriakan panik Mibuchi menyadarkan sisa dua yang lainnya untuk berkedip. Gaduh mendera, pintu belakang terjeblak menampakkan beberapa pegawai yang panik, efek mendengar suara pecah yang begitu keras. Terkejutlah mereka mendapati Pemilik Café mereka tengah bergumul di antara kaca-kaca yang pecah.

"Tenchou! Kau berdarah!"

"Tidak apa... Ini hanya luka gores karena kaca." Kurokono berusaha menenangkan kepanikan tamu dan pegawainya. Sayangnya kepanikan itu berlanjut dengan sebuah hantaman keras pada pintu depan.

BRAAK!

Satu, dua, tiga, empat pasang kaki mengayun angkuh ke dalam sana. Tendang dan menghantam perabot tak berdosa hingga hancur berkeping dan dengan seenak jidat mengacak-ngacak properti. Di saat begini Kurokono merasa bersyukur dengan sigapnya para pegawai yang langsung mengamankan mesin kassa ke bagian dalam rumah sesaat setelah kaca pecah.

"Apa-apaan mereka..." Mibuchi nampak menggeram marah. Sungguh langka bagi Kurokono melihat wajah garang darinya yang biasanya bertingkah feminim. Bukan, hanya Mibuchi bahkan Hayama dan Nebuya nampak sudah siap mengepal tangan.

"Jangan gegabah. Kalau kalian berkelahi semuanya akan jadi runyam." Kurokono menahan ketiganya untuk tidak sembarang maju. Bagaimanapun dia tidak ingin mengambil resiko adanya pertumpahan darah tidak perlu. Sungguh, Kurokono tidak pernah merasa tidak lega karena nyatanya Cafénya sedang sepi dan meminimalisir kepanikan yang terjadi.

"Tapi, Tenchou!"

"Kalian keluarlah lewat pintu belakang bersama pegawaiku yang lain."

"Tenchou!"

BRAK! Permukaan meja di sampingnya dihantam hingga patah kaki. Onggokannya merubuh. Membuat debu tak kasat berterbangan menggelitik hidung.

Onyx menangkap sosok urakan dengan bibir ternodai gumpalan besi maju ke depannya. Bibir dimaju-majukan, gigi menguning tanda over konsumsi nikotin, alkohol menyeruak penciuman. Orang ini pasti habis mabuk.

Aah... Benar-benar.

"DIMANA HIMURO TATSUYA!"

Tipikal manusia sampah.

Mengangkat alis walau tak ketara, 'Dia mencari Himuro-kun? Apa ada hubungannya dengan Takasugi-kun?'

"Maaf, tuan. Kurasa anda menggunakan cara yang salah untuk bertanya. Aku akan menjawab jika anda bertanya dengan sopan dan tidak menimbulkan kekacauan."

Otak dangkal memang susah mencerna kata. Pikir Kurokono sarkas—saat tongkat besi melayang lagi menghantam lantai di depannya, dan dia masih berdiri tanpa menggeming menghadapinya.

Ketiga remaja di belakang Kurokono tertegun dengan ketenangan sang pemilik di tengah situasi ini.

"PEH! JAWAB SAJA PERTANYAANKU SAMPAH!"

'Kurasa tidak. Takasugi-kun bukan orang yang akan bertindak dengan memanfaatkan orang-orang macam ini.'

"Maaf, kalau begitu saya tidak bisa memberitahu."

1... 2...

"Kau...—...eh...?"

3... 4...

Berandal yang dihadapan Kurokono mendadak terdiam. Tangan di udara yang siap menghantam lagi membeku. Wajah berkeringat deras. Memasang ekspresi melihat sesuatu yang mengerikan.

"Kalian semua. Tolong keluar dari tempat ini."

Sungguh aneh.

Kenapa dia tiba-tiba merasa takut dengan orang ini?

Senyum yang begitu tenang dilapisi tabir darah itu seolah diliputi kegelapan.

"Kenapa dia?" Mibuchi bertanya-tanya kenapa tiba-tiba preman itu mundur perlahan dari Kurokono.

5... 6...

"Eh, kau menghitung Hayama?" Nebuya bertanya.

"Hah? Hitung apa?"

"Tidak... Aku... Seperti mendengar suara hitungan." Gumamnya. Namun, pemikiran itu kembali pecah ketika suara tawa menggema di antara para pengacau di belakang.

"Heh, Kau pikir kami akan menurutimu? Kau sepertinya orang yang memberi anak itu pekerjaan, ya? Kalau begitu kita habisi dia juga."

Keraguan yang sempat memendung di antara gerombolan itu perlahan disapu sebuah profokasi salah seorangnya. Tawa kecil meremeh kembali mengaduk udara. Seolah mendapat kepercayaan diri kembali, tangan-tangan itu kembali mengangkat senjata mengancam. Gusar akan tekanan hitam itu tidak dianggap lagi. Haus darah untuk menghancurkan dan balas dendam nampaknya sudah mempengaruhi pola pikir mereka.

"Hehe, kau sudah salah karena berurusan dengan si brengsek itu. Gara-gara dia kami sampai berurusan dengan polisi-polisi tolol!"

16… 17…

Kurokono menghela pelan. Kedua tangan dilemaskan di sisi masing-masing. Mereka benar-benar anak bodoh.Padahal lebih bagus kalau mereka mau membenahi diri.

Tubuh menegap. Kaki membuka selebar bahu. Fokus pandangan pada titik mati.

"Kalau mau marah, marahlah pada pegawai kecilmu yang membuatmu terseret, Tenchou~"Tubuh-tubuh besar nampak berjajar mengelilingi Kurokono. Terkekeh dengan tikus—yang mereka pikir—berhasil kepung.

Atur nafas. Perhatikan pergerakan.

Sungguh pemikiran yang naif. Andai mereka tahu siapa yang sedang mereka hadapi mungkin mereka akan berpikir lagi.

18… 19…

"Hyaaat!"

PRAK!

Sebuah pedang kayu terlempar, menusuk tajam seperti lembing pada dahi salah seorangnya. Yang bertubuh bongsor terlempar menabrak tembok, meenggelepar hilang kesadaran dengan hidung berdarah.

Termasuk Kurokono—seluruh mata langsung mengarah pada pelaku pelemparan. Dari sisi yang tersudut sosok itu berdiri. Surai tak teratur bertimpa cahaya membuatnya bersinar keperakan. Pandangan malas sampai mati nampak bosan dengan gangguan. (Keberadaannya akan semakin keren kalau ditambah sound effect 'jejeng' sambil bersidekap—sayang, orang ini terlalu tolol dengan yang namanya image. Barusan dia lempar upil. Ish.)

"Gya, gya, gya. Berisik banget, sih. Apa ada pesta, hah? Ada cewek datang pakai bikini? Enak ya jadi remaja, puber semua sehat terangsang."

