Bleeding Love
"Jangan seperti ini! Nanti kau akan semakin menyayangiku!"
"Kau minta maaf untuk sakitku yang di mana? Hatiku? Atau tubuhku?"
Author : uL!eZha
Disclaimer : Kentarou Miura & Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Rate : M
Pairing : Gakupo Kamui & Hyuuga Hinata
Warning : AU; Typo(s); OOC; Hinata's PoV; dll.
Chapter 12
Senja menjelang saat aku berjalan dengan langkah pelan dari apartemen menuju coffee shop. Hari ini aku masuk shift malam lagi karena baru minggu depan jadwal akan diputar kembali ke shift pagi. Namun itu ada baiknya juga, karena kemarin aku dan Sasuke bisa datang ke pernikahan Tenten dengan Lee yang digelar sejak pagi hingga sore hari. Walau aku terpaksa berpamitan lebih awal karena harus segera kembali ke Konoha.
Saat sampai di cafe, kulihat Ino sedang mengecek laporan keuangan. Di sebelahnya ada Sakura, yang ternyata datang lebih awal dari biasanya. Sementara Karin sedang membereskan salah satu meja yang telah ditinggalkan pengunjung di sudut ruang.
"Selamat sore, Karin" sapaku sambil menutup pintu.
"Sore, Hinata," balas Karin spontan.
"Hinata, cepat kemari!" panggil Sakura antusias.
Aku menghampiri Sakura dengan rasa cemas. Semoga bukan masalah itu lagi, karena hari ini aku sedang malas. Setelah aku duduk di sebelah Sakura, dia menunjukkan sebuah pesan singkat dari Kamui-san.
"Dia mengirim ini," bisik Sakura pelan.
'Kita kopi darat, yuk!' pesan singkat itu bertanggalkan hari kemarin, tapi pada jam 08:37 pm.
Hanya empat kata, tapi mampu membuat kedua mataku mendadak berkaca-kaca. Aku menelan ludah. Lalu menghela agar emosiku tidak tumpah. Aku mengembalikan ponsel pintar Sakura sambil tersenyum kecut. Kemudian pergi menuju ke ruang staf untuk meletakkan tas selempangku. Sakura menyusulku, lalu menutup pintu. Dia bahkan menguncinya, lalu duduk di sebelahku.
"Coba aku telpon dia, ya!" ujar Sakura terlihat bersemangat.
"Hn," aku menggumam pelan.
Tanpa membuang waktu, Sakura langsung menghubungi nomor Kamui-san. Dia pun mengaktifkan loud speaker-nya hingga nada sambungnya dapat kudengar. Setelah nada sambung berbunyi lima kali, baru telpon itu diangkat.
"Halo," sapa Kamui-san dari seberang.
"Hai, Gakupo-kun! Apakah kau sibuk saat ini?" tanya Sakura tanpa basa-basi.
"Tidak juga, tapi aku sedang dalam perjalanan," jawab Kamui-san ringan.
"Oya? Kau pergi ke mana?" tanya Sakura penasaran.
"Ke kota Suna. Savagethno diundang untuk perform di sana," jawab Kamui-san memberi sedikit penjelasan.
"Yah, sayang sekali! Padahal aku sedang di Konoha hari ini," ucap Sakura berpura-pura. "Awalnya aku ingin memberi kejutan kepadamu. Tapi ternyata, malah aku yang terkejut sendiri," tambahnya dengan nada seolah kecewa.
Padahal Sakura mengucapkannya sambil tersenyum senang dan mengerlingkan matanya kepadaku. Aku hanya bisa terdiam, tak tahu harus berreaksi seperti apa. Dan tak dapat bersuara karena takut Kamui-san mendengarnya.
"Benarkah?" tanya Kamui-san terdengar antusias.
"Iya, lalu kapan kau kembali?" tanya Sakura ingin tahu.
"Malam ini aku langsung pulang, kok! Begitu acara selesai, rombongan akan langsung kembali ke Konoha," jawab Kamui-san. "Apakah kau mau menungguku?" tanya Kamui-san sambil terkekeh pelan.
"Sayangnya, aku tidak menginap. Besok aku harus meliput event pekan budaya di Dragon Village," jawab Sakura mengarang sekenanya. "Ya sudah kalau begitu, kapan-kapan saja kita bertemu," lanjut Sakura menutup pembicaraan.
