Ini adalah hari kelima sejak pernyataan cinta Chanyeol kepada 'Luhan' tempo hari lalu. Saat ini, Baekhyun sedang dibuat kesal setengah mati akibat ulah monster gigi Chanyeol yang menjelma menjadi bodyguard dadakan dirinya. Semenjak saat itu, Baekhyun sama sekali tidak di perbolehkan Chanyeol untuk pergi dan berkeliaran seorang diri. Baekhyun merasa tidak suka, dia sama sekali benci dengan namanya peraturan.
Pagi ini lagi-lagi Baekhyun harus pergi kesekolah dengan Chanyeol yang menjemputnya dirumah. Lelaki itu juga tidak lupa membawakan Baekhyun sebuah kotak berisi sarapan pagi untuk sang kekasih yang masih menekuk wajah manisnya. Padahal Baekhyun bisa makan pagi di rumah, dan dengan seenaknya sendiri Chanyeol melarang para maid menyiapkan makan pagi untuk Baekhyun saat mereka di pastikan akan berangkat bersama.
"Hei, jangan menekuk mukamu seperti itu Lu~" renggek Chanyeol menjijikan sesekali mengalihkan pandangannya dari depan kemudi.
"Jangan menggunakan suara menjijikan itu Park!" ketus Baekhyun jengah.
Chanyeol terkekeh geli mendengar jawaban 'Luhan'. Walaupun konteks bicara yang ditujukan padanya dapat di bilang kasar. Tapi, Chanyeol sangat mengerti bahwa karakter 'Luhan-nya" itu memang seperti ini.
"Ayo makan bekal yang aku bawakan itu Lu~, aku tidak mau kau sakit perut dan kekurangan energi untuk menghadapi ujian percobaan kita." Kali ini tangan Chanyeol dengan lembut mengelus rambut white broke sang kekasih. "Rambutmu sudah mulai panjang." Sambungnya lagi.
"Berhenti mengangguku Park! Jauhkan tanganmu, aku mau makan dengan tenang." Baekhyun menggigit rotinya dengan gigitan besar. "Hm... Strawberry~" katanya imut.
"Kau suka?" Chanyeol tersenyum tampan.
Baekhyun hanya meganggukan kepalanya dan kembali menikmati sarapan pagi yang di bawa Chanyeol.
"Lain kali aku akan membuatkanmu cake strawberry, bagaimana?" tawar Chanyeol, mencoba menarik perhatian kekasihnya itu melalui buah yang sangat di sukainya.
"Oke!" seru Baekhyun bahagia.
Chanyeol hanya terkekeh melihat perubahan sang kekasih yang sangat cepat bila menyangkut buah masam bewarna merah itu.
Saat Chanyeol menyatakan perasaannya pada 'Luhan', lelaki tinggi itu banyak mengalami perubahan dalam kesehariannya. Dia lebih sering tertawa, rajin, dan manjadi menjengkelkan saat 'Luhan' sedang asik dengan beberapa teman lainnya, khusunya Kim Jongin yang Chanyeol patenkan sebagai musuh beratnya walaupun dia tahu pemuda hitam itu sudah memiliki Kyungsoo.
Dan saat ini, Chanyeol memasang radar bahayanya saat dia mendeteksi kehadiran makhluk hitam yang mendekat pada pintu mobil yang sedang terparkir di halaman sekolah. Terang saja di sana berdiri seorang Kim Jongin dengan senyum lebarnya menyambut 'Luhan' yang keluar dari mobil.
"Pagi Lu!" seru Jongin semangat 45.
"Apa maumu hitam?" ini adalah suara Chanyeol dengan nada jengkel yang kentara.
"Aku tidak bicara denganmu Park!" balas Jongin sewot. Baekhyun yang melihat interaksi keduanya hanya memutar mata malas.
"Ada apa Kai?" Baekhyun mengalihkan perhatiannya pada Jongin. Tuh kan... Chanyeol diabaikan lagi, ini bukan terjadi sekali dua kali dalam hidupnya.
"Aku, dan Kyungsoo mau memintamu mengajari kami tentang fisika." Jawab Jongin semangat.
"What? Bukankah kau bisa mengajarinya?" Baekhyun mendelik heran.
"Yeah, itu bisa saja. Tapi bila aku berduaan dengan Kyungsoo aku tidak akan konsentrasi." Jongin terkekeh mesum.
"Kau dan otak bodohmu." Tanpa sadar, Baekhyun berkata dengan bahasa Rusianya.
"Aku tidak bodoh, buktinya aku adalah sang genius. Aku hanya kurang bisa menahan godaan." Jongin menjawab dengan bahasa Jepangnya.
"Fuck you!" balas Baekhyun kejam. "Lakukan itu, kau akan botak Kai." setelah berkata seperti itu Baekhyun langsung melengos pergi meningalkan Jongin dan Chanyeol hanya melongo melihat interaksi keduanya.
"Apa yang kalian bicarakan?" Chanyeol mengernyitkan dahi heran.
"Bukan urusanmu." Jongin menjawab cuek.
"Aku mengingatkanmu Kim Jongin. Jika 'Luhan' akan membuatmu botak. Aku yang akan merontokkan gigimu bila berani menyentuh milikku." Chanyeol meninggalkan Jongin setelah memberi ultimatum yang menakutkan.
"Mereka pasangan aneh yang sangat suka dengan kekerasan." Jongin bergidik ngeri membayangkan duo masokis itu.
.
.
.
Byun?
Main Cast:
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Support cast:
Xi Luhan (Byun Luhan)
Oh Sehun
Do Kyungsoo
Kim Jongin
Kim Jongdae
Wu Kris
Rating:
T (berubah sesuai alur cerita)
Gendre:
Romance/Drama-School live
YAOI
Summary:
Kembar identik tidak membuat sifat keduanya sama. Keadaan yang terjadi membuat mereka tumbuh dengan karakter yang berbeda. Byun Luhan dan Byun Baekhyun. Apa yang akan terjadi jika mereka bertukar peran?
