Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Sword Art Online © Reki Kawahara

Fanfiction Crossover

Fic request from Aikawa Tsuki

Multipairing:

Tobirama x OC ( Tatsuhiko Yuuki)

Naruto x Tianyi

Kirito x Asuna

Genre: romance/scifi

Rating: T

Setting: AU (dunia game Dragon Heart Online atau disingkat DHO)

Tokoh karakter pendukung dari anime lain:

Yato (Noragami Aragoto)

Luo Tianyi (Vocaloid © Crypton Future Media, Yamaha Corporation dll)

Ichinose Guren dan Hiragi Shinya (Owari no Seraph)

Tokoh karakter pendukung oc:

Apollo

.

.

.

A/N: CHAPTER 12 UPDATE!

Terima kasih banyak yang sudah mau membaca fic ini. Nggak lama lagi fic ini bakal tamat beberapa chapter lagi.

Sekian komentar dari saya sebagai awalan di chapter 12 ini. Selamat membaca di bawah ini!

Tertanda

Author

Jumat, 12 Agustus 2016

.

.

.

WARNING: Jika nggak ingin baca sampai ke chapter ini, nggak apa-apa. Saya nggak memaksa. Terima kasih buat yang sempat membaca dan mereview ya.

.

.

.

DRAGON HEART ONLINE

By Hikasya

.

.

.

Chapter 12. Perjalanan ke wilayah Blue

.

.

.

Di daerah wilayah Blue saat ini.

Blue adalah kerajaan biru yang dijaga oleh Blue Dragon. Wilayah yang dipenuhi oleh gurun pasir dan angin yang cukup kencang. Wilayah yang dipenuhi banyak monster yang berbahaya, hidup di gurun pasir yang sangat panas dan tandus. Ada beberapa wilayah yang ditetapkan sebagai "Safe Area" yang ditandai dengan cahaya hijau. Di mana player-player harus berhati-hati jika melewati gurun pasir yang ada di wilayah Blue. Ada banyak area jebakan yang merupakan "Anti Crystal Area", ditandai dengan cahaya merah yang tidak kasat mata. Juga banyak area jebakan yang merupakan "Anti Magic Area", ditandai cahaya kuning yang tidak kasat mata, dalam arti tertentu player tidak dapat menggunakan skill magic-nya jika menghadapi seekor monster.

Untuk melewati gurun pasir ini, player harus sudah siap siaga dengan membawa senjata masing-masing dan memiliki "Blue Map". Blue Map adalah sebuah item berbentuk peta digital yang dijual di toko item yang tersebar di seluruh dunia DHO. Bisa dikatakan bentuknya menyerupai tablet. Harganya cukup mahal, tapi mempunyai fungsi untuk menampilkan pemetaan wilayah Blue. Fungsi lainnya adalah menunjukkan zona yang tidak terlihat seperti "Anti Crystal Area" dan "Anti Magic Area". Tapi, tidak menunjukkan keberadaan monster yang berkeliaran di gurun pasir tersebut.

Untuk mengetahui posisi monster yang berkeliaran di gurun pasir, player harus mengaktifkan "Scanning Area" dan harus berada di "Safe Area" agar tidak diserang oleh monster.

Rata-rata monster yang menyerang di gurun pasir tersebut adalah ular, kalajengking, laba-laba dan buaya. Memiliki tinggi sekitar 1-5 meter.

Gerbang teleport ada di pintu masuk perbatasan wilayah Blue, yang langsung memasuki wilayah gurun. Tidak ada pos penjagaan di sana karena siapa saja bebas masuk ke sana. Bahkan guild kriminal seperti Dragon Killer tidak bisa masuk ke sana karena mereka langsung mati saat diserang para monster. Membuat mereka tidak bisa mencapai pusat kota untuk mencari keberadaan Blue Dragon.

Tapi, ras malaikat, ras iblis dan ras peri tidak dapat terbang saat memasuki gurun karena wilayah Blue termasuk "No Flying Area" atau wilayah dilarang terbang. Mereka harus menjelajahi gurun jika akan menuju ke pusat kota yang berada di tengah wilayah Blue. Pusat kota dikelilingi oleh gurun pasir tersebut.

Ibu kota wilayah Blue adalah Ashe City. Bangunan-bangunannya yang ada di kota tersebut, berbentuk seperti kubus dan terbuat dari batu biru. Istana berada tepat di tengah kota, berbentuk seperti kastil dengan menara yang cukup tinggi dan terbuat dari batu biru, dinamakan "Blue Palace". Diperintahkan oleh seorang Raja yang bijaksana tapi sedikit konyol.

Sebuah benteng batu setinggi 15 meter, memagari Ashe City untuk melindungi player-player dari ancaman para monster yang hidup di gurun pasir. Angin terus bertiup tanpa henti dan terkadang-kadang menimbulkan badai angin bercampur pasir yang sangat kencang tanpa diduga sama sekali. Hujan tidak pernah turun di sini. Cuaca akan tetap seperti itu dan tidak pernah berubah seiring pergantian musim. Bahkan ketika musim dingin menerpa dunia ini, wilayah ini tidak akan terasa dingin. Tetap panas seperti biasanya.

Rata-rata player yang tinggal di sini, berjumlah lebih 5000 orang. Terdiri dari empat ras yang berbeda. Jalanan-jalanan yang ada di kota ini tersebar tidak beraturan, di mana toko-toko NPC berada di sebelah timur dan toko-toko player yang berdagang di sebelah barat. Sedangkan di sebelah selatan dan utara, dipenuhi oleh rumah para player dan markas para guild.