Oh, iya. Kurokono nyaris lupa ada mahluk tidak tahu diri yang numpang makan gratis di Cafénya. Sambil lempar tatapan datar melihat mahluk menjijikkan.

"Hei, jangan mengeluarkan kata-kata tidak pantas di Caféku."

"Berisik, haah... Lagian pada ribut banget nyariin bocah dekil satu itu. Aku heran kenapa dia bisa beken begitu. Karena mukanya cantik? Karena dia berponi boyband? Atau karena tahi di mukanya?"

"Tahi lalat, Gintoki-kun."

"Masa bodoh. Sama-sama tahi ini. Itu artinya dia punya muka sejajar sama pispot."

"Gin-san, kau tidak suka dengan Himuro-kun karena dia punya style mirip Takasugi-kun, kan?" padahal orang ini sering e-mailan sama dia. Dipikir Kurokono tidak tahu? Dasar jomblo tua penipu.

"Haaaah! Siapa itu Takasugi-kun? Aku tidak kenal? Apa dia merek baru kacang kapri? Heh? Atau jangan-jangan spesies baru belatung gorong-gorong? Nggak bisa begitu Kurokono... Kau tidak boleh berurusan dengan hal-hal pendek dan menjijikkan seperti itu."

BRAK!

Debu mengepul, satu meja lagi roboh. Hancur karena satu serangan kuat untuk menginterupsi adu lidah kedua pria paruh baya. Pelakunya menggeram marah, membusung dada tinggi tanda punya kehormatan, tidak sudi diabaikan akhirnya bertingkah kekanakan dengan menghancurkan.

"OI! Kalian ngoceh-ngoceh gak jelas...! Kau tidak tahu siapa aku!?"

Sreksrekkorek upil semakin dalam, pasang muka tolol yang pernah ada. Kasihan sekali, dia tidak tahu siapa dirinya. "Hah? Aku nggak kenal orang amnesia sepertimu." tuing—upil terlempar tiga meter. Sensor menyatakan kalau benda itu mendarat tepat di kepala botak salah satu berandal. ("GYAAAA! jijik! Jijik! Kau lebih jorok daripada gorila ini Gin-saan!", "Apa salahnya dengan upil? Kau laki-laki bukan, sih?", "Tidaaak! Jangan lakukan itu di depanku!" Bukh! buku menu dilempar). Bisa dilihat asap mengepul dari ubun-ubun. Akhirnya hilang kendali dan langsung terjang membabi buta.

Bruak! Brak!

"Brengseeek!" pemukul diayun mengarah pada Gintoki—yang dengan luwes dan dihindari dan justru menghantam pot bunga yang terpajang di sana. Si rambut perak terhuyung—dengan sengaja—dalih memelorotkan celana sambil nyengir iblis.

"Wehehehe—Haaa!"

BRUAAAKH!

Dan dengan satu sikutan keras menerbangkan salah satunya menghantam jalur keluar bersama pintunya.

"Kalian tahu, hah! Aku hanya boleh makan parfait gratis sebulan sekali tahu!"

"Aku tidak menggratiskanmu, Gintoki-kun."

"Harusnya kalian datang setelah parfaitku keluar bodoh!" Lempar satu orang lagi.

"JADI DIA MARAH KARENA BELUM MAKAN PARFAIT!?", ("Sudah kubilang itu tidak gratis, Kuso Tenpa." Cicit Kurokono di belakang kerusuhan.)

"Jezz, orang yang hanya bisa mengeluh sambil menggerogoti orang lain memang sulit paham."

Lagaknya keren sambil injak runtuhan meja, memandang rendah para berandal yang menciut gentar. Andai dia tahu gumpalan hitam mendekat dengan horor dari belakanglah yang membuat mereka mundur.

BUAKH!

"Eh?"

Kepala perak ikut melayang keluar Café. Bergulingan terus nyusruk ke tanah sambil nungging menambah sampah manusia bertindihan.

"Kurokono! Apa maksudmu O…Oi…?"

52...

Riak wajah bodoh memucat pasi. Mendengar suara gaib yang dia tahu asal-usulnya karena sudah punya pengalaman lahir maupun batin.

"Itu kau Gintoki-kun. Dan tolong jangan menambah barang yang di rusak."

Kurokono Tasuke tersenyum begitu lembut. Kalau saja tidak ada sebilah shinai (diketahui punya Gintoki yang dipinjam tanpa izin, biar saja. Dia juga salah menghancurkan pintunya) yang tergenggam di sebelah tangannya. Melangkah pelan—yang di mata seorang Gintoki dia mendebum bumi dengan aura hitam keunguan meruak sadis.

"O-oi... Kurokono kau menghitung?"

53... 54...

"Hm?"

Senyumnya kelam. Menoleh pada tiga orang yang tersisa di dalam Cafénya, ketiganya berjenggit.

"A-apa!? Jangan sok kau mentang-mentang ada bantuan!"

Prak! Bukh!

Dua orang terhempas dengan cepat dalam satu sabetan, satu orang terguling menabrak tembok dan satunya mendarat di runtuhan meja kursi yang mereka hancurkan.

55...

Toleh pada satu orang yang tersisa. Preman itu sudah terduduk ketakutan dan berusaha merangkak untuk menyelamatkan diri melihat Kurokono mendekat ke arahnya, "Sebaiknya kalian minta ampun sekarang."

56...57….

"Sebelum aku selesai menghitung sampai seratus."

58...

"Hi—HIII!"

Syaaat!

Hembusan pedang kembali membelah kesunyian. Belah kayu yang bebas diayun lemas meniti tanah. Tapak kaki yang tertekuk kembali ditegakkan.

"Sebelum aku berubah menjadi iblis."

Mibuchi, Hayama dan Nebuya memucat. Timpang terbalut warna sehitam surainya berdiri di tengah kekacauan dengan debu dari runtuhan dan percik darah dari para orang-orang yang terkapar.

Dengan mata sedingin musim salju. Dengan senyum tiris manusiawi.

Se—

BRUKH!

SERAAAAM!

.


.xOx.


.

"Himuro-san, kalau begitu sebaiknya Himuro-san memberi tahu Tasuke-nii. Dia khawatir sekali denganmu." Kepala biru mengunyem keripik. Oleh-oleh dari Murasakibara yang dengan senang hati (sampai gemetar dan meneteskan ingus) dibagikan pada kawan-kawan karena lapar mendera dan dia enak-enak makan sendirian (gara-gara Himuro mikirin Kapten-Monyong melulu dia jadinya kan baper, bawannya malah laper, sekarang dia tersedu-sedu kudapannya dijarah tangan-tangan tak bermoral. Hiks.).