.
.
.
Chapter 10
Setelah perdebatan yang cukup pelik antara Baekhyun dan juga Jongin, akhirnya Baekhyun setuju untuk mengajari mereka fisika saat jam pulang sekolah. Dan itu mengakibatkan Chanyeol harus menahan dirinya untuk tidak segera pulang kerumah, melainkan menunggui kekasihnya yang sedang memberikan cara-cara cepat menjawab soal fisika.
Baekhyun berulang kali menyuruh Chanyeol pulang duluan, karena dia bisa pulang dengan mobil Kyungsoo atau bus nantinya. Tapi sang monster gigi memaksa 'Luhan' harus pulang dengan dirinya. Jujur saja Baekhyun jengah dengan sikap posesif seorang Park Chanyeol.
Saat ini mereka sedang berjalan menuju mobil Chanyeol yang sedang terparkir, sedangkan pasangan kekasih Jongin Kyungsoo sedang merencanakan kencan mereka. Baekhyun terlihat lelah, terang saja dia menghabiskan separuh energinya untuk menjelaskan materi kepada sang burung hantu yang ternyata sedikit bodoh. Chanyeol yang melihat sang kekasih tidak begitu baik terlihat khawatir.
"Bukankah sudah kubilang jangan menerima permintaan Jongin." Chanyeol mengoceh saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.
"Aku kan berusaha membantu Kyungsoo." Jawab Baekhyun membela diri.
"Tapi tidak sampai kau kelelahan seperti ini kan." Chanyeol terlihat tidak suka.
"Tidak masalah saat itu membuat orang lain menjadi lebih baik." Bela Baekhyun.
"Kalau begitu besok kau harus mengajariku juga."
"Kenapa harus begitu? Kau kan sudah pintar di segala bidang."
"Tapi kan sekarang kau lebih pintar dariku. Apa salahnya menghabiskan waktu dengan belajar bersama kekasih sendiri?" jawab Chanyeol sewot.
"Kau... kekanakan!" bentak Baekhyun tidak terima.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya mulai besok aku akan kerumahmu dan kita akan belajar bersama untuk persiapan ujian akhir kita. Titik!" kata Chanyeol, Baekhyun yang mendengar keegoisan Chanyeol hanya mengerucutkan bibir tidak suka.
Sejujurnya Chanyeol sedang dalam mode cemburu. Dia sangat cemburu saat 'Luhan' rela menghabiskan waktu demi orang lain. Maka dari itu, Chanyeol sengaja menyita waktu 'Luhan' agar lebih sering bersama denganya. Benar-benar posesif.
.
.
.
"Ish! Berhenti merangkulku Park!" Baekhyun segera menepis tangan Chanyeol untuk yang ke empat kalinya.
Saat ini mereka sedang berada di rumah Chanyeol, tepatnya di dalam kamar Park Chanyeol. Seperti perkataan Chanyeol kemarin, mereka hari ini benar-benar menghabiskan waktu belajar bersama. Setidaknya dapat di anggap begitu kalau saja Chanyeol tidak mencuri kesempatan untuk melakukan kontak fisik dengan si kecil.
"Wae? Aku kan hanya ingin berada dalam posisi yang pas." Bela Chanyeol dengan tampang sok lugunya.
"Kau hanya mencari kesempatan dalam kesempitan raksasa bodoh!" bentak Baekhyun. "Jauh-jauh dariku!" Baekhyun mendorong lengan Chanyeol dan bergeser membuat jarak.
"Bagaimana kau bisa mengajariku kalau jauh seperti ini Lu?" Chanyeol sedikit protes saat melihat kelakukan kekasihnya.
"Tetap disitu atau aku akan pulang!" ancam Baekhyun melotot.
"Tapi kan wajar saja kalau kita saling mendekat. Waktu mengajari Kyungsoo saja kau selalu menempel padanya." Chanyeol berusaha mendekat lagi.
"Tapi dia tidak seperti seseorang yang mencari kesempatan dalam kesempitan." Sindir Baekhyun tajam.
"Apa salahnya? Kita kan sepasang kekasih." Jawab Chanyeol mengidikkan bahu cuek.
"Tetap saja aku tidak suka. Tetap di sana dan jaga posisimu Park idiot!" seru Baekhyun sedikit histeris saat melihat Chanyeol yang akan mempersempit jarak mereka lagi. "Sekali lagi kau mendekat dan mencuri kesempatan. Aku benar-benar akan pulang." Ancam Baekhyun.
Chanyeol hanya mencoba bersabar menghadapi kelakukan 'Luhan' yang sangat berlebihan menurutnya. Dia hanya diam dan tetap berada dalam posisi tadi. Untuk kali ini dia benar-benar mendengar penjelasan yang dilakukan oleh makhluk kecil pujaan hatinya itu. Mereka menghabiskan waktu dengan benar-benar belajar serius untuk menghadapi Ujian akhir yang sebentar lagi akan dilakukan oleh sekolah.
.
.
.
Ini adalah hari libur untuk Oh Sehun, sang dokter muda berbakat. Kali ini dia dan Luhan sedang berada dalam salah satu kawasan perbelanjaan yang ada di Belanda. Mereka berdua memutuskan menonton sebuah film yang sedang populer.
Sehun membawa satu box popcorn berukuran besar dan Luhan membawa dua cola di tangan-tangan kecilnya. Mereka berjalan beriringan memasuki bioskop tempat mereka menghabiskan waktu nanti dengan sesekali tertawa akibat candaan yang mereka anggap lucu. Luhan dan Sehun terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan.