Jadi, bisa dikatakan wilayah Blue adalah wilayah tempat tinggal yang cukup nyaman karena rumah-rumah di sana dijual dengan harga yang cukup murah. Tapi, berukuran kecil dan memiliki tiga ruangan saja.

Jika player ingin memiliki rumah yang lebih besar, player harus menyediakan uang yang sangat banyak karena harganya sangat mahal, memiliki beberapa ruangan dan ada juga yang bertingkat dua. Bentuknya bisa dikatakan normal seperti perumahan di dunia nyata, tapi semuanya terbuat dari batu biru.

Namun, jika player bepergian dari kota ini menuju ke wilayah yang ada di dunia ini, player bisa tinggal pergi ke gerbang teleport yang ada di sebelah timur. Maka akan mengantarkan player ke tempat yang dituju dengan selamat.

Dengan kata lain, pendatang baru yang ingin ke Ashe City, harus berteleport ke gerbang teleport yang berada di dekat wilayah gurun pasir, sedangkan yang ingin pergi dari kota Ashe menuju ke kota di luar wilayah Blue, harus berteleport ke gerbang teleport yang ada di timur. Begitulah ketentuan yang berlaku di dunia DHO khusus wilayah Blue.

Player yang memegang Blue Heart sekarang adalah Yato. Seorang player yang tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Dia suka menawar jasa apa saja dengan bayaran yang cukup mahal. Beberapa player yang mengenalnya, menganggapnya sebagai orang yang aneh dan pemalas. Tapi, mempunyai skill magic yang cukup hebat karena dia termasuk wizard. Kekuatan elemen yang dipunyainya adalah angin sehingga dia bisa menjadi Blue Dragon yang memiliki kecepatan terbang secepat kilat.

Kini dia sudah berada di rumahnya sendiri, yang berada di sebelah utara. Rumah yang kecil dan mempunyai tiga ruangan saja. Perabotan yang dia miliki, tidak banyak. Namun, dia sangat menikmati hidupnya sebagai wizard yang pengangguran.

Bisa dikatakan skill wizard-nya termasuk rating B yaitu menengah. Tapi, skill Dragon-nya termasuk rating S yaitu sangat tinggi.

Dia memiliki sebuah senjata berbentuk katana yang gagangnya berupa perban yang bernama Sekki untuk membela dirinya, selain skill magic yang dipakainya saat menghadapi para musuhnya. Namun, dia juga mendapatkan sebuah pedang langka saat mencari tahu tentang orang yang memegang Red Heart dan Brass Heart. Pedang pembunuh naga, Ascalon.

Dia mendapatkan Ascalon saat berwujud Blue Dragon. Menyambar cepat Ascalon sebelum diambil oleh orang lain dan membawanya langsung ke rumahnya. Sempat berpikir ingin menjual Ascalon itu pada player lain, tapi...

BRUK!

Dia menjatuhkan dirinya begitu saja di atas tempat tidurnya. Merasa sangat lelah setelah seharian di wilayah Red, demi menunaikan perintah ketua guild "Victory Light" itu. Sementara dia memainkan Ascalon yang ada di tangan kanannya. Berpikir sejenak tentang keinginannya untuk menjual Ascalon tersebut.

"Ascalon, pedang pembunu h naga...," kata Yato sambil memperhatikan pedang itu dengan seksama yang terpantulkan sinar menyilaukan dari lampu yang menerangi kamarnya."Kalau aku jual, pasti akan mendapatkan koin yang sangat banyak. Bisa kuperkirakan harganya sangat mahal karena pedang langka. Siapa saja pasti akan membelinya langsung. Tapi..."

Sesaat dia terdiam dan memilih duduk bersila di tempat tidurnya. Memegang dagu dengan tangan kirinya.

"Itu sangat berbahaya jika aku jual pada orang lain. Pasti pedang ini akan digunakan untuk memburu para Dragon. Para Dragon akan terbunuh, maka aku juga akan kena karena aku termasuk Dragon itu juga."

Kemudian dia tersentak dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.

"BAKA! BAKA! BAKA! Aku tidak akan menjualnya. Ini demi keselamatan para Dragon lain. Sebaiknya aku simpan saja pedang ini di daftar item-ku."

Dengan cepat, dia membuka window miliknya dan meletakkan Ascalon ke daftar "item". Untuk alasan keamanan bagi dirinya dan bagi orang lain.

Setelah itu, dia menghembuskan napasnya yang terasa berat dan merasakan perutnya terasa lapar.

"Ah, lapar sekali. Makan dulu ah di luar."

Segera saja dia melompat dari atas tempat tidurnya dan langsung berlari menuju ke arah luar. Bukanya pintu kamarnya. Ditutupnya dengan suara yang sangat keras.

BLAM!

Kemudian dia berlari lagi menuju keluar rumah. Di mana malam hari sudah tiba yang dipenuhi dengan bintang-bintang yang bertaburan. Tiada bulan yang menemaninya. Angin kencang terus bertiup seiring dia berada di luar. Pasir-pasir beterbangan kemana-mana sehingga para player yang keluar, harus mengenakan kacamata sebagai pelindung agar mata mereka tidak kemasukan pasir. Rata-rata mereka berpakaian serba tipis yang bisa menyerap keringat karena cuaca panas yang menyelimuti wilayah ini. Tapi, ada juga sebagian dari mereka bermantel tebal yang berfungsi sebagai pelindung dari serangan badai pasir yang kadang-kadang menerpa tempat ini.

WHUUUSH!