"Eh, aku tidak bisa membuat Master semakin kerepotan karenaku." Himuro mengibaskan tangan ragu. Bagaimanapun dia tidak mau merepotkan dengan masalahnya lagi, dia tidak mau menambah masalah majikannya. Pegawai macam apa dia sampai bisa dengan entengnya mengumbar risau pada atasan.

"Tasuke-nii mirip denganku kok." Kuroko maksa.

Iya. Tahu. Muka kalian memang nggak ada beda-bedanya sama sekali. Sikap kelewat perhatiannya juga sama. Sok ikut campurnya mirip. Gen memang sesuatu yang mengerikan. Mendarah dagingnya kebangetan.

"Tidak. Justru karena itu—."

"Nanti Tasuke-nii sedih, kan kasihan kalau dia kepikiran terus tentang Himuro-san sampai kebawa mimpi. Tidurnya nanti tidak nyenyak. Terus pingsan karena kecapekan kerja. Himuro-san mau terjadi pada Tasuke-nii?" nanti yang masak makan malam siapa dong? Batin Kuroko meringis akan alasan sesungguhnya andai bayangan memilukan itu terjadi. 'Aku kan coman bisa masak telor rebus.' tambahnya.

Himuro mendesah, kehabisan kata-kata.

Wajar Kuroko terlalu datar—padahal maksanya kebangetan—sampai Himuro dibuat bersalah karenanya. Orang-orang ini kalau maksa paling lihai. Himuro jadi galau. Andai keras kepala bisa diadu dengan basket, yakinlah Kuroko akan menjadi nomor satu dengan mudah.

Akashi tertawa. Geli.

"Percuma saja, Himuro-san." Begitu geli sampai menitik airmata. "Kuroko itu naif."

Muka boleh chibi-chibi, tapi bocah ini punya lidah berbisa. Bacot lawan Kuroko, kalau tidak kuat iman pasti kalah sambil mengais kepingan harga diri.

Akashi mengikik begitu geli sampai pandangan Kuroko berselimut kengerian yang luar biasa.

"Akashi-kun kesurupan."

Tembakan akurat bantal duduk ke kepala biru. Kuroko cemberut. Dia balas melempar diri ke Akashi. Gontok-gontokan pun terjadi. Himuro kewalahan menahan keduanya yang cakar-cakaran. Murasakibara menonton sambil ngemil, kayak kucing berantem. Pikirnya.

Trr—Trr—

"Hng?" Merasakan adanya getaran di dekat tempatnya duduk, Murasakibara langsung mencari-cari—ternyata asalnya dari tas Kuroko.

"Kuro-chin, ponselmu bunyi nih."

Pipi Kuroko menggembil merah karena dicubit tanpa belas kasih. Murasakibara jadi lapar lagi. "Ah, benar. Terima kasih Murasakibara-kun." Panggilan langsung mati saat Kuroko menerima ponselnya, melihat flipnya yang tertulis 38 panggilan tak terjawab dan sederet e-mail menunggu dibaca. Semua dari nomor yang sama.

Ogiwara Shigehiro.

Kuroko menyerngit melihatnya. Jangan bilang catatan-ku kecebur lagi. Otaknya sudah merencanakan berbagai macam tindak kriminalitas tanpa deteksi kejahatan untuk menggugat rugi dari sang sahabat.

Saat mau membuka salah satu e-mail, kegiatan itu dihentikan engan adanya satu lagi panggilan masuk, lantas Kuroko langsung saja mengangkat. "Moshi-mo—."

/Kuroko kamu dimana!? Kau baik-baik saja!?/

Refleks menjauhkan ponsel demi keselamatan pendengaran, "Aku baik-baik saja, kok Ogiwara-kun? Kenapa panik begitu?"

/Begitukah? Kau dimana sekarang? Kenapa tidak jawab-jawab, sih? Aku cemas tahu!/ dan bla-bla-bla lain yang membuat Kuroko jengah.

"Aku di tempat Himuro-san. Langsung saja Ogiwara-kun. Jangan teriak-teriak begitu. Malu-maluin tahu." Sungguh memalukan jika saat itu sang sahabat sedang ada di publik dan berteriak seriosa kepanikan. Malu punya sahabat putus urat malu.

/Ta-tadi aku diberitahu kalau./

("Muro-chin. Muro-chin, aku masih lapaaar…", "Nanti kita beli ya, Atsushi.")

"Eh, Café Tasuke-nii?"

Sklera sewarna senja teriris dalam satu sayat tajam, menghunus perawakan biru muda melebar dalam satu sentak kuat pada batin.

"... diserang?"

.

Kelereng abu menoleh cepat dengan kengerian.

.

Bayang kehangatan yang bagai mimpi fana itu apakah tidak akan terulang lagi?

.

"Kuroko!"

Himuro terhenyak dengan suara Akashi yang lantang memanggil si biru yang berlari begitu saja sekejap mata, disusul Akashi yang bermaksud menahan.

Himuro mungkin lebih terhenyak lagi mengetahui bahwa dia melihat pemandangan yang berbeda dari apa yang biasa dia lihat.

Entah kenapa punggung bersurai biru yang biasa mungil dan tak bertenaga itu begitu besar.

Apa itu punggung orang yang mati-matian menyelamatkan sesuatu yang berharga?

Rasanya... dia pernah melihat punggung itu di suatu tempat.

.

Akashi mendecak pelan melihat Kuroko sudah tak lagi terlihat sepanjang koridor. Mengutuk pada kemampuan lari yang di saat geting cepat sekali. Akashi menghela, dia bukan tidak mengerti betapa besar kekhawatiran yang dilanda cerulean yang biasanya teduh dan tak beremosi. Hanya saja Akashi tahu kalau bocah itu akan ceroboh dan mungkin saja mencelakai dirinya sendiri. Lihat, tas ditinggalkan begitu saja. Bahkan, sepatu saja dia tak pakai. Entah dia akan tengok kanan-kiri saat menyeberang atau tidak, berharap saja tidak ada mayat berambut biru saat dia berjalan pulang.

"Aku akan menyusul Kuroko. Murasakibara, kau boleh di sini bersama Himuro-san."

"Tu-tunggu!" Himuro nampak menahan lengan Akashi. "Apa... apa yang terjadi pada Café? Bagaimana dengan Master?"

"Entahlah. Aku tidak tahu. Tapi, aku bisa menebak." Pandangan tajam pada Himuro. Himuro tahu arti tatap itu.

Mungkin, saja ini berhubungan dengannya.

"Himuro-san, aku tidak tahu apa yang sudah kau lalui selama ini. Dan, aku pun tidak akan bertanya seperti yang Kuroko lakukan."

Melepas tangan yang menggenggamnya erat.

"Tapi, kurasa ada yang lebih penting dibanding mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi."

Karena, dia mengerti bahwa itulah yang harus dilakukannya.