"Baiklah! Kabari aku jika kau datang lagi ke Konoha," ujar Kamui-san ringan.
"Tentu! Jaga dirimu, ya?" ucap Sakura berpesan.
Sedetik kemudian, sambungan telpon terputus. Sakura menoleh ke arahku, lalu memandangiku sambil tersenyum. Tatapannya tampak gembira. Namun bagiku itu bermakna ambigu. Dia gembira untuk siapa? Dan untuk apa? Jengah, aku beranjak dari kursi.
"Tunggu, Hinata!" cegah Sakura menahan tanganku. "Sekarang coba kau yang menelponnya!" pinta Sakura tiba-tiba.
"Apa?" aku tersentak kaget.
"Telpon dia!" pinta Sakura sekali lagi, dengan nada perintah.
"Untuk apa?" tanyaku bingung.
"Tanyakan kabarnya, dia sekarang di mana, sedang melakukan apa. Tanyakan keadaannya," saran Sakura spontan.
"Tidak perlu. Aku kan sudah tahu semua," jawabku sekenanya.
"Tch! Tapi kan dia tidak tahu bahwa kau sudah tahu, Hinata!" tukas Sakura tegas. "Cepat telpon dia!" pinta Sakura sekali lagi.
Sambil menghela nafas, aku mengambil ponsel pintarku dari dalam tasku. Setelah menemukan nomor ponsel Kamui-san, kusentuh tombol call. Sambil menunggu, kuaktifkan loud speaker karena Sakura memberiku isyarat untuk melakukannya. Namun ternyata, hingga nada sambung berhenti, telpon tidak diangkat juga.
"Lebih baik kita keluar, Sakura. Sudah waktunya kita bekerja," ajakku sambil berdiri lagi.
"Cobalah sekali lagi, Hinata! Ayolah!" lagi-lagi Sakura mencegahku. Dia bahkan menarikku dengan paksa agar aku duduk kembali di sebelahnya.
Aku mendenguskan nafasku agak keras karena mulai tak mampu menyembunyikan rasa kesalku. Sekedar untuk menyenangkan sahabatku saja, akhirnya aku kembali menghubungi Kamui-san. Namun kali ini, aku tidak mengaktifkan speaker. Setelah dering ketiga, sambungan telpon itu terhubung.
"H-halo...," sapaku gugup, karena terkejut.
"Ya, ada apa menelponku?" tanya Kamui-san datar.
"Hn, kau sedang apa sekarang?" tanyaku mendadak canggung.
"Aku sedang dalam perjalanan keluar kota. Ada apa?" jawabnya, dan langsung balik bertanya.
"Keluar kota? Ke mana?" tanyaku, ingin memastikan.
"Suna," jawab Kamui-san singkat.
"K-kapan kau kembali ke Konoha?" tanyaku kian canggung.
"Nanti malam. Kenapa?" lagi-lagi dia langsung bertanya setelah menjawab dengan singkat.
"T-tidak ada..., ya sudah, hati-hati di jalan," ucapku berpamitan.
Aku sempat mendengar Kamui-san mengguman pelan, sesaat sebelum dia memutuskan sambungan telponku barusan. Entah aku harus merasa senang karena telah berbicara dengannya, atau justru bersedih karena nada bicaranya yang dingin itu. Berbeda sekali dengan caranya berbicara ketika menerima telpon dari Sakura tadi.
"Dia bilang apa?" tanya Sakura penasaran.
"Tidak ada. Sama seperti yang dia katakan kepadamu tadi, kok!" jawabku pelan, sambil tersenyum masam.
"Ada apa, Hinata? Kenapa kau jadi muram begini?" tanya Sakura bingung.
"Tidak ada. Ayo kita keluar sekarang! Ino dan Karin pasti sudah menunggu kita," ajakku sambil berdiri, dan kali ini, Sakura tak berani mencegahku sama sekali.
Aku memutar anak kunci, lalu membuka pintu dan melangkah keluar dari ruang staf menuju ke belakang meja mini bar. Sakura menyusulku dari belakang, lalu menghampiri Ino dan serah terima tugas dengannya.
Kulihat Karin sudah membereskan pekerjaannya dengan rapi, lalu dia melepaskan apronnya dan masuk ke ruang staf. Tak lama kemudian, dia keluar sambil membetulkan posisi kacamatanya, lalu berpamitan kepadaku dan Sakura.