Angin bertiup cukup kencang saat Yato berjalan bersusah payah menapaki jalanan kota yang dipenuhi pasir. Dia mengenakan kacamata dan masker untuk melindungi diri dari pasir-pasir yang beterbangan setiap saat. Beberapa player melewatinya dan memperhatikannya dengan aneh. Lalu dia terus cuek berjalan ke arah timur, di mana toko-toko NPC tersebar di sana. Rencananya dia akan makan malam di salah satu restoran NPC yang merupakan tempat favoritnya.

Dari arah belakangnya, tampak dua orang yang juga berjalan menuju ke arah yang sama dengannya. Dua orang yang berpakaian seragam putih yang dilapisi zirah besi berwarna merah dengan lambang matahari yang berada di belakang zirah besi mereka tersebut. Mereka merupakan anggota dari guild keamanan dan perlindungan player yaitu "Guardian Knight."

Mereka adalah tiga sahabat yang berasal dari wilayah Brass dan ditugaskan untuk menjaga wilayah Blue dari ancaman guild kriminal seperti Dragon Killer. Nama mereka adalah Ichinose Guren, Apollo dan Hiragi Shinya.

Ichinose Guren, seorang pria berambut dark blue dan bermata hitam. Berumur sekitar 26 tahun dan merupakan Kapten yang memimpin tim khusus divisi keamanan para player. Apollo, seorang pria berambut dark purple dan bermata ungu muda, bertubuh lumayan tinggi sekitar 168 cm, kulit putih, umurnya sekitar 25 tahun, merupakan anggota dari tim yang dipimpin oleh Guren. Satu lagi juga merupakan seorang pria berambut pirang pucat dan bermata biru, ia seusia dengan Guren dan berada satu tim dengan orang itu.

Sifat mereka bertiga sangat berlawanan. Antara atasan dan bawahan yang sering terlibat pertengkaran kecil. Di mana Guren yang tegas dan suka seenaknya, Shinya yang ramah dan baik hati, dan Apollo yang dingin, pemalu, dan suka menjitak. Mereka bersahabat sejak awal terjebak di DHO dan bersama-sama masuk Guardian Knight dengan satu tujuan yang mulia yaitu melindungi semua orang.

Kini mereka sedang cuti sementara waktu dari kegiatan guild-nya, bersama-sama akan makan malam di restoran NPC yang dituju Yato. Mereka pun terlibat dalam pembicaraan yang serius.

"Malam ini, kira-kira kita makan apa ya, Guren?" tanya Shinya dengan wajahnya yang berbinar-binar.

"Ya, kita makan steak bakar saja," jawab Guren santai.

"Minumannya?"

"Mungkin es jeruk. Hari ini panas sekali, tahu."

"Es jeruk? Memangnya di tempat sepanas ini ada es ya?"

"Tentu saja ada. Es adanya di lemari es, kan?"

"Jadi, NPC punya lemari es juga ya?"

"Tentu saja punya."

"Di mana letaknya?"

"Mana kutahu di mana letaknya. Tanya saja pada NPC itu."

"Tapi, NPC cuma akan menjawab dengan kalimat yang sama. Mana mungkin mereka tahu di mana letak lemari es itu?"

"Tuhkan, kau sendiri juga tahu."

"Tapi, aku penasaran ingin tahu letak lemari es itu."

"Huh...," sudut perempatan muncul di kening Guren."Sudahlah, jangan bahas itu lagi! Kau ini aneh!"

"Hahaha... Jangan marah dong, Guren."

"Baka," komen lirih Apollo mendengar percakapan mereka. Pemuda itu menjitak kepala pirang pucat Shinya dan mendapat delikan tajam dari sang korban jitakan.

"Hentikan kalian berdua. Kita jalan saja terus dan kau jangan banyak bicara dulu."

"Baiklah, aku mengerti."

Sekali lagi, Shinya tersenyum polos, kali ini ia bisa menjahili Guren walau berakhir dengan jitakan Apollo. Lalu menfokuskan diri untuk berjalan menghadapi pasir-pasir yang terus beterbangan karena ditiup angin kencang.

Lalu mereka terdiam. Tidak ada yang saling berbicara.

Sejenak Apollo memegang dada kirinya yang terasa sakit karena mendapatkan Brass Heart yang mendadak jatuh pada saat dia berada di ruang lobby markas Guardian Knight yang dibuat cabangnya di Ashe City. Saat itu, tidak ada orang. Hanya dia sendiri.

Dia tidak tahu bahwa permata berbentuk kerucut berwarna kuning tembaga itu adalah Brass Heart. Dia langsung menyentuh Brass Heart yang tergeletak di lantai. Terjadilah suatu keajaiban, Brass Heart masuk ke dalam jantungnya dan mengubahnya langsung menjadi Brass Dragon saat di luar markasnya. Dia tidak menduga perubahan tersebut. Akhirnya menyadari bahwa dia terpilih menjadi Brass Dragon yang baru dan sudah termasuk dalam kelompok Dragon.

Hal ini dia sembunyikan terlebih dahulu dari Guren dan Shinya agar tidak terlalu menonjolkan diri. Mendiamkan semua kebenaran ini sampai tiba saat yang tepat untuk memberitahukan kebenaran ini pada Guren dan Shinya. Dia tidak tahu mesti melakukan apa untuk langkah selanjutnya.

Tiba-tiba...

"Hei, kau kenapa?"

Pundaknya ditepuk keras oleh sahabatnya. Membuatnya tersadarkan dari lamunan singkatnya.

Dia tersenyum pada Guren, Shinya hanya memandang Apollo dengan senyum ramah seperti biasa.

"Ah, tidak ada apa-apa."

"Uhm... Sepertinya ada yang kau pikirkan."

"Memang tidak ada yang kupikirkan kok."

"Apa benar?"