Tidak ada percakapan saat film sedang di putar, baik Luhan maupun Sehun tetap fokus pada layar di depan yang sedang mereka tonton. Tangan-tangan mereka aktif mengambil popcorn dan memasukkan ke dalam mulut mereka yang tidak berhenti mengunyah.
Semua biasa saja sampai akhirnya dua tangan yang saling berebut di dalam box saling bersingungan dan hal tersebut menimbulkan getaran-getaran aneh di dada masing-masing. Sehun mengalihkan fokusnya ke arah Luhan yang diam mematung. Entah sadar atau tidak, tangan yang lebih besar dengan lantas mengenggam tangan yang lebih kecil.
"Se-Sehun." Gagap Luhan saat jari-jemari Sehun mulai mengisi kekosongan di sela-sela jarinya.
Sehun terlihat cuek, dan bertingkah seperti hal yang sedang dia lakukan ini adalah hal wajar. Dengan santainya, lelaki pale itu membawa tangan Luhan ke atas paha, sesekali ibu jarinya bergerak mengeluas tangan Luhan.
"Konsentrasi Lu." Perintah Sehun tanpa mengalihkan perhatian kepada Luhan.
Luhan yang diperlakukan seperti itu hanya berdeham canggung dan kembali fokus ke tontonannya. Tanpa Luhan sadari, Sehun sedang tersenyum kecil saat merasakan denyut nadi pergelangan tangan Luhan yang sangat cepat saat dia secara tidak sengaja merabanya.
Sehun tahu Luhan berdebar karenanya.
.
.
.
Saat ini Luhan dan Sehun sedang berada di salah satu restoran pizza yang ada di Belanda. Setelah selesai menonton, Sehun langsung menarik tangan Luhan yang masih berada di genggaman untuk mengikutiny ke salah satu tempat makan favoritnya dengan Baekhyun.
Sehun memilih menu yang dia inginkan begitu pula dengan Luhan. Setelah makanan di sajikan, Sehun langsung memakan menunya seperti orang bodoh yang bar-bar. Luhan hanya terkekeh melihat kelakukan Sehun yang sangat tidak elit itu.
"Pelan-pelan Sehun." Kekeh Luhan saat melihat ada noda saus di bibir Sehun.
"Ini sangat enak Lu!" seru Sehun semangat.
"Aku tahu~ tapi pelan-pelan. Jika kau tersedak bagai-"
"Uhuk! Uhuk!" belum selesai Luhan bicara, Sehun sudah tersedak lebih dulu. Tangan Sehun dengan sembarang mencari-cari di mana gelas cola yang telah dia pesan. Luhan dengan segera menaruh cola milik Sehun di tangan si pale dan langsung di teguk dengan beringas.
"Haahh... aku hampir mati." Kata Sehun setelah bebas dari roti yang menghambat saluran pernapasannya.
"Baru saja aku bicara." Luhan sedikit sewot melihat kelakuan Sehun.
"Heii... aku tidak apa-apa oke!" rayu Sehun sesekali mengelus kepala Luhan sayang.
"Kau seorang dokter, tapi selalu mengabaikan keselamatanmu sendiri." Luhan masih mengoceh.
"Baiklah aku minta maaf Luhanie~" Sehun mengulum senyum. "Kau mengingatkanku pada Baekhyun kalau cerewet begini." Lanjut Sehun terkekeh geli.
"B-Baekhyun?" suara Luhan tercekat saat mendengar nama sang adik keluar dari mulut Sehun. Entah kenapa dia tidak suka dengan itu.
"Iya Baekhyun. Biasanya saat kami berjalan berdua seperti sekarang, dia yang akan berteriak seperti kau barusan." Jelas Sehun tidak sadar situasi.
"Benarkah?" kata Luhan mencoba tersenyum. "Apa kalian sering menghabiskan waktu berdua?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Luhan.
"Tentu saja Lu. Aku dan dia selama ini selalu bersama. Baekhyun itu spesial"
Jawaban yang keluar dari Sehun tambah membuat Luhan semakin tidak suka dengan topik pembicaraan ini. Banyak pikiran negatif masuk ke dalam kepalanya, seperti apakah dia hanya sebagai pelampiasan Sehun karena dia sama dengan Baekhyun. Apakah perhatian Sehun selama ini hanya sekedar basa basi karena dia adalah kembaran Baekhyun? Apakah genggaman tangan Sehun tadi juga karena Sehun sudah terbiasa melakukannya dengan Baekhyun? Apakah Luhan hanya sebagai pengganti Baekhyun bagi seorang Oh Sehun?
Karena pemikirannya itu, dengan refleks Luhan berdiri dari kursinya dan secara tiba-tiba pergi keluar, meninggalkan Oh Sehun yang syok melihat perubahan Luhan. Dengan tergesa, Sehun mengeluarkan beberapa uang dan menaruhnya di atas meja. Sehun segera berlari mengejar Luhan.
"Lu! Hei!" teriak Sehun saat melihat Luhan terus berusaha menciptakan jarak dengannya.
"Luhan! Aish!"
Luhan tidak mengindahkan panggilan Sehun. Dia terus berlari menjauh. Untuk saat ini hatinya sudah tidak kuat lagi untuk menerima terkaan-terkaan yang ada di dalam kepalanya. Langkah kaki membawanya ke arah sebuah taman yang cukup sepi.
Tarikan pada lengan dirasakan Luhan sebelum tubuhnya menabrak tubuh lain yang ada di depannya. Tanpa melihat pun Luhan tahu bahwa yang sedang memeluknya ini adalah Oh Sehun.
"Lepaskan!" ronta Luhan.