Ino segera menyusulnya dengan langkah cepat nyaris berlari. Setelah kedua teman kerjaku itu keluar dari cafe, pintu kembali tertutup. Pengunjung hari ini tidak seramai biasanya. Mungkin karena cuaca mendung. Mungkin juga karena belum waktunya pulang kantor. Namun suasana yang sepi ini, setidaknya memberiku waktu untuk sedikit menenangkan diri.
"Hinata," panggil Sakura sambil menghampiriku. "Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini?" tanya Sakura frontal.
"Bersikap seperti apa?" aku balik bertanya.
"Dingin, ketus," jawab Sakura spontan. "Ada apa?" sambungnya bertanya lagi.
"Kau tahu, Sakura? Cara Kamui-san berbicara denganku, berbeda sekali dengan caranya bicara padamu," ujarku ada apanya.
"Apa maksudmu?" tanya Sakura.
"Dia berbicara hanya singkat saja kepadaku," jawabku pelan. "Sedangkan denganmu, dia terdengar lebih antusias," lanjutku kemudian.
"Kau cemburu, Hinata?" tanya Sakura sambil tersenyum tipis, mencoba menggodaku.
"Menurutmu?" aku balik bertanya, retoris.
Sakura hanya terdiam, seolah dia mendadak bisu. Sejenak dia menatapku, seakan ingin membaca isi hati dan pikiranku. Sementara aku, memalingkan wajahku darinya dan membuang pandanganku keluar jendela.
Pikiranku perlahan terbang, melayang entah kemana. Benarkah aku cemburu? Iya, aku cemburu. Dan lebih dari itu. Aku sakit hati. Cukup sudah aku berusaha menahan emosiku setiap kali melihatnya berjalan berdua dengan wanita cantik berrambut pink bernama Luka itu. Dan kini, aku harus menahan emosiku setiap kali mendengar dia mengobrol via telpon dengan wanita cantik berrambut pink bernama Sakura, yang notabene adalah sahabatku.
Resah, aku beranjak dari tempat dudukku. Kemudian aku menyibukkan diri dengan menata cangkir yang telah dicuci oleh Karin tadi. Aku menundukkan kepalaku cukup dalam, berusaha menutupi wajahku dengan helaian rambut indigo-ku yang terlepas dari ikatan di samping wajahku kiri dan kanan.
Beberapa saat kemudian, kudengar Sakura juga beranjak dari kursinya, lalu menuju meja kasir. Sepertinya dia juga berusaha untuk menyibukkan diri. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Namun satu hal yang aku tahu pasti. Hatiku mulai berdarah, luluh lantak dan terpecah belah. Tanpa sadar, air mataku berjatuhan walau tak sederas hujan yang saat ini mulai mengguyur di luar sana.
Tiga jam berlalu dengan begitu perlahan. Sebentar lagi waktu menunjukkan pukul sembilan, waktunya coffee shop untuk tutup. Saat sedang merapikan meja mini bar, seorang pria membuka pintu cafe dan masuk dengan langkah pelan. Pria tampan berrambut hitam bermata kelam itu menatapku sambil tersenyum tipis.
"Sasuke," sapaku sambil tersenyum.
"Sudah selesai?" tanya Sasuke tanpa membalas sapaku lebih dulu.
"Sepuluh menit lagi," jawabku singkat. "Kau ingin minum kopi dulu?" tanyaku menawarkan.
"Tidak usah! Nanti saja sekalian kita makan malam bersama. Kuharap kau belum makan," ujar Sasuke ringan.
"Baiklah, tunggu sebentar, ya?" ucapku kemudian.
"Aku tunggu di luar," ucap Sasuke sambil berbalik, lalu melangkah menuju pintu keluar tanpa menunggu responku.
Aku segera membereskan pekerjaanku. Begitu selesai, aku langsung masuk ke ruang staf untuk mengambil tas selempangku. Saat keluar dari ruang staf, tampak Sakura masih sibuk menyusun laporan keuangan, padahal jam dinding sudah menunjukkan waktu jam sembilan lewat lima menit.
"Sakura, aku pulang lebih dulu, ya? Sasuke sudah menungguku di luar," pamitku, walau tak enak hati.
"Iya, aku sebentar lagi selesai, kok!" sahut Sakura sambil tersenyum tipis.
"Hn, sampai besok," ucapku sambil melambaikan tangan.