"Benar."

"Ya, sudahlah."

Tanpa mereka sadari, langkah mereka sudah mencapai area pertokoan NPC yang berada di timur ini. Di mana banyak player yang hilir-mudik di sepanjang jalanan. Ada dua player yang berdiri di depan sebuah toko elektronik, untuk mengecek harga barang-barang di sana. Ada beberapa orang yang masuk ke toko roti NPC. Banyak pemandangan yang menarik perhatian sehingga suasana malam terasa ramai dan berisik. Ditambah suara desiran angin yang meniupkan pasir-pasir di antara keramaian tersebut.

"Wah, ramai sekali!" seru Yato yang juga terpojok di tengah keramaian tersebut. Dia jadi kebingungan dibuatnya.

Lalu dia berjalan cepat untuk menembus keramaian. Disusul kedatangan Guren, Apollo dan Shinya yang juga terpojok di tempatnya tadi berdiri.

"Ramai sekali. Sulit sekali kalau berjalan di tengah keramaian seperti ini," Apollo celingak-celinguk.

"Ya, hampir semua player memilih tinggal di sini karena harga rumah-rumah dijual di sini cukup murah dan terjangkau oleh mereka. Kira-kira jumlah player yang tinggal di sini sudah mencapai 5000 lebih. Itupun ditambah pendatang-pendatang baru dari wilayah Brass, jadinya wilayah ini semakin ramai dan padat," Shinya juga celingak-celinguk.

"Cih, aku benci keramaian," decih Guren tak suka.

"Kau tahu banyak tentang data kependudukan wilayah Blue ya?" Tanya Apollo pada Shinya.

"Ya, aku tahu itu dari koran digital yang terbit hari ini."

"Oh."

"Kalau begitu... Ayo kita pergi ke restoran langganan kita."

"Baik/Hm," jawab Apollo dan Guren untuk menanggapi ajakan Shinya.

Maka tiga sahabat kental itu segera berjalan lagi untuk menembus keramaian. Titik tujuan mereka adalah menuju restoran NPC yang berjarak sekitar 5 meter lagi.

.

.

.

Keesokan harinya.

Pagi hari menyambut musim dingin yang masih berlangsung. Matahari tidak tampak untuk menyinari dunia. Butir-butir putih turun dalam jumlah ringan. Angin berhembus pelan. Uap-uap udara tercipta dari mulut seseorang saat seseorang berlari cepat menapaki salju yang tebal di sekitar hutan raksasa, di wilayah Silver.

Tampak Kirito yang menyusuri hutan raksasa dengan kecepatan yang luar biasa karena baru menyadari bahwa Naruto tidak ada di rumahnya. Dia baru saja pulang dari markas Silver Fleet atau SF dan memilih menginap di sana karena harus rapat dengan beberapa anggota SF untuk membicarakan sesuatu yang penting.

Sekitar jam 5 pagi, barulah dia pulang ke rumahnya di Central City dan mendapati Naruto tidak ada di mana-mana saat dia mencarinya. Karena panik dan kebingungan, dia pun teringat bahwa dia dan Naruto sudah terdaftar sebagai teman. Dia langsung membuka menu akun window-nya, mengaktifkan "Friend Map" dan menemukan sinyal Naruto yang berada di hutan raksasa. Secara refleks, Kirito langsung keluar rumahnya dan mengubah wujudnya menjadi Silver Dragon agar bisa cepat sampai ke hutan raksasa tersebut.

Hanya butuh waktu lima menit, dia sampai di hutan raksasa dan berubah wujud lagi menjadi dirinya saat menemukan Naruto. Dia berlari cepat untuk menghampiri Naruto yang tergeletak di antara salju yang hampir menutupi tubuh pemuda itu.

"NARUTO!" seru Kirito saat berlutut di samping Naruto dan mengguncang-guncang tubuh temannya. "Kau kenapa? Hei, bangunlah, teman!"

Dia sangat panik dan takut terjadi apa-apa dengan sahabatnya itu. Lalu diceknya keadaan Naruto lewat "Player Scanning". Tertera di layar, HP Naruto terisi penuh dan tidak ada apa-apa di sana. Namun, Naruto tidak bangun-bangun juga ketika Kirito berusaha mengguncangkan badannya berkali-kali. Entah apa yang terjadi. Dia tetap tidak sadarkan diri.

Dalam kepanikan yang semakin menjadi-jadi, Kirito kehilangan akal. Berhenti sejenak dan mulai berpikir untuk mengambil tindakan yang tepat untuk menyadarkan pemuda berambut pirang itu. Akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan skill magic tingkat rendahnya sebagai wizard yaitu "Silver Flash."

Kedua tangan Kirito diletakkan pada dada Naruto. Dia meneriakkan suatu mantra pembuka skill magic-nya.

"MAGIC: SILVER FLASH!"

PAAAATS!

Terjadilah cahaya berwarna keperakan yang menguar dari kedua tangannya. Membuat tubuh Naruto bercahaya perak juga.

Itulah skill magic "cahaya pembangkit jiwa yang terkurung dalam kegelapan", "Silver Flash", mempunyai arti untuk menyadarkan seseorang yang mengalami koma.

Setelah Kirito menggunakan magic itu, perlahan-lahan kedua mata Naruto terbuka. Sebuah cahaya warna-warni menutupi pemandangannya. Sampai sedetik kemudian, cahaya itu menghilang dan tergantikan pemandangan pepohonan. Terdengar desiran angin dan suara Kirito yang memanggilnya.

"Naruto..."

Naruto melihat ke arahnya. Dia mengedip-ngedipkan kedua matanya beberapa kali.