Blazer putih kembali dipakai. Tangan menenteng dua tas pada tangannya. Sepatu diketuk-ketuk memastikan terpasang dengan benar. Tangan yang bebas meraih gagang pintu dan membukanya.

Sebelum itu dia berbalik, menatap ke dalam mata abu di belakang sana.

"Akan lebih baik kau melihat dengan matamu sendiri, kenyataan itu."

Blam

...

Ya, itu memang benar. Apa yang mereka katakan benar. Yang dibutuhkan darinya hanyalah sedikit keberanian untuk mendobraknya.

Konyol.

Seakan semua kerisauannya selama ini dihapus begitu saja dengan sebuah solusi yang dengan mudahnya dilontarkan oleh kedua anak itu.

"Muro-chin..."

"Atsushi... Saat aku bercerita dan mengetahui aku bukan orang yang seperti kamu bayangkan apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"

Tanya itu terucap dengan seulas senyum sendu. Hanya ingin bertanya. Dia tidak mengharap akan jawab yang membuat hatinya tenang ataupun jawaban yang menjatuhkannya.

Murni hanya ingin mengetahui.

"Aku gak tahu Muro-chin yang dulu bagaimana, aku tahunya Muro-chin yang sekarang."

Andai kau mengalami hal yang sama denganku apa yang akan kau lakukan sebagai orang yang paling dekat denganku?

"Kalau nanti Muro-chin mau pergi. Aku akan ikut. Aku mau sama-sama dengan Muro-chin."

...

Ingin bersama-sama.

Kata-kata itu... Dulunya yang ingin dia beritahukan padanya. Kata yang selalu tersangkut dan dihempas penolakan. Kata yang merupakan buah kasihnya yang dirawat dan dibiarkan mendingin di sudut hatinya. Kata yang selalu menjadi tumpuan harapannya dulu kala.

"Aku ingin bersamamu Shinsuke."

Andaikan dulu dia berhasil mengutarakan padanya, apa semua ini akan berubah? Atau justru tidak berubah sama sekali?

Himuro tidak tahu.

Tapi, yang pasti. Jika ada orang yang mengucapkan itu padanya. Tanpa sedikitpun keraguan dalam getar yang berucap. Dengan genggam yang tersalur hangat mencoba memberi keyakinannya.

Tidak ada emosi lain selain bahagia.

"Terima kasih Atsushi."

Dan dia berjanji tidak akan melepaskan hal itu lagi.

"Aku akan pergi menyusul ke Café."

.


.xOx.


.

"Tasuke-nii!" mungkin itu untuk pertama kalinya Kuroko berteriak keras di luar hal selain basket dan gontok dengan Akashi. Nafas memburu karena berlari tanpa henti dan bibir bergetar juga mata yang memancarkan khawatir yang sangat saat mendapati keadaan Café yang kacau balau. Pintu lepas, kaca pecah dan di dalam porak poranda dengan beberapa barang hancur.

Tiga mobil polisi terparkir di depannya. Para anggota berseragam nampak menggiring berandal masuk ke mobil dan menanyai Kurokono selaku korban.

"Tetsuya-kun." Kurokono kaget karena tiba-tiba Kuroko menerjang dan memeluk pinggangnya.

"Aku khawatir... Tasuke-nii... Tadi, Ogiwara-kun meneleponku..." Kuroko berkaca-kaca menatap sang sepupu. Mendengarnya Kurokono terenyuh, mengelus rambut si biru sambil tersenyum.

"Aku tidak apa-apa, hanya luka gores saja."

"Sungguh?"

"Hu-um."

Gyut—kedua mahluk dengan rupa-rupa bikin diabetes saling membagi sayang dalam harmoni gula-gula. Udara berubah jadi pink. Segala menjadi indah. Dan menyebabkan anemia bagi yang tidak kuat iman. (Mibuchi mimisan karena hawa imut yang ditebar keduanya. "Ooh, apa di hadapanku ini adalah malaikat unyu dari surga? Ukh—.", "Reo-nee! Bertahanlah!").

"Oke, cukup untuk servisnya. Kalian membuat beberapa elit kami bekerja tidak benar."

Kuroko mendelik. Siapa yang berani mengganggu momen bahagia ini?

Seorang lelaki berwajah tua dengan kacamata tersampir dan pandangan dingin nampak berdiri di hadapan keduanya sambil mengetuk-ngetuk pulpen pada buku catatannya. Kurokono melihat itu sebagai tanda untuk melanjutkan investigasi.

"Maafkan aku Sasaki-san."

"Tidak masalah. Sebagai seorang elit sungguh tidak bermoral jika mengganggu momen haru ayah dan anak."

Jeding—sudut bibir Kurokono berkedut. "Sasaki-san, maaf. Tetsuya-kun ini sepupuku." dan apa aku terlihat seperti hewan binal yang kerjanya menebar benih seperti seseorang (di belakang sana pria berambut perak bersin hebat)? Batin Kurokono dalam hati.

"Oh, maafkan aku. Setidaknya aku tahu kau masih elit seperti sebelumnya." Kuroko merasa risih dengan lirikan yang sesekali dilakukan polisi di depannya ini.

"Lalu, untuk kelanjutan insiden ini—."

"Ah, mengenai itu. Aku akan cukup senang kalau anak-anak itu mau mengganti rugi untuk kerusakan yang mereka perbuat. Selebih itu aku tidak mempermasalahkannya, dan kuharap kasus kali ini tidak dipublikasikan."

Ada banyak hal yang membuat Kurokono menimbang hal ini, satu karena kasus ini berhunungan dengan salah satu anak buahnya.

Dan... Banyak hal lainnya.

"Kalau boleh berkomentar kau terlalu baik, Kurokono-san. Itu bagus. Masyarakat harus banyak punya sifat seperti itu. Tapi, kuharap anda mengerti bahwa baik dan lembek itu berbeda."

Kurokono memandang para perusuh Café yang masih menggelepar belum dievakuasi petugas dengan senyum polos "Apa aku terlihat lembek pada mereka?"

Salah kasih petuah.

"Yah, aku hanya memberi peringatan. Baiklah. Kasus ini tidak akan dipublikasikan. Akan kukatakan pada anak buahku. Tapi, apa ada hal tertentu sampai anda tidak ingin hal ini menyebar luas?"

"Tidak ada yang spesial—aku hanya ingin hidup tenang tanpa sorotan kamera." senyum Kurokono, "Terima kasih bantuannya Sasaki-san."

Dengan lenggang pria itu berlalu. Memasuki Café tanpa basa-basi sambil ikut mengacak beberapa barang bukti. Kurokono membiarkan saja, mengelus kepala Kuroko pelan sekedar meresakan sedikit letih karena insiden yang terjadi hari ini. Biasanya Kuroko akan menampik, tapi kali ini dia diam. Tahu bahwa sepupunya ini butuh sedikit pelampiasan untuk menenangkan diri.