Sakura hanya mengangguk pelan. Kemudian aku berbalik dan berjalan keluar. Setelah menutup pintu, aku segera menghampiri Sasuke. Sekilas aku sempat menoleh ke belakang. Kulihat Sakura sedang berbicara melalui telpon, entah dengan siapa, tapi wajahnya tampak riang. Jengah karena curiga, aku segera berpaling, dan berlari kecil menuju Sasuke. Dia mengulurkan helm-nya kepadaku.
"Kau saja yang memakainya, kan kau yang mengendarai motor," tukasku menolak.
"Hn, ayo naik!" ajak Sasuke dengan nada perintah.
Tanpa berkata apapun, aku segera menurutinya. Naik ke atas motornya dan duduk di belakangnya, lalu memeluk pinggangnya. Sedetik kemudian, tangan kirinya memegangi tanganku.
"Agar tanganmu tidak kedinginan," ucap Sasuke datar. "Pegangan yang erat!" tambahnya berpesan.
Pada saat yang bersamaan, kuda besi yang kami tunggangi meluncur meninggalkan cafe. Aspal yang basah membuat jalan menjadi lebih licin dari biasanya. Namun Sasuke dengan lincah mengendarai motornya hingga kami sampai di Cafe Tharia, cafe langganan kami.
"Masuklah dulu, cari tempat duduk. Aku akan menyusulmu," pinta Sasuke sambil mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku celana panjangnya.
Aku hanya mengangguk pelan, lalu masuk ke dalam cafe dengan cahaya temaram itu. Sejenak aku menoleh ke kanan dan kiri. Suasana cafe yang cukup ramai membuatku ragu untuk masuk sendiri. Namun saat kulihat ada satu meja kosong di dekat mini bar, aku langsung menuju ke sana. Aku duduk di salah satu bangkunya yang menghadap ke pintu masuk. Tak sampai lima menit kemudian, Sasuke masuk dan menyusulku.
"Kau memilih spot yang bagus," komentar Sasuke sambil tersenyum tipis. "Kalau begitu aku duduk di sebelahmu saja," sambungnya sambil menarik kursi di sampingku. "Kau sudah pesan?" tanya Sasuke kemudian.
"Belum, aku masih bingung mau pesan apa," jawabku sambil mengangkat bahu.
"Kalau begitu, aku saja yang memilih menu," ujar Sasuke ringan.
Aku menggumam pelan, mengiyakannya. Setelah waiter mencatat menu yang dipesan Sasuke, dia pergi meninggalkan kami. Sambil menunggu, aku dan Sasuke tidak banyak bicara. Dia lebih banyak bercerita tentang pekerjaan. Sementara aku lebih banyak mendengarkan. Begitu pun saat kami menyantap makan malam.
Setelah selesai, kami tidak segera pulang. Sasuke bilang, Sai akan menyusul kemari. Dan memang benar. Tak lama kemudian, Sai datang dan langsung menghampiri kami.
"Maaf, aku terlambat," ucap Sai sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa," balasku sambil membalas senyumnya.
"Memang sudah kebiasaanmu," ujar Sasuke dengan wajah tanpa ekspresi.
Aku tersenyum mendengar nada bicaranya. Sedangkan Sai hanya menggelengkan kepalanya pelan. Cukup lama kami mengobrol bertiga di cafe itu. Mulai mengantuk, aku memeriksa ponselku. Ada angka 10.47 pm tertulis pada layar.
"Sudah larut, Sasuke. Ayo pulang!" ajakku sambil memasukkan ponselku ke dalam tas.
"Hn, ayo!" sahutnya sambil beranjak dari kursi.
Sasuke membayar tagihan terlebih dulu. Sementara aku dan Sai berjalan keluar dari cafe. Saat Sai membuka pintu sebelah kiri, ada sepasang manusia berbeda gender membuka pintu sebelah kanan. Aku tersentak saat melihat mereka. Pria itu berrambut panjang berwarna ungu, dan wanita itu berrambut panjang berwarna pink.
Resah, refleks aku meraih tangan Sai dan menggenggamnya kuat-kuat. Takut dan kalut, aku mendekap lengan Sai lebih erat, sambil memalingkan wajahku agar tidak terlihat. Kemudian, aku dan Sai berjalan ke area parkir dengan langkah agak cepat.
"Pria itukah?" tanya Sai singkat.