"Si-Siapa?"

"Aku Kirito."

"Ki-Kirito?"

"Ya."

Kemudian pandangan Naruto diedarkan ke seluruh tempat itu. Hingga pandangannya tertancap lagi pada Kirito.

"A-Aku di mana sekarang?"

"Kau... Ada di hutan raksasa."

"Hu-Hutan raksasa?"

"Iya," Kirito mengangguk dan memperhatikan Naruto dengan seksama."Kenapa kau kelihatan linglung seperti itu?"

Perlahan-lahan, Naruto bangkit dari acara terkaparnya dan memilih duduk sebentar. Dipegangnya kepalanya yang terasa pusing dan berat.

"Ah, aku tidak tahu kenapa aku bisa tergeletak di sini. Seharusnya aku mencari sesuatu. Tapi, aku tidak ingat apa yang aku cari itu," jawab Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya."Kepalaku terasa pusing. Aku jadi tidak ingat kejadian kemarin."

Kirito menyipitkan kedua matanya.

"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi padamu kemarin. Tidak mungkin kau tergeletak di sini dan tidak bangun-bangun juga saat aku berusaha membangunkanmu. Tapi, HP-mu terisi penuh dan tidak ada tanda-tanda kekerasan yang berdampak di tubuhmu."

"Eh?"

Naruto bengong sebentar dan tetap memegang kepalanya. Sesaat melihat Kirito yang langsung berdiri. Kirito mengedarkan pandangannya ke segala arah.

"Aku merasakan firasat yang sangat buruk. Hal tersebut aku rasakan dari Silver Heart yang ada di jantungku. Ada sebuah suara yang menggema di telingaku sekarang..."

Sejenak Kirito terdiam dan kemudian menyambungkan perkataannya yang terputus.

"Sebuah suara yang memintaku untuk mencari Brass Dragon yang kini berada di berada di wilayah Blue. Mengajak Brass Dragon itu agar bersatu mengalahkan Devil King karena Devil King sudah menunggu di Unknown Dark. Sebuah pintu akan terbuka dan para pemain akan menemukan jalan untuk pulang. Begitulah pesan dari suara itu."

Naruto terpaku mendengarnya. Dia sedikit kaget. Kedua matanya membulat.

"Pesan suara dari siapa?"

"Yuichi, EAP-001."

"Yuichi, EAP-001?"

"Iya."

"Siapa dia sebenarnya?"

"Entahlah. Aku tidak tahu. Namun, yang pasti bisa dikatakan dia adalah seorang AI."

"AI?"

Kirito mengangguk dan menoleh ke arah Naruto. Wajahnya kelihatan serius.

"Naruto, bisa kau menemaniku ke wilayah Blue sekarang?"

Naruto terdiam sebentar. Sedetik kemudian, dia mengangguk cepat.

"Baiklah."

"Terima kasih. Tapi, katamu kepalamu pusing ya?"

"Sedikit pusing. Nanti juga sembuh kok."

"Oke, aku mengerti," Kirito tersenyum."Mungkin lebih baik kita sarapan dulu."

Sekali lagi Naruto mengangguk. Dia juga tersenyum.

"Ya. Itu lebih baiknya."

.

.

.

"APA!? KALIAN SUDAH PUNYA ANAK!?"

Sebuah suara super keras sangat menggema dan mengguncang Aarun City, di Seven Dragon Area. Suara keras yang berasal dari mulut sang Black Dragon, pada saat berada di penginapan. Bersama sepasang suami istri dan seorang anak laki-laki yang berdiri di ruang lobby penginapan tersebut.

Gadis NPC yang berpakaian rapi dan duduk di belakang meja resepsionis, tidak terlalu menghiraukan para tamu yang sedang berbicara serius. Dia selalu tersenyum setiap saat. Didampingi gadis NPC lain yang berpakaian sama dengannya. Tampak satu pegawai laki-laki NPC yang terus mondar-mandir di tempat itu saja. Dia juga tersenyum tanpa pernah berhenti untuk berjalan.

Para tamu yang terdiri dari Tobirama, Yuuki, Madara dan Yuichi saling bertatapan serius. Terlebih Madara yang kelihatan sangat kesal dan terus mengatakan kalimat-kalimat pedas yang hanya ditujukan untuk Tobirama. Sampai wajahnya menjadi menyeramkan seperti naga hitam sungguhan.

"DASAR, RAMBUT UBANAN! KAU TELAH MERAMPAS HIDUP ADIKKU! AKU TIDAK MENYANGKA KAU TELAH BERBUAT BEGITU PADA ADIKKU! PERBUATANMU SUNGGUH KETERLALUAN! TIDAK BISA KUMAAFKAN!" sembur Madara dengan mata berapi-api."YUU-CHAN, KAU HARUS MENJAUHI PRIA BAKA INI! CUKUP SUDAHI HUBUNGAN KALIAN INI! AKU MALU!"

Mereka pun sweatdrop mendengar perkataan Madara itu. Sampai Yuichi ikut campur dalam urusan ini.

"Kamu salah paham. Papa dan Mama tidak mungkin melakukan itu, Ojii-san."

Otomatis pandangan tajam Madara tertuju pada anak laki-laki yang masih berusia 7 tahun itu.

"Anak kecil sepertimu tidak mungkin mengerti dengan apa yang kukatakan! Satu lagi jangan panggil aku Ojii-san karena aku merasa kau bukanlah keponakanku!"