Biru itu menyayu. Kenapa jadi begini?

"Tenang, Tetsuya-kun. Semua akan baik-baik saja, kok." Ikatan darah adalah sesuatu yang hebat. Ucap kata seakan tidak berarti. Karena gestur saja lebih dari cukup untuk menjeritkan hati. Dia paham karena Kuroko adalah anak yang biasa terlipur damai. Terbiasa dengan sesuatu yang normal. Dengan hal-hal monoton yang membosankan. Guncangan kecil ini pastilah cukup membekas di hatinya.

Karena, anak ini lebih rapuh daripada yang dikira orang.

"Sayang sekali, padahal kalau dipublikasikan kau bisa dapat santunan dari masyarakat. Kau membuang kesempatan emas Kurokono, jaim itu ada batasnya tahu. Makanya orang sepertimu banyak kena masalah."

"…" wajah Kurokono mengelam. Dasar mastah perusak suasana. Tukang ngutang saja banyak komentar.

"Sasaki-san, tunggu sebentar. Anda ketinggalan sesuatu."

"Hm?"

Ckling. Borgol melingkar di kedua tangan seorang Sakata Gintoki.

"Apa ini cukup Kurokono-san?" sambar seorang wanita yang main borgol Gintoki.

"Terima kasih Nobume-kun." anak buah Sasaki memang hebat. Cepat paham situasi dan keinginan korban-korban seperti dirinya.

"Oi... Oi, Kurokono. Apa maksudnya ini? Hei... Nobume-kun, bisa lepaskan ini? Rasanya ada salah paham."

"Tidak ada salah paham, Gintoki-kun. Orang ini juga punya andil dalam merusak pintu dan perabotan di dalam dia juga sering melakukan tindak tidak melakukan hutang piutang dengan dalih makanan gratis. Tolong adili dia segera."

"Baiklah. Bawa dia!"

"Siap!"

Para polisi langsung merangsek si kepala perak, "Oooi! Kurokono temeeeee!Awas kau nanti!"

Nguingnguingnguing—

"..."

Tidak ada yang berbicara menanggapi penangkapan barusan. Kurokono tersenyum cerah sambil melambaikan sapu tangan.

"Saa, kurasa kita bisa beres-beres dulu di dalam." sahutnya sambil masuk ke dalam Café untuk memulai ritual bersih-bersih. Mengabaikan pandangan teflon remaja-remaja tanggung yang masih di sana. Mengabaikan kenyataan bahwa dia baru saja menjebloskan seorang manusia ke sel tahanan tanpa rasa bersalah sama sekali.

Hening.

Hening.

Siiiing—

.


.xOx.


.

Kuroko menggotong tumpukan kayu meja untuk dipindahkan ke bagian pembuangan sampah. Berjalan tertatih untuk menyeimbangkan berat yang cukup membuat sendinya pegal.

"Fuuh..." mendesah pelan setelah berhasil menumpuk tinggi kayu-kayu tak terpakai lagi. Menepuk-nepuk debu imajiner di pergelangan dan tapak tangannya, "Oke, ini yang terakhir."

Merasa tugasnya sudah sebagian rampung, akhirnya memilih untuk mengistirahatkan diri setelah bantu membereskan kekacauan di Café. Merebahkan bokong di salah satu anak tangga di depan pintu belakang sambil menjulurkan kaki.

Aquamarine yang lembut, pandang kosong pada sepatu yang sudah tersemat di kakinya.

Beberapa saat lalu.

.

Setelah kepergian mobil polisi sore itu, Kurokono langsung menghimbau untuk membantunya mengeluarkan barang rusak dan membetulkan Café seperlunya—setidaknya supaya tidak dijarah maling.

"Aku ke dalam dulu. Tetsuya-kun, bantu yang bisa saja dulu."

"Hai, Tasuke-nii." angguk Kuroko patuh.

"Aduh!" Kuroko berjenggit saat tapak kakinya tersambar rasa perih. Dia pun menyadari bahwa kakinya hanya terbalut selapis kaos kaki putih—yang sudah menghitam akan debu dan tanah.

Kaki menyepak pelan kerikil yang sempat terinjak barusan. 'Aku lupa sepatu dan tasku.' pikirnya pundung.

Akhirnya Kuroko berniat mengambil jalan memutar untuk mengambil alas kaki dan saat itulah.

—Akashi Seijuurou tepat di depannya. Dengan pelipis basah dan wajah yang menukik alisnya.

Apa dia habis lari?

"Duduk."

"Eh? Akashi-kun—?"

"Cepat duduk Tetsuya. Perlihatkan kakimu."

Biasanya Kuroko akan menghardik atau bablas cueknya kalau sudah dipanggil dengan nama, dia hanya tidak suka sikap absolut akan perintahnya. Tapi, entah kenapa kali ini Kuroko menurut saja. Duduk di tepian pagar tanaman sambil menjulurkan kaki yang terbalut kaos kaki kotor. Melepasnya.

Cukup terkejut mendapati lecet-lecet kemerahan di sana, karena dia tidak merasa sakit sedari tadi dia berdiri.

Mungkin, karena yang dia pikirkan dari tadi adalah keselamatan sepupunya.

Akashi menghela. Mengeluarkan air mineral yang belum sempat dia minum tadi. Bisu yang dia lakukan, dan hanya bergerak tanpa kata seolah menjabarkan bahwa 'Sudah kuduga pasti jadi begini.'.

Berjenggit saat merasakan dingin membalur kaki. Cenung dengan apa yang Akashi lakukan padanya.

Dia membilas luka di kakinya, membersihkan dan menutup lukanya dengan plester.

Dan semua itu dilakukan dengan cepat tanpa satu katapun meluncur keluar.

"Kaki itu adalah poin penting dalam basket. Kalau kau tidak bisa berlari lagi yang paling susah kau sendiri bukan?"

Tubuh itu membungkuk, memasangkan sepatu pada kedua kaki sang bluenette. Kuroko terhenyak. Mungkin terkejut. Mungkin tidak percaya.

Akashi memikirkan hal itu bahkan sebelum dia menyadarinya.

Katakanlah dia bodoh dalam logika dan sistematis. Tapi, dia tidak cukup bodoh untuk mengerti segala jenis afeksi.

"Aku tidak akan memaksamu berhenti khawatir pada orang lain. Tapi, pentingkan dirimu sendiri."

"Akashi-kun juga begitu kan?"

Sosok pemuda ini mengkhawatirkannya.

"Hah?"

"Akashi-kun yang menyusulku artinya juga khawatir pada orang lain, kan?"

Khawatir padaku.

"..."

Tidak ada balas di antara kata itu. Apakah malu? Menyangkal? Atau justru merasa terganggu? Kuroko sudah biasa kok. Dia sudah biasa menghadapi Akashi. Satu bulan sudah lebih dari cukup untuk mengetahui mood swing Akashi yang naik turunnya tidak pakai filter.