Aku tidak berkata apapun untuk menjawab. Hanya bergerak sedikit menjauh sambil melepaskan tangannya, lalu tersenyum miris menahan tangis. Menyadari kebisuanku, Sai hanya tersenyum tipis.
"Sasuke datang. Hapus air matamu," bisik Sai lirih.
Aku menurutinya. Lalu berbalik ke arah datangnya Sasuke sambil tersenyum. Sasuke memandangiku dengan wajah heran. Lalu melirik ke arah Sai dengan tatapan tajam, penasaran.
"Antarkan aku pulang, Sasuke," pintaku sambil meremas lengan jaket tebalnya.
"Ayo!" jawab Sasuke tanpa basa-basi. "Sai, kau pulang duluan saja!" lanjutnya sambil memakai helm.
Sai menggumam pelan sambil tersenyum. Tak lama kemudian, dia berlalu meninggalkanku dan Sasuke dengan motornya. Sementara aku dan Sasuke menuju ke arah yang berbeda karena apartemenku berlawanan arah dari tempat tinggal mereka.
Saat sampai di depan lobby apartemen, Sasuke tidak langsung pulang. Dia ingin mengantarkanku sampai ke depan pintu. Aku tidak bisa menolaknya. Apalagi dia sempat memaksa dengan cara menggandeng tanganku.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku, Hinata," ucap Sasuke tanpa tedeng aling-aling, saat kami berada di dalam lift.
"T-tidak..., tidak ada, Sasuke," ujarku lirih, gugup.
"Kau tidak pandai berbohong," tukas Sasuke pelan.
Begitu pintu lift terbuka, Sasuke melangkah keluar dan menuju pintu apartemenku. Aku mengikutinya dari belakang, dengan perasaan yang campur aduk tak karuan. Saat sampai di depan pintu apartemenku, aku dan Sasuke saling terdiam. Dia memandangiku dengan tatapan tajam, menyelidik. Jengah aku membuang muka, menghindari kontak mata dengannya.
"Masuklah!" ucap Sasuke dengan nada perintah. "Kunci pintunya, dan tidurlah!" tambahnya berpesan.
"Hn, terima kasih," ucapku sambil tersenyum tipis.
Kemudian aku membuka pintu, dan masuk ke dalam. Sasuke masih menunggu di luar. Seakan ingin memastikan bahwa aku benar-benar mengunci pintu apartemenku. Sekilas aku tersenyum lagi, lalu kututup pintu dan kuputar anak kunci. Saat aku mengintip dari lubang kaca, kulihat Sasuke masih berdiri di sana. Setelah beberapa saat, baru dia pergi dari depan pintu apartemenku.
Setelah itu, aku langsung menuju kamarku dan berbaring di ranjang. Lelah, membuat rasa kantukku tak tertahankan. Sebelum telanjur ketiduran, aku segera ganti pakaian. Tanpa mandi terlebih dulu, aku kembali menghempaskan tubuhku ke atas ranjang.
Saat mulai terlelap, tiba-tiba kudengar ponselku berdering, tanda panggilan masuk. Dengan malas, kuambil benda berwarna lavender itu dari dalam tas. Saat kulihat, ada nomor Kamui-san terpampang di layar. Sambil menghela nafas, kusentuh tombol answer.
"Ya?" sapaku sekenanya.
"Kau sudah tidur, ya?" tanya Kamui-san dari seberang.
"Iya, aku ngantuk sekali. Ada apa?" jawabku langsung balik bertanya.
"Aku ke apartemenmu, ya? Aku rindu bercinta denganmu," jawabnya ringan.
"Aku sudah mengantuk. Aku baru saja pulang. Dan aku lelah sekali," jawabku menolak.
"Baru pulang kencan, ya? Atau baru bercinta dengan dua pria?" tanya Kamui-san frontal.
"Apa maksudmu?" tanyaku dengan nada tinggi, terkejut bukan kepalang.
"Ya sudah, kalau begitu besok saja," ujar Kamui-san datar, lalu memutuskan sambungan.
Gemas, aku membanting ponselku dan benda itu jatuh di atas lipatan selimut. Hilang sudah rasa kantukku. Entah terbang ke mana rasa lelahku barusan. Di hatiku, hanya ada rasa marah, jengkel, kesal, dan geram yang berkecamuk. Sepertinya, malam ini aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak.