"Ada apa denganmu Lu!" Sehun memegang kedua bahu Luhan yang bergetar. "Kenapa kau pergi begitu saja?!" cerca Sehun menuntut penjelasan.
"Lepaskan aku Oh Sehun!" Luhan balas membentak dengan mata memerah.
"Beritahu aku ada apa baru aku lepaskan kau!" seru Sehun lagi.
"Aku tidak suka kau terus membicarakan Baekhyun!" Luhan berkata dalam satu tarikan napas, dan dia terengah-engah setelahnya.
"Apa?" lirih Sehun tidak mengerti.
"Kau sadar bila selama ini kau selalu memikirkan Baekhyun saat sedang bersamaku!" kali ini Luhan menepis tangan Sehun yang berjalan membuat jarak.
"Aku tidak mengerti Lu."
"Aku tidak suka selalu kau samakan dan bandingan dengan Baekhyun! aku Luhan! Bukan Baekhyun! kami orang yang berbeda! Tidakkah kau bisa menjaga perasaanku Oh Sehun!" Luhan mengeluarkan segala emosi yang selama ini di pendamnya.
"Lu-Luhan." Sehun hanya terperangah melihat luapan emosi Luhan kepadanya.
"Wae?! Bisakah kau mengeri Sehun. Tidakkah kau tahu bagaimana perasaanku selama ini? Aku tidak pernah merasakan hal seperi ini sebelumnya." Luhan menanggis sesenggukan. "Aku membutuhkanmu Oh Sehun." Luhan menatap mata Sehun dalam.
Sehun tercekat saat melihat linangan air mata yang turun membasahi pipi putih itu. Hatinya terasa sakit dan dia merasa sangat bersalah saat sadar bahwa dia yang telah menyakiti orang serapuh Luhan.
"Aku mencintaimu."
Luhan terus menangis setelah dia mengungkapkan perasaannya pada Sehun. Dia merasa sangat jahat pada Baekhyun saat menginginkan sesuatu yang seharusnya tidak untuknya. Luhan tahu dia akan di jodohkan oleh Chanyeol. Tapi, kali ini dia boleh sedikit egoiskan? Dia ingin Sehun sekarang.
Sehun mendekat kearah Luhan yang masih saja menunduk. Dengan lembut, Sehun memeluk Luhan dengan sayang. Sesekali mengelus rambut Luhan.
"Huh... aku kalah lagi." Bisik Sehun serak.
"Hiks! Ma-maksudmu?" kali ini Luhan mengangkat kepalanya dan di sambut tatapan penuh cinta dari Oh Sehun. Semburat merah mulai menghiasi pipi Luhan.
"Kau salah paham rusa betina~"
"Ish! Aku laki-laki~" renggek Luhan manja.
"Aku dan Baekhyun tidak ada hubungan apa-apa. Selama ini juga aku selalu menganggap kau adalah Byun Luhan. Kalian tidak mungkin bisa di samakan. Kalian terlalu berbeda. Dan seharusnya ini adalah bagianku." Jelas Sehun lembut, tanpa mengalihkan tatapannya dari mata Luhan.
"Hm?" Luhan terlihat berpikir. Tak lama kemudia dia menyurukkan kepalanya pada dada Sehun. Luhan malu saat tahu maksud di balik kata-kata Sehun.
"Sudah sadar sekarang eum?" goda Sehun.
"Jadi... kita..."
"Belum Luhan."
"Kenapa?" dengan cepat Luhan mengangkat kepalanya menuntut.
"Karena aku butuh waktu untuk menjinakkan yang satu lagi. Kau mengertikan?" Sehun mencoba memberi Luhan pengertian.
"Uh? Baekhyun?" jawa Luhan polos.
"Yah... kau tidak mau aku mati muda karena Baekhyun dan sifat brother complexnya itukan?
Sehun memiringkan kepala dan bergidik ngeri saat mengingat kehororan Baekhyun.
"Ya. Kalau begitu, aku akan menunggu Sehun~" kali ini Luhan terlihat sangat manis dengan rona merah di pipinya.
"Aigooo~ manisnya~~" Sehun mendekap Luhan sayang, sesekali mengecup kepala bersurai coklat madu itu.
.
.
.
Ruang makan di mansion Byun terlihat ramai oleh perbincangan di dalamnya. Malam ini, keluarga Byun dan keluarga Park sepakat makan malam bersama di kediaman Byun. Tuan Byun terlihat berbincang hangat dengan kepala keluarga Park, begitu pula dengan Nyonya Byun dan Nyonya Park.
Baekhyun menatap kaku makanan di depannya. Dia hanya diam dan tidak bersuara sedari tadi. Sedangkan Chanyeol sedikit heran melihat kelakukan kekasihnya yang sangat berbeda dari biasanya.
"Kau baik Luhan?" Chanyeol bertanya kepada Baekhyun dan lelaki kecil itu sedikit tersentak karena suara Chanyeol.
"Ne." Jawabnya acuh dan kembali mencoba menikmati menu makan malam mereka.
"Ini akan sangat baik saat kita sudah menjadi keluarga." Park Yunho tertawa bahagia dan di sambut baik Byun Nichkhun.
"Iya. Ini akan jadi pemandangan yang akan sering kita lihat beberapa tahun lagi." Balas Tuan Byun.
"Lihatlah mereka. Bukankah mereka sangat cocok bila bersama seperti itu." kali ini adalah suara Sandara Park, Eomma Chanyeol.
Victoria hanya tersenyum kecil saat melihat putranya yang hanya diam menunduk kaku. Dia tahu bagaimana perasaan Baekhyun sekarang. Anaknya itu pasti sedih saat dirinya hanya menjadi bayangan dari Luhan.