"Terima kasih... Akashi-kun..."

Tapi, jauh di dalam hati berlian itu mengetukkan rasa kecewa.

"Hm..."

Binar sewarna darah—apa sudah kembali jadi yang biasa? Tadi, Kuroko tidak terlalu memperhatikan, sih—mengecap visual kaki yang sudah terbalut sepatu. Melirik ke atas untuk bertubrukan dengan biru langit yang luas terhampar—menatap balik dirinya dan hanya dia.

"Ada apa Akashi-kun?" Kuroko meneleng karena dipandangi dalam waktu cukup lama.

"Tidak ada. Urusanku sudah selesai, aku akan pulang." Akashi berdiri perlahan dari pose pangerannya. Menepuk debu imajiner pada bagian lutut. "Sampaikan salam pada sepupumu."

"Akashi-kun, sekali-kali ketemu sama Tasuke-nii. Dia penasaran tampangmu gimana." nggak cuman tampang sih. Pokoknya mau ketemu Akashi saja. Lagipula, tidak sopan rasanya tidak bersua dengan orang yang mengharapkan kedatanganmu.

Akashi menghela. Sudah tahu dengan Kuroko yang ember. Kuroko yang batu. Dia juga sudah tahu perihal detensi yang diumbar segamblang menelan air pada sepupunya. Dia tahu kalau Kuroko menceritakan tentang dirinya—apakah baik atau buruk, dia tidak tahu. Tapi, kelihatannya opsi kedua (lirik jurnal isinya bacotan semua).

"Kapan-kapan saja Kuroko."

"Kapan-kapan itu kapan?"

"Kapan-kapan, ya kapan-kapan. Sudahlah, kau jangan mengajakku berdebat. Kau sibuk mengurus itu, kan?" menunjuk Café yang setengah hancur.

Kuroko terdiam. Benar juga, Kurokono pasti lebih membutuhkan bantuannya sekarang.

"Hati-hati, Akashi-kun."

Sapa itu dibalas dengan lambaian pelan tangan.

.

'Akashi-kun kenapa ya?' Kepala biru menyender pada pintu.

'—dia tidak berekspresi sama sekali saat menatapku.'

Perwakan Akashi memang tenang. Tapi, dia selalu memasang wajah hangat (dari satu per sepuluh juta waktu kadang begitu. Seringnya sih pasang wajah tiran siap menyiksa mangsa. Apalagi kalau matanya sudah belang.) dan memandang pengertian walau tidak ada pulas senyum di wajahnya.

Tapi, memasang wajah dingin tanpa riak tercetak di wajahnya. Tanpa ada bayang dirinya di dalam bola matanya padahal mereka berdua saling bertatap

entah kenapa rasanya sesak.

'Apa yang Akashi-kun pikirkan tentangku waktu itu, ya?'

"Kuroko. Ngapain kau duduk di sini?"

Lamunnya terhenti mendapati suara dari belakang. Menoleh, mendapati remaja bersurai ebony yang sudah gulung lengan dan celana sambil menenteng ember dan pel.

"Ogiwara-kun." Kuroko teleng. "Sejak kapan kau di sini?"

"Eeh! Aku sudah di sini sejak awal! Aku kan membantu kalian bersih-bersih dari tadi!" Ogiwara pasang muka tertindas. Sahabatnya tidak sadar dengan keberadaannya—biasanya kan kebalik—adalah hal yang sangat mengguncang kokoro. Sudah dibantu dianggap hantu. Sakitnya tuh disini, nih.

"Ogiwara-kun, tidak apa-apa tidak pulang?"

"Hum? Gak apa. Gak apa. Aku sudah bilang Ibuku aku menginap di tempatmu. Ngomong-ngomong kalian ini benar-benar saudara, ya. Tadi, Tasuke-san juga menanyaiku begitu."

"Begitu, ya." Kuroko melengos tidak ambil pusing.

Ogiwara memperhatikan sahabat yang masih terpekur sambil memeluk lutut.

"Kenapa sih? Kok galau begini?" Ogiwara jongkok di samping Kuroko, murni penasaran. Karena sesaat sebelum Ogiwara sampai di Café, dia sempat melihat Akashi melintas jalan raya dan menemukan Kuroko dengan pandangan kosong di titik di mana Akashi berlalu.

"Galau apa? Aku cuma capek." Kuroko memandang Ogiwara dengan pandangan teflon. Ogiwara terkekeh salah tingkah. Jelas dia tidak bisa mengartikan pandangan itu bohong atau tidak.

Ya, sudahlah. Nanti juga mau cerita.

"Oh, kukira. Ya, sudah. Aku mau bantu pel depan."

"Nanti kususul Ogiwara-kun..."

Ogiwara menggeming. Mengatup buka mulutnya untuk mengatakan sesuatu. Tapi tidak diutarakan.

Karena, sejenak tadi dia merasakan ada getir di balik kata-kata itu.

"Oke." putusnya sambil berlalu meninggalkan Kuroko pada akhirnya. Mungkin dia sedang butuh sendiri. Ogiwara kadang bertingkah kepo, tapi tentu dia tahu tempat dan posisi kapan harus bertingkah kapan harus diam jika tentang sahabatnya ini.

'Banyak hal aneh akhir-akhir ini.' cenungnya. Selintas mengingat pertemuan dengan orang yang cukup aneh barusan.

Kembali menoleh pada tubuh yang masih belum bergeming. Masih setia berada di sana. Entah dalam maksud apa. Akhirnya, dia benar-benar meninggalkan bluenette itu. Sendirian.

—yang memandang langit sempit akan gedung tinggi—namun, begitu luas rasanya.

Karena, kala ia memicing dapat dia lihat satu dua bintang berkedip malu. Seolah hanya mereka berdua di langit itu.

Kelopak mata itupun tertutup sejenak.

'Apa yang sebenarnya Akashi-kun rasakan?'

.


.

Greek—

Jendela balkon di geser pelan, mengambil bangku untuk sekedar menyender menikmati malam. Dengan segelas kopi hangat di tangan. Menikmati angin malam sambil menyesap rasa pahit yang menghangatkan.

Semilir mengembang. Kelopak itu terbang. Purnama naik membelah malam dalam satu lingkar penuh. Menerangi sudut dunia yang hitam.

Kilau crimson menata gelas di meja kecil. Tubuh disandarkan penuh pada kursi. Menutup mata. Menjalankan otak.

Merenung.

Mengingat.

Mengulas jelas hal kecil yang menyentak dirinya dalam satu kejut.

Masih lekat terpatri, raut wajah Kuroko saat itu. Saat menerima telepon di tempat Himuro.

Sejauh dia mengenal Kuroko tak pernah sekalipun dia mendapati gurat bengis di sana.