Keesokan harinya, tepat tiga jam sebelum waktu masuk kerja, Sakura datang ke apartemenku dan mengajakku jalan-jalan karena suasana hatinya sedang buruk. Terlalu sering kontak dengan Kamui-san telah membuat Naruto marah kepadanya. Entah bagaimana pria berrambut pirang itu mengetahui hubungan mereka. Itu sama sekali di luar dugaanku. Namun kesalahpahaman membuatnya dipenuhi rasa curiga yang membabi buta.
"Naruto sama sekali tidak mau mengerti bahwa aku hanya ingin membantumu," ujar Sakura dengan nada kesal.
"Biarkan saja dulu, nanti juga dia mengerti," kataku mencoba menenangkannya.
Akan tetapi, dalam hatiku sendiri berkecamuk berbagai macam emosi. Kecewa, resah, bingung, marah. Andai bisa kukatakan bahwa aku ingin Sakura menghentikan perbuatannya untuk mencari informasi secara sembunyi-sembunyi. Bagaimana jika nanti Kamui-san tahu? Bagaimana jika setelah itu, dia malah membenciku? Bagaimana dengan semua yang telah kulakukan? Sayangnya, yang bisa kulakukan hanyalah menelan ludahku sendiri.
"Tch! Lupakan dia! Lebih baik kita fokus pada masalah saja, Hinata," cetus Sakura mantap.
"Hn? Masalahku yang mana?" tanyaku bingung.
"Ya ampun! Tentu saja Gakupo-kun!" jawab Sakura dengan wajah gemas.
Aku tersenyum tipis, miris. Kemudian aku mengalihkan pandanganku ke sekitar. Saat ini cuaca agak mendung. Semilir angin meniup pepohonan di taman kota, membuat udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Karena bukan akhir pekan, tempat ini cukup sepi. Hanya ada beberapa pasang muda-mudi yang masih berseragam yang mengisi bangku taman.
"Lebih baik hentikan saja, Sakura," ucapku pelan. "Aku menyerah," tambahku lebih lirih.
"Jangan begitu, Hinata! Kau mencintainya, kan? Dan menurutku, dia mulai ada hati kepadamu," ujar Sakura mencoba meyakinkanku.
"Entahlah, Sakura. Aku tidak merasakan apapun saat ini," tukasku apa adanya.
"Kau tidak merindukannya?" tanya Sakura tanpa basa-basi.
"Aku memang merindukannya, tapi...,"
"Tapi apa, Hinata? Apakah kau sedang mengingkari perasaanmu sendiri?" tanya Sakura lagi, tanpa tedeng aling-aling.
Aku menghela nafas, lalu mendongakkan kepalaku ke atas agar air mataku tidak menetes. Sakura menoleh ke arahku, memandangiku dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Kemudian aku menunduk sambil mengusap keningku dan menepikan rambutku ke belakang telinga. Pandanganku kini lurus ke depan, tersita oleh sosok tubuh jangkung nan kekar seorang pria tampan.
"Sakura, dia ada di sana," bisikku pelan.
"Hn? Siapa?" tanya Sakura ingin tahu.
"Kamui-san," jawabku kian pelan.
"Di mana?" tanya Sakura sambil menoleh ke kanan dan kiri.
"I-itu..., yang sedang bicara via telpon," tandasku sambil menajamkan penglihatanku.
Sakura menoleh ke arah pandanganku. Dia tampak antusias melihat pria gondrong itu. Di sana tampak Kamui-san kini memasukkan ponselnya ke saku, lalu melajukan motornya meninggalkan taman kota.
"Kirimi dia pesan, Hinata!" ucap Sakura dengan nada perintah.
"Pesan apa?" tanyaku bingung.
"Katakan saja kau kangen kepadanya," jawab Sakura spontan. "Tulis saja, 'Kangen', lalu kirimkan ke dia. Coba kita lihat reaksinya nanti seperti apa," lanjut Sakura bersemangat.
Bagai terhipnotis, aku melakukan saran Sakura. Entah apa yang ada di otakku saat ini, tapi di hatiku, iya, aku memang merindukannya. Setelah selesai kuketik satu kata itu, kukirimkan pesan singkat itu ke nomor ponsel Kamui-san. Tak sampai lima menit, sebuah pesan masuk ke ponselku.
'Kangen apa?' isi pesan balasan dari Kamui-san.
"Sakura, dia membalas seperti ini, apa maksudnya?" tanyaku tak mengerti.