"Sayang, habiskan makanannya." Victoria berusaha memberi perhatian kepada Baekhyun, tapi anak itu hanya meliri sebentar dan menjauhkan piring makan malam yang masih bersisa banyak itu.
"'Luhan' sudah kenyang, Eomma." Sengaja Baekhyun menekankan nama Luhan saat berbicara, membuat Tuan Byun mengalihkan fokus ke arahnya.
"Kau bisa sakit bila tidak menghabiskan makananmu Lu." Kali ini Tuan Byun berusaha membujuk Baekhyun.
"Tidak apa Appa." Baekhyun tersenyum sinis kepada sang Appa, dan membuang muka segera.
Saat ini mereka telah pindah ke ruang keluarga. Keluarga Byun dan keluarga Park masih berbincang hangat. Chanyeol pun ikut larut dalam perbincangan kepala keluarga itu dan mengabaikan Baekhyun yang hanya diam, menatap malas.
"Jadi, kapan pertunangan mereka akan di laksanakan?" Tuan Park terlihat antusias.
"Bukankah kita sudah sepakat mengadakannya setelah mereka lulus sekolah?" jawab Tuan Byun.
"Yah Byun Nichkhun, kita harus menetapkan tanggal baik untuk mereka, aku tidak mau kehilangan Luhan sebagai menantuku." Tuan Park tersenyum lembut ke arah Luhan.
"Iya, aku juga tidak sabar menjadikan Luhan menantuku. Lihatlah dia, sangat imut, lucu, dan mengemaskan." Sambung Nyonya Park. "Aku akan menghabiskan waktu seharian penuh dengan Luhan suatu saat nanti. Oke sayang?"
"Eomma jangan mencoba mengambil milikku." Kali ini suara Chanyeol yang bernada posesif. Dengan segera Chanyeol merengkuh Baekhyun yang sedang duduk di sebelahnya dalam satu tarikan. "Dia ini milikku, jadi jangan mencoba memonopolinya."
"Jauhkan tanganmu darinya anak muda." Kali ini Tuan Byun yang angkat bicara. "Untuk saat ini, anak manis yang sedang kau dekap itu msih milikku."
Mendengar perkataan Tuan Byun, Chanyeol langsung melepaskan rangkulannya pada Baekhyun dan tertawa canggung. Dia sadar jika 'Luhan' masih belum menjadi miliknya seutuhnya.
Lain halnya dengan Nyonya Byun. Dia hanya memasang tatapan sendu kearah Baekhyun yang tetap hanya diam dan memasang pandangan kosong. Dia adalah ibunya dan dia tahu bagaimana perasaan Baekhyun saat ini.
Perasaan dan logika yang di miliki Baekhyun sedang berkecamuk. Logikanya mengatakan bahwa ini adalah hal yang baik untuk saudara kembarnya Luhan. Melihat semua orang mengharapkan Luhan di pastikan sang hyung pasti akan bahagia. Sedangkan perasaannya sedang memberontak. Dia merasa terasingkan, ini semua tidak adil, seharusnya mereka menganggap dia Baekhyun, bukan Luhan. Dia merasa sangat tidak di harapkan saat ini. Baekhyun sadar ini adalah salahnya. Dia telah melakukan hal bodoh dengan idenya menggantikan Luhan di korea. Seharusnya dia saat ini sedang berada di Belanda, bersama Sehun dan menjalani hari-hari seperti biasa.
"Wae?" saat sedang dalam hanyut dalam perasaan, Baekhyun merasakan usapan lembut dari tangan hangat yang sedang menggengam tangan kecil miliknya.
Baekhyun memalingkan wajah dan langsung di hadapkan dengan sepasang iris bulat tajam milik Chanyeol.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Lu?"
Ah, benar, sekarang aku adalah Luhan.
Baekhyun sadar mau bagaimana pun sikap Chanyeol sekarang. Saat ini, yang ada di dalam pikirannya hanya satu nama Byun Luhan, dan bukan Byun Baekhyun.
"Gwencanha." Baekhyun hanya tersenyum masam.
Jujur saja dia mulai merasakan perasaan nyaman saat bersama dengan Chanyeol. Melihat bagaimana cemburunya lelaki itu saat dia bersama orang lain, membuat Baekhyun menjadi orang yang bagitu berharga bagi Chanyeol. Tapi saat menyadari bahwa Chanyeol melakukan ini untuk Luhan, Baekhyun mencoba untuk menjaga hatinya yang sedikit mulai goyah. Dia harus bisa menyakinkan hatinya bahwa dia tidak butuh Chanyeol.
"Aku ingin bicara."
Chanyeol menarik tangan Baekhyun setelah berpamitan kepada orang tua. Dengan semangat, lelaki tinggi itu menarik tangan Baekhyun dan membawanya ke taman belakang kediaman Byun.
"Apa?" tanya Baekhyun saat menyadari Chanyeol sedang memandanganya dengan maksud lain.
"Ayo berkencan!" ajak Chanyeol tanpa lelah. Ini adalah ajakan kencan kesekian kali dari Chanyeol.
"Aku tidak bisa." Jawab Baekhyun cuek.
Mendengar jawaban dari kekasihnya, Chanyeol terlihat tidak terima.
"Apa lagi alasannya, Lu?" Chanyeol mengeraskan rahangnya. "Kau sudah menolak ajakanku berkali-kali. Apa salahnya berkencan dengan kekasih sendiri!" seru Chanyeol. Selama ini dia sudah berusaha sabar menghadapi sikap cuek Luhan yang berlebihan.
"Aku hanya tidak mau." Baekhyun menatap Chanyeol malas.
"Kali ini apa lagi! Kita sudah tidak perlu belajar, karena kita sudah melaksanakan ujian. Kita juga tidak memiliki hal-hal penting yang perlu di urus. Hanya menyempatkan menghabiskan waktu seharian denganku saja kau tidak bisa?" Chanyeol mengernyitkan dahi tidak terima.