"Huh..." Yuichi merengut."Aku mengerti tentang apa yang Ojii-san katakan. Di dalam dunia ini, para player yang sudah menikah, tidak melakukan hubungan itu karena melanggar peraturan yang mutlak di dalam sistem game. Itu adalah tindakan yang sudah mendalam dan tidak dibenarkan. Para programer telah merancang sistem pesan peringatan seksual yang dapat melindungi para player jika ada kejadian di mana ada player yang berniat jahat untuk menyentuh area berbahayanya. Sistem pesan akan mengirim pelaku kejahatan itu ke penjara yang ada di kastil batu putih ini. Jadi, Papa dan Mama tidak mungkin melakukan hubungan itu. Uchimada Ojii-san sudah salah paham."

Madara pun terbengong-bengong mendengarnya. Bahkan Tobirama dan Yuuki terdiam dengan ekspresi menahan tawa.

"HEI, KENAPA KAU BISA TAHU TENTANG HAL ITU!? ANAK KECIL SEHARUSNYA TIDAK BOLEH MENGETAHUI ITU, KAN?!"

Kembali Madara mengamuk-ngamuk seperti gorilla. Yuichi semakin merengut saja.

"Biarpun aku anak kecil, tapi kemampuan otakku melebihi kemampuan otak manusia biasa. Aku ini seorang AI. AI pertama yang diciptakan dan diprogramkan menjadi anak Papa dan Mama atas permintaan yang menciptakanku."

Madara berhenti mengamuk. Dia bengong.

"Eh? Kau seorang AI?"

"Iya."

"Jadi?"

"Aku anak Papa dan Mama dari hasil gabungan data informasi diri mereka. Aku terlahir dengan meniru apa yang yang ada di dalam data informasi mereka. Maka terciptalah aku yang seperti ini," Yuichi menjelaskannya seperti gaya orang dewasa."Mungkin dikatakan hasil penggabungan data seperti embrio yang berkembang di dalam rahim. Aku terlahir dalam tahap seperti itu dalam hitungan beberapa jam. Aku mengambil data Papa sebagai wujud tubuh digital-ku dan sifatku ku ambil dari data Mama. Jadilah, aku sebagai Yuichi. Nama yang diberikan sang penciptaku. Diambil dari kata depan nama asli mama Yuki yaitu YUUki dan Ichi yang berarti pertama. Aku adalah anak laki-laki Mama yang pertama."

SIIING!

Hening sesaat.

Semua orang terdiam di tempat.

Sedetik kemudian, Madara meledak lagi. Lebih berisik dibanding yang sebelumnya.

"ITU SAMA SAJA! SETO TELAH MELAKUKAN ITU PADA YUU-CHAN! KALIAN TELAH BERHUBUNGAN SEMALAMAN DAN MELAHIRKAN AI SEPERTI INI! TIDAK AKAN KUMAAFKAN! SETO, KUBUNUH KAU!"

WHUUUSH!

Kepalan tinju Madara sudah melayang tepat ke arah Tobirama, tanpa diduga sama sekali. Hal ini mengejutkan Yuuki.

"AH, ANIKI! JANGAN SAKITI, SETO-KUN!"

"PAPA!" Yuichi juga melayangkan pukulannya ke arah Madara."RASAKAN INI! PUKULAN MAUTKU, OJII-SAN!"

BUAAAAK!

Pukulan super kuat Yuichi sukses mendarat di pipi kiri Madara sehingga Madara terpelanting jauh ke belakang.

BRUAAAK!

Pada akhirnya, Madara menabrak dinding penginapan dan terkapar dalam keadaan tidak elit. Menungging dan pingsan seketika disertai pipi kiri yang biru lebam. Damage yang diterimanya menghabiskan 80 persen HP-nya. Tersisa hanya 20 persen.

Pasangan suami-istri itu ternganga habis melihatnya. Tidak menyangka kalau Yuichi memiliki tenaga luar biasa kuatnya sehingga memukul Madara sampai seperti itu. Yuichi hanya merengut dengan wajah kesal yang sangat memerah. Mirip sekali dengan Yuuki.

"Huh, itu akibatnya jika mau menyakiti Papaku."

"Dasar, dia sama sepertimu, Yuki-chan."

"Hahaha... Aku tidak menyangka punya anak yang mirip sifatnya sepertiku," Yuuki tertawa hambar."Tapi, aku senang bisa merasakan punya anak. Ingin rasanya selamanya seperti ini. Tentunya bersamamu, Seto-kun."

Sang White Dragon tersenyum mendengarnya.

"Aku juga. Ingin merasakan hubungan ini selamanya. Walaupun ini cuma permainan, tapi aku berjanji akan mewujudkannya di dunia nyata nanti."

"Maksudmu?"

"Ya, aku ingin menikah yang sesungguhnya, tentunya di dunia nyata. Saat kita sudah dewasa, aku akan menikahimu untuk menjadi istriku dan menjadi ibu untuk anak-anakku nanti. Itulah impianku."

Yuuki terpaku dan tidak bisa berkata apapun lagi saat melihat wajah Tobirama yang tersenyum kecil padanya. Untuk pertama kalinya, Tobirama mengatakan sesuatu yang manis padanya. Sesuatu yang manis untuk kehidupan di masa depan nanti.

Seketika tubuhnya bergetar. Senyuman terpatri di wajahnya. Hatinya sangat senang dan langsung memeluk laki-laki yang berdiri di sampingnya ini.

"Mau. Aku mau jadi istri dan seorang ibu di dunia nyata nanti. Aku mau menikah denganmu, Seto-kun."

Tobirama tersenyum sambil membalas pelukan istrinya.

"Ya, tunggu kita dewasa dulu ya."

"Um."

Mereka berpelukan dengan mesranya. Hingga membuat Yuichi terbengong saat memperhatikan mereka.