"Kangen apa?" ucap Sakura membaca pesan itu dengan nada tanya. "Kok dia bertanya begitu, ya?" Sakura malah balik bertanya. "Bilang saja, kau kangen padanya," ujar Sakura memberi saran.
'Bukan 'apa' tapi 'siapa'. Aku kangen padamu.' balasku setelah beberapa waktu.
'Apa yang kau rindukan dariku?' balasnya tak sampai selang semenit.
"Sakura, ini..., aku harus jawab apa?" tanyaku sambil memperlihatkan isi pesan balasan itu.
"Kenapa sikapnya tiba-tiba seperti ini?" lagi-lagi Sakura balik bertanya, heran.
"Sudahlah! Tidak usah dibalas lagi," ujarku kecewa.
"Ya sudah, biarkan saja," timpal Sakura setuju.
Aku memasukkan ponsel pintarku ke dalam tas selempang. Sakura memandangiku sambil mengusap bahuku, berusaha menenangkanku. Gerah, akhirnya kuikat rambutku agak ke atas, membiarkan angin menyejukkan kepala dan leherku.
"Satu jam lagi waktunya kita masuk kerja, Hinata," ujar Sakura mengingatkan.
"Kita ke apartemenku dulu, ya?" ajakku pada Sakura.
"Ayo!" sahut Sakura spontan, lalu beranjak dari bangku taman.
Saat aku berdiri, ponselku berbunyi. Tanpa buang waktu, kuambil benda itu dari dalam tas selempangku. Sebuah pesan singkat dari Kamui-san.
'Kau di mana? Aku juga kangen kepadamu. Datanglah ke tempatku sekarang!' isi pesan singkat itu.
"Dari siapa?" tanya Sakura penasaran.
"Kamui-san. Dia memintaku datang ke asramanya sekarang," jawabku seadanya.
"Kau ingin ke sana?" tanya Sakura frontal.
Sejenak aku hanya terdiam. Bingung harus menjawab apa. Iya, aku ingin ke sana. Aku ingin bertemu karena aku merindukannya. Namun tidak. Jika aku ke sana, hal itu pasti akan terjadi lagi. Aku tidak mau. Akhirnya aku menggeleng pelan.
"Pergilah! Nanti akan aku mintakan ijin pada Pak Manager jika beliau datang," ujar Sakura menawarkan.
"Tapi, Sakura...,"
"Hinata," Sakura menyelaku, menyebut namaku dengan tegas. "Aku akan mengantarmu. Lalu akan kujemput kau satu jam kemudian. Jadi kau hanya akan terlambat setengah jam saja," jelas Sakura panjang lebar.
Satu jam. Waktu yang cukup panjang untuk sekedar bertemu, tapi terlalu singkat untuk melakukan hal yang tidak-perlu. Setidaknya itu menurutku. Aku tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan.
"Ayo, cepat!" ajak Sakura sambil menyalakan mesin scooter matic-nya.
Tak sampai sepuluh menit, aku dan Sakura telah sampai di depan gedung asrama mahasiswa KIA. Aku menelpon nomor Kamui-san dengan tangan gemetar karena masih diliputi rasa ragu.
"Langsung masuk saja! Aku ada di kamarku," ucap Kamui-san begitu mengangkat telponku, dan langsung memutuskannya pula.
"Hinata, kemari sebentar!" pinta Sakura tiba-tiba. Aku menghampirinya. "Nanti aku akan pura-pura menelponnya. Coba kau amati ekspresinya," bisik Sakura tepat di telingaku. Aku hanya terdiam, tak mengerti apa maksudnya. "Satu jam," ucap Sakura mengingatkan.
Aku mengangguk pelan, lalu berjalan memasuki gedung berlantai 3 itu dengan langkah perlahan. Tanpa membuang waktu aku segera menaiki anak tangga dan menuju kamar Kamui-san. Saat sampai di depan pintu kamarnya, aku mengetuk benda persegi panjang itu. Lima detik kemudian, pintu itu terbuka lebar.
"Masuklah!" perintah Kamui-san tanpa menyapaku lebih dulu.
_ TBC _
AN:/
So glad it's finally updated! Never thought I would have written so far...
I wish you read this fanfict from the beginning, because when you read the latest chapter only, how could you expect to understand the whole story?
Well, terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk membaca kisah ini.
Terima kasih juga untuk readers yang me-review dan fave/follow.
Salam,
uL!eZha