"Kau tidak mengerti Chanyeol.- Tidak akan pernah mengerti tentang posisiku sekarang." Baekhyun menundukkan kepalanya.
"Apa yang tidak aku mengeri Lu?" cecar Chanyeol lagi.
"Kau tidak perlu tahu!" Baekhyun mencoba menguatkan perasaannya. Lelaki kecil itu menatap Chanyeol, menantang.
Chanyeol yang menyadari arti tatapan Baekhyun mengeraskan rahangnya. Dia sudah di ambang batas kesabaran menghadapi si mungil ini.
"Kau benar-benar.." ucap Chanyeol geram. "Aku muak denganmu." Desisnya tajam dan berlalu meninggalkan Baekhyun yang hanya diam.
"Ya, aku juga muak dengan diriku sendiri." Lirih Baekhyun dengan tatapan kosongnya.
.
.
.
Sehun saat ini sedang ada di ruangannya. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan dan membosankan. Sehun adalah dokter jaga hari ini, dan dia terpakasa meninggalkan Luhan seharian sendiri di rumah. Mereka memang bukan sepasang kekasih, tapi Sehun bertekad akan meminta restu Baekhyun dalam waktu dekat agar mereka bisa bersama.
Saat sedang menikmati waktu istirahtnya, Sehun di kejutkan dengan getaran ponsel yang berada di saku jas dokter yang sedang dia kenakan. Dengan gerakan malas, Sehun mengambil ponselnya dan langsung terkejut saat melihat nama Baekhyun tertera sebagai ID si penelepon. Dengan ragu Sehun menjawab panggilan itu.
"Ha-halo." Gagap Sehun.
Hening. Baekhyun sama sekali tidak bicara. Hanya terdengar nafas teratur Baekhyun di dalam sambungannya.
"Baek?" panggil Sehun lagi. Dahinya berkerut.
"Kau baik?" sambung Sehun lagi. Baekhyun sama sekali tidak pernah seperti ini.
"Ayo bernyanyi Sehun-ah." Jawaban line seberang terdengar lirih dan tertekan.
Baekhyun memiliki kebiasaan aneh saat sedang banyak masalah. Dia akan bernyanyi dan akan mengajak Sehun mengikutinya.
"Hah...apa yang menjadikanmu begini Baek?" Sehun menghela nafas dan mencoba mengorek informasi dari Baekhyun.
"Ini sama sekali tidak enak. Rasanya aneh Sehun." Sambung Baekhyun.
"Apanya yang aneh? Kau bisa menceritakannya denganku, eum?" bujuk Sehun, berusaha ikut meringankan beban yang sedang di tanggung sahabatnya itu.
"Tidak. Kau belum berhak tahu." Baekhyun masih bersikeras.
"Apa kali ini kita main rahasiaan lagi hm?" Sehun menaikka satu alisnya. "Oh... kau benar-benar sahabat yang baik." Sarkas Sehun.
"Jauhi Luhan."
"A-apa?" Sehun terkejut saat mendengar kata-kata Baekhyun.
"Kau tidak boleh terlalu dekat dengannya."
"Hei! Apa maksudmu?!" seru Sehun tidak terima.
"Tentu kau mengerti maksudku Sehun. Jika kau benar-benar sahabat yang baik!" bisik Baekhyun tajam.
"Byun Baekhyun! kau keterlaluan! Ini lah yang tidak aku suka darimu!" teriak Sehun marah.
"Yah, ini lah aku. Aku Byun Baekhyun." Baekhyun kali ini berkata lirih.
"Ya! Kau tidak berhak mengaturku Baek! Aku mencintai Luhan!"
"Aku harap perasaanmu bisa berubah Sehun. Ini demi kebaikan kalianmu."
"Demi kebaikanku! Persetan dengan itu semua! Aku muak dengan dirimu!"
Sehun memutuskan panggilan itu secara sepihak. Lelaki pale itu menjadi uring-uringan sendiri. Dia baru saja sadar akan kesalahan yang dia perbuat kepada Baekhyun.
"Maaf Baek, aku terlalu kasar." Lirih Sehun.
Sementara Baekhyun sedang menatap kosong ponsel di genggamannya.
"Aku memang memuakkan." Bisiknya sedih dengan suasana hati yang kacau.
.
.
.
Hari ini siswa kelas dua belas datang kesekolah untuk menghadiri pertemuan yang sudah di rencanakan jauh-jauh hari oleh sang ketua OSIS. Mereka sekarang sedang berkumpul di aula sekolah yang sangat luas dan sedang mendengarkan pengarahan dari sang guru.
"Baiklah. Tahun ini sekolah sepakat mengadalam perpisahan di pulau jeju!" seru guru Kim semangat di sambut teriakan heboh para murid.
"Oke oke. Tenang dulu! Kita akan di sana selama tiga hri dua malam. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, kita akan mengadakan pentas seni khusus untuk anak kelas akhir!" suara anak-anak ribut memenuhi aula tersebut.
"Bersiaplah anak-anak! Kita akan berangkat empat hari lagi. Aku harap, kalian berlatih sungguh-sungguh dalam persiapan pentas seni kalian!" pesan guru Kim mengakhiri sesi pengarahan itu.
Beberapa anak berpencar mencari pasangan untuk menampilkan bakat terpendam mereka dalam Pentas Seni yang akan di adakan di pulau jeju. Baekhyun yang saat ini sedang berdiri di sebelah Kyungsoo hanya memutar matanya malas, saat melihat gadis-gadis berebut mengajak Chanyeol melakukan duet dengannya.