"Kenapa aku dilupakan? Papa, Mama?"

Mereka melepaskan pelukan masing-masing dan bersama-sama memeluk Yuichi.

"Kami tidak akan melupakanmu, Yuichi-kun," Yuuki tersenyum."Kamu akan tetap menjadi anak pertama kami."

"Ya, karena kami sangat menyayangimu," kata Tobirama yang membelai rambut Yuichi yang terasa halus.

Yuichi tersenyum mendengarnya.

"Aku juga sayang kalian berdua."

Begitulah, suasana hangat yang tercipta antara orang tua dan anaknya. Mereka saling menyayangi antara satu sama lainnya. Tidak akan pernah terpisahkan untuk selama-lamanya.

.

.

.

Di depan gerbang teleport, wilayah Blue, tampak dua laki-laki yang berdiri. Memandangi gurun pasir yang terbentang luas. Di mana-mana pasir beterbangan karena ditiup angin kencang. Matahari bersinar sangat teriknya, padahal jam masih menunjuk pukul 9 pagi. Awan-awan membentuk suatu rupa tertentu di langit biru. Melukiskan keindahan yang tiada tara yang hampir sama di dunia nyata.

Dunia DHO benar-benar menampilkan pemandangan digital yang begitu asli dan nyata. Tidak dapat diragukan. Tidak dapat dibedakan antara digital dan nyata. Seperti dunia nyata yang tidak pernah disadari oleh orang lain bahwa dunia ini adalah hasil fantasi dan rekayasa pembuatan para programer. Perusahaan terkemuka yang tidak diketahui namanya, mengembangkan game ini berdasarkan hasil imajinasi dan fantasi GM sendiri. Bahwa GM ingin membuat dunia sendiri di mana orang-orang memimpikan hidup dalam kehidupan kerajaan dan penuh monster. Memimpikan memiliki kekuatan magic dan memiliki kemampuan bertarung layaknya game fantasi lainnya. Sehingga mendorongnya menciptakan game ini atas dasar impian masa kecil. Jadilah Dragon Heart Online yang kini dikenal sebagai game kematian.

Untuk itulah, Dragon Heart Online atau disingkat DHO, memberikan dampak psikis dan mental para player menjadi terbebani. Para player takut akan kematian. Ditambah adanya guild kriminal seperti Dragon Killer, menambah ketakutan para player semakin menjadi-jadi. Karena itu, para Dragon akan segera bersatu dan memenangkan game agar semua orang selamat. Tapi, tidak tahu bahwa mereka tidak akan bisa keluar setelah Devil King ditaklukkan. Pintu terbuka dan menampilkan dunia lain yaitu game kedua, Sky Land Online atau SLO.

Saat kedua laki-laki itu takjub akan pemandangan luas gurun pasir tersebut, salah satu dari mereka pun bertanya.

"Gurun pasirnya sangat luas?" Kirio mengedarkan pandangannya ke segala arah."Kira-kira jarak pusat kota dari sini berapa?"

Naruto pun menjawabnya. Dia memegang sebuah tablet seukuran telapak tangan. Tablet yang dinamakan "Blue Map."

"Menurut orang-orang, jaraknya sekitar 15 km dari sini. Gerbang teleport ada dua. Tapi, karena kita pendatang baru, kita hanya bisa berteleport di gerbang teleport ini. Tidak bisa berteleport ke gerbang teleport yang ada di kotanya."

"Ah, merepotkan. Kenapa dibuat seperti itu ya?"

"Entahlah. Aku tidak tahu kenapa para programer DHO membuat player tidak bisa berteleport langsung ke kotanya. Teleportnya hanya bisa di dekat gurun pasir ini."

"Ini sama saja menyulitkan para player. Aku dengar banyak area jebakan yang tidak kasat mata ketika kita baru berjalan tidak lama. Bahkan para Dragon tidak boleh terbang di gurun pasir ini?"

"Ya, memang banyak jebakan karena ada Anti Crystal Area dan Anti Magic Area. Kudengar lagi hanya Blue Dragon yang bisa terbang di area gurun pasir ini. Para Dragon lainnya tidak bisa terbang kecuali cuma bisa berjalan di gurun pasir ini."

"Huh, sangat tidak adil. Padahal aku sempat berpikir ingin menjadi Silver Dragon dan terbang agar cepat sampai ke Ashe City. Mungkin aku urungkan saja niatku itu dan berjalan sebagai Kirito."

"Hahaha... Yang penting kita sudah punya Blue Map. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Ya, aku mengerti. Untuk masalah monster, akan aku gunakan Monster Scanning jika kita berada di Safe Area."

"Oke."

Kirito berjalan dengan lesu mengikuti Naruto yang berjalan lebih dulu.

Layar Blue Map menampilkan pemetaan digital yang menggambarkan area jebakan tidak kasat mata itu. Di mana cahaya merah adalah "Anti Crystal Area" dan cahaya kuning adalah "Anti Magic Area". Ternyata rahasia lain dari gurun pasir yang dikenal dengan "Chess Oasis" ini, area jebakan ini selalu berpindah-pindah tempat seiring player menginjak suatu area tertentu. Begitu juga dengan "Safe Area", akan berpindah tempat jika player masuk ke dalamnya.

Intinya, gurun pasir ini memiliki permainan seperti catur. Di mana player menjadi bidaknya. Jika salah melangkah ke area jebakan, misalnya "Anti Crystal Area", maka player harus menghadapi monster dan kristal-kristal tidak akan berfungsi selama player berada di area itu. Harus mengalahkan monster dan barulah bisa melangkah ke "Safe Area" terdekat.