Sorot mata yang terbalur api amarah dan—keinginan membinasakan. Pandangan lupa akan dirinya sendiri. Pandangan mata yang tidak mengampuni apapun.

Sorot mata hewan liar yang bengis.

Kala itu dia sama sekali tidak mengenal Kuroko. Dia tidak bergeming bahkan saat Kuroko sudah berlari. Baru tersadar setelah ada debam pintu yang menjeblak. Hal itu pulalah yang membuatnya gagal mengejar.

Kuroko Tetsuya saat itu...

seperti orang yang berbeda.

Apa dibalik stamina ringkih itu terdapat kekuatan yang besar? Akashi masih belum bisa menotisnya. Dia selama ini menganggap Kuroko bayangan. Dan menjadikannya seperti itu.

Tapi, apa yang dia lihat membuatnya berpikir ulang.

Itu bukan sorot mata seseorang yang lemah.

Burung berkukuk seram. Derai angin melingkar keras. Sisa-sisa sakura berterbangan helainya, menjadikan salah satu dahan menggundul. Derit-derit suaranya. Dingin dan menenangkan.

Sklera darah menatap bulan yang ternoda.

'Sebenarnya seperti apa dirimu Kuroko Tetsuya?'

.


Suara itu menggema dari sanubari. Terbawa angin dan dihembuskan melalui hati. Menggaung cakrawala yang mendingin. Mempertanyakan masing-masing diri tanpa satupun aksara terlintas. Pekat akan ego, membuatnya mengatup malu.

Tapi, tanpa mereka terbangun dan sadar. Jalin sehalus sutra setipis belang laba saling terjulur.

Mengutaskan tali menghubungkan hati keduanya.

Dari balik rembulan.


.

"Master..." wajah berponi nampak mendekat pelan dari belakang. Kurokono yang sibuk memalu pintu menghentikan kegiatannya. Menangkap sosok Himuro yang tersenyum tipis padanya.

"Kau sudah selesai Himuro-kun? maaf kau jadi ikut membantu saat libur."

Perhatian itu membuatnya tertunduk.

"Master tidak perlu enak hati begitu... Aku kan pegawai di sini. Lagipula... Ini semua salahku."

Kurokono sudah menduga hal ini. Bahwa, anak ini akan datang dan menyalahkan dirinya sendiri. Memang benar dulu dia punya andil. Tapi, sekarang? Andai saja dia mau meyakinkan dirinya untuk berpikir optimis.

"Jangan bicara begitu Himuro-kun."

"Aku tahu orang-orang yang menyerang Café. Aku pernah berurusan dengan mereka dulu."

Dia pernah menghancurkan gengnya saat masih aktif menjadi berandal. Dan juga mereka adalah orang yang sama saat hari itu. Penyerangan pada Nijimura Shingo.

"Aku memang sudah dengar mereka tak bisa ditindak lanjut secara hukum karena di bawah umur. Tapi, kelihatannya mereka masih dendam padaku yang membuat mereka berurusan dengan polisi. Makannya... Sampai jadi begini."

Saat dia datang dan yang dilihat adalah sisa-sisa Café yang porak poranda visualnya mengabur seketika. Merasa takut. Merasa salah. Merasa tidak berguna karena dia hanya bersembunyi dan membuat orang lain menanggung deritanya.

"Maaf... Aku sudah membuatmu terlibat dalam masalahku."

"Himuro-kun. Kuharap kau tidak mengukur rendah aku. Kau tidak perlu khawatir andaikan hal ini terjadi lagi suatu waktu. Kebetulan aku punya anjing yang bisa kugunakan." yang dimaksud tentu saja pria berambut perak—saat ini tengah mengeles di bawah sorotan lampu dan katsudon untuk sogokan interogasi. Orangnya sendiri pasti mengumpat-ngumpat pada Kurokono, pantas hidungnya gatal dari tadi.

Selain itu dia bukannya tidak mengenal hal itu dan tidak mengerti perasaan itu.

"Aku mengerti masalahmu. Karena, aku juga pernah merasakannya." cicit berbisik.

"Eh?" Himuro merasa dia mendengar Kurokono bicara, tapi yang dilihatnya hanya senyum dan tepuk pelan di kepalalah yang didapat.

"Sudah waktunya bagimu untuk pulang. Anak besar itu sudah menunggumu dari tadi, lho." tunjuk Kurokono pada sosok besar di depan pintu.

Himuro nampak ragu, walau pada akhirnya mengangguk patuh. "Ya."

.


.

"Muro-chin... Kok bengong."

Kedua remaja—yang satu tingginya keterlaluan—saling bersisian membelah malam. Yang satu diam tanpa kata, yang lainnya memamah biak kudapan.

"Ah... Tidak apa-apa. Maaf kau jadi pulang selarut ini, Atsushi."

"Huum, tidak apa-apa. Soalnya kakak Kuro-chin baik... Dia memberiku cake gratis..." ucapnya terus terang sambil memakan kue yang dimaksud dengan bahagia. Sesekali berkomentar 'Enaak...' dan 'Aku mau ke sana lagi... kalau tokonya sudah betul. Muro-chin, traktir aku lagi ya...'.

Yang terakhir dipikir-pikir dulu.

"Ahaha..." tawa kecil menjadi tanggapnya. Tapi, itu tak menjadi masalah bagi bayi besar di sebelahnya.

Setidaknya tawa itu adalah tulus dari hati.

"Muro-chin, besok masuk, kan?"

"Ya. Aku sudah tidak apa-apa... terima kasih sudah menjengukku Atsushi." Setidaknya keberadaan dirimu membuatku bisa melihat lagi apa yang benar atau salah dengan kepala dingin tanpa keraguan.

Keberanian untuk jujur ...padanya.

Sekelebat bayang pria berambut hitam membayang kepalanya.

'Aku... akan mengatakannya pada Shuuzou.'

Kemilau fajar berkilat tidak suka mendadak dirinya diabaikan. Anggaplah dia posesif, tak suka miliknya diambil. Memanglah dia bocah, justru dia merasa tenang jika silabel itu melekat.

Kalau dengan begitu apa yang diinginkan menjadi miliknya tidak masalah, kan?

Ditambah kenyataan bahwa tidak seharusnya Himuro memikirkan tentang orang itu.

.

"...—pantas, kan—?"

.

Grrrt

Kaki berhenti melangkah, menghentikan laju pria yang satunya pula karena heran."Muro-chin."

"Ya?"

Kata-kata itu terngiang lagi di kepalanya.

"Seandainya kau dibuang olehnya—..."

Murasakibara ingin mengkonfirmasi, gejolak yang terus menghantuinya. Menyesatkan rongga dadanya hingga merasa mual—seperti memakan snack yang sudah kadaluarsa, pahit, satir, bikin sakit. Andai suatu saat memang terjadi dan keberadaanmu tidak akan lagi menjadi prioritasnya.