Chanyeol yang sedikit kewalahan menghadapi gadis di sekolahnya menyeringai saat menyadari pandangan mata 'Luhan' tidak lepas darinya. Dengan semaunya, dia menarik seorang gadis dan menyetujui ajakan duet gadis tersebut. Dengan sedikit mesra, Chanyeol merangkul sang gadis.
Baekhyun yang melihat kelakuan Chanyeol hanya cuek dan pergi dari aula dengan menggeret Kyungsoo agar mengikutinya. Chanyeol yang melihat ekspresi kekasihnya hanya memasang muka masam. Rencananya gagal membuat Luhan cemburu, karena kekasihnya tampak biasa saja dan tidak peduli dengan perbuatannya.
Baekhyun menggeret Kyungsoo ke arah kantin sekolah, mereka memesan makanan untuk menganjal perut mereka. Baekhyun memang tidak sempat sarapan pagi, biasanya Baekhyun akan makan di dalam mobil Chanyeol saat mereka berangkat sekolah bersama. Tapi pagi ini, Chanyeol tidak menjemputnya dan mengabaikannya. Karena sudah terbiasa dengan perlakuan Chanyeol, Baekhyun melupakan kebiasaannya sebelum mereka bersama.
Sebenarnya Baekhyun kesal melihat tingkah Chanyeol yang terlihat sangat dekat gadis itu. tapi, Baekhyun masih memiliki gengsi yang tinggi untuk mengaku cemburu di saat sekarang, apalagi dia dan Chanyeol saat ini sedang bertengkar.
Saat sedang menikmati pesanan yang sudah datang, Baekhyun dan Kyungsoo di kejutkan dengan kedatangan dua orang gadis yang langsung duduk di hadapan mereka. Kyungsoo yang menyadari siapa mereka hanya menelan ludahnya kasar.
"Anyeong!" sapa dua gadis itu bersamaan.
"Nugu?" Baekhyun hanya menatap malas dan tetep konsentrasi dengan makanannya.
"Lu." Kyungsoo menyenggol tangan Baekhyun yang sedang memegang sendok, membuat makanan yang akan masuk ke dalam mulut Baekhyun jatuh.
"Oh shit!" umpat Baekhyun pelan.
"Apa kami menganggu?" tanya salah seorang gadis yang memiliki suara seksi.
"Tidak, Hyorin-sshi." Jawab Kyungsoo malu-malu.
"Huaahh... imut sekaliiii!" seru Hyorin heboh dan mencubit pipi Kyungsoo gemas.
"Akh! Appo!" jerit Kyungsoo kesakitan. Baekhyun yang melihat itu langsung menepis tangan gadis yang di ketahui bernama Hyorin, membuat sang gadis cemberut.
"Yah... jaga sikapmu, Hyorin!" bentak gadis satunya. "Maafkan Hyorin ya Luhan-sshi. Kenalkan aku Hyuna. Aku di sini ingin mengajakmu berduet denganku." Kata Hyuna blak-blakan.
"Dan aku ingin mengajak Kyungsoo-sshi berduet." Sambung Hyorin riang.
"Kenapa kalian mengajak kami?" tanya Baekhyun menyelidik.
"Oh ayolah Luhan-sshi. Aku pikir kau sudah tahu." Hyuna mencoba menatap mata Baekhyun yang hanya berisi ketidaktahuan. "Atau mungkin tidak." Sambungnya lagi.
"Aku memang tidak tahu." Jawab Baekhyun cuek.
"Baiklah. Maaf bila kata-kataku sedikit kasar dan menyakitkan. Kau tahukan reputasimu dulu. Seorang gay penggoda yang menjijikkan." Baekhyun mengeram rendah mendengar kata-kata Hyuna. "Hei, aku kan sudah minta maaf sebelumnya." Hyuna mencoba menenangkan Baekhyun yang tampak emosi karena perkataannya. "Jika kau seorang gay menjijikan, maka aku adalah pelacur penggoda." Sambung Hyuna lagi.
"Kau?" Baekhyun menurunkan pandangannya melihat penampilan Hyuna yang dapat di bilang seksi.
"Aku juga." Sabung Hyorin. "Jujur saja mereka hanya menilai kita dari penampilan." Hyorin mengeluarkan nada sedih yang kentara.
"Apa karena bentuk badan yang sexy mereka bisa mencap kita sebagai penggoda?!" Hyorin mengebrak meja yang ada di hadapannya.
"Yah! Emosi labilmu!" kali ini Hyuna yang angkat bicara.
"Jadi intinya?" Baekhyun menaikkan alis tertarik.
"Aku ingin kau berduet denganku, dan membuktikan pada mereka, bahwa orang yang selama ini mereka anggap penggoda tidak bisa mereka remehkan lagi dengan seenaknya." Hyuna terlihat berapi-api menyampaikan idenya pada Baekhyun.
"Kau tahu, mereka mungkin semakin meremehkan kita jika kita salah bertindak." Baekhyun mencoba memberi pendapatnya.
"Eumm..." Kyungsoo yang dari tadi hanya diam akhirnya buka suara. "Apa mungkin aku bisa bergabung dengan kalian?" Kyungsoo terlihat memainkan jari tangannya.
"Memangnya kenapa?" Hyorin memajukan wajahnya ke arah Kyungsoo.
"Aku kan tidak termasuk dalam orang seksi seperti kalian." Jawab Kyungsoo polos.
Baekhyun yang mendengar perkataan Kyungsoo hanya mendengus menahan tawa. Bagaimana mungkin Kyungsoo bilang seperti itu? jika saja dia tahu kalau kekasihnya Kim Jongin itu harus rela menahan hasratnya saat mereka sedang bersama.
"Yah! Kau kan akan berpasangan denganku!" seru Hyorin dan kembali menarik pipi Kyungsoo. "Kau itu seksi imut! Lihatlah bok-eumh!" perkataan Hyorin terputus saat sebuah roti masuk ke dalam mulutnya.