Begitulah seterusnya sampai mendekati Ashe City. Jika player selamat, mereka akan diperiksa dulu oleh para anggota keamanan wilayah Blue yang berada di pos perbatasan. Anggota keamanan kerajaan biru yang dinamakan "Blue Army". Barulah player bisa masuk ke sebuah terowongan yang bersatu dengan gerbang teleport Ashe City.

Saat ini Naruto dan Kirito berada di Safe Area. Mereka berhenti sebentar. Lalu Kirito mengaktifkan Monster Scanning di layar window-nya.

"Ada satu monster di sebelah kiri, berada di Anti Magic Area, satu monster di depan kita di Anti Crystal Area, dan satu monster di sebelah kanan yang berada di Normal Area. Jadi, kita harus melangkah kemana?" tanya Kirito tanpa melihat Naruto.

"Safe Area berada dalam jarak tiga langkah ke depan. Safe Area hanya bisa bergerak tiga langkah ke kanan. Hm... Kita ambil langkah tiga secara miring ke kanan."

"Oke, aku mengerti."

Mereka melangkah ke "Normal Area" yang berarti bisa menggunakan kekuatan sebebas mungkin dalam menghadapi monster. Di mana monster berbentuk laba-laba hitam berukuran sekitar 1,3 meter, "Dark Scorpion", menunggu mereka.

Dark Scorpion adalah monster setingkat rating B, memiliki kekuatan benang beracun yang sangat mematikan dan bisa membunuh player hanya dalam hitungan dua menit. Untuk menghadapi monster ini, dibutuhkan kehati-hatian dan mempersiapkan Antidote Crystal.

Ketika mereka memasuki "Normal Area", Dark Scorpion segera menyerang mereka. Mereka langsung menyabet pedang masing-masing.

BRUUUUSH!

Benang beracun disemburkan dari mulut monster, menyebar ke segala arah untuk melumpuhkan dua musuh di depannya ini.

"Wind Shelter."

SRIIIING!

Muncul sebuah kubah berwarna kuning yang melindungi mereka dari racun milik Dark Scorpion.

Kesempatan bagus karena Naruto melindungi mereka dari serangan benang beracun, Kirito langsung menggunakan salah satu skill magic yang ia miliki.

Comet Lightning.

Kilatan-kilatan petir berwarna silver langsung menyambar benang-benang tersebut kemudian membakarnya menjadi abu..

BWOOOOSH!

Melihat benang tersebut musnah, Naruto langsung meng-nonaktifkan skill magic miliknya.

"SEKARANG!" seru Kirito yang melompat tinggi ke udara sambil mengayunkan longsword-nya secara vertikal ke arah monster itu. Hendak menebas tubuh monster itu dari atas.

Menyadari datangnya bahaya, monster itu menghindar dengan cepat untuk menghindari serangan Kirito.

DHUAAAASH!

Serangan pedang Kirito mengenai pasir. Sebagai gantinya, si monster menyemburkan benang beracun ke arah Kirito.

BRUUUUSH!

Datanglah Naruto yang mengayunkan pedangnya yang berbentuk burung garuda, memunculkan serangan angin tornado besar yang memutar-mutarkan badan Dark Scorpion. Membuat damage bertubi-tubi hingga HP monster tersebut perlahan-lahan berkurang seiring angin tornado masih memutar-mutarkan dirinya.

"Double Line,"menggunakan skill longsword-nya,Kirito datang untuk menebas monster secara horizontal sebanyak dua kali.

CRAAASH! CRAAAASH!

Hp monster berkurang banyak ketika mendapatkan damage serangan dua kali dari Kirito. Damage yang menghabiskan sekitar 40 persen HP-nya, hingga ditambahkan serangan tornado yang masih berlangsung, HP-nya menurun menjadi 70 persen. Sekitar 30 persen HP-nya yang tersisa.

FYUUUSH!

Angin tornado menghilang. Si monster kelihatan pusing tujuh keliling. Kesempatan ini digunakan oleh Kirito dan Naruto untuk menyerang secara bersamaan.

"HIAAAT!"

"RASAKAN INI, MONSTER!"

Mereka berteriak keras kompak. Memberikan tebasan bertubi-tubi pada tubuh si monster dengan teknik pedang masing-masing.

Kirito menggunakan teknik pedang "Death X", teknik memotong dengan gerakan seperti silang. Sedangkan Naruto menggunakan teknik pedang "Hurricane Circle", teknik menebas dengan gerakan berputar sekali seperti angin puyuh.

Membuat damage yang sangat besar pada tubuh monster sampai HP monster menjadi nol. Akhirnya menjadi pecah menjadi kepingan kecil-kecil.

Setelah itu, mereka menunggu sampai area berpindah lagi. Lalu mereka berjalan ke area miring ke kiri atas dan harus menghadapi monster yang berada di "Anti Crystal Area."

Begitulah seterusnya sampai mereka mencapai Ashe City, beberapa jam kemudian.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

Mau mereview nggak?

Terima kasih

Sabtu, 13 Agustus 2016

Note aja deh:

Rombak dibeberapa tempat. Jika bukan karena aku, Nii-san g bakal ada di sini dan tertukar dengan tempat Shinya. Berterima kasihlah padaku Nii-san, HUAHAHAHA... *tertawa pake toa*

Kalau ada kesalahan sifat yang kelewat OOC dan beda dengan di anime langsung komen aja ke akun FB Ishikawa Yue \( - )/ nanti bisa aku ubah... sekalian kalo penasaran ama aktor dan aktris di serial DHO ini :3 (emang artis)

Ttd (orang yang request).

Aikawa Yue (ganti penname bung)