"...—aku akan terus di sampingmu."

Syu—uuuh.

Bola mata abu memandang remaja yang terhampar cahaya rembulan. Surai menggantung tertiup angin malam. Yang dimana kilau amethyst itu memandang salam satu kata ketegasan.

Dirinya mendengar. Terpaku. Dan mencerna.

Eh?

Eh—tadi itu apa?

"Haha... Atsushi—jangan bercanda begitu..."

Himuro mendadak canggung tiba-tiba diserang secara verbal. Mencoba tertawa pada lelucon yang menurutnya—terlalu... tidak lucu. Dan berharap itu memang hanya guyonan atau sekedar afeksi sesaat biasa.

Sayangnya, tidak.

Tidak ada riak yang berubah dari paras keseriusan itu. Lebih, daripada itu wajahnya menjadi rajuk tak suka. Menandakan bahwa hal ini bukanlah sebuah lelucon. Bukan canda garing.

Tapi, sebuah keseriusan. Fakta aktual yang terucap melalui hati.

Hal yang membuat surai raven mematung gagu.

'Tadi itu—sungguhan?'

dan memerah seperti di rebus.

Pyaaash!

Tangan refleks mendorong tubuh besar, kepala tertunduk dalam. Mencoba menyembunyikan wajah yang memerah hebat. Menyembunyikan degup yang bertalu dan berlomba membuatnya tuli. Berusaha dengan sangat—untuk tidak memandang pemilik wajah yang menatapnya sambil merenggut manja.

Serius. Ini sungguhan apa bukan!?

"Ha, hati-hati pulangnya Atsushi. Sampai sini saja—! Umm, sampai besok!" dan sosok itu pergi meninggalkan bayi besar yang tercenung. Terdiam di bawah sorot lampu yang menderang di bawah hampar malam.

.

"Hhh! Hhh!"

'Gawat! Tadi itu apa!? Masa sih, yang tadi itu—!'

Pernyataan cinta?

'Terlalu awal untuk Atsushi!' dan harusnya aku yang bilang begitu. ("Eh! Tunggu! Suara darimana itu!? Aku gak mikir begitu. Kok!")

Himuro membawa dirinya berlari tanpa memberi jeda untuk bernafas—sampai pada akhirnya dia sudah sampai di depan pintu apartemennya. Merasa bodoh karena dia seperti gadis perawan yang ditembak untuk pertama kalinya.

'Tenanglah.. huff.. tenanglah. Itu hanya sekilas saja. Atsushi tidak benar-benar berpikir begitu.'

Kalau sungguhan bagaimana?

'Aaaah! Siapa itu dari tadi!?' Himuro mencak-mencak frustasi. Ingin menjedotkan tembok tapi jaim sama tetangga. Bisa-bisa dia digeret masuk rumah sakit jiwa.

'Sebaiknya aku meminum sesuatu yang menenangkan—atau mandi dulu.' Pikirnya lagi untuk lebih positif dan menetralisir gejolaknya dengan keahlian alami untuk berpikir dingin.

Jujurdia senang.

Tangan memasukkan kunci ke lubangnya. Merasa aneh karena tidak berputar ke arah seharusnya dan mencoba mengayun gagang pintu.

Klek

"Eh?" Tidak terkunci?

Terdiam sesaat. Menetralisir kejut dan mencoba mengingat kembali. Apa mungkin dia lupa mengunci pada saat keluar tadi?

Atau ada orang di dalam sana?

Deg!

Kenapa? perasaan apa ini? Kenapa aku merasa takut?

Dan kenapa aku merasa aku mengenali rasa ini?

—dulu. Dulu saat itu. Saat dia masih bersamanya. Saat dia sudah mengetahui kenyataannya. Saat dia yang masih dengan labil melangkah menapaki malam untuk bersua pukulan dan darah.

Perasaan takut saat menggenggam pintu di pagi hari setelah berbaku hantam. Berharap tidak ada orang di rumah untuk menyembunyikan borok yang terbawa. Agar dia bisa bersembunyi menyembuhkan luka.

Menegup ludah, menggeleng pelan, mencoba mendorong pintu sambil mengatakan semua akan baik-baik saja.

Tidak akan ada seorang pun di dalam sana—yang tengah menunggu di atas sofa sambil menaruh kaki di meja kaca. Menghembuskan nikotin sambil menonton saluran dalam kegelapan.

"Wajahmu merah sekali. Terjadi sesuatu yang menarik, hm?"

Tidak ada.

Daun pintu menderit pelan. Membawa tubuh itu ke dalam isolasi dari dunia luar.

"—Hei, Tatsuya."

Blam


.

.

TBC

.

.


A/N: Cliffhanger lagiiii! Kenapa gue suka banget hanger sih? Soalnya bener-bener jadi panjang beud.. huhuhu.. soalnya pingin nampilin Akashi pasangin Kuroko sepatu kayak Cinderella (sayang bukan sepatu kaca). Chapter ini humornya gak ketara, ya. Lagi cerita serius sih. Next chapter mungkin lebih serius lagi.

Aah.. babangsugi muncul lagi. Aah... senangnya bikin Muro menderita lagi. #sadis #wehehe. Kira-kira enaknya Muro diapain yaaa? #bikinplotwatkesenanganbatin.

Post untuk kalian-kalian yang sedang UAS. Spesial penambah kegalauan. #plak

Semangat ya, yang lagi ujian!

Reply for Anonymous Reviewers:

Dera190100: lolaaaa! O.O. Kayaknya aku harus perbaiki tata bahasaku biar gampang dimengerti deh... #emang berat kata temen juga #pundung. Bukan. Yang nyerang bukan Takasugi, kok. Tapi, masih berhubungan~ wehehehe. Saya semangat! Saya semangat! Thanks for review.

l4e: chap ini AkaKuro dikit... Sori. Iya! Mereka berantem gegara Muro-chin! Muro-chin... Kamu enak banget diperebutin seme-seme ganteng... #sirik. Thanks for review!

Aoi: adem kah...hmm... Yah, untuk kali ini. #evilgrin. Yang nelpon hijikata. Hmmm... Masih chapter depan! Wahahahaha! #digampar.

guest: karma ilaaaang! Dia dah diculik babenya pulang! #ngga ding. Pingin bikin scenenya tapi, fokus kan lebih pada chara kurobasu. Mayuzumi nanti muncul kok. Tenang saja. Thanks for review.

neruneruneru: ada kok berantem-berantemnya! Tapi masih gak terlalu jelas wat chapter ini... Hohoho... Banyak yang ngomong lola. Saya merasa gagal #desperet. Tapi makasih reviewnyaa...

Thank's a Lot for You

I Need Review. Please Gimme.


Update: 29th November 2015.