"Jaga omonganmu Hyorin!" bentak Kim Jongin sangar dan duduk di sebelah Kyungsoo.
"Ish! Apa yang kau lakukan hitam!" teriak Hyorin tidak terima.
"Dia hanya mencoba menjaga kepolosan kekasihnya." Sambung Kim Jongdae mengambil tempat di sebelah Baekhyun.
"Hai Jong!" sapa Hyuna ke Jongdae.
"Kalian saling mengenal?" kening Baekhyun berkerut.
"Ya. Kami teman sekelas." Balas Jongdae cuek.
"Ada apa kau mendekati kekasihku?" selidik Kai curiga.
"Terserah aku mau mendekati siapa!" Hyorin lagi-lagi mengebrak meja yang ada di depannya.
"Tapi tidak jika itu adalah kekasihku!" Kai ikut mengebrak meja.
"Diam Kai." kata Baekhyun datar.
Mendengar nada ucapan dari Baekhyun, Kai jadi merinding. Berbagai macam gambaran penyiksaan langsung tergambar di benaknya. Baekhyun yang sekarang terlihat serius.
Sebenarnya dalam pikiran Baekhyun sedang mempertimbangkan tawaran Hyuna. Gadis itu terlihat sangat ingin menjalin kerjasama yang baik dengannya. Berbagai macam spekulasi masuk ke dalam kepalanya yang pintar, dari yang bersifat menguntungkan dan merugikan. Tapi semua pemikiran itu hilang saat dirinya melihat Chanyeol sedang mengandeng gadis yang berduet dengan lelaki itu.
"Oke aku setuju. Apa yang akan kita lakukan?" Baekhyun mengalihkan fokusnya ke arah Hyuna yang tampak senang akan jawabannya.
"Kita akan menari!" jawab gadis itu seraya mengerling.
"Menari?" Baekhyun mengulang perkataan Hyuna dengan nada bertanya
"Ya. Apa kau tidak bisa menari?" Hyuna memicingkan mata.
"Siapa bilang? Dia bahkan sangat pandai." Jawab Chen.
"Tapi lebih pandai Jongin." Baekhyun menolehkan kepalanya kearah Kai yang sekarang asik dengan sang kekasih Kyungsoo, mengabaikan macan betina yang sedang menatap Kai bengis.
"Kalau begitu. Bagaimana jika Jongin membantu kita dalam hal koreo?" Hyuna menyerukan idenya.
"Hei! Kau mau membantu kami Jong?" tanya Baekhyun setelah melemparkan kotak bekas susu yang tadi dia minum.
"Ish! Membantu apa?" Jongin sedikit tidak terima saat kesenangannya diganggu.
"Membatu kami dalam hal membuat koreo." Hyuna terlihat antusias dengan mata berbinar-binar.
"Kalian akan menari?" Jongin memiringkan kepalanya.
"lya. Kau mau kan?" tanya Hyuna penuh harap.
"Oke! Aku akan membuat konsep spektakuler untuk kalian!" seru Jongin menggebu-gebu.
"Kalau begitu, kita akan bernyanyi Kyung!" kali ini suara Hyorin memecah keheningan.
"Bernyanyi? Ta-tapi-"
"Kau bisa sayang~" Jongin mencoba menyakinkan kekasihnya yang terlihat gugup.
"Iya, kita tidak boleh kalah dari pasangan Hyuna dan Baekhyun. aku tahu suaramu itu sangat indah. Maka dari itu, ayo!" ajak Hyorin penuh semangat.
"Ba-baiklah." Kyungsoo masih terlihat ragu-ragu.
"Kalai begitu yang akan melatih kalian bernyanyi adalah Jongdae!" Kai melemparkan tatapannya ke arah Jongdae.
"Hm." Chen hanya berdeham malas. Tetapi Kai dan Baekhyun tahu Jongdae setuju dengan rencana mereka.
"Baiklah, keputusan sudah bulat. Dan karena yang melatih kita adalah duo Kim, maka kita akan berlatih disana. Bagaimana?" Baekhyun melihat wajah teman-temannya satu persatu.
"Oke!" seru mereka bersamaan.
Setidaknya aku bisa meninggalkan sedikit kenangan menyenangkan tentangku di ingatan mereka, sebelum aku pergi...-Baekhyun
Atau mungkin Baekhyun yang ingin memiliki memori indah tentang kehidupan normal saat dia berada dalam masa sekolah yang tidak pernah dia ikuti sebelumnya?
.
.
.
TBC
.
.
Well, ini lama ya?
Saya sebenernya ingin sekali update cepet, tapi, real life saya bener-bener bikin pusing. Saya mau sidang skripsi, yeayy! Akhirnya, setelah sekian lama, di acc juga. Saya sekarang lagi nyiapin keperluan sidang saya. Maka dari itu, saya ngaret gini. Mungkin buat chap selanjutnya bakal lebih lama, tapi saya janji ini bakal selesai.
Makasih banget bagi sayang-sayangku yang masih setia membaca cerita ini. Dan maaf bagi yang minta cepat update, bukannya saya gak mau tapi keadaan yang buat gini.
Dan buat kalian yang udah review, sini saya cium satu-satu. Jujur aja saya kemarin sangat down yah... mungkin kena WB juga kali. Tapi waktu baca review kalian itu rasanya seneng. Sampe saya semagat lagi perbaiki skripsi dan dapat acc dan bisa buka laptop buat nuangin iden yang sempet macet dalam pengerjaan cerita ini. Thank you supportnya!
Maaf kalo ada typo, maklum gak sempet cek, langsung post takut kalian tambah lama nunggu.
Review